Antara Saudi dan Lawrence Arabiya

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di kalangan perbukuan di Indonesia, nama Rizki Ridyasmara bukan nama yang asing. Beliau dikenal sebagai ahli seputar isu Zionisme, konspirasi, freemasonry, dan lainnya. Dia juga mempunyai perhatian terhadap dominasi perusahaan-perusahaan kapitalis dunia di Nusantara. Tulisan beliau yang berjudul “The Knight Templar, The Knight of Chris” sempat menjadi best seller, ketika sedang merebak isu seputar “The Davinci Code”.

Lawrence Arabiya: Serpihan Sejarah yang Kerap Dipakai untuk Menutupi Jasa Muhammad bin Saud (Pendiri Saudi, 1737-1765 M).

Saya pernah bertanya kepada beliau tentang aliran Kristen Magdalenian, yang meyakini bahwa Yesus memiliki wanita simpanan (yaitu Magdalena itu sendiri). Dari rahim Magdalena ini diyakini lahir keturunan Yesus yang terus beranak-pinak sampai saat ini. Katanya, gereja Katholik Kepausan selalu memusuhi anak-keturunan Yesus dari Magdalena ini. Mereka selalu dikejar-kejar, dibunuh, ditangkap, dsb. Nah, untuk melindungi keturunan Yesus itu, maka dibentuklah kesatuan para kesatria, Knights Of Chris. Di bagian akhir penjelasannya, Bang Rizki menyimpulkan, bahwa Kestria Kristus itu sama saja dengan Knight Templar atau Freemasonry (di kemudian hari).

Ada satu pembahasan dalam sebagian buku Rizki yang tampaknya tidak obyektif, atau terkesan hanya berlandaskan sentimen. Ia adalah menyangkut peranan seorang kolonel Inggris, Thomas E. Lawrence. Atau kerap disebut Lawrence Arabiya. Dalam tulisan Rizki disebutkan, bahwa berdirinya Kerajaan Saudi adalah bagian dari konspirasi Zionis Internasional.

Dalam tulisan A. Hakim di eramuslim.com, disebutkan pernyataan dari Rizki Ridyasmara sebagai berikut:

Hal senada juga disampaikan Rizki Ridyasmara, sekalu penulis Novel-novel Konspirasi. Ia menyatakan bahwa Mekkah tengah dijadikan lahan mega proyek pemerintah Saudi. Tidak heran kini disamping Ka’bah telah dibangun hotel-hotel mewah, bahkan gerai makanan yang menyangga dana zionis seperti Mc Donald pun telah bermunculan di sekitar Mekkah. “Bisa kita bayangkan bagaimana kita bisa khusyuk beribadah jika kita dikelilingi oleh kemenawahan seperti itu,” terangnya.

Rizki Ridyasmara menyatakan bahwa penetrasi Jaringan Zionis Yahudi Internasional di Arab Saudi telah berlangsung lama. Baginya, lepasnya Arab Saudi dari Kekhilafahan Turki Utsmani tidak lepas dari permainan Zionis Internasional. Salah satunya adalah ketika perwira Yahudi Inggris, Letnan Terrecen Edward Lawrence disusupkan untuk mengendalikan Pasukan Saudi. (Ke Depan, Kita Mungkin Tak Bisa Naik Haji).

Singkat kata, sebelum Saudi berdiri, Inggris menerjunkan seorang kolonel yang bernama Thomas Edward Lawrence untuk memprovokasi keluarga Ibnu Saudi agar memberontak terhadap Khilafah Turki Utsmani. Ternyata, gerakan Lawrence sukses besar, sehingga Saudi berdiri, dan akhirnya Khilafah Utsmaniyyah runtuh. Dapat disimpulkan, Lawrence berhasil menghasut berdirinya Kerajaan Saudi, dengan konsekuensi (resiko) runtuhnya Khilafah Utsmani. Karena Saudi dibentuk oleh Lawrence yang berasal dari agen Inggris (Zionis), disimpulkan bahwa Kerajaan Saudi adalah bentukan Zionis, atau bahkan diyakini sebagai Zionis itu sendiri.

Kalau ada pengamat, sejarawan, atau penulis berpikir dengan logika seperti di atas, wah sangat disayangkan. Ia bukan logika yang benar. Ia tidak sesuai dengan fakta-fakta sejarah. Ia mencampur-adukkan realitas sejarah secara gegabah. Sebaiknya kita tidak menulis sejarah dengan cara seperti itu.

Tidak dipungkiri, bahwa kondisi Kerajaan Saudi tidak ideal, seperti yang diharapkan. Banyak kelemahan-kelemahan di dalamnya. Hal itu bukan saja disadari oleh kaum Muslimin di luar Saudi, di dalam Saudi pun banyak yang prihatin. Hal ini terjadi karena memang kondisi kaum Muslimin di seluruh dunia sedang lemah. Andaikan negara-negara Muslim lain seperti Mesir, Suriah, Pakistan, Indonesia, Turki, dll. dalam keadaan kuat; niscaya Saudi juga akan kuat. Tetapi ya itulah yang terjadi…kita begitu detail dalam mengeritik Saudi, sementara kita lupa dengan kondisi bangsa kita sendiri.

Kesimpulan bahwa Kerajaan Saudi didirikan oleh Lawrence Arabiya, atau didirikan oleh Zionis Israel, adalah kesimpulan SESAT. Begitu juga, berdirinya Kerajaan Saudi berakibat meruntuhkan Khilafah Turki Utsmani, juga merupakan kesimpulan SESAT. Hal-hal demikian hanya akan diyakini oleh mereka yang apriori, sentimen, dan tidak obyektif.

Bantahannya sebagai berikut:

[1]. Akar Kerajaan Saudi adalah kekuasaan Emir Muhammad bin Saud di Dir’iyyah, Najd. Inilah pendiri Dinasti Saudi. Beliau menjadi Emir pada periode tahun 1737-1765 M (Lihat buku: Sejarah Islam, Ahmad Al Usairy, hal. 380-381). Lihatlah dengan mata hati, keluarga Dinasti Saud sudah muncul sejak tahun 1737 H, bahkan sejak sebelumnya. Sedangkan, runtuhnya Khilafah Utsmani baru terjadi tahun 1924.

[2]. Sudah merupakan hal biasa ketika dalam Dinasti-dinasti Islam selalu ada perebutan kekuasaan. Secara fakta sejarah, itu sudah terjadi sejak era Muawiyyah Ra, era Dinasti Umayyah, era Dinasti Abbasiyyah, era Andalusia, Dinasti Mamalik, Dinasti Ayyubiyyah, hingga akhirnya Dinasti Turki Utsmani. Bagi yang membaca sejarah, perebutan kekuasaan antar keluarga bangsawan, bukan hal asing dalam sejarah dinasti-dinasti Muslim.

[3]. Keadaan yang terjadi antara Keluarga Dinasti Saud dengan Khilafah Turki Ustmani ada dalam konteks konflik perebutan kekuasaan. Akibat dari konflik ini, Kerajaan Saudi jatuh-bangun sampai ada 3 periode kekuasaan Saudi. Hal-hal demikian jarang diperhatikan oleh pemerhati yang sentimen. Pihak-pihak yang ingin merdeka dari Turki Utsmani, atau ingin memiliki wilayah sendiri, bukan hanya Dinasti Saudi di Najd, tetapi banyak. Ada yang dari wilayah Irak, Mesir, Afrika Utara, Asia Tengah, Eropa, dll. Jadi tidak adil, jika dalam konflik politik ini, hanya Kerajaan Saudi yang dipojokkan. (Ingin tahu fakta lebih banyak, baca tulisan Dr. Ali Muhammad Shalabi, tentang Daulah Ustmaniyyah).

[4]. Dalam literatur sejarah dituliskan fakta Zionisme Internasional: “Pada tahun 1897, diselenggarakan Konferensi Zionisme Pertama di Basel, Swiss, dibawah pimpinan Theodore Hertzl.” Lihatlah fakta ini dengan mata terbuka. Kalau belum terbuka, cobalah membuka mata di ember berisi air penuh, agar hilang rasa kantuk. Wallahi, Zionisme yang sering dituduhkan itu merancang gerakan politiknya di konferensi Basel ini. Nantinya, Theodore Hertzl akan datang ke Sultan Abdul Hamid II untuk meminta tanah Palestina dengan imbalan uang emas jutaan gulden. Sedangkan, Kerajaan Dinasti Saudi sudah muncul sebelum itu, sejak era Muhammad bin Saud (1737-1765). Ia sudah muncul lebih dari 100 tahun sebelumnya.

[5]. Kalau membaca buku Road To Mecca karya Ustadz Muhammad Asad (Leopold Weiss), disana dijelaskan kronologi berdirinya Kerajaan Saudi Jilid III di Riyadh. Gerakan itu dipimpin Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman bin Faishal Al Saud. Dia bergerak bersama 40 pemuda-pemuda dari suku Badui Najd untuk merebut kekuasaan Ibnu Rasyid di Riyadh. Disini sama sekali tidak ada peranan Lawrence Arabiya. Lawrence baru muncul kemudian, setelah Kerajaan Saudi memiliki fondasi di Riyadh dan sekitarnya.

[6]. Adalah kenyataan tak terbantahkan, bahwa kondisi Khilafah Turki Utsmani semakin melemah di awal abad ke-20. Banyak wilayah-wilayah Turki di Eropa yang melepaskan diri, seperti Rumania, Bulgaria, Polandia, dll. Di sisi lain, gerakan politik Abdul Aziz Al Saud tidak pernah menyentuh wilayah Turki. Bagaimana hal itu bisa dianggap sebagai pemicu kehancuran. Bahkan karena lemahnya Turki Utsmani, mereka tak sanggup menghadapi pasukan Kerajaan Saudi, sehingga harus meminta bantuan Gubernur Mesir, M. Ali Pasha. Kerajaan lemah dimanapun, ia akan kehilangan wibawa dan wilayahnya. Hal ini sudah menjadi RAHASIA SEJARAH yang sangat umum. Jadi kalau wilayah-wilayah itu melepaskan diri, yang disalahkan ialah kekuasaan induknya. Mengapa mereka lemah dan tidak berwibawa?

[7]. Banyak orang begitu senang mengungkap peranan Lawrence Arabiya, tetapi mereka tidak mau mendengar penuturan dari saudara-saudaranya sendiri sesama Muslim. Mengapa mereka begitu nafsu menonjolkan peranan Lawrence, dan mengecilkan peranan kaum Muslimin sendiri?

Singkat kata, Lawrence Arabiya itu muncul belakangan setelah fondasi Kerajaan Saudi di Riyadh dan sekitarnya. Begitu juga konflik antara Dinasti Saudi dengan Khilafah Turki Utsmani adalah sejenis konflik politik (perebutan kekuasaan) yang sudah biasa terjadi dalam sejarah Islam. Dan hal itu sudah muncul lebih dari 100 tahun sebelum Zionisme internasional membuat konferensi pertama di Basel, Swiss.

Kalau menulis, hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai mau menerangi Ummat, malah akibatnya menyebarkan fitnah. Fitnah yang tersebar itu sangat berat timbangannya di sisi Allah Al Khabir.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[Abah Syakir].

42 Balasan ke Antara Saudi dan Lawrence Arabiya

  1. bry mengatakan:

    Ustadz, saya bingung nih, tolong kasih penjelasan yang sedetil2nya ndan seobjektif2nya, soalnya saya penggemar berat Ottoman.

  2. abisyakir mengatakan:

    @ Bry…

    Alhamdulillah. Akhil karim, sebagai Muslim, kita tetap menjunjung tinggi sejarah Ahlus Sunnah di masa lalu, termasuk sejarah Khilafah Islamiyyah Turki Utsmani. Tetap kita mengagumi, memuji, dan mengambil faidah dari catatan baik sejarah mereka. Perlu diketahui, dalam sejarah Khilafah Turki Utsmani, tidak banyak muncul sekte2 menyimpang seperti di masa Bani Umayyah atau Bani Abbassiyah. Itu salah satu keutamaan mereka.

    Namun salah satu kelemahan Khilafah Turki Utsmani, kata pakar sejarah, ialah “usia panjang-nya”. Kalau tidak salah durasi kepemimpinan mereka lebih dari 900 tahun. Nah, dalam peradaban setua itu, atau peradaban yang “beranjak senja”, disana kerap terjadi kelemahan-kelemahan. Dan hal ini manusiawi. Berbagai masalah yang timbul di Turki Utsmani, termasuk lepasnya negara2 Eropa, lepasnya negara2 Asia (termasuk Timur Tengah) dari kontrol Turki Utsmani, hal itu terjadi di era akhir-akhir peradaban mereka. Saya sendiri mengedit buku “Khilafah Utsmaniyyah” karya Dr. Ali Muhammad As Shalabi. Saya tahu, sesuai paparan buku itu, tentang masa-masa sejarah Turki Utsmani di akhir peradabannya. Termasuk seputar berdirinya Kerajaan Saudi.

    Adapun soal berdirinya Saudi, singkat kata begini: “Konflik politik antara kekuatan-kekuatan bangsawan Muslim (dalam hal ini contohnya antara Kesultanan Turki Utsmani dan Emir Dir’iyyah di Najd) hal itu sudah sangat sering terjadi. Bahkan antara Muawiyyah Ra dan Ali bin Abi Thalib Ra, terjadi konflik, padahal keduanya berstatus Sahabat Nabi (namun Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Muawiyah, tidak diragukan lagi). Hal demikian mestinya dianggap sebagai bagian dari sejarah konflik politik itu sendiri, bukan ditarik ke ranah KONFLIK AKIDAH antara kaum Wahhabi dengan Turki Utsmani.”

    Nah, penjelasan saya dalam tulisan itu, ingin memberi koridor seputar latar belakang “konflik politik”-nya. Jangan dibawa-bawa ke ranah ideologis, apalagi sampai dikait-kaitkan dengan Zionis Yahudi. Itu kesimpulan sembrono. Syukran jazakumullah khair.

    AMW.

  3. Duriroxy mengatakan:

    Sejak masa awal kelahiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792 M) hingga awal berdirinya Kerajaan Arab Saudi ke-1 sampai ke-3 di dataran tinggi Najd; wilayah Najd tidak termasuk di dalam kekuasaan Daulah Turki Utsmani (1299-1923). Wilayah Najd termasuk Tribal Area di mana para penguasanya adalah suku-suku dan kabilah lokal. Silih bergantinya kekuasaan dari tangan yang satu ke tangan yang lain menjadi pemandangan yang umum pada masa-masa itu.

    Jadi bagaimanakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Kerajaan Arab Saudi ke-1 sampai ke-3 memberontak terhadap Daulah Turki Utsmani sedangkan wilayahnya sendiri dari awal berdirinya tidak termasuk di dalam kekuasaan Daulah Turki Utsmani?

    Bahkan jika mau jujur, kenapa harus Saudi yang dipojokkan? LIhatlah fakta sejarah, Kekalahan Turki Utsmani di Eropa itulah yang memporak-porandakan wilayahnya. Bahkan Daulah Turki Utsmani terus mengalami kemunduran sejak awal abad ke-18, ditandai dengan lepasnya wilayah-wilayah Eropa dan Balkan. Tak hanya itu Mesir, Yordania, Syiria, Maghribi, dan wilayah Afrika lainnya menjadi pelopor awal daerah-daerah Islam yang melepaskan diri dari Daulah Turki Utsmani. Dari situlah, seiiring dengan melemahnya kekuatan, maka hilang pulalah kendali atas wilayahnya, sehingga runtuh pula tatanan yang ada. Logis.

    Untuk memperluas pengetahuan tentang sejarah pasang surut dan peta wilayah Daulah Turki Utsmani, lihat a.l. di situs http://en.wikipedia.org/wiki/Ottoman_Empire , http://ottomanmilitary.devhub.com/ dan http://en.wikipedia.org/wiki/File:Osmanli_Imparatorlugu_1300-1923.gif

  4. Siyo'i... mengatakan:

    Saudi Pemberontak Kekholifahan

    saudi salah satu perongrong yang menyebabkan runtuhnya kekholifahan Islam, padahal masa kesultanan turki belum hancur, ternyata pendiri saudi merongrong dan memberontak untuk melepaskan diri dari kekholifahan yang sah.
    lalu bagaimanakah hukumnya memberontah pd penguasa islam yang syah:
    Dari Fudhalah bin Ubaid berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
    “Tiga golongan yang tidak akan ditanya keadaan mereka (pada hari kiamat) : Seorang laki-laki yang menyempal dari Al Jamaah dan bermaksiat kepada imamnya kemudian mati dalam keadaan bermaksiat. Seorang budak yang melarikan diri dari tuannya dan kemudian mati. Seorang wanita yang ditinggal suaminya dalam keadaan cukup nafkahnya kemudian dia berdandan sesudahnya.” (HR. Ibnu Abi Ashim dan Ibnu Hibban dan Al Hakim)

    Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
    “Barangsiapa yang menyempal dari Al Jamaah maka jika ia mati, matinya mati jahiliyah.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

    Dari An Nu’man bin Basyir radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
    “Al Jamaah itu adalah rahmat dan perpecahan itu adalah adzab.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim)

    Dari Urfajah Al Asyja’i radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
    “Barangsiapa yang mendatangi kalian dan memerintahkan kalian berkumpul (untuk mengangkat amir) kepada seseorang dan menginginkan memecah-belah barisan kalian maka bunuhlah!” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

  5. abu aisyah mengatakan:

    Alangkah baiknya kalo dibaca dulu baru berkomentar.

  6. […] [=] Antara Saudi dan Lawrence Arabiya. […]

  7. nur.yanto10@gmail.com mengatakan:

    Tidak bisa berdiri kerajaan Saudi, kecuali bantuan dari Lawrance, memang jauh sebelumnya (+ – 300 th) sudah ada cikal bakalnya tapi gak berdaya untuk memproklamirkan, Yahudilah yang banyak berjasa.
    Sebagaimana untuk menanggulangi pemberontak Juhaiman, dia panggil tentara Yahudi dari Prancis

  8. abisyakir mengatakan:

    @ Nuryanto…

    Tidak bisa berdiri kerajaan Saudi, kecuali bantuan dari Lawrance, memang jauh sebelumnya (+ – 300 th) sudah ada cikal bakalnya tapi gak berdaya untuk memproklamirkan, Yahudilah yang banyak berjasa. Sebagaimana untuk menanggulangi pemberontak Juhaiman, dia panggil tentara Yahudi dari Prancis.

    Respon: Negara Yahudi itu baru memproklamirkan diri dalam bentuk Israel pada tahun 1948, sementara Saudi sudah berdiri pada tahun 1910, sejak Raja Abdul Aziz menaklukkan Riyadh. Itu pun Saudi jilid III. Adapun Saudi jilid I sudah berdiri sejak era 1740, dengan rajanya Emir Muhammad Al Saud. Sementara konferensi Zionis di Bassel yang nantinya melahirkan Zionisme internasional dan Israel, berlangsung sekitar tahun 1880-an. Ya terserah Anda deh…sudah diberitahu yang sesuai sejarah, kok ngeyel? Kasihan…

    Admin.

  9. Yuhui mengatakan:

    @nuryanto….
    bisa pak abisyakir…..mungkin orang ini pengikut SYIAH atau SUFI, 2 kelompok ini paling ngeyel bahwa SAUDI adalah bentukan YAHUDI………kasihan dech looo para pengikut syiah dan sufi, taqlid buta bangettttttt……

  10. rio mengatakan:

    kenapa musti bawa2 syiah bang yuhui?
    liat fakta saat ini..bang. satu2 negara islam adalah iran yg bermazhab syiah.iran merupakan negara paling ditakuti as dan israel.lalu liat pula di lebanon.yg mengalahkan israel adalah hizbullah yg bermazhab syiah.lalu sejarah sunni mana pernah menang perang lawan israel meskipun sdh keroyokan .ingat perang 6 hari,dsbnya.kalo saja warga palestina bermazhab syiah tak akan mungkin negara israel bisa berdiri di palestina.lalu ingat lagi perang khaibar di jaman nabi SAWW,siapa yg menghancurkan benteng terkuat yahudi benteng khaibar kalo bukan imamAli as.wahai pemeluk agama sunni kembali lah ke jalan yg diridhoi ALLAH SWT yaitu jalan ahl bayt nabi SAw.W

  11. abisyakir mengatakan:

    @ Rio…

    Kenapa musti bawa2 syiah bang yuhui?

    Respon: Karena Syiah paling berkepentingan untuk menyebarkan fitnah, bahwa Arab Saudi didirikan oleh Yahudi.

    Liat fakta saat ini..bang. satu2 negara islam adalah iran yg bermazhab syiah.iran merupakan negara paling ditakuti as dan israel.

    Respon: Yang namanya Islam ya Ahlus Sunnah. Syiah Rafidhah itu bukan Islam, kata Imam Ibnu Hazm Al Andalusi. Syiah Rafidhah merupakan gado-gado dari ajaran: mistik, permisifisme, seks bebas, kemusyrikan, kasta sosial, dendam terhadap Islam, dll. Tidak ada negara Islam disana. Negara Islam ya seperti zaman Khilafah Islamiyyah, bukan seperti model Iran.

    Lalu liat pula di lebanon.yg mengalahkan israel adalah hizbullah yg bermazhab syiah.lalu sejarah sunni mana pernah menang perang lawan israel meskipun sdh keroyokan .ingat perang 6 hari, dsb. nya.

    Respon: Sebenarnya apa pernah terjadi perang terbuka antara Libanon Vs Israel, yang benar-benar terbuka seperti perang di Afghanistan, Irak, Bosnia, Suriah, dll. Apa pernah terjadi perang begitu? Paling perang perbatasan. Perang yang Hizbullah “menangkan” itu perang perbatasan, bukan perang terbuka. Israel sejak berdiri tahun 1948 tidak pernah melalukan agresi secara terbuka ke wilayah lain, selain Palestina. Saat perang 6 hari, pasukan Mesir bisa mengalahkan pasukan Israel, sehingga mereka berhasil merebut Sinai. Pasukan Suriah juga pernah mengalahkan Israel, sehingga bisa merebut dataran tinggi Golan. Anda ini terlalu berlebihan dalam menilai “kemenangan” Hizbullah.

    Kalo saja warga palestina bermazhab syiah tak akan mungkin negara israel bisa berdiri di palestina.

    Respon: Justru selama ini Hamas dibantu Iran, makanya gak menang-menang. Coba Hamas membuka pintu bagi para mujahidin Ahlus Sunnah, baik dari Saudi, Yaman, Mesir, Yordan, Aljazair, Kuwait, dll. akan runtuh itu Israel. Sengaja selama ini Israel membuat “benteng negara” yaitu Suriah, Libanon, Palestina, Mesir, untuk menghalangi masuknya Mujahidin Ahlus Sunnah. Kalau mereka masuk, Israel tak akan bisa bertahan lama. Uni Soviet dan Amerika saja sudah diruntuhkan oleh Mujahidin Ahlus Sunnah, apalagi hanya Israel.

    Lalu ingat lagi perang khaibar di jaman nabi SAWW,siapa yg menghancurkan benteng terkuat yahudi benteng khaibar kalo bukan imamAli as.wahai pemeluk agama sunni kembali lah ke jalan yg diridhoi ALLAH SWT yaitu jalan ahl bayt nabi SAw.

    Respon: Anda ini (maaf) kurang pintar. Bagaimana mungkin Anda menyebut Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait sebagai Syiah? Mereka itu Ahlus Sunnah. Kalangan Syiah cuma ngaku-ngaku saja. Ahlul Bait tak satu pun yang Syiah. Kemenangan Khaibar itu kemenangan Ahlus Sunnah, bukan kemenangan Syiah. Maka itu Khalifah Ali diriwayatkan pernah membakar Ibnu Saba’ yang ingin menyembah dirinya.

    Admin.

  12. Hamba Allah mengatakan:

    memang dinasti saud sudah ada..tapi hanya sebatas nejad

    bukan seluruh arab..!!

    jika memang mereka (kelg saud dan wahabi) memang ingin melepaskan diri dari kekhalifahan Turki Utsmani … mengapa harus meminta bantuan dari Inggris (melalui agen zionis) … ???

    dan fakta sejarah membuktikan mereka bersekutu dengan kafir utk merebut sebagian besar jazirah arab dan membunuh kaum mayoritas muslimin disana trutama di Tha’if semua ulama2 besar Ahlussunnah wal jamaah dibunuh, anak2 dan wanita yg dilarang nabi utk dibunuh pun turut dibunuh termasuk wanita dan anak2… dengan dalil jihad dan memberantas kemusyrikan (mengkafirkan ummat muslim yg tdk sepaham dgn mereka)..

    ini juga akar permasalahn dari bersekutunya Muhammad bin Saud dengan Muhammad bin abd.Wahhab (WAHABIYAH)

    dan Muhammad bin abd.Wahhab (WAHABIYAH) ini sendiri adalah hasil didikan dari mr.Hamper (agen zionis israel yg mendoktrin ajaran agama islam yg menyimpang dgn menggunakan paham Ibnu Taimiyah)

    maka dari itu Arab Saudi sendiri memang tidak terlepas dari FAKTA SEJARAH… ZIONISME…

    cobalah membuka mata dan hati anda melihat ini semua…

    jangan membela sesuatu yang sudah salah dari awalnya dan memang salah pada akhirnya…

  13. abisyakir mengatakan:

    @ Hamba Allah…

    memang dinasti saud sudah ada..tapi hanya sebatas nejad. bukan seluruh arab..!! jika memang mereka (kelg saud dan wahabi) memang ingin melepaskan diri dari kekhalifahan Turki Utsmani … mengapa harus meminta bantuan dari Inggris (melalui agen zionis) … ???

    Komentar: Lagian Saudi kan tidak menguasai seluruh Arab, Mbak. Tidak ada ide melepaskan diri itu, hanya karena waktu itu Khilafah Turki sudah lemah. Bukan hanya Saudi, puluhan wilayah Turki di Eropa sudah lebih dulu memisahkan diri. Mengapa tidak Anda sebut negara2 di Eropa itu sebagai pendukung Zionis?

    dan fakta sejarah membuktikan mereka bersekutu dengan kafir utk merebut sebagian besar jazirah arab dan membunuh kaum mayoritas muslimin disana trutama di Tha’if semua ulama2 besar Ahlussunnah wal jamaah dibunuh, anak2 dan wanita yg dilarang nabi utk dibunuh pun turut dibunuh termasuk wanita dan anak2… dengan dalil jihad dan memberantas kemusyrikan (mengkafirkan ummat muslim yg tdk sepaham dgn mereka).. ini juga akar permasalahn dari bersekutunya Muhammad bin Saud dengan Muhammad bin abd.Wahhab (WAHABIYAH)

    Komentar: Ya, ini kan Anda dan aneka manusia semisal, terpengaruh provokasi buku2 Syaikh Zaini Dahlan. Padahal Syaikh Zaini itu tidak tahu banyak fakta2 sejarah dakwah Wahabi.

    dan Muhammad bin abd.Wahhab (WAHABIYAH) ini sendiri adalah hasil didikan dari mr.Hamper (agen zionis israel yg mendoktrin ajaran agama islam yg menyimpang dgn menggunakan paham Ibnu Taimiyah). maka dari itu Arab Saudi sendiri memang tidak terlepas dari FAKTA SEJARAH… ZIONISME… cobalah membuka mata dan hati anda melihat ini semua… jangan membela sesuatu yang sudah salah dari awalnya dan memang salah pada akhirnya…

    Komentar: Ya hati-hatilah bersikap, jangan memfitnah sesama Muslim. Berat lho nanti akibatnya di akhirat. Soal “memoar mr. hempher” itu sudah dibantah di buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi”. Silakan dilihat disana ya…

    Admin.

  14. HERI mengatakan:

    permisi. Bismillahirrahmaanirrahiim.

    …… jangan tuduh saya Wahabi atau Salafi dan Syiah.
    pembahasan di TV National Geograpic (punya orang kafir) melakukan penelitian di lokasi T.E Lawrence beroperasi. Dibahas T.E Lawrence membantu kelompok suku Baduwi Arab merusak jalur transportasi kereta, bahkan menembaki yang berhenti di rel yang rusak itu. yang tujuannya supaya pemerintah Islam berpusat di Turki kesulitan akses ke Arab. ini bisa disebut pembrontakan terhadap Khalifah (penerus kepemimpinan Muhammad SAW). Karena kekilafahan sedang lemah dan ada Konspirasi di Turki maka pemberotakan ini tidak terurus.
    Saya tidak habis pikir suku Baduwi yang terkenal paling bodoh di Arab bisa memimpin Arab. suku-suku yang lain yang lebih pintar pada kemana.

    Agen rahasia barat yang di kirim ke Arab ada banyak, T.E Lawrence hanya salah satunya saja dan tersukses dalam misinya. apa suksesnya.
    1. memecah belah kekuatan dan persatuan, paling utama adalah Arab.
    2. mencegah munculnya Khalifah baru setelah khalifah di Turki bubar. Arab adalah paling potensial. karena Munculnya Khalifah baru sangat mudah tidak ribet, lihat para Sahabat Nabi cara mengangkat pemimpin, tidak ribet dibanding memilih Presiden. adanya kerajaan Saudi menjadi pengangkatan khalifah baru menjadi tidak ada. adanya kerajaan Saudi merupakan bagian kesuksesan T.E Lawrence.
    dan sekarang untuk menegakan Khilafah hambatan utamanya adalah penguasa setempat. Indonesia, Saudi Arabia, Mesir, Irak, pokoknya semuanya. apa Anda terlibat dalam hal ini.

  15. abisyakir mengatakan:

    @ Heri…

    1. Anda mengambil referensi National Geograpic. Tentu mereka punya persepsi sendiri, seperti para orientalis. Ya, Anda sudah tahulah, bagaimana mencerna opini2 orang non Muslim itu.

    2. Kita sudah sering sebutkan disini, perseteruan Emir Ibnu Saud dengan Turki Utsmani itu sudah terjadi sejak sekitar 1750-an. Jauh-jauh hari sebelum Khilafah Utsmani bubar (1924). Buktinya, kerajaan Saudi itu jatuh bangun sampai 3 KALI (Saudi I, Saudi II, Saudi III sampai sekarang). Konflik politik begini, sudah terlalu banyak terjadi dalam sejarah Islam. Coba lihat, bagaimana konflik politik di masa Bani Umayyah, Bani Abbassiyah, Bani Saljuqiyah, Bani Mamalik, Turki Utsmani, dll.

    3. Kalau Inggris menurunkan agen TE. Lawrence, itu untuk menumpang konflik politik yang sudah ada. Mereka hanya menumpang saja. Sedangkan yang merintis Kerajaan Saudi Jilid III, adalah Raja Abdul Aziz, setelah mengalahkan Ibnu Rasyid di Riyadh pada 1910. Waktu itu, Inggris dan Lawrence belum muncul disana.

    4. Lagi pula, ini yang mesti diingat, gerakan politik Ibnu Saud di Najd dan Hijaz, tidak menyinggung sedikit pun wilayah Turki. Bagaimana bisa gerakan itu meruntuhkan Khilafah, sementara Khilafahnya sendiri berada di tempat yang jauh (dipisahkan negara-negara seperti Suriah, Yordan, Libanon, Palestina, Irak, dll).

    5. Kalau kemudian Saudi melepaskan diri dari Turki Utsmani, apa hanya negara itu yang melepaskan diri? Bagaimana dengan Mesir, Suriah, Yordan, Irak, Yaman, negara-negara Afrika Utara, dll.? Mengapa Anda “tidak menghukum” negara-negara itu juga?

  16. abisyakir mengatakan:

    @ Heri…

    Saya tidak habis pikir suku Baduwi yang terkenal paling bodoh di Arab bisa memimpin Arab. suku-suku yang lain yang lebih pintar pada kemana.

    Jawab: Perkataanmu ini tidak mencerminkan kata-kata seorang Muslim. Perkataanmu ini sangat rasialis, mirip omongan Yahudi dan orientalis. Ingat wahai manusia…dulu Nabi Saw di masa kecil, beliau disusukan ke wanita Arab pedalaman (Halimah As Sa’diyah). Kamu pikir, mereka tidak memiliki kebaikan ya? Lalu yang punya kebaikan orang macam kamu yang ngomongnya seperti “preman jalanan”.

    Apa Anda terlibat dalam hal ini?

    Jawab: Terlibat dalam hal apa? Terlibat meruntuhkan Khilafah Turki Utsmani? Terlibat bersama TE. Lawrence? Terlibat sebagai agen Zionis dan Inggris? Terlibat dalam menyokong Saudi? Terlibat dalam membela Ahlus Sunnah dan membantah Syiah?

    Kalau Anda menuduh saya bagian dari Zionis atau Inggris, buktikan hal itu? Datangkan bukti-bukti Anda! Kalau kita terlibat membela Ahlus Sunnah dan membantah Syiah; mudah-mudahkan Allah Ta’ala memasukkan saya ke dalamnya, amin Allahumma amin.

    Admin.

  17. HERI mengatakan:

    Arab Saudi dan Wahabi Memerangi Khalifah Islam Turki dan Serahkan Palestina ke Yahudi?
    Insya Allah sebetulnya banyak kaum Wahabi yang lurus dan berniat benar-benar membersihkan Islam dari Bid’ah dan kemusyrikan. Namun berbagai fakta di bawah hendaknya membuka mata kita adanya persekongkolan dengan kaum kafir harbi seperti Inggris untuk memerangi sesama Muslim seperti Kekhalifahan Islam Turki Usmani atau pun pembantaian ummat Islam di Mekkah dan Madinah dengan tuduhan syirik, khurafat, dsb. Mudah-mudahan kita terhindar dari perilaku Khawarij.

    Kaum Wahabi yang ada di bawah mungkin tidak paham. Namun Muhammad bin Abdul Wahab bekerjasama dengan Raja Arab Saudi Ibnu Saud dengan imbalan sebagai Mufti. Sedang Raja Arab Saudi bekerjasama dengan Inggris memerangi Khalifah Islam Turki Usmani. Sekarang pun begitu dengan kerjasama dengan AS sedang yang diperangi adalah Iraq, Libya, dan kelompok Islam lainnya.
    Eramuslim.com. Sebuah dokumen kuno mengungkapkan bagaimana Sultan Abdul Aziz, pendiri Arab Saudi meyakinkan Inggris untuk menciptakan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina, sebuah laporan berita mengatakan.
    Dokumen, mengekspos komitmen mendalam dari Raja Saudi pertama dengan Inggris dan memberikan jaminan kepada pemerintah Inggris untuk memberikan Palestina kepada Yahudi.

    Dokumen kontroversial, yang ditulis sebagai pemberitahuan untuk kemudian didelegasikan kepada Mayor Inggris Jenderal Sir Percy Cox Zachariah, merupakan bukti lain dari pendekatan bermusuhan keluarga kerajaan Saudi untuk bangsa Palestina.
    “Saya Sultan Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud al-Faisal dan Saya mengalah dan mengakui seribu kali untuk Sir Percy Cox, utusan Inggris, bahwa saya tidak keberatan untuk memberikan Palestina kepada Yahudi miskin atau bahkan untuk non- Yahudi, dan saya tidak akan pernah melanggar perintah Inggris,” tulis isi dokumen kuno yang konon ditandatangani oleh Raja Abdul Aziz tersebut.
    Catatan ini juga mengekspos bagaimana kerajaan Saudi menunjukkan kesetiaannya kepada pemerintah Inggris.
    Inggris menggunakan atase penting mereka untuk Arab Saudi pada tahun 1930, kedua negara pada masa itu saling berhubungan erat.
    Kekuasaan keluarga Al Saud menambahkan pentingnya Arab Saudi untuk Inggris, sebagaimana Inggris percaya kepada Ibnu Suud bisa sangat mempengaruhi negara-negara Arab.

    Kebenaran dokumen ‘kuno’ ini belum ada konfirmasi kebenarannya. Bisa jadi benar bahkan bisa jadi salah. Namun hubungan keluarga pendiri Saudi dengan Inggris secara fakta memang sudah terjalin dari dulu.(fq/prtv)
    http://www.eramuslim.com/berita/dunia/dokumen-kuno-ekspos-pendiri-saudi-yakinkan-inggris-untuk-dirikan-negara-yahudi-di-palestina.htm
    http://www.al-khilafah.org/2011/11/dokumen-ekspos-pendiri-saudi-yakinkan.html

    Oleh KH. M. Shiddiq Al-Jawi

    Pengantar
    Gerakan Wahabi (al-harakah al-wahhabiyyah) dapat dianggap salah satu gerakan reformasi Islam yang berpengaruh besar terhadap umat Islam sejak abad ke-18. (Al-Ja’bari, 1996). Gerakan yang dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792) memang dinilai banyak pakar memberi kontribusi positif bagi umat Islam, misalnya membuka pintu ijtihad, memurnikan tauhid sesuai pahamnya, dan memerangi apa yang dianggapnya bid’ah dan khurafat. Bahkan Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Mujaddid Ad-Din fi Al-Qarn Ats-Tsani ‘Asyar, menganggap Muhammad bin Abdul Wahhab adalah mujaddid abad ke-12 H. Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitabnyaKaifa Hudimat Al-Khilafah hal. 14, juga mengakui Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang mujtahid dalam mazhab Hambali.
    Namun sisi gelap dari gerakan ini juga harus diungkap, khususnya dalam aspek politik. Menurut Abdul Qadim Zallum, gerakan Wahabi telah dimanfaatkan oleh Muhammad bin Saud (w. 1765) untuk memukul Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Namun tindakan yang sudah dapat disebut pemberontakan ini, menurut Zallum terjadi tanpa disadari oleh para penganut gerakan Wahabi, meski disadari sepenuhnya oleh Muhammad bin Saud. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).
    Tulisan ini hendak mengkaji kitab Kaifa Hudimat Al-Khilafah (hal. 13-20) yang mengungkapkan upaya Muhammad bin Saud memanfaatkan gerakan Wahabi untuk mengguncangkan Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Kajian akan dilengkapi dengan berbagai referensi lain yang relevan.

    Persekongkolan Negara-Negara Eropa
    Gerakan Wahabi dan penguasa Saudi muncul pertama kali pada abad ke-18 di tengah kondisi yang kurang menguntungkan bagi Khilafah Utsmaniyah, baik internal maupun eksternal.
    Secara internal, kelemahan Khilafah mulai menggejala pada abad ke-18 ini, disebabkan oleh buruknya penerapan hukum Islam, adanya paham-paham asing –seperti nasionalisme dan demokrasi– yang mengaburkan ajaran Islam dalam benak umat Islam, dan lemahnya pemahaman Islam yang ditandai dengan vakumnya ijtihad. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 177).

    Secara eksternal, negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Italia telah dan sedang berkonspirasi untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah. Negara-negara Eropa itu berkali-kali berkumpul dan bersidang membahas apa yang disebutnya Masalah Timur (al-mas’alah al-syarqiyyah, eastern question) dengan tujuan untuk membagi-bagi wilayah Khilafah. Meski tidak berhasil mencapai kata sepakat dalam pembagian ini, namun mereka sepakat bulat dalam satu hal, yaitu Khilafah harus dihancurkan. (El-Ibrahimy, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, hal. 27).
    Agar Khilafah hancur, negara-negara Eropa itu melakukan serangan politik (al-ghazwuz siyasi) dengan menggerogoti wilayah-wilayah Khilafah. Selain Rusia yang yang telah mencaplok wilayah Turkistan tahun 1884 dari wilayah Khilafah, Perancis sebelumnya telah mencaplok Syam (Ghaza, Ramalah, dan Yafa) tahun 1799. Perancis juga telah merampas Al-Jazair tahun 1830, Tunisia tahun 1881, dan Marakesh tahun 1912. Italia tak ketinggalan menduduki Tripoli (Libya) tahun 1911. Sementara Inggris menguasai Mesir tahun 1882 dan Sudan tahun 1898. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 206-207).
    Demikianlah serangan militer telah dilancarkan Eropa untuk menghancurkan Khilafah dengan cara melakukan disintegrasi wilayah-wilayahnya satu demi satu. (Jamal Abdul Hadi Muhammad, Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II/9).
    Selain upaya langsung dari luar, berbagai cara juga ditempuh oleh Eropa untuk menghancurkan Khilafah dari dalam. Menurut Zallum ada empat cara yang digunakan, yaitu : pertama, menghembuskan paham nasionalisme. Kedua, mendorong gerakan separatisme. Ketiga, memprovokasi umat untuk memberontak terhadap Khilafah. Keempat, memberi dukungan senjata dan dana untuk melawan Khilafah. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13; Abdur Rauf Sinnu, An-Naz’at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 91).
    Di sinilah Inggris menggunakan cara-cara tersebut untuk memukul Khilafah dari dalam, melalui antek-anteknya Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud (w. 1830) yang memanfaatkan gerakan Wahabi. Upaya ini mendapat dukungan dana dan senjata dari Inggris. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).
    Hubungan konspiratif segitiga antara Inggris, Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, dan gerakan Wahabi ini diuraikan secara detail oleh Abul As’ad dalam kitabnya As-Su’udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun (hal. 15). Menurutnya, Abdul Aziz membangun ambisi politiknya atas dasar dua basis. Pertama, adanya dukungan internasional dari Inggris. Kedua, adanya dukungan milisi bersenjata dari gerakan Wahabi.

    Dukungan Inggris terhadap Abdul Aziz ini terbukti misalnya dengan adanya berbagai perjanjian rahasia antara Inggris dan Abdul Aziz tahun 1904. Abul As’ad mengatakan,”Hubungan ini [Inggris dan Abdul Aziz] semakin kuat dengan berbagai perjanjian rahasia antara dua pihak tahun 1904, di mana Abdul Aziz menerima dukungan materi, politik, dan militer dari Inggris yang membantunya untuk meluaskan pengaruhnya di Nejed serta menguasai kota Ihsa` dan Qathif tahun 1913.” (Abu Al-As’ad, As-Su’udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun, hal. 16).
    Adapun dukungan milisi dari gerakan Wahabi kepada Abdul Aziz, telah terbentuk sebelumnya sejak tahun 1744 ketika terjadi kontrak politik antara ayahnya (Muhammad bin Saud) dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Kontrak politik ini berlangsung di kota Dir’iyyah, sehingga sering disebut “Baiah Dir’iyyah” (Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, hal. 25).
    Dengan kontrak politik itu, Muhammad bin Saud mendeklarasikan dukungannya terhadap paham gerakan Wahabi dan menerapkannya dalam wilayah kekuasaannya. Sedang gerakan Wahhabi yang sebelumnya hanya gerakan dakwah kelompok, berubah menjadi gerakan dakwah kekuasaan. Implikasinya, paham Wahabi yang semula hanya disebarkan lewat dakwah murni, kemudian disebarkan dengan paksa menggunakan kekuatan pedang kepada penganut mazhab lain, antara lain penganut mazhab Syafi’i. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 16).

    Pemberontakan Penguasa Saudi dan Wahabi Terhadap Khilafah
    Dengan dukungan dana dan senjata dari Inggris, penguasa Saudi dan kaum Wahabi bahu membahu memerangi dan menduduki negeri-negeri Islam yang berada dalam kekuasaan Khilafah. Dengan ungkapan yang lebih tegas, sebenarnya mereka telah memberontak kepada Khalifah dan memerangi pasukan Amirul Mukminin dengan provokasi dan dukungan dari Inggris, gembongnya kafir penjajah. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).
    Penguasa Saudi dan Wahabi telah menyerang dan menduduki Kuwait tahun 1788, lalu menuju utara hingga mengepung Baghdad, menguasai Karbala dan kuburan Husein di sana untuk menghancurkan kuburan itu dan melarang orang menziarahinya. Pada tahun 1803 mereka menduduki Makkah dan tahun berikutnya (1804) berhasil menduduki Madinah dan merobohkan kubah-kubah besar yang menaungi kuburan Rasulullah SAW. Setelah menguasai Hijaz, mereka menuju ke utara (Syam) dan mendekati Hims. Mereka berhasil menguasai banyak wilayah di Siria hingga Halb (Aleppo). (Muwaffaq Bani Al-Marjih, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, hal. 285).

    Menurut Zallum, serangan militer ini sebenarnya adalah aksi imperialis Inggris, karena sudah diketahui bahwa penguasa Saudi adalah antek-anek Inggris. Jadi, Inggris telah memanfatkan penguasa Saudi yang selanjutnya juga memanfaatkan gerakan Wahabi untuk memukul Khilafah dari dalam dan mengobarkan perang saudara antar mazhab dalam tubuh Khilafah.
    Hanya saja, seperti telah disebut di depan, para pengikut gerakan Wahabi tidak begitu menyadari kenyataan bahwa penguasa Saudi adalah antek Inggris. Mengapa? Karena menurut Zallum, hubungan yang terjadi bukanlah antara Inggris dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, melainkan antara Inggris dengan Abdul Aziz, lalu antara Inggris dengan anak Abdul Aziz, yaitu Saud bin Abdul Aziz. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).
    Mungkin karena sebab itulah, banyak para penganut gerakan Wahabi –mereka lebih senang menyebut dirinya Salafi– menolak anggapan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah memberontak kepada Khilafah Utsmaniyah. Banyak kitab telah ditulis untuk membersihkan nama Muhammad bin Abdul Wahhab dari tuduhan yang menurut mereka tidak benar itu. Contohnya kitab Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah karya Asy-Syuwai’ir; lalu kitab Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab min Tuhmah Al-Khuruj ‘Ala Ad-Daulah Al-Utsmaniyah karya Al-Gharib, juga kitab Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat ‘an Da’wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab karya Shalahudin Al Syaikh. Termasuk juga kitab yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yang berjudul Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah karya Ash-Shalabi. (Pustaka Al-Kautsar, 2004).
    Bahkan dalam buku yang terakhir ini, Ash-Shalabi mencoba membangun konstruksi persepsi sejarah yang justru mengaburkan fakta sejarah yang sesungguhnya. Ash-Shalabi mengatakan bahwa perang antara Khilafah (yang diwakili oleh Muhammad Ali, yakni Wali Mesir) melawan gerakan Wahabi pertengahan abad ke-19, adalah Perang Salib yang berbaju Islam. (Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-Utsmaniyah Awamil An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hal. 623).

    Maksudnya, Muhammad Ali dianggap representasi pihak Salib karena dia dianggap antek Inggris dan Perancis, sementara gerakan Wahabi dianggap representasi tentara Islam. Subhanallah, hadza buhtanun ‘azhim.
    Padahal, Muhammad Ali meski benar dia adalah antek Perancis menurut Zallum tapi dia memerangi Wahabi karena menjalankan perintah Khalifah, bukan menjalankan perintah kaum Salib. Jadi, perang yang terjadi sebenarnya adalah perang antara Khilafah dan kaum pemberontak yang didukung Inggris, bukan antara kaum Salib melawan pasukan Islam.
    Ada satu fakta sejarah yang diabaikan oleh para penulis sejarah apologetik itu, yang mencoba membela posisi Wahabi atau penguasa Saudi yang memberontak kepada Khilafah. Mereka nampaknya lupa bahwa wilayah Hijaz telah lama masuk ke dalam wilayah Khilafah Utsmaniyah. Sejak tahun 1517 M, Hijaz telah secara resmi menjadi bagian Khilafah pada masa Khalifah Salim I yang berkuasa 1512-1520. Peristiwa ini ditandai dengan pernyerahan kunci Makkah dan Madinah kepada penguasa Khilafah Utsmaniyah. (Abdur Rauf Sinnu, An-Naz’at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 89; Tarikh Ibnu Yusuf, hal. 16; Abdul Halim Uwais,Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, hal. 88).

    Jadi, kalau Hijaz adalah bagian Khilafah, maka upaya mendirikan kekuasaan dalam tubuh Khilafah, seperti yang dilakukan penguasa Saudi dan Wahabi, tak lain adalah upaya ilegal untuk membangun negara di dalam negara. Lalu kalau mereka berperang melawan Khalifah, apa namanya kalau bukan pemberontakan?
    Para penulis sejarah apologetik itu semestinya bersikap objektif dan adil, tidak secara apriori berpihak kepada penguasa Saudi atau gerakan Wahabi. Atau secara apriori membenci Khilafah atau aktivis pejuang Khilafah saat ini. Allah SWT berfirman (artinya) : “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS Al-Maaidah : 8).
    Namun nampaknya justru bersikap adil sepertilah yang paling sulit dilakukan oleh sejarawan, sejarawan manapun, khususnya penulis sejarah sezaman (l’histoire contemporaine, contemporary history). Dalam ilmu sejarah, menulis sejarah sezaman ini adalah paling sulit bagi ahli sejarah untuk tidak memihak (non partisan). Namun meski sulit, sejarawan seharusnya menulis secara obyektif, sekalipun menulis tentang penguasa yang sedang berkuasa. (Poeradisastra, 2008). Wallahu a’lam.

    DAFTAR BACAAN
    Aal Syaikh, Shalahudin bin Muhammad bin Abdurrahman, Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat ‘an Da’wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, (ttp : tp), tt.
    Abu Al-As’ad, Muhammad, As-Su’udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun, (Kairo : Markaz Ad-Dirasat wa Al-Ma’lumat al-Qanuniyah li Huquq al-Insan), 1996.
    Al-Fakhiri, Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.
    Al-Gharib, Abdul Basith bin Yusuf, Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, (Amman : tp), tt.
    Al-Ja’bari, Hafizh Muhammad, Gerakan Kebangkitan Islam (Harakah Al-Ba’ts Al-Islami), Penerjemah Abu Ayyub Al-Anshari, (Solo : Duta Rohmah), 1996.
    Al-Marjih, Muwaffaq Bani, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, (Kuwait : Muasasah Shaqr Al-Khalij), 1984.
    An-Nabhani, Taqiyuddin, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, (Beirut : Darul Ummah), 2002.
    Ash-Shallabi, Ali Muhammad, Ad-Daulah al-Utsmaniyah ‘Awamil an-Nuhudh wa Asbab as-Suquth, (ttp : tp), tt.
    Asy-Syuwai’ir, Muhammad Saad, Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, (Ttp : Darul Habib), 2000.
    El-Ibrahimy, M. Nur, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, (Bandung : NV Almaarif), 1955.
    Ibnu Yusuf, Tarikh Ibnu Yusuf, tahqiq Uwaidhah Al-Juhni, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.
    Imam, Hammadah, Daur Al-Usrah As-Su’udiyah fi Iqamah Ad-Daulah Al-Israiliyyah, (ttp : tp), 1997.
    Muhammad, Jamal Abdul Hadi, Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II, (Al-Manshurah : Darul Wafa`), 1995.
    Poeradisastra, S.I., Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern, (Depok : Komunitas Bambu), 2008.
    Sinnu, Abdur Rauf, An-Naz’at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah 1877-1881, (Beirut : Baisan), 1998.
    Uwais, Abdul Halim, Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, (ttp : tp), tt.
    Yaghi, Ismail Ahmad, Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah fi At-Tarikh Al-Islami al-Hadits, (Ttp : Maktabah Al-‘Abikan), 1998.
    Zallum, Abdul Qadim, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, (Beirut : Darul Ummah), 1990.
    http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=648&Itemid=47

    FYI, ini pandangan Habib Rizieq Syihab (beliau seorang Doktor Ilmu Syari’ah) Ketua FPI:
    Ada pun Pandangan FPI terhadap WAHABI sebagai berikut : FPI membagi WAHABI dengan semua sektenya juga menjadi TIGA GOLONGAN ; Pertama, WAHABI TAKFIRI yaitu Wahabi yang mengkafirkan semua muslim yang tidak sepaham dengan mereka, juga menghalalkan darah sesama muslim, lalu bersikap MUJASSIM yaitu mensifatkan Allah SWT dengan sifat-sifat makhluq, dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari USHULUDDIN yang disepakati semua MADZHAB ISLAM. Wahabi golongan ini KAFIR dan wajib diperangi.
    Kedua, WAHABI KHAWARIJ yaitu yang tidak berkeyakinan seperti Takfiri, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan mau pun tulisan terhadap para Ahlul Bait Nabi SAW seperti Ali RA, Fathimah RA, Al-Hasan RA dan Al-Husein RA mau pun ‘Itrah/Dzuriyahnya. Wahabi golongan ini SESAT sehingga mesti dilawan dan diluruskan.
    Ketiga, WAHABI MU’TADIL yaitu mereka yang tidak berkeyakinan Takfiri dan tidak bersikap Khawarij, maka mereka termasuk MADZHAB ISLAM yang wajib dihormati dan dihargai serta disikapi dengan DA’WAH dan DIALOG dalam suasana persaudaraan Islam.
    http://fpi.or.id/?p=detail&nid=98
    Pandangan Habib Munzir Al Musawa dari Majelis Rasulullah tentang Wahabi:
    beda dengan orang orang wahabi, mereka tak punya sanad guru, namun bisanya cuma menukil dan memerangi orang muslim.
    mereka memerangi kebenaran dan memerangi ahlussunnah waljamaah, memaksakan akidah sesatnya kepada muslimin dan memusyrikkan orang orang yg shalat.
    http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=5&func=view&id=5324&catid=8
    salaf, artinya adalah kaum yg terdahulu, salaf adalah istilah bagi Ulama Ulama yg terdahulu di masa setelah Tabi’ Tabiin, namun kaum penganut ajaran wahabi menamakan dirinya salafy, padahal mereka tak mengikuti ajaran ulama salaf yg terkenal berbudi luhur, ahli ibadah, ahli ilmu syariah.
    mereka ini muncul di akhir zaman justru membawa ajaran sesat dan mengaku salaf.
    http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=5&func=view&id=957&catid=7

  18. abisyakir mengatakan:

    @ Heri…

    Orang anti Wahhabi itu bisa dikenali kok. Mereka antara lain: Hizbut Tahrir, Habib Munzhir dan Majelis Rasulullah-nya, FPI Habib Rizieq, kalangan NU radikal, kalangan shufi radikal, dan lainnya. Omongan mereka tidak beredar, selain soal Kerajaan Saudi telah meruntuhkan Khilafah Islamiyyah Turki Utsmani.Hal ini sudah kita bahas dalam buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi” (BAKW)…itu pun kalau Anda masih mau membacanya. Tapi kalo memang “cetakan hati” sudah benci, ya susah. Antara kebenaran dan fitnah, pembelaan Islam dan dendam, campur aduk gak karuan.

    Perhatikan tulisan Anda ini:

    Dokumen kontroversial, yang ditulis sebagai pemberitahuan untuk kemudian didelegasikan kepada Mayor Inggris Jenderal Sir Percy Cox Zachariah, merupakan bukti lain dari pendekatan bermusuhan keluarga kerajaan Saudi untuk bangsa Palestina. “Saya Sultan Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud al-Faisal dan Saya mengalah dan mengakui seribu kali untuk Sir Percy Cox, utusan Inggris, bahwa saya tidak keberatan untuk memberikan Palestina kepada Yahudi miskin atau bahkan untuk non- Yahudi, dan saya tidak akan pernah melanggar perintah Inggris,” tulis isi dokumen kuno yang konon ditandatangani oleh Raja Abdul Aziz tersebut.

    Pertanyaan:

    1. Dari mana Anda tahu, bahwa dokumen itu asli dan dapat dibuktikan kebenarannya?
    2. Siapa yang pertama kali menjadi sumber dokumen ini, orang Muslim yang adil atau orang kafir?
    3. Mengapa dalam dokumen itu disebutkan, bahwa Raja Abdul Aziz memberikan tanah Palestina kepada Yahudi? Apakah wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Saudi? Wong Saudi hanya menguasai Najd dan Hijaz kok? Tidak sampai menguasai negeri Syam.
    4. Herannya, negara-negara yang melemahkan Turki Utsmani itu bukan Saudi saja; Mesir, Syam, Irak, Yaman, Afrika Utara, dll. juga melemahkan Turki, yaitu ketika mereka sama-sama memilih sebagai negara mandiri, tidak mau menginduk ke Khilafah Turki Utsmani (tentunya juga bukan menginduk ke Saudi). Tapi oleh manusia seperti @ Heri dan kawan-kawan ini, yang disalahin Saudi melulu. Bahkan Mesir yang sejak lama mengakui kedaulatan Israel pun, tidak dia salah-salahin.

    Ya itulah, wong “cetakan hatinya” sudah marah dan dendam kepada dakwah Salafiyah (Tauhid dan Sunnah), maka semuanya di-gebyah uyah. Dan cara pandang picik itu terus dipelihara, dijaga, dan ditumbuh-kembangkan. Kasihan sekali… Nas’alullah al ‘afiyah, lana, wa lakum, wa lil Muslimin.

    Kemudian perhatikan kata-kata Anda ini…

    Ada satu fakta sejarah yang diabaikan oleh para penulis sejarah apologetik itu, yang mencoba membela posisi Wahabi atau penguasa Saudi yang memberontak kepada Khilafah. Mereka nampaknya lupa bahwa wilayah Hijaz telah lama masuk ke dalam wilayah Khilafah Utsmaniyah. Sejak tahun 1517 M, Hijaz telah secara resmi menjadi bagian Khilafah pada masa Khalifah Salim I yang berkuasa 1512-1520. Peristiwa ini ditandai dengan pernyerahan kunci Makkah dan Madinah kepada penguasa Khilafah Utsmaniyah. (Abdur Rauf Sinnu, An-Naz’at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 89; Tarikh Ibnu Yusuf, hal. 16; Abdul Halim Uwais,Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, hal. 88).

    Komentar:

    Ya benar, Hijaz sejak lama di bawah kontrol Turki Utsmani. Benar itu, benar adanya. Tapi Anda lupa fakta lain, bahwa pengontrol Hijaz itu berganti-ganti, tergantung siapa negara yang paling dominan di dunia Islam. Mula-mula di bawah kontrol Khulafaur Rasyidin, lalu Bani Umayyah, lalu Bani Abbassiyah, lalu Mamalik, lalu Ayyubiyyah, lalu Turki Utsmani. Bahkan Hijaz (Makkah) pernah dikuasai kaum sesat Qaramithah. Jadi posisi Turki Utsmani bukanlah “pemegang lisensi tunggal” atas wilayah Hijaz. Ini harus Anda cermati dengan baik! Jangan emosi atau asal “dendam” melulu.

    Kemudian, saat era peralihan Saudi I ke Saudi II, kekuasaan Emir Saud di Najd dan Hijaz dikalahkan oleh Turki Utsmani. Tapi saat itu, Turki Utsmani bukan memberangkatkan pasukannya sendiri, melainkan memakai pasukan Gubernur Mesir, Muhammad Ali Pasha. Saudi kalah, sehingga bubar, lalu pemimpinnya dieksekusi di Istambul Turki. Disini sudah kelihatan kalau kekuatan Turki mulai melemah, sehingga untuk menghadapi Emir Saud harus memakai tangan penguasa Mesir.

    Adapun soal perebutan kekuasaan politik dan pengaruhnya; apakah Anda merasa heran hal itu terjadi di dalam sejarah Islam? Apakah menurut Anda, perebutan kekuasaan itu baru pertama kali terjadi sejak era Emir Saud? Kalau Anda berkata “ya”, wah berarti otak sejarah Anda harus diperbaiki. Perebutan kekuasaan itu sudah terjadi sejak lama, bahkan sejak konflik antara Khalifah Ali dengan Muawiyah.

    Bagi kita kaum Muslimin…dalam masalah kekuasaan politik ini sikap kita kurang lebih: (a). Masalah perebutan kekuasaan politik adalah urusan para penguasa (bagsawan) itu masing-masing, mereka yang sepenuhnya kelak bertanggung-jawab di sisi Allah atas apa saja yang mereka lakukan; (b). Kalau sudah terbentuk kekuasaan Islam (apapun namanya dan siapapun penguasanya) kita akan menerima, selama kaum Muslimin bisa hidup dalam kemashlahatan di bawahnya; (c). Bila ada upaya-upaya perebutan politik antar satu keluarga kerajaan dengan keluarga lain, kita tidak ikut campur. Kita menunggu “hasil akhir” saja, sembari berharap kepada Allah, bahwa konflik politik itu tidak banyak madharatnya bagi kehidupan.

    Bagi kami pribadi, soal struktur kekuasaan Saudi, bukan perhatian utama. Perhatian kita pada risalah Tajdid yang berkaitan dengan Tauhid, Sunnah, Ilmu, Syariat, dan lainnya. Itulah bekalan kita kelak bertanggung-jawab di hadapan Allah. Soal konflik politik keluarga Saudi…ya mereka menanggung tanggung-jawab, sebagaimana keluarga-keluarga bangsawan lain dalam sejarah Islam.

    Kurang lebih begitu wahai Akhil Karim @ Heri…semoga Allah merahmatimu dan kami semuanya, serta kaum Muslimin. Amin ya Sallam.

    Admin.

  19. Ali mengatakan:

    Tahun 1910 keluarga al-Saud menjadi orang-orang yang lebih penting lagi bagi Inggris ketika mereka memberontak terhadap Kekhalifahan Usmani, dengan dukungan Inggris, dengan menyerang saudara sepupunya Ibnu Rashid yang mendukung Khilafah. Subsidi yang tadinya kecil menjadi bertambah dan sekomplotan penasihat dikirim untuk membantu gerakan Ibnu Saud.

    Pemberontakan Arab (1916-1918) diawali oleh Syarif Hussein ibnu Ali dengan restu penuh Inggris. Tujuannya adalah untuk memisahkan semenanjung Arab dari Istanbul. Perjanjian ini diakhiri pada bulan Juni 1916 setelah dilakukan surat-menyurat dengan Komisi Tinggi Inggris Henry McMahon yang mampu meyakinkan Syarif Hussein akan imbalan yang diterimanya atas penghianatannya terhadap Kekhalifahan, yakni berupa tanah yang membentang dari Mesir dan Persia; dengan pengecualian penguasaan kerajaan di wilayah Kuwait, Aden, dan pesisir Syria. Pemerintah Inggris di Mesir langsung mengirim seorang opsir muda untuk bekerja bersama orang Arab. Orang itu adalah Kapten Timothy Edward Lawrence, atau yang dikenal dengan nama Lawrence dari Arab.

    Setelah kekalahan Kekhalifahan Usmani tahun 1918 dan keruntuhan sepenuhnya tahun 1924, Inggris memberikan kontrol penuh atas negara-negara yang baru terbentuk, yakni Irak dan Trans-Jordan, kepada anak laki-laki Syarif Hussein yaitu Faisal dan Abdullah seperti yang sebelumnya dijanjikan. Keluarga al-Saud berhasil membawa seluruh Arab di bawah kontrolnya tahun 1930. Pandangan Inggris atas nasib Arab menyusul kekalahan Khilafah tercermin pada kata-kata Lord Crewe bahwa ia menginginkan, “Arab yang terpecah menjadi kerajaan-kerajaan di bawah mandat kami.” Untuk peran itu, keluarga Saudi menerimanya dengan senang hati.

    Keluarga Saudi langsung bersekongkol dengan Inggris untuk menghancurkan Khilafah. Jika tidak terlalu buruk keluarga Saud juga akan langsung bersekongkol dengan Zionis untuk mendirikan Israel. Raja Abdullah 1 dari Trans-Jordan yang diciptakan Inggris mempelajari kemungkinan itu dengan David Ben Gurion (Perdana Menteri Israel yang pertama) di Istanbul tahun 1930-an. Abdullah menawarkan untuk menerima pendirian Israel. Sebagai imbalannya, dia akan menerima Jordania di bawah kontrol penduduk Arab di Palestina. Tahun 1946 Abdullah mengungkapkan minatnya untuk menguasai wilayah Arab di Palestina. Dia tidak berniat untuk menentang atau menghalangi pembagian Palestina dan pendirian negara Israel, seperti yang digambarkan oleh seorang sejarawan.

    Saudaranya Raja Faisal dari Irak bahkan melebihi pengkhiatan Abdullah. Ketika itu, pada tahun 1919 Faisal menandatangani Perjanjian Faisal-Weizmann, dengan Dr. Chaim Weizmann, Presiden organisasi Zionis Dunia; dialah yang menerima dengan syarat Deklarasi Balfour berdasarkan janji yang dipenuhi oleh Inggris pada masa perang untuk kemerdekaan Arab.

    Sejak tahun 1995 Saudi Arabia telah mengimpor $64.5 miliar dalam bentuk persenjataan, yang jauh melebihi pengimpor kedua terbesar, Taiwan, yang melakukan transaksi hanya sebesar $20.2 untuk persenjataan. Namun, tidak satu pun senjata-senjata itu yang digunakan untuk pertahanan bagi kaum Muslim atau di area konflik tempat kaum Muslim ditindas. Satu-satunya saat bagi Saudi ikut terlibat perang adalah ketika terjadi Perang Teluk. Saat itu, dia terlibat dalam mendukung koalisi terhadap Irak dan selama PD I. Pembatalan yang baru-baru ini dilakukan antara Saudi dan Inggris menunjukkan, bahwa keluarga Saudi tidak pernah berkeinginan untuk membela kepentingan kaum Muslim. Mereka hanya membeli persenjataan untuk memastikan berlanjutan industri persenjataan tuan-tuannya di Barat, sementara mereka tetap mengkhianati umat.

    http://allaboutwahhabi.blogspot.com/

    disini disebutkan bahwa yg mendapat bantuan dari Lawrence adalah keluarga Syarif Husein (amir Mekkah), dan bukanlah keluarga Saudi, walaupun terus menerus dihubungkan ke Saudi pdhal mereka adalah orang yg berbeda

    Wallahu A’lam

  20. HERI mengatakan:

    Hizbut Tahrir, Habib Munzhir dan Majelis Rasulullah-nya, FPI Habib Rizieq, kalangan NU, kalangan shufi, dan lainnya.
    Mereka semua tidak Anti Wahabi atau Salafi. Mereka baik-baik saja ketemu dengan para pengikut Wahabi. Saya sendiri kadang-kadang ikut pengajiannya Wahabi. Hampir setiap hari saya mendengarkan siaran radio Wahabi. tapi prinsip-prinsip ajaran yang agak menyesatkan dan berbahaya buat masyarakat tidak saya ikuti. Contohnya ajaran yang kelompok selain Wahabi disebut ahli Bid’ah sesat dan sesat itu neraka. Terus jangan akarab dan berdiskusi dengan alhi bid’ah. Orang yang ikut Wahabi akan merasa mendapat hidayah lepas dari kesesatan, ini bahaya.

    Hizbut Tahrir, Habib Munzhir dan Majelis Rasulullah-nya, FPI Habib Rizieq, kalangan NU, kalangan shufi, dan lainnya. Mereka hanya membenci Wahabi yang terlibat Konspirasi dengan Zionis dan sekutunya, (yang terlibat saja). dan membenci pengikut Wahabi yang kelewat sesat yang berpotensi penyebar perpecahan umat Islam.

    Setahu saya Wahabi Anti Hizbut Tahrir, Habib Munzhir dan Majelis Rasulullah-nya, FPI Habib Rizieq, kalangan NU, kalangan shufi radikal, dan lainnya. dan yang paling basar Wahabi anti Hizbut Tahrir. baca saja buku rujukan Wahabi. saya kawatirnya itu pengaruh Zionis. karena Zionis paling memusuhi Hizbut Tahrir.

    Kalo mau tanya Kelompok Islam mana yang paling benar, tanyakan kepada Zionis. dijamin Zionis akan menipu.

  21. Heri mengatakan:

    ada yang lupa,
    saya menemukan buku Wahabi yang membahas tentang Hizbut Tahrir dan Organisasi lainnya sebagian besar isinya Fitnah (tidak benar). kalopun ada yang sesuai itu masih seputar perbedaan ijtihad, bukan Aqidah atau Filsafat. sudah saya cek langsung faktanya.
    Walaupun pihak Hizbut Tahrir sudah mengklarifikasi ke Pihak dimana Fitanah itu beredar tetapi tetap isi Fitnah itu tidak berhenti. ini aneh. kemungkinan besar ini ulah Agen Yahudi. berprasangka buruk kepada musuh Islam itu di perbolehkan.

  22. abisyakir mengatakan:

    @ Heri…

    Ya kesalahan terbesar Anda, setiap Anda menemukan suatu buku karya orang Saudi, langsung Anda klaim buku itu mewakili dakwah Wahabi. Ini kesalahan fatal. Harusnya Anda definisikan dulu, apa itu Wahabi, siapa mereka, dan siapa yang mewakilinya? Kalau tidak tahu definisinya, sayangilah dirimu sendiri wahai Saudaraku. Jangan lemparkan dirimu ke dalam kobaran fitnah yang membuatmu memfitnah orang-orang tidak berdosa sesuka hatimu sendiri.

    Ya benar, berprasangka buruk kepada Yahudi boleh dan harus. Tapi masalahnya, ketika Anda kaitkan gerakan dakwah Wahhabi dengan Yahudi; seolah Anda ingin MENGKAFIRKAN saudara-saudara Anda sendiri (kaum Wahabi); sebab hendak Anda samakan kaum Wahabi dengan Yahudi. Itu masalah terbesarnya, wahai insan.

    Sekedar Anda tahu, gerakan Wahhabi sudah dimulai sejak era tahun 1740-an. Ini murni gerakan dakwah, mengajarkan manhaj akidah Empat Imam Madzhab, dan pemikiran-pemikiran tajdid Ibnu Taimiyyah. Hal ini bisa dikonfirmasi sepenuhnya ke risalah-risalah, buku-buku, ajaran mereka. Banyak para ahli yang telah meneliti masalah ini.

    Sedangkan konferensi Yahudi internasional untuk memulai gerakan Zionisme di Bassel Swiss, dilakukan sekitar tahun 1880-an. Anda bisa mengerti beda antara tahun 1740-an dengan 1880-an? Anda bisa mengerti tidak beda dua angka itu? Mohon sekali, Anda bisa mengerti tidak beda angka 1740 dengan 1880? Kalau Anda tidak mengerti beda dua angka itu, silakan cari di google!

    Bahkan awal strategi Zionis di bawah pimpinan seorang wartawan, Theodore Hertzl, ialah bersikap lunak kepada Turki Utsmani. Mereka berniat membeli tanah Palestina, dan siap membantu Turki Utsmani untuk menyelesaikan masalah hutangnya, lalu memberikan modal bagi Turki Utsmani. Hanya saja, Sultan Hamid II, penguasa Turki Utsmani ketika itu, menolak keras tawaran tersebut; dengan alasan, Palestina dan Yerusalem di dalamnya adalah tanah wakaf milik kaum Muslimin, ia tidak boleh diserahkan kepada Yahudi dengan alasan apapun.

    Ketahuilah, wahai kaum Muslimin, strategi Zionis itu pada mulanya BUKAN KEKERASAN, tetapi CARA LEMBUT dan LOBI-LOBI. Sultan Abdul Hamid menolak tawaran Yahudi trsebut. Karena ditolak secara keras, maka Yahudi mengubah strateginya. Dia tidak mau main lembut-lembut, tetapi sekalian kasar. Caranya, Sultan Abdul Hamid harus dijatuhkan, sekalian Khilafah Turki Utsmani diruntuhkan. Inilah awal mula babak keruntuhan Khilafah Turki Utsmani. Ia runtuh karena Sultan Abdul Hamid II menolak kompromi dengan Yahudi (Zionis).

    Sedangkan konflik antara Turki Utsmani dengan Emir Ibnu Saud, itu sudah terjadi sejak era 1750-an, yaitu jauh-jauh hari sebelum Zionis mengadakan konferensi Zionisme internasional pertama di Bassel. Jadi permusuhan politik Saudi Vs Turki Utsmani, sudah ada sejak lama. Semua ini menjadi bukti nyata, bahwa kemunculan Kerajaan Saudi tidak ada kaitannya dengan Zionisme atau keruntuhan Turki Utsmani. Keruntuhan Turki Utsmani terjadi, karena diruntuhkan gerakan Zionisme, ketika Sultan Abdul Hamid II menolak kompromi dengan mereka.

    Selamat memahami dan berjujur hati. Amin.

    Admin.

  23. Heri mengatakan:

    ketika Anda kaitkan gerakan dakwah Wahhabi dengan Yahudi; seolah Anda ingin MENGKAFIRKAN saudara-saudara Anda sendiri (kaum Wahabi); sebab hendak Anda samakan kaum Wahabi dengan Yahudi. Itu masalah terbesarnya, wahai insan.

    Jawaban___________________________
    Gerakan Wahabi dimanfaatkan oleh Yahudi untuk mengkacaukan kerukunan umat Islam. organisasi Wahabi sangat mudah dipecah-belah. sekarang saja Wahabi sudah berpecah-belah lebih dari 10 sekte dan saling menuding sesat dan tidak bersatu. Wahabi ini masih saling sepakat untuk meng-induk kepada kerajaan Arab Saudi dan sepakat menghadang menentang seruan Khilafah dari Hizbut Tahrir.
    Di dalam gerakan Wahabi terdapat banyak para Antek Yahudi. tetapi orang-orang Wahabi tidak tahu atau seperti tidak mau tahu, bagi oraganisasi seperti ini masa depan-nya dikendalikan Yahudi, kecuali ada khilafah Islam yang menguasai dunia maka Yahudi tidak bisa berbuat banyak.

  24. abisyakir mengatakan:

    @ Heri…

    Gerakan Wahabi dimanfaatkan oleh Yahudi untuk mengkacaukan kerukunan umat Islam. organisasi Wahabi sangat mudah dipecah-belah. sekarang saja Wahabi sudah berpecah-belah lebih dari 10 sekte dan saling menuding sesat dan tidak bersatu. Wahabi ini masih saling sepakat untuk meng-induk kepada kerajaan Arab Saudi dan sepakat menghadang menentang seruan Khilafah dari Hizbut Tahrir. Di dalam gerakan Wahabi terdapat banyak para Antek Yahudi. tetapi orang-orang Wahabi tidak tahu atau seperti tidak mau tahu, bagi oraganisasi seperti ini masa depan-nya dikendalikan Yahudi, kecuali ada khilafah Islam yang menguasai dunia maka Yahudi tidak bisa berbuat banyak.

    Respon: Sebenarnya bukan dimanfaatkan, tetapi adanya INFILTRASI INTELIJEN untuk masuk ke internal Wahabi, lalu mereka membuat gambaran-gambaran buruk atas nama Wahabi. Hal seperti itu sudah lama terjadi, sejak zaman Abdul Aziz bin Abdurrahman. Bukan hanya di Arabiya sana, di Indonesia praktik infiltrasi itu sudah terjadi sejak zaman Syarikat Islam, ketika aktivis komunis masuk ke SI lalu membuat pemberontakan tahun 1926 (era Belanda). Infiltrasi masuk ke tubuh DI/TII, masuk ke gerakan Islam tahun 70-an oleh Ali Mustopo, masuk ke “Komando Jihad” yang dipimpin Imron, masuk ke aktivis Tanjung Priok sampai terjadi tragedi 1984, hingga kini masuk ke barisan Mujahidin lewat isu-isu terorisme. Wahabi sejak lama dianggap sebagai faktor ancaman bagi kolonialisme/imperialisme Barat. Maka itu mereka berduyun-duyun memasukkan kader-kadernya untuk membuat aneka masalah di dalamnya, dengan tujuan stigma, memecah-belah, menjadi suplier “musuh negara”, dan seterusnya. Dalam istilahnya, itu bisa disebut Desepsi, bisa juga disebut Klandestin.

    Adapun kerjasama kaum kolonial/imperialis Barat dengan Syiah Rafidhah, sejak revolusi Iran 1979 sampai saat ini, sangat banyak. Faktor destruksi di Timur Tengah bukan cuma Tel Aviv, tetapi juga Teheran. Di Iran terdapat ratusan perusahaan-perusahaan Israel yang beroperasi. Permusuhan Iran Vs Israel, umumnya hanya di tingkat retorika saja, bukan dalam permusuhan riil, sekedar untuk mengelabuhi pandangan orang-orang awam.

    Admin.

  25. gjjb mengatakan:

    wahabi bagus, salafi oke, ahl sunah yesss. yg kianat itu jk ada negara yg kerja sama dgn yahudi,amrik dan barat membunuh sesama muslim.

  26. gjjb mengatakan:

    oh ya, kebetulan banget nih sy perlu data nama2 perusahaan israel yg kerjasama dgn di iran, utk data penelitian thesis sy. mhn dikirim ke email sy. sy tunggu ya….

  27. abisyakir mengatakan:

    @ Gjjb…

    Maaf, saya waktu itu baca artikel di media online. Saya tidak tahu perincian perusahaan itu satu per satu. Silakan cari sendiri ya. Mohon maaf.

    Admin.

  28. asep beckenbauer mengatakan:

    rosululloh saja tidak pernah membunuh orang munafiq….tp kenapa ada sebagian umat islam yg tdk sepaham dgn mereka dibantai…atau rosululloh sendiri tdk membunuh penduduk toif karena kelakuan mereka…mungkin ini perlu dipikirkan pula…trs perlu dipertanyakan jg keimanan umat islam yg mejadikan orang kafir sebagai wali pelindungnya…..kayak saudi sama amrik ato sekutunya… hehehehh…makanya susah kalo udah fanatik melihat sesuatu bukan dengan kacamata Tuhan yang telah menciptakan…peace ah ikhwan2 but damn to kafirun

  29. abisyakir mengatakan:

    @ Asep…

    Anda ini aneh… Anda menuduh Saudi kerjasama dengan negara kafir Amrik dan seterusnya. Trus Anda tinggal dimana? Trus bagaimana kelakuan negara Anda sendiri? Apakah mereka kerjasama dengan Amerika, Eropa, China, Rusia, Iran, IMF, Bank Dunia, NATO, dan seterusnya? Aneh, nuduh orang lain gini gitu, sementara tidak melihat kelakuan negara sendiri.

    Admin.

  30. Heri mengatakan:

    Betul sekali,….Negara kita sendiri sudah dikuasai Yahudi lewat tangan-tangan Amerika dan para penghianat Indonesia yang menjadi antek-antek Amerika. Kerajaan Arab Saudi juga Anteknya Yahudi juga (walaupun terpaksa). Dan bisa dikatakan semua negara muslim dikuasai Yahudi. Yang membela para penguasa penghianat itu paling-paling Antek Yahudi yang penampilan Islam dan pura-pura beragama Islam.

  31. Abu Aqilah mengatakan:

    Assalamu’alaykum..
    ana mau tanya, adakah buku atau artikel mengenai bantahan atas tulisan Dr. Abdullah Mohammad Sindi mengenai saudi.
    Syukron

  32. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Aqilah…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Afwan, saya kurang tahu ya soal bantahan itu. Kalau gak salah itu buku dari kalangan Al Qa’idah ya? Afwan kalau keliru. Seperti pernah dengar nama beliau, tapi tak tahu persis ia membahas apa. Afwan.

    Admin.

  33. Yudha Aditya mengatakan:

    Sebenarnya TE Lawrence itu tidak berhubungan dengan kelompok Saud di Nejd. TE Lawrence sebagai agen Inggris khusus menggarap Amir Hussain Bin Ali sharrif di Mekkah yang memberontak juga terhadap kekuasaan Ke-khalifaha Turki Ottoman..anak-anaknya Hussain ini yang kemudian menguasai Yordania, Suriah dan Iraq (keluarga Hashimite) yg kemudian di tipu inggris sekutunya, sedangkan kelompok Saudi berdiri sendiri di wilayah Nejd

  34. Gempur mungkar mengatakan:

    Wahai saudaraku kembalilah ke jalan yang benar. Jadikanlah Al quran dan hadits sebagai pegangan utama. Jadikanlah rasulullah sebagai idola dan teladan dalam kehidupanmu jangan turuti hawa nafsumu

  35. Sall43 mengatakan:

    Khabbab bin Aris menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah memanjangkan solatnya, sehingga setelah selesai solat, sahabat bertanya “Ya Rasulullah,engkau melakukan solat begitu lama tidak seperti solat lain.” Rasulullah saw menjawab: “Benar, dan dalam solat itu aku mendapatkankan sesuatu yang menyenangkan dan sesuatu yang menyedihkan, karena sesungguhnya aku dalam solat tadi telah meminta kepada Allah 3 perkara, maka Allah mengabulkan 2 dari permintaanku, dan menolak satu permintaanku.Aku meminta kepada Allah agar umat ku tidak akan pernah dibinasakan dengan penyakit, maka Allah mengabulkannya; kemudian aku meminta kepada Allah agar umatku tidak akan pernah dikalahkan oleh musuhnya, dan Allah mengabulkan permintaan tersebut; dan pada waktu aku meminta agar umatku tidak menyakiti satu dengan yang lain, maka Allah tidak mengabulkan permintaan tersebut
    (Hadis sahih riwayat Tirmidzi)

    Hadis Nabi ini terbukti benar. Sejarah telah membuktikan sekalipun umat Islam sangat lemah namun umat Islam tidak pernah di kalahkan kaum kafir. Buktinya setelah Baghdad di hancurkan (kerana pengkhianat dalaman oleh umat Islam sendiri) oleh Tentera Monggol yang paling kuat di dunia waktu itu tetapi kemudiannya Tentera Monggol yang di akui paling hebat dan dikatakan tidak pernah sekalipun kalah dalam semua beratus-tarus pertempuran termasuk bertempur dengan Empayar China yang jauh lebih kuat akhirnya Tentera Monggol di kalahkan secara memalukan oleh Tentera Mameluk Mesir dalam Perang Ain Jalut yang terkenal. Begitu juga Khalifah Uthmaniyah telah di kalahkan oleh Kafir Salib dengan bantuan bangsa Arab sehingga seluruh Wilayah Islam termasuk Turki dan Istanbul sendiri telah jatuh di tawan dan di jajah oleh Kafir Salib yang di bantu Arab Wahabi. Namun Arab pengkianat kemudian menarik diri kerana baru sedar dirinya telah di tipu oleh Kafir Salib Inggeris. Namun Tentera Uthmaniyah cuba bangkit kembali dengan memberontak kepada Penjajah Kafir Salib Inggeris pemerintah Turki ini. Tercetuslah satu perang dahsyat yang di kenali sebagai “Perang Gallipoli” antara Mujahiddin muda Turki dengan Tentera Kafir Salib bersekutu yang terdiri daripada Tentera British, Greece, Australia, Perancis dan Italy. Kali ini bangsa Arab tidak ikut bersekutu kerana merajuk sesudah menyedari di tipu oleh Kafir Salib. Walaupun peperangan ini memakan korban yang sangat besar di kedua-dua pasukan akhirnya Mujahiddin Islam Uthmaniyah dapat mengalahkan Kafir Salib penjajah Turki. Turki berjaya di merdekakan daripada kekuasaan Penjajah Kafir Salib Inggeris. Benarlah Hadis Nabi ini yang menjamin Umat Islam tidak akan pernah kalah berperang dengan kaum kafir walaupun lemah sekalipun melainkan kerana adanya pengkhianatan umat Islam sendiri dari dalam.

    Namun disayangkan kerana akibat kebencian yang meluap-luap Bangsa Turki terhadap Arab Wahabi yang mengkhianat Khalifah Uthmaniyah atas nama pemurnian agama Islam yang melampau sehingga tergamak membunuh berpuloh-puloh mujahiddin Uthmaniyah yang sedang berperang dengan Kafir Salib. Bukan sekadar membunuh mujahiddin malahan Arab Wahabi menggunakan nama pemurnian agama Islam dengan menghalalkan darah umat Islam dengan membunuh Para Ulama’ dan umat Islam yang di tuduh sesat dan ahli bid’ah. Kebencian yang meluap-luap kerana pengkhianatan Arab Wahabi atas nama pemurnian agama Islam akhirnya ramai pemuda-pemuda Turki menuntut segala ajaran, budaya, dan tulisan arab di buang dan di hapuskan daripada bumi Turki yang telah di khianati bangsa Arab. Ramainya pemuda Turki lebih rela menjadi ateis daripada mengambil unsur Arab dalam Islam. Pemimpin Turki yang baru di lantik Mustafa Kemal Attaturk menterjemahkan bahawa mereka bukan membenci agama Islam tetapa mereka membenci bangsa Arab. Sebab itulah agama Islam masih dibenarkan di bumi Turki tetapi bahasa Arab di hapuskan. Maka terjadilah azan dalam bahasa Turki, Al Quran bahasa Arab di hapus dan di ganti dengan bahasa Turki. Tidak ada satu huruf arab pun dibenarkan di bumi di Turki. Sebab kebencian kepada Arab Wahabi pengkhianat inilah maka undang-undang Al Quran yang sudah beribu tahun di amalkan kerajaan Islam di hapuskan dan di gantikan dengan undang-undang Sekular. Inilah terjemahan bangsa Turki terhadap pengkhianat.

    Begitulah juga yang terjadi dengan Pemerintahan tunggal Empayar Islam Uthmaniyah yang menguasai dunia Islam termasuk wilayah Arab. Penguasa kecil di arab Hijaz semuanya duduk dibawah kuasa Turki Uthmaniyah. Mereka hanya wakil pemerintah Uthmaniyah sahaja. Begitu juga Mesir juga milik Uthmaniyah. Mesir bukan duduk di luar Uthmaniyah. Samalah seperti Sumatera dalam Indonesia. Rakyat Sumatera juga ramai yang menjadi Tentera Indonesia. Sama seperti Uthmaniyah juga memiliki Tentera berbagai bangsa termasuk bangsa Arab, bangsa Turk, Bangsa Eropah dan lain-lain. Berdirinya Arab Saudi pertama juga hasil propaganda Inggeris yang telah aktif lebih awal lagi. Inggeris dan sekutunya Eropah cukup sadar mereka tidak mungkin dapat mengalahkan Khalifah Uthmaniyah walaupun Kerajaan Uthmaniyah di katakan paling lemah. Perlu di ingat, lemahnya Kerajaan Islam Uthmaniyah pun adalah di sebabkan hasil licik propaganda Inggeris dalam usaha menghancurkan Uthmaniyah.

    Setelah menyadari kekuatan Uthmaniyah adalah di sebabkan ketaksuban umat Islam terhadap Ulama Uthmaniyah yang berfahaman Mazhab 4 yang dianggap pewaris Nabi. Betapa taksubnya Umat Islam terhadap Nabi sehingga juga sangat taksub kepada Al Quran dan Hadis Nabi. Mereka mendapati walaupun umat Islam terdiri dari pelbagai bangsa besar mereka tetap bersatu kerana semuanya berpegang kepada fahaman yang sama dalam Islam. Untuk itu mereka kesatuan umat Islam ini mesti di pecahkan terlebih dahulu sebelum Kerajaan Uthmaniyah dapat di hancurkan.

    Oleh itu Inggeris dan Peranchis telah memanggil agen-agennya untuk usaha memikirkan dan membincangkan bagi melemahkan Uthmaniyah dan strategi seterusnya menghancurkan Uthmaniyah. Setelah mengetahui punca kekuatan Islam maka pihak Zionis telah mengumpulkan agen-agennya dengan fokus utama ialah memecah belahkan umat Islam mengikut bangsa-bangsanya. Fokus utama ialah menumpukan kepada mengkaji Al Quran dan Hadis Nabi Muhammad bagi menimbulkan pertentangan sesama Para Ulama lebih dahulu untuk memecahkan ketaksuban kepada Ulama dan Kebencian kepada Khalifah. Sasaran mereka hanya kepada bangsa Arab sahaja kerena Nabi Muhammad saw berbangsa Arab dan agama Islam berasal dari Arab dan Al Quran dan Hadis berbahasa Arab SEDANGKAN KHALIFAH YANG BERKUASA DAN MEMERINTAH SEJAK BERATUS-RATUS TAHUN DULU ADALAH BANGSA TURK PADAHAL KHALIFAH YANG PERTAMA DI MULAI DARIPADA BANGSA ARAB.

    Maka peringkat pertama di kirim beratus-ratus Agen-agen Kafir Salib terutama di Jazirah Arab dari Hijaz hingga ke seluruh Syam, termasuk Iran. Mereka di perintah mempelajarai Al Quran dan Hadis Nabi dan di pertemukan kembali cara dan tektik yang boleh di gunakan untuk memecah belah umat Islam sambil menjalankan propaganda membenci Khalifah dengan hasutan Khalifah Islam adalah Hak Mutlak bangsa Arab kerana Nabi Muhammad saw berbangsa Arab, Al Quran berbahasa Arab, Agama Islam berasal dari Arab dan Khalifah asal adalah sahabat Nabi hingga Abbasiyah adalah terawal dari bangsa Arab. Mereka menghasut dengan berkata bangsa Turki telah merampas hak khalifah dari tangan bangsa Arab. Hasutan demi hasutan ini semakin melebar dan malah meresam masuk dalam tentera Uthmaniyah dari kalangan bangsa Arab yang kemudian keluar dari pasukan Arab dan menyerti pemberontak Arab Wahabi.

    Kebencian ini di perkuatkan pula dengan fahaman baru yang menentang ajaran Ulama’ Uthmaniyah. Agen Inggeris menjadi mahir dalam Al Quran dan Hadis ini yang berpura-pura memeluk Islam. sebahagian mereka di angkat menjadi Imam. Mereka melakukan propaganda mengelirukan menggunakan Al Quran dan Hadis Sahih. Fahaman baru ini kemudian semakin meresap masuk di kalangan umat Islam. Walaupun dikatakan ada ramai agen kafir salib ini akhirnya memang benar-benar menjadi umat Islam yang taat dan enggan kembali kepada negara asalnya namun masih ramai juga agen kafir yang masih meneruskan usaha propaganda mereka untuk membenci ulama’ dan Khalifah menggunakan Agama Islam. Bangsa Arab yang menjadi pengawai dalam pasukan Uthmaniyah inilah tanpa di sadari telah melakukan sabotaj untuk melemahkan Khalifah Uthmaniyah. Mereka tanpa sedari jugalah yang menjadi pengkhianat sehingga menyebabkan satu-demi satu wilayah Uthmaniyah jatuh ke tangan Tentera Kafir.

    Antaranya semasa Negara Kafir Salib ini meningkatkan membangun teknologi ketenteraannya sebagaimana biasa sejak dahulu Pemerintah Uthmaniyah juga berusaha membangun Tentera Uthmaniyah untuk menyaingi pasukan tentera musuhnya. Sayangnya usaha Khalifah ini mendapat tentangan dan kritikan dengan tuduhan bid’ah sesat meniru pekerja orang kafir. Selain itu menuduh Khalifah membazirkan wang Negara. Usaha memajukan Negara semua di tuduh bid’ah dan di halang dengan alasan meniru kaum kafir. Inilah antara sebab mengapa Khalifah telah cuba membangun ketenteraan Uthmaniyah secara rahsia. Namun usaha ini sehingga menyebabkan kegagalan Khalifah untuk menyaingi persenjataan Tentera kafir salib. Inilah juga menyebabkan beratus-ratus kapal perang Tentera Uthmaniyah berakhir dengan menjadi besi buruk kerana tidak pernah di selanggara berpuloh tahun lama. Sabotaj seperti inilah yang menyebabkan Uthmaniyah melemah dan satu demi satu wilayahnya hilang kepada tangan Kafir Salib.

    Kesibukan Khalifah dan Tentera Uthmaniyah yang sentiasa di serang oleh pelbagai tentera musuh memyebabkan Tumpuan Khalifah terhadap wilayahnya Hijaz, Makkah, Madinah, Syam, Irak. Palestin kurang mendapat kawalan Uthmaniyah. Kafir Salib Inggeris telah memberikan janji kepada Arab Wahabi bahawa Empayar Uthmaniyah seluruhnya akan di serahkan kepada bangsa Arab jika Kekhalifah Islam Uthmaniyah dapat di runtuhkan. Janji inilah yang meningkatkan usaha meningkatkan Tentera pemberontak Arab wahabi. Inggeris pula membekalkan senjata api yang banyak kepada bangsa Arab ini bagi memerangi Khalifah Uthmaniyah.. Jalinan jalan keretaapi Uthmaniyah yang penting untuk bekalan ketenteraan Uthmaniyah dan sokongan ketenteraan hingga ke Mekah ini kemudiannya di hancurkan oleh Arab Wahabi sehingga Tentera Uthmaniyah yang sedang berperang dengan Kafir Salib terputus dan bantuan gagal di salurkan. Tentera Uthmaniyah ini kemudian di bunuh oleh Arab Wahabi yang mengaku diri sebagai Islam tetapi menuduh mereka kaum kafir walhal Arab Wahabi bersekutu dengan Tentera Kafir Salib yang benar-benar kafir.

    Ramailah mereka ggunakan Maka di temukan mengapa Uthmaniyah terlalu kuat. Mereka mendapati kekuatan Uthmaniyah adalah kerana kerana ketaksuban umat Islam terhadap Para Ulama’ Uthmaniyah dan kepada Al Quran dan Hadis Nabi.

  36. abisyakir mengatakan:

    @ Sall43…

    Kami sudah sangat sering menghadapi pandangan-pandangan seperti Anda ini. SANGAT SERING SEKALI. Intinya hanya diulang-ulang saja. Berpanjang-panjang tapi ya tidak bergeser dari tema PERMUSUHAN ANTAR SESAMA MUSLIM. Allah SWT memerintahkan kita bersaudara, tapi selalu saja ada pandangan-pandangan permusuuhan (provokasi) seperti ini. Baiklah kami akan bantah pemikiran ini, tapi secara praktis saja. Tidak usah berpanjang-panjang.

    [1]. Ibnu Khaldun mengatakan, bahwa suatu peradaban yang pernah mencapai masa puncak, ia akan terus menurun, sampai kemudian bubar. Khilafah Turki Utsmani eksis sekitar 800-an tahun, suatu masa yang sangat panjang. Bila waktunya tiba, pastilah peradaban Islam Turki ini akan surut juga. Itu sudah Sunnatullah. Seperti disebut dalam Surat Ali Imran: “Wa tilkal aiyamu nudawiluha bainan naas” (dan itulah hari-hari -pergiliran kejayaan kemunduran- Kami pergilirkan di antara manusia).
    [2]. Kesalahan terbesar Turki Ustmani ialah menggabungkan diri dengan Italia dan Jerman dan Perang Dunia I. Di sana Turki menyerahkan wilayah Libya kepada Italia, padahal Libya adalah wilayah Islam. Perbuatan Turki ini mendapat perlawanan dari Syaikh Omar Mokhtar dan pejuang Islam Libya. Ketika Jerman-Italia kalah dalam Perang Dunia I, Turki Utsmani dipreteli kekuasaannya; itu konsekuensi dia telah beraliansi dengan pihak yang kalah. Ini adalah FAKTA terbesar, namun kemudian mereka menjadikan gerakan dakwah Wahabi sebagai “kambing hitam”.
    [3]. Di Turki sendiri berkembang luas gerakan Freemasonry (pro Yahudi) yang terus merongrong kekuasaan Sultan Abdul Hamid II, dipimpin oleh komandan Yahudi Theodore Hertzl. Kisah tawar-menawar antara Sultan Abdul Hamid dengan Herztl sangat terkenal dalam sejarah, ketika Hertzl menawarkan dana jutaan gulden untuk menutupi hutang-hutang Turki, asalkan mereka diberi Tanah Palestina. Tapi Sultan Abdul Hamid II menolak keras. Itu terjadi sebelum masuk tahun 1900, artinya masih lumayan jauh sebelum Turki bubar pada 1924.
    [4]. Gerakan politik Wahabi di Saudi, berkembang bertahap. Ada Kerajaan Saudi jilid I, Kerajaan Saudi jilid II, Kerajaan Saudi jilid III. Jilid I dirintis oleh Muhammad Al Saud, pada era sekitar 1750-an. Jaraknya ke era keruntuhan Turki Utsmani terlalu jauh. Sekitar 170 tahunan. Masak gerakan yang terpaut waktu sangat lama itu bisa menjadi pemicu keruntuhan Turki Utsmani? Ini sangat aneh.
    [5]. Jauh hari sebelum berdiri Kerajaan Saudi, di Najd sudah berkembang kekuasaan politik bupati-bupati. Atau istilahnya kekuasaan AMIR-AMIR. Kekuasaan Amir ini bahkan masih bertahan sampai kini. Coba lihat kekuasaan politik UNI EMIRATE ARAB. Itu kan struktur tradisional politik Jazirah Arab. Antar Emir waktu itu terjadi saling memperebutkan kekuasaan dan pengaruh. Turki Utsmani tidak mampu meng-handle kekuasaan Emir-emir ini, sehingga mereka cenderung independen. Lagi pula, wilayah padang pasir Najd dianggap tidak terlalu menarik bagi Turki Utsmani. Ya, di padang pasir tak ada sesuatu yang dianggap berharga (ketika itu). Inilah kondisi awal peta politik sebelum Saudi berdiri.
    [6]. Faktanya, gerakan politik Wahabi tidak pernah menyentuh wilayah Turki Utsmani, hanya beredar di sekitar Najd saja. Bagaimana bisa Wahabi dituduh dengan sejuta tuduhan, wong dia tak pernah menjangkau wilayah Turki?
    [7]. Kekuasaan di Hijaz (Makkah-Madinah) awalnya di tangan keluarga Syarif (keturunan Hasan Ra). Ketika Turki Ustmani bermaksud menguasai Hijaz dengan salah satu strateginya, membuat rel kereta api dari Ankara ke Madinah; kekuasaan Syarif menolak dan tidak mendukung. Terjadilah konflik di antara mereka. Nah, dalam periode inilah muncul sosok Lawrence Arabiya. Dia berdiri mendukung keluarga Syarif. Jadi awalnya, konflik itu terjadi dengan keluarga Syarif. Bukan penguasa Hijaz (Abdul Aziz Al Saud). Hanya saja, kalangan Wahabi ketumpahan “getahnya”. Mereka difitnah para Habaib dan para pengikutnya sebagai kelompok yang merongrong Turki Utsmani.
    [8]. Untuk membuktikan bahwa keluarga Syarif punya kekuatan significant, mudah saja. Kerajaan Yordan saat ini adalah pewaris kekuasaan itu. Bagaimana sikap negara tersebut terhadap Khilafah Islamiyah, sejarah Turki Utsmani, dan sebagainya, ya masyarakat bisa menilai sendiri.

    Banyak hal-hal politis terjadi di antara relasi Turki Utsmani dan gerakan Wahabi di Saudi. Tapi ya begitulah, hal-hal tersebut kemudian DIKRISTALISASI SECARA AGAMA menjadi pertentangan akidah antara sesama Muslim. Allah Maha Tahu mana yang benar dan mana yang zhalim.

    Admin.

  37. simon mengatakan:

    Saudaraku
    Mana yg lebih utama, lebih dekat ke perintah Allah dan RasulNya, bercerai berai menjadi banyak negara atau bersatu laksana satu tubuh?
    berusaha memisahkan diri atau tak kenal putus asa bersatu dan mempersatukan?
    Saudaraku, orang2 kafir tidak akan rela melihat umat Islam bersatu.
    Sebaik apapun zahirnya, mereka tetap punya misi tak baik (dalilnya sudah mashur)
    Semua kelompok punya kesalahan, pun juga memiliki kelebihan. mengakui kesalahan bukanlah aib, tetapi bentuk muhasabah. mau itu Turki Ustmani, Saudi Wahabi, Syarif Husein, dll.
    Jikalau pendahulu kita melakukan kekilafan, tidak usah kita ikuti.
    Sekarang saatnya kita menjalin ukhuwah yang tercabik, membangun kepercayaan yang tergusur, mempersatukan segenap potensi yang kita miliki.
    BERSATU dan MEMPERSATUKAN
    Wallahua’lam

  38. abisyakir mengatakan:

    @ Simon…

    Setuju setuju setuju. Bangun ukhuwwah, perbaiki perselisihan!

    Admin.

  39. Someone5 mengatakan:

    “Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persiasehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR Muslim 5161)

    ustad, saya ingin menanyakan maksud hadist ini. yang
    isinya kaum muslimin akan memerangi jazirah arab. seperti kita ketahui jazirah arab itu sebagian besar adalah wilayah arab saudi. afwan…

  40. imran mengatakan:

    Mhn maaf… penulis blog ini juga sy pikir menggunakan sentimen juga, sentimen sekat2 kerajaan dan nasionalisme. Khilafah turki bukanlah kerajaan tetapi kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin, sehingga haram hukumnya berlepas diri darinya, anggaplah TE laurence tdk berada dibalik skenario berdirinya arab saudi, namun fakta2 yg anda paparkan sekaligus tidak terelakkan bahwa mereka memang melakukan upaya2 melepaskan diri. Memang, kebetulan saja arab saudi yg disorot dlm tulisan ini, tetapi sbg seorg muslim semua bagian yg berlepas diri dr khilafah adalah kebathilan. Rasanya anda juga tendensius mengabaikan apa itu khilafah dan terkesan pembenaran tindakan abdurahman bin saud untuk berlepas diri. Quraisy telah ada jauh sblm rrasulullah ada, namun ia kmdn dibawah kekuasaan islam . Baitul maqdis jg telah ada jauh sblm ditaklukkan, namun stlh ditaklukkan ia berada dibwh kekuasaan islam hingga terlepas kembali. Apakah anda ingin menggunaka logika yg sm untuk kasus ini?

  41. abisyakir mengatakan:

    @ Someone5…

    Kan dulu di zaman Nabi Saw seluruh jazirah Arab belum masuk Islam. Namun di zaman para Khulafaur Rasyidin, alhamdulillah seluruh Arab bisa ditaklukkan kaum Muslimin. Kalau Saudi kan hanya sebagian jazirah Arab. Masih ada Yaman, Oman, Bahrain, Kuwait, Qatar, dll. Terimakasih.

    Admin.

  42. abisyakir mengatakan:

    @ Imran…

    Ya setuju, tindakan melepaskan diri dari Khilafah itu keliru. Tapi harus diingat, isu yang luas berkembang, Saudi disebut-sebut sebagai pemicu kehancuran Khilafah Turki Utsmani. Ini salah, salah besar. Kami tidak setuju melepaskan diri dari Khilafah. Tapi jangan juga memfitnah manusia dengan dosa yang tidak diperbuatnya.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: