Mengapa Nunun Susah Diadili?

Nun disana, dua orang pemuda, Diego dan Dogia, sedang ngobrol-ngobrol politik. Diego adalah sosok pemain bola, tadinya mau naturalisasi ke sebuah negara pulau terpencil di Pasifik, tapi tidak boleh sama ibunya. Sementara Dogia, dia pecinta bola, tapi cuma jadi komentator doang. Diego dan Dogia senang ngobrol soal bola. Tapi kali ini dia tertarik ngomong soal politik.

Diego: “Bosen ya ngomong bola terus. Kita bicara soal politik yuk…”

Dogia: “Hayuh…aku juga sudah kelu ngomong bola. Sesekali berlagak kayak politisi, ngomong politik gitu.”

"Keadilan Hukum Sudah Ambruk. Mendingan Nonton Si Diego..."

Diego: “Okelah… Lalu kita ngomong apa ya? Masalah Century, Mesuji, Nazaruddin, Ketua KPK baru, kasus Wisma Atlet dan Hambalang, soal tahun baru, pelarian Nunun Nurbaeti, atau apa ya?”

Dogia: “Itu saja tuh…soal rencana Tevez transfer ke AC Milan.”

Diego: “Wah, itu soal bola lagi. Udah bosen. Yang lain aja…”

Dogia: “He he he…maaf keliru. Ternyata, susah juga beralih ke kebiasaan baru. Aku gak biasa ngomong politik sih.”

Diego: “Gimana kalo kita bicara soal Nunun Nurbaeti?”

Dogia: “Kenapa mesti ngomong soal dia?”

Diego: “Yah, gimana lagi, penulis (blog ini) sudah bikin judul soal Nunun? Ntar kalau ngomong yang lain, dia kelamaan bikin ‘pengantar’.”

Dogia: “He he he…bener juga ya. Oke deh, kita mulai saja bicara soal Carlos Ibrahimovic…eh maaf, maksudnya Nunun Nurbaeti.”

Diego: “Begini… Kenapa ya Nunun Nurbaeti kok susah banget dibawa ke pengadilan? Dari dulu sampai sekarang, susah amat. Ya sakitlah, ya lupalah, ya tertekanlah, ya kaburlah, dan lain lain. Lama-lama masyarakat jadi bosen sendiri, akhirnya kasusnya dilupain. Iya kan?”

Dogia: (Setelah berpikir selama 12, 72 menit) “Huhui, aku tahu jawabannya, kenapa Nunun susah sekali diproses ke pengadilan. Alasannya, karena nama dia Nunun.”

Diego: “Maksud kamu gimana, tho?”

Dogia: “Nunun itu dalam segala bahasa punya arti negatif.”

Diego: “Maksud kamu apa, tho? Yang jelas gitu, lho!”

Dogia: “Nunun itu dalam bahasa Inggris bisa berarti ‘no no’. Artinya, tidak tidak. Dalam bahasa India bisa berarti ‘nehi nehi’. Artinya juga tidak tidak. Dalam bahasa Belanda bisa berarti ‘nei nei’. Sama juga, tidak tidak. Jadi, orang yang punya nama Nunun TIDAK BISA diproses di pengadilan.”

Diego: “Apa bener arti kata Nunun kayak gitu? Apa dalam bahasa Belanda atau India, artinya kayak gitu?”

Dogia: (Sambil nyengir…) “Gak tahu sih, aku cuma ngarang. Ha ha ha…”

Diego: “Tapi bener juga kalo dipikir. Itu kayaknya karena soal nama.”

Dogia: “Maksudnya gimana…”

Diego: “Coba perhatiin namanya. Nunun Nurbaeti. Iya kan.”

Dogia: “Terus…”

Diego: “Lihat pada nama Nurbaeti!”

Dogia: “Iya, iya…lalu kenapa?”

Diego: “Nurbaeti atau Nurbaiti itu dari bahasa Arab. Itu tersusun dari kata Nur dan Baiti. Nur artinya cahaya, Baiti artinya rumah.”

Dogia: “Iya, iya…lalu apa hubungannya Nur Baiti dengan kasus hukum Nunun itu?”

Diego: “Nur Baiti itu artinya ‘cahaya rumah’. Berarti, Nunun itu sama orangtuanya didoakan supaya jadi ‘cahaya rumah’. Maksudnya, dia tidak boleh ditahan, tetapi harus di rumah terus. Begitu kan…?”

Dogia: “Haah…” (tercengang dengan mata melotot, selama 7,36 menit).

Diego: “Iya kan… Ini analisa yang logis, Bro!”

Dogia: “Logis apaan? Itu sih ilmu cocok-cocokan. Pokoknya dicocok-cocokin. Kata orang Jawa, gathuk-gathukan.”

Diego: “Masih mending analisa aku ini, daripada kamu. Masak Nunun diartikan ‘no no’, ‘nehi nehi’, ‘nei nei’. Analisa apaan tuh?”

Hampir saja dua pemuda itu bertengkar. Tetapi setelah mereka sadar kalau PSSI saat ini pecah, mereka tak jadi bertengkar. “Sudahlah Diego, kita tak usah bertengkar. Nanti jadi kayak PSSI. PSSI sudah malu-maluin, meskipun ketuanya profesor. Kita jangan malu-maluin juga. Iya kan?” kata Dogia.

“Benar Dogia. Daripada bertengkar, yuk kita pulang. Sebentar lagi sore. Di TV ada acara kartun bagus, ‘Diego Penyelamat Binatang’. Itu tuh Diego, temannya Si Dora. Aku favorit banget dengan kartun itu. Kadang-kadang aku ikut bergoyang-goyang menirukan Si Diego. Ayo pulang, ntar keburu habis kartunnya,” kata Diego.

“Amit-amit dah…sudah kolot masih nonton film Dora. Amit amit…!” kata Dogia dalam hati, sambil menahan kesal karena temannya ternyata suka nonton kartun buat bocah kecil.

Intinya, jangan berharap banyak dari segala macam sandiwara hukum dan politik di negeri ini. Semua itu kebanyakan, nyampah!

Mine

Iklan

2 Responses to Mengapa Nunun Susah Diadili?

  1. khairul hadi berkata:

    Ustad apa nggak pusing jdi pemerhati politik???

  2. abisyakir berkata:

    @ Khairul Hadi…

    Makasih atas masukannya ya. Wah, bukan bukan pusing lagi. Tapi lelah banget… Maka itu, dalam tulisan2 terkini, saya sudah mual membahas soal sandiwara hukum & politik. Tulisan ini untuk “hiburan” atau selingan saja. Sambil menertawakan orang-orang yang disono (tetap bergumul dengan politik + hukum sekuler).

    Jazakumullah khair atas masukannya.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: