Allah Ta’ala Ada di Langit!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah, kita mensyukuri bahwa ajaran Islam adalah agama yang mudah dipahami, mudah dimengerti dan diamalkan. Rasulullah Saw, para Shahabat Ra, dan para Salafus Shalih menerima agama ini dalam kemudahan, lalu mengamalkannya secara konsisten, sampai akhir hayat.

Namun ketika peradaban Islam mulai bersentuhan dengan dunia Barat yang membawa paham filsafat (ilmu kalam), mulai muncul aneka pertanyaan-pertanyaan rumit. Sesuatu yang semula mudah, menjadi sulit, dan pelik. Tak jarang, banyak manusia tersesat karena fitnah akal yang bersumber dari filsafat itu. Lahirnya kelompok-kelompok teologi seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, ‘Asyariyah, Maturidiyyah, Zindiq, dll. tidak lepas dari pengaruh benturan antara peradaban iman (Islam) dengan pola pikir filsafat.

Salah satu topik yang layak dibahas ialah seputar “Allah ada di langit”. Topik ini telah membuka perdebatan panjang antara kalangan TATS-BIT (memilih menetapkan Sifat Allah apa adanya), TA’WIL (mengartikan istilah-istilah tertentu ke pengertian lain, dengan niatan menyucikan Allah), TAF-WIDH (menerima istilah-istilah itu, tetapi menyerahkan maknanya kepada Allah). Hingga hari ini, perdebatan tersebut belum tuntas. Kalau sering-sering membuka laman blog, diskusi internet, dll. kita akan menyaksikan bahwa perdebatan itu semakin panas dan pelik saja. Wallahul Musta’an.

Dalam Al Qur’an disebutkan ayat yang jelas:

 إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Artinya, “Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy.” (Al A’raaf: 54).

Ayat-ayat lain yang senada dengan ini, yang menunjukkan bahwa Allah bersemayam di atas Arasy ada 6 ayat lagi, yaitu:  Yunus ayat 3, Ar Ra’du ayat 13, Ar Rahman ayat 5, Al Furqan ayat 59, As Sajadah ayat 4, dan Al Hadid ayat 4. Semuanya ada 7 ayat yang senada.

Namun, kejelasan ini kemudian dimentahkan, ketika sebagian orang mulai mempertanyakan ayat-ayat di atas. Mereka mulai berkata: “Tunggu dulu! Jangan cepat menyimpulkan. Ayat-ayat itu tak menunjukkan bahwa Allah ada di atas langit. Sekarang kami bertanya, Arasy itu apa? Ber-istiwa’ (bersemayam) itu apa? As sama’u (langit) itu apa? Semua ini masih bisa ditafsirkan dengan pengertian tidak seperti yang Anda pikirkan.”

Lebih jauh mereka beralasan, “Allah itu tidak di langit. Allah itu tidak di tempat yang tinggi. Dia tidak berada dalam ruang. Ruang itu adalah makhluk. Mustahil Allah terikat oleh makhluk. Allah tidak berada dalam ruang, tidak berada di luar ruang (sebab “luar ruang” juga makhluk), dan tidak berada di antara keduanya.”

Dari pengertian mudah, bahwa Allah itu bersemayam di atas Arasy. Dan Arasy sebagaimana disebutkan para ulama, berada di atas langit tertinggi. Namun karena akal banyak bertanya (seperti sindrom Bani Israil), maka terbuka lebar kesulitan-kesulitan.

Berkata Ibnu Taimiyah: “Adapun Al-Arsy maka dia berupa kubah sebagimana diriwayatkan dalam As-Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im.” Disana sebutkan, “Telah datang menemui Rasulullah seorang A’rab dan berkata, ‘Ya Rasulullah, jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan…  sampai pada perkataan Rasulullah, “Sesungguhnya Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya di atas langit-langit dan bumi, seperti begini.’ Dan beliau memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah. (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/252).

Adapun tentang ketinggian Arasy, Rasulullah Saw.:

إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Artinya, “Jka kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya. Kitab Tauhid, Bab Wa Kaana Arsyuhu Alal Ma’i). [Perkataan Ibnu Taimiyyah dan dua riwayat di atas, dinukil dari tulisan Ustadz Khalid Syamhudi, dari situs almanhaj.or.id, berjudul “Aqidah Ahlus Sunnah Seputar Arasy”].

Jelas sekali, bahwa Allah itu ada di atas Arasy. Arasy ada di atas langit tertinggi. Bahkan disebutkan, Arasy itu ada di atas air. Di atas Arasy ada Kursyi (sehingga kita mengenal istilah Ayat Kursyi). Allah bersemayam di atas itu semua.

Lalu mengapa semua ini begitu sulit dipahami (terutama oleh kalangan ‘Asyariyin dan kawan-kawan)?

Mereka beralasan, “Allah tidak di langit, atau di atas Arasy. Sebab semua itu adalah ruang. Ruang adalah makhluk. Allah tidak boleh terikat oleh ruang, sebab itu sama dengan Allah terikat oleh makhluk.”

Letak kesalahan utama orang-orang itu ialah: “Mereka menyifati Allah dengan ciri-ciri makhluk yang membutuhkan tempat, arah, dan ukuran. Andaikan mereka bisa melepaskan diri dari gambaran makhluk, ketika mereka berbicara tentang Sifat-sifat Allah, maka hal itu akan menyelesaikan masalah ini.”

Contoh, dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Allah Ta’ala setiap akhir malam turun ke langit dunia, untuk melihat siapa yang berdoa, lalu dikabulkan-Nya; untuk melihat siapa yang mohon ampun, lalu diampuni-Nya. Hal ini mudah dipahami, dan tinggal kita amalkan dengan shalat malam, berdoa, serta memohon ampun di sepertiga akhir malam.

Tapi di hadapan akal-akal yang aneh, mereka mempertanyakan banyak hal. “Dengan apa Allah turun ke langit dunia, dengan Dzat-Nya atau Ilmu-Nya? Kalau Allah turun, berarti nanti Dia akan lebih rendah dari makhluk-Nya. Kalau setiap akhir malam Allah turun, lalu saat pagi Dia balik ke atas lagi, berarti kerja-Nya bolak-balik saja, dong? Kan bumi itu bulat, mana atas mana bawah?”

Begitulah, orang-orang itu menikmati sekli hujatan-hujatannya terhadap sebagian Sifat Allah yang Dia ajarkan melalui Sunnah Rasul-Nya. Seakan, ketika mereka telah melontarkan semua pertanyaan-pertanyaan itu, mereka telah menang; mereka telah ngangkangi dunia; mereka merasa puas karena “telah menaklukkan” Allah. Masya Allah, masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Semua pikiran-pikiran itu bukan menunjukkan kepintaran, tetapi bukti AROGANSI. Apa bedanya pikiran semodel itu dengan perkataan Bani Israil, ketika mereka mengatakan, “Yadullah maghlulah” (Tangan Allah itu terbelenggu). Laa ilaha illa Allah, laa ilaha illa Allah, Maha Suci Allah dari segala kekotoran yang mereka pikirkan.

Bantahan atas pikiran-pikiran kotor itu sederhana saja. Mereka kesulitan mengimani ayat-ayat atau hadits Rasulullah Saw seputar Sifat-sifat Allah, karena: mereka memahami posisi Allah seperti mereka memahami makhluk-Nya. Kalau sebuah benda turun, pasti dia akan lebih rendah dari benda di atasnya. Ini adalah tabi’at makhluk. Kalau benda turun-naik, berarti benda itu selalu bolak-balik. Ini juga tabi’at makhluk. Kalau benda ada di atas bumi yang bulat, berarti sisi atasnya bisa ke segala arah. Lagi-lagi ini adalah sifat makhluk. Kalau benda punya letak (misalnya di langit), berarti dia punya tempat dan volume. Lagi-lagi, wahai Kangmas dan Mbakyu, itu adalah sifat makhluk. Kalau Allah menciptakan segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah? Untuk kesekian kalinya, suatu eksistensi yang ada karena diciptakan, ia adalah SIFAT MAKHLUK.

Allah tidak punya sifat seperti itu. Dia adalah Rabb, Ilah, Malik, atau Dzat yang memiliki Sifat tersendiri. Bebas dari sifat-sifat makhluk. Apa yang tidak mungkin di tangan makhluk, sangat mudah terjadi pada Allah; kalau Dia menghendaki hal itu terjadi. Kalau makhluk terjadi selalu karena diciptakan, maka Allah bisa Wujud tanpa mengalami penciptaan. Lho kok bisa begitu? Ya, karena Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Laisa ka mits-lihi syai’un wa huwa sami’ul bashir. Bukankah ayat ini sudah populer?

Sebagai Muslim, kita tidak akan ditanya, “Allah ada di dalam ruang atau di luar ruang?” Tidak, demi Allah kita tak akan ditanya seperti itu.

Lalu orang ‘Asyariyin berkata, “Allah tidak boleh di dalam ruang, karena ruang adalah makhluk-Nya. Allah itu Suci, Dia tak membutuhkan apapun. Allah tidak terikat oleh ruang. Dia bebas mandiri dari unsur makhluk-Nya.”

Sebenarnya, bagi kita semua, apakah Allah ada di dalam ruang atau tidak, TIDAK MASALAH. No problem, anything! Kalau Allah menetapkan diri-Nya dalam ruang, kita mengimaninya. Kalau Allah tetapkan diri-Nya di luar ruang, kita pun akan mengimani-Nya. Apa yang Allah inginkan tentang diri-Nya dengan segala Sifat-Nya, kita imani. Kita akan mengatakan, “Amanna bihi kullun min ‘indi Rabbina” (kami mengimani-nya, semua itu dari sisi Rabb kami).

Jadi dalam hal seperti ini, JANGAN IKUT CAMPUR apa-apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya. Andaikan Allah berada dalam ruang, dan hal itu yang Dia kehendaki; maka sungguh tidak akan berkurang Kesucian-Nya. Andaikan Allah berada di luar ruang, seandainya itu yang Dia inginkan, juga tak akan berkurang Kesucian-Nya. Sebab, Allah sudah Suci sejak sedia kala, tanpa membutuhkan cara-cara kita untuk mensucikan-Nya.

Kalau Allah menggunakan makhluk-Nya untuk suatu keperluan, hal itu tak membuat Allah kehilangan Kesucian-Nya. Jelas-jelas Allah berada di atas Arasy, sedangkan Arasy itu juga makhluk. Lihatlah disana, ada beribu-ribu Malaikat, bahkan jumlahnya tak terhitung, kecuali hanya Allah yang Tahu. Apakah karena “dibantu” para Malaikat, kemudian Dia menjadi tidak Suci? Tidak demikian. Begitu juga, dengan para Nabi dan Rasul. Mengapa bukan Allah saja yang dakwah ke umat manusia, mengapa harus “meminta bantuan” Nabi dan Rasul? Begitu juga, mengapa untuk memberi rizki manusia, Allah mesti “meminta bantuan” angin, tanaman, hewan, sungai, hujan, dll.?

Subhanallah, Allah tidak tergantung kepada makhluk-Nya, bahkan Dia yang memberi kekuatan, eksistensi, dan manfaat pada makhluk-Nya. Dengan segala Kehendak dan Qudrah-Nya, Allah menjadikan yang mati menjadi hidup, dan yang hidup menjadi mati. Atas segala hal itu, Dia selalu Suci.

Bahkan dalam Surat Al Baqarah ayat 26 disebutkan, bahwa “Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk, atau yang lebih rendah dari itu.” Ayat ini menjadi bukti, bahwa Kesucian Allah tidak ternoda hanya ketika Dia mengambil perumpamaan sebuah makhluk kecil yang bernama nyamuk. Kesucian Allah juga tak ternoda ketika Dia bersumpah dengan makhluk-makhluk-Nya, seperti malam, siang, waktu, matahari, bulan, jiwa, buah tin, buah zaitun, dll.

Akan tetapi, akidah Islam ini membawa kita untuk keluar dari semua perdebatan aqliyah. Allah hanya menetapkan, “Diri-Nya bersemayam di atas Arasy.” Artinya, kita tak usah meributkan soal “dalam ruang” atau “di luar ruang”, sebab penjelasan ayat-ayat Allah itu sudah gamblang: Dia berada di atas Arasy. Disini kita tak perlu memikirkan, apakah Allah ada dalam  ruang atau tidak. Karena masalah itu tidak disinggung dalam ayat-Nya atau hadits Nabi-Nya.

KAIDAH dasarnya sebagai berikut: Saat berbicara tentang Sifat Allah, disana ada Sifat Dzatiyyah (sifat yang terkait dengan Diri Allah Ta’ala) dan Sifat Fi’liyyah (sifat yang terkait dengan Perbuatan Allah). Kalau bicara soal Dzatiyyah Allah berlaku kaidah “laisa ka mitslihi syai’un” (tidak ada yang serupa dengan-Nya satu pun). Dalam hal ini, jangan sekali-kali memahami Allah dengan paramter makhluk-Nya; kalau begitu, kita pasti akan tersesat. Kalau bicara tentang Fi’liyyah Allah berlaku prinsip “idza arada syai’an an yaqulu kun fa yakun” (kalau Dia menghendaki sesuatu, Dia tinggal mengatakan ‘kun’, maka jadilah hal itu).

Inti kesalahan orang ‘Asyariyyun ialah ketika mereka bicara Dzat Allah, mereka serupakan diri-Nya dengan makhluk-Nya; sehingga mereka merasa bahwa dengan keadaan itu Allah menjadi “tidak suci”, sehingga butuh akal-akalan mereka, agar Allah menjadi “suci”. Sebaliknya, ketika bicara tentang Perbuatan  Allah, mereka bebaskan Allah sama sekali dari urusan makhluk-Nya; padahal Allah berhak mengatur makhluk-Nya sekehendak-Nya. Makhluk-Nya mau dibuat hitam atau putih, itu terserah Iradah-Nya.

Betapa agung perkataan Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang Istiwa’. Kata Imam Malik, “Istiwa’ itu sudah maklum, bagaimananya tidak dikenal. Mengimaninya wajib, mempersoalkannya bid’ah.” Ini adalah ungkapan pendek yang meliputi seluruh metode yang dibutuhkan untuk mencapai hakikat keimanan yang lurus terkait Sifat-sifat Allah.

Sungguh, seorang pendosa yang berlumuran dosa, kalau hatinya lurus dalam mengimani Sifat-sifat Allah ini, masih masih memungkinkan dia akan diampuni. Sebaliknya, seorang ustadz yang sepanjang waktunya, pagi sampai sore, petang sampai fajar, mengisi hidupnya hanya dengan dzikir sambil bercucuran air mata, sementara hati dan akalnya dipenuhi penyifatan-penyifatan kotor tentang Dzat Allah dan Perbuatan-Nya; kelak dia akan berhadapan dengan kesulitan besar di hadapan Allah. Dia akan dituntut atas pelanggaran-pelanggaran terberat menyangkut hak-hak Allah.

Bertaubatlah wahai insan, selama nafasmu masih bisa dipakai bertaubat! Tidak ada yang sulit dari agama ini, kalau hatimu ikhlas. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Abinya Syakir.

Iklan

74 Responses to Allah Ta’ala Ada di Langit!

  1. ande berkata:

    konsep tauhid yang rancu.begini jadinya kalo ilmu setengah mateng

  2. Liong berkata:

    trus konsep tauhid yang tidak rancu gimana??

  3. akhdan berkata:

    jazakumullah khoir kepada penulis

    @ande
    yang rancu gimana? dimana kerancuannya. Tulis saja di komentar apa susahnya.. ilmiah dikit gitu napa..

  4. Abu Muhammad berkata:

    Pingin koment singkat pada perdebatan “aswaja” dg teman2 salafi di ruang info buku. Sayang dah tu2p.
    “surga ada dibwh telapak kaki ibu” stelah ak cek ternyata yg ada di bwh kaki ibu cuma sandal jepit. Jd ini jelas majas, metafora, kiasan.
    “ALLOH di atas arsy di atas langit k7” ak tantang aswaja & asyairoh untuk membuktikan bahwa Alloh tidak di “sana”, kalian bisa ga bikin pesawat ato apalah untuk kesana membuktikan bahwa Alloh tidak “di sana”. Demi Alloh kalian ga akan sanggup, krn hal ini cuma berlaku sbg mukjizat pada Rosulullah sholallahu alaihi wasalam yang tidak diberikan pada manusia selain beliau. Maka ak berkeyakinan spt apa ya Alloh kabarkan, dan Rosululloh jelaskan. Soal bgamana “di sananya” Alloh itu bukan urusan saya. Karena sampek kiamatpun ga bakal ada manusia yg mampu menjelaskan kaifiahnya. Kenapa hal yg gampang gini kok jadi susah. Jangan2 aswaja cs terinspirasi film startrex kafirun yg menggambarkan bhw langit terbentang tanpa “batas” . Bukankah nanti pada hari kiamat langit akn dilipat oleh Alloh ta’ala brati ya ada batasnya.
    Maaf kalo ga pake dalil. Ga hapal. Pemula. Afwan.

  5. ande berkata:

    akhdan@ antum pikir sndri aja msa kagak ngerti dgn jdul artikel diatas..sngat jelas ustad AM WASKITO mentasyabuhkan Alloh SWT dgn makhluknya..smntara tak seorangpun ahli tafsir menafsirkan ayat trsbt dgn tafsiran sprti itu.

  6. abisyakir berkata:

    @ Ande…

    Ya…inti masalahnya memang “berputar-putar” di situ. Anda menyebut saya mentasyabuhkan Allah dengan makhluk-Nya, padahal saya hanya berusaha MENGIMANI apa yang disebutkan dalam Al Qur’an. Mengimani saja, apa adanya. Tidak diubah-ubah ke dalam pengertian lain.

    Masalahnya justru Anda dan kaum Asya’irah sebenarnya yang MENYERUPAKAN Allah dengan makhluk-Nya. Buktinya apa? Buktinya sebagai berikut:

    Pertama, Anda dan kawan-kawan merasa tidak bisa mengimani ayat Al Qur’an, bahwa “Allah ada di atas Arasy”.

    Kedua, mengapa Anda dan kawan-kawan tidak bisa mengimani ayat itu, padahal ia disebutkan berkali-kali dalam Al Qur’an, dengan redaksi yang MIRIP? Mengapa wahai Sauadaraku? Sebab, Anda tidak menerima jika Allah itu berada di atas Arasy. Menurut Anda dan kawan-kawan, sifat “di atas Arasy” itu seperti sifat makhluk yang membutuhkan tempat dan ruang. Dalam logika Anda, Allah tidak membutuhkan tempat dan ruang. Oleh karena itu, Anda mengingkari sifat-sifat Allah seperti “di atas Arasy”, “memiliki ketinggian”, “turun ke langit dunia”, dll.

    Ketiga, jadi intinya Anda dan kawan-kawan ingin “mengeluarkan AllAh” dari sifat-sifat makhluk (seperti yang Anda sangka). Lalu Anda palingkan ayat-ayat Al Qur’an atau hadits-hadits seputar Sifat Allah ke pengertian lain, yang Anda yakini bukan merupakan sifat makhluk. Padahal sejatinya, Anda dan kawan-kawan hanya BERPINDAH DARI SATU GAMBARAN (yang Anda sangka itu adalah gambaran makhluk) KE GAMBARAN MAKHLUK LAINNYA (tanpa Anda sadari). Misalnya, Anda meyakini bahwa Allah itu “tidak di dalam ruang”, juga tidak “di luar ruang”, juga tidak “di antara dalam ruang dan luar ruang”. Hal-hal seperti ini kan masih dalam asumsi manusia seputar sifat-sifat makhluk. Padahal Allah Ta’ala tidak bersifat seperti itu.

    Singkat kata, sebenarnya Ande dan kawan-kawan itu sendiri yang menyerupakan Allah dengan sifat makhluk. Kalau kami meyakini, bahwa Allah itu memiliki sifat-sifat Dzatiyyah yang sama sekali jauh dari sifat makhluk. Sifat demikian tidak ada pada siapapun, selain Allah saja.

    Singkat kata, dalam kehidupan alam semesta ini, Allah telah menetapkan Sunnatullah, yaitu hukum-hukum universal yang berlaku di alam. Allah bukan hanya menciptakan makhluk, tetapi juga mengatur hubungan makhluk itu, satu sama lain, melalui Sunnatullah (orang sekuler menyebutnya “hukum alam”). Sedangkan Allah Ta’ala, Dia tidak terikat oleh Sunnatullah itu sendiri. Dia disebut “Allahus Shamad”, bergantung segala sesuatu kepada-Nya. Allah tidak terikat Sunnatullah yang berlaku di antara makhluk-Nya, bahkan Sunnatullah itu sendiri justru bergantung kepada-Nya.

    Kesalahan mendasar orang Asy’ari sehingga mereka susah sekali untuk meyakini aya atau hadits seputar Sifat Allah, karena: “Mereka meyakini Allah yang menciptakan Sunatullah dan Allah terikat juga oleh Sunnatullah yang Dia ciptakan.” Nah, ini kesalahan mendasar mereka. Padahal kalau mau membaca mu’jizat para Nabi dan Rasul, disana sangat jelas-jelas ditunjukkan, bahwa Allah itu tidak terikat oleh Sunnatullah. Api panas bisa menjadi dingin, bayi bisa bicara, orang mati bisa hidup lagi, burung yang sudah dicacah bisa hidup lagi, tidur selama 300 tahun terasa seperti hanya semalam, dll. Ini kan untuk menunjukkan kepada kita, bahwa Allah terbebas dari ikatan Sunnatullah yang berlaku di alam semesta ini.

    Lalu mengapa orang-orang Asy’ari hendak meyakini Sifat-sifat Allah dengan perilaku Sunnatullah yang berlaku di alam ciptaan-Nya? Jelas sekali, antara Khaliq (pencipta) berbeda dengan makhluk (yang terciptakan). Semoga Anda bisa memahami.

    AMW.

  7. Si Anoe berkata:

    Masya Allah, biar Sampai kapan pun anda tidak akan dapat ‘memahami’ Allah SWT bila menggunakan : akal, pikiran bahkan dalil-dalil yg ada pada Al Qur’an & Hadits. Semua itu hanyalah sebagai alat ‘penggambaran’ saja utk mempermudahkan akal kita utk menerimanya & mengimaninya, karena ‘Ke-Maha Tinggi-an’ Allah SWT tdk dpt di capai dgn Panca indra atau apapun. Hanya amal ibadah yg di ridho’inya yg dapat mencapai semua itu. Sungguh amat sayang jikalau Tasawuf sebagai satu-satunya ilmu yg berhubungan dgn masalah Ketuhanan tsb selalu dijauhkan dari umat, walaupun di akui memang banyak oknum-oknum yg mengajarkan kesesatan mengatasnamakan Tasawuf. Saran sy, mari buka diri anda untuk bertasawuf jika anda ingin memahami & mengenal Allah SWT…

  8. Liong berkata:

    Masya Allah, lantas tidak bolehkah memahami Allah lewat Qur’an & Hadits? mesti lewat tasawufkah kita baru boleh memahami Allah ?
    apakah ini tidak dikatakan terlalu sombong? khawatir ada oknum tertentu yg menyombongkan diri mengatasnamakan tasawuf..

  9. Khazia berkata:

    @Si Anoe
    anda katakan “Hanya amal ibadah yg di ridho’inya yg dapat mencapai semua itu”

    bagaimana kita tahu amal ibadah yg di ridho’i Allah Ta’ala kalau bukan menurut Qur’an & Hadits??
    tetapi anda bilang menggunakan Qur’an & Hadits tidak akan dapat ‘memahami’ Allah Ta’ala?
    tolong anda pahami komentar anda sendiri, jgn asal komentar.

  10. ande berkata:

    @am waskito..
    Point terpenting dri statment anda adalah”pindah dari satu gambaran(yg di sangka gmbrn makhluk)ke gambaran makhluk lainnya(tanpa disadari).poin kedua inilah kesalahan fatal anda dlm mengasumsikan femahaman saya,(kami ma’asyiro asy’ariyyah)pdhl tdk demikian,jd intinya jika saya ditanya,lantas dmnkh Alloh SWT berada?smntra bnyk ayat mengatakn:Alloh ta’ala bersemayam diatas ArsyNYA(tafsiran harfiah).maka kami akan menjawab WALLOHU A’lam!tdk lnts diasumsikan”pindah lagi ke gambaran makhluk lainnya”.

  11. ande berkata:

    @Am Waskito
    jwbn point prtma:hebat btul anda ini,bsa tau keimanan saya(meskipun salah besar).kpn saya blng bhwa sya tdk mengimani ayat2 yg anda sbtkn???kalo mslh beda penafsiran,jgn lnts difahami”TIDAK MENGIMANI”piye to mas!he he
    Jwbn point kedua:jelas saja tdk menerima karna arsy itu adalh makhlukNya jg yg IA ciptkn dgn kekuasanNya!jd intinya,jika Alloh berad di atas arsy maka Alloh btuh akan tempat,dan yg demikian itu mustahil adanya,maha suci Alloh dari serupa dgn makhlukNya!jd dalam logika anda dan yg se akidah dgn anda Alloh itu terikat ruang dan waktu???mas abu..tlng dipahami/diaji lagi sifat muhkolafatuhu lilhawadits nya..

  12. Si Anoe berkata:

    liong@: Sy tdk mngatakan ‘TAK BOLEH’ ; Sy mngatakan ‘TDK BISA’. Dua kt diatas mempunyai arti yg berbeda jauh.

    Liong & khazia@ : Bc lg artikel di atas pelan2 ; intinya mereka berdebat ‘tentang’ Allah ; Tangan, Wajah, tempat dll. Padahal semua dalil2 tsb ada di Al Qur an & mereka smua mncoba mentakwilkan ayat2 tsb, padahal ayat2 tsb trmsuk ayat2 muthasyabihat. Apa lagi kalau membaca Hadits : ” Allah menciptakan Adam seperti bentuk-Nya” (HR. Bukhari dan Muslim), Kalau kt nenafsirnya scra zhahir bs mengakibatkan kesyirikan! Hanya org2 yg dikehendaki Allah yg dpt mngambil hikmah dr ayat2 yg muthasyabihat.
    Dgn Nash2 Al Qur an dlm ‘memahami’ Allah, kita hanya bs sampai di tahap mengimani & meyakini sj, sedangkn yakin bs di kategorikan :
    1. Ilmul Yaqin (berdasarkan ilmu)
    2. ‘Ainul Yaqin (berdasarkan ilmu dan bukti-bukti akan Kebenaran)
    3. Haqqul Yaqin (berdasarkan ilmu, bukti dan pengalaman akan Kebenaran).
    Hanya dgn Tasawuf-lah kt bs sampai kpd Haqqul Yakin.
    Tasawuf hanya menekankan/mmperbnyak Amal ibadah (shalat & dzikir) yg tentu sj sesuai dgn Al Qur an & As Sunah. Di dlm Shalat & Dzikir itu lah akan dirasakanya pengalaman akan kebenaran Allah, ini yg biasanya di sebut : Makrifat ; ini bukti amal ibadah yg di ridhoi-Nya, karna makrifat bukanlah dari diri kita tp dr Allah sendiri.

  13. abisyakir berkata:

    @ Ande…

    Jd intinya jika saya ditanya,”Lantas dimanakah Alloh SWT berada? Sementara banyak ayat mengatakn:Alloh Ta’ala bersemayam diatas Arsy-NYA(tafsiran harfiah)?” Maka kami akan menjawab WALLOHU A’lam!

    Respons:

    Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Ini seperti kelakuan Bani Israil, sudah tahu banyak ilmu, tapi tidak diamalkan; sehingga Bani Israil itu digelari “al magh-dhubi ‘alaihim”.

    Padahal dalam Islam sudah jelas-jelas diajarkan konsep IMANI, apabila ada ayat Allah yang turun, orang-orang beriman akan mengatakan: “Sami’na wa atha’na” (kami dengar dan kami taati). Tapi orang-orang ini malah muter-muter gak karuan, dijerumuskan oleh pikiran-pikirannya sendiri yang aneh.

    Wallahi, para Shahabat Ra di masa hidupnya, ketika mereka ditanya, “Dimanakah Allah?” Mereka menjawab: “Istiwa ‘alal arsy”. Tidak ada yang menjawab: “Wallahu a’lam.” Ini adalah kesesatan dan bid’ah yang nyata. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lil muslimin.

    AMW.

  14. abisyakir berkata:

    @ Ande…

    Kpn saya blng bhwa sya tdk mengimani ayat2 yg anda sbtkn??? Kalo mslh beda penafsiran, jgn lantas difahami “TIDAK MENGIMANI”. piye to mas! he he…

    Respons:

    Coba kita buktikan omongan Anda. Misalnya ada ayat Al Qur’an yang berbunyi “Aqimus shalata wa atuz zakata”, kira-kira artinya apa? Jelas ayat ini tidak bisa ditafsirkan: “Lakukan olah-raga dan belilah makanan!” Penafsiran ayat itu sudah jelas, kerjakan shalat dan bayarlah zakat.

    Anda katanya mengimani ayat “Istiwa di atas Arasy”, tetapi penafsiran Anda sangat jauh. Bahkan ujungnya mengkafiri makna ayat itu sendiri. Anda tidak percaya dengan Arasy, tidak percaya dengan perbuatan Allah, tidak percaya dengan khabar Qur’ani.

    Semua Anda palingkan ke pengertian yang sangat jauh dari makna kata-kata itu dalam bahasa Arab. Padahal sudah disebutkan berkali-kali dalam Kitabullah, bahwa Al Qur’an diturunkan di atas “lisanul ‘arabiyyatil mubin” (dengan bahasa arab yang nyata).

    Memalingkan makna sangat jauh itu jangan disebut “menafsirkan”, tetapi lebih tepat disebut: “mengingkari secara halus”. Semoga Anda memahami.

    AMW.

  15. Khazia berkata:

    @si anoe
    sy sudah baca pelan2,menurut anda mereka siapa yg sedang mentakwilkan?
    tak ada pentakwilan tentang wajah atau bentuk Allah diartikel, yg ada hanya tentang pembahasan Allah Ta’ala ada di langit. Anda mau berkomentar muter2 kemana lagi?

    menurut anda, yg tepat itu sebenarnya apa, melakukan ibadah/perintah untuk mengenal Allah Ta’ala atau karna mengenal Allah Ta’ala maka melakukan ibadah/perintah?
    tolong dijawab dgn jelas ya, jgn muter2. biar sy jg mendapat hal yg bermanfaat dari komentar2 disini

  16. abisyakir berkata:

    @ Si Anoe…

    Padahal semua dalil2 tsb ada di Al Qur an & mereka smua mncoba mentakwilkan ayat2 tsb, padahal ayat2 tsb trmsuk ayat2 muthasyabihat.

    Respons: Kalau Anda anggap semua itu mutasyabihaat, lalu bagaimana cara terbaik menyikapinya? Bukankah kalau ada ayat mutasyabihat, sikap yang dituntunkan dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut: “Wa yaquluna amanna bihi, kullun min ‘indi Rabbina, wa maa yadz-dzakkaru illa ulul albaab” (dan mereka berkata, ‘Kami mengimani ayat-ayat itu, semuanya datang dari sisi Rabb kami,’ dan tidaklah yang mengambil pelajaran selain orang-orang ulul albaab). Surat Ali Imran, ayat 7.

    Apa Anda saksikan dalam ayat itu kalimat semacam ini: “Sami’na wa nu’awwiluha ila ghairi ma’naha” (kami dengar ayat itu dan kami takwilkan ke pengertian lain)? Sikap demikian jelas khas tipikal sikap kaum kufur dari kalangan Bani Israil. Mereka sering mengubah-ubah ayat dari posisinya.

    Apa lagi kalau membaca Hadits: “Allah menciptakan Adam seperti bentuk-Nya” (HR. Bukhari dan Muslim). Kalau kt nenafsirnya scra zhahir bs mengakibatkan kesyirikan! Hanya org2 yg dikehendaki Allah yg dpt mngambil hikmah dr ayat2 yg muthasyabihat.

    Respons: Kata yang dipakai disana “shuwarahu“. Hal ini lebih tepat disebut “gambaran-Nya”, bukan “bentuk-Nya”. Istilah bentuk ini kan cara-cara kelompok Anda untuk mendramatisir masalah, biar Anda memiliki banyak alasan untuk membenarkan kaidah takwil.

    Andaikan kata “bentuk-Nya” itu kita terima, andaikan demikian. Maka masih terbuka jalan luas untuk mengimani riwayat-riwayat ini. Bentuk tersebut bisa dipahami sebagai “ahsani taqwiim” (sebaik-baik bentuk), seperti disebut dalam Surat At Tiin. Sedangkan dalam riwayat juga disebutkan, “Allahu jamilun” (Allah itu Maha Indah). Jadi, bentuk Adam As diciptakan indah oleh Allah, dibandingkan bentuk makhluk-Nya yang lain di dunia ini.

    Sebaliknya, hadits itu tidak boleh dipahami terbalik, misalnya dengan perkataan: “Kalau Adam diciptakan di atas bentuk-Nya, berarti bentuk Allah itu ya seperti bentuk manusia.” Nah, kata-kata seperti ini jelas salah dan sesat. Mengapa? Sebab bertentangan dengan ayat yang sudah pasti, “Laisa ka mitslihi syai’un wa huwas sami’ul bashir” dan ayat lain “lam yakun lahu kufuwan ahad”.

    Jadi, Anda jangan seenaknya langsung mengarahkan ke vonis: kesyirikan. Itu kan fantasi Anda sendiri.

    Dgn Nash2 Al Qur an dlm ‘memahami’ Allah, kita hanya bs sampai di tahap mengimani & meyakini sj, sedangkn yakin bs di kategorikan:
    1. Ilmul Yaqin (berdasarkan ilmu)
    2. ‘Ainul Yaqin (berdasarkan ilmu dan bukti-bukti akan Kebenaran)
    3. Haqqul Yaqin (berdasarkan ilmu, bukti dan pengalaman akan Kebenaran).

    Respons: Dari teori-teori seperti itu, nanti ujung-ujungnya pasti mengingkari Sifat-Sifat Allah, menolak ayat-ayat Allah, lalu membuat asumsi-asumsi bahwa Allah itu begini, begini, dan begitu; dengan lukisan akalnya sendiri. Hal-hal demikian adalah lubang kesesatan yang nyata. Orang-orang ini mesti diberi petunjuk jalan untuk meyakini Kitabullah dan As Sunnah secara benar. Bukan terjerumus dalam asumsi-asumsi akal mereka sendiri yang kotor dan menyimpang (tidak makshum).

    Hanya dgn Tasawuf-lah kt bs sampai kpd Haqqul Yakin. Tasawuf hanya menekankan/mmperbnyak Amal ibadah (shalat & dzikir) yg tentu sj sesuai dgn Al Qur an & As Sunah. Di dlm Shalat & Dzikir itu lah akan dirasakanya pengalaman akan kebenaran Allah, ini yg biasanya di sebut : Makrifat ; ini bukti amal ibadah yg di ridhoi-Nya, karna makrifat bukanlah dari diri kita tp dr Allah sendiri.

    Respons: Alhamdulillah, Rasulullah Saw sudah mewariskan THARIQAH SUNNAH NABAWIYAH. Itulah sebaik-baik thariqah yang mesti kita jalani. Inilah thariqah Syariat Islam yang tidak menyimpang dari Kitabullah dan As Sunnah. Bukan thariqah tasawuf yang aneh-aneh, dilandasi perenungan liar, mengadopsi filsafat orang kafir, serta dipenuhi prasangka-prasangka buruk akan Sifat Allah. Apa yang disebut tasawuf disana tak lebih dari semacam “sistem kebatinan campur-aduk” yang ujung-ujungnya bersikap tidak ramah terhadap Kitabullah dan As Sunnah. Buktinya, ayat-ayat seputar “Istiwa’ di atas Arasy” yang begitu populer, mereka ingkari.

    Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wa madza ba’dal haqqi illad dhalal” (dan apa lagi sesudah kebenaran itu, selain kesesatan).

    Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    AMW.

  17. Liong berkata:

    Si Anoe, ente tau darimana TIDAK BISA? ente lebih pinter dari Rasulullah ya?? Rasul bilang bahwa kalo berselisih paham tentang sesuatu,kembalikan pada Qur’an & Hadits(sunnah). Kolot bgt pikiran ente ya. Sia2 komentaran sama org sombong & belagak tasawuf kaya ente. Apaan lagi mbahas2 bentuk Allah. Wong artikel membahas tentang Allah Ta’ala ada di langit. Gak nyambung

  18. ande berkata:

    @am waskito
    he he..coba anda buka kitab kitab tafsir ttg ayat2 yg anda sbtkn di artkl diatas..jgn jauh2 ktb tafsir jalalain saja,ayat2 yg berisikan lafadz ISTIWA itu ditafsirkan dgn AL ISTIWAA YALIIQU BIHI TA’ALA..jd referensi saya jelas asalnya dari ktb tafsir ulama2 mu’tabaroh.nah..!skrg kta teliti kata istiwaaun ala al arsy,dari sudut pandang hukmun Aqliyyun(wajib,mustahil,jaiz)sbab kalo kta bicara ilmu kalam musti bersangkutan dgn hal yang demikian agar trhndar dari keimanan taqlidi(qobulu qaulilghoir bighoiri ma’rifatiddaliil).anda tau sendiri apa hukuman nya keimanan seseorang dgn keimanan taqlidi..wajib:MAA LAA YUTASHOWWARU FIL AL A’QLI A’DAMUHU.seperti wujudnya Alloh SWT.mustahil:MAA LAA YUTASHOWWARU FIL AL A’QLI WUJUDUHU.seperti tidak wujudnya Alloh SWT.jaiz:MAA YASHIHHU A’DAMUHU WA WUJUDUHU.seperti makhluq(kullu maa siwaahu ta’ala)itu mungkin adanya dan mungkin tidak adanya lianna wujudahu wa a’damahu alaa haddittasawaa..ya sprti saya dan mas waskito ini..(ummul barohiin shohifah 33).kembali ke mslh istiwaaun ala arsy,,Meng istinad kan dari lafadz Alloh/Ar rohman(kholiq),ke lafadz ala al arsy(makhluq)menurut anda termasuk istinad haqqiqiyyun atau majaziyyun?tlng di jwb..

  19. ande berkata:

    @am waskito
    inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun..atas apa yang disangkakan am waskito kpd sya.terlebih kata2″seperti kelakuan bani israil,sdh tau bnyk ilmu tapi tdk di amalkn..shngga meraka di gelari ghoirilmaghdubia’laihim..naudzu billah tsuma naudzu billah..anda mengatakan”pdhl dlm islam sdh jelas ada konsep IMANI sehngga jika turun ayat dlm kitabulloh,org2 beriman akan mengatakan “sami’na wa atho’na”..jgn menggeneralisir dong!masa shohabat RA disamakan dgn kita2 ini,ya ngaco jdnya!mereka2 yg mulia2 inikan begitu masuk islam langsung Alloh bukakan ma’rifat di qalbunya..sehngga tidak perlu mmbedakan lagi mana”al ismu”mana”al musammaa”dlm beribadah,mereka2 tlh brda pada tingkat haqqul yaqiin.tdk sprti orang awam sprti saya anda pembaca blog sklian,meskipun dilhrkn dari rahim seorang muslimah,bpknya muslim,dan di akui oleh jumhur ulama bhwa islamulwalad yatba’u a’la islami waalidaihi,stlh tamyij(aqil baligh)ttp harus dan wajib ada proses PEMBELAJARAN TAUHID!tdk ujug2 sami’na wa atho’na kan?semua melalui proses ta’allum.anda ini seperti tidak pernah kecil dulu aja..apa emang KELUAR lngsng gede??he he just guyon.sehingga stlh melalui proses td baru sami’na wa atho’na tho’atan au karhan!jd tahu apa itu “al ismu”(ALLOHU A’LAMUN LIDZATILWAJIBILWUJUDI)dan “al musamma”(dzatuhu ta’ala).seperti anda ini beribadah ke “al ismu”nya apa ke “al musamma”nya???awas salah..wa kullu man bighoiri ilmin ya’maluA’maluhu marduudatun laa tuqbalu..he he.

  20. abisyakir berkata:

    @ Ande…

    Saya komentari yang perlu-perlu saja ya…

    Skrg kta teliti kata istiwaaun ala al arsy, dari sudut pandang hukmun Aqliyyun (wajib,mustahil,jaiz).

    Respons: Ini adalah pintu masuk kalangan ahli kalam. Para ulama Ahlus Sunnah sudah menjelaskan, bahwa bukan pintu ini yang mestinya dibuka oleh seorang Muslim. Singkat kata, saya tidak mau masuk dari pintu itu, sebab ia bukanlah pintu yang akan mendekatkan ke arah keimanan yang lurus.

    Sebab kalo kta bicara ilmu kalam, musti bersangkutan dgn hal yang demikian, agar trhndar dari keimanan taqlidi (qobulu qaulil ghoir bi ghoiri ma’rifatid daliil).anda tau sendiri apa hukuman nya keimanan seseorang dgn keimanan taqlidi..

    Respons: Ya, pada intinya ajaran Islam itu bisa diterima oleh semua kalangan “ala qadri uqulihim” (sesuai kadar akal mereka). Kalau para ahli/pakar, bisa memahami konsep-konsep ilmu dengan segala kerumitannya. Kalau orang biasa, dapat menjalankan Islam dengan metode-metode praktis, termasuk dengan taklid itu sendiri. Untuk meyakini Islam, tidak disyaratkan harus paham logika ini itu. Jika demikian halnya, maka orang-orang Badui di masa Nabi Saw tak akan masuk Islam, karena susah memahami.

    Wajib: MAA LAA YUTASHOWWARU FIL AL A’QLI A’DAMUHU. seperti wujudnya Alloh SWT. Mustahil: MAA LAA YUTASHOWWARU FIL AL A’QLI WUJUDUHU. seperti tidak wujudnya Alloh SWT. Jaiz: MAA YASHIHHU A’DAMUHU WA WUJUDUHU.seperti makhluq (kullu maa siwaahu ta’ala) itu mungkin adanya dan mungkin tidak adanya.

    Response: Ya ini para ahli kalam sendiri yang membuat rumusan-rumusan demikian. Nabi Saw tidak mengajarkan metode-metode demikian. Kerap kali, dari hal seperti itu, ujungnya berupa kebingungan. Manusia sudah dimudahkan, malah mempersulit diri sendiri…

    Meng istinad kan dari lafadz Alloh/Ar Rohman (kholiq), ke lafadz ala al arsy(makhluq)menurut anda termasuk istinad haqqiqiyyun atau majaziyyun?

    Respons: Ya, sama seperti ayat-ayat Istiwa’ lainnya. Allah bersemayam di atas Arasy, sesuai kehendak-Nya demikian. Kalau Dia menetapkan bersemayam di atas yang lain, andaikan ada demikian, kita tak bisa menolak. Toh kita hanya makhluk. Kita tak bisa mengatur-atur kemauan Ar Rahmaan. Ayat seperti itu tak perlu dimajaz-majazkan.

    Jangan seperti Anda & kawan-kawan…sudah tahu hanya manusia, tapi sok mencampuri Rububiyyah Allah dengan menetapkan syarat-syarat dan ketentuan bagi-Nya. “Ya aiyuhan naas, antum fuqara’u ila Allahi” (wahai manusia, kalian faqir/sangat butuh kepada Allah).

    Lha ini aneh, akalnya segitu-gitunya. Disuruh menciptakan kutu juga tidak bisa. Kok bisa-bisanya membuat aturan/syarat-syarat untuk membelenggu Allah Rabbul ‘alamiin. Persis seperti kelakuan Bani Israil.

    AMW.

  21. ande berkata:

    @am waskito
    Mengenai ayat yg anda sbtkn”aqiimussholah..dsb”ya..jngnkn anda,org awampun yang bsa/mengerti bhs arab pasti tau kmna arah penafsirannya,itu kan khitobnya kullu mu’min mukallafin,lazim dsbt khitob syar’i(hukum syar’i.jam’ul jawamii’ juz 2).itu jelas.adpun ttg ayat2 yg bersangkutan dgn lafadz istiwa,ahli tafsir hanya menafsirkan sebatas AL ISTIWAA YALIIQU BIHI TA’ALA!tidak dgn tafsiran ALLOH TA’ALA ADA DI LANGIT!atw yg semisalnya.tdk sprti tafsiran anda yg serampangan saenae dewe..apalgi dgn menyebt org2 yg tdk sefhm dgn anda,dgn kta tidak mengimani,salah,dsb.coba renungkan hadist ini”AL QALBU BAITTURROBB”(H.R BUKHORI&MUSLIM),kalo menurut cra penafsiran anda trhdp ayat2 yg menohok lngsng kpda teks mushaf,jelas ini akan menimbulkan kerancuan,karna akan berlawanan dgn ma’na hadist td!semoga bermanfaat.

  22. abisyakir berkata:

    @ Ande…

    Jgn menggeneralisir dong! masa shohabat RA disamakan dgn kita2 ini,ya ngaco jdnya! Mereka2 yg mulia2 ini kan begitu masuk islam langsung Alloh bukakan ma’rifat di qalbunya.. sehngga tidak perlu mmbedakan lagi mana”al ismu”mana”al musammaa”dlm beribadah..

    Respons: Masya Allah, ya Akhi…kalau Anda belajar sejarah secara teliti, para Shahabat Nabi Saw yang jumlahnya ribuan orang itu, tidak semuanya faqih, tidak semuanya ‘arif secara ilmiah maupun fi’liyyah. Buktinya, di masa Nabi itu ada orang Badui yang pipis di masjid. Ada yang mau masuk Islam, asal diperbolehkan berzina. Ada yang ikut Jihad, padahal baru masuk Islam, dan dia tidak pernah bersujud (shalat). Bahkan banyak yang masuk Islam, padahal sebelumnya sangat memerangi Islam.

    Mereka masuk Islam, dengan segala Kemurahan Rabbul ‘alamiin, dan kemudahan agama ini. Tidak seperti “teori aneh-aneh” yang Anda lontarkan itu. Kalau teori semacam itu diwajibkan sebagai standar di masa itu, mungkin hanya sedikit saja yang bisa menerima Islam. Wallahu A’lam bisshawab.

    Tdk ujug2 sami’na wa atho’na kan?semua melalui proses ta’allum.anda ini seperti tidak pernah kecil dulu aja..apa emang KELUAR lngsng gede??he he just guyon.

    Respons: Masya Allah ya Akhi… Rasulullah pernah mengatakan, “Ad dinu yusrun, wa lan yusyaa-dad dina ahadan illa ghalabah” (agama Islam ini mudah, tidaklah seorang pun membuat-buat sulit agama ini, melainkan ia akan dikalahkan). Sami’na wa atha’na itu ungkapan yang mudah, tidak dimaafkan siapapun yang paham bahasa Arab, apabila tidak mengerti kalimat itu.

    Anda-anda ini mempersulit diri dengan aneka teori yang tidak sesuai Syar’i. Anda lakukan itu semua karena Anda merasa tidak merdeka. Sejak mengaji dengan ustadz/syaikh tertentu, Anda sepakat untuk tidak keluar dari ketaatan kepada ustadz/syaikh itu. Makanya cara berpikirnya terbelenggu. Nas’alullah al ‘afiyah, lana wa lakum.

    Seperti anda ini beribadah ke “al ismu”nya apa ke “al musamma”nya???

    Respons: Masya Allah, urusan ini ternyata melebar sampai sejauh ini. Allahu Akbar. Kalau Anda tanya, Allah yang mana yang saya ibadahi? Jawabannya: “Ia adalah Rabbun naas, Malikin naas, Ilahin naas!” Nah, inilah Rabb yang saya sembah selama ini, dengan segala hidayah dan taufiq-Nya.

    Adapun soal “Rabb” itu suatu nama atau yang dinamai, masya Allah…saya melepaskan diri dari semua jerat-jerat ilmu kalam itu. Apa yang Anda jabarkan adalah urusan-urusan yang tidak diajarkan oleh Nabi Saw. Islam tidak datang dengan manhaj mantiq atau falsafi seperti itu. Nas’alullah al ‘afiyah.

    AMW.

  23. Anonim berkata:

    aq sering singgah di bnyak Blog utk mnmbah ilmu, tp yg kudpt (maaf) trnyta org2 sprti @Liong,Khazia dkk bahkan penulis artikel ini ; gmpang menuduh/memvonis seseorang.
    Cb lihat @liong & khazia mnuduh org mnulis komen ngawur pdhal mreka jg tdk mmberikan komen yg brmanfaat.
    @penulis jg koq gmpang n sring mmbw2 ‘bani israel’???
    Aq mmng org awam,tp lwt tulisan seseorng gmpang skali ketebak ahklak org tsb.
    Liatlh @si anoe & ende; gk ada penyudutan trhdp org, bahasanya halus.
    Aq jd ingat hadits: muslim yg baik adalah yg ahklaknya baik.
    Kalian hnya mnambahkn ‘daftar hitam’ kalian di pikiranku.
    Ilmu yg mndpt hidayah tentu dpt mrubah ahklak seseorang.
    Kalian islam & berilmu tp tdk mmpunyai ‘ruh seorg muslim’.

  24. ande berkata:

    @am waskito
    mengenai kalimat Wallohu A’lam,jgn di intepretasikan tdk “tahu”ttg nafsu al amr pertanyaan,itu adalh bentuk tafwidh kpda Alloh SWT mengenai kbrdaanNYA.krna hnya Alloh SWT sndri yg tahu dmna kbrdaaNYA.jawaban itu adlh manifestasi daripada sifat2 wajib dan sifat2 msthl serta jaiz trhdp Alloh SWT.
    Tentu anda sering mmbca kitab islami baik klasik ataupun kontemporer..nah!pernahkan anda membca di akhir ktb2 trsbt.klmt sprti ini”WALLOHU A’LAM BISHOWAAB WA ILAIHI AL MARJI’U WA AL MAAB”?apakh itu bkn mrpkn tafwidh kpd Alloh SWT dri mushonnif?sprti dlm pntup artikel2 anda yg lain,anda sering mnggnkn kalimt trsbt,pdhl anda sndri yg mngetahu apa yg anda tls,dgn ilmu anda,apkh itu bkn mrpkn tafwidh dri anda?lalu anda ktkn itu sesat dan bid’ah?he he lucu anda ini..bnr2 lucu,ngegemezin!

  25. ahmad berkata:

    Cukuplah bagi kita untuk mengikuti aqidahnya ummahatul mukminin yang hidup dimasa turunnya wahyu, di majelis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam:

    Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab bintu Jahsy : ‘Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), maka Kami nikahkan engkau dengannya’ (Al-Ahzab: 37)”. Anas berkata : “Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata :

    ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit”

    [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3213, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”].

    Perhatikanlah bahwa beliau menyatakan hal itu kepada para istri nabi yang lain yg semuanya adalah ummahatul mukminin, ahlul bait nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam. Dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya.

  26. ahmad berkata:

    “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?” [QS. Al-Mulk: 16-17]

    Adapun ayat-ayat tentang kedekatan Allah dan kebersamaan Allah Ta’ala dan ayat-ayat lainnya yang dijadikan dalil oleh sebagian manusia untuk mengingkari keberadaan Allah Ta’ala diatas langit maka Insya Allah semua ayat tersebut tidaklah tersembunyi dari ummahatul mukminin, yang hidup dimasa turunnya wahyu, di majelis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam, maka simaklah keyakinan mereka yang bersih dan lurus, tidak tercampur ilmu kalam yang ruwet dan membingungkan, mari simak sekali lagi baik-baik ucapan ummul mukminin Zainab radhiallaahu ‘anha kepada ummahaatul mukminin yang lainnya:

    ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit”

    Demikianlah keyakinan ahlul bait nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam.

    “Tidakkah kalian percaya kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (HR. Bukhari & Muslim).

  27. ande berkata:

    @am waskito
    mas dibukakan pintu ma’rifat tdk berarti lngsung fhm akn smua hkm al qur’an,wong al qur’an saja turunya dlm rentang waktu 23 thn risalah kerasulan.contohnya sayyidina bilal ra.beliau adlh bdk belian,yang di siksa dgn cmbuk oleh tuannya,hanya krn mengucapkan”ahad ahad”nah ini yg di maksud dgn ma’rifat,jd langsung rusukh (org jawa bilang TUMANCEB bkn ki manteb he he)dikalbunya berkat kurnia Alloh SWT.adpn mengenai fhm akn hkum2 alqu’an(yg dimksd oleh anda dgn”kncing dmsjid dll)ya itu semua melalui proses ta’allum,shngga ibn Abbas ra digelari turjumanulqur’an wal hadist,jd semua melalui proses ta’allum.mmg dlm masa itu blum ada ilmu tafsir,hadist,kalam,fiqih,mantiq,bilaghoh,bayan,dsb,wong rosululloh SAW msh hdp,para shbt yg mana menyaksikan turunya wahyu,,lalu stlh mereka berpulang rahmatillah siapa yg akan melanjutkan penyampaian “risalah”slain para tabiin,tabittabiin,salafusholeh,ulama mutaqoddim lanjut muta’akhirin lnjt para masyayikhikirom alim ulama?hingga sampai ke anda saya dan lainnya?apakh semua “risalah” td disampaikan “mentahan”tanpa melalui methode(ilmu tafsir hadist kalam,bilaghoh dll).jelas,kalo teori seperti anda dan kawan2,menohok lngsng trhdp al qur’an dan hadist,maka bisa di umpakan sprti makan buah durian(addinu al haq) tanpa pisau atau alat lainnya(ilmu tadi)alias dimakan,maaf,gogos!.bisa jadi buahnya dapet,tp kagak kebayang..giginya rontok semua,trus bibirnya dower blepotan darah(bgmna tidak,wong mkn durian di gogos…!ihh serem!he he)

  28. Andri Ris... berkata:

    Alhamdulillah, komentar terakhir mas @ande membuka hati & pikiran q.
    Mas @ande bs tlong aq utk mmberikan ‘LINK’, agar aq bs bljar & mnambah ilmu?
    Tolong ya mas @ande…

  29. Liong berkata:

    @ande
    lantas bagaimana tanggapan tentang komentar yg dituliskan ahmad? apa penjelasannya menurut ande?
    @anonymous
    udahlah kamu baca aja, klo menurutmu tdk bermanfaat ya ga usah dibaca. ga usah membalas vonis balik saya sgb daftar hitam. Anda kan bukan org yg langsung melihat kehidupan saya, ya ga etis lah lgsg menyebut bgaimana akhlak saya. Klo masalah si anoe sy kata2in sombong, wajarlah wong komentarnya mbulet gt. masa tasawuf lebih unggul dari Qur’an & Hadits? lantas bagaimana dgn org2 non Islam yg bisa dapat hidayah karna membaca terjemahan Qur’an, bukankah mrk tidak berilmu tasawuf tuh,wong sholat aja belum. Gmn penjelasan menurut org awam versi anda?

  30. Andri Ris... berkata:

    @liong : km gk mlhat orgnya jg bs memvonis seseorg :),siip..aq gk bkal bc komen km krn gk ad mnfaatnya.

    @penulis : dgn mengimani Allah Ta’ala di langit secara ‘apa adanya’ bukankah seperti org kristen yg menafsir ‘Bapa Allah’ apa adanya & akhirnya mereka mnganggap yesus pnya bapak & mereka pun berkilah bhwa ‘bapa’ tdk bs di samakan dgn ‘bapak’ & akhirnya mereka jg blg : IMANI SAJALAH..!
    Mohon pnjelasan…

  31. Khazia berkata:

    @anonymous
    sy hny minta klo berkomentar jgn asal & jgn muter2. Sy tidak menuduh org menulis komentar “ngawur”. Tolong tunjukkan sy menulis kata ‘ngawur’?! Klo tidak bisa menunjukkan berarti anda sudah berbohong. trims 🙂

  32. Andri Ris... berkata:

    @khazia : ‘Jgn asal’ itu persamaan katanya apa???…

  33. abisyakir berkata:

    @ Ande…

    Apakah semua “risalah” tadi disampaikan “mentahan” tanpa melalui methode (ilmu tafsir hadist kalam,bilaghoh dll). Jelas, kalo teori seperti anda dan kawan2, menohok lngsungng thdp al qur’an dan hadist, maka bisa di umpakan sprti makan buah durian(addinu al haq) tanpa pisau atau alat lainnya(ilmu tadi)alias dimakan,maaf,gogos!.bisa jadi buahnya dapet,tp kagak kebayang..giginya rontok semua,trus bibirnya dower blepotan darah(bgmna tidak,wong mkn durian di gogos…!ihh serem!he he).

    Respons: Alhamdulillah, saya akan jawab pandangan Anda ini, meskipun saya tidak yakin, akan bisa meyakinkan Anda. Karena ya itu tadi, faktor “kemerdekaan” yang sulit diperoleh oleh orang-orang yang mengaji di dunia tasawuf. Saya akan jawab dengan metode Syar’i, insya Allah.

    [1]. Ketika mengajarkan tatacara shalat, Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam pernah berdiri di atas mimbar, lalu beliau praktikkan shalat. Maka setelah selesai Shalat, disini lalu keluar ucapan beliau yang sangat terkenal: “Shal-luu ka maa raitumuniy ushalliy” (shalatlah kalian seperti apa yang kalian lihat dari caraku shalat tadi). Riwayat ini sangat masyhur, ia menjadi ruh utama kitab Shifat Shalat Nabi Syaikh Al Albani -rahimahullah-. Lihatlah, ini adalah cara Nabi mengajarkan amalan ibadah praktis kepada ummatnya.

    [2]. Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam pernah menjelaskan pentingnya setiap Muslim menghargai, menghormati, dan melindungi Muslim lain. Beliau pernah mengatakan, “Bi hasbi imri’in minas syarri an yahqira akhihi” (cukuplah seorang Muslim dianggap berbuat jahat kalau dia mencaci-maki seorang Muslim lain). Lalu beliau mengatakan “at taqwa hahuna” (taqwa itu ada disini), kata Nabi sambil menunjuk ke arah dadanya. Lihatlah, ini cara Nabi mengajarkan prinsip Islam yang bersifat maknawi. Sebab, taqwa itu adalah hal-hal maknawi yang berbeda dengan amal-amal praktis seperti shalat dan lainnya.

    [3]. Ibnu Mas’ud Radhiyallallahu ‘Anhu pernah mengatakan, bahwa suatu saat Nabi membuat gambar kotak di atas tanah. Lalu membuat garis yang melintasi kotak itu, kemudian membuat garis kecil-kecil di atas garis panjang itu. Kata Nabi, garis panjang adalah angan-anag manusia yang panjang. Kotak adalah batas ajal hidup manusia. Sedang garis kecil-kecil di sekitar garis panjang adalah fitnah/ujian yang terjadi dalam kehidupan setiap manusia. Demikianlah. Dalam kitab Riyadhus Shalihin versi Indonesia (PUstaka Al Ma’arif Bandung), sampai dibuatkan model kotak yang dilukiskan oleh Nabi tersebut. Ini cara Nabi memberi pengajaran kepada Ibnu Mas’ud. Anda jangan mengatakan Ibnu Mas’ud adalah setipe orang Baudi yang miskin ilmu. Beliau adalah salah satu ulamanya para Shahabat.

    [4]. Nabi juga pernah mengajari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu dengan perkataan, “Ya ghulam, ihfazhillah yahfazhkallah” (wahai bocah kecil, jagalah Allah maka Allah akan menjagamu). Hal ini dilakukan Nabi ketika berada di atas onta. Hingga di atas onta pun beliau mengajarkan kebenaran.

    [5]. Para Shahabat pernah bertanya kepada Nabi tentang “ru’yatullah fil akhirah” (memandang Allah di akhirat nanti). Bagaimana hal itu bisa dilakukan? Maka Nabi balik bertanya kepada para Shahabat, “Bagaimana pendapat kalian ketika sedang bulan purnama? Apakah kalian bisa melihat bulan ketika itu?” Maka para Shahabat mengatakan, “Ya.” Lalu Nabi menjelaskan, “Begitulah kalian akan melihat Allah seperti kalian melihat bulan purnama.” Disini Nabi menjelaskan, bahwa melihat Allah itu sangat NISCAYA, seperti NISCAYA-nya kita menyaksikan bulan saat purnama.

    Ketika berbicara tentang Al Qur’an, Ibnu Taimiyyah pernah mengatakan, bahwa ada kalanya ayat-ayat Al Qur’an hanya bisa dipahami oleh para ulama yang ‘alim. Ada kalanya ayat-ayat itu hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang sangat mahir bahasa Arab dengan segala sisi keunikannya. Namun kata Ibnu Taimiyyah, ada ayat-ayat Al Qur’an yang mudah dipahami, sehingga “tidak dimaafkan” kalau seseorang merasa tidak mengerti ayat-ayat itu. Menurut saya, ayat seperti “Aqimus shalata wa atuz zakata” termasuk ayat mudah yang tidak dimaafkan manusia kalau tidak paham juga.

    Demikian penjelasan ini semoga memadai, amin ya Rahiim. Adapun kalau diperpanjang-panjang lagi ke masalah-masalah lain yang makin kusut; mohon dimaafkan, tak akan dilayani. Terimakasih.

    Abah Syakir.

  34. ande berkata:

    @andri ris
    alhamdulillah jika penjelasan saya dapat mencerahkan anda,itu semua berkat inayah Alloh SWT,untuk mslh link yang anda minta,mohon maaf mas,saya belum punya.syukron jazilan..

  35. ande berkata:

    @ahmad
    Alhamdulillah saya tlh membca tafsiran ayat yang anda kemukakan,surat al mulk 16-17..di situ mufassirin menafsirkan lafadz”man fissamaa”dgn kata”sulthoonihi wa qudrotihi”tdk dgn lafadz”makanihi”he he..lntas anda mengelak dgn dalil”itu jelaskan lafadznya ?”pertanyaan saya apkah anda ini seorang ahli tafsir?punyakah anda kapasitas utk itu?yg mana syarat2 menjadi seorang mufassir itu sngt sulit?apkh anda berani”menabrak”yg sudah baku dikalangan mufassirn yg ktbnya mu’tabaroh?saran saya sdh ikuti saja semua standar tafsir yang sudah ada..agar anda selamat dunia akhirat..amin.adapun mengenai hadist sayyidatina zainab rA,adakah disana beliau yg mulia”memproklamirkan””yaa ayyuhannisaannabiiy,ittab’iuuni fi A’qidati haadzihi”Allohu fissamaa”meskipun redaksi hadis di atas mengatakan”yang menikahkan kalian ilakh..(teko maring akhire lafadz he he)”tidak serta merta difhmi”Alloh ada di langit”bknkh imam anas ra diriwayat hadist tersebut mengktn sayyidatina zainab ra berbangga hati trhdp istri2 nabi yg lain,krn pernkahnya dgn baginda nabi SAW lngsng ats perintah Alloh SWT dlm al qur’an (Q.S Al ahzaab 37)?maka yg berkompeten menafsirkan”yunkihun man fissamaa”ya ahli tafsir hadist itu sndri,sprti Al Hafidz ibnu hajar al asqolani rohimahulloh(shohibu fathul bari 23 jilid).bkn anda,am waskito atau siapapun yg tdk berkompeten.jd jelas apa yg anda kemukakan hanyalah klaim anda sendiri dan kawan2,he he..semoga brmanfaat.
    NB.kmntr ini mewakili jg pertanyaan saudara@liong.

  36. abisyakir berkata:

    @ Ande…

    Maka yg berkompeten menafsirkan”yunkihun man fissamaa”ya ahli tafsir hadist itu sndri,sprti Al Hafidz ibnu hajar al asqolani rohimahulloh(shohibu fathul bari 23 jilid).bkn anda,am waskito atau siapapun yg tdk berkompeten.jd jelas apa yg anda kemukakan hanyalah klaim anda sendiri dan kawan2.

    Respons: Ya, tidak boleh begitu. Ulama di dunia kan bukan hanya Ibnu Hajar Al Asqalani. Masih ada ulama-ulama lain yang juga berkompeten. Sekedar sebagai catatan, Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Nawawi, dan ulama yang seperti mereka, memang mengambil jalan TAKWIL atas ayat-ayat yang berkaitan dengan Sifat-sifat Allah. Bagi saya pribadi, paling mencari udzur untuk memaafkan ulama-ulama Sunnah itu, dengan pertimbangan mujahadah mereka yang sangat besar di bidang ilmu-ilmu Sunnah. Tetapi juga tidak mengikuti cara mereka yang keliru dalam pemahaman seputar ayat-ayat Sifat Allah ini. Pandangan Imam Bukhari, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, atau Adz Dzahabi, dalam hal ini lebih baik untuk diikuti.

    AMW.

  37. Khazia berkata:

    @Andri Ris
    ooh..jadi anda sedang men’takwilkan’ jgn asal itu dgn ngawur??
    baik klo itu maunya, jgn asal=ngawur. Jika saya katakan “anda jgn asal” dan “anda ngawur”, sama atau tidak artinya menurut kaidah bahasa indonesia?
    manakah dari keduanya yg bermakna memvonis seseorang?
    🙂

  38. Khazia berkata:

    @Andri Ris
    ops lagi2 anda sedang menakwilkan ‘apa adanya’ menurut org Islam dengan ‘apa adanya’ menurut org kristen?
    @ande, bisa bantu penjelasan utk hal ini kepada Andri Ris. Karna sepertinya anda lebih dia dengarkan dibandingkan penulis

  39. ahmad berkata:

    Berikut saya kutipkan dari http:// rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2958-di-manakah-allah-2.html

    Coba perhatikan nukilan Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni berikut.

    قَالَ بَعْضُ أَكَابِرِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ : فِي الْقُرْآنِ ” أَلْفُ دَلِيلٍ ” أَوْ أَزْيَدُ : تَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَالٍ عَلَى الْخَلْقِ وَأَنَّهُ فَوْقَ عِبَادِهِ . وَقَالَ غَيْرُهُ : فِيهِ ” ثَلَاثُمِائَةِ ” دَلِيلٍ تَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ

    “Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya. Dan sebagian mereka lagi mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini.”
    …….
    Selanjutnya kita akan melihat dalil-dalil yang kami olah dari penjelasan Ibnu Abil Izz Al Hanafi rahimahullah dalam Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah. Ibnu Abil Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan, “Dalil-dalil yang muhkam (yang begitu jelas) menunjukkan ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Dalil-dalil ini hampir mendekati 20 macam dalil”. Ini baru macam dalil yang menunjukkan ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya, belum lagi jika tiap macam dalil tersebut kita jabarkan satu per satu. Jika macam dalil tersebut diperinci, boleh jadi mencapai 1000 dalil sebagaimana disebutkan oleh ulama Syafi’iyah di atas.

  40. ahmad berkata:

    Kemudian dari http:// abul-jauzaa.blogspot.com/2011/10/ketinggian-allah-taala-di-semua-makhluk.html :

    Dijelaskan lagi di ayat lain :
    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ
    “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu” [QS. Al-Mulk : 16].
    Al-Baihaqiy rahimahullah berkata tentang ayat ini :
    وَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَعْنَاهُ: مَنْ فَوْقِ السَّمَاءِ عَلَى الْعَرْشِ، كَمَا قَالَ: فَسِيحُوا فِي الأَرْضِ أَيْ: فَوْقَ الأَرْضِ،
    “Dan kami telah menyebutkan bahwa maknanya : Allah yang berada di atas langit di atas ‘Arsy, sebagaimana firman-Nya : ‘Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi (fil-ardli)’ (QS. At-Taubah : 2), yaitu : fauqal-ardli (di atas permukaan bumi)…” [Al-Asmaa’ wash-Shifaat oleh Al-Baihaqiy, 2/334, tahqiq : ‘Abdullah Al-Haasyidiy; Maktabah As-Suwaadiy].
    ……
    9. Ahmad bin Hanbal rahimahullah (w. 241 H).
    وهو على العرش فوق السماء السابعة. فإن احتج مبتدع أو مخالف بقوله تعالى {وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيد} وبقوله عز وجل : {وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ} أو بقوله تعالى : {مَا يكُونُ مِنْ نَجْوى ثلاثة إلا هُوَ رَابِعُهُمْ} ونحو هذا من متشابه القران
    “Ia (Allah) berada di atas ‘Arsy, di atas langit ketujuh. Sesungguhnya ahli bid’ah atau orang yang menyimpang dari kebenaran berhujjah dengan firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS. Qaaf : 16), atau dengan firman-Nya : ‘Dan Ia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada’ (QS. Al-Hadiid : 4), atau dengan firman-Nya : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadilah : 7), dan yang lainnya dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasyaabih” [As-Sunnah oleh Ahmad bin Hanbal melalui kitab Al-Masaail war-Rasaail Al-Marwiyyatu ‘anil-Imaam Ahmad fil-‘Aqiidah oleh ‘Abdullah Al-Ahmadiy, 1/318-319; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412 H].

    Catatan : Penjelasan Al-Imaam Ahmad itu menggugurkan klaim kelompok Asyaa’irah yang mengklaim bahwa lafadh Allaahu ‘alal-‘Arsy atau yang semisalnya itu sifatnya mutasyaabih. Justru mafhum yang terambil dari perkataan beliau, lafadh itu adalah muhkam (jelas); dan yang samar (mutasyaabih) adalah lafadh nash-nash yang menyatakan bahwa Allah ta’ala bersama hamba-Nya.

  41. ahmad berkata:

    Selanjutnya kepada kaum muslimin yang percaya dengan ucapan ibunda kita Zainab radhiallaahu ‘anha bahwa yang menikahkan beliau dengan nabi adalah Allah Ta’ala yang berada di atas tujuh langit, silahkan dilihat penjelasan tentang Dimanakah Allah (sebanyak 1-8 artikel) di rumaysho.com, lihat di arsip artikel.

    Ada juga artikel bermanfaat tentang cara memahami asma was sifat di: basweidan.wordpress.com/2010/08/16/cara-mudah-memahami-asma-was-sifat/

    Kemudian kepada saudara-saudara yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, siapakah salaf anda dalam hal ini? Bisakah anda menunjukkan satu saja perkataan dari salah seorang shahabat nabi yang mengingkari keberadaan Allah diatas langit?

    Karena begitu banyak dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang menyatakan keberadaan Allah diatas langit, seandainya memang bukan demikian maksudnya, niscaya kita akan dapatkan sekian banyak pula pengingkaran dari para shahabat sebagaimana anda mengingkarinya.

    Yang saya tahu malah diantara pendahulu orang yang mengingkari keberadaan Allah ta’ala diatas langit adalah..Fir’aun.

    Saya kutipkan dari http:// rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2958-di-manakah-allah-2.html :

    Keenambelas: Dalil yang menyatakan bahwa Allah menceritakan mengenai Fir’aun yang ingin menggunakan tangga ke arah langit agar dapat melihat Tuhannya Musa. Lalu Fir’aun mengingkari keyakinan Musa mengenai keberadaan Allah di atas langit. Allah Ta’ala berfirman,
    وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا
    “Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”.” (QS. Al Mu’min: 36-37)
    Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Mereka jahmiyah yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit, mereka yang senyatanya pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.” (Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 2/441)

    Dari http:// assunnah-qatar.com/artikel/aqidah/item/989-dimana-allah?.html :

    Berkata Imam Ibnu Abdil Bar : ”Maka (ayat ini) menunjukan sesungguhnya Musa mengatakan (kepada Fir’aun) : ”Tuhanku di atas langit ! sedangkan Fir’aun menuduhnya berdusta”. (baca Ijtimaaul Juyusy Al-Islamiyyah hal : 80).

    Selesai kutipan.

    Kepada saudara abi syakir saya ucapkan jazaakallaahu khairan atas dimuatnya komen saya ini, semoga Allah ta’ala memberkahi antum dan keluarga serta memberi kita semua taufik kepada hal-hal yang diridhoi dan di cintai-Nya. Amin.

  42. awam berkata:

    @ahmad
    scra singkat saja,semua ktrngan hadist2 yg anda kemukakan alhmdllh sebagian ada ktbnya yg sya pnya.dan sya sdh bca ktb2nya.namun utk lbh meyakinkn anda silahkan knjng link dibwh ini.
    alnof.multiply.com/journal/144.
    insya Alloh mencerahkan anda,kan anda jg memberi tahu saya link2 referensi anda,dan alhmdllh sdh saya knjngi link2 tsb.jd biar adil dan obyektif.()mdh2n Alloh ta’ala meberi hidayah pada anda,selamat dari aqidah zaigoh..bcanya yg tammat ya?

  43. abisyakir berkata:

    @ Ahmad….

    Kepada saudara abi syakir saya ucapkan jazaakallaahu khairan atas dimuatnya komen saya ini, semoga Allah ta’ala memberkahi antum dan keluarga serta memberi kita semua taufik kepada hal-hal yang diridhoi dan di cintai-Nya. Amin.

    Respons: Wa iyyakum jaza’an azhiman ya Akhi. Amin Allahumma amin, lana wa lakum wa li sa’iril muslimin. Alhamdulillah.

    AMW.

  44. abisyakir berkata:

    @ Awam…

    Alhamdulillah Antum sudah tahu, sudah membaca, bahkan punya kitab-kitabnya. Tetapi belum tentu “mengambil manfaat ilmunya” kan? Sebab kadang kita membaca kitab-kitab yang berbeda paham, sedang hati kita sudah “kebal” terlebih dulu. Tapi hal ini dimaklumi.

    Dalam batas-batas tertentu ada perbedaan yang sulit didekatkan, sebagaimana perbedaan itu telah terjadi dalam khazanah keilmuwan Islam, sejak berabad-abad yang lalu. Akhirnya, wallahu Muwaffiq ila aqwamit thariq. Dan kita, dalam batas-batas perbedaan itu perlu saling tasamuh.

    Jazakumullah khairan.

    AMW.

  45. awam berkata:

    sy mau tnya sma mas abisyakir dan ahmad,klo mmng alloh ada(brsmyam) dlngt atw d ats aras,lalu dmnakah allh tinggal sblm aras dan langit dcptkan oleh alloh?apa mngkin alloh brpndah tmpat?sdngkan yg sy tau it sngat msthl!tlng bri pnjlsan yg msuk d akal!

  46. fahririzki berkata:

    Bagi yang kontra sama pendapat bahwa Allah Ta’ala Ada di Langit, memangnya yang benar kayak gimana? Dalilnya mana?

  47. dianth berkata:

    Sudahlah, kita semua beriman, Allah istiwa diatas arsy atau diatas langit.

    Kita juga beritikad Allah tidak bertempat dan berarah, mudah dan jelas.

    Adapun Allah istiwa diatas arsy atau diatas langit, itu adalah ungkapan ketinggian Allah atas arsy dan langit dari ketinggian kekuasaan dan kekuatan. Jelas dan mudah.

    Jangan mempersulit agama ini dengan mengajarkan ajaran yang tidak jelas dan absurd.

  48. Ifan berkata:

    Intinya kita jangan mencari asal usul Allah Ta’ala, yang harus kita perhatikan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan mengimani Al Quran dan Sunnah Rasullah karena Allah Ta’ala, insyALLAH

  49. beir berkata:

    Assalamu A’laikum w.w

    Saudaraku seiman yang aku cintai

    Setelah saya ikuti diskusi ini sampai koment trakhir, ternyta saya belum mendapatkan pemahaman yang baik, malah semakin bingung dan g fokus. sebelumnya saya mohon mf, namun tidak salah rasanya menuangkan pemahaman saya lewat forum ini, mudah2n bisa lebih dipahami tentang eksistensi Allah.
    Berdosakah kita bertanya dimana Allah? kafirkah kita? atau tidak berimankah kita?
    Tentu tidak, malah kita disuruh mengenal Allah lewat ayat-ayatnya. Bagaimana mungkin kita menyembah yang ga jelas dibenak kita (bukan dimata). Jadi dimanakah Allah?Apakaah Dia ada di langit? Apakah ada di hati kita? Di surga? Di akhirat? Atau jangan-jangan di Ka’bah?Yang jelas Allah mengatakan Dia bersemayam di A’rsy. Tetapi dimana pula A’rsy Allah itu? Semua itu harus jelas dan yakinlah tidak ada yang tidak logis. Baiklah, mari kita kumpulkan jawaban yang mungkin lalu kita bahas satu persatu.
    Apakah Allah tinggal di rumahNya – Ka’bah, Baitullah?Sudah pasti Allah tidak di Ka’bah. Baitullah “rumah Allah” hanya menunjukkan kepemilikan, bahwa rumah suci itu milik Allah.
    Lantas apakah berada di surga? Seberapa luaskah surga itu sehinga Allah tinggal di sana, Bukankah Allah maha besar? Jika Dia berada di surga berarti surga itu lebih besar dari Allah.
    Mungkin ada di langit, sekali lagi, seberapa luaskah langit itu, sehingga ia bisa mewadahi eksistensi Allah? Memang langit semesta ini sangatlah luas dan besar, diameternya saja diperkirakan oleh para astronom sekitar 30 miliar tahun cahaya (1tahun cahaya=1 trilliun km). Namun apakah mampu mewadahi kebesaran Allah? tentu naif sekali mengatakan Allah ada dilangit.
    Dan jika kita katakan di langit, berarti sama saja mengatakan Dia tidak ada di bumi. Jika Dia di surga berarti tidak di neraka, jika Dia di atas berarti tidak di bawah. Ada juga yang mengatakan di hati kita masing-masing. Kalau begitu Allah banyak, sehingga berada disetiap hati manusia?Padahal kita semua sepakat bahwa Allah itu satu. Allah memang ghaib, tapi bukan berarti tidak bisa difikirkan.
    Jadi dimana?jangan bertele2. Baiklah, mari kita renungkan ayat berikut ini :

    “Dan kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepadaNya lah semuanya kembali”.(Q.S. An Nur: 42)

    “Untuk Allah lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu”. Q.S. An Nisa’: 126).

    Kedua ayat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa segala eksistensi yang ada di alam semesta ini hanyalah milik Allah belaka. Karena itu Allah mengatakan Kepada Nya lah semuat itu kembali. Dan kemudian secara sangat jelas Allah mengatakan bahwa Eksistensinya meliputi segala sesuatu (segala yang ada). Secara frontal ini telah menjawab pertanyaan “dimanakah Allah”?, Bahwa Allah bukan hanya ada di langit, bukan hanya disurga, bukan hanya di hati kita, bukan hanya di ka’bah, dan bukan hanya di akhirat. Tetapi Allah meliputi segala yang ada. Allah sekaligus berada di akhiraat, tetapi juga di dunia. Di surga tetapi juga dineraka. Di langit namun juga di bumi. Di hati kita, tetapi sekaligus juga di hati seluruh makhluk Nya. Allah bersama segala benda yang bisa kita sebutkan (mualai dari atom, molekul, dan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini, hingga benda-benda langit yang tersebar di alam semesta ini) sampai pada hal-hal yang ghaib. Tidak ada satu tempat pun yang Allah tidak berada disana. Allah meliputi segala makhluknya.
    Dengan mengatakan Allah meliputi segala makhluknya, maka Dia telah memproklamirkan kepada seluruh makhluknya bahwa dzatnya adalah Maha Besar. Bagaimana mungkin Dia meliputi segala sesuatu, kalau Dia sendiri tidak Besar. Bayangkan saja, misalnya, Allah meliputi surga, Berarti Allah harus lebih besar dari surga. Padahal surga itu menurut Q.S Ali Imran 133, surga itu seluas langit dan bumi. Maka ini berarti Allah jauh melebihi ruang dan waktu yang terangkum dalam alam semesta, atau langit dan bumi ciptaanNya tersebut. Tidak ada satu ruang kosong pun di mana Allah tidak berada di sana. Allah bersama saya, juga sedang bersama Anda, tetapi juga sekaligus juga mengisi ruang antara saya dan anda, dan seluruh ruang di luar kita. Bagi Allah : di sini, di situ, di sana, tidak ada bedanya, karena meliputi segala sesuatu. Demikian pula, bagi Allah:
    Barat dan timur, atas dan bawah, kanan dan kiri, belakang dan depan, juga tidak ada bedanya, karena semuanya milik Allah, dimana Allah berada di sana dalam waktu yang bersamaan, kok bisa gitu? karena Allah meliputi segala makhluk ciptaanNya. Demikian pula mengenai waktu. Allah tidak terikat waktu , juga tidak berada di dalam dimensi waktu. Bagi Allah, sekarang, besok, kemarin, 1 miliar tahun yang lalu, atau 1 miliar tahun yang akan datang, tidak ada bedanya. Kenapa bisa begitu? Yeah, karena Allah tidak berada di dalam dimensi waktu, tapi sebaliknya waktu itu yang berada di dalam Allah. Ini sekaligus bisa menjelaskan kenapa Allah maha tahu, karena Allah berada dimasa lalu dan masa depan sekaligus. Sehingga kejadian dulu dan kejadian akan datang bagi Allah tidak ada bedanya. Semua itu terjadi di dalam Allah.
    Dan ini juga sekaligus menjawab tentang Dzatnya (sifatnya) dengan firman Allah pada surah Al Hadid ayat 3
    “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”;

    Dapat pula lah dipahami dan diterima akal sehat dengan mengatakan “Allah meliputi segala sesuaatu”, maka Allah itu dekat dengan manusia, lebih dekat lagi dari urat leher manusia.

    “Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadaNya dari pada urat lehernya”.( Q.S Qaaf:16)

  50. ahmad berkata:

    “Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan.Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan.Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu“. [QS. Ar Ra’d:2]

    Tidakkah anda melihat langit diatas anda? Apakah bumi ini lebih besar dari langit? Atau adakah tiang-tiang yang terpancang ke bumi ini untuk menahan langit?

  51. beir berkata:

    semoga pemahaman di atas kiranya membantu kita mengenal Allah dan eksistensinya, sehingga istawa a’la al a’rsy sudah dapat tergambar dalam benak kita. Namun tentunya kta tdak akan dapat mengobservasi keberadaan Allah secara menyeluruh, bayang kan kita ini ibarat di dalam sebuah ruangan gedung yang besar dan luas, lalu kita mencoba memotret seluruh gedung. tentu tidak mungkin, paling sisi-sisi tertentu saja yang dapat kita potret, itupun dari dalam saja.

    itulah pemahaman saya, kl ada yang tidak sependapat tentu ini bagian dari khazanah ke ilmuan kita. saya hanya menyeiringkan akal dengan wahyu Allah yang Maha Benar.

    Wallahu A’lam

    salam ukhwah. ..zubeir nasution, dri Medan
    wassalam.w.w

  52. Liong berkata:

    cermati hadits2 tentang isra mi’raj aja deh biar lebih jelas. trus kembalikan ke pemahaman para ahli tafsir 3 generasi terbaik umat Islam. ga usah buat pemahaman sendiri. ujung2nya ya bawa2 akal sehat. yakin ta akalnya emang sehat??

  53. abisyakir berkata:

    @ Zubeir…

    Assalamu A’laikum w.w. Saudaraku seiman yang aku cintai. Setelah saya ikuti diskusi ini sampai koment trakhir, ternyta saya belum mendapatkan pemahaman yang baik, malah semakin bingung dan g fokus. sebelumnya saya mohon mf, namun tidak salah rasanya menuangkan pemahaman saya lewat forum ini, mudah2n bisa lebih dipahami tentang eksistensi Allah.

    Komentar: Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah dan taufik untuk menempuh jalan yang diridhai-Nya. Amin.

    Berdosakah kita bertanya dimana Allah? kafirkah kita? atau tidak berimankah kita? Tentu tidak, malah kita disuruh mengenal Allah lewat ayat-ayatnya. Bagaimana mungkin kita menyembah yang ga jelas dibenak kita (bukan dimata). Jadi dimanakah Allah?Apakaah Dia ada di langit? Apakah ada di hati kita? Di surga? Di akhirat? Atau jangan-jangan di Ka’bah?Yang jelas Allah mengatakan Dia bersemayam di A’rsy. Tetapi dimana pula A’rsy Allah itu? Semua itu harus jelas dan yakinlah tidak ada yang tidak logis.

    Komentar: Dalam agama kita ada hal-hal yang bisa dinalar dengan akal, namun ada juga yang harus diterima dengan keimanan. Seperti Rasulullah Saw pernah mengatakan bahwa Jibril As memiliki dua sayap. Ujung dari satu sayap ada di ujung langit, sedang satu sayap lagi di ujung langit lainnya. Riwayat seperti ini jangan dinalar dengan “otak logis”, khawatir tidak sampai. Kalau sampai, biasanya sangat dipaksa-paksakan. Ali bin Abi Thalib Ra mengatakan, “Kalau agama ini adalah akal semata, maka tentu mengusap bagian bawah sepatu -saat berwudhu- lebih tepat daripada mengusap bagian atas sepatu.” (Sebab, bagian yang kotor sehingga harus diusap, logisnya adalah bawah sepatu, bukan atas sepatu).

    Baiklah, mari kita kumpulkan jawaban yang mungkin lalu kita bahas satu persatu. Apakah Allah tinggal di rumahNya – Ka’bah, Baitullah?Sudah pasti Allah tidak di Ka’bah. Baitullah “rumah Allah” hanya menunjukkan kepemilikan, bahwa rumah suci itu milik Allah. Lantas apakah berada di surga? Seberapa luaskah surga itu sehinga Allah tinggal di sana, Bukankah Allah maha besar? Jika Dia berada di surga berarti surga itu lebih besar dari Allah. Mungkin ada di langit, sekali lagi, seberapa luaskah langit itu, sehingga ia bisa mewadahi eksistensi Allah? Memang langit semesta ini sangatlah luas dan besar, diameternya saja diperkirakan oleh para astronom sekitar 30 miliar tahun cahaya (1tahun cahaya=1 trilliun km). Namun apakah mampu mewadahi kebesaran Allah? tentu naif sekali mengatakan Allah ada di langit.

    Komentar: Pemahaman demikian muncul, sebab sejak awal Anda sudah cenderung menyamakan Dzat Allah dengan suatu benda, suatu tubuh, suatu fisik, dan sejenisnya. Maka itu, dalam hitung-hitungan Anda menyebutkan diameter langit. Hal demikian tidak benar. Diameter ini itu, semuanya adalah parameter untuk makhluk. Tidak boleh dibawa-bawa ketika bicara tentang Allah. Intinya begini, kalau disebutkan Allah berada di langit, Anda jangan bayangkan bahwa Allah itu berada di dalam langit, atau di luar langit, atau menyelubungi ruang langit, dan sebagainya. Allah Maha Kaya dan Maha Kuasa, Dia bisa memposisikan diri-Nya, tanpa harus bergantung kepada makhluk-Nya. Terus, Anda jangan mengatakan “naif sekali” Allah ada di langit, lha wong dalam ayat-ayat Al Qur’an disebutkan Allah ada di atas Arasy; sedang Arasy ada di atas langit tertinggi.

    Jadi dimana, jangan bertele2. Baiklah, mari kita renungkan ayat berikut ini: “Dan kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepadaNya lah semuanya kembali”.(Q.S. An Nur: 42). “Untuk Allah lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu”. Q.S. An Nisa’: 126).

    Kedua ayat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa segala eksistensi yang ada di alam semesta ini hanyalah milik Allah belaka. Karena itu Allah mengatakan Kepada Nya lah semuat itu kembali. Dan kemudian secara sangat jelas Allah mengatakan bahwa Eksistensinya meliputi segala sesuatu (segala yang ada). Secara frontal ini telah menjawab pertanyaan “dimanakah Allah”?, Bahwa Allah bukan hanya ada di langit, bukan hanya disurga, bukan hanya di hati kita, bukan hanya di ka’bah, dan bukan hanya di akhirat. Tetapi Allah meliputi segala yang ada. Allah sekaligus berada di akhiraat, tetapi juga di dunia. Di surga tetapi juga dineraka. Di langit namun juga di bumi. Di hati kita, tetapi sekaligus juga di hati seluruh makhluk Nya. Allah bersama segala benda yang bisa kita sebutkan (mualai dari atom, molekul, dan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini, hingga benda-benda langit yang tersebar di alam semesta ini) sampai pada hal-hal yang ghaib. Tidak ada satu tempat pun yang Allah tidak berada disana. Allah meliputi segala makhluknya.

    Komentar: Tidak, tidak, tidak demikian. Allah bukan bersifat “ada dimana-mana”. Tidak benar. Allah Maha Suci, dia memilih posisi sesuai dengan Kesucian, Keagungan, dan Kemuliaan-Nya. Ketika Allah menyebut diri-Nya ada di atas Arasy, hal ini memiliki makna: Kalau ada insan bertanya, dimana Allah, maka jawabnya sudah jelas dan pasti (yaitu di atas Arasy); Arasy sendiri adalah posisi yang sesuai dengan Kesucian, Keagungan, dan Kemuliaan Allah; adapun bagaimana keadaan Allah di atas Arasy, kita tidak perlu menanyakan hal itu, sebab ia masalah ghaib yang tidak terjangkau akal kita; dan keberadaan Allah di atas Arasy tidak menjadikan diri-Nya bergantung kepada makhluk-Nya, sebab tanpa keberadaan Arasy itu pun, Allah sudah ada.

    Anda tidak boleh menyebut Allah ada dimana-mana. Ini akidah yang keliru dan harus disingkirkan. Sebab yang disebut “dimana-mana” itu termasuk di dalamnya tempat-tempat hina, lokasi-lokasi rendah, posisi-posisi yang dibenci di mata manusia, seperti: comberan, WC, lubang anus, tubuh babi, mulut anjing, kotoran hewan, lokalisasi, arena perjudian, kuil pemujaan setan, dll.

    Sekali saja Anda meyakini bahwa Allah ada dimana-mana, termasuk berada di tempat-tempat hina itu, akibatnya bisa sangat fatal. Anda bisa dianggap melepaskan Allah Ta’ala dari sifat Kesucian-Nya. Ini sama dengan jalan-jalan menuju kekufuran. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

    Dengan mengatakan Allah meliputi segala makhluknya, maka Dia telah memproklamirkan kepada seluruh makhluknya bahwa dzatnya adalah Maha Besar. Bagaimana mungkin Dia meliputi segala sesuatu, kalau Dia sendiri tidak Besar. Bayangkan saja, misalnya, Allah meliputi surga, Berarti Allah harus lebih besar dari surga. Padahal surga itu menurut Q.S Ali Imran 133, surga itu seluas langit dan bumi. Maka ini berarti Allah jauh melebihi ruang dan waktu yang terangkum dalam alam semesta, atau langit dan bumi ciptaanNya tersebut. Tidak ada satu ruang kosong pun di mana Allah tidak berada di sana. Allah bersama saya, juga sedang bersama Anda, tetapi juga sekaligus juga mengisi ruang antara saya dan anda, dan seluruh ruang di luar kita. Bagi Allah : di sini, di situ, di sana, tidak ada bedanya, karena meliputi segala sesuatu.

    Komentar: Maksudnya bukan seperti itu. Ilmu Allah, pengetahuan, kekuasaan, serta ketetapan-Nya meliputi segala sesuatu yang Dia ciptakan. Bukan Dzat Allah meliputi segala sesuatu. Ini pemahaman keliru. Anda jangan membuat tafsiran-tafsiran yang tidak benar. Itu tidak benar, wahai saudaraku!

    Kalau logika Anda dibenarkan, waduh bisa menimbulkan kekufuran besar. Mengapa? Sebab dengan logika itu, berarti kita seperti meyakini bahwa Dzat Allah bercampur-baur dengan dzat makhluk-Nya. Ini salah dan bathil, super bathil. Bayangkan, ketika Anda melihat lengan tangan Anda; saat itu Anda meyakini bahwa Allah berada di lengan itu juga. Masya Allah. Ini akidah wihdatul wujud yang sesat itu.

    Barat dan timur, atas dan bawah, kanan dan kiri, belakang dan depan, juga tidak ada bedanya, karena semuanya milik Allah, dimana Allah berada di sana dalam waktu yang bersamaan, kok bisa gitu? karena Allah meliputi segala makhluk ciptaanNya. Demikian pula mengenai waktu. Allah tidak terikat waktu , juga tidak berada di dalam dimensi waktu. Bagi Allah, sekarang, besok, kemarin, 1 miliar tahun yang lalu, atau 1 miliar tahun yang akan datang, tidak ada bedanya. Kenapa bisa begitu? Yeah, karena Allah tidak berada di dalam dimensi waktu, tapi sebaliknya waktu itu yang berada di dalam Allah. Ini sekaligus bisa menjelaskan kenapa Allah maha tahu, karena Allah berada dimasa lalu dan masa depan sekaligus. Sehingga kejadian dulu dan kejadian akan datang bagi Allah tidak ada bedanya. Semua itu terjadi di dalam Allah.

    Komentar: Ini akidah wihdatul wujud, tidak boleh dikait-kaitkan dengan Islam. Hal-hal demikian khas dari para ahli kalam, yang sulit merasa lapang dengan Sifat-Sifat Allah.

    Dan ini juga sekaligus menjawab tentang Dzatnya (sifatnya) dengan firman Allah pada surah Al Hadid ayat 3: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” Dapat pula lah dipahami dan diterima akal sehat dengan mengatakan “Allah meliputi segala sesuaatu”, maka Allah itu dekat dengan manusia, lebih dekat lagi dari urat leher manusia.“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepada-nya daripada urat lehernya”.( Q.S Qaaf:16).

    Komentar: Allah meliputi segala sesuatu, maksudnya bukan Dzat Allah bercampur baur dengan dzat makhluk-Nya. Tidak begitu. Tetapi ilmu Allah, kekuasaan Allah, rahmat Allah, ketetepan Allah meliputi segala makhluk-Nya. Jadi bukan Dzat bercampur-baur ya.

    Terus soal “kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”…itu adalah Malaikat yang mencatat amal-amal manusia. Mohon ayatnya Anda teruskan ke ayat berikutnya (Qaaf: 17). Disana disebutkan: “Yaitu ketika dua Malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan satu duduk di sebelah kiri.”

    Ayat itu tentang Malaikat pencatat amal perbuatan, bukan tentang posisi Allah Ta’ala. Cobalah berdiskusi agak jujur sedikit, jangan membuat tafsiran-tafsiran menyimpang.

    Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

    AMW.

  54. beir berkata:

    Syukron, akhi atas segala pencerahannya, mudah2n insyaAllah akn bermanfaat buat say.Ukhwah persaudaraan kita tetap kita jalin. Saya bukan membuat tafsiran, tapi lewat ayat itulah (alquran dan alam semesta) saya pergunakan akal untuk mengetahui. Jika memang kita sama-sama jujur sepertinya saudaraku abisyakir sendiri yang melakukan penafsiran tentang ayat itu. Dan sadar atau tidak ketika sudah masuk wilayah penafsiran, maka konsekwensinya relatif. Berapa banyak kitab tafsir ummat ini, Apakah berani kita menjamin kepada Allah tafsir Ibnu Taimiah. ra yang paling benar?atau Ibnu Katsir?atau Qurtubi?dll….
    Jika demikian, maka wajar kita pula akn berani mengkafirkan saudara kita yang lain. Saya tetap beriman Allah bersemayam di ‘Ars, dan saya tidak mengatakan Allah tergambar oleh sesuatu bentuk yang dikenal.

    ~….Maksudnya bukan seperti itu. Ilmu Allah, pengetahuan, kekuasaan, serta ketetapan-Nya meliputi segala sesuatu yang Dia ciptakan. Bukan Dzat Allah meliputi segala sesuatu. Ini pemahaman keliru. Anda jangan membuat tafsiran-tafsiran yang tidak benar. Itu tidak benar, wahai saudaraku!~

    Jika saudaraku menafsirkan itu adalah rahmatnya, kekuasaanya, ilmunya yang meliputi dll, apakah zat, sifat, perbuatanNya terpisah..? Bukankah persepsi seperti itu akan sama berarti dengan makhluk? Saudaraku, meliputi dan yang diliputi tidaklah sama, tidak lah lantas bercampur dan yang pasti Yang Meliputi lah yang lebih besar, itulah Allah. Wujud Allah Satu, tidak berbilang2, tidak banyak. Bagaimana mungkin berbilang2 jika semua makhluknya diliputiNya (ruang,waktu, benda) sehingga tidak ada yang kosong. Jika demikian kita pasti mengatakan Allah Maha Besar.

    ~Anda tidak boleh menyebut Allah ada dimana-mana. Ini akidah yang keliru dan harus disingkirkan. Sebab yang disebut “dimana-mana” itu termasuk di dalamnya tempat-tempat hina, lokasi-lokasi rendah, posisi-posisi yang dibenci di mata manusia, seperti: comberan, WC, lubang anus, tubuh babi, mulut anjing, kotoran hewan, lokalisasi, arena perjudian, kuil pemujaan setan, dll.

    Sekali saja Anda meyakini bahwa Allah ada dimana-mana, termasuk berada di tempat-tempat hina itu, akibatnya bisa sangat fatal. Anda bisa dianggap melepaskan Allah Ta’ala dari sifat Kesucian-Nya. Ini sama dengan jalan-jalan menuju kekufuran. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik~.

    comberan, WC, lubang anus, tubuh babi, mulut anjing, kotoran hewan, lokalisasi, arena perjudian, kuil pemujaan setan, dll.
    Semua yang saudaraku sebutkan ini tidak ada apa2nya, tidak juga mengurangi Ke Maha Agungan Allah. Seandainya dunia dengan segala isinya,atau alam semesta ini saudaraku jadikan mesjid (apabila mampu) apakah akan menambah Kemuliaan Allah, Keagungan Allah?, maka pantaslah dikatakan “seandainya seluruh manusiapun beriman dan bertakwa , tidak akan menambah Keagungannya, begitu juga sebaliknya tidak akn mengurangi kemuliaanya. Karena Allah tidak butuh kepada MakhlukNya, tidak bergantung kepada makhlukNya. Dan jika di logiskan pun akan diterima akal sehat. Mungkin saudaraku masih merasa betapa besar, berhaganya aku di dunia ini, sehingga comberan, wc, dll terlihat jorok dan mengurangi keberhargaanmu. Pandang lah ke atas, arungi jagad raya ini, 10 meter ke atas anda msh terlihat dan comberan yg anda sebutkan, 100 meter, 200 meter, anda mulai tak terlihat, 500 meter, 1 km anda sudah luput tak terlihat, 2 km terlihat lah dunia yang sangat besar, anda dan comberan itu? 150 juta km, anda jumpa matahari yang jadi sumber kehidupan anda, wah…! besar 200 kali lebih besar dari bumi yang anda bangga di dalamnya, anda dan comberan itu dimana? trus arungi ke atas, 8 tahun cahaya (1thn=10 triliun km berarti 80 triliun km) anda sampai pada bintang yang paling dekat dari tempat anda berpijak. bumi sudah tak terlihat, matahari sudah seperti bintang, anda dan comberan itu?trus ke atas lagi 2.300.000 tahun cahaya (brp km itu ya) anda jumpa Andromeda Nebula (M-31), bumi, matahari, bintang terdekat sudah tak terlihat, hilang, anda dan comberan itu? trus lagi anda melewati galaksi bima sakti dan keluar galaksi, diameternya 100.000 tahun cahaya (subahanallah, besarnya galaksi kita ini, menurut para astronom bermilyar galaksi di jagad raya, itu artinya bima sakti bukan satu2nya galaksi), trus lagi, setelah jarak sekitar 13.700.000.000 tahun cahaya, anda sudah berhenti karena Alam semesta baru jarak segitu yang dapat diamati radiusnya (padahal masih jauh lagi). bumi, matahari, bintang, andromeda, galaaksi hilang tak terlihat lagi, anda dan comberan itu bagaimana?molekul atom yang tak berharga di jagad raya. Bagaimana dengan Kebesaran Allah yang meliputi segala makhluknya yang begitu luas tak terkira lagi, anda dan comberan itu tak ada pengaruhnya. Hanya orang beriman dan ber akal lah yang mampu menangkap ini semua. Tapi kalau saudaraku mengatakan Allah itu seperti comberan, WC, Kuil pemujaan, Punya anak, dll yang semisal, maka jawaban yang tepat adalah Maha Suci Allah dari apa yang anda sifatkan.
    Saya tidak menggambarkan dalam benak eksistensi Allah berupa bentuk (jika Dia sudah meliputi sudah tidak ada lagi bentuk) tapi saudaraku sendiri yang malah berfikir seperti itu. Seluruh ayat qauliyah, ayat kauniah yang saya sebutkan adalah sebagai pengantar saya mengenal Allah, Akhirnya beriman dengan wahyu dan akal tentu lebih berkuwalitas dibanding hanya sekedar percaya dan ikut2n.

    Terakhir mohon mf saudaraku jika ada kesalahan yang menyinggung hati, tidak ada maksud untuk merendahkan apalagi menghina, semua hanya memperjelas ilmu yang saya pahami. Saya juga tidak memaksa saudara untuk percaya, tapi lewat wahyu dan akal anda yang menjawab nanti. “tidak ada yang tidak logis dalam syariat ini, hanya saja ilmu dan akal manusia belum sampai mnyingkap apa yang tersembunyi dibalik itu smua”.

    Tentang faham wihdah al wujud, saudaraku tidak berhak memvonis mereka sebelum anda baca, pahami buku pencetus faham itu dan harus kita sadari ulama itu belum ada apa2 nya dibanding kita. wallahu ‘alam

    mhn maaf. Wassalam

  55. abisyakir berkata:

    @ Zubeir…

    Syukron, akhi atas segala pencerahannya, mudah2n insyaAllah akn bermanfaat buat saya. Ukhuwah persaudaraan kita tetap kita jalin.

    Respons: Sama-sama Pak. Mudah-mudahan juga bermanfaat bagi saya. Insya Allah, meskipun berbeda, kita tetap bersaudara di jalan Islam.

    Saya bukan membuat tafsiran, tapi lewat ayat itulah (alquran dan alam semesta) saya pergunakan akal untuk mengetahui. Jika memang kita sama-sama jujur sepertinya saudaraku abisyakir sendiri yang melakukan penafsiran tentang ayat itu. Dan sadar atau tidak ketika sudah masuk wilayah penafsiran, maka konsekwensinya relatif. Berapa banyak kitab tafsir ummat ini, Apakah berani kita menjamin kepada Allah tafsir Ibnu Taimiah. ra yang paling benar? atau Ibnu Katsir? atau Qurtubi? dll…. Jika demikian, maka wajar kita pula akn berani mengkafirkan saudara kita yang lain. Saya tetap beriman Allah bersemayam di ‘Ars, dan saya tidak mengatakan Allah tergambar oleh sesuatu bentuk yang dikenal.

    Respons: Ya memang pada dasarnya pendapat yang kita kemukakan adalah tafsiran-tafsiran juga. Hanya saja, apakah tafsiran itu bersifat MANDIRI atau bersifat DUPLIKASI (mengikuti) atas tafsiran sebelumnya? Saya memahami tentang Ma’iyyatullah (kedekatan Allah dengan hamba-Nya) menuruti tafsiran ulama, di antaranya yang Anda sebutkan namanya itu. Jujur, tafsiran saya bukan MANDIRI, tetapi DUPLIKASI. Sulitlah rasanya bagi kita untuk memahami tafsiran-tafsiran ini, tanpa bantuan ulama-ulama sebelumnya.

    Oh ya, saya tidak mengkafirkan lho ya. Coba Anda perhatikan, saya tidak mengkafirkan siapapun. Saya hanya mengatakan, kalau kita menghilangkan Sifat Kesucian dari Allah, itu hukumya kekafiran. Hal ini tak ada kaitannya dengan status Anda atau orang lain. Saya hanya bicara secara NORMATIF, bukan JUDGEMENT. Mohon maaf sebesar-besarnya kalau persepsinya jadi mengkafirkan.

    Jika saudaraku menafsirkan itu adalah rahmatnya, kekuasaanya, ilmunya yang meliputi dll, apakah zat, sifat, perbuatan-Nya terpisah..? Bukankah persepsi seperti itu akan sama berarti dengan makhluk? Saudaraku, meliputi dan yang diliputi tidaklah sama, tidak lah lantas bercampur dan yang pasti Yang Meliputi lah yang lebih besar, itulah Allah. Wujud Allah Satu, tidak berbilang2, tidak banyak. Bagaimana mungkin berbilang2 jika semua makhluknya diliputiNya (ruang,waktu, benda) sehingga tidak ada yang kosong. Jika demikian kita pasti mengatakan Allah Maha Besar.

    Respons: Ketika membahas Allahu Ahad, atau Wahdaniyatullah, atau Ke-Esaan Allah. Rata-rata ulama menyebutkan, bahwa Allah itu SATU dalam Dzat, Sifat, serta Perbuatan-Nya. Jadi, kita tidak boleh memahami bahwa Allah terpisah-pisah dalam beberapa segmen. Nanti hal itu akan sama saja seperti keyakinan Trinitas, bahwa Tuhan itu ada tiga. Jadi, Allah meliputi segala makhluk-Nya bukan dengan bercampur mereka, atau menyelubungi mereka, tetapi ya tetap dalam Kesatuan diri-Nya.

    Sebagai contoh sederhana. Anda perhatikan matahari. Kalau ditanya, bagaimana rasa sinar matahari? Manusia akan mengatakan: “Panas!” Lalu dikatakan lagi, “Bagaimana Anda tahu bahwa matahari panas, padahal Anda tidak pernah menyentuhnya?” Nah, bagaimana jawaban masalah ini, Pak Zubair?

    Kalau matahari saja bisa mengirim sinarnya, dan dapat dirasakan oleh makhluk di bumi, tanpa harus bersentuhan dengan makhluk-makhluk itu; bagaimana dengan Allah yang menciptakan matahari? Apakah matahari punya kemampuan yang hebat, sementara Allah (Sang pencipta matahari) tidak mampu memberi rahmat, menetapkan urusan, menyebarkan kekuasaan dari posisi-Nya di atas Arasy?

    Semua yang saudaraku sebutkan ini tidak ada apa2nya, tidak juga mengurangi Ke Maha Agungan Allah. Seandainya dunia dengan segala isinya,atau alam semesta ini saudaraku jadikan mesjid (apabila mampu) apakah akan menambah Kemuliaan Allah, Keagungan Allah? Maka pantaslah dikatakan “seandainya seluruh manusiapun beriman dan bertakwa, tidak akan menambah Keagungannya, begitu juga sebaliknya tidak akn mengurangi kemuliaanya. Karena Allah tidak butuh kepada MakhlukNya, tidak bergantung kepada makhlukNya. Dan jika di logiskan pun akan diterima akal sehat.

    Respons: Lho Pak, hal-hal yang kotor, hina, atau najis, itu kan sudah diatur dalam Syariat Islam. Dalam ilmu seputar Thaharah (Bersuci) hal-hal najis itu banyak dibahas. Masak Islam sudah memberikan posisi atas benda-benda atau tempat-tempat itu, sementara Anda ingin menafikan hal itu? Bahkan ingin menguatkan penafian itu dengan membawa-bawa Keagungan Allah. Apa yang Allah sucikan, ya kita sucikan; apa yang Dia najiskan, ya kita najiskan. Begitu kan. Bagaimana Anda bisa mendalili semua itu dengan kata-kata “tidak ada apa-apanya”? Waduh…bagaimana ini? Islam menetapkan hukum-hukum kesucian dan najis, lalu Anda anggap tidak ada apa-apanya.

    Mungkin saudaraku masih merasa betapa besar, berhaganya aku di dunia ini, sehingga comberan, wc, dll terlihat jorok dan mengurangi keberhargaanmu. Pandang lah ke atas, arungi jagad raya ini, 10 meter ke atas anda msh terlihat dan comberan yg anda sebutkan, 100 meter, 200 meter, anda mulai tak terlihat, 500 meter, 1 km anda sudah luput tak terlihat, 2 km terlihat lah dunia yang sangat besar, anda dan comberan itu? 150 juta km, anda jumpa matahari yang jadi sumber kehidupan anda, wah…! besar 200 kali lebih besar dari bumi yang anda bangga di dalamnya, anda dan comberan itu dimana? trus arungi ke atas, 8 tahun cahaya (1thn=10 triliun km berarti 80 triliun km) anda sampai pada bintang yang paling dekat dari tempat anda berpijak. bumi sudah tak terlihat, matahari sudah seperti bintang, anda dan comberan itu?trus ke atas lagi 2.300.000 tahun cahaya (brp km itu ya) anda jumpa Andromeda Nebula (M-31), bumi, matahari, bintang terdekat sudah tak terlihat, hilang, anda dan comberan itu? trus lagi anda melewati galaksi bima sakti dan keluar galaksi, diameternya 100.000 tahun cahaya (subahanallah, besarnya galaksi kita ini, menurut para astronom bermilyar galaksi di jagad raya, itu artinya bima sakti bukan satu2nya galaksi), trus lagi, setelah jarak sekitar 13.700.000.000 tahun cahaya, anda sudah berhenti karena Alam semesta baru jarak segitu yang dapat diamati radiusnya (padahal masih jauh lagi). bumi, matahari, bintang, andromeda, galaaksi hilang tak terlihat lagi, anda dan comberan itu bagaimana?molekul atom yang tak berharga di jagad raya. Bagaimana dengan Kebesaran Allah yang meliputi segala makhluknya yang begitu luas tak terkira lagi, anda dan comberan itu tak ada pengaruhnya.

    Respons: Hukum-hukum kesucian dan najis dalam Islam itu berlaku universal. Ia berlaku di bumi Allah ini. dari arah manapun kita melihat, hukum-hukum sudah tetap, terikat kuat, dan tidak bisa dicabut lagi. Dari jarak pandangan mata sampai titik tergelap di struktur “Black Hole” sana, tetap saja hukum kesucian dan najis tidak berubah. Jangan karena masalah JARAK KOSMIS, lalu Anda ubah hukum-hukum itu. Apa yang disebut najis oleh Allah dan Rasul-Nya, ya tetap najis. Tidak bisa berubah, atas alasan apapun. Jadi, masalah jarak, atau volume space, apakah besar atau kecil; semua itu tak bisa mengubah bahwa tempat-tempat atau benda-benda tertentu adalah najis; sehingga tidak layak dikait-kaitkan dengan Kesucian Allah Ta’ala.

    Hanya orang beriman dan ber akal lah yang mampu menangkap ini semua. Tapi kalau saudaraku mengatakan Allah itu seperti comberan, WC, Kuil pemujaan, Punya anak, dll yang semisal, maka jawaban yang tepat adalah Maha Suci Allah dari apa yang anda sifatkan.

    Respons: Kalau pemahaman itu tidak benar, ya tidak bisa diyakini oleh orang beriman (dan berakal). Saya tidak mengatakan hal-hal seperti itu. Anda sendiri yang membuat kalimat tersebut. Dan cara berpikir seperti itu KONTRADIKSI dengan paham Anda sebelumnya, bahwa Allah itu meliputi segala sesuatu. Kalau mengikuti jalan pikiran Anda, berarti dalam comberan itu ada Allah juga. Iya kan?

    Saya tidak menggambarkan dalam benak eksistensi Allah berupa bentuk (jika Dia sudah meliputi sudah tidak ada lagi bentuk) tapi saudaraku sendiri yang malah berfikir seperti itu. Seluruh ayat qauliyah, ayat kauniah yang saya sebutkan adalah sebagai pengantar saya mengenal Allah, Akhirnya beriman dengan wahyu dan akal tentu lebih berkuwalitas dibanding hanya sekedar percaya dan ikut2n.

    Respons: Mengapa saya menyangka seperti itu? Sebab Anda ketika menjelaskan tentang posisi Allah, Anda memakai ukuran-ukuran kosmis yang sebenarnya hal itu hanya berlaku bagi makhluk-Nya.

    Saya juga tidak memaksa saudara untuk percaya, tapi lewat wahyu dan akal anda yang menjawab nanti. “tidak ada yang tidak logis dalam syariat ini, hanya saja ilmu dan akal manusia belum sampai mnyingkap apa yang tersembunyi dibalik itu smua”.

    Respons: Kaidah seperti ini tidak bisa menjadi ukuran. Ia bukan murni kaidah Syariat Islam. Jangan memaksakan diri dengan kaidah seperti itu. Nanti…dirimu akan kelelahan sendiri, sampai akhirnya engkau rujuk kepada keimanan yang lurus. Insya Allah.

    Tentang faham wihdah al wujud, saudaraku tidak berhak memvonis mereka sebelum anda baca, pahami buku pencetus faham itu dan harus kita sadari ulama itu belum ada apa2 nya dibanding kita. wallahu ‘alam.

    Respons: Paham wihdatul wujud itu kalau dikaji, sebenarnya lebih parah dari paganisme. Mengapa demikian? Sebab Allah Ta’ala disana diyakini menjelma bersama makhluk, padahal jumlah makhluk itu sangat banyak. Otomatis Allah jadi berbilang sangat banyak. Hal demikian besar konsekuensinya di sisi Rabbul Izzati amma yashifun. Besar sekali… Kaburat kalimatan takhruju min afwahihim, in yaquluna illa kadziba (teramat besar kemungkaran kalimat yang keluar dari mulut-mulut mereka, padahal mereka itu tidak mengatakan kecuali hanya dusta semata).

    Sama-sama, mohon maafkan juga saya atas segala salah dan kekurangan. Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    AMW.

  56. INDRA berkata:

    assalamu’alaikum
    setelah mencermati perdebatan ini pertama ustad abu syakir mengedepankan iman dan akal,yang kedua yang bertolak dengan pernyataan abu syakir dengan menggunakan akal baru iman…
    terima kasih ustad abusyakir,,
    mudah2an yang selalu mengedepankan akal dan tidak sependapat dengan pernyataan di atas,dibukakan pintu hatinya oleh allah,saya salut atas kesabaran ustad abisyakir dalam menyikapi semuanya…wassalamu’alaikum,saya awam namun kebenaran telah tampak dari pernyataan2 abu syakir

  57. abisyakir berkata:

    @ Indra…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Alhamdulillah atas setiap nikmat dan karunia Allah. Terimakasih atas apresiasi dan dukungannya, jazakumullah khairan katsira. Semoga kita selalu istiqamah di atas al haq. amin ya Rahiim.

    Admin.

  58. imam asyaaari mazhabku say no to wahabi berkata:

    Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah ulama ahli hadits yang terakhir menyandang gelar al-hafizh (gelar kesarjanaan tertinggi dalam bidang ilmu hadits). Ia memiliki kisah perdebatan yang sangat menarik dengan kaum Wahhabi. Dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar, sebuah autobiografi yang melaporkan perjalanan hidupnya, beliau mencatat kisah berikut ini.
    “Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul dengan tiga orang ulama Wahhabi di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah yang juga ulama Wahhabi dari Najd. Dalam pembicaraan itu, mereka menampilkan seolah-olah mereka ahli hadits, amaliahnya sesuai dengan hadits dan anti taklid. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan ketinggian tempat Allah subhanahu wa ta‘ala dan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai dengan ideologi Wahhabi. Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal (zhahir) mengarah pada pengertian bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai keyakinan mereka.

    Akhirnya saya (al-Ghumari) berkata kepada mereka: “Apakah ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi termasuk bagian dari al-Qur’an?”
    Wahhabi menjawab: “Ya.”
    Saya berkata: “Apakah meyakini apa yang menjadi maksud ayat-ayat tersebut dihukumi wajib?”
    Wahhabi menjawab: “Ya.”
    Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:
    وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ. (الحديد : ٤).
    “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4).
    Apakah ini termasuk al-Qur’an?”
    Wahhabi tersebut menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”
    Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:
    مَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ وَهُوَ رَابِعُهُمْ. (المجادلة : ٧).
    “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya….” (QS. al-Mujadilah : 7).
    Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?”
    Wahhabi itu menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”
    Saya berkata: “(Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit). Mengapa Anda menganggap ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi yang menurut asumsi Anda menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat yang saya sebutkan yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit? Padahal kesemuanya juga dari Allah subhanahu wa ta‘ala?” Wahhabi itu menjawab: “Imam Ahmad mengatakan demikian.”
    Saya berkata kepada mereka: “Mengapa kalian taklid kepada Ahmad dan tidak mengikuti dalil?”
    Tiga ulama Wahhabi itu pun terbungkam. Tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka. Sebenarnya saya menunggu jawaban mereka, bahwa ayat-ayat yang saya sebutkan tadi harus dita’wil, sementara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit tidak boleh dita’wil. Seandainya mereka menjawab demikian, tentu saja saya akan bertanya kepada mereka, siapa yang mewajibkan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan dan melarang menta’wil ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi?
    Seandainya mereka mengklaim adanya ijma’ ulama yang mengharuskan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan tadi, tentu saja saya akan menceritakan kepada mereka informasi beberapa ulama seperti al-Hafizh Ibn Hajar tentang ijma’ ulama salaf untuk tidak menta’wil semua ayat-ayat sifat dalam al-Qur’an, bahkan yang wajib harus mengikuti pendekatan tafwidh (menyerahkan pengertiannya kepada Allah subhanahu wa ta‘ala).”
    Demikian kisah al-Imam al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dengan tiga ulama terhebat kaum Wahhabi.

  59. abisyakir berkata:

    @ Imam Asyari…

    Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:
    وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ. (الحديد : ٤).
    “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4).

    Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:
    مَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ وَهُوَ رَابِعُهُمْ. (المجادلة : ٧).
    “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya….” (QS. al-Mujadilah : 7).

    Respon:

    Menjawab argumen di atas sebenarnya tidak terlalu sulit; bahkan mudah saja.

    [1]. Bahwa kalangan Wahabi tidak menolak takwilan secara mutlak; ada sisi-sisi tertentu ketika takwilan itu digunakan.

    [2]. Penakwilan ini digunakan, bukan karena Wahabi tidak konsisten dengan ayat-ayat yang bersifat “literal”. Bukan itu. Tetapi ia mesti ditakwilkan, karena jika tidak, maka hasilnya akan bertentangan dengan ayat-ayat lain yang lebih kuat/kokoh dalam akidah.

    [3]. Misalnya, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Wa huwa ma’akum ainama kuntum”. Ini ditafsirkan, Allah senantiasa melihat dan mengawasi kalian. Ayat “Wa huwa raa-biuhum”. Ini ditafsirkan, Allah menyaksikan, mendengar, mengetahui percakapan kalian bertiga.

    [4]. Kalau ayat “wa huwa ma’akum ainama kuntum” tidak ditafsirkan, jelas ia akan bertentangan dengan ayat-ayat lain, bahwa Allah Istiwa’ di atas Arasy. Begitu pun dengan ayat “wa huwa raa-biuhum”.

    [5]. Adapun tentang Sifat Wajah, Tangan, Mata, dan lainnya yang termasuk Sifat Khabariyah; ia tidak perlu ditafsirkan kemana-mana, karena memang tidak bertentangan dengan ayat-ayat lain yang lebih kuat, kalau ia dipahami secara literal (apa adanya).

    Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    Admin.

  60. Suatu ketika bertanyalah seorang
    anak raja kepada Ibunya, sebut saja
    nama anak tersebut DESPI… “Ibu..
    Dimana ALLAH dan bolehkah saya
    melihatNya?”..Oh.. ALLAH itu di Arasy
    wahai ananda dan anakanda tidak dapat melihatNya kerana ALLAH
    berada nun jauh diatas langit ke 7….
    Sedangkan langit kedua pun manusia
    tidak bisa melihatnya lantas
    bagaimana mungkin anakanda akan
    dapat melihat ALLAH yang berada di Arasy yang terletak lebih atas dan
    jauh daripada langit ke 7 petala
    langit?” Maka giranglah hati anakanda
    itu tadi kerana telah mendapat
    jawapan dari pertanyaan yang selama
    ini sentiasa mengganggu fikirannya…. Waktu pun berlalu..hari berganti
    minggu, minggu berganti bulan dan
    bulan berganti tahun, maka telah
    remajalah anak itu…setelah remaja
    anak raja itu di perintahkan oleh raja
    (ayahnya) supaya belajar lagi ilmu2 agama dengan seorang Syeikh yg
    bernama sebut saja Abdullah…Suatu
    hari sambil duduk-duduk santai
    dengan Syeikh Abdullah tiba-tiba
    Despi ditanya oleh Syeikh Abdullah
    dengan 2 pertanyaan yang tidak asing baginya. “Wahai Despi .. Dimana
    ALLAH dan bolehkah anakanda
    melihatNya?” Sambil tersenyum Despi
    menjawab sebagaimana yang telah
    diajarkan Ibunya dahulu…….“ALLAH
    itu di Arasy wahai Tuan Guru dan saya tidak bisa melihatNya kerana ALLAH
    berada nun jauh diatas langit ke
    7 .”……Tersenyum kecil Syeikh
    Abdullah mendengar jawapan
    muridnya itu dan sejenak menghela
    nafasnya kemudian Syeikh Abdullah lalu berkata.. Begini anakanda Despi
    ALLAH itu bukannya makhluk seperti
    kita lantaran itu ALLAH tidak seperti
    kita. Apa saja hukum yang terjadi
    pada makhluk tidak berlaku seperti
    itu atas ALLAH. Oleh itu ALLAH tidak bertempat kerana bertempat itu
    hukum bagi makhluk.”…..Despi
    tercengan dan dalam
    kebingungannya ia bertanya“Lantas
    dimana ALLAH itu wahai Tuan
    Guru?”……..“ALLAH itu tidak bertempat kerana Dia bersifat qiammuhu
    binafsihi yang bermakna ALLAH tidak
    berkehendak terhadap sesuatu zat
    lain untuk ditempati… Jika kita
    mengatakan ALLAH berkehendak
    pada sesuatu zat lain untuk ditempati maka ketika itu kita telah
    menyerupakan ALLAH dengan
    keadaan makhluk… Ketahuilah, ALLAH
    tidak serupa dengan makhluk
    berdasarkan kepada dalil dari surah
    asy-Syuura ayat 11 yang artinya “Dia tidak menyerupai segala sesuatu.”
    ALLAH tidak berdiam di Arasy kerana
    Arasy itu adalah makhluk…Bagaimana
    mungkin makhluk dapat
    menanggung zat ALLAH sedang bukit
    dihadapan Nabi Musa pun hancur kerana tidak dapat menanggung
    pentajalian ALLAH.”….Despi
    tercengang mendengarkan jawaban
    gurunya sambil mengangguk-
    anggukkan kepalanya tanda faham.
    Kemudian Syeikh Abdullah menambah…..“Berkenaan tentang
    anakanda tidak boleh melihat ALLAH
    itu adalah betul namun bukanlah
    kerana ALLAH itu jauh maka
    anakanda tidak boleh
    melihatNya.”…….“Jika bukan begitu lantas bagaimana Tuan Guru?” Tanya
    Despi dengan semangat
    kesungguhan ingin
    tau…..“Sebenarnya kita tidak dapat
    melihat ALLAH bukanlah kerana faktor
    jarak tetapi kerana keterbatasan kemampuan penglihatan mata
    manusia yang tidak mampu melihat
    zatNya. Ini bersesuai dengan firman
    ALLAH yang bermakna “Dia tidak
    dapat dicapai oleh penglihatan mata,
    sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha
    Halus lagi Maha Mengetahui.”.. dari
    surah al-An’am ayat 103.”….Terdiam
    Despi mendengar hujah gurunya itu.
    Barulah beliau sadar bahwa apa yang
    menjadi pegangannya selama hari ini adalah SALAH,..ia sadar bahwa
    pegangan yang mengatakan bahwa
    ALLAH itu di Arasy dan ALLAH tidak
    boleh dilihat kerana faktor jarak
    adalah satu KESILAPAN….. Penjelasan
    daripada gurunya melalui ilmu Kalam membuatkan Despi begitu kagum
    dengan kekuasaan akal yang dapat
    menguraikan segala-galanya tentang
    Tuhan…..Sejak hari itu Anakanda Raja
    berpegang dengan hujah gurunya
    bahawa ALLAH itu tidak bertempat dan manusia tidak boleh melihat
    ALLAH kerana keterbatasan
    kemampuan penglihatan mata
    manusia…. Akhirnya dengan berkat
    ketekunan dan kesungguhan,
    anakada Raja telah berhasil menguasai ilmu-ilmu ketuhanan
    menurut peraturan ilmu Kalam
    sebagaimana yang diajarkan oleh
    Syeikh Abdullah hingga mahir…..Itulah
    yg menjadi peganagan n sikap dlm
    menjalani hidup Despi setiap hari,minggu n tahun berganti hingga
    Dewasa dan diangkat menjadi
    RAJA…sehingga pada suatu hari Despi
    bertemu dengan seorang tua yang
    sedang bertungkus-lumus
    menyediakan air minuman untuk diberi minum kepada orang yang lalu-
    lalang disebuah pasar tanpa
    mengambil upah sdikitpun…. Melihat
    kelakuan yg aneh dari orang tua itu
    lantas Despi, mendekatinya n
    bertanya…“Hei orang tua.. mengapa kamu tidak mengambil upah atas
    usahamu itu?” …. Orang tua yang dari
    tadi begitu khusyuk memberikan
    minumannya itu terkejut dengan
    pertanyaan tersebut…. lalu meminta
    org yg bertanya tersebut memperkenalkan dirinya…..“Siapakah
    tuan ini?” Tanya si Tua…“Beta adalah
    Raja negeri ini!” Jawab Despi dgn
    tegas….“Oh kalau begitu tuan ini tentu
    Raja yang terkenal dengan ketinggian
    ilmu ketuhanan itu… Tapi sayang, tuan hanya TAHU ilmu tentang ALLAH tetapi
    tuan sendiri belum MENGENAL ALLAH…
    Jika tuan telah mengenal ALLAH sudah
    pasti tuan tidak akan bertanya kepada
    saya soalan tuan tadi.”……Berkedip –
    kedip mata Despi mendengar kata- kata si Tua itu….Hatinya terpesona
    dengan ungkapan ‘mengenal ALLAH’
    yang diucapkan orang tua itu. Lantas
    beliau bertanya kepada orang tua
    itu….“Kemudian apa bedanya antara
    ‘tahu’ dengan ‘kenal’?”……Dengan tenang si Tua itu menjawab…..“Ibarat
    seseorang yang datang kepada tuan
    lantas menceritakan kepada tuan
    tentang ciri-ciri buah nangka tanpa
    menunjukkan wujud/ zat buah
    nangka, maka ini mertabat… ‘tahu’…. kerana ianya hanya sekedar
    informasi/ khabar dan orang yang
    berada pada mertabat ini mungkin
    akan menyangka bahwa buah
    cempedak itu adalah nangka kerana
    ciri-cirinya seakan sama…..Berbanding seseorang yang datang kepada tuan
    lantas mengulurkan sebuah buah
    nangka, maka ini mertabat…. ‘kenal’…..
    kerana wujud/ zat nya terus dapat
    ditangkap dengan penglihatan mata
    dan orang yang berada pada mertabat ini pasti dapat membedakan
    dengan pasti mana cempedak dan
    mana nangka dengan
    tepat.”….Anakanda Raja mendengar
    dengan teliti uraian org Tua itu….Diam-
    diam,hatinya membenarkan apa yang dikatakan org Tua itu… Kemudian
    terlintas dihatinya untuk
    memprtanyakan soalan yang lazim
    ditanyanya kepada orang
    ramai….“Kalau begitu wahai orang tua
    silakan jawab pertanyaan ini…. Dimana ALLAH dan bolehkah manusia
    melihatNya?” ……“ALLAH berada
    dimana-mana saja dan manusia boleh
    melihatNya.” Jawab si Tua dengan
    tenang…..Terkejutlah Despi
    mendengar jawapan orang tua itu… Seketika itu juga terus saja orang tua
    itu dipukulnya sehingga jatuh
    tersungkur…. Melihat orang tua itu
    tidak brusaha untuk mengelak
    pukulannya bahkan langsung tidak
    menunjukkan reaksi takut maka Despi pun lantas bertanya……“Kenapa kamu
    tidak mengelak pukulan beta wahai
    orang tua?”…..org tua itu
    menjawab….“Bukankah tadi sudah
    saya bilang.. tuan ini hanya orang
    yang “tahu” tentang ALLAH tetapi bukannya orang yang benar-benar
    mengenal ALLAH.”…..Terdiam Despi
    mendengar kata-kata si Tua itu.
    Kemudian beliau menenangkan
    dirinya lantas bersegera duduk diatas
    tanah dihadapan orang tua itu…. “Baiklah orang tua. Tolonglah uraikan
    jawapan kamu tadi sebab beta selama
    ini berpegang bahwa ALLAH itu tidak
    bertempat dan manusia tidak boleh
    melihat ALLAH.”….ALLAH itu tidak
    bertempat adalah menurut pandangan hukum akal sahaja
    sedang pada hakikatnya tidak
    begitu.” Jawab orang tua itu sambil
    mengelap bibirnya yang berdarah
    terkena pukulan tadi… Kemudian
    beliau menyambung..“Bukankah ALLAH itu wujudNya Esa”…..“Benar.”
    Jawab Raja Despi….“Jika ALLAH itu
    wujudNya Esa maka sudah barang
    tentu tidak ada wujud sesuatu
    berserta denganNya.”……“Benar.”
    Jawab Raja Despi… .“Lantas bagaimanakah kedudukan wujud
    alam ini jika ALLAH itu diyakini wujud
    tanpa ada selain zat yang wujud
    bersertaNya dengan pandangan mata
    hati?”……Raja Despi memejamkan
    matanya rapat-rapat lantas dikerahkan pandangan mata hatinya
    untuk memahami persoalan yang
    ditanyai orang tua itu. Tiba-tiba
    akalnya dapat menangkap dan
    memahami hakikat alam ini jika ianya
    merujuk kepada ruang lingkup keesaan wujud ALLAH. Lantas beliau
    membuat satu
    kesimpulan…………Lantas beliau
    membuat satu
    kesimpulan……Perlahan-lahan
    berjujuran air mata dari mata Raja Despi . Beliau menahan sesak isak
    didada kerana sekarang beliau sudah
    faham kenapa orang tua itu tidak
    mengambil upah atas usahanya dan
    tidak mengelak ketika dipukul.
    Semuanya kerana yang dipandangnya adalah pentajallian
    ALLAH. Dalam hati perlahan-lahan
    Despi berkata.. “Memang benar
    sesungguhnya pada sudut ini, ALLAH
    berada dimana-mana sahaja dan
    manusia bisa melihat ALLAH.” ……….org tua itu melanjutkan
    katanya…“Makanya wahai Raja….
    inilah yang dinamai sebagai ilmu
    hakikat….”Sejak hari itu, Raja Despi
    terus mendampingi orang tua itu
    untuk mempelajari lebih dalam seluk- beluk ilmu hakikat hingga diangkat
    beliau oleh gurunya menduduki
    kedudukan Syeikh ilmu hakikat….
    Guna mempraktikkan ilmu-ilmu
    hakikat yang halus, Raja Despi telah
    menjadi seorang ahli ibadah yang alim. Beliau tidak lagi berpegang
    dengan fahaman almarhum gurunya
    iaitu Syeikh Abdullah kerana baginya
    jalan yang boleh membuatkan
    seseorang itu dapat mengenal ALLAH
    dengan haqqul yaqin ialah dengan ilmu hakikat. Beliau telah
    mengenepikan kedudukan didalam
    peraturan hukum akal sama sekali
    dan mulai duduk didalam peraturan
    musyahadah. Bagi beliau, ilmu Kalam
    yang dituntutnya selama ini adalah semata-mata salah……Sekarang Raja
    Despi telah memerintah negerinya
    dengan adil dan seksama namun
    sikap anehnya yang dahulu masih
    diteruskannya. Dimana sahaja beliau
    pergi beliau tetap akan mepbertanyakan soalannya yang
    lazim itu. Jika orang yang ditanya
    tidak dapat menjawab maka akan
    diajarkan jawabannya menurut ilmu
    hakikat dan jika orang itu
    membangkang akan dihukum bunuh. Akhirnya kelaziman Raja Despi ini
    membuatkan seluruh rakyatnya
    menganut fahaman hakikat. Justeru
    itu rakyat jelata dinegerinya hidup
    aman dan
    makmur……,…………………………………………….. …………………………… Suatu sore Raja yang
    terkenal sebagai Mursyid ilmu hakikat
    itu berjalan-jalan disebuah padang
    rumput yang luas dengan ditemani
    para pembesar istana…
    Pandangannya tertarik pada gelagat seorang pemuda pengembala
    kambing dalam lingkungan usia 30an
    yang sedang berusaha menghalau
    seekor serigala yang coba memakan
    kambing gembalaannya……..Baginda
    mendatangi pemuda gembala itu…. Kelihatan pemuda itu hanya memakai
    pakaian yang terbuat daripada goni
    dan tidak mempunyai sandal sebagai
    alas kaki…. Rambutnya kering
    berdebu, bibirnya kering dan
    badannya kurus…..“Wahai pemuda…kenapa kamu menghalau
    serigala itu dari memakan kambing
    itu, tidakkah kamu menyaksikan
    hakikat serigala itu? Maka biarkan
    sahaja ALLAH bertindak menurut
    kemahuanNya.”……Mendengar kata- kata Raja Despi tersebut sekonyong-
    konyong pemuda gembala itu
    menggenggam pasir lantas
    dilemparkannya pasir itu ke muka
    Raja. Kemudian pemuda gembala itu
    membungkuk untuk mengambil segenggam pasir lagi lalu dilemparkan
    lagi ke muka Raja …. Raja Despi hanya
    tercegat saja mungkin terkejut
    dengan tindakkan pemuda gembala
    itu….. Pemuda gembala itu terus ingin
    mengambil segenggam pasir lagi dan melihat itu seorang pembesar istana
    yang berada disitu terus memukul
    pemuda gembala itu hingga beliau
    pingsan……Apabila ssdar dari pingsan,
    pemuda gembala itu mendapati
    tangan dan lehernya telah dipasung dengan pasungan kayu didalam
    sebuah penjara…. Tidak lama
    kemudian datang dua orang
    pengawal istana dengan kasar
    mengankat badannya dan
    membawanya ke suatu tempat yang amat asing baginya…. Tidak lama
    kemudian akhirnya mereka sampai
    dihadapan singgahsana Raja…..
    “Mengapa kamu melempari muka beta
    dengan pasir?” Raja Despi bertaaya
    dengan tenang…pemuda menjawab…“Kerana tuanku
    mengatakan bahwa serigala itu
    adalah ALLAH yakni Tuhan
    saya.”…….Bukankah hakikat serigala
    itu sememangnya begitu?” Tanya Raja
    heran……pemuda menjawab….“Nampaknya tuduhan
    yang mengatakan bahawa tuanku ini
    adalah seorang yang mengenal ALLAH
    adalah bohong belaka.”……..Kenapa
    kamu berkata begitu?”…….“Sebab
    orang yang sudah sempurna mengenal ALLAH pasti merindui untuk
    ‘menemui’ ALLAH.”…..Setelah 30 tahun
    sejak berguru dgn org tua pembagi
    minuman baru hari ini hati Raja
    terpesona kembali…. apabila
    mendengar ungkapan ‘menemui ALLAH’ yang diucapkan oleh pemuda
    gembala itu…..Raja termenung
    sejenak…Dahulu hatinya pernah
    terpesona dengan ungkapan
    ‘mengenal ALLAH’……Dengan tiba tiba
    Raja memerintahkan agar pasung kayu yang dikenakan pada pemuda
    gembala itu ditanggalkan……“Lantas
    apa utamanya ‘bertemu’ berbanding
    ‘kenal’?”……..Tanya Raja ……“Adakah
    tuanku mengenali sifat-sifat
    Rasulullah?” Tanya pemuda gembala itu tiba-tiba…..“Ya, beta kenal akan
    sifat-sifat Rasulullah.”……“Lantas apa
    keinginan tuanku terhadap
    Rasulullah?”……“Semestinyalah beta
    ingin dan rindu untuk menemuinya
    kerana baginda adalah kekasih ALLAH!”……..“Nah begitulah… Orang
    yang sempurna pengenalannya
    terhadap sesuatu pasti terbit rasa
    ingin bertemu dengan sesuatu yang
    telah dikenalinya itu dan bukannya
    hanya sekadar berputar-putar didaerah ‘mengenal’ semata-
    mata.”…..Tiba-tiba sahaja Raja
    berteriak kuat dengan menyebut
    perkataan ‘Allahu Akbar’ sekuat-kuat
    hatinya lalu baginda jatuh pengsan……
    Tidak lama kemudian setelah wajahnya disapukan dengan air sejuk
    maka baginda kembali sadar…..stelah
    sadar dr pingsannya Raja terus
    menangis terisak-isak hingga
    jubahnya dibasahi dengan air
    matanya. Baginda memuhassabah dirinya.. “Memang…. memang selama
    ini beta mengenali ALLAH melalui ilmu
    hakikat tetapi tidak pernah hadir
    walau sekelumit rasa untuk bertemu
    denganNya…….. Rupa-rupanya ilmu
    hakikat yang beta pegangi selama ini juga salah sepertimana ilmu bunda
    dan ilmu Syeikh Abdullah”.. bisik
    hatinya…… Kemudian terlintas difikiran
    Raja. untuk menanyakan soalan
    lazimnya kepada pemuda gembala
    itu…..“Kalau begitu wahai orang muda, silalah jawab soalan beta ini.. DI MANA
    ALLAH?”……Dengan tenang pemuda
    gembala itu menjawab……“ALLAH
    berada dimana Dia berada sekarang.”
    “Kalau begitu, dimana ALLAH
    sekarang?…..“Sekarang ALLAH berada dimana Dia berada
    dahulu.”…..“Dimana ALLAH berada
    dahulu dan sekarang?”……“Dahulu
    dan sekarang Dia berada ditempat
    yang hanya Dia sahaja yang
    ketahui”……Dimana tempat itu?”…….“Didalam pengetahuan ilmu
    ALLAH.”…… Raja terdiam sebentar
    sambil keningnya berkerut
    memikirkan jawapan yang diberi
    pemuda gembala itu. Kemudian
    baginda meneruskan pertanyaannya lagi………“Bolehkah manusia melihat
    ALLAH?”……“Kunhi zatNya tidak boleh
    dicapai dengan pandangan mata
    kepala dan pandangan hati.” jawab
    pemuda itu……“Tolong perjelaskan
    lagi wahai anak muda.” Pinta Raja…….“Begini tuanku pemuda
    melanjutkan…. adapun jawapan yang
    diberikan oleh bunda tuanku tentang
    pertanyaan lazim yang tuanku
    berikan itu adalah sebenarnya betul
    menurut tahapan akal tuanku yang ketika itu dinilai masih kanak-
    kanak……. Adapun jawapan yang
    diberikan oleh Syeikh Abdullah itu
    juga betul jika dinilai dari sudut
    hukum akal…… Adapun jawapan yang
    diberikan oleh Syeikh Tua itu juga betul jika dinilai dari sudut
    pengamalan musyahadah terhadap
    ilmu Hakikat……. Begitu jugalah
    dengan jawapan yang saya berikan
    juga betul jika dinilai dari sudut ilmu
    Ma’rifat…… Tiada yang salah cuma ilmu itu bertahap-tahap dan tuanku telah
    pun melalui tahapan- tahapan itu. Dari
    tahapan jahil (ilmu bunda) ke tahapan
    awam (ilmu Kalam) kemudian ke
    tahapan khusus (ilmu Hakikat) dan
    akhir sekali ke tahap khawasul khawas (ilmu Ma’rifat) .”……Kemudian
    pemuda gembala itu terus
    menyambung kata- katanya…..Jika
    ilmu Hakikat itu jalan fana kerana
    menilik kepada zat ALLAH maka ilmu
    Ma’rifat pula jalan baqo’ kerana menilik terus kepada Kunhi zat ALLAH.
    Maka jawapan bagi persoalan tuanku
    itu secara yang dapat saya simpulkan
    ialah Tiada yang tahu dimana ALLAH
    melainkan ALLAH dan tiada sesiapa
    yang dapat melihat ALLAH melainkan diriNya sendiri.”….. Raja mengangguk-
    anggukkan kepalanya tanda
    faham….“Jadi bagaimana hendak
    sampai ke tahap mengenal ALLAH
    dengan sempurna sehingga terbit
    rasa ingin untuk menemuiNya?”…….“Jangan mengenal
    ALLAH dengan akal sebaliknya
    mengenal ALLAH dengan
    ALLAH.”“Kemudian, apakah cara-
    caranya untuk dapat bertemu dengan
    ALLAH?” ……“Sebagaimana firman ALLAH yang bermaksud “..
    Barangsiapa mengharap pertemuan
    dengan Tuhannya maka hendaklah
    dia mengerjakan amalan soleh dan
    janganlah dia mempersekutukan
    Tuhannya dalam beribadat kepadanya”.. darisurah al Kahfi ayat
    110.”…..Mendengar penjelasan
    daripada pemuda gembala itu hati
    Raja menjadi tenang dan akhirnya
    baginda diterima menjadi murid si
    pemuda gembala itu. Kerana kesungguhan yang luarbiasa dalam
    menuntut ilmu Ma’rifat maka baginda
    mahsyur terkenal sebagai seorang
    sultan yang arifbillah lagi zuhud dan
    warak. Kemudian rakyatnya dibiarkan
    bebas untuk berpegang pada faham manapun asalkan ajarannya masih
    didalam ruang lingkup yang
    mengikuti pegangan Ahlussunnah
    wal Jamaah. Dan sekarang pada usia
    70 tahun barulah Raja sadar dan
    faham bahwa untuk memahami tentang ALLAH maka seseorang itu
    harus melalui tahapan- tahapan yang
    tertentu sebelum seseorang itu layak
    dinobatkan sebagai arifbillah…..
    Baginya samada ilmu Kalam, ilmu
    Hakikat atau ilmu Ma’rifat maka semuanya adalah sama penting untuk
    dipelajari bagi mewujudkan
    kesempurnaan untuk mencapai
    kedudukan Insan Kamil yang
    Ma’rifatullah……Kini Raja sudah
    memahami bagaimana rasanya rindu kepada ALLAH dan bagaimana
    rasanya benar-benar tidak sabar
    untuk bertemu ALLAH. Sejak semalam
    mulutnya tidak henti-henti asyik
    mengucapkan kalimah
    ALLAH..ALLAH..ALLAH dan kadang- kadang terlihat deruan air mata jernih
    mengalir perlahan dipipinya sewaktu
    dipembaringan. Perlahan-lahan
    pemuda gembala menghampiri Raja
    Despi yang sejak 20 tahun lalu tinggal
    bersama dengannya dirumah usangnya lantas meletakkan kepala
    muridnya itu diribaan silanya dengan
    linangan air mata. Kini nafasnya mulai
    tersekat- sekat dan melihat itu,
    pemuda gembala merapatkan
    bibirnya ke telinga Anakanda Raja.lantas mentalqinkan baginda
    dengan dua kalimah syahadah seraya
    diikuti baginda dengan senyuman.
    Sejurus kemudian Anakanda Raja
    menghembuskan nafasnya yang
    terakhir. Suasana hening… pemuda gembala menunduk sahaja dan
    sebentar kemudian dia berkata..
    “Wahai alangkah beruntungnya..
    sekarang tuanku benar-benar telah
    menemui ALLAH dan dapat
    mengenalNya dengan sebenar-benar kenal……..SEKIAN

  61. Hamba Allah berkata:

    perbaiki terus amal ibadah kita yg sudah di wajibkan dan di sunahkan sesuai tuntunan aja lah.. bicara tasawuf, marifat dan lain lain itu kan masih kata guru..di dengar, di hapal di ingat, begitu ada kesempatan dialog masalah agama baru di keluarin apa yg di bilang sama guru..emg udh ad yg merasa mengenal Allah yang koment disini ? klo pun emang betul..gak bijak seperti nya berkeliaran di dunia maya hanya untuk debat.. umat masih butuh pertolongan tuh di luar sana… gak usah berdebat lah, malu klo pemahaman agama gak bisa berbuat banyak buat menolong orang lain

  62. Hamba Allah berkata:

    Maaf klo kata2 saya menyinggung..saya sering bertukar pikiran sampai ujung nya debat..apalgi pemikiran orang yg di ajak berdialog memegang paham syariat ,thariqat, hakikat, makrifat, sulit di ajak tukar pikiran..pas suatu hari ketemu lagi..doi malah curhat masalah anak nya yang gak bisa d atur, sama berantem mulu sama istrinya..( dalam hati kemanain tuh ilmu brooo..) hadeeeeuh

  63. abisyakir berkata:

    @ Puteri Pendidikan Islam…

    Maaf sebelumnya. Saya mengakui Anda adalah Muslim, Anda belajar pemikiran2 seperti di atas dari guru-guru Anda. Tapi saya tidak setuju dengan konsep pemikiran seperti itu, bahwa “Allah ada dimana-mana”. Pemikiran demikian -menurut kami- tidak benar. Allah Ta’ala ya ada di atas langit. Seperti riwayat yang disebutkan dari Mu’awiyyah bin Al Hakam Ra ketika hendak membebaskan seorang budak wanita. Nabi Saw mengakui keimanan budak tersebut karena dia meyakini bahwa Allah ada di langit (di atas Arasy).

    Allah bersemayam (Istiwa’) itu termasuk perbuatan Allah. Dalam hal perbuatan ini, kalau Allah mau berbuat apapun, tak ada yang bisa menghalangi-Nya. Misalnya (ini hanya misalnya) Allah melakukan Istiwa’ di atas matahari atau bulan; kalau Dia mau, sangat mudah bagi-Nya melakukan hal itu. Idza arada syai’an an yaqulu lahu kun fa yakun (kalau Dia menghendaki sesuatu, tinggal bilang ‘jadi’, maka jadilah ia).

    Jangan umpamakan Allah dengan makhluk-Nya, dengan keadaan nangka-cempedak, dengan guru dipukul, dan seterusnya. Anda tak akan prnah sampai pada pengertian akan Allah kalau caranya begitu.

    Admin.

  64. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea berkata:

    Bp, Ada orang, dia bilang begini ::
    Dalam hidupnya Abul Hasan melewati tiga proses pemikiran:

    Pertama: Fase I’timal, di mana dia hidup menjadi murid Syaikh Mu’tazilah di zamannya Abu Ali al-Jubbai, Abul Hasan mengambil ilmu darinya sehingga dia menjadi penerus dan memegang kursi tertinggi Mu’tazilah selama empat puluh tahun.

    Kedua: Fase di mana dia merasa tidak nyaman dan akhirnya melepaskan diri dari Mu’tazilah yang pernah dibelanya. Abul Hasan membuka jalan baru di mana padanya dia mulai mentakwilkan nash-nash dengan takwil yang menurutnya sejalan dengan hukum akal, dia menetapkan sifat yang tujuh melalui akal yaitu: al-Hayat, al-Ilmu, al-Iradah, al-Qudrah, as-Sam’u, al-Bashar dan al-Kalam. Adapun sifat-sifat khabariyah seperti al-Wajhu, al-Yadain, al-Qadam, as-Saq, maka Abul Hasan mentakwilkannya dengan takwil yang menurutnya sejalan dengan hukum-hukum akal. Fase inilah yang dipegang oleh Asy’ariyah dan menjadi titik tolak lahirnya Asy’ariyah.

    Ketiga: Fase dimana dia rujuk kepada manhaj salaf, dia menetapkan seluruh sifat Allah tanpa takyif, tamtsil, ta’thil dan tahrif. Dalam fase ini Abul Hasan menulis al-Ibanah fi Ushul ad-Diniyah, dalam kitab ini Abul Hasan menulis bahwa dia memilih manhaj dan akidah Salaf Shalih yang pada masa itu panjinya dipegang oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Abul Hasan berkata, “Pendapat yang kami pegang dan agama yang kami yakini adalah berpegang kepada kitab Rabb kami azza wa jalla dan sunnah Nabi kami saw dan apa yang diriwayatkan dari sahabat , tabiin dan para imam hadits, kami berpegang kepada semua itu dan kami mengatakan apa yang diucapkan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal –semoga Allah memuliakannya, mengangkat derajatnya dan mengagungkan pahalanya- kami menyelisihi pendapat yang menyelisihi ucapannya (Ahmad bin Hanbal), karena dia adalah imam yang agung, pemimpin yang mulia, dengannya Allah menjelaskan kebenaran, menepis kesesatan orang-orang yang ragu. Semoga Allah melimpahkan rahmat atasnya.”

    Dari keterangan ini diketahui bahwa Asy’ariyah merupakan penisbatan kepada Abul Hasan pada fase pemikirannya yang kedua di mana Abul Hasan sendiri telah meninggalkannya dan rujuk kepada akidah dan manhaj Salaf Shalih.

    Bagaimana menurut bp atas Pendapat yang terurai di’atas.??

  65. abisyakir berkata:

    @ Zaenal…

    Ya akhi, menurut pandangan kita (yang kerap dipersepsikan sebagai Wahabi) pandangan tentang Abu Hasan Al Asy’ari memang begitu. Sebutannya, mengalami 3 fase pemikiran. Tapi kawan-kawan Asy’ariyah memiliki argumentasi berbeda. Kata mereka, “Kitab Al Ibanah yang mana dulu yang mnjadi rujukan Anda?” Sampai disini dibutuhkan tahqiq terhadap beberapa jenis cetakan Al Ibanah. Nah, ilmu kita belum sampai kesana. Mungkin ada kalangan alim/ulama yang mau melakukan tahqiq (verifikasi ulang) teks aslinya. Afwan, saya tak bisa komentar lebih banyak.

    Admin.

  66. Al-Asy'ariyah. berkata:

    You berkata : Allah bersemayam (Istiwa’) itu termasuk perbuatan Allah. Dalam hal perbuatan ini, kalau Allah mau berbuat apapun, tak ada yang bisa menghalangi-Nya. Misalnya (ini hanya misalnya) Allah melakukan Istiwa’ di atas matahari atau bulan; kalau Dia mau, sangat mudah bagi-Nya melakukan hal itu. Idza arada syai’an an yaqulu lahu kun fa yakun (kalau Dia menghendaki sesuatu, tinggal bilang ‘jadi’, maka jadilah ia).
    Iam bertanya : Bagaiman jika misalnya Allah mau bunuh diri ?, Siapa juga yang bisa menghalangi ?. Subhanallah, maha suci engkau dari perkataan orang-orang yang tidak faham akan engkau.
    Apa jawab lo ?. Jangan asal bicara, fahami dulu baru bicara.

  67. abisyakir berkata:

    @ Al Asy’ariyah…

    Iam bertanya : Bagaiman jika misalnya Allah mau bunuh diri ?, Siapa juga yang bisa menghalangi ?. Subhanallah, maha suci engkau dari perkataan orang-orang yang tidak faham akan engkau.Apa jawab lo ?. Jangan asal bicara, fahami dulu baru bicara.

    Jawab: Allahu Akbar !!!! Bagaimana Anda bisa bertanya seperti itu? Akal apa yang Anda pakai untuk bertanya seperti itu? …menurut Anda bunuh diri itu bagus atau buruk? Menurut umat manusia bunuh diri itu bagus atau buruk? Jika demikian, mengapa Anda tanyakan perbuatan itu kepada Allah?

    Manusia saja menganggap bunuh diri sangat tercela; mengapa perbuatan ini ditanyakan kepada Allah? Masya Allah, betapa hancurnya akal orang-orang ini.

    Admin.

  68. Fulan3 berkata:

    Terimakasih atas sudah share,

  69. Fulan2 berkata:

    sok pinter tuh yang komen

    gimana agama islam mau maju

    orang-orang nya merasa paling pinter

    mending kalo pinter nya di dasari iman

    ini pinter nya keblinger

  70. Sapaya berkata:

    laailahaillallah muhammad rasullullah……..’
    mas abu syakir,saya sangat2 setuju,dengan semua pendapat dan pikiran anda,
    Menginkari dan mencari2 arsy,sama dengan mengingkari semua makhkluk ciptaanNya,sama dengan mengingkari dan mencari keslahan atas kekuasaanNya,dan lambat laun bisa jadi kaum lawan debat mas abu syakir trsbt akan mengingkari Allah swt,astaghfirullahal adzim

  71. abisyakir berkata:

    @ Sapaya…

    Nah, itulah yang dikhawatirkan. Terus mendebatkan Sifat Allah malah berakhir dengan pengingkaran kepada-Nya. Nasálullah al áfiyah.

    Admin.

  72. ana berkata:

    Subhanallah….membaca komentar2 para penganut ahlul kalam saya hanya bisa mendoakan agar mereka mendapat hidayah Allah…pemimpinku pun sedang belajar tasawuf, semoga Allah memberinya hidayah…kubaca buku2 rujukannya, benarlah perkataan ustad yg kurang lebih bermakna bahwa mereka hanya mempersulit diri mereka sendiri…

  73. abisyakir berkata:

    @ Ana…

    Amin, amin, semoga Allah memberi hidayah kepada mereka, dan kita juga. Amin.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: