Bangsa Indonesia Telah Melahirkan Polisi Ganas!

Akhir-akhir ini Polri banyak menuai kecaman dari masyarakat, media, dan elit politik. Pasalnya, aparat polisi terlibat aksi-aksi kekerasan terhadap masyarakat sipil di Mesuji, Bima, Papua, Sulawesi, dan lain-lain. Dr. Saharuddin Daming, salah seorang anggota Komisioner Komnas HAM, menulis tulisan pedas mengkritik instirusi Polsi dengan judul, “Gengster Berlabel Penegakan Hukum”. (Dimuat di Republika, 27 Desember 2011, hal. 4).

Dr. Saharuddin Daming melihat sikap semena-mena anggota Polri tersebut tak lepas dari adanya Prosedur Tetap (Protap) no. 1/X/2010. Protap ini berisi cara-cara penanggulangan aksi anarkhisme massa.  Salah satu hak yang diatur dalam Protap itu, anggota Polri boleh melakukan tindakan ‘tembak di tempat’, bila sewaktu-waktu terjadi aksi anarkhisme. Dr. Saharuddin mengatakan, “Apalagi dalam Protap tersebut batasan anarkhisme sangat kabur, sehingga berpeluang untuk menimbulkan multi tafsir. Celakanya, pihak yang boleh menafsirkan Protap itu adalah polisi sendiri.”

DEMOKRASI PELURU: "Dari Rakyat, Untuk Rakyat".

Lebih jauh, anggota Komisioner Komnas HAM ini menyebut perilaku anggota Polri yang bertindak sewenang-wenang kepada masyarakat seperti Gangster.  “Dengan hadirnya Protap yang melegitimasi tindakan tembak di tempat, berarti pimpinan Polri menciptakan lembaga imunitas bagi anggotanya untuk menjadi Gengster dalam fungsi Kamtibmas. Saya menilai, Protap seperti ini akan mereinkarnasi kebijakan ‘Petrus’ (penembakan misterius –pen.) yang pernah diterapkan pada zaman Orde Baru terhadap siapa saja yang dicap sebagai residivis (penjahat criminal –pen.). Dengan demikian, Polri berada dalam posisi ambigu yang secara konstitusional menjadi alat negara untuk melindungi rakyat, namun faktanya justru menjadi instrument kezaliman rakyat,” kata Dr. Saharuddin Daming.

Jonson Panjaitan dari Indonesia Police Watch (IPW), sering mengkritik perilaku institusi atau anggota Polri dalam dialog-dialog di TV. Koran Tempo pernah menurunkan laporan seputar “rekening gendut perwira Polri”. Rekening yang juga terkait dengan peranan Melinda Dee di Citi Bank ini kerap menjadi semacam “black cash” untuk membiayai kepentingan-kepentingan pelanggaran hukum. Pembentukan KPK dan “Satgas Anti Mafia Hukum” menjadi bukti besar bahwa institusi Polri semakin kehilangan kepercayaan. Sebagian orang sering mengatakan, “Mereka menegakkan hukum dengan cara melanggar hukum.” Begitulah yang berkembang di masyarakat.

Pernah ada seorang aktivis yang mengajukan gugatan Judicial Review untuk menguji keabsahan posisi institusi Polri di bawah Presiden. Sayang, upaya ini tidak diteruskan, karena aktivis itu tampak “tertekan sekali”. Sekalipun dia basa-basi, tidak mengalami tekanan. Akar masalah korupsi atau mafia hukum, ada disini.

Dalam UU No. 20/Thn. 2002/ institusi Polri selain diberi wewenang Kamtibmas dan penegakan hukum, ia juga berada langsung di bawah Presiden. Dengan sendirinya, Polri sangat mudah ditunggangi penguasa untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum. Para penguasa bisa menyetir kasus-kasus hukum, sebab Polri merupakan salah satu mata rantai penting proses penegakan hukum. Suatu kasus bisa dibawa ke ranah hukum atau tidak, tergantung keputusan Polri. Seperti skandal Bank Century tidak pernah masuk ke pengadilan, karena Polri tidak mengangkat kasusnya ke proses hukum.

Bila saat ini Polri menjadi institusi yang ganas, hal ini bukan sesuatu yang aneh. Setidaknya ada 4 faktor yang menjadi pemicu munculnya sikap kesewenang-wenangan anggota Polri. Pertama, ambisi para penguasa untuk menjadikan institusi Polri sebagai kendaraan untuk merealisasikan tujuan-tujuan politik mereka, dan melindungi mereka dari dakwaan hukum. Kedua, peranan para perwira Polri yang bersimbiosis “mutualisme” dengan penguasa politik. Ketiga, proses militerisasi massif yang berkembang di tubuh Polri baik secara kuantitas maupun kualitas. Keempat, sikap publik yang cenderung membiarkan kesewenang-wenangan Polri.

Masyarakat juga ikut berperan dalam melahirkan institusi Polri berwajah ganas. Hal itu tercermin dari sikap masyarakat yang cenderung mendukung penuh tindakan-tindakan aparat Polri (khususnya Densus88) terhadap para aktivis yang diduga terlibat kasus terorisme. Media-media massa (terutama TVOne) amat sangat pro dengan kebijakan Polri seputar isu-isu terorisme. Padahal banyak pemuda-pemuda Muslim tak bersalah yang menjadi korban keganasan peluru-peluru aparat Polri. Tim Pembela Muslim (TPM) dan MER-C sering menemukan korban penembakan aparat yang sulit dibuktikan kesalahannya secara hukum. Kadang mereka ditembak di depan anak-isterinya.

Kalau kita perhatikan, respon masyarakat selama ini selalu mendukung aksi-aksi repressif Polri serta opini sepihak yang mereka lansir di media-media. Masyarakat tak pernah berpikir jernih dengan logika berikut: “Bagaimana kalau keluargaku tidak bersalah, lalu ditembak mati dengan tuduhan terlibat terorisme, lalu seumur hidup keluargaku dikenang masyarakat sebagai keluarga teroris?” Di mata mereka, pemuda-pemuda Muslim yang menjadi sasaran tembak aparat Polri, tidak perlu disesali apalagi sampai ditangisi. “Biarin saja deh! Itung-itung mengurangi jumlah penduduk,” pikir mereka.

Dan kini sasaran keganasan aparat Polri bukan hanya pemuda-pemuda Muslim, tetapi juga masyarakat sipil, mahasiswa, bahkan orang-orang kampung. Ya itu adalah akibat yang mesti masyarakat terima ketika sebelumnya mereka selalu menganggap sepele pelanggaran-pelanggaran HAM berat aparat Polri (Densus88) terhadap pemuda-pemuda Islam.

Masyarakat sekian lama mensyukuri ditembakinya pemuda-pemuda Islam tak bersalah atas nama “pemberantasan terorisme”, maka kini  arah tembakan itu menyasar ke tubuh-tubuh masyarakat sendiri. Begitulah, kezhaliman dalam pembiaran ini berakibat melahirkan kezhaliman terhadap diri sendiri. Namun, yang paling parah dari semuanya, adalah kezhaliman aparat itu sendiri. Bila tabungan kezhaliman mereka sudah memuncak, mereka akan dihukum oleh mekanisme Sunnatullah.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Innallaha laa yakh-fa ‘alaihi syai’un fil ardhi wa laa fis sama’i” (sesungguhnya Allah, tiada yang tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun di bumi maupun di langit). [Surat Ali Imran: 5]. Allah Maha Mengetahui segala kejadian yang terjadi di bumi, di langit, atau di mana saja. Setiap kezhaliman yang dilakukan, ada balasan di sisi-Nya. [AMW].

Iklan

9 Responses to Bangsa Indonesia Telah Melahirkan Polisi Ganas!

  1. Si Onoy... berkata:

    Peluru dari rakyat untuk rakyat.. betul2

  2. Raja Saudagar berkata:

    Bangsa Indonesia telah melahirkan polisi ganas
    Abi Syakir termasuk Bangsa Indonesia
    Maka Abi Syakir juga termasuk yang ikut melahirkan polisi ganas

    Apakah logika saya salah ?

  3. abisyakir berkata:

    @ Raja Saudagar…

    Bangsa Indonesia telah melahirkan polisi ganas. Abi Syakir termasuk Bangsa Indonesia. Maka Abi Syakir juga termasuk yang ikut melahirkan polisi ganas. Apakah logika saya salah?

    Logika Anda tidak salah, hanya sedikit nyeleweng…

    Sudah jelas-jelas dalam tulisan itu disebut, bahwa kondisi polisi seperti sekarang, salah satunya karena selama ini masyarakat selalu mendukung polisi (Brimob/Densus 88) ketika mereka memberangus para pemuda Muslim yang dituduh teroris. Kalau terhadap pelaku teror, okelah bisa dimaklumi; tetapi kepada pemuda-pemuda Islam yang dikait-kaitkan, tanpa ada kesalahan mereka; hal itu merupakan kezhaliman besar.

    Karena mereka selalu didukung untuk berbuat zhalim, akhirnya kezhaliman merembet kemana-mana. Itu karena sejak awal kita cenderung membiarkan kezhaliman kepolisian. Jadi kalau polisi jadi seperti ini, jangan salahkan siapa-siapa; tetapi salahkan diri sendiri. Adapun lewat blog ini kita tidak kurang-kurang mengkritik cara-cara zhalim aparat kepolisian itu. Jadi, kami “berlepas diri” dari kenyataan kondisi kepolisian saat ini.

    Logika Anda bisa diterima, kalau situasinya seperti ini:

    Di Indonesia banyak saudagar. Para saudagar itu ada yang berniaga secara licik dan curang. Karena Anda memakai nama @ Raja Saudagar, maka disimpulkan Anda telah berniaga secara licik dan curang.

    Kalau Anda bisa menerima logika ini, logika Anda di atas oke deh bisa diterima. Bagaimana, Bos?

    AMW.

  4. Raja Saudagar berkata:

    Di Indonesia banyak Saudagar.
    Para saudagar itu ADA yang berniaga secara licik dan curang.
    Maka Raja Saudagar telah berniaga secara licik dan curang.

    Tentu logika Anda tidak bisa dipersamakan dengan logika tulisan di atas. Premis pada tulisan anda bersifat ABSOLUT sementara premis pada komentar anda berisfat PARSIAL.

    Penjelasannya begini.

    Bangsa Indonesia Telah Melahirkan Polisi Ganas! Anda tidak membuat perkecualian di sini. Berarti yang Anda maksud Bangsa Indonesia secara keseluruhan. Termasuk Abi Syakir. Beda misalnya jika judulnya,

    1. Bangsa Indonesia telah melahirkan polisi ganas, kecuali Abi Syakir. Atau
    2. Bangsa Indonesia ADA yang melahirkan Polisi Ganas. (Berarti ada juga yang tidak).

    Sekarang lihat komentar Anda. Para saudagar itu ADA yang berniaga secara licik dan curang. ADA yang licik dan curang, berarti ADA YANG TIDAK licik dan curang. Artinya Raja Saudagar masih ada kemungkinan masuk ke yang licik dan curang atau ke yang tidak licik dan curang. Tampa premis tambahan, Anda tidak bisa serta merta memasukkan Raja Saudagar sebagai yang licik dan curang.

    Beda jika premis Anda ABSOLUT, tanpa perkecualian sbb :

    Saudagar Indonesia licik dan curang
    Raja Saudagar adalah salah satu saudagar Indonesia
    Maka Raja Saudagar pasti licik dan curang.

    Alur logika ini baru bisa diterima.

  5. abisyakir berkata:

    @ Raja Saudagar…

    Iya sih, memang dalam konstruksi logika itu, ada sisi kelemahannya. Ya, pada kata “ADA” itu. Saya bisa pahami kesimpulan Anda ini: “Tentu logika Anda tidak bisa dipersamakan dengan logika tulisan di atas. Premis pada tulisan anda bersifat ABSOLUT, sementara premis pada komentar anda berisfat PARSIAL.”

    Coba perhatikan kalimat Anda ini:

    1. Bangsa Indonesia telah melahirkan polisi ganas, kecuali Abi Syakir. Atau
    2. Bangsa Indonesia ADA yang melahirkan Polisi Ganas. (Berarti ada juga yang tidak).

    Kemudian kita kembali ke kalimat Anda semula: “Bangsa Indonesia telah melahirkan polisi ganas. Abi Syakir termasuk Bangsa Indonesia. Maka Abi Syakir juga termasuk yang ikut melahirkan polisi ganas.”

    Komentar:

    Secara logika, bangsa Indonesia (termasuk saya) telah melahirkan polisi ganas. Tetapi dalam entitas “indonesia” itu sendiri beragam kualitasnya. Ada yang status quo, ada yang labil, ada yang berpegang ke suatu tata-nilai. Pihak yang berpegang ke tata-nilai, sejauh dia telah melakukan kewajiban-kewajiban sosialnya -semampu kekuatannya- ya tidak otomatis diklaim sebagai bagian dari “makna general” Indonesia. Hal ini mirip sekali seperti ucapan para aktivis anti korupsi, misalnya ada yang berkata, “Bangsa kita payah! Dari dulu pemberantasan korupsi cuma omong kosong.” Secara logika mekanik, aktivis itu masuk dalam kategori “makna bangsa payah”. Ya, gimana lagi. Tetapi secara moralitas, kalau dia sudah berjuang semampunya untuk memberantas korupsi, dia terbebas dari “makna general” bangsa payah.

    Intinya begini, penamaan judul, kalimat, paragraf, dll. dalam sebuah tulisan, tidak selalu bisa didekati dengan logika mekanik. Jika kita ingin mem-frame semua itu dalam logika tersebut, nanti Anda akan letih sendiri. Tetapi ya tak apa, kalau pilihannya memang demikian.

    ‘Ala kulli haal, jazakumullah khair atas masukan dan koreksinya.

    AMW.

  6. Raja Saudagar berkata:

    Sebetulnya ini kritik saya terhadap gaya bahasa para (yang merasa diriinya) ustadz, penceramah, guru bangsa, demonstran, aktivis, atau siapa saja yang suka menggunakan ungkapan-ungkapan generalisasi, tetapi pada waktu yang sama ia merasa seakan-akan ia bukan bagian dari apa yang ia kritik itu.

    Misalnya :

    (1) Bangsa Indonesia ini bangsa yang gampang ditipu (tapi gue enggak lho, gue khan ustadz).

    (2) Bangsa Indonesia ini bangsa yang korup (tapi gue enggak lho, gue khan aktivis)

    (3) Bangsa Indonesia telah melahirkan polisi ganas (tapi gue enggak lho gue khan memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan, gue khan orang alim)

    (4) Bangsa Indonesia ini susah diajak maju (tapi gue enggak lho, gue khan intelek, banyak ilmu dan suka menulis dan ceramah).

    Padahal sebetulnya segalanya saat seseorang menggunakan generalisasi untuk mengkritik itu, semua bisa dikembalikan ke dirinya, misalnya demikian :

    Tentu saja Bangsa Indonesia susah maju, lha wong (ustadznya, aktivisnya, dll…) saja modelnya kayak ente, gak cerdas.

  7. abisyakir berkata:

    @ Raja Saudagar…

    Padahal sebetulnya segalanya saat seseorang menggunakan generalisasi untuk mengkritik itu, semua bisa dikembalikan ke dirinya, misalnya demikian :

    Tentu saja Bangsa Indonesia susah maju, lha wong (ustadznya, aktivisnya, dll…) saja modelnya kayak ente, gak cerdas.

    Komentar:

    Masya Allah Pak, kita diskusi biasa saja, tidak usah merendahkan seperti itu. Ya, biasa sajalah. Tapi gak apa-apa sih kalau memang karakternya memang demikian.

    Saya memohon kepada Antum untuk memahami penjelasan di bawah ini:

    “Perhatikan kisah para Nabi dan Rasul. Disana ada kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Luth, kaum Nabi Shalih, kaum Nabi Syuaib, kaum Nabi Huud, dan lain-lain. Nabi-nabi itu dalam Al Qur’an sering disebut dengan istilah “akhahum” (saudara-saudara mereka, maksudnya kaum itu). Nabi dan Rasul ini secara ETNIS/kaum disamakan dengan masyarakat di sekitarnya. Tetapi secara VALUE/akidah, mereka berbeda. Hal ini menjadi pelajaran berharga, bahwa secara genetis seseorang bisa satu keluarga besar dalam suatu masyarakat; tetapi secara AKIDAH, dia bisa berbeda dengan kaum di sekitarnya.”

    Maaf, wahai @ Raja Saudagar yang paling pintar, paling mengerti, dan paling cerdas… Apakah Anda pernah menarik kesimpulan dari kisah para Nabi/Rasul itu? Atau akal Anda terlalu Matematis, sehingga amat sangat sembrono dalam berpikir? Atau berpikir “tegak lurus” seperti anak kecil.

    Misalnya, saat ini media-media massa (seperti MetroTV) ramai-ramai menggugat anggota DPR. Siapakah anggota DPR? Mereka adalah wakil rakyat hasil Pemilu? Siapakah wakil rakyat? Mereka dipilih oleh rakyat banyak, termasuk para pekerja di MetroTV. Apakah dengan demikian, bisa dikatakan orang MteroTV “terlalu generalis”? Ya, tanyakan saja ke masyarakat luas.

    Seperti Anda menulis diri sebagai @ Raja Saudagar. Saya balik bertanya: Apa defisini saudagar? Apakah ada kerajaan saudagar? Siapa yang mengagkat Anda sebagai raja saudagar? Benarkah anda seorang raja saudagar? Apa parameter dan legalitasnya?

    Janganlah begitu Pak. Kalau Anda memang cerdas, buktikan kecerdasan itu!

    AMW.

  8. Dida Hidayat berkata:

    kalau menurut saya raja saudagar komentarnya ada sedikit sinis sama amw..iya kan?

  9. Agan berkata:

    Iya gan polisi itu tidak bedanya preman yang berseragam fuxx polisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: