Gamawan Fauzi Ingin Melindungi Tape Ketan. He he he…

Ada yang lucu dari argumen Mendagri, Gamawan Fauzi, dengan tokoh-tokoh FPI & FUI, pasca demo di sekitar kantor Kemendagri (Kamis, 12 Januari 2012) lalu. Dalam dialog yang dilakukan, Mendagri mengkhawatirkan pelaksanaan Perda Miras di kota/kabupaten tertentu, bisa mengganggu eksistensi makanan tradisional, seperti tape singkong dan ketan hitam.

Data faktualnya sebagai berikut:

5. Mendagri pada prinsipnya tidak melarang Perda Anti Miras, hanya dikhawatirkan Perda Anti Miras yang melarang total peredaran minuman / makanan beralkohol tersebut akan berimbas kepada makanan tradisional yang juga mengandung alkohol seperti tape singkong dan tape ketan dan yang sejenisnya, sehingga bisa menimbulkan problem sosial baru di kemudian hari. Ada pun Miras yang merusak masyarakat pada prinsipnya Mendagri sangat setuju untuk dilarang. (Inilah Kesimpulan FPI Hasil Pertemuan dengan Mendagri, Suara-islam.com, 13 Januari 2012).

Dalam dialog dengan KH. Amidan (dari MUI) dan Romaharmuzy (dari PPP) di salah satu TV swasta, Gamawan Fauzi juga menekankan soal makanan tradisional yang mengandung alkohol, seperti tape singkong dan tape ketan. Jadi, alasan tape itu memang serius, sehingga sering dipakai sebagai “senjata” oleh Pak Menteri. Lucu juga…

Hal-hal demikian ini tampak lucu… Tapi tergantung selera humor juga. Kalau seleranya “sekelas OVJ” kagak bakalan ngerti deh. Wong, lawakan di Trans7 itu benar-benar nyampah… Sama juga nyampah-nya dengan lawakan “komedi projek” di TransTV. Nonton lawakan begituan bukan tambah sehat, malah tambah sakit…

Coba kita renungkan…

PERTAMA, sejak kapan Mendagri begitu peduli dengan tape singkong dan tape ketan? Wuih, hebat, hebat banget… Kalau Walikota Solo Jokowi peduli dengan Mobil ESEMKA. Nah, ini Pak Menteri (atasan Jokowi) peduli dengan tape singkong dan tape ketan. Wuih wuih wuih…hebat betul. Beliau layak menjadi “Bapak Makanan Tradisional”, khususnya “Bapak Tape Ketan”.

KEDUA, sebenarnya eksistensi tape singkong, tape ketan, atau peuyeum (dalam tradisi masyarakat Sunda) bukan hal baru lagi. Ini sudah aja sejak ratusan tahun lalu. Makanan-makanan demikian, dalam bentuk padatan, tidak pernah menjadi pemicu kriminalitas, tawuran, perkelahian, dll. Seperti di Madiun terkenal dengan makanan Brem. Ini juga dibuat dari saripati air tape ketan. Tapi baik-baik saja. Tidak ada klaim, orang makan Brem lalu tawuran. Jadi sebenarnya, makanan tradisional ini bukan sumber masalah sosial.

KETIGA, air dari tape ketan memang bisa dibuat tuak (minuman keras). Ini bisa dan memang ada praktiknya. Tetapi semua orang bisa membedakan dengan jelas mana tape ketan dan mana tuak? Itu bedanya jelas, lho. Kalau sudah berupa tuak, maka konsumennya pun berbeda. Untuk tape ketan, yang makan segala golongan; tetapi untuk tuak, yang mengonsumsi ya kalangan “tukang mabuk” saja. Itu beda Pak Menteri.

KEEMPAT, secara Syariat Islam, masih ada perselisihan. Sebagian orang menganggap makanan seperti tape ketan atau tape singkong tidak boleh dikonsumsi, karena mengandung alkohol. Sebagian lain berpendapat boleh dikonsumsi, sebab makanan itu bukan KHAMR (minuman memabukkan yang biasa dikonsumsi tukang mabuk). Makanya, hukum tape ketan itu masih “di tengah-tengah”, antara yang tidak membolehkan dan membolehkan. Tetapi semua pihak sepakat bahwa tuak (minuman keras) memang diharamkan.

Jadi, alasan Pak Menteri sangat mengada-ada. Itu adalah alasan yang dicari-cari. Logika mereka, “Pokoknya harus ada yang bisa dipakai mendalili pencabutan Perda Anti Miras. Cari saja deh, apapaun dalilnya.” Posisi tape singkong atau tape ketan itu masih diperdebatkan di kalangan ahli fiqih Islam di Tanah Air. Jadi, bagaimana bisa ia masuk dalam aturan Perda Miras yang melarang beredarnya minuman keras? Tidak akan masuk kesana, Pak Menteri.

Perlu diketahui, untuk membuat miras itu bisa dengan banyak bahan. Singkong atau ketan, hanya sebagian bahan saja. Miras bisa dibuat dari gandum, dari air aren, dari jus buah, dll. Bahkan anggur itu terkenal sebagai salah satu bahan baku pembuatan miras di dunia. Kalau misal masalah tape singkong dan ketan dianggap masalah, jangan-jangan nanti anggur juga dilarang? Apakah akan sejauh itu? Masya Allah…

Mungkin karena saking kepepet, alasan apapun dipakai. Meskipun tidak logis… Tentu ini lucu sekali. Meskipun, pada akhirnya, kembali ke “selera humor” masing-masing orang. Iya kan… Tapi yang jelas, kalau Anda membaca artikel ini lalu tertawa terbahak-bahak seperti orang nonton OVJ Trans7, wah bahaya tuh… Perlu periksa ke psikiater. Sok geurak periksa. Khawatir aya nanaon… He he he…

 

Mine.

 

Iklan

2 Responses to Gamawan Fauzi Ingin Melindungi Tape Ketan. He he he…

  1. He he he… Ada ada saja akhy….
    Syukron informasinya

  2. Polan berkata:

    Aduh pa menteri ada ajah udh ajah tar law udh gx jd mentri ikut audisi jd pelawak ajah udh dpet duit insya ALLAH psti dpet ganjaran jg bkin orng sneng,,,hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: