Selamat Datang, Jeng Sri!

Dalam sebuah diskusi, saya mendengar berita-berita off the record dari sebagian kalangan media. Harusnya tidak disampaikan, karena off the record. Tetapi demi kebaikan Ummat dan pembelajaran, tetap perlu disampaikan disini.

Orang media itu memberikan beberapa informasi penting, antara lain:

[A]. Ada upaya serius dari kalangan asing untuk menjatuhkan SBY. Kalau bisa, sebelum tahun 2014 SBY sudah lengser.

[B]. Sebagai ganti SBY, akan diangkat sosok Sri Mulyani, dedengkot Neolib dan tertuduh pemain utama Skandal Bank Century, akan diangkat ke permukaan. Sama seperti era SBY tahun 2004 lalu. Upaya mengangkat Sri Mulyani ini akan berjudul “Sri Mulyani Dizhalimi”.

[C]. Untuk menyukseskan upaya ini, tentu saja pihak asing menggelontorkan dana besar ke media-media massa, baik media TV, atau media cetak. Maka jika nanti di TV, kita mulai melihat ada pemberitaan terus-menerus bertema “Sri Mulyani Dizhalimi”, berarti skenario itu sedang berjalan.

Kan mayoritas rakyat Indonesia dianggap bodoh-bodoh, dianggap tak berilmu, tak berkesadaran baik, cepat lupa memori-memori sejarah, analisisnya lemah… maka dengan semua itu, skenario “Sri Mulyani Dizhalimi” sangat mungkin akan laku keras. Jangankan Sri Mulyani…kalau skenario diubah menjadi “Gayus Tambunan Dizhalimi”, juga pasti akan sukses. Rakyat yang miskin ilmu, materi, dan iman, bisa dibuat mencintai Gayus Tambunan, dengan cara-cara rekayasa media. Apalagi orang-orang media sendiri banyak yang amoral. Mereka tak peduli hitam-putih, baik-buruk, siang atau malam; “Sing penting dapet duit,” begitu kredo yang kerap mereka yakini.

Mempertahankan SBY bukanlah pilihan politik yang baik dan benar. Tetapi memilih antek Neolib, Sri Mulyani, juga bukan pilihan yang benar. Termasuk ide menjadikan Iwan Fals sebagai presiden, juga merupakan ide orang tolol. Manusia semacam itu mau disuruh mengurus rakyat Nusantara? Apa kata dunia…

Tapi yang jelas, untuk semua ini kita sebagai Muslim hanya bisa TAWAKKAL kepada Allah Azza Wa Jalla. Serta memberikan kontribusi apapun, yang mampu kita berikan. Bukan berarti kita tak bekerja, atau tak ikut memperjuangkan. Namun, ya seperti yang ada selama ini, aspirasi politik Islam disumbat dimana-mana. Bila ada politisi Muslim, mereka tak lebih dari “para pencari kerja” dan “para pemburu kekuasaan”. Aplikasi politik berlandaskan Syariah, seakan sudah tak menemukan bentuknya lagi. Meskipun zaman sudah “reformasi”, tetap saja kita tak bisa banyak mewarnai kepemimpinan.

Dan jujur, di internal gerakan Islam sendiri, terdapat 1001 pandangan, ijtihad politik, kepentingan, teori, serta madzhab. Dengan kondisi terpecah-belah seperti itu, apa yang bisa diharapkan?

Sekali lagi, kita hanya mampu TAWAKKAL dan berbuat semampunya; sambil dipaksa menikmati Jeng Sri Mulyani “berjoged-joged” di altar politik nasional, memamerkan tarian Neolib versi paling mutakhir. Kasihan…

Di tengah segala kenyataan ini, mari kita berdoa kepada Ar Rahmaan…

Allahumma ashlih-lana dinana alladzi huwa ishmatu amrina, wa ashlih-lana dunyana allati fiha ma’asyuna, wa ashlih-lana akhiratana allati fiha ma’aduna, waj’alil hayata ziyadata lana fi khair, waj’alil mauta rahatan lana fi syarri.

(Ya Allah perbaikilah agama kami, karena ia adalah pokok urusan kami. Perbaikilah dunia kami, karena ia adalah kehidupan kami. Perbaikilah akhirat kami, karena ia adalah tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan kami selalu bertambah kebaikan, dan jadikanlah kematian kami sebagai waktu istirahat dari segala keburukan).

Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

 

[Abinya Syakir].

 

 

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: