Apakah Pembagian Tauhid Merupakan Bid’ah?

Bismillahirrahmaanirrahiim

Dalam buku Syaikh Idahram ke-3, “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi” (USMSW), di bagian akhir disebutkan keterangan tentang fatwa Dewan Fatwa Mesir (Darul Ifta’ Al Mishriyah), bahwa pembagian tauhid menjadi dua (Uluhiyyah dan Rububiyyah) merupakan pembagian yang bid’ah dan sesat. Si penulis tidak mencantumkan teks asli fatwa itu karena di dalamnya ada tulisan “Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullah” (doa dari ulama anggota Darul Ifta’). Begitu takutnya si penulis jika doa “rahimahullah” ini dibaca oleh kaum Muslimin, sehingga dia tidak menerjemahkan fatwa itu secara penuh. Hanya disebutkan isinya saja. Begitulah gaya penulis sesat ini dalam menipu Ummat yang dia anggap awam dan gampang dikelabui. Banyak sekali cara-cara licik menghiasi bukunya. Nas’alullah al ‘afiyah.

Jalan-jalan Ilmu Tauhid untuk Mengenal Allah Ar Rahmaan.

Kembali ke soal pembagian tauhid menjadi Uluhiyyah dan Rububiyyah. Katanya, pembagian tauhid seperti ini bid’ah, sesat dan menyesatkan. Syaikh Idahram mengatakan dalam bukunya: “Padahal sesungguhnya, tauhid hanya satu dan integral tidak terpisahkan. Pembagian tauhid seperti faham Wahabi ini adalah akal-akalan mereka untuk memusyrikkan umat Islam yang bertawasul dengan ibadahnya, bertawasul dengan kebenaran nabinya, dan bertawasul dengan kebenaran orang saleh ataupun Al Qur’an al-Karim.” (USMSW, hal. 324).

Penolakan terhadap pembagian tauhid ini sudah terdengar sejak beberapa tahun lalu. Lengkapnya, pembagian tauhid itu meliputi tiga, yaitu: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma Wa Shifat. Bukan hanya dua. Dr. Hidayat Nur Wahid pernah mengeritik pembagian tauhid ini, katanya ia merupakan pembagian bid’ah, yang tidak dikenal di masa Rasulullah Saw dan Shahabat Ra. Topik ini diangkat oleh Syaikh Idahram sebagai tambahan serangannya kepada kaum yang dia klaim sebagai “Salafi Wahabi”.

Pertanyaannya, apakah pembagian tauhid dengan 3 pembagian itu merupakan bid’ah? Sesat dan menyesatkan? Akal-akalan kaum Wahabi?

Dalam kesempatan ini kita akan membuktikan, bahwa pembagian tauhid itu sudah benar, sesuai Syariat Islam, dan bukan bid’ah (apalagi sampai sesat menyesatkan). Apa yang dituduhkan sebagian orang dalam topik ini hanyalah pendapat emosional, dalilnya lemah, dan terkesan dicari-cari. Lembaga setingkat Dewan Ulama Mesir sekalipun, kalau pendapatnya keliru, harus diabaikan.

Disini ada beberapa argumentasi yang bisa disebutkan, antara lain:

PERTAMA. Apa dasarnya menyebut pembagian tauhid (Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Asma Wa Shifat) itu dikatakan bid’ah? Katanya, karena pembagian seperti itu tidak dikenal di masa Nabi Saw dan Shahabat. Jika demikian, apakah setiap sesuatu yang tidak ada di masa Nabi lalu dianggap bid’ah? Bagaimana dengan penulisan Mushaf Al Qur’an? Apakah penulisan Mushaf ini ada di masa Nabi Saw? Penulisan Mushaf baru dikenal di zaman Khalifah Abu Bakar As Shiddiq Ra, lalu ditulis kembali di masa Khalifah Utsman Ra. Maka penulisan dan pembukuan Mushaf ini cukup sebagai dalil, bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan di masa Nabi Saw, tidak otomatis bid’ah.

KEDUA. Pernahkan Anda mendengar di masa Nabi Saw dan para Shahabat ada istilah “ilmu hadits”, “musthalah hadits”, “perawi hadits”, “matan hadits”, “sanad”, “jarah wa ta’dil”, dan lain-lain? Maka di masa Nabi Saw belum ada ilmu baku tentang hadits Nabi Saw. Ilmu baku seputar hadits muncul di kemudian-kemudian hari, terutama ketika mulai menyebar hadits-hadits palsu. Imam Al Bukhari saja hidup sekitar 300 tahun setelah zaman Nabi Saw. Apakah karena di masa Nabi Saw belum terbentuk struktur ilmu hadits, lalu kita akan menolak ilmu hadits? Maka tanyakan hal ini kepada manusia-manusia yang hatinya dipenuhi dendam, kebencian, dan emosi itu!

KETIGA. Apa yang dilakukan oleh para ulama akidah dalam soal pembagian tauhid menjadi 3 istilah, hal itu bukan akal-akalan mereka, bukan kreasi mereka, bukan ciptaan mereka. Mereka itu hanyalah membuat sebutan untuk suatu hakikat yang sudah ada. Logikanya, seperti seorang ilmuwan Botani yang menemukan tumbuhan. Lalu tumbuhan itu dinamai dengan nama dia. Penamaan ini bukan lantaran tumbuhan itu tadinya tidak ada, lalu menjadi ada. Tumbuhan itu sudah ada, tetapi belum ada istilahnya. Maka pembuatan istilah ini, hanya untuk memudahkan saja.

Hakikat Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Asma Wa Shifat, semua itu sudah ada, hanya istilahnya belum dikenal. Maka sebagian ulama perlu membuat istilah tertentu untuk menamai sesuatu yang sudah ada tersebut. Mungkin Anda bertanya, “Apa buktinya bahwa semua itu sudah ada, hanya tinggal dicarikan namanya saja?” Maka jawabnya sebagai berikut: “Alhamdulillah, coba Anda baca Surat An Naas! Coba baca Surat yang sangat dihafal anak-anak itu!” Kalau membaca Surat An Naas, disana ada kata “Bi Rabbin naas”, “Malikin naas”, “Ilahin naas”. Disini Allah menyebutkan diri-Nya dengan tiga sebutan: Ar Rabb, Al Malik, Al Ilah. Apakah hal ini mengada-ada?

Al Qur’an sendiri sudah menyebutkan adanya istilah-istilah itu. Malah sebagian ahli Islam, seperti Sayyid Quthb rahimahullah, dengan adanya istilah “Malikin naas” beliau mengetengahkan istilah Tauhid Mulkiyah (tauhid terkait dengan otoritas Allah dalam menentukan hukum). Jadi istilah Rububiyah, Uluhiyyah, dan Asma Wa Shifat, bukan sesuatu yang mengada-ada.

KEEMPAT. Diceritakan bahwa As Sibawaih pernah ingin mendalami ilmu hadits, tetapi dia ternyata kurang mampu. Maka dia pun mendalami ilmu bahasa Arab. Ternyata, bintangnya cemerlang di bidang ilmu kebahasaan ini. As Sibawaih banyak mengemukakan teori-teori baru seputar ilmu Nahwu (gramatika bahasa Arab).  Apakah Sibawaih dalam hal ini seorang ahli bid’ah karena membuat teori-teori yang tak ada di zaman Nabi Saw? Apa yang dilakukan As Sibawaih tak lebih dari membuat ilmu bahasa Arab menjadi lebih teratur, terorganisir, dan lebih mudah dipelajari. Begitu pula ulama-ulama akidah dan pakar tauhid, mereka lebih ingin memudahkan Ummat Islam dalam memahami, mempelajari, dan mengamalkan ilmu tauhid. Andaikan ada istilah lain yang lebih baik, lebih tepat, dan efektif, tidak mengapa digunakan istilah semisal itu.

KELIMA. Kalau kita ingin memahami Allah Ta’ala secara sempurna, maka kita harus memasuki ilmu tauhid melalui pintu-pintunya. Dan pintu ilmu tauhid itu bukan hanya satu saja. Pintu-pintu itu terbuka sesuai jalan-jalan yang Allah ajarkan kepada manusia untuk mengenal-Nya. Contohnya sangat mudah. Perhatikan doa-doa yang Allah ajarkan melalui Al Qur’an dan As Sunnah. Sekali lagi, perhatikan doa-doa itu. Ada kalanya Allah mengajarkan doa yang dimulai dengan kalimat “Rabbana” (Tuhan Kami) atau “Rabbi” (Tuhanku). Doa-doa Al Qur’an umumnya dengan istilah ini. Kemudian ada istilah lain “Allahumma” (Ya Allah). Istilah ini sering disebut dalam doa-doa Sunnah. Kemudian ada doa yang menyebut nama-nama Allah seperti “Ya Hayyu” (wahai yang Maha Hidup), “Ya Qayyum” (wahai  yang Berdiri Sendiri), “Ya Malik”, “Ya Quddus”, “Ya Dzal Jalali Wal Ikram”, dan lain-lain. Sebagian shalihin ada yang menggunakan doa “Ya Ilahi” atau “Ya Ilahana”. Sebutan-sebutan dalam doa ini menjelaskan adanya pintu-pintu berbeda untuk sampai kepada Allah. Hal ini membuktikan bahwa Allah ingin dikenal (dimakrifati) oleh Hamba-Nya dari beberapa jalan yang Dia ajarkan. Kalau hanya ada tauhid Rububiyyah saja, mungkin doa-doa itu seluruhnya akan dimulai dengan kata “Rabbana” atau “Rabbi”.

KEENAM. Dalam bahasa Arab, istilah Rabb dan Ilah itu memiliki pengertian berbeda. RABB secara umum diartikan sebagai: Pengatur, pendidik, atau pemelihara. Maka orang-orang yang memberi pengajaran ilmu sering disebut sebagai Murabbi. Sedangkan ilmu pengajarannya dikenal sebagai Tarbiyyah. Sedangkan ILAH maknanya adalah sesembahan. Siapapun dan apapun yang disembah, ia adalah ilah. Sebagian ulama menjelaskan, ilah adalah segala sesuatu yang mendominasi kehidupan, dicintai, menjadi tujuan penghambaan manusia. Kalau RABB berbicara tentang posisi Allah sebagai pencipta, pemelihara, pengatur, penjaga, serta penguasa alam semesta; maka ILAH berbicara tentang posisi Allah sebagai pihak satu-satunya yang berhak diibadahi manusia. Seperti tercermin dalam kalimat, “Laa ilaha illa Allah.” Dua makna, Rabb dan Ilah ini, menjelaskan posisi yang berbeda; meskipun keduanya ada pada Dzat yang sama, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Akan semakin lengkap ketika kita juga memahami Nama-nama Allah dalam Asma’ul Husna. Siapapun yang memahami hal-hal ini, mereka tidak akan heran dengan sebutan Rububiyyah, Uluhiyyah, Asma Wa Shifat itu. Tidak akan heran.

Analoginya begini, misalnya tentang Shalat. Siapapun di antara kaum Muslimin pasti tahu apa itu Shalat. Kita sering mendengar orang berkata: “Sudahkah Anda Shalat? Mari kita laksanakan Shalat! Segera Shalat, waktu hampir habis!” Kata-kata Shalat sering kita dengar. Tetapi kalau kita baca “Bab Shalat” dalam kitab fiqih atau hadits, disana kita akan mendapati fakta, bahwa Shalat ini ternyata banyak perinciannya. Kata Shalat dalam percakapan sehari-hari lebih bersifat umum. Kalau lebih didalami lagi, ternyata di balik kata Shalat banyak perincian-perinciannya. Begitulah kira-kira. Istilah Allah bersifat umum; maka di balik istilah itu ada perincian-perincian Sifat Allah seperti yang sering dibahas oleh para ulama. Kalau anak kecil diberitahu, “Allah itu Maha Esa.” Untuk anak kecil, penjelasan seperti itu sudah cukup. Tetapi untuk orang dewasa, mereka perlu dijelaskan tentang perincian-perincian Sifat Allah yang perlu dia ketahuinya. Kalau sudah belajar Islam, banyak ilmu, fasih dengan istilah-istilah agama, lalu tidak bisa membedakan antara Allah sebagai Rabb dan sebagai Ilah, wah sayang sekali.

KETUJUH. Dalam Al Qur’an banyak dijelaskan tentang perilaku orang-orang musyrik. Mereka itu kerap kali kalau ditanya, “Siapa pencipta langit dan bumi?” Mereka menjawab, “Allah!” Ayat-ayat demikian disinggung dalam banyak tempat, antara lain: Surat Yunus ayat 31, Al Mu’minuun ayat 84-89, Al Ankabuut ayat 61 dan 63, Luqman ayat 25, Az Zunar ayat 38, Az Zukhruf ayat 87. Disini kita ambil salah satu contoh ayat-ayat ini:

“Katakanlah, “Siapa yang memiliki bumi dengan segala isinya, jika kalian orang-orang yang berakal?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kalian tidak mengambil pelajaran?” Katakanlah, “Siapakah Rabb pemilik langit-langit yang tujuh dan Rabb penguasa Arasy yang besar?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kalian tidak merasa takut (kepada Allah)?” Katakanlah, “Siapakah yang di Tangan-Nya terdapat kekuasaan atas segala sesuatu; Dia melindungi, tetapi tidak ada yang terlindungi (dari adzab-Nya), jika kalian benar-benar mengetahui?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “(Jika demikian) bagaimana kalian bisa tertipu?” (Al Mu’minuun, 84-89).

Ayat-ayat ini menjadi bukti bahwa orang-orang Arab jahiliyah di masa lalu memang mempercayai Allah. Mereka percaya Allah sebagai Rabb alam semesta. Hal ini dibuktikan dengan kebiasaan bangsa Arab jahiliyyah melaksanakan “ritual haji” di sekitar Ka’bah. Mereka meyakini bahwa Ka’bah itu adalah Baitullah (Rumah Allah). Untuk membangun Ka’bah ketika mengalami kerusakan di masa Nabi masih muda, orang Arab jahiliyyah memakai uang halal sepenuhnya, tidak dicampur uang haram. Hal ini membuktikan, bahwa mereka memuliakan Ka’bah itu. Mereka sadar, bahwa untuk urusan membangun Ka’bah tidak boleh memakai uang haram. Begitu juga saat terjadi peristiwa “pasukan gajah” di bawah pimpinan Raja Abrahah. Sebagai kuncen Ka’bah, Abdul Muthalib (kakek Rasulullah Saw) hanya ingin menyelamatkan ternaknya dari amukan pasukan gajah. Ketika ditanya, mengapa hanya ingin menyelamatkan ternak saja? Dia menjawab, Ka’bah itu sudah ada yang memiliki; maka Pemilik Ka’bah (yaitu Allah) akan melindungi situs tersebut. Jawaban Abdul Muthalib ini terbukti. Pasukan gajah Abrahah hancur oleh burung Ababil yang membawa batu-batu panas. Lihatlah dalam catatan sejarah yang terkenal itu, sosok Abdul Muthalib pun meyakini Allah sebagai Rabb (Pelindung Ka’bah).

Namun Syaikh Idahram menolak semua ini. Dia beralasan, katanya pengakuan orang-orang musyrik itu hanya “omong kosong di mulut saja”, padahal hati mereka sejatinya kufur. Pendapat Syaikh Idahram ini sangat aneh. Bagaimana ada “ritual haji” setiap tahun di Makkah, kalau mereka tak percaya Allah? Bagaimana mereka membangun Ka’bah yang rusak dengan uang halal, karena hati mereka tidak meyakini sama sekali Kemuliaan Allah? Bagaimana Abdul Muthalib menyerahkan keselamatan Ka’bah kepada Allah, kalau dia tak mengimani Allah? Bahkan, bagaimana bisa Abdul Muthalib menamakan ayah Rasulullah dengan “Abdullah” kalau dia tak percaya Allah? Jadi, kufurnya bangsa Quraisy di Makkah, bukan karena mereka atheis. Tetapi karena mereka MUSYRIK, yaitu membuat tandingan-tandingan dalam penghambaan mereka kepada Allah. Mereka percaya kepada Allah, tetapi juga percaya kepada ilah-ilah selain Allah. Ketika Islam mengajarkan konsep SATU ILAH (yaitu Allah saja), mereka menolak keras keyakinan seperti itu. Mereka percaya Allah, tetapi juga percaya ilah-ilah lainnya.

Ketika Islam mengajarkan konsep SATU TUHAN, seketika orang-orang musyrik merasa heran. Mereka berkata, “Aja’alal alihah ilahan wahidan? Inna hadza la syai’un ‘ujab” (mengapa dia jadikan tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan yang satu saja? Sungguh semua ini adalah perkara yang sangat mengherankan). [Shaad: 5]. Jadi kaum musyrikan Makkah disebut musyrik bukan karena tidak percaya Allah, tetapi mereka tidak mau hanya memiliki SATU TUHAN saja. Mereka ingin ada “tuhan kolektif”. Apa yang dikatakan Syaikh Idahram hanyalah cerminan sikap menolak ayat-ayat Allah dan fakta sejarah. Ya terserah, Anda akan mengatakan apa tentang dia.

DELAPAN. Dalam Al Qur’an dijelaskan juga, orang-orang musyrik, kalau mereka tertimpa badai di tengah lautan; mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.

Artinya, “Jika mereka naik perahu di lautan, mereka berdoa dengan memurnikan ketaatan kepada Allah. Namun jika Kami selamatkan mereka sampai ke darat, mereka pun melakukan perbuatan orang-orang musyrik.” (Al Ankabuut: 65).

Jadi secara fitrahnya, orang musyrikin pun mengesakan Allah. Tetapi hal itu dalam momen-momen ketika keadaan mereka genting. Jika kondisi sudah aman, mereka berbuat kemusyrikan kembali. Hal ini menjadi bukti tambahan bahwa orang musyrikin bisa membedakan antara Allah sebagai Ilah dan sebagai Rabb. Rabb adalah keyakinan umum mereka, namun Ilah adalah terkait dengan hak-hak Allah untuk diibadahi (seperti dimintai doa).

Demikianlah. Dapat disimpulkan bahwa konsep Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Asma Wa Shifat; semua itu bukan bid’ah, bukan sesat-menyesatkan, bukan akal-akalan kaum Wahabi, tetapi ia adalah ajaran Syar’i dalam Islam. Andaikan ada istilah lain yang lebih tepat, Islami, dan mewakili, tentu istilah itu lebih baik dipilih. Tetapi sejauh kita mempelajari topik-topik ini, maka peristilahan yang sudah dibuat para ulama selama ini, ia paling dekat kepada kebenaran. Dalilnya adalah Surat An Naas, disana ada “Rabbin naas”, “Malikin naas”, dan “Ilahin naas”.

Kalau susah memahami, coba hafalkan Surat An Naas dulu! Kalau masih belum hafal juga….terlalu!

Demikianlah risalah sederhana ini, semoga bermanfaat bagi Ummat dan bernilai di sisi Allah Azza Wa Jalla. Amin ya Rahiim. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.

Iklan

43 Responses to Apakah Pembagian Tauhid Merupakan Bid’ah?

  1. Assajjad berkata:

    ass..wr..wb..boleh tahu ust ulama2 akbar yang memang membuat pembagian mengenai Tauhid tersebut?
    lalu, siapa saja nama-nama ulama yang membuatnya?

    syukron

  2. irres ponorogo berkata:

    maaf kalo g nyambung dgn tema

    saya td siang koment ke fb ustad arifin ilham mengenai buku sejarah sekte salafy wahabi

    kmudian ada inbox masuk,ternyata tulisan dukungan trhd buku trsebut tanpa seijin ustad arifin,bahkan ustad arifin bc buku itu saja blm pernah

  3. abisyakir berkata:

    @ Assajjad…

    Ini dari tulisan Ustadz Ahmad Syahid…

    Tanggapan: Qoul ini diriwayatkan oleh Ibn Bathoh al-U’kbari nama lengkapnya : Abu Abdullah Ubaidillah ibn Muhammad ibn Bathoh al- U’kbari, seorang Mujassim bermadzhab Hanbali sekaligus seorang pemalsu hadist (wadho’). Dilahirkan tahun 304 dan wafat pada tahun 387 hijriyah. Konon dialah pencetus Aqidah Pembagian Tauhid.

    Ini ada informasi bahwa, katanya yang memulai pembagian tauhid itu Ibnu Bathoh. Wallahu A’lam.

    Tetapi tidak masalah, sebab ilmu hadits di masa Rasulullah Saw juga belum ada. Baru dikembangkan kemudian ketika mulai merebak hadits-hadits palsu di tengah Ummat. Kadang, kebutuhan pada suatu istilah, mengikuti tantangan zamannya. Kalau istilah itu bagus dan sangat kuat, ia bisa bertahan lama dalam khazanah keilmuwan Islam. Seperti istilah Fiqih, Akidah, Syariah, Tarikh, Sirah, Ilmu Hadits, Ilmu Tajwid, dll. itu kan istilah baru. Istilahnya baru, tetapi hakikatnya sudah ada. Moga Anda bisa mengerti. Barakallah fikum.

    AMW.

  4. abisyakir berkata:

    @ Irres Ponorogo…

    Ya mestinya berani melakukan klarifikasi dong. Masak untuk publikasi buku sehebat itu, klarifikasinya hanya melalui email personal. Ayo lakukan klarifikasi terbuka. Cabut pernyataan itu, kalau perlu lakukan bantahan terhadap penulisnya. Kalau ada klarifikasi ke blog ini, resmi dari Arifin Ilham, insya Allah akan dimuat. Tafadhal ya Ustadz…

    AMW.

  5. irres ponorogo berkata:

    Permintaan klarifikasi ustad sudah saya sampaikan ke ustad Muhammad Arifin Ilham

    ini adalah pesan ustad arifin sebelumnya pada fb saya

    SubhanAllah, sebaiknya akhy fillah tahu, bahwa prakata di buka itu tanpa seizin saya Muhammad arifin ilham, & sudah saya sampaikan protes saya, membacanyapun saya belum pernah.

    Semoga Ustad Arifin sgera menjawab dan melakukan klarifikasi terbuka

  6. pecinta islam berkata:

    Ust Abi Syakir, saya punya buku bantahan ilmiah terhadap akidah wahabi, tapi tidak seperti bantahan Syaikh Idahram dalambuku2nya. Apakah ustadz bersedia mengkajinya? Jazakalloh khoiron.

  7. irres ponorogo berkata:

    jawaban dari ustad arifin

    “Muhammad Arifin Ilham Dua
    SubhanAllah, cukup Dewan Syariat Majlis & pihak terkait, kami tdk ingin menjadi PUBLIKASI bg mrk yg berkepentingan lain…biarlah umat menilainya.”

  8. abisyakir berkata:

    @ Irres Ponorogo…

    Jazakallah khair Akhil karim. Jazakumullah atas usaha baik Antum. Kalau boleh saya sarankan, Antum runutkan komunikasi Antum dengan Ust. Arifin Ilham itu, lalu sampaikan ke e-mail ini: langitbiru1000@gm.il.com (e-mail google). Nanti insya Allah bisa dipublikasikan. Coba tulis yang rapi dan runut ya. Syukran.

    AMW.

  9. abisyakir berkata:

    @ Pecinta Islam…

    Tentu saya bersedia mengkajinya, demi kebaikan dan mendapat manfaat ilmu, insya Allah. Tapi sebelum itu, tolong Anda jawab pertanyaan di bawah ini:

    1. Apakah istilah Wahabi itu disukai oleh orang-orang yang Anda sebut?
    2. “Akidah Wahabi” itu seperti apa? Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhabi menciptakan agama baru, menciptakan ajaran-ajaran baru yang tidak ada tuntunannya dari Salafus Saleh? Setahu saya, baikh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Ibnu Taimiyyah, mereka itu tidak membawa Syariat baru. Mereka itu mengikuti akidah Imam Malik dalam soal Istiwa, mengikuti akidah abu Hanifah dan Imam Ahmad dalam soal Al Qur’an, serta mengikuti akidah Imam Syafi’i dalam soal kehujjahan Sunnah.
    3. Apakah Anda sudah membaca buku yang saya tulis “Bersikap Adil Kepada Wahabi”?

    Terimakasih. Kalau pertanyaan-pertanyaan ini bisa Anda jawab secara srius, silakan kirimkan buku Anda ke alamat Pustaka Al Kautsar Jakarta, insya Allah nanti akan diteruskan ke saya. Terimakasih.

    AMW.

  10. irres ponorogo berkata:

    Disini saja ustad g usah lewat email

    mulanya saya kirim koment di status FB Ustad Arifin ;

    “ustad arifin ilham

    buku berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW) yang dikarang oleh seorang yang mengaku bernama Syaikh Idahram. Buku tersebut berisi gugatan dan caci-maki terhadap apa yang disebut dengan “Gerakan Salafi Wahabi”

    Dukungan ustad M Arifin Ilham pada buku tersebut menimbulkan kontroversi

    Afwan, kiranya ustad mau introspeksi trhadap hal ini.Tolong dikaji lagi pernyataan ustad pada buku tersebut

    http://www.voa-islam.com/news/event/2011/12/02/16885/tablig-akbar-apa-salah-salafi-wahabi-bedah-buku-bersikap-adil-kepada/

    http://www.abisyakir.wordpress.com/2011/11/13/info-buku-baru-bersikap-adil-kepada-wahabi/

    kemudian ada pesan masuk di inbok FB saya dari usta M Arifin ilham dua isinya seperti ini ;

    “Muhammad Arifin Ilham Dua
    SubhanAllah, sebaiknya akhy fillah tahu, bahwa prakata di buka itu tanpa seizin saya Muhammad arifin ilham, & sudah saya sampaikan protes saya, membacanyapun saya belum pernah.”
    3 Desember pukul 12:57

    Irres Ponorogo
    Alhamdulillah ustad,ternyata demikian

    sebaiknya hal ini segera di konfirmasi biar tidak terjadi fitnah,
    3 Desember pukul 17:25
    Irres Ponorogo
    Ustad,pernyataan antum uda saya sampaikan pada ustad Abu Muhammad Waskito

    beliau penulis buku “Bersikap Adil Pada Wahabi”

    Kritikan keras pada ustad arifin terdapat dalam buku tsbut dan juga pada blog ustad Abu Muhammad Waskito di abisyakir.wordprescom

    ini jawaban dari ustad Abu Muhammad Waskito

    “Ya mestinya berani melakukan klarifikasi dong. Masak untuk publikasi buku sehebat itu, klarifikasinya hanya melalui email personal. Ayo lakukan klarifikasi terbuka. Cabut pernyataan itu, kalau perlu lakukan bantahan terhadap penulisnya. Kalau ada klarifikasi ke blog ini, resmi dari Arifin Ilham, insya Allah akan dimuat.”

    Senin pukul 15:59
    Irres Ponorogo
    Tolong Ustad arifin diminta klarifikasi secara terbuka mengenai buku sejarah sekte salafy wahaby

    dari ustad Abu Muhammad Waskito ;

    “Ya mestinya berani melakukan klarifikasi dong. Masak untuk publikasi buku sehebat itu, klarifikasinya hanya melalui email personal. Ayo lakukan klarifikasi terbuka. Cabut pernyataan itu, kalau perlu lakukan bantahan terhadap penulisnya. Kalau ada klarifikasi ke blog ini, resmi dari Arifin Ilham, insya Allah akan dimuat.”
    9 jam yang lalu
    Muhammad Arifin Ilham Dua
    SubhanAllah, cukup Dewan Syariat Majlis & pihak terkait, kami tdk ingin menjadi PUBLIKASI bg mrk yg berkepentingan lain…biarlah umat menilainya.
    8 jam yang lalu

    Demikian ustad komunikasi saya dgn ustad Arifin by facebook

  11. dk berkata:

    Ustad katanya mereka menggunakan “wahabi” hanya untuk mempermudah saja…

  12. Nahl Muslim berkata:

    Sebenarnya kalau kita mau jujur adalah:
    kalau kita berkeyakinan semua yang baru adalah bid’ah dan tidak ada bid’ah khasanah…maka pembagian tauhid jadi 3 itupun harus dibilang bid’ah…karena rosululloh tidak pernah mengajarkan..sahabatpun tidak..tabiin pun tidak,…kecuali kalau kita mengakui adanya bid’ah khasanah maka pembagian istilah tauhid 3 tidak mengapa…

  13. Nahl Muslim berkata:

    dan yang namanya kafir ya kafir..kafir ya tidak bertauhid…tidak bisa kita bilang “orang kafir zaman dahulu juga bertauhid rububiyyah..”
    orang kafir itu kafir penyebab utamanya karena tidak mau tunduk terhadap ajaran yang dibawa Rosululloh saw…mereka mengingkari Alloh yang dijelaskan rosululloh saw, mengingkari hari pembalasan, mengingkari rosululloh , mengingkari al-qur’an, pokoknya menolak dan mendustakan terhadap Alloh dan Rosulnya…

  14. NoName berkata:

    Pembagian tauhid menjadi 3 bagian:

    – Rububiyyah

    – Uluhiyyah

    – Asma wa sifat

    Pembagian ini telah disinggung oleh ulama-ulama terdahulu walaupun mereka tidak dengan tekstual membaginya menjadi 3 bagian. Dan ulama yang mengisyaratkan tentang pembagian 3 tauhid ini diantaranya adalah Ibnu Hibban di Muqodimmah Raudhatul Uqola’, juga Ibnu Jarir Thobari kemudian dibenarkan oleh Ibnu Taimiyah ,Ibnul Qoyyim, Az-Zubaidi, dan juga At-Thahawi di awal kitab Aqidah At-Thahawiyah Rahimahumullahu Jami’an

    Dan yang secara nash (tekstual) membagi menjadi tauhid tiga bagian dari kalangan ulama terdahulu adalah Ibnu bathoh Rahimahullahu (wafat 378 H) di dalam kitabnya Al-Ibanah ‘An Ushulud diyana (hal 293-294 dari manuskrip). Dan sampai saat ini beliaulah yang diketahui pertama kali membagi Tauhid menjadi 3 bagian secara jelas.

    Jadi dengan ini diketahui bahwa pembagian Tauhid menjadi 3 bagian bukan baru saja dikenal dari Ulama Najd di masa-masa terakhir.

    Wallahu a’lam

    Sumber : At-Tarodhil Mufied, Muhammad Bin Hizam Rahimahullahu

  15. Si Anoe berkata:

    Masalah sebenarnya bukanlah pada masalah pembagian Tauhid ; masalah sebenarnya yang paling kontroversi adalah : KEEGOISAN SUATU KELOMPOK !. Cb anda pikirkan : Anda/kelompok anda boleh berargumen tp anda/kelompok anda tdk mentolelir argumen dari kelompok lain ! ANDA/KELOMPOK ANDA BOLEH TP ORG LAIN TDK BOLEH??? Anda/kelompok anda boleh memakai pembagian Tauhid yg tdk di contohkan oleh Rasulullah SAW tp anda/kelompok anda memandang Bid’ah kpd kelompok yg Bertawassul??? Padahal sbgmn yg anda blg bhw istilah2 pembagian Tauhid mnjadi 3 sdh ada sejak dulu & bukankan bertawassul jg sdh ada sejak dulu??? Sungguh aneh & sangat egois!!!

  16. abisyakir berkata:

    @ Si Anoe…

    Anda/kelompok anda boleh memakai pembagian Tauhid yg tdk di contohkan oleh Rasulullah SAW tp anda/kelompok anda memandang Bid’ah kpd kelompok yg Bertawassul??? Padahal sbgmn yg anda blg bhw istilah2 pembagian Tauhid mnjadi 3 sdh ada sejak dulu & bukankan bertawassul jg sdh ada sejak dulu??? Sungguh aneh & sangat egois!!!

    Response:

    (=) Dalam masalah tawasul, ada yang PRO SEKALI, ada yang ANTI SEKALI, dan ada yang “TENGAH-TENGAH”. Kalau pendapat yang saya ikuti: “Membolehkan tawasul secara Syar’i, dan tidak membolehkan tawasul dengan manusia yang sudah wafat (meskipun dirinya sangat saleh).”

    (=) Pembagian Tauhid ialah sebuah urusan ilmiah, untuk memahami KONSEP UTUH dari tauhid itu sendiri. Sedangkan tawassul adalah urusan Ta’abbudiyah (penghambaan) kepada Allah. Dalam soal teori ilmiah, istilah-istilah apa saja tidak mengapa dipakai, asalkan terminologinya benar, tidak memakai istilah-istilah buruk, dan sesuai hakikat keadaan yang diberi istilah. Sedang soal ibadah kepada Allah, hukum asalnya menurut Ushul Fiqih, “Al ashlu fil ‘ibadah haramun, illa maa dalla ‘alaihi dalil” (asal urusan ibadah adalah haram, kecuali bila ada dalil yang memerintahkannya).

    (=) Tawassul Syar’i sudah ada sejak masa Rasulullah Saw, sedangkan tawassul yang tak Syar’i menurut Syaikh Al Qaradhawi perlu dihindari, karena dikhawatirkan yaqa’u ilas syirki (menjerumuskan ke perbuatan syirik).

    Jazakumullah khair atas masukannya.

    AMW.

  17. Si Pulan berkata:

    Ustad, ana ada kirim artikel ke email : langitbiru1000….com diatas…

  18. abisyakir berkata:

    @ Si Pulan…

    Alamat email saya, membacanya begini: “langit biru seribu ad gmail dot com”. Jadi masih email gmail juga. Jangan dikirim ke email lain. Waktu saya periksa, artikel Anda belum ada. Jazakumullah khair.

    AMW.

  19. Seseorang berkata:

    ustad ada baiknya dibahas masalah bid’ah, untuk mnjawab permasalahan yang antum tulis diatas misalnya ;

    Apakah setiap sesuatu yang tidak ada di masa Nabi lalu dianggap bid’ah? Bagaimana dengan penulisan Mushaf Al Qur’an?

    Apakah penulisan Mushaf ini ada di masa Nabi Saw? Penulisan Mushaf baru dikenal di zaman Khalifah Abu Bakar As Shiddiq Ra, lalu ditulis kembali di masa Khalifah Utsman Ra. Maka penulisan dan pembukuan Mushaf ini cukup sebagai dalil, bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan di masa Nabi Saw, tidak otomatis bid’ah.

  20. Umat Dhoif berkata:

    Alhamdulillah… tidak semuanya bid’ah…
    Maulid Rasul bukan bid’ah…
    Tahlilan juga bukan bid’ah…??

  21. Umat Dhoif berkata:

    IRRES @ maaf., apa sudah antum pastikan bahwa akun yg meng-inbox anda itu benar2 akun milik ustadz M. Arifin Ilham..??
    maklum di dunia maya., apapun bisa terjadi..

  22. Mamba'ul Ilmi Zulfitri berkata:

    Saya merasa sangat lucu dengan pembicaraan saudara-saudara Salafi-Wahhabi di atas, apakah akun “abisyakir” yg menjadi pengelola blog ini?

    ====================================================
    abisyakir mengatakan:
    Desember 5, 2011 pukul 4:54 am

    @ Assajjad…

    Ini dari tulisan Ustadz Ahmad Syahid…

    Tanggapan: Qoul ini diriwayatkan oleh Ibn Bathoh al-U’kbari nama lengkapnya : Abu Abdullah Ubaidillah ibn Muhammad ibn Bathoh al- U’kbari, seorang Mujassim bermadzhab Hanbali sekaligus seorang pemalsu hadist (wadho’). Dilahirkan tahun 304 dan wafat pada tahun 387 hijriyah. Konon dialah pencetus Aqidah Pembagian Tauhid.

    Ini ada informasi bahwa, katanya yang memulai pembagian tauhid itu Ibnu Bathoh. Wallahu A’lam.

    Tetapi tidak masalah, sebab ilmu hadits di masa Rasulullah Saw juga belum ada. Baru dikembangkan kemudian ketika mulai merebak hadits-hadits palsu di tengah Ummat. Kadang, kebutuhan pada suatu istilah, mengikuti tantangan zamannya. Kalau istilah itu bagus dan sangat kuat, ia bisa bertahan lama dalam khazanah keilmuwan Islam. Seperti istilah Fiqih, Akidah, Syariah, Tarikh, Sirah, Ilmu Hadits, Ilmu Tajwid, dll. itu kan istilah baru. Istilahnya baru, tetapi hakikatnya sudah ada. Moga Anda bisa mengerti. Barakallah fikum.

    AMW.
    ===================================================

    Lha wong sudah tahu bahwa pembagian Tauhid dilakukan oleh kaum Mujassimah, kok masih diikuti toh? Apakah ini bukan taqlid buta?

    Memang kebanyakan kaum Mujassim-Musyabbih berasal dari Madzhab Hanbali, maka tidak heran jika sekte Salafi-Wahhabi juga ngaku-ngaku berMadzhab Hanbali ^_^

    Seharusnya kami, pelaku bid’ah hasanah, yg bertanya pada pengurus blog ini.
    Mushaf Qur’an, Shalat Tarawih, Adzan 2x saat Jum’at, zakat beras, dsb, itu termasuk urusan agama bukan? Jika memang iya, maka bukankah berarti itu menandakan adanya bid’ah hasanah??

    1 lagi yg sangat aneh dari blog ini.
    Bukankah anda tahu, bahwa bid’ah hanyalah ada dalam bidang fiqh, bukan aqidah?
    Lantas darimana anda bisa berhujjah kebenaran pembagian Tauhid pada mushaf Qur’an??
    Bagaimana mungkin anda membagi pondasi agama, yaitu Tauhid, hanya dengan hujjah qiyas yg tidak nyambung sama sekali??

    Bisa dijelaskan??

  23. abisyakir berkata:

    @ Mambaul Ilmi Zulfitri…

    Lha wong sudah tahu bahwa pembagian Tauhid dilakukan oleh kaum Mujassimah, kok masih diikuti toh? Apakah ini bukan taqlid buta?

    Komentar: Bukan begitu maksudnya. Saya tidak tahu, siapa yang pertama memulai istilah pembagian tauhid itu. Maka saya kutip perkataan orang yang “merasa tahu” siapa yang mengawalinya. Itu katanya dari Ibnu Bathah. Yang menganggap Ibnu Bathah sebagai Mujassimah kan Ustadz Ahmad Syahid dan kawan-kawan. Kalau saya, tidak menganggap beliau begitu. Beliau termasuk salah satu imam Ahlus Sunnah.

    Memang kebanyakan kaum Mujassim-Musyabbih berasal dari Madzhab Hanbali, maka tidak heran jika sekte Salafi-Wahhabi juga ngaku-ngaku berMadzhab Hanbali ^_^

    Komentar: Anda tidak boleh begitu. Madzhab Hanbali kan sudah diakui oleh Ahlus Sunnah sedunia. Wong KH. Hasyim Asyari, pendiri NU saja, mengakui kok. Anda yang tidak ada apa-apanya dibandingkan pendiri NU itu. Madzhab Hanbali dan dirintis oleh Imam Ahmad, seorang murid terbaik Imam Syafi’i. Beliau juga terkenal dalam penolakannya terhadap akidah “Al Qur’an itu makhluk”. Jangan begitulah…kalau masih baru menuntut ilmu, bersikaplah yang sopan. Jangan menutup pintu-pintu ilmu dengan arogansi.

    Seharusnya kami, pelaku bid’ah hasanah, yg bertanya pada pengurus blog ini. Mushaf Qur’an, Shalat Tarawih, Adzan 2x saat Jum’at, zakat beras, dsb, itu termasuk urusan agama bukan? Jika memang iya, maka bukankah berarti itu menandakan adanya bid’ah hasanah??

    Komentar: Urusan Mushaf Al Qur’an masuk kategori Maslahah Mursalah. Shalat Tarawih termasuk Sunnah, karena Nabi Saw memberi contoh akan hal itu. Adzan Jum’at 2 kali, ini pilihan pendapat fiqih. Ada yang memilih itu, ada yang memilih adzan sekali. Masing-masing ada dalilnya. Sedangkan zakat besar, termasuk qiyas. Yaitu meng-qiyaskan kurma dengan makanan pokok kita. Jadi…dalam masalah-masalah ini tidak ada bid’ah hasanah.

    1 lagi yg sangat aneh dari blog ini. Bukankah anda tahu, bahwa bid’ah hanyalah ada dalam bidang fiqh, bukan aqidah? Lantas darimana anda bisa berhujjah kebenaran pembagian Tauhid pada mushaf Qur’an?? Bagaimana mungkin anda membagi pondasi agama, yaitu Tauhid, hanya dengan hujjah qiyas yg tidak nyambung sama sekali?? Bisa dijelaskan??

    Komentar: Lho, bid’ah itu bisa dalam masalah akidah, bisa dalam masalah fiqih ibadah. Kaum Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Zindiqah, dll. mereka itu pelaku-pelaku bid’ah dalam akidah. Anda jangan lupakan itu.

    Intinya begini lah…kalau Anda bisa menerima istilah-istilah ilmiah di bidang nahwu, sharaf, tajwid, ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu fiqih, dll. semua itu di masa Nabi Saw belum ada. Semua itu dibuat oleh ulama-ulama. Tujuannya bukan untuk membuat bid’ah, tetapi untuk: MEMUDAHKAN MEMAHAMI, MEMBUAT SISTEMATIKA, MERAPIKAN METODOLOGINYA. Jadi bukan membuat bid’ah, untuk memudahkan Ummat saja. Maka istilah dalam pembagian tauhid itu semuanya mengarah ke hajat memberi kemudahan, bukan membuat ajaran-ajaran baru yang menyesatkan Ummat.

    Semoga bisa dipahami.

    AMW.

  24. Bukan begitu maksudnya. Saya tidak tahu, siapa yang pertama memulai istilah pembagian tauhid itu. Maka saya kutip perkataan orang yang “merasa tahu” siapa yang mengawalinya. Itu katanya dari Ibnu Bathah. Yang menganggap Ibnu Bathah sebagai Mujassimah kan Ustadz Ahmad Syahid dan kawan-kawan. Kalau saya, tidak menganggap beliau begitu. Beliau termasuk salah satu imam Ahlus Sunnah.
    ====================================================
    Ya emang bagi Wahhabi kaum Mujassimah itu Ahlus-Sunnah, kan sealiran ^_^

    Anda tidak boleh begitu. Madzhab Hanbali kan sudah diakui oleh Ahlus Sunnah sedunia. Wong KH. Hasyim Asyari, pendiri NU saja, mengakui kok. Anda yang tidak ada apa-apanya dibandingkan pendiri NU itu. Madzhab Hanbali dan dirintis oleh Imam Ahmad, seorang murid terbaik Imam Syafi’i. Beliau juga terkenal dalam penolakannya terhadap akidah “Al Qur’an itu makhluk”. Jangan begitulah…kalau masih baru menuntut ilmu, bersikaplah yang sopan. Jangan menutup pintu-pintu ilmu dengan arogansi.
    ====================================================
    Ya makanya anda perdalam kembali pengetahuan anda.
    Saya tidak mengatakan Madzhab Hanbali adalah kaum Mujassimah, saya mengatakan kalau sejak dulu kaum Mujassimah itu ngaku berMadzhab Hanbali, sama seperti Salafi-Wahhabi ^_^

    Urusan Mushaf Al Qur’an masuk kategori Maslahah Mursalah. Shalat Tarawih termasuk Sunnah, karena Nabi Saw memberi contoh akan hal itu. Adzan Jum’at 2 kali, ini pilihan pendapat fiqih. Ada yang memilih itu, ada yang memilih adzan sekali. Masing-masing ada dalilnya. Sedangkan zakat besar, termasuk qiyas. Yaitu meng-qiyaskan kurma dengan makanan pokok kita. Jadi…dalam masalah-masalah ini tidak ada bid’ah hasanah.
    ====================================================
    Pada intinya semua itu bid’ah, karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
    -Mushaf Al-Qur’an, baca lagi riwayat perdebatannya, mushaf Qur’an itu bid’ah om ^_^
    -Shalat Tarawih berjama’ah, lha wong Sayyid Umar ibn Khattab yg hidup berdampingan dengan Rasulullah SAW saja menganggapnya bid’ah, kok anda baru lahir kemarin udah ngaku-ngaku lebih hebat dan mengklaim Shalat Tarawih adalah sunnah. Pakai nasihat anda sendiri, perdalami ilmu, mana ada Rasulullah SAW melaksanakan Shalat Tarawih? Malu lah om..
    -Oh ya? Bahkan Syaikh anda Nashir al-Albani menuduh adzan 2x adalah bid’ah, hhe ^_^
    -Zakat beras termasuk Qiyas, hmm, anda lebih pandai dibanding saudara anda si Mahrus Ali yg menganggapnya bid’ah, hhe ^_^

    Lho, bid’ah itu bisa dalam masalah akidah, bisa dalam masalah fiqih ibadah. Kaum Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Zindiqah, dll. mereka itu pelaku-pelaku bid’ah dalam akidah. Anda jangan lupakan itu.
    Intinya begini lah…kalau Anda bisa menerima istilah-istilah ilmiah di bidang nahwu, sharaf, tajwid, ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu fiqih, dll. semua itu di masa Nabi Saw belum ada. Semua itu dibuat oleh ulama-ulama. Tujuannya bukan untuk membuat bid’ah, tetapi untuk: MEMUDAHKAN MEMAHAMI, MEMBUAT SISTEMATIKA, MERAPIKAN METODOLOGINYA. Jadi bukan membuat bid’ah, untuk memudahkan Ummat saja. Maka istilah dalam pembagian tauhid itu semuanya mengarah ke hajat memberi kemudahan, bukan membuat ajaran-ajaran baru yang menyesatkan Ummat.
    ================================================
    Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyah, Zindiqiyah, semua memang melakukan bid’ah dalam Aqidah.
    Tapi kurang 1 om, yaitu Salafi-Wahhabi, kan tulisan anda ini membahas bid’ah Aqidah sekte Salafi-Wahhabi anda. Dan semua yg melakukan bid’ah Aqidah memang sesat, seperti sekte Salafi-Wahhabi ^_^
    Anda juga jangan sengaja lupa dong ^_^

    Ilmu nahwu, sharaf, hadits, tafsir, fiqh, itu masing-masing berada dalam ranah apa ya om? Kok ente sama-ratakan dan campur aduk dengan ranah aqidah?
    Pahami dulu om, entar juga paham anda paham kebingungan saya ttg Qiyas yg anda lakukan itu ^_^

    Tauhid 3 itu menyulitkan deh, masa kaum musyrik dipuji berTauhid? Bukan ajaran Rasulullah SAW nih, tapi ajaran bid’ah dhalalah ^_^
    Qiqiqi, makin ngegemesin deh om “abisyakir” ini ^_^

  25. Klo mau jujur…
    Maulid Nabi lah Masalihul Mursalah, mengingat banyaknya generasi Muslim yg mengidolakan kaum Barat dan melupakan Nabinya..

    Klo mau jujur..
    Maulid Nabi lah hasil Qiyas, bercermin pada puasa dan aqiqah ke-2 Nabi untuk bersyukur atas kelahirannya..

    Jujur dikit lah om, jangan membodohi umat, sampai Tauhid Trinitas diqiyas pembuatan Mushaf, xixixi ^_^

  26. abisyakir berkata:

    @ Mambaul…

    Ya emang bagi Wahhabi kaum Mujassimah itu Ahlus-Sunnah, kan sealiran ^_^

    Komentar: Aneh sekali, mengimani lafadz Al Qur’an apa adanya, secara sami’na wa atho’na disebut Mujassimah. Mujassimah itu kan membayangkan Allah memiliki fisik seperti fisik makhluk-Nya. Sementara dalam keimanan kaum “Wahabi” (mengikuti istilah Anda), mereka menolak adanya TAKYIF (yaitu membayangkan Allah seperti ini dan itu). Anda ini harus hati-hati, jangan sembrono mengatakan orang lain Mujassimah, kalau Anda tidak benar-benar tahu bahwa diri orang itu memang benar-benar Mujassimah.

    Ya makanya anda perdalam kembali pengetahuan anda. Saya tidak mengatakan Madzhab Hanbali adalah kaum Mujassimah, saya mengatakan kalau sejak dulu kaum Mujassimah itu ngaku berMadzhab Hanbali, sama seperti Salafi-Wahhabi ^_^

    Komentar: Anda tahu siapa Imam Ibnu Katsir? Beliau itu pengikut madzhab Hanbali. Sementara Imam At Thahawi pengikut madzhab Hanafi. Sementara Imam Malik adalah perintis madzhab Maliki. Ulama-ulama ini bukan pengikut madzhab Hanbali. Tetapi secara akidah mereka sama. Sama-sama menetapkan sifat Allah sebagaimana lafadz dalam Al Qur’an, tanpa ditakwil-takwil seperti kaum Anda. Tetapi mereka juga tidak membayangkan bahwa Allah itu bentuknya seperti makhluk-Nya. Coba deh Anda sebutkan, siapa saja di antara ulama-ulama Hanbali yang Anda sebut Mujassimah itu? Coba Anda sebutkan dengan bukti-bukti literaturnya.

    Pada intinya semua itu bid’ah, karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
    -Mushaf Al-Qur’an, baca lagi riwayat perdebatannya, mushaf Qur’an itu bid’ah om ^_^
    -Shalat Tarawih berjama’ah, lha wong Sayyid Umar ibn Khattab yg hidup berdampingan dengan Rasulullah SAW saja menganggapnya bid’ah, kok anda baru lahir kemarin udah ngaku-ngaku lebih hebat dan mengklaim Shalat Tarawih adalah sunnah. Pakai nasihat anda sendiri, perdalami ilmu, mana ada Rasulullah SAW melaksanakan Shalat Tarawih? Malu lah om..
    -Oh ya? Bahkan Syaikh anda Nashir al-Albani menuduh adzan 2x adalah bid’ah, hhe ^_^
    -Zakat beras termasuk Qiyas, hmm, anda lebih pandai dibanding saudara anda si Mahrus Ali yg menganggapnya bid’ah, hhe ^_^

    Komentar:

    Saya sudah menulis artikel berikut, coba Anda baca: Prinsip Memahami Bid’ah. Dalam tulisan ini makna bid’ah sudah terjawab dengan baik, insya Allah.

    Shalat Tarawih itu dimulai oleh Rasulullah Saw. Di malam pertama dan kedua Ramadhan, beliau memimpin shalat tarawih berjamaah. Di malam ketiga dan seterusnya beliau memilih shalat malam di rumah, karena khawatir shalat itu nanti diwajibkan, sehingga menyusahkan ummatnya. Itu dibahas dalam Fiqih Sunnah Syaikh Sayyid Sabiq di bab shalat sunnah tarawih (Al Qiyamur Ramadhan). Itu ada, jadi bukan “ciptaan” Umar bin Khattab Ra. Beliau itu hanya melanjutkan tradisi Nabi Saw saja. Nah, cara beliau melanjutkan tradisi itulah yang disebut “bid’ah”, karena Nabi Saw sendiri hanya shalat tarawih malam pertama dan kedua.

    Dan shalat tarawih itu lalu diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin Ra, sehingga diaggap sebagai Ijma’ para Shahabat. Anda tahu bukan, bahwa Ijma’ Sahabat itu merupakan dalil Syariat, karena Rasulullah Saw menjamin Ummatnya tidak akan sepakat di atas kesesatan. Begitu pula ia menjadi dalil Syariat, karena Rasul juga pernah berkata: “‘Alaikum bis sunnati wa sunnati khulafaur rasyidinal mahdiyina min ba’di” (hendaklah kalian mengikuti sunnah-ku, dan sunnah para khalifah yang lurus dan diberi petunjuk sesudahku).

    Jadi intinya…Anda jangan cengengesan…jadilah ahli ilmu atau penuntut ilmu yang bermoral. Jangan seenaknya membuat komentar tanpa dipikir panjang2. Berhati-hatilah, karena ilmu yang kita cari adalah tangga untuk menuju kepada Allah Ta’ala. Ilmu itu bukan untuk “menang-menangan”.

    Soal adzan dua kali ini merupakan khilaf para ulama. Ya kalau dicari yang berpendapat beda, pasti akan ada. Namanya juga khilaf. Apakah menurut Anda Syaikh Al Albani rahimahullah itu mewakili KEBENARAN MUTLAK atau KESALAHAN MUTHLAK? Tidak bukan. Beliau adalah ulama, seperti ulama yang lain. Pendapat beliau dihargai dan diikuti, jika benar menurut Syariat. Tapi masalahnya, orang seperti Anda sering menjadikan Syaikh Al Albani sebagai olok-olok.

    Dulu Al Ustadz Ali Mustafa Ya’qub sangat kritis dalam menyerang Syaikh Al-Albani. Hingga beliau menulis buku khusus untuk mengkritik Syaikh Al-Albani dengan bahasa tajam. Sampai beliau mengatakan, kurang lebih, “Ya, pantas kalau para ulama beramai-ramai menggebuk Syaikh Al-Albani.” Kata-kata demikian begitu kerasa nadanya. Tapi kalau dalam lingkup kritik-mengkritik antar para ulama hadits, memang sering memakai istilah-istilah pedas. …tapi di kemudian hari Ustadz Ali Mustafa Ya’qub bersikap lebih melunak. Dalam artikel beliau di majalah Gontor, kadang beliau berdalil dengan perkataan Syaikh Al Albani.

    Sekarang masalahnya…orang-orang muda seperti Anda itu, apa ilmunya lebih dalam dari Ustadz Ali Mustafa Ya’qub, sehingga selalu senang dengan cara membuat olok-olok tentang kehormatan para ulama hadits? Kasihan deh kalau sampai begitu.

    Soal zakat beras sebagai bid’ah. Ini adalah pandangan gharib (asing) di Indonesia. Para ulama Nusantara (Asia Tenggara), termasuk MUI, sepakat untuk mengganti zakat kurma dengan makanan pokok. Dalam kitab fiqih Syaikh Fauzan Al Fauzan juga disebutkan ketentuan zakat fitrah, yaitu dengan makanan yang mengenyangkan. Karena illat-nya adalah memberi makan fakir miskin saat hari raya Id.

    Payahnya orang2 tertentu (anti Wahabi)…mereka sering mengklaim kelompok ini dan itu (misalnya Wahabi begini, Wahabi begitu), melalui perkataan orang-orang per orang yang perilaku keagamaannya mirip dengan kelompok itu (Wahabi). Biarpun tidak ada kesepakatan di kelompok itu (Wahabi) untuk mengangkat orang per orang tersebut (misalnya Mahrus Ali) sebagai perwakilan representatif. Tapi kalau manhaj yang sama (asal mengklaim itu) diberlakukan atas diri orang-orang tersebut (anti Wahabi), mereka tak terima. Aneh sekali…

    Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyah, Zindiqiyah, semua memang melakukan bid’ah dalam Aqidah. Tapi kurang 1 om, yaitu Salafi-Wahhabi, kan tulisan anda ini membahas bid’ah Aqidah sekte Salafi-Wahhabi anda. Dan semua yg melakukan bid’ah Aqidah memang sesat, seperti sekte Salafi-Wahhabi ^_^ Anda juga jangan sengaja lupa dong ^_^

    Komentar: Lho, kan kamu sendiri yang semula bilang, tidak ada bid’ah dalam akidah? Kok sekarang kamu jadi lain pendapatnya? Maaf ya. Secara gender kamu itu apa, laki-laki atau perempuan? Maaf ya…kalo laki-laki jangan suka mencla-mencle. Jadi saja manusia yang baik, jujur, tidak mendengki. Nanti amal-amal manusia banyak yang hangus karena hatinya selalu diliputi hasad.

    Kamu sebut Salafi Wahabi sebagai kelompok sesat, lantara mereka meyakini Sifat-Sifat Allah dalam lafadz-lafadz Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau tuduhan itu benar, berarti kamu juga harus menyesatkan Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam At Thahawi, Ibnu Batthah, Ibnu Katsir, Adz Dzahabi, dan lain-lain. Jadi silakan kamu sesatkan mereka semua dengan cara pandangmu yang picik itu.

    Dan orang-orang yang menolak Sifat-Sifat Allah melalui lafadz-lafadz yang disebut dalam Al Qur’an dan As Sunnah shahih, mereka berada dalam bahaya yang sangat besar, kalau mereka tahu. Di antara bahayanya adalah sebagai berikut:

    [1]. Mereka membuat SYARAT RASIONALITAS dalam keimanannya kepada Allah. Ini berarti keimanan yang bermasalah. Sebab dalam Al Qur’an disebutkan, “Wa maa umiru illa liya’budullaha mukhlishina lahuddin khunafa'” (mereka tidak disuruh kecuali untuk memurnikan ibadah kepada Allah, secara ikhlas dan lurus). Siapa membuat-buat SYARAT dalam keimanannya kepada Allah, kelak akan ditanya seputar syarat2 itu.

    [2]. Mereka menolak ayat Allah yang sangat jelas, “Sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami taat). Ayat itu mereka ubah menjadi, “Sami’na wa ‘auwilna” (kami dengar dan kami takwilkan). Ini adalah masalah serius terhadap Al Qur’an.

    [3]. Mereka menolak adanya Sifat-Sifat Allah seperti Tangan, Wajah, Istiwa’, Nuzul, dan sebagainya. Bayangkan, apa jawaban mereka nanti kalau Allah menanyakan masalah Sifat-Sifat-Nya itu?

    [4]. Mereka meyakini bahwa cara takwil dibutuhkan untuk TANZIH (mensucikan Allah Ta’ala). Itu artinya, sebelum ada cara takwil itu, mereka sudah meyakini bahwa Allah tidak suci. Na’udzubillah wa na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

    [5]. Mereka membuat-buat akidah TAKWIL itu tanpa para pendahulu dari zaman Rasulullah, para Shahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. Artinya, mereka mengikuti jalan orang-orang khalaf, tidak memiliki titik sandaran dari generasi Salaf. Jelas semua ini adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya.

    [6]. Dalam khazanah kaum ahli takwil itu, ternyata kalau kita dalami, mereka tidak bisa menerima Sifat-Sifat Allah sebagaimana lafadz aslinya dalam Kitabullah dan Sunnah shahihah; karena akal mereka telah terkooptasi oleh logika-logika kebendaan seputar makhluk. Tanpa disadari, ketika satu sisi mereka berusaha “mensucikan” Allah, ternyata di sisi lain mereka hendak “mensucikan” Allah dengan logika kebendaan yang biasa berlaku di kalangan makhluk. Masya Allah, justru disana mereka telah merusak Kesucian Allah itu sendiri. Nas’alullah al ‘afiyah.

    Masya Allah, apa jadinya kalau seorang Muslim kelak ditanya oleh Allah seputar Sifat-Sifat-Nya? Bagaimana cara mereka menjawab semua itu? Kalau saya, tidak akan berani menjawab apa-apa, kecuali yang memang ditunjukkan dalam Kitabullah dan Sunnah shahihah itu sendiri. Soal kemudian adanya tafsiran ini itu, dengan mudah kita menjawab: Laisa ka mitslihi syai’un wa huwas sami’ul bashir.

    Makanya ketika bicara tentang salah satu Surat Al A’raaf, Ibnu Katsir kurang lebih mengatakan, “Cara paling selamat ialah mengimani apa adanya, tanpa takyif, tasybih, ta’thil.”

    Perhatikan kata “cara paling selamat” itu. Disana yang dimaksud ialah, ketika kelak seorang hamba ditanya oleh Allah seputar Sifat-Sifat-Nya, apa yang akan dia jawabkan? Apakah akan membuat takwilan-takwilan dengan mengingkari Sifat-Sifat Allah? Semoga ada manfaatnya. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

    Ilmu nahwu, sharaf, hadits, tafsir, fiqh, itu masing-masing berada dalam ranah apa ya om? Kok ente sama-ratakan dan campur aduk dengan ranah aqidah?
    Pahami dulu om, entar juga paham anda paham kebingungan saya ttg Qiyas yg anda lakukan itu ^_^ Tauhid 3 itu menyulitkan deh, masa kaum musyrik dipuji berTauhid? Bukan ajaran Rasulullah SAW nih, tapi ajaran bid’ah dhalalah ^_^ Qiqiqi, makin ngegemesin deh om “abisyakir” ini ^_^

    Komentar: Ha ha ha…Anda itu ingin melecehkan orang lain dengan kesan menggurui atau lebih ‘alim, tetapi Anda sendiri tidak cukup ilmu untuk itu. Mari kita buktikan ya.

    Ilmu nahwu itu berkaitan dengan akidah. Dari mana Anda paham makna ayat Al Qur’an seputar Yahudi, Nashrani, Syurga, Neraka, Rukun Iman, dll. kalau Anda tak paham ilmu Nahwu?

    Begitu juga dengan ilmu Sharaf. Ya @ Mambaul…kadang kala suatu sifat disebut dengan kata kaa-fir, kadang dengan ka-fiir, kadang dengan kufar, kadang dengan kufur, kadang dengan kafirin, kafirun, dan sebagainya. Apa dalam pembahasan soal kekafiran ini tak butuh ilmu Sharaf?

    Apalagi ilmu hadist, tafsir, fiqih, dll. Semua itu berkaitan dengan masalah akidah. Salah satu contoh yang mudah. Dalam fiqih ada bab jinayat (hukum pidana). Salah satu fasal yang masuk bab itu adalah “hukmul irtidad” (hukum orang yang murtad). Murtad adalah masalah akidah, tetapi ketentuan sanksi dan cara-cara pelaksanaannya, masuk bab fiqih.

    Anda paham, wahai Syaikh yang ‘alim? Semoga Allah menambahkan ilmu atasmu, namun semoga Allah menambahkan adab kepadamu lebih besar dari ilmu. Amin Allahumma amin.

    AMW.

  27. Aneh sekali, mengimani lafadz Al Qur’an apa adanya, secara sami’na wa atho’na disebut Mujassimah. Mujassimah itu kan membayangkan Allah memiliki fisik seperti fisik makhluk-Nya. Sementara dalam keimanan kaum “Wahabi” (mengikuti istilah Anda), mereka menolak adanya TAKYIF (yaitu membayangkan Allah seperti ini dan itu). Anda ini harus hati-hati, jangan sembrono mengatakan orang lain Mujassimah, kalau Anda tidak benar-benar tahu bahwa diri orang itu memang benar-benar Mujassimah.
    ———————————————————————————-
    Kan memang Salafi-Wahhabi berTuhan makhluq ^_^

    Tuhan Salafi-Wahhabi kan punya 2 tangan (kanan semua), punya 2 kaki (satunya di dasar neraka, satunya selonjor di kursi), punya rambut (ikal), punya 2 mata, hidung, lidah, mulut, dsb.
    Tuhan Salafi-Wahhabi juga duduk di atas ‘Arsy, beralaskan permadani emas, dsb.

    Tidak membayangkan? Tapi definisinya jelas sekali ya, kan memang Mujassimah ^_^
    ==================================================

    Anda tahu siapa Imam Ibnu Katsir? Beliau itu pengikut madzhab Hanbali. Sementara Imam At Thahawi pengikut madzhab Hanafi. Sementara Imam Malik adalah perintis madzhab Maliki. Ulama-ulama ini bukan pengikut madzhab Hanbali. Tetapi secara akidah mereka sama. Sama-sama menetapkan sifat Allah sebagaimana lafadz dalam Al Qur’an, tanpa ditakwil-takwil seperti kaum Anda. Tetapi mereka juga tidak membayangkan bahwa Allah itu bentuknya seperti makhluk-Nya. Coba deh Anda sebutkan, siapa saja di antara ulama-ulama Hanbali yang Anda sebut Mujassimah itu? Coba Anda sebutkan dengan bukti-bukti literaturnya.
    ———————————————————————————
    Betul, beliau-beliau memang menetapkan sifat Allah SWT seperti yg disebutkan dalam Al-Qur’an ^_^

    Sebagaimana Sufyan ibn ‘Uyainah berkata:
    “Setiap yang Allah SWT sifatkan pada diri-Nya, maka tafsirnya adalah BACAANNYA, dan menahan diri darinya.”

    Jadi, berbeda dengan sekte Salafi-Wahhabi yg menetapkan sifat makhluq pada Tuhan mereka, kan mereka Mujassimah ^_^
    ==================================================

    Saya sudah menulis artikel berikut, coba Anda baca: Prinsip Memahami Bid’ah. Dalam tulisan ini makna bid’ah sudah terjawab dengan baik, insya Allah. . . . .
    ———————————————————————————
    Ah, Mujtahid Agung Imam Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i saja membagi bid’ah menjadi 2 berdasarkan perkataan Sayyid Umar tsb.
    Kok anda yg lahir barusan kemarin udah merasa lebih pandai daripada Sayyid Umar ibn Khattab dan Imam Asy-Syafi’i, lucu deh mas ^_^

    Rasulullah SAW juga pernah berpuasa dan beraqiqah memperingati kelahirannya, tapi nyatanya sekte anda Salafi-Wahhabi menuduh bid’ah

    Rasulullah SAW juga pernah baca qunut dalam shalat subuh, tapi sekte anda Salafi-Wahhabi menuduh bid’ah

    Mushaf Qur’an, Shalat Tarawih, Maulid Nabi, dsb itu bid’ah hasanah
    Saya lebih percaya Sayyid Abu Bakar, Sayyid Umar ibn Khattab, Imam Asy-Syafi’i, Imam al-Asqalani, dst, daripada anda yg tidak paham bid’ah (tapi udah bikin blog bid’ah, hehehe) ^_^
    =================================================

    Lho, kan kamu sendiri yang semula bilang, tidak ada bid’ah dalam akidah? Kok sekarang kamu jadi lain pendapatnya? Maaf ya. Secara gender kamu itu apa, laki-laki atau perempuan? Maaf ya…kalo laki-laki jangan suka mencla-mencle. Jadi saja manusia yang baik, jujur, tidak mendengki. Nanti amal-amal manusia banyak yang hangus karena hatinya selalu diliputi hasad.

    Kamu sebut Salafi Wahabi sebagai kelompok sesat, lantara mereka meyakini Sifat-Sifat Allah dalam lafadz-lafadz Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau tuduhan itu benar, berarti kamu juga harus menyesatkan Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam At Thahawi, Ibnu Batthah, Ibnu Katsir, Adz Dzahabi, dan lain-lain. Jadi silakan kamu sesatkan mereka semua dengan cara pandangmu yang picik itu.
    ———————————————————————————
    Betul, tidak ada bid’ah dalam aqidah, kecuali untuk sekte sesat seperti Syi’ah-Rafidhi, Salafi-Wahhabi, dan sejenisnya ^_^
    Sebaiknya anda pakai nasihat anda sendiri, jangan suka hasad, seperti sekte Salafi-Wahhabi, ini-itu dituduh bid’ah, padahal aqidah mereka justru yg paling bid’ah ^_^

    Sudah jelas beliau-beliau itu tafwidh daripada ayat mutsyabihaat, menerima apa adanya (bacaannya) sebagai tafsirnya.
    Jadi jangan samakan dengan sekte Salafi-Wahhabi yg menetapkan sifat makhluq seperti bersemayam dan naik-turun pada Tuhan mereka ^_^

    Toh juga sekte Salafi-Wahhabi melakukan ta’wil, contohnya pada QS. Al-Hadid : 4
    Sekte anda Salafi-Wahhabi mengkafir-kafirkan yg menta’wil ttg keberadaan Allah SWT bersemayam (Istawa’) atas ‘Arsy, tapi di akhir ayat sekte Salafi-Wahhabi malah melakukan ta’wil keberadaan Allah SWT dimana-mana dita’wil dengan ilmu Allah SWT.

    Jadi, memang sekte anda Salafi-Wahhabi itu menanamkan aqidah Mujassimah, dengan keyakinan Tuhan bersemayam di atas ‘Arsy di langit ketujuh ^_^
    ==================================================

    Ha ha ha…Anda itu ingin melecehkan orang lain dengan kesan menggurui atau lebih ‘alim, tetapi Anda sendiri tidak cukup ilmu untuk itu. Mari kita buktikan ya.

    Ilmu nahwu itu berkaitan dengan akidah. Dari mana Anda paham makna ayat Al Qur’an seputar Yahudi, Nashrani, Syurga, Neraka, Rukun Iman, dll. kalau Anda tak paham ilmu Nahwu?
    . . . . . . . .
    ——————————————————————————-
    Semua ilmu itu berkaitan, tapi bukan berarti sama ^_^
    Saya tidak menggurui, justru keterangan ttg kebolehan berbid’ah dalam Aqidah meng-Qiyas pada Nahwu, Sharaf, Fiqh, itu lah yg membongkar kedok anda ^_^

    Daripada anda mendo’akan saya, lebih baik anda berdo’a untuk diri anda sendiri supaya lebih paham.

    Aqidah kok di-Qiyas sama Fiqh XD
    Sampai berani membuat blog membela Tauhid 3 Trinitas yg jelas-jelas bid’ah dhalalah, berhujjah Qiyas yg ndak nyambung pula ^_^
    Makin tersenyum saya melihat anda, menggemaskan ^_^

  28. abisyakir berkata:

    @ Mambaul…

    Kan memang Salafi-Wahhabi berTuhan makhluq ^_^ Tuhan Salafi-Wahhabi kan punya 2 tangan (kanan semua), punya 2 kaki (satunya di dasar neraka, satunya selonjor di kursi), punya rambut (ikal), punya 2 mata, hidung, lidah, mulut, dsb. Tuhan Salafi-Wahhabi juga duduk di atas ‘Arsy, beralaskan permadani emas, dsb. Tidak membayangkan? Tapi definisinya jelas sekali ya, kan memang Mujassimah ^_^

    Komentar: Perkataan Anda ini: “Kan memang Salafi-Wahhabi berTuhan makhluq”, adalah TAKFIR terhadap kalangan Wahabi. Saya mengira, Anda adalah dari kalangan aktivis Syiah. Nada tulisan Anda kasar, senang melecehkan, dan seenaknya dalam membuat bantahan. Khas grup Idahram dkk.

    Sifat Dua Tangan, Wajah, Jari, istiwa’ di atas Arasy, dll. setahu saya itu ada. Tetapi sifat-sifat lain seperti mata, hidung, lidah, mulut, rambut ikal, dll. yang Anda sebutkan, saya tidak tahu. Setahu saya ketika membaca Aqidah Wasithiyyah karya Ibnu Taimiyyah, beliau tidak meneybut sifat-sifat itu. Maka Anda harus berhati2 kalau membahas Sifat Allah. Kecuali kalau Anda Syiah, kehati-hatian tidak berguna disana. Wong orang Syiah itu, antara beragama dan tidak, sama saja.

    Soal Allah memiliki sifat Tangan, Jari, Wajah, dll. ya kita terima. Tidak masalah kita menyembah Rabb yang seperti itu, kalau memang Dia sendiri menyebutkan diri-Nya seperti itu. Kecuali, kalau kita ngarang, lalu membuat takwilan2 jahiliyyah, sehingga melenyapkan Sifat-Sifat Allah. Itu nanti bisa menjadi Jahmiyyah, alias kaum Zindiq. Wal ‘iyadzubillah.

    Tidak masalah Allah memiliki Sifat-Sifat tertentu yang Dia sifati diri-Nya dengan itu. Sebagai manusia, kita tidak bisa mengatur Dzat Allah dan Sifat-Sifat-Nya. Kita hanya tinggal “taken” (ambil) saja. Tidak usah kita buat teori-teori filsafat sedemikian rupa, sehingga menjauhi apa yang Allah Sifatkan atas diri-Nya sendiri. Tetapi orang2 ahli Takwil (termasuk Syiah di dalamnya), mereka MEMAKSA ALLAH MEMILIKI SIFAT-SIFAT YANG DISUKAI OLEH AKAL MEREKA YANG SEMPIT ITU.

    Jadi orang-orang itu hendak mengibadahi Allah, dengan sejumlah SYARAT yang ditetapkan oleh akal sempit dan piciknya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

    Ah, Mujtahid Agung Imam Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i saja membagi bid’ah menjadi 2 berdasarkan perkataan Sayyid Umar tsb. Kok anda yg lahir barusan kemarin udah merasa lebih pandai daripada Sayyid Umar ibn Khattab dan Imam Asy-Syafi’i, lucu deh mas ^_^

    Rasulullah SAW juga pernah berpuasa dan beraqiqah memperingati kelahirannya, tapi nyatanya sekte anda Salafi-Wahhabi menuduh bid’ah.

    Rasulullah SAW juga pernah baca qunut dalam shalat subuh, tapi sekte anda Salafi-Wahhabi menuduh bid’ah

    Mushaf Qur’an, Shalat Tarawih, Maulid Nabi, dsb itu bid’ah hasanah
    Saya lebih percaya Sayyid Abu Bakar, Sayyid Umar ibn Khattab, Imam Asy-Syafi’i, Imam al-Asqalani, dst, daripada anda yg tidak paham bid’ah (tapi udah bikin blog bid’ah, hehehe) ^_^

    Komentar: Ada yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah dhahalah. Meskipun nantinya, definisi dan penjabaran bid’ah menurut pembagian itu berbeda-beda. Tetapi jangan sekali-kali Anda menyebutkan Khalifah Umar bin Khattab Ra sebagai pencipta bid’ah. Tidak sama sekali. Shalat Tarawih itu pertama kali dilaksanakan oleh Rasulullah Saw sendiri, hanya beberapa hari. Setelah itu beliau shalat malam di rumah. Ini adalah sunnah. Tetapi tradisi menjalankannya sebulan penuh, diawali oleh Umar bin Khattab.

    Para ulama ahli fiqih (kecuali ulama Syiah), mereka sepakat Shalat Tarawih adalah Shalat Sunnah. Anda paham maksudnya? Jadi shalat itu dilaksanakan karena ada SUNNAH dari Nabi Saw.

    Kalau Anda mengatakan, siapa diri saya sehingga berpendapat berbeda dengan Imam Syafi’i. Saya jawab, saya tidak ada apa-apanya dibandingkan beliau. Tetapi di mata Ahlus Sunnah, Rasulullah Saw adalah USWATUN HASANAH, beliau lebih baik dan mulia dari siapapun ulama di kolong langit ini.

    Rasulullah berpuasa di hari kelahirannya, yaitu hari SENIN. Tetapi apakah beliau mengajarkan peringatan khusus di TANGGAL dan BULAN kelahiran beliau? Memang secara pastinya Rasulullah Saw lahir tanggal berapa? Yang valid sesuai Syariat Islam dan hadits shahih? Memang tanggal berapa begitu? Jangan sampai, Anda ingin menjadi pendusta, atas nama Syariat Nabi.

    Rasulullah membaca qunut nazilah, sebulan penuh, karena ada gangguan dari kabilah-kabilah Arab pedalaman terhadap dai-dai yang diutus Nabi kepada mereka. Tetapi tidak mengkhususnya hanya saat Subuh saja. Sebulan penuh, dalam 5 kali shalat fardhu. Hadits yang mengkhususnya qunut subuh, menurut para ulama hadits dianggap lemah, sehingga tidak usah dipakai.

    Mushaf Al Qur’an itu bab Maslahah Mursalah, Shalat Tarawih itu Sunnah, sedangkan acara Maulid Nabi bukan termasuk bagian dari Syariat Islam. Yang mengatakan ini banyak kok. Bukan cuma saya. Posisi saya kan hanya sekedar “copy paste” pendapat-pendapat mereka.

    Betul, tidak ada bid’ah dalam aqidah, kecuali untuk sekte sesat seperti Syi’ah-Rafidhi, Salafi-Wahhabi, dan sejenisnya ^_^
    Sebaiknya anda pakai nasihat anda sendiri, jangan suka hasad, seperti sekte Salafi-Wahhabi, ini-itu dituduh bid’ah, padahal aqidah mereka justru yg paling bid’ah ^_^

    Sudah jelas beliau-beliau itu tafwidh daripada ayat mutsyabihaat, menerima apa adanya (bacaannya) sebagai tafsirnya.
    Jadi jangan samakan dengan sekte Salafi-Wahhabi yg menetapkan sifat makhluq seperti bersemayam dan naik-turun pada Tuhan mereka ^_^

    Toh juga sekte Salafi-Wahhabi melakukan ta’wil, contohnya pada QS. Al-Hadid : 4
    Sekte anda Salafi-Wahhabi mengkafir-kafirkan yg menta’wil ttg keberadaan Allah SWT bersemayam (Istawa’) atas ‘Arsy, tapi di akhir ayat sekte Salafi-Wahhabi malah melakukan ta’wil keberadaan Allah SWT dimana-mana dita’wil dengan ilmu Allah SWT.

    Jadi, memang sekte anda Salafi-Wahhabi itu menanamkan aqidah Mujassimah, dengan keyakinan Tuhan bersemayam di atas ‘Arsy di langit ketujuh ^_^

    Komentar: Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Masya Allah. Anda ini cewek ya… Pertama bilang, tidak ada bid’ah dalam akidah. Kedua bilang, ada bid’ah dalam akidah. Ketiga bilang, tidak ada bid’ah dalam akidah, kecuali… Allahu Akbar. Kok ada orang seperti ini ya? Sudah begitu lagaknya kayak paling alim sendiri. Masya Allah, masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

    Anda menyebut Wahabi sebagai pelaku bid’ah, tetapi Anda tidak bisa mematahkan argumen mereka. Bahkan kalau menelisik argumen2 Anda, sangat kelihatan kalau kaum Anda ini termasuk kalangan yang MENOLAK Sifat-Sifat Allah, kecuali sifat yang bisa diterima akal. Kasihan sebenarnya melihat kebingungan orang-orang seperti ini. Tapi ya itu tadi, arogansinya sangat besar. Padahal dalam Al Qur’an disebutkan: “Innallaha laa yuhibbu kulla mukhtalin fakhura” (Allah itu tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri).

    Tentang ayat Al Hadiid ayat 4: “Wa huwa ma’akum ainama kuntum“. Ayat ini jelas harus ditakwilkan, karena kalau tidak begitu, AKAN BERBENTURAN DENGAN AYAT-AYAT LAIN YANG SUDAH QATH’I. Tidak mungkin Allah ada bersama kita, saat kita di WC, saat seseorang berzina, saat seseorang mencuri, saat seseorang menyembah berhala, saat seseorang melakukan ritual sihir, dll.

    Kalau tidak percaya, baca Surat Al A’raaf ayat 143. Disana disebutkan, Musa tidak bisa melihat Allah secara langsung, tetapi disuruh melihat ke gunung yang tercerai-berai. Maka seketika itu Musa pingsan. Ini menjadi dalil, bahwa Dzat Allah tidak bisa berada dekat dengan makhluk-Nya, meskipun ia sekokoh gunung sekalipun. Lalu bagaimana Allah akan bersama manusia dimanapun manusia berada?

    Kalau Anda mengkufuri bahwa Allah Istiwa’ di atas Arasy. Berarti Anda telah kufur terhadap sejumlah ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan hal itu. Kalau manusia salah paham, karena tidak ada yang memberi-tahu, dia dimaafkan. Tapi kalau keras kepala, meskipun sudah diingatkan, maka berhati-hatilah, wahai @ Mambaul Ilmi…


    Semua ilmu itu berkaitan, tapi bukan berarti sama ^_^
    Saya tidak menggurui, justru keterangan ttg kebolehan berbid’ah dalam Aqidah meng-Qiyas pada Nahwu, Sharaf, Fiqh, itu lah yg membongkar kedok anda ^_^

    Daripada anda mendo’akan saya, lebih baik anda berdo’a untuk diri anda sendiri supaya lebih paham.

    Aqidah kok di-Qiyas sama Fiqh XD
    Sampai berani membuat blog membela Tauhid 3 Trinitas yg jelas-jelas bid’ah dhalalah, berhujjah Qiyas yg ndak nyambung pula ^_^
    Makin tersenyum saya melihat anda, menggemaskan ^_^

    Komentar: Lho, siapa yang bilang kalau ilmu semuanya sama? Siapa yang bilang begitu? Sayakah atau Anda? Ini semua kan membuka argumen Anda sendiri yang waktu itu mengatakan bahwa ilmu-ilmu itu berbeda ranahnya.

    Hai manusia, yang saya maksud itu soal PERISTILAHAN, bukan hakikatnya. Begini ya, wahai insan, semoga Allah membukakan ilmu dan kesadaran bagimu, bagiku, dan kaum Muslimin.

    Sifat Rubbubiyyah, Uluhiyyah, dan Asma Wa Shifat; itu sudah ada sejak awalnya. Hanya peristilahan khususnya belum ada. Lalu ulama membuat peristilahan agar mudah dipahami. Dalilnya apa? Anda baca Surat An Naas! Itu dalilnya. Disana dikatakan kata “Rabbin Naas”, “Malikin Naas”, “Ilahin Naas”. Itu Allah sendiri yang mensifati diri-Nya dengan kata-kata itu. Dari sini kemudian muncul istilah Rubbubiyyah, Uluhiyyah, dan Asma Wa Shifat. Ada yang menyebut Mulkiyyah, seperti Sayyid Quthb. Tapi Mulkiyah itu ada yang memahami sebagai bagian dari Asma Wa Shifat. Semua ini ada dalilnya dalam Kitabullah dan Sunnah.

    Rasulullah Saw sendiri kalau berdoa kadang memakai sebutan “Rabbana”, kadang “Rabbi”, kadang “Allahumma”, kadang dengan Sifat misalnya “walladzi nafsi bi yadih” (demi yang jiwaku ada di Tangan-Nya).

    Saya nasehatkan…jangan arogan, jangan sombong. Jangan sok menyesatkan orang, sementara kamu tidak memiliki dalil kuat untuk menopang pandangan2mu.

    Makin tersenyum saya melihat anda, menggemaskan ^_^

    Komentar: Saya tidak berat mendapati kata-kata kamu seperti ini. Ya bedalah perkataan orang yang berilmu dengan yang tidak. Jelas beda maqam-nya. Kalau kepada orang jahil, Al Qur’an memberi petunjuk, “Wa idza khatabal jahiluna, qaluu salama” (kalau orang-orang jahil berceloteh, katakanlah hal-hal yang menyelamatkan). Alhamdulillah.

    Kata-kata kamu seperti itu, hanyalah untuk menutupi kelemahan dirimu sendiri. Kadang manusia bersikap sombong, untuk menutupi kelemahan dirinya. Hal seperti ini sudah dikenal.

    Kamu tidak boleh menyebut “Tiga Istilah Tauhid” seperti istilah Trinitas kaum Nashrani. Tidak boleh itu. Hakikatnya sangat berbeda. Apalagi “3 Istilah Tauhid” itu bersumber dari Al Qur’an. Kamu hafal kan Surat An Naas? (bukan Si Anas, Ketua Demokrat itu lho).

    Terimakasih.

    AMW.

  29. […] [=] Apakah Pembagian Tauhid Merupakan Bid’ah? […]

  30. sahabat berkata:

    Allahu akbar, disini ramai juga ya.
    Barakallahu fik ya admin.

    Afwan, kami coba bantu ya.
    1. Hadits shahih:
    “SETIAP bid’ah adl SESAT”
    memastikan TDK ADANYA BID’AH HASANAH,
    & ini langsung dr Nabi.
    2. Hadits shahih:
    “IKUTILAH sunnahku & SUNNAH KHULAFAUR RASYIDIN sesudahku..”
    Memastikan bahwa ijtihad yg diambil khulafaurrasyidin (AbuBakar, Umar, Utsman&Ali)
    spt:
    -Pembukuan Quran
    -Tarawih berjamaah dimasjid
    -Azan Shalat Jum’at 2x (dlm kondisi tertentu),
    ADALAH SUNNAH, shg Tdk boleh dikatakan sbg bid’ah.

  31. prass berkata:

    oh jadi pembagian tauhid tak ada dalilnya toh,baik dr nabi maupun para sahabat,yo wiss…apik tenan

  32. ridho berkata:

    Ada yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah dhahalah. Meskipun nantinya, definisi dan penjabaran bid’ah menurut pembagian itu berbeda-beda. Tetapi jangan sekali-kali Anda menyebutkan Khalifah Umar bin Khattab Ra sebagai pencipta bid’ah. Tidak sama sekali. Shalat Tarawih itu pertama kali dilaksanakan oleh Rasulullah Saw sendiri, hanya beberapa hari. Setelah itu beliau shalat malam di rumah. Ini adalah sunnah. Tetapi tradisi menjalankannya sebulan penuh, diawali oleh Umar bin Khattab.

    Para ulama ahli fiqih (kecuali ulama Syiah), mereka sepakat Shalat Tarawih adalah Shalat Sunnah. Anda paham maksudnya? Jadi shalat itu dilaksanakan karena ada SUNNAH dari Nabi Saw.

    Kalau Anda mengatakan, siapa diri saya sehingga berpendapat berbeda dengan Imam Syafi’i. Saya jawab, saya tidak ada apa-apanya dibandingkan beliau. Tetapi di mata Ahlus Sunnah, Rasulullah Saw adalah USWATUN HASANAH, beliau lebih baik dan mulia dari siapapun ulama di kolong langit ini.
    =====================================================
    anda mengakui bahwa ada ulama yanhg membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. tapi anda masih bingung mmberi istilah apa untuk “tindakan sayidina umar”, bahkan melarang orang untuk mengatakan bahwa beliau adalah pencipta bid’ah..apa susahnya sich mengatakan bahwa beliau adalah pencipta bid’ah hasanah…”ni’matu hadzihi al bid’ah”..
    kemudian anda mengakui bahwa anda tidak ada apa2nya dibanding imam syafii. lalu drmna aanda tau sunnah nabi kalo bukan dari para ulama?..darimana anda belajar ilmu hadits, fiqih, dan lain2 kalo bukan dr ulama?…memang Rasulullah adalah uswatun hasanah, tapi sya yakin anda tidak pernah mlihat, mndengar, dan merasakan sgala sisi khidupan Rasul kecuali dr ulama…maka “ahlu Sunnah” adalah orang yg mncontoh Nabi dengan menjadikan Ulama sebagai model dan mediatornya….jadi gak ada alasan lagi utk mengatakan bahwa “ahlu Sunnah” adalah dr klmpok ini dasn itu, kita semua adalah “ahlu sunnah” yang memiliki guru (madzhab) yang berbeda…
    jadi, sekarang bukan masanya lagi untu kita saling menyalahkan dan melakukan truth claim trhdap klpk sndiri…jika ada perbedaan, maka mari kita bersatu dalam keberagaman sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para ulama terdahulu…sehingga tidak heran islam jaya berabad-abad lamanya, disegani di seluruh dunia…
    tapi bagaimana dengan umat islam di masa sekarang?
    ini menjadi PR kita bersama…
    apakah kita akan tetap terlena saling serang dan saling rongrong dirumah sendiri, sementara musuh sudah jelas-jelas merongrong kita dari luar..???
    saya memang orang bodoh yang tak tau apa2..saya buta dengan islam…tapi saya inginkan persaudaraan islam yang sejati, yang kuat, dan tak tertandingi…..
    ingat para ulama dulu selalu bersatu dalam keberagaman, dan gak mesti seragam daslam persatuan,,,,swehingga islam pun “JAYAAA”..

    “rintihan sang pemimpi persatuan islam”

  33. amin@yahoo.com berkata:

    saya kasihan dg penulis blog, pendapatnya labil.. sebaiknya account yg menentang penulis di blok atau dihapuskan .. kasihan

  34. abisyakir berkata:

    Amin@yahoo…

    Alhamdulillah, ada yang mengkasihani… Mohon beritahukan saja kalau ada pendapat yang labil. Okeh?

    Admin.

  35. Asib Bakoya berkata:

    mbok yo yg legowo wahabi ini selalu membela diri. mana ada ulama yg steril bidah baik umurudin maupun umuru dunya? wahabi ini selalu memosisikan manusia suci bak malaikat. yo wajar dong.. bl tritauhid ini memang. koidah bidah yg dipakai wahabi dan suni memang beda. wahabi memakai koidah sekh usaimin yg merujuk pd muhamad bin abdul wahab, sementara suni memakai solafu soleh. sehingga hasil hukumnya tidak sama. wahabi bl sesuai dng hawanafsunya tidak bidah, yg tidak sesuei dng hawa nafsunya dikatakan bidah.

  36. abisyakir berkata:

    @ Asib Bakoya…

    koidah bidah yg dipakai wahabi dan suni memang beda. wahabi memakai koidah sekh usaimin yg merujuk pd muhamad bin abdul wahab, sementara suni memakai solafu soleh. sehingga hasil hukumnya tidak sama.

    Saya sampaikan informasi ya… dan hal ini juga disepakati orang-orang yang getol menyerang Wahabi. Landasan dakwah Wahabi dalam perkara bid’ah-sunnah adalah kitab Al I’tisham, karya Imam Ibrahim bin Musa bin Muhammad Asy Syatibi, atau dikenal sebagai Imam Asy Syatibi. Beliau itu ulama asal Andalusia dari Sativa (Satiba). Ini yang jadi acuan utamanya.

    Sebagian kalangan Wahabi, termasuk kalangan Ikhwanul Muslimin, mereka merujuk kitab Al Muhamlla karya Imam Ibnu Hazm, dari Andalusia yang menjadi pembela madzhab Abu Dawud Az Zhahiri. Kitab-kitab “Zhahiri” ini besar pengaruhnya. Tapi sebagaimana guru-gurunya kalangan madzhab Hanabilah, dakwah Wahabi jelas merujuk pendapat-pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

    Demikian, semoga bermanfaat.

    Admin.

  37. SAYA berkata:

    Kok kayak konsep trinitasnya umat Kristiani ya?

    Sudah coba tanya umat Kristiani kenapa ada Allah, Yesus dan Roh Kudus belum?

    Menurut mereka Tuhan itu ESA, tapi untuk berkomunikasi dan menyebarkan ajaran tauhid versi mereka, Tuhan bermanifestasi menjadi 3, yaitu Allah (Tuhan), Yesus (Tuhan dalam wujud manusia supaya bisa bertatap langsung kepada manusia demi menyampaikan tauhid dan wahyu Tuhan) serta Roh Kudus (atau bagi umat Katholik, Bunda Maria – pihak perantara antara Allah dan Yesus). Kan Nabi Isa alaihissalam tidak pernah mengajarkan hal ini, tapi kaum-kaumnya-lah yang menyelewengkan tauhid yang ESA yang dibawakan Nabi Allah Isa alaihissalam.

    Di dalam Al-Qur’an dan Hadits pun tidak ada penjelasan mengenai tauhid trinitas. Beriman kepada Allah ta’ala hanya perlu dengan kalimat:

    “AKU BERSAKSI BAHWA TIADA ILAH (TUHAN) SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH.”

    Kalau memang ada pendapat ulama yang berpendapat bahwa tauhid trinitas itu benar adanya, lalu apakah Al-Qur’an dan Hadits salah dan pendapat ulama-ulama lebih benar?

    Kan pendapatnya pengikutnya Yesus berpendapat bahwa Yesus (Nabi Isa alaihissalam) adalah Tuhan, padahal Nabi Isa mati-matian menetapkan tauhid TIADA TUHAN SELAIN ALLAH kepada umat Yahudi saat itu, tapi pengikutnya lebih benar?

    Bukankah itu bid’ah (hal-hal baru yang berbentuk akidah yang tidak disampaikan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya)?

    Jazakallah ustadz.

  38. abisyakir berkata:

    @ SAYA…

    * BEDA sekali antara TRINITAS Kristiani dengan konsep TAUHID ULUHIYAH, RUBUBIYAH, ASMA WA SHIFAT. Itu beda sekali. Trinitas Kristen kan berpangkal adanya “tiga oknum tuhan” yaitu Allah, Yesus, Roh Kudus (Jibril As). Jadi tuhannya ada 3. Kalau pembagian Tauhid menjadi 3, Tuhan-nya tetap SATU yaitu Allah. Hanya saja Allah itu punya 3 SIFAT UTAMA yaitu: Sebagai pencipta, pemelihara, pelindung alam semesta; Sebagai Dzat yang disembah; sebagai Dzat yang memiliki Sifat-sifat Sempurna.

    * Cara mudah membedakannya begini. Roti, nasi, dan jagung adalah 3 jenis makanan pokok. Roti berbeda dengan nasi dan jagung, nasi juga berbeda dengan jagung. Tapi kesemua itu disebut “makanan pokok”. Lalu ada jenis makanan lain yaitu BOLU. Misalnya di meja ada bolu berkualitas tinggi. Bukan bolu sembarangan. Ia punya sifat: empuk, manis merata, merekah, gurih. Satu bolu punya sifat empat. Disini tidak dikatakan bahwa ada “empat jenis bolu”. Bukan. Karena memang bolunya cuma satu. Tapi satu bolu itu punya sifat kualitas sampai empat. Kalau disebut nama bolu, itu mewakili satu jenis makanan. Kalau disebut “makanan pokok”, itu mewakili nasi, roti, jagung, sagu, ketela, dan sebagainya.

    * Pembagian Tauhid menjadi 3 bukan bid’ah. Wong tujuannya hanya untuk memudahkan memahami. Sama seperti ada ilmu Al Qur’an, ilmu hadits, ilmu nahwu sharaf, ilmu tajwid, dll. Apakah istilah2 itu di zaman Nabi sudah ada? Belum ada. Para ulama lalu membuat istilah itu kan hanya untuk memudahkan memahami saja.

    Admin.

  39. abdullah manaf berkata:

    Alhamdulillah. Akhir nya saya ketemu juga dgn jawapan seputar shubhat yg di lontarkan ke tengah masyarakat.

    Terima kasih kpd Ust. Abisyakir, semoga Allah(swt) memberi tambahan ni’mat kpd antum sekeluarga dan mempermudah segala urusan dunia dan
    akhirat. Aamiin Allahumma aamiin.

  40. abisyakir berkata:

    @ Abdullah Manaf…

    Alhamdulillah, amin amin atas doanya Pak, semoga kebaikan dicurahkan kepada kami, Bapak, dan kaum Muslimin semuanya. Amin.

    Admin.

  41. Abu Nada berkata:

    Alhamdulillaah debat ini membuka wawasan saya.
    Teruskan perjuangan/ jihad ustadz di dunia maya..

    Saya juga ikut men-do’akan semoga rekan2 pendebat diberikan hidayah adab dan ilmu.. karena setahu saya Rosul dan para shahabiyyah selalu mengedepankan adab dalam berinteraksi kepada manusia, tidak ada keinginan untuk merendahkan lawan..

    baarokallaahu fiikum..

  42. abisyakir berkata:

    @ Abu Nada…

    Wa iyyakum barakah wa fadhilah akhi. Syukran jazakumullah atas doanya.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: