Rahasia Revolusi di Indonesia. You Know…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Nih, kita mau bicara soal revolusi ya. Bukan sembarang revolusi, tapi RAHASIA revolusi di Indonesia. He he he…serem bukan. (Kalau belum terasa seram, coba sementara waktu di-serem-seremkan, biar lebih “kondusif”).

Singkat kata, beberapa waktu lalu di sebuah stasiun TV swasta ada acara menarik. Judulnya hebat, Sarasehan Anak Negeri.

"Kedaulatan Bangsa Sudah Direbut TV Hedonis"

Tema yang diangkat dalam acara Sarasehan Anak Negeri itu cukup membuat bulu kuduk merinding… “Menyelamatkan Negeri Autopilot“. Waduh, negeri kita diibaratkan seperti sebuah pesawat yang pilot-nya sudah tak berfungsi, sehingga akhirnya pesawat dikendalikan dari jarak jauh, dengan pengendalian komputer. Huhuy…sudah separah itu kondisi bangsa kita.

Istilah negeri autopilot itu bukan main-main. Ia mencerminkan tingkat keprihatinan atau kecemasan yang sudah memuncak. Ibarat sebuah kapal laut, mengarungi lautan tanpa nahkoda; atau ibarat Metromini sedang meluncur di jalanan, tanpa sopir; atau ibarat anak-anak ayam berkeliaran kesana-kemari dengan tidak jelas dimana induknya. Ini bukan perkara ringan, Bro & Sis!

Para elit politik, tokoh masyarakat, akademisi, penggembira layar TV, figuran-figuran dunia selebritas…mereka berunjuk pendapat, opini, serta analisis. Ada pro dan kontra; ada saling dukung-mendukung; ada saling menegasikan satu pendapat atas pendapat lain. Intinya, dalam sarasehan itu tercapai kesepakatan untuk tidak sepakat. He he he…

Di antara tokoh-tokoh itu seperti ada kesamaan persepsi, bahwa saat ini di Indonesia “ada pemimpin, tetapi sekaligus tidak ada”. Secara formal, SBY sebagai pemimpin; tetapi secara realitas, SBY tidak hadir di tengah-tengah rakyatnya. Kalau hadir pun, dijaga super ketat…kalau perlu seorang tukang kebun pun diinterogasi habis-habisan, sampai depressi. Banyak pihak menyalahkan kepemimpinan SBY, sebagai biang keladi kehancuran KEDAULATAN BANGSA di segala sisi atas negara-negara asing.

Menarik menyebut pandangan salah seorang politisi senior, TB. Hasanuddin. Kata beliau, saat ini yang dibutuhkan adalah gerakan “Ratu Adil”. Apa itu gerakan “Ratu Adil”? Ia adalah: Rakyat Bersatu Angkat Bedil.  Waduh waduh waduh…sudah sampai sejauh itu ya.

Okelah…intinya kepemimpinan SBY sudah dianggap nothing. SBY perlu diganti, tanpa harus menunggu tahun 2014 nanti. Cara menggantinya, ya melalui revolusi. Mungkin seperti yang digagas oleh Rizal Ramli dan kawan-kawan dari gerakan perubahan (sudah diubah jadi “gerakan revolusi).

Nah, sekarang pertanyaannya: Mengapa ide revolusi dan semangat perubahan politik di Indonesia akhir-akhir ini selalu kandas? Mengapa sulit sekali menggerakkan perubahan? Mengapa tahun 1998 terjadi perubahan, tetapi pada tahun-tahun ini susah terjadi perubahan politik? Mengapa dan mengapa? Apa rahasianya? Apa sumber masalahnya?

Ada beberapa teori yang bisa menjelaskan, mengapa agenda revolusi politik di Indonesia saat ini gagal maning, gagal maning. Teori-teori ini bisa berdiri sendri, bisa juga saling melengkapi.

Pertama, anggota TNI adalah pihak yang paling mampu melakukan revolusi, sebab mereka punya akses senjata. Tetapi secara institusi, aturan, dan hirarki, TNI sangat sulit melakukan semua itu. Kondisi masa sekarang beda dengan dulu.

Kedua, aturan politik terutama terkait dengan posisi DPR, sudah banyak berubah. DPR tidak memiliki kewenangan kuat atas posisi Presiden, seperti di masa-masa sebelumnya.

Ketiga, para mahasiswa sebagai insan yang sangat diharapkan menjadi motor revolusi, umumnya sudah lebay. Lebay karena beban studi mereka berat, biaya studi mahal (sehingga sayang kalau ikut kegiatan politik), terjerumus gaya hidup hedonis (pornografi, seks, narkoba), serta posisi mereka hanya sekedar sebagai “alat pemukul” saja.

Keempat, UU yang berlaku di negara kita telah banyak berubah, misalnya terkait dengan HAM, kebebasan pers, liberalisasi ekonomi, penguatan posisi Polri, dll. Semua itu membuat peluang-peluang terjadinya perubahan politik, semakin minim.

Kelima, ada juga yang mengatakan (seperti Bapak Chep Hernawan dari Garis Cianjur), bahwa sebagian elit politik nasional yang pro perubahan, dihinggapi rasa ketakutan untuk membuat perubahan politik, misalnya melalui skenario kudeta politik.

Tapi di atas semua itu, ada SATU SEBAB yang sangat kuat yang membuat bangsa Indonesia menjadi lebay, lemah, tidak kreatif, banyak mengeluh, militansi pudar, terlalu cinta dunia, dan takut mati (untuk membela nilai-nilai kebenaran dan keadilan). Satu sebab ini bisa mengalahkan sebab-sebab yang lainnya. Ia diyakini sebagai the ultimate reason di balik kegagalan bangsa Indonesia melakukan perubahan politik.

Alasan apakah itu?

Sederhana saja, yaitu: “Hilangnya kedaulatan hidup rakyat Indonesia karena ia telah direbut, dikuasai, didominasi, dan dikendalikan oleh TV-TV SWASTA yang mayoritas bercorak hedonistik!

Nah, inilah masalah utamanya. Kehidupan bangsa Indonesia saat ini TELAH DIKUASAI oleh TV-TV swasta yang rata-rata liberal, kapitalistik, hedonis, dan anti perubahan politik itu. Inilah causa primanya, wahai bangsa Indonesia. Jangan pernah Anda berharap akan bisa membuat perubahan politik yang REFORMATIF, selama belum menyelesaikan urusan dengan TV-TV swasta itu. Merekalah sejatinya “pemilik kedaulatan riil” bangsa Indonesia saat ini.

Anda mau bukti? Baik kita ungkap sebagian buktinya…

[1]. Revolusi pada tahun 1998 tidak akan terjadi, tanpa dukungan dari TV-TV swasta yang intens menayangkan kegiatan demo dimana-mana, tanpa jeda, tidak mengenal waktu. Karena siaran intensif itulah, maka pecah Revolusi 1998. Tanpa tayangan TV-TV ini, tak akan pernah lahir Revolusi 1998.

[2]. Saat SBY naik menjadi Capres tahun 2004, dan saat Kampanye Pilpres 2009, dia amat sangat dibantu dengan iklan-iklan (pencitraan lewat TV). TV membuat citra SBY sangat tinggi, sehingga dia berhasil memenangkan Pilpres sampai dua kali. Maka para pesaing SBY pun coba memakai cara yang sama (lewat TV) untuk memenangkan pertarungan.

[3]. Banyak terjadi gerakan sosial di masyarakat yang berpotensi melahirkan perubahan, tetapi TV enggan menayangkan, karena pemilik TV sangat berkepentingan menjaga regim yang berkuasa. Sebaliknya, banyak kejadian-kejadian kecil, seperti isu terorisme, di mata masyarakat ia seperti kejadian sangat besar, bombastik. Ya itu tadi, karena pihak pengelola TV ingin menjadikan kasus terorisme sebagai musuh bersama. Dengan sikap “tebang-pilih” seperti ini, jangan berharap ada perubahan di Indonesia.

[4]. Tahun 2010-2012 muncul fenomena Arab Springs di Timur Tengah. Revolusi terjadi di Mesir, Tunisia, Libya, Yaman, Suriah, dan lainnya. Mau tahu apa rahasianya? Rahasianya adalah TV Al Jazeera. Ini dia biang keladi munculnya perubahan-perubahan politik drastik di Timur Tengah (terlepas dari sisi kebaikan di balik perubahan-perubahan itu).

[5]. Banyak kalangan politik sengaja menggunakan kekuatan TV untuk melakukan “mind control” (mengontrol akal-pikiran). Seperti contoh, kalangan Syiah seperti Hizbullah sengaja membuat TV tersendiri, dalam rangka meretas jalan menuju revolusi politik.

[6]. Data populer dari Bank Dunia, bahwa di Indonesia 65 % masyarakat memiliki pesawat TV. Nah lho, mau apa lagi? Kalau sudah begini, kita mau berbuat apa, Bro and Sis?

[7]. Adalah satu fakta tak terbantah, bahwa promosi produk industri lewat iklan TV merupakan promosi paling dominan dalam dunia bisnis di Indonesia. Para pedagang, retailer, distributor, agen, dll. selalu menjadikan “iklan TV” sebagai patokan apakah sebuah barang diterima oleh publik atau tidak.

[8]. Kalau melihat kekisruhan di tubuh PSSI saat ini, terkait konflik antara LSI Vs LPI, kalau ditelusuri, ternyata ia bersumber dari konflik antar stasiun-stasiun TV juga. Stasiun tertentu  merasa paling berhak sebagai officially media partner; sedang stasiun lain yang jarang menayangkan pertandingan kompetisi lokal “ngiler” ingin dapat kue iklan juga. Jadi, sebenarnya pertarungan ini terjadi antar TV-TV liberal-kapitalistik itu sendiri. Hanya soal “iklan masuk kantong siapa” sih. Lihatlah, gara-gara perang antar TV, persepakbolaan jadi korban. (Jadi teringat konflik tradisional antara suporter Persita Vs Persikota).

Di hadapan bangsa Indonesia saat ini terdapat “batu karang” yang sangat besar, yaitu penjajahan kehidupan oleh TV kapitalis dan hedonis. Mereka sepanjang waktu menggelontori akal masyarakat dengan musik, lawakan konyol, sulap, quiz, sinetron, info selebritis, reality show, dll. Semua ini membuat orang-orang Indonesia menjadi lebay, lemah, mati militansi, cuek, minus empati sosial, konsumtif, materialis, hedonis, dan sebagainya.

Bagaimana akan terjadi perubahan politik, kalau karakter masyarakatnya sudah acak-kadut seperti itu? Maka inilah sumber kelumpuhan sosial bangsa Indonesia saat ini; yaitu penjajahan akal oleh TV-TV swasta. Ide-ide sebagus apapun, kalau tidak didukung TV, sulit akan diterima masyarakat. Sebaliknya, ide-ide gila sekalipun, kalau intensif ditayangkan TV, ia akan diterima dengan dada terbuka oleh masyarakat.

Yah, inilah rahasia gerakan revolusi di Indonesia. Jangan bermimpi akan ada perubahan politik, sebelum ada perubahan radikal di lingkungan TV-TV itu; atau sekalian perubahan mendasar dalam dunia pers di Indonesia.

Jadi, itu ya rahasianya… Tahu kan? Sudah mafhum? Wis mudheng? TV-TV swasta sudah menguasai 80 % kesadaran akal bangsa Indonesia. Ini inti masalah bangsa kita selama ini. You know…

Mine

Iklan

14 Responses to Rahasia Revolusi di Indonesia. You Know…

  1. Syukron tambahan wawasannya…..
    Jazakallaah

  2. Lukman Mubarok berkata:

    Jadi, kalau ingin merevolusi Indonesia harus terlebih dahulu mengganti semua stasiun tv se Indonesia?

  3. abisyakir berkata:

    @ Pak Lukman…

    Ya TV-TV itu harus diatasi terlebih dulu. Caranya, ya tempuhlah cara terbaik yang mampu dilakukan. Mereka itu “penjajah akal” masyarakat kita. Tidak akan ada perbaikan, selama TV-TV itu terus menginvasi kehidupan bangsa.

    Jazakumullah khairan katsira.

    AMW.

  4. xdraw berkata:

    mungkin kita juga bisa menggunakan televisi sebagai sarana dakwah. kita dapat lihat sekarang mulai bermunculan tv dakwah (walau belum banyak). semoga dapat menjadi awal yang bagi indonesia

  5. samijan berkata:

    Pertanyaan saya ” apakah yg sudah anda lakukan untuk memperbaiki Indonesia ini Pak ?”

  6. samijan berkata:

    kalo menurut saya sih (org kampung pak mohon maaf kalo salah) Indonesia ini semua berawal dari keluarga, bagaimana cara mendidik dalam sebuah keluarga??? kedua lingkungan bagaimana kita mencari lingkungan yg baik ??? ketiga negara kalo diibaratkan dengan sebuah keluarga, tetap aja butuh keluarga lain utk bisa hidup, bener gak. (jadi kita butuh negara lain)??? Keempat perkembangan jaman (khususnyaTV), apakah kita mau menyalahkan TV . . ??? kayaknya gak semudah itu dech pak !!! saya pernah dengar kemajuan sebuah sosial masyarakat pasti ada dampaknya . . tinggal cara menyikapi dampak tersebut.kembali lagi ke keluarga (filternya). Kelima apakah bisa ??? contoh keluarga anda disamakan dengan keluarga lain(segi apapun gak bisa, kecuali sama2 manuasia ciptaan Tuhan) sama juga dengan negara kita disamakan dgn negara lain gak sama (sosial budaya,ekonomi maupun yg lainnya berbeda) . . . Kalo saya sih Indonesia bisa baik dimulai dari keluarga sehingga bisa menerbitkan manusia yg baik dan bermanfaat bg negara. kalo Revolusi ??? kayak gak dech . . . dimana ada perang rakyat sendiri yg sengsara . .iya gak??? Karena saya sudah mengalami perang pak Gak Enak . . . sengsara . . . menyedihkan . . . dan sangat tidak manusiawi . . .

  7. abisyakir berkata:

    @ Samijan…

    Ya membuat media blog seperti ini juga merupakan kontribusi Pak Samijan. Setidaknya, Bapak bisa baca-baca disini, meskipun tidak setuju. Itu kontribusi juga kan?

    Apa kontribusinya harus jadi Presiden, Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati, anggota DPR/DPRD dulu? Apa begitu ya? Mana mungkin mereka akan memberi kesempatan kepada orang seperti saya untuk duduk disana. (Lagi pula, kalau duduk disana, belum tentu umur kita akan panjang). Iya kan Pak Samijan?

    AMW.

  8. abisyakir berkata:

    @ Samijan…

    Lho Pak, siapa yang menyalahkan teknologi pertelevisian? Kalau isinya baik, ya alhamdulillah. Tapi kan yang penting itu ISI-nya Pak. Bukan TV atau kotak monitornya. Kalau isinya jahat sehingga membuat masyarakat menjadi lebay, lemah, malas, doyan hiburan, hedonis, liberalis, amoral…lalu bagaimana Bapak akan bisa membangun keluarga dengan baik? Apa TV-TV tidak ada pengaruhnya bagi keluarga?

    Filter…filter…filter… Oke, kita bisa memfilter. Tetapi sekuat apa itu? Seketat apa kita bisa memfilter tayangan TV? Bagaimana ketika anak-anak menonton sedangkan kita tidak berada di rumah? Begitu mudahnya kita bicara “teori filter” sementara masyarakat sudah centang-perenang seperti ini. Kalau masyarakat kita sehat, tak mungkinlah kondisi kehidupan akan sesulit saat ini.

    Soal revolusi…siapa sih yang mau berdarah-darah, mau hancur-lebur, mau terjadi kerusuhan horizontal, dan sebagainya? Orang mana yang mau begitu? Tetapi yang kita maksudkan disini ialah “perubahan ke arah kebaikan”. Bukan kondisi serba liberal, makan memakan, yang kuat menindas yang kecil, hukum diperjual-belikan, korupsi merajalela, kemiskinan, kriminalitas, dll. mewabah.

    Andaikan ada cara yang damai, luwes, dan aman, demi terciptanya perubahan; ya itu yang kita pilih Pak.

    Semoga Bapak baik-baik selalu. Mohon ampunkan saya, kalau bahasa anak muda cenderung meledak-ledak. Mohon dimaafkan wahai Bapak Samijan. Terimakasih.

    AMW.

  9. Raka berkata:

    TV sangat tidak sehat hati dan jiwa karena telah ditayangkan model-model yang disenangi SETAN, serta memberi pengaruh yang sangat kuat bagi yang tertarik dan yang masih mencari jati diri. Betul???, Metode SETAN telah diterbikan lewat TV, sehingga di jalanan ibukota banyak terpengaruh…….. oleh budaya ke
    Tipi-tipian,,,.. pity Tekos, Piti??

  10. dani berkata:

    bener bgt. tpi umpnya trjdi revolusi pd
    saat ini sy yakin akn trlalu bnyk memakan
    korban. masalahnya ya itu tadi karena ke
    sadaran masyarakat untuk melakukan revolusiny terlalu minim.

  11. Roni Tampan berkata:

    d’TV terdapat gambar bernyawa…

  12. Adif Sahab berkata:

    Memang betul, acara2 tivi di negeri ini makin lama makin tidak bermutu. Jangankan menanamkan keimanan dan nilai2 akhlak mulia, mengajak orang berpikir pun tidak.

  13. Fulan berkata:

    bener kang diheck ae tivi tivi di indonesia,biar yang tadinya ngeruk rakyat indonesa ben kelaparan hehe

  14. Netral berkata:

    Memangnya apa yg sudah anda lakukan demi kebaikan negara, menurut Saya orang seperti anda lah yg berbahaya bagi nusa dan bangsa, ide yg memprovokasi kehancuran, semoga anda diampuni. Wassalam .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: