Pintar Melihat Situasi (Kasus Perda Miras)…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Beberapa waktu lalu masyarakat heboh oleh kasus kekejaman di Mesuji (Lampung & OKI). Setelah itu perhatian bergeser ke masalah Syiah, khususnya setelah terjadi insiden kekerasan di Sampang Madura. Dan kini, muncul kasus lain, seputar kebijakan Mendagri Gamawan Fauzi mencabut Perda Miras.

Kalau melihat kasus-kasus di atas, kita rasanya benar-benar diombang-ambingkan oleh isu-isu media yang berkembang. Setelah Perda Miras ini, mau apa lagi? Bagaimana sikap Ummat selanjutnya? Dan sampai kapan kita akan terus menjadi “korban pemberitaan” media?

He he he... Sebuah Satire yang Lucu.

Pencabutan Perda Miras adalah TRAGEDI. Sebelum itu, tokoh-tokoh Islam di  Indramayu sudah protes kepada Bupati Indramayu soal pencabutan Perda Miras di wilayah Kabupaten Indramayu. Mereka protes, sejak pemberlakuan Perda itu kasus-kasus kekerasan di masyarakat sudah mereda; kok bisa-bisanya Perda malah mau dicabut? Jangan-jangan isi pemerintah itu kaum setan yang suka melihat rakyatnya tawuran, cakar-cakaran, berbuat kriminal? Maybe.

Tapi kasus di Indramayu seperti menjadi “test of the water”. Kalau pencabutan Perda di Indramayu sukses, maka wilayah lain boleh sukses juga dong? Begitu logikanya. Maka cara-cara seperti ini pada hakikatnya hanya semakin menunjukkan bahwa: negara demen merusak rakyatnya sendiri! Ironis sekali ya, tapi nyata.

Namun, di balik kebijakan pencabutan Perda Miras oleh Gamawan Fauzi ini, ada sebuah kenyataan yang perlahan-lahan mulai lenyap. Ia adalah kondisi ketika kaum Syiah (Rafidhah) mulai dilupakan. Padahal dalam 3 bulan terakhir, mereka mengalami tekanan sangat hebat. Begitu hebatnya, sehingga Said Aqil Siradj harus ber-taqiyyah, berpura-pura membela Ahlus Sunnah.

Bisa jadi, kalau isu seputar pencabutan Perda Miras itu berkembang sangat pesat, kita akan melupakan soal kaum Syiah itu. Kasus ini seperti upaya mengalihkan perhatian Ummat dari masalah sebenarnya. Gamawan Fauzi sengaja “dikorbankan” untuk mengalihkan perhatian Ummat dari masalah Syiah dan bahaya ekspansi Iran ke Indonesia.

Idealnya, kita menuntut Menteri Dalam Negeri membatalkan kebijakan konyol itu, sebab legalisasi Miras merupakan jalan lebar untuk menghancurkan masyarakat. Di sisi lain, kita tidak boleh melupakan isu Syiah yang sudah mendekati “kesimpulan akhir”. Jika cara bersikap kita selalu “bongkar-pasang” (menutupi satu isu dengan isu lain), khawatirnya kehidupan Ummat ini akan jalan di tempat, alias tidak bertambah maju dari waktu ke waktu.

Metode cerdas yang bisa kita terapkan untuk menyiasati semua ini, antara lain sebagai berikut:

PERTAMA. Hendaknya gerakan-gerakan Islam melakukan spesialisasi dan saling sinergi satu sama lain. Saat ada isu Mesuji, silakan gerakan yang concern melindungi nyawa Ummat tampil ke depan; saat ada isu Syiah, silakan gerakan anti Syiah maju ke muka; saat ada isu perusakan moral (seperti pencabutan Perda Miras) silakan gerakan anti maksiyat turun tangan. Jadi, ada spesialisasi; jangan generalisasi terus-menerus.

KEDUA. Hendaknya kita menyikapi kasus-kasus itu sesuai kavling masing-masing. Jangan over-lapping, berpindah-pindah isu, atau ingin mengomentari segalanya. Tujuannya, selain agar penyikapan kita maksimal, juga agar isu-isu ditanggapi oleh para ahlinya. Selain itu, yang terpenting, agar kita memiliki “nafas panjang” untuk menyikapi isu-isu ini. Jujur harus diakui, selama ini energi kita sering ludes karena reaksi-reaksi yang tidak berkesinambungan (temporer).

KETIGA. Dalam menilai suatu isu, jangan termakan oleh provokasi media. Hendaknya kita selalu melihat akar masalah dari setiap persoalan. Kalau melihat masalah hanya cabang, ranting, atau daunnya saja; dapat dipastikan energi kita akan sangat terkuras, dan hasilnya tak jelas pula. Misalnya, kasus Mesuji. Kita mesti melihat kasus ini dari sisi akarnya, yaitu praktik kapitalisme yang semakin buas; sedangkan posisi Polri lebih sebagai “penjaga” kepentingan kaum kapitalis itu. Usahakan untuk selalu mencari akar masalah, jangan hanya berkutat di perincian masalah.

KEEMPAT. Untuk menilai penting-tidaknya suatu masalah, kerahkan memori untuk mengingat-ingat rentetan kasus itu dari waktu ke waktu. Jangan lupakan fakta sejarah! Kasus kecil biasanya rentetan waktunya sebentar; sedangkan kasus besar, biasanya terjadi dalam lintasan waktu lama (panjang). Memori kita harus difungsikan untuk melihat benang merah dari kasus-kasus itu.

KELIMA. Alangkah baik kalau kaum Muslimin memiliki kekuatan LOBBY yang handal. Kalau Anda perhatikan, gerakan Zionisme internasional sangat mengandalkan lobi-lobi ke penguasa (birokrasi). Betapa banyak masalah bisa diselesaikan dengan lobi-lobi, langsung to the point ke pemangku kebijakan. Sebuah lobi yang efektif kerap kali lebih manjur ketimbang 100 kali aksi demo yang tak ditanggapi oleh penguasa. (Ke depan, kekuatan lobi ini perlu diperkuat oleh kaum Muslimin).

Cara-cara seperti ini sangat memudahkan dan meringankan beban kita, saat berhadapan dengan berbagai isu yang muncul ke permukaan. Kalau akal kita dipandu oleh media-media seperti MetroTV, TVOne, Kompas, Media Indonesia, Tempo, dll. yakinlah kita tak akan pernah menemukan hakikat sebenarnya dari peristiwa-peristiwa yang ada. Mereka hanya bermain dalam level “jualan berita” sehingga sulit diharapkan tanggung-jawab sosialnya atas segala berita yang mereka muat.

Semoga yang sederhana ini bermanfaat ya. Allahumma amin. Mohon maaf atas segala salah dan kekurangan.

[Abah Syakir].

Iklan

3 Responses to Pintar Melihat Situasi (Kasus Perda Miras)…

  1. mungkin sangat urgen bagi kaum muslimin juga harus adanya hidup dalam bingkai jama`ah, supaya tidak mudah di petak2.

  2. Saha berkata:

    naam akhiiii….lobi yg efektif lebih kuat dari 100 kali demo….setuju ustad…

  3. Alamna berkata:

    ya lobi …ya demo….dipakai dua-duanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: