Allah Ta’ala Ada di Langit!

November 28, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah, kita mensyukuri bahwa ajaran Islam adalah agama yang mudah dipahami, mudah dimengerti dan diamalkan. Rasulullah Saw, para Shahabat Ra, dan para Salafus Shalih menerima agama ini dalam kemudahan, lalu mengamalkannya secara konsisten, sampai akhir hayat.

Namun ketika peradaban Islam mulai bersentuhan dengan dunia Barat yang membawa paham filsafat (ilmu kalam), mulai muncul aneka pertanyaan-pertanyaan rumit. Sesuatu yang semula mudah, menjadi sulit, dan pelik. Tak jarang, banyak manusia tersesat karena fitnah akal yang bersumber dari filsafat itu. Lahirnya kelompok-kelompok teologi seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, ‘Asyariyah, Maturidiyyah, Zindiq, dll. tidak lepas dari pengaruh benturan antara peradaban iman (Islam) dengan pola pikir filsafat.

Salah satu topik yang layak dibahas ialah seputar “Allah ada di langit”. Topik ini telah membuka perdebatan panjang antara kalangan TATS-BIT (memilih menetapkan Sifat Allah apa adanya), TA’WIL (mengartikan istilah-istilah tertentu ke pengertian lain, dengan niatan menyucikan Allah), TAF-WIDH (menerima istilah-istilah itu, tetapi menyerahkan maknanya kepada Allah). Hingga hari ini, perdebatan tersebut belum tuntas. Kalau sering-sering membuka laman blog, diskusi internet, dll. kita akan menyaksikan bahwa perdebatan itu semakin panas dan pelik saja. Wallahul Musta’an.

Dalam Al Qur’an disebutkan ayat yang jelas:

 إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Artinya, “Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy.” (Al A’raaf: 54).

Ayat-ayat lain yang senada dengan ini, yang menunjukkan bahwa Allah bersemayam di atas Arasy ada 6 ayat lagi, yaitu:  Yunus ayat 3, Ar Ra’du ayat 13, Ar Rahman ayat 5, Al Furqan ayat 59, As Sajadah ayat 4, dan Al Hadid ayat 4. Semuanya ada 7 ayat yang senada.

Namun, kejelasan ini kemudian dimentahkan, ketika sebagian orang mulai mempertanyakan ayat-ayat di atas. Mereka mulai berkata: “Tunggu dulu! Jangan cepat menyimpulkan. Ayat-ayat itu tak menunjukkan bahwa Allah ada di atas langit. Sekarang kami bertanya, Arasy itu apa? Ber-istiwa’ (bersemayam) itu apa? As sama’u (langit) itu apa? Semua ini masih bisa ditafsirkan dengan pengertian tidak seperti yang Anda pikirkan.”

Lebih jauh mereka beralasan, “Allah itu tidak di langit. Allah itu tidak di tempat yang tinggi. Dia tidak berada dalam ruang. Ruang itu adalah makhluk. Mustahil Allah terikat oleh makhluk. Allah tidak berada dalam ruang, tidak berada di luar ruang (sebab “luar ruang” juga makhluk), dan tidak berada di antara keduanya.”

Dari pengertian mudah, bahwa Allah itu bersemayam di atas Arasy. Dan Arasy sebagaimana disebutkan para ulama, berada di atas langit tertinggi. Namun karena akal banyak bertanya (seperti sindrom Bani Israil), maka terbuka lebar kesulitan-kesulitan.

Berkata Ibnu Taimiyah: “Adapun Al-Arsy maka dia berupa kubah sebagimana diriwayatkan dalam As-Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im.” Disana sebutkan, “Telah datang menemui Rasulullah seorang A’rab dan berkata, ‘Ya Rasulullah, jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan…  sampai pada perkataan Rasulullah, “Sesungguhnya Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya di atas langit-langit dan bumi, seperti begini.’ Dan beliau memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah. (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/252).

Adapun tentang ketinggian Arasy, Rasulullah Saw.:

إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Artinya, “Jka kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya. Kitab Tauhid, Bab Wa Kaana Arsyuhu Alal Ma’i). [Perkataan Ibnu Taimiyyah dan dua riwayat di atas, dinukil dari tulisan Ustadz Khalid Syamhudi, dari situs almanhaj.or.id, berjudul “Aqidah Ahlus Sunnah Seputar Arasy”].

Jelas sekali, bahwa Allah itu ada di atas Arasy. Arasy ada di atas langit tertinggi. Bahkan disebutkan, Arasy itu ada di atas air. Di atas Arasy ada Kursyi (sehingga kita mengenal istilah Ayat Kursyi). Allah bersemayam di atas itu semua.

Lalu mengapa semua ini begitu sulit dipahami (terutama oleh kalangan ‘Asyariyin dan kawan-kawan)?

Mereka beralasan, “Allah tidak di langit, atau di atas Arasy. Sebab semua itu adalah ruang. Ruang adalah makhluk. Allah tidak boleh terikat oleh ruang, sebab itu sama dengan Allah terikat oleh makhluk.”

Letak kesalahan utama orang-orang itu ialah: “Mereka menyifati Allah dengan ciri-ciri makhluk yang membutuhkan tempat, arah, dan ukuran. Andaikan mereka bisa melepaskan diri dari gambaran makhluk, ketika mereka berbicara tentang Sifat-sifat Allah, maka hal itu akan menyelesaikan masalah ini.”

Contoh, dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Allah Ta’ala setiap akhir malam turun ke langit dunia, untuk melihat siapa yang berdoa, lalu dikabulkan-Nya; untuk melihat siapa yang mohon ampun, lalu diampuni-Nya. Hal ini mudah dipahami, dan tinggal kita amalkan dengan shalat malam, berdoa, serta memohon ampun di sepertiga akhir malam.

Tapi di hadapan akal-akal yang aneh, mereka mempertanyakan banyak hal. “Dengan apa Allah turun ke langit dunia, dengan Dzat-Nya atau Ilmu-Nya? Kalau Allah turun, berarti nanti Dia akan lebih rendah dari makhluk-Nya. Kalau setiap akhir malam Allah turun, lalu saat pagi Dia balik ke atas lagi, berarti kerja-Nya bolak-balik saja, dong? Kan bumi itu bulat, mana atas mana bawah?”

Begitulah, orang-orang itu menikmati sekli hujatan-hujatannya terhadap sebagian Sifat Allah yang Dia ajarkan melalui Sunnah Rasul-Nya. Seakan, ketika mereka telah melontarkan semua pertanyaan-pertanyaan itu, mereka telah menang; mereka telah ngangkangi dunia; mereka merasa puas karena “telah menaklukkan” Allah. Masya Allah, masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Semua pikiran-pikiran itu bukan menunjukkan kepintaran, tetapi bukti AROGANSI. Apa bedanya pikiran semodel itu dengan perkataan Bani Israil, ketika mereka mengatakan, “Yadullah maghlulah” (Tangan Allah itu terbelenggu). Laa ilaha illa Allah, laa ilaha illa Allah, Maha Suci Allah dari segala kekotoran yang mereka pikirkan.

Bantahan atas pikiran-pikiran kotor itu sederhana saja. Mereka kesulitan mengimani ayat-ayat atau hadits Rasulullah Saw seputar Sifat-sifat Allah, karena: mereka memahami posisi Allah seperti mereka memahami makhluk-Nya. Kalau sebuah benda turun, pasti dia akan lebih rendah dari benda di atasnya. Ini adalah tabi’at makhluk. Kalau benda turun-naik, berarti benda itu selalu bolak-balik. Ini juga tabi’at makhluk. Kalau benda ada di atas bumi yang bulat, berarti sisi atasnya bisa ke segala arah. Lagi-lagi ini adalah sifat makhluk. Kalau benda punya letak (misalnya di langit), berarti dia punya tempat dan volume. Lagi-lagi, wahai Kangmas dan Mbakyu, itu adalah sifat makhluk. Kalau Allah menciptakan segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah? Untuk kesekian kalinya, suatu eksistensi yang ada karena diciptakan, ia adalah SIFAT MAKHLUK.

Allah tidak punya sifat seperti itu. Dia adalah Rabb, Ilah, Malik, atau Dzat yang memiliki Sifat tersendiri. Bebas dari sifat-sifat makhluk. Apa yang tidak mungkin di tangan makhluk, sangat mudah terjadi pada Allah; kalau Dia menghendaki hal itu terjadi. Kalau makhluk terjadi selalu karena diciptakan, maka Allah bisa Wujud tanpa mengalami penciptaan. Lho kok bisa begitu? Ya, karena Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Laisa ka mits-lihi syai’un wa huwa sami’ul bashir. Bukankah ayat ini sudah populer?

Sebagai Muslim, kita tidak akan ditanya, “Allah ada di dalam ruang atau di luar ruang?” Tidak, demi Allah kita tak akan ditanya seperti itu.

Lalu orang ‘Asyariyin berkata, “Allah tidak boleh di dalam ruang, karena ruang adalah makhluk-Nya. Allah itu Suci, Dia tak membutuhkan apapun. Allah tidak terikat oleh ruang. Dia bebas mandiri dari unsur makhluk-Nya.”

Sebenarnya, bagi kita semua, apakah Allah ada di dalam ruang atau tidak, TIDAK MASALAH. No problem, anything! Kalau Allah menetapkan diri-Nya dalam ruang, kita mengimaninya. Kalau Allah tetapkan diri-Nya di luar ruang, kita pun akan mengimani-Nya. Apa yang Allah inginkan tentang diri-Nya dengan segala Sifat-Nya, kita imani. Kita akan mengatakan, “Amanna bihi kullun min ‘indi Rabbina” (kami mengimani-nya, semua itu dari sisi Rabb kami).

Jadi dalam hal seperti ini, JANGAN IKUT CAMPUR apa-apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya. Andaikan Allah berada dalam ruang, dan hal itu yang Dia kehendaki; maka sungguh tidak akan berkurang Kesucian-Nya. Andaikan Allah berada di luar ruang, seandainya itu yang Dia inginkan, juga tak akan berkurang Kesucian-Nya. Sebab, Allah sudah Suci sejak sedia kala, tanpa membutuhkan cara-cara kita untuk mensucikan-Nya.

Kalau Allah menggunakan makhluk-Nya untuk suatu keperluan, hal itu tak membuat Allah kehilangan Kesucian-Nya. Jelas-jelas Allah berada di atas Arasy, sedangkan Arasy itu juga makhluk. Lihatlah disana, ada beribu-ribu Malaikat, bahkan jumlahnya tak terhitung, kecuali hanya Allah yang Tahu. Apakah karena “dibantu” para Malaikat, kemudian Dia menjadi tidak Suci? Tidak demikian. Begitu juga, dengan para Nabi dan Rasul. Mengapa bukan Allah saja yang dakwah ke umat manusia, mengapa harus “meminta bantuan” Nabi dan Rasul? Begitu juga, mengapa untuk memberi rizki manusia, Allah mesti “meminta bantuan” angin, tanaman, hewan, sungai, hujan, dll.?

Subhanallah, Allah tidak tergantung kepada makhluk-Nya, bahkan Dia yang memberi kekuatan, eksistensi, dan manfaat pada makhluk-Nya. Dengan segala Kehendak dan Qudrah-Nya, Allah menjadikan yang mati menjadi hidup, dan yang hidup menjadi mati. Atas segala hal itu, Dia selalu Suci.

Bahkan dalam Surat Al Baqarah ayat 26 disebutkan, bahwa “Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk, atau yang lebih rendah dari itu.” Ayat ini menjadi bukti, bahwa Kesucian Allah tidak ternoda hanya ketika Dia mengambil perumpamaan sebuah makhluk kecil yang bernama nyamuk. Kesucian Allah juga tak ternoda ketika Dia bersumpah dengan makhluk-makhluk-Nya, seperti malam, siang, waktu, matahari, bulan, jiwa, buah tin, buah zaitun, dll.

Akan tetapi, akidah Islam ini membawa kita untuk keluar dari semua perdebatan aqliyah. Allah hanya menetapkan, “Diri-Nya bersemayam di atas Arasy.” Artinya, kita tak usah meributkan soal “dalam ruang” atau “di luar ruang”, sebab penjelasan ayat-ayat Allah itu sudah gamblang: Dia berada di atas Arasy. Disini kita tak perlu memikirkan, apakah Allah ada dalam  ruang atau tidak. Karena masalah itu tidak disinggung dalam ayat-Nya atau hadits Nabi-Nya.

KAIDAH dasarnya sebagai berikut: Saat berbicara tentang Sifat Allah, disana ada Sifat Dzatiyyah (sifat yang terkait dengan Diri Allah Ta’ala) dan Sifat Fi’liyyah (sifat yang terkait dengan Perbuatan Allah). Kalau bicara soal Dzatiyyah Allah berlaku kaidah “laisa ka mitslihi syai’un” (tidak ada yang serupa dengan-Nya satu pun). Dalam hal ini, jangan sekali-kali memahami Allah dengan paramter makhluk-Nya; kalau begitu, kita pasti akan tersesat. Kalau bicara tentang Fi’liyyah Allah berlaku prinsip “idza arada syai’an an yaqulu kun fa yakun” (kalau Dia menghendaki sesuatu, Dia tinggal mengatakan ‘kun’, maka jadilah hal itu).

Inti kesalahan orang ‘Asyariyyun ialah ketika mereka bicara Dzat Allah, mereka serupakan diri-Nya dengan makhluk-Nya; sehingga mereka merasa bahwa dengan keadaan itu Allah menjadi “tidak suci”, sehingga butuh akal-akalan mereka, agar Allah menjadi “suci”. Sebaliknya, ketika bicara tentang Perbuatan  Allah, mereka bebaskan Allah sama sekali dari urusan makhluk-Nya; padahal Allah berhak mengatur makhluk-Nya sekehendak-Nya. Makhluk-Nya mau dibuat hitam atau putih, itu terserah Iradah-Nya.

Betapa agung perkataan Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang Istiwa’. Kata Imam Malik, “Istiwa’ itu sudah maklum, bagaimananya tidak dikenal. Mengimaninya wajib, mempersoalkannya bid’ah.” Ini adalah ungkapan pendek yang meliputi seluruh metode yang dibutuhkan untuk mencapai hakikat keimanan yang lurus terkait Sifat-sifat Allah.

Sungguh, seorang pendosa yang berlumuran dosa, kalau hatinya lurus dalam mengimani Sifat-sifat Allah ini, masih masih memungkinkan dia akan diampuni. Sebaliknya, seorang ustadz yang sepanjang waktunya, pagi sampai sore, petang sampai fajar, mengisi hidupnya hanya dengan dzikir sambil bercucuran air mata, sementara hati dan akalnya dipenuhi penyifatan-penyifatan kotor tentang Dzat Allah dan Perbuatan-Nya; kelak dia akan berhadapan dengan kesulitan besar di hadapan Allah. Dia akan dituntut atas pelanggaran-pelanggaran terberat menyangkut hak-hak Allah.

Bertaubatlah wahai insan, selama nafasmu masih bisa dipakai bertaubat! Tidak ada yang sulit dari agama ini, kalau hatimu ikhlas. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Abinya Syakir.


Jazakumullah Khairan Katsira…

November 22, 2011

Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Alhamdulillah, dengan segala nikmat dan pertolongan Allah, akhirnya kami bisa melewati masa-masa kritis, terkait musibah sakit yang menimpa anak kami. Dengan kemurahan Allah, Dia menggerakkan hati hamba-hamba-Nya yang saleh, tulus, dan empati untuk menolong kesulitan kami. Alhamdulillah, walhamdulillah, hamdan katsira thaiyiban.

Biaya yang dikeluarkan untuk urusan ini cukup besar (untuk ukuran kami). Mulai dari transportasi, akomodasi, biaya operasi, maupun perawatan pasca operasi. Tapi alhamdulillah, semua itu sudah terlewati. Pada Selasa pagi, tanggal 22 November 2011, dilakukan operasi di RS Muntilan Magelang. RS ini katanya khusus untuk pasien operasi. Keadaan disana bersih, terawat, dan orang-orangnya, menurut isteri, ramah-ramah. Alhamdulillah.

Putra kami sendiri dirawat sampai hari Jumat. Hari Sabtunya dia kembali ke Pesantren Gontor VI di Sawangan Mangunsari Magelang. Lalu pada malam harinya dia dan isteri saya pulang ke Bandung (Cimahi). Upaya kembali ke Bandung selain untuk perawatan, juga agar dia lebih rileks. Namun hal ini hanya sebentar, sampai dia harus kembali lagi ke pesantren, sebab sudah masanya ujian.

Terkait dengan kemurahan-kemurahan para Pembaca budiman, para ikhwah, serta siapapun yang tak kami ketahui (sedangkan Allah Maha Tahu amal-amal baik mereka), disini kami perlu menyebut sebagian kebaikan-kebaikan beliau. Mereka adalah Ustadz Abdullah dari Jakarta Timur yang telah membantu; juga Al Akh Yusuf KS. yang telah menyisihkan dananya; juga Bapak Ali dari Surabaya; kawan-kawan budiman dari Wahdah Yogya; seorang kawan juga masih di Jakarta Timur; lalu sumbangan dari keluarga kami, juga dari dana kami sendiri. Serta dari tangan-tangan budiman yang tak menyebutkan namanya. Alhamdulillah ‘ala kulli musa’adatihim.

Terkait uluran bantuan infak/sedekah ini, berlaku prinsip yang diajarkan Al Qur’an, “Yunfiquna maa razaqnahum sirran wa ‘alaniyah” (mereka menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara tersembunyi atau terang-terangan). Ingin sembunyi-sembunyi, demi menjaga keikhlasan, baik. Ingin terang-terangan, dengan niatan agar memotivasi orang lain berbuat baik, itu juga baik. Khusus dalam ihwal infak/sedekah ini, Islam tidak melarang cara terang-terangan. Karena itu dalam riwayat-riwayat kita membaca, para Shahabat Ra yang bernama Fulan dan Fulan, mereka menginfakkan ini dan itu.

Sebaik-baik balasan yang bisa kami haturkan ialah ucapan: “Jazakumullah khairan katsira. Ajarakallah fi maa a’thita wa barakallah fi maa abqaita” (semoga Allah membalas Anda semua dengan balasan kebaikan yang banyak. Semoga Allah memberi pahala atas apa yang Anda infakkan, dan semoga Allah memberkahi atas harta yang tersisa di sisi Anda). Amin Allahumma amin.

Tentu tidak dilupakan disini, ialah peranan dari doa-doa para pembaca, para shahabat, kenalan, serta keluarga. Saat mana mereka tak mampu berikan bantuan materi, maka mereka membantu dengan bantuan DOA tulus kepada Allah Ta’ala. Doa-doa itu menjadi kekuatan tak terlihat, yang hanya Allah Maha Tahu hakikatnya. Usaha, materi, dan fasilitas ialah sarana; sedangkan doa akan membuat usaha itu menjadi lebih berkah. Apalagi jika disana ada doa hamba-hamba-Nya yang ‘arif dan dekat dengan Allah. Alhamdulillah, semua ini adalah kebaikan dan kemurahan hati yang kami syukuri. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Maka atas semua ini, kami memohon agar Allah Ta’ala merahmati, mengampuni, memudahkan, meluaskan rizki, menolong urusan, memberkahi usaha, serta menyempurnakan nikmat sehat dan ‘afiyat; kepada para Muhsinin budiman di atas dan keluarganya; kepada hamba-hamba Allah yang menolong secara sirran (sembunyi-sembunyi); kepada hamba-hamba-Nya yang mendoakan dengan ikhlas dan kesungguhan; serta kepada orang-orang beriman dan kaum Muslimin seluruhnya. Amin Allahumma amin.

Mohon dimaafkan atas segala kesalahan, kekurangan, dan kekhilafan kami selama ini, baik yang tampak maupun tersembunyi; baik yang besar maupun kecil; baik yang disengaja atau tidak. Semoga Allah Ta’ala menyempurnakan kesembuhan dan ‘afiyat bagi putra kami, bagi diri kami, bagi para Muhsinin, dan kaum Muslimin seluruhnya. Amin ya Syafi’ ya Sallam.

Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

 

Al faqir ila rahmatir Rabbi

(Abu Muhammad Waskito).

 

 

 

 

 


INFO BUKU BARU: “Bersikap Adil Kepada Wahabi”

November 13, 2011

PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Akhirnya, buku yang kami proses sekian lama ini terbit juga, dengan segala pertolongan Allah. Judul besarnya, “Bersikap Adil Kepada Wahabi” (BAKW). Judul penjelas: “Bantahan Kritis dan Fundamental Terhadap Buku Propaganda Karya Syaikh Idahram“. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

Cover Buku BAKW.

Kaum Wahabi adalah Gerakan Dakwah yang Banyak Berjasa bagi Ummat. Mereka Bukan Kelompok Malaikat. Nasehat bagi Mereka Sangat Terbuka, tetapi Bukan Fitnah.

DATA BUKU

Tebal buku, xxviii + 416 halaman. Menggunakan softcover dan bagian isi buku art paper. Ukuran buku standar, 13,5 cm x 20,5 cm. ISBN: 978-979-592-578-1. Dan terakhir, harga eceran buku Rp. 69.000,- (belum diskon).

SINOPSIS (teks cover belakang).

Belakangan ini beredar buku berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW) yang dikarang oleh seseorang yang mengaku bernama Syaikh Idahram. Buku tersebut berisi gugatan dan caci maki terhadap apa yang disebut dengan “Gerakan Salafi Wahabi”.

Kalau sekadar kritik yang obyektif, tentu tak masalah. Karena setiap orang dan kelompok bisa saja mempunyai kecenderungan keliru, berlebihan, mau benar sendiri dan menyalahkan orang lain. Namun jika kritik dan celaan tersebut berlebihan dan berbohong, bahkan mengandung manipulasi fakta, tentu saja hal ini menimbulkan masalah serius dan fitnah.

Bayangkan saja, akibat beredarnya buku Syaikh Idahram itu, sebuah kegiatan pengajian ditutup karena dituduh Wahabi. Padahal, apa yang dimaksud dengan Wahabi itu tidak jelas definisinya. Jangan sampai masyarakat awam diadu domba oleh buku fitnah semacam itu.

Belum reda kontroversi buku pertama sudah muncul buku kedua,“Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik” (MMKKUK); kemudian muncul lagi, “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi” (USMSW). Maka situasi fitnah pun kian merebak.

Baca entri selengkapnya »


REFLEKSI: Mengapa Bangsa Indonesia Susah Maju?

November 12, 2011

Negeri yang Indah, Namun Minus Kesyukuran. Sayang…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Disini akan disampaikan sebuah risalah PENTING tentang bangsa Indonesia. Risalah ini bersifat  singkat dan padat. Kalau mau dikembangkan atau dianalisis panjang-lebar, silakan dilakukan sendiri.

Jika yang ditulis ini benar di sisi Allah Ta’ala dan bermanfaat bagi Ummat; aku dedikasikan tulisan ini untuk kedua orangtuaku, dan Bapak/Ibu guruku yang telah ikhlas mengajarkan ilmu & kebaikan, sejak aku kelas I SD sampai masa perkuliahan. Semoga amal-amal mereka diterima di sisi Allah, diampuni kesalahan-kesalahannya, dilapangkan kuburnya (bagi yang sudah meninggal), serta diselamatkan akhiratnya. Amin Allahumma amin.

Baca entri selengkapnya »


SBY Penganut Teori Darwin…

November 11, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kadang tak dinyana, dalam hidup ini muncul kelucuan-kelucuan tertentu yang unik. Ketika banyak orang sedang menyorot kemampuan SBY dalam memimpin negara RI, tiba-tiba ada yang menyebut SBY sebagai, penganut teori Darwin. Tentu saja lucu. Kok bisa-bisanya sebagian orang mengaitkan SBY dengan teori evolusi Darwin…

Itu terjadi saat tanggal 10 November 2011 kemarin, dalam acara “Sarasehan Anak Bangsa” yang diadakan sebuah stasiun TV tertentu. Acara yang dipandu Kania Sutisna itu diaransemen seperti konferensi tokoh-tokoh dunia, dalam susunan meja-kursi melingkar. Dalam sidang-sidang PBB, IMF, international summit, dll. sering disusun dalam format seperti itu. Disana hadir banyak sekali tokoh-tokoh politik, akademisi, pengamat, anggota DPR, pejabat birokrasi, aktivis, budayawan, dll. Pendek kata, orang-orang berkelasnya Indonesia lah.

"Daripada Bicara Politik, Mendingan Minum Teh..."

Ketika Eep Saifullah Fatah diminta tanggapan tentang kepemimpinan SBY, dia melontarkan analisis, bahwa SBY sepertinya menganut teori evolusi Darwin. Dalam teori Charles Darwin, menurut Eep Saefullah, spesies yang paling kuat belum tentu bisa lolos dalam seleksi alam. Tetapi spesies yang paling pintar adaptasi, dialah yang akan lolos seleksi alam. Begitu pula dengan SBY. Politik SBY sangat pintar “beradaptasi”, sehingga selalu “lolos seleksi alam”.

Selanjutnya…saya tidak mengikuti sesi diskusi “Sarasehan Anak Bangsa” itu, sebab sudah keburu ngantuk. Maklum, setiap muncul spot iklan di TV, tiba-tiba “energi kantuk” itu begitu besar. Kondisi inilah yang membuat saya jarang mengikuti acara-cara TV sampai tuntas, seperti yang di-setting oleh pengarah acara TV. (Berbeda dengan acara “main bola” yang didominasi warna hijau-hijau. Tahulah…lapangan bola selalu hijau. Selain sedikit iklan, warna hijau itu sangat menyejukkan mata. Hingga ada “terapi hijau” untuk mata yang kelelahan).

Singkat kata, gelar bagi SBY bertambah lagi. Kini dia disebut sebagai “pengagum” teori Evolusi Darwin. He he he…

Oh ya, terkait sedikit tentang Teori Evolusi Darwin. Menurut para evolusionis dari kalangan pakar Biologi, Paleontologi, Geologi, Genetik, atau Sejarah; teori itu benar dan sah terbukti berdasarkan fosil-fosil. Itu kata mereka.

Tetapi, kalau kita konsisten dengan standar sains modern, sebenarnya teori Evolusi Darwin bertentangan dengan prinsip-prinsip fundamental sains itu sendiri. Benarkah demikian? Benarkah teori Evolusi Darwin bertentangan dengan sains modern? Apakah kesimpulan ini mengambil pendapat dari Dr. Harun Yahya dan kawan-kawan?

Alhamdulillah, disini kita bisa membuktikan bahwa teori Evolusi Darwin sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip fundamental sains, tanpa mesti merujuk kepada pendapat dari pihak tertentu. Sisi pertentangannya pada poin-poin antara lain sebagai berikut:

[A]. Dalam alam hayati, setiap spesies berdiri sendiri. Ia memiliki ciri-ciri berbeda dengan lainnya; meskipun pada sisi-sisi tertentu ada kesamaan. Inilah yang kemudian disebut sebagai “realitas keragaman” (variety). Sedangkan dalam teori Evolusi, setiap spesies dianggap merupakan hasil dari proses alam yang terjadi pada masing-masing spesies itu. Andaikan keragaman ini ingin ditolak, jelas para ilmuwan Biologi harus membuang ilmu seputar klasifikasi makhluk hidup.

[B]. Proses perubahan dari satu fase makhluk hidup -menurut teori Evolusi- ke makhluk hidup lainnya, pada dasarnya hanyalah FANTASI sains belaka. Ia tidak ada dasarnya apapun, selain hanya menduga-duga saja. Buktinya apa? Proses evolusi itu TIDAK BISA direkonstruksi dalam bentuk proses laboratorium yang bisa diamati, diteliti, atau dilihat secara kualitatif-kuantitatif. Jadi, semua itu hanya khayalan yang tak terbukti dalam eksperimen laboratorium.

[C]. Para pemuja teori Evolusi, ketika mereka meyakini kebenaran teori itu, pusat kesadaran mereka umumnya HANYA TERFOKUS pada bentuk-bentuk spesies yang memiliki kesamaan ini dan itu; bahkan lebih parah lagi, hanya terfokus pada bentuk-bentuk fosil yang ditemukan. Ini adalah pemahaman sains yang SANGAT PRIMITIF. Melihat eksistensi makhluk hidup, misalnya suatu spesies, tidak bisa hanya dari bentuk morfologisnya saja. Tetapi harus HOLISTIK, dilihat anatominya, habibat hidupnya, pola makan, pola regenerasi, keadaan iklim, pola hubungan dengan spesies lain, kualitas udara di suatu zaman, dll. Semua elemen-elemen itu berpengaruh terhadap KEMAMPUAN SURVIVE makhluk hidup (spesies). Kalau tidak percaya, coba lihat proses penelitian para pakar ketika mereka berusaha memperbanyak jumlah hewan langka melalui proses penangkaran. Disana, segala hal diperhitungkan dengan cermat dan lengkap. Meskipun hasilnya, kadang gagal juga (baca: tidak sukses menangkarkan hewan langka).

Antara Darwin dan Teori Pencitraan (gagal total deh...)

[D]. Dalam ilmu Fisika ada hukum “kekekalan massa”. Singkat kata, menurut kaidah ini, jumlah resultan massa yang berproses di alam ini selalu sama. Antara bahan yang dibutuhkan untuk proses dan hasil dari proses itu sendiri, kalau dihitung secara teliti, nilainya sama. Hingga disana ada ungkapan, “Massa tidak bisa diciptakan, dan tidak bisa pula dimusnahkan” (kecuali, oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Hal serupa terjadi dalam ranah energi.

Nah, teori Evolusi Darwin sangat runyam ketika dikaitkan dengan kaidah Fisika ini. Mengapa? Sebab dalam teori itu makhluk hidup dianggap terjadi secara kebetulan, berproses secara acak, eksis dalam hidup secara liar, tanpa mengikuti suatu mekanisme yang bersifat stabil, tetap, dan solid. Ide dasarnya ialah RANDOMISME, segala sesuatu eksis dan bekerja secara random (acak). Dan bila proses-proses itu dijabarkan dalam teori Fisika, ia menjadi tidak tepat. Disana, makhluk dianggap bisa muncul tiba-tiba, bisa hilang tiba-tiba. Suatu saat ada sekian banyak makhluk hidup, di saat lain lenyap tanpa bekas. Satu makhluk hidup bisa berubah-ubah menjadi makhluk lain yang lebih maju, lalu nanti bisa menjadi lebih buruk, dan seterusnya.

Paling tidak bisa dipahami, bahwa perubahan dari satu spesies ke spesies lain, hal itu jelas mengubah komposisi massa dan energi dari spesies bersangkutan. Pertanyaannya, ketika muncul spesies yang lebih maju dari spesies sebelumnya, jelas hal itu membutuhkan massa/energi baru. Lalu darimana massa atau energi baru itu diperoleh? Padahal katanya menurut hukum kekekalan, massa/energi tidak bisa diciptakan (selain oleh Allah).

Sebaliknya, jika proses evolusi menghasilkan spesies yang lebih buruk, itu artinya ada massa/energi yang lenyap. Lalu kemana larinya massa/energi itu? Padahal menurut hukum kekekalan, massa/energi tidak bisa dimusnahkan (selain oleh Allah).

Sampai disini, dan alasan-alasan lain yang tak bisa disebutkan disini, dapat disimpulkan bahwa teori Evolusi Darwin itu BERTENTANGAN dengan prinsip-prinsip Sains yang sudah baku. Jadi, itu teori yang salah.

Soal kemudian, dalam ranah politik nasional, ada ide untuk meng-impeachment SBY. Ya, itu konteksnya lain. Kalau saya ditanya tentang itu, “Ya, didukunglah!” (He he he…maaf ya Pak SBY).


Selamat Datang, Jeng Sri!

November 9, 2011

Dalam sebuah diskusi, saya mendengar berita-berita off the record dari sebagian kalangan media. Harusnya tidak disampaikan, karena off the record. Tetapi demi kebaikan Ummat dan pembelajaran, tetap perlu disampaikan disini.

Orang media itu memberikan beberapa informasi penting, antara lain:

[A]. Ada upaya serius dari kalangan asing untuk menjatuhkan SBY. Kalau bisa, sebelum tahun 2014 SBY sudah lengser.

[B]. Sebagai ganti SBY, akan diangkat sosok Sri Mulyani, dedengkot Neolib dan tertuduh pemain utama Skandal Bank Century, akan diangkat ke permukaan. Sama seperti era SBY tahun 2004 lalu. Upaya mengangkat Sri Mulyani ini akan berjudul “Sri Mulyani Dizhalimi”.

[C]. Untuk menyukseskan upaya ini, tentu saja pihak asing menggelontorkan dana besar ke media-media massa, baik media TV, atau media cetak. Maka jika nanti di TV, kita mulai melihat ada pemberitaan terus-menerus bertema “Sri Mulyani Dizhalimi”, berarti skenario itu sedang berjalan.

Kan mayoritas rakyat Indonesia dianggap bodoh-bodoh, dianggap tak berilmu, tak berkesadaran baik, cepat lupa memori-memori sejarah, analisisnya lemah… maka dengan semua itu, skenario “Sri Mulyani Dizhalimi” sangat mungkin akan laku keras. Jangankan Sri Mulyani…kalau skenario diubah menjadi “Gayus Tambunan Dizhalimi”, juga pasti akan sukses. Rakyat yang miskin ilmu, materi, dan iman, bisa dibuat mencintai Gayus Tambunan, dengan cara-cara rekayasa media. Apalagi orang-orang media sendiri banyak yang amoral. Mereka tak peduli hitam-putih, baik-buruk, siang atau malam; “Sing penting dapet duit,” begitu kredo yang kerap mereka yakini.

Mempertahankan SBY bukanlah pilihan politik yang baik dan benar. Tetapi memilih antek Neolib, Sri Mulyani, juga bukan pilihan yang benar. Termasuk ide menjadikan Iwan Fals sebagai presiden, juga merupakan ide orang tolol. Manusia semacam itu mau disuruh mengurus rakyat Nusantara? Apa kata dunia…

Tapi yang jelas, untuk semua ini kita sebagai Muslim hanya bisa TAWAKKAL kepada Allah Azza Wa Jalla. Serta memberikan kontribusi apapun, yang mampu kita berikan. Bukan berarti kita tak bekerja, atau tak ikut memperjuangkan. Namun, ya seperti yang ada selama ini, aspirasi politik Islam disumbat dimana-mana. Bila ada politisi Muslim, mereka tak lebih dari “para pencari kerja” dan “para pemburu kekuasaan”. Aplikasi politik berlandaskan Syariah, seakan sudah tak menemukan bentuknya lagi. Meskipun zaman sudah “reformasi”, tetap saja kita tak bisa banyak mewarnai kepemimpinan.

Dan jujur, di internal gerakan Islam sendiri, terdapat 1001 pandangan, ijtihad politik, kepentingan, teori, serta madzhab. Dengan kondisi terpecah-belah seperti itu, apa yang bisa diharapkan?

Sekali lagi, kita hanya mampu TAWAKKAL dan berbuat semampunya; sambil dipaksa menikmati Jeng Sri Mulyani “berjoged-joged” di altar politik nasional, memamerkan tarian Neolib versi paling mutakhir. Kasihan…

Di tengah segala kenyataan ini, mari kita berdoa kepada Ar Rahmaan…

Allahumma ashlih-lana dinana alladzi huwa ishmatu amrina, wa ashlih-lana dunyana allati fiha ma’asyuna, wa ashlih-lana akhiratana allati fiha ma’aduna, waj’alil hayata ziyadata lana fi khair, waj’alil mauta rahatan lana fi syarri.

(Ya Allah perbaikilah agama kami, karena ia adalah pokok urusan kami. Perbaikilah dunia kami, karena ia adalah kehidupan kami. Perbaikilah akhirat kami, karena ia adalah tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan kami selalu bertambah kebaikan, dan jadikanlah kematian kami sebagai waktu istirahat dari segala keburukan).

Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

 

[Abinya Syakir].