Anjing Pun Punya Kebaikan

Anjing termasuk hewan yang sering dibicarakan oleh manusia. Hewan ini dikenal sebagai “teman” manusia yang paling setia. Anjing kerap dipelihara di rumah (oleh mereka yang kurang paham ajaran Islam). Atau dipelihara sebagai anjing penjaga kebun, rumah, kantor, dan sebagainya. Juga dilatih sebagai anjing pelacak, pengejar buronan, dan seterusnya. Bahkan anjing juga dipelihara untuk berburu, untuk diadu, dilatih ketangkasan, atau dilombakan dalam kontes-kontes.

Die aje bisa tersenyum...

Tidak sedikit juga yang memakai kata “anjing” sebagai alat memaki atau melecehkan orang lain. Di Jawa, anjing disebut dengan istilah asu atau kirik. Di Sunda disebut dengan bahasa penghalusan, Gogog. Dalam bahasa Arab disebut kalbun (bukan qalbun). Menurut Muslim, anjing termasuk hewan yang harus dijauhi; tetapi di mata non Muslim, anjing banyak dijadikan teman di berbagai situasi.

Anjing memiliki sifat-sifat khas, sehingga ia dipandang berharga di mata manusia. Andaikan hewan ini tak memiliki kelebihan, manusia pasti enggan memanfaatkannya. Di antara kelebihan anjing adalah sebagai berikut:

[1]. Ia termasuk tipe hewan fight (berani bertarung). Dia akan memanfaatkan gigi, cakar, dan dorongan tubuhnya untuk menyerang siapa saja yang dianggap musuh atau pengganggu. Dalam hal ini anjing memiliki sifat seperti harimau, singa, srigala, atau beruang yang sama-sama bertipe fight.

[2]. Ia termasuk hewan yang “pintar berterima-kasih”. Hampir serupa seperti kucing. Anjing akan menjadi hewan jinak, penurut, setia kepada siapa saja yang merawatnya, memberinya tempat tinggal, dan makanan.

[3]. Ia termasuk hewan yang setia kepada majikan, kepada pemilik, atau kepada siapa saja yang merawat dirinya. Anjing bisa mengorbankan dirinya, demi membela orang yang merawat dirinya.

[4]. Ia bisa dilatih, bisa diarahkan, bisa diajari ketrampilan tertentu. Kemampuan paling elementer dari anjing ialah ketika pemiliknya melemparkan tongkat atau benda ke suatu titik, lalu anjing itu disuruh mengambilkan tongkat/benda tersebut. Ini ketrampilan dasarnya.

[5]. Ia memiliki sifat waspada, atau curiga kepada siapa saja yang dianggap (oleh anjing) sebagai manusia, hewan, atau sesuatu yang membawa potensi bahaya. Signal yang akan segera mereka keluarkan kalau melihat sesuatu yang mencurigakan ialah gonggongan.

Di luar hal-hal di atas, tentu anjing masih memiliki catatan kelebihan, juga catatan-catatan keburukan. Tetapi cukuplah kita pahami, bahwa hewan ini memiliki kelebihan tertentu, sehingga ia menjadi teman manusia, di samping hewan lain yang tipenya mirip seperti kucing.

Namun Al Qur’an memposisikan anjing sebagai hewan tercela. Anjing menjadi gambaran perilaku buruk orang-orang yang enggan beriman kepada ayat-ayat Allah Ar Rahman. Disana dikatakan:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي ءَاتَيْنَاهُ ءَايَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ

ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu, agar mereka berfikir.” (Al A’raaf: 175-176).

Dan tidak salah kalau ada yang menjadikan istilah “anjing” sebagai celaan atau makian, karena memang Al Qur’an memposisikan hewan itu pada derajat yang layak dicela. Dalam hadits-hadits disebutkan, air liur anjing adalah najis. Kalau di dalam rumah ada anjing, para Malaikat enggan masuk ke rumah itu. Begitu juga kalau ada anjing dengan warna “hitam polos”, dia boleh dimusnahkan dimanapun dijumpai.

Intinya, anjing memiliki kedudukan “spiritual” rendah dalam kehidupan manusia. Tetapi ia juga memiliki kelebihan “teknis” dan sifat-sifat tertentu yang membuat manusia (non Muslim) mengaguminya. Seorang Muslim boleh memelihara anjing untuk berburu (dengan catatan, saat melepas anjing itu untuk mengejar hewan buruan, dilepas dengan bacaan “bismillahirrahmaanirrahiim”), juga boleh memelihara untuk menjaga kebun, gudang, atau apa saja (asalkan bukan menjaga rumah tempat tinggal, atau dipelihara di rumah).

Lalu, apa kaitannya tulisan ini dengan posisi manusia?

Ya, kita tahu bahwa posisi anjing dalam ajaran Islam adalah rendah. Maka sudah semestinya kita memposisikan hewan itu sesuai maqam-nya menurut Syariat Islam. Tetapi hewan itu sendiri juga punya kelebihan-kelebihan. Meskipun posisinya rendah, tetapi ia memiliki kelebihan-kelebihan.

Dan alangkah malangnya, kalau ada manusia yang sifat-sifatnya lebih buruk dari anjing. Mereka penakut, tidak kesatria dalam menghadapi musuh. Mereka tidak tahu terimakasih kepada orang-orang yang berjasa baik baginya. Mereka tidak setia kepada saudara, keluarga, dan kawan-kawannya. Dia sangat ceroboh, sehingga tidak bisa membedakan mana kawan dan mana lawan. Mereka sulit diarahkan untuk menjadi baik dan mulia.

Misalnya saja, ini hanya sekedar contoh. Misalnya ada seorang manusia bernama SADI. Tokoh ini awalnya miskin, papa, diabaikan. Suatu saat ada kaum yang berbuat baik kepadanya. Sadi diangkat sebagai “anak angkat”, dia dibiayai, diberi beasiswa, diberi tempat tinggal, makan-minum, disekolahkan sampai tinggi. Sadi akhirnya bisa meraih ijazah sekolah sampai level tertinggi. Ilmunya mumpuni, bahasa asingnya fasih, dia banyak tahu aneka ilmu. Tetapi entah karena apa, tiba-tiba Sadi berubah pikiran. Dia tiba-tiba memusuhi kaum yang telah berbuat baik kepadanya. Dia memfitnah kaum itu, menyerang secara membabi-buta, menginginkan agar kaum itu dimusuhi, diperangi, ditumpas habis, sampai ke akar-akarnya. Sadi sudah gelap mata, dia sampai mengajari anak-anak kecil agar memusuhi kaum itu, seperti seorang Muslim memusuhi orang kafir. Sadi lupa sama sekali kebaikan-kebaikan kaum itu, dia sudah menjadikan kawan sebagai musuh, dan musuh sebagai kawan.

Nah, sosok seperti Sadi itu disebut telah kehilangan sifat-sifat kemanusiaan. Dia dianggap keluar dari rel sifat-sifat insani. Dia gagal mengelola jalan kehidupan, sehingga sebatas untuk menyamai karakter hewan tertentu saja, Sadi gagal. Padahal hewan itu dalam Islam dianggap rendah. Kenyataan demikian tentu sangat memilukan.

Sadi…Sadi… sebatas menyamai hewan tertentu saja, tak mampu. Sosok Sadi itu bisa diakatakan: lebih rendah dari… Ya sudahlah. Ini kan hanya bentuk “curhat sosial” saja. Kita berharap akan memiliki tokoh-tokoh panutan sosial yang mulia, ksatria, jujur, dan berintegritas. Tetapi mengapa sulit sekali mendapati tokoh seperti itu. Mengapa wahai insan, mengapa wahai Ummat?Akhirnya, kepada Allah Al Hadi kita memohon pertolongan, perlindungan, dan istiqamah. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

Terimakasih.

Mine.

Iklan

19 Responses to Anjing Pun Punya Kebaikan

  1. fia berkata:

    cerita yg bagus utk anak2. anak dapat diajak utk belajar mengenal hewan ciptaan allah

  2. via berkata:

    artikel anda terlalu fanatik deh,dalam mengartikan sebuah anjing

  3. muallim01 berkata:

    via ; jadi menurut anda seharusnya bagaimana???

  4. Ferli berkata:

    Mas Waskito, menyindir dan menghina seorang Muslim, makhluk Allah, ciptaan yang mulia dan dimuliakan oleh Allah, sebagai anjing, sama sekali tidak mencerminkan hati yang jernih.

    Semoga Allah SWT mengampuni Anda.

  5. Abu Fauzan berkata:

    Sebuah komparasi yang bagus.
    Ada juga fenomena manusia di muka bumi ini yang bisa dikaitkan dengan anjing, “Bahwa seanjing-anjingnya anjing mereka tidak bakalan saling menyukai sesama jenisnya (homo seks)”

    Semoga tidak ada yang tersinggung…

  6. Polan2 berkata:

    pernah gk merenung klo dah ninggal(mati) tu kemana?

  7. Sapani berkata:

    Jelas sekali anda yang salah dalam mengkaji Al-Quran!! Anjing diciptakan bukan untuk kaum tertentu atau pemeluk agama tertentu! Bahkan Rasullulah pernah bersabda…”Jikalau anjing itu bukan termasuk hamba Allah, niscaya sudah aku perintahkan Allah untuk membinasakannya” Anjing adalah teman manusia, diciptakan Allah untuk mendampingi manusia. Sekarang ini banyak sekali orang yang sesat mengkaji Al-Quran bahkan yang disebut dengan Ustadz sekalipun. Mereka tidak pernah membaca riwayat yang mengkaitkan bahwa Anjing punya peranan besar dalam kehidupan islam. Menganiaya Anjing adalah termasuk hukuman yang paling perih! Artinya itu apa???

  8. Sapani berkata:

    Kajian yang sama sekali salah dan menyesatkan!!! Bahkan Rasullulah pun pernah memelihara anjing yang bahkan tidur dikolong dipannya!!!!!

  9. abisyakir berkata:

    @ Sapani…

    Jelas sekali anda yang salah dalam mengkaji Al-Quran!! Anjing diciptakan bukan untuk kaum tertentu atau pemeluk agama tertentu! Bahkan Rasullulah pernah bersabda…”Jikalau anjing itu bukan termasuk hamba Allah, niscaya sudah aku perintahkan Allah untuk membinasakannya” Anjing adalah teman manusia, diciptakan Allah untuk mendampingi manusia. Sekarang ini banyak sekali orang yang sesat mengkaji Al-Quran bahkan yang disebut dengan Ustadz sekalipun. Mereka tidak pernah membaca riwayat yang mengkaitkan bahwa Anjing punya peranan besar dalam kehidupan islam. Menganiaya Anjing adalah termasuk hukuman yang paling perih! Artinya itu apa??? Kajian yang sama sekali salah dan menyesatkan!!! Bahkan Rasullulah pun pernah memelihara anjing yang bahkan tidur dikolong dipannya!!!!!

    Respon: Orang ini aneh… Darimana dia dapat ajaran kalau Islam membolehkan memelihara anjing? Bahkan kata dia, Rasulullah Saw punya anjing di kolong tempat tidurnya? Bahkan dia mengemukakan “hadits” yang bunyinya kalau anjing bukan hamba Allah tentu aku perintahkan membinasakannya. Aneh, aneh,… sudah begitu dengan gampangnya dia memvonis orang lain menyesatkan. Ini contoh komentar “asal njeplak” yang keluar dari orang-orang aneh yang tidak mau rujuk kepada tuntunan agama Allah dan Rasul-Nya.

    Admin.

  10. Ahmad Firdaus berkata:

    Firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 38 menyebutkan : “Tidak ada satupun binatang di bumi dan burung yang terbang dengan dua sayapnya, melainkan suatu umat seperti kamu juga.” Dalam suatu hadis, Nabi Muhammad pun pernah bersabda : “Andaikata anjing- anjing itu bukan umat seperti umat-umat yang lain, niscaya saya perintahkan untuk dibunuh.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

  11. Anita berkata:

    Kajiannya menyudutkan anjing… Masakan boleh menganiaya atau menbunuh anjing???? Anjing kdg punya sifat lebih baik dr manusia…

  12. abisyakir berkata:

    @ Anita…

    Dalam Islam, anjing itu disebut hewan sumber najis. Tapi tidak boleh dianiaya, atau dibunuh semena-mena. Kecuali untuk anjing galak yang membahayakan manusia; atau anjing berwarna hitam kelam yang kata Nabi Saw merupakan perwujudkan dari setan. Anjing lain tidak boleh dianiaya atau dibunuh secara semena-mena. Malah ada wanita pelacur Bani Israil, dia masuk surga karena belas kasihan pada anjing yang kehausan.

    “Anjing kadang punya sifat lebih baik dari manusia…” Nah, itu yang kami maksud dengan artikel tersebut. Terimakasih.

    Admin.

  13. masa_git berkata:

    bahasan yang menarik … (lagi)
    umum sekali pemahaman kaum muslimin yang memposisikan anjing pada posisi yang rendah, karena dia salah satu sumber najis.
    tapi saya masih menemukan sejumlah kontradiksi seputar anjing ini.
    betul bahwa anjing bisa dijadikan kiasan untuk penggambaran karakter buruk seperti ayat yang dicontohkan di atas oleh ustd abi syakir, namun anjing di situ, sekali lagi sebagai kiasan, sama derajatnya dengan keledai dalam surat al jumu’ah, padahal ternyata keledai adalah salah satu tunggangan rasulullah saw.
    di ayat lain (alkahfi) justru anjing disebut berulang2 sampai 4x. dan peranannya di situ (istilah sundanya : bogalakon), yaitu menjaga ahluttauhid .
    dalam surat yusuf, serigala (sepupu anjing) menjadi obyek penderita, difitnah oleh saudara2 yusuf as.
    dalam salah satu riwayat di kitab shahih bukhari saya pernah membaca bahwa di masa rasulullah saw, anjing2 bebas berkeliaran di dalam masjid, dan para sahabat menganggap itu lumrah.
    mungkin yang paling butuh penjelasan adalah riwayat yang menyatakan bahwa pahala seseorang yang memelihara anjing akan berkurang setiap harinya. bukankah kalau kita bandingkan dengan riwayat yang disampaikan ust abi syakir di atas (tentang pelacur bani israil) bertolak belakang? mengapa orang yang memberi minum kepada seekor anjing (hanya 1x) kemudian mendapat ganjaran yang luar biasa padahal dirinya adalah seorang pendosa? sementara orang yang memberi minum anjing setiap hari jadi berkurang pahalanya?
    tapi saya juga tidak habis fikir dengan orang2 yang menghabiskan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk perawatan anjing2nya, sementara di luar sana banyak manusia-manusia yang kelaparan dan membutuhkan bantuan.
    ‘ala kulli hal saya sepakat dengan komen ustd bahwa anjing memiliki kelebihan yang alamiah, terutama menurut saya kesetiaan pada majikannya (bolehkah kita membuat majaz kesetiaan seperti anjing ini, misalkan : aku adalah anjing di sisi tuhanku; maksudnya dalam kesetiaannya)?
    dan kalau kita cermati ternyata subhanallah, anjing ini binatang yang mengagumkan, bahkan di dunia kita saat ini anjing sering diperbantukan dalam kegiatan kemanusiaan, yang paling sering dalam kepolisian dan kemiliteran. dan kalau difikir2 sebetulnya anjing bisa dimanfaatkan lebih banyak ketimbang kucing, bukan begitu?

  14. abisyakir berkata:

    @ Masa-git…

    Ahlan wa sahlan akhi, bagaimana kabar? Sudah lama tak bersua, semoga Antum dan kluarga baik-baik selalu. Amin ya Rahiim.

    Beberapa respon yang bisa diberikan:

    == Umumnya yang saya ketahui, Nabi Saw itu menunggang onta, bukan keledai. Kalau naik keledai saya kurang tahu. Bahkan naik kuda pun beliau jarang.

    == Anjing bebas berkeliaran di masjid, wah saya kurang tahu. Apa benar demikian? Karena ada riwayat yang mengatakan, Malaikat tak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjingnya. Ini riwayat shahih.

    == Kalau konteks pelacur Bani Israil itu bukan karena semata “memberi minum anjing” tapi MENYELAMATKAN DIA DARI KEMATIAN. Hal itu sama seperti kita menyelamatkan hewan-hewan lain dari kematian, ada pahalanya. Trus wanita pelacur itu turun ke sumur (tempat rendah) untuk mengambilkan air, dia brkorban sedemikian rupa demi rasa belas kasihnya kepada makhluk hidup. Kalau memelihara anjing di rumah, memberi makan setiap hari, dst. itu karena si pemilik ingin mengambil manfaat dari si anjing itu, entah lucunya, entah gemasnya, entah setianya, dan lain-lain.

    == Kalimat majaz “aku adalah anjing di sisi Tuhanku”, bolehkah ini. Wallahu a’lam, saya tidak tahu pasti. Tapi dalam Surat At Tiin dikatakan: “Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwiim” (sungguh Kami tlah ciptakan manusia dengan sebaik-baik pembntukan). Jadi hukum asalnya manusia adalah MULIA. Tetapi kmudian ayat itu dilanjutkan: “Tsumma radadnahu asfala safilin” (kmudian Kami kembalikan ia dalam keadaan serendah-rndahnya). Ini terjadi manakala manusia durhaka, lalai dari Syariat-Nya, mengabaikan agama-Nya. Hingga dalam ayat lain dikatakan: “Ulaika kal an’aam, bal hum adhal” (mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi). Jika membuat majaz, sebaiknya tidak terlalu jauh dari kaidah-kaidah Qur’ani ini.

    == Dan kalau difikir2 sebetulnya anjing bisa dimanfaatkan lebih banyak ketimbang kucing, bukan begitu? Posisi anjing sebagai “hewan operasional” dibenarkan Syariat, dalam hal untuk berburu dan menjaga kebun. Tapi anjing sebagai “pets” (hewan peliharaan rumahan), tidak dibenarkan. Karena liurnya najis (dalam terminologi Persis, najis kalau mengenai bejana basah); anjing hitam adalah personifikasi setan, sehingga disunnahkan dibunuh; anjing dalam rumah akan membuat rumah itu dijauhi oleh Malaikat. Maka disana tertutup pintu anjing bisa menjadi “pets”. Tapi kucing, sebagai hewan peliharaan diperkenankan dalam Islam.

    Syukran jazakumullah khair.

    Admin.

  15. masa_git berkata:

    Alhamdulillah terimakasih, mohon do’anya bapak masih belum pulih. meskipun jarang bertemu mudah2an blog ini bisa menjadi sarana memelihara silaturrahim.
    Ada sedikit tambahan pengetahuan umum. setelah diteiliti ternyata beda 180 derajat antara liur kucing dan liur anjing. konon liur kucing mengandung antiseptic dan diapun rajin membersihkan diri, makanya dia tidak tergolong najis, sementara liur anjing mengandung bakteri2 dan salah satu cara paling efektif membersihkannya ya dengan tanah (subhanallah, syari’at Islam memang bukan karangan manusia).
    Satu lagi yang mungkin penting dan praktis, peliharalah kucing seperti pelaut2 eropa zaman dulu, yaitu mereka selalu membawa kucing berlayar untuk menjaga agar simpanan makanannya tidak digerogoti tikus, lagipula tikus adalah pembawa penyakit. Kayaknya bangsa ini juga perlu kucing2 yang cekatan dan berani buat nangkap tikus2 yang semakin hari semakin banyak dan gemuk.

  16. abisyakir berkata:

    @ masa-git…

    Jazakumullah khair atas responnya. Ya kami ikut mendoakan… Allahummasyfihi innaka antas syafi laa syifa’a illa syifa’uka syifa’an laa yughadiru saqaman, amin Allahumma amin. Semoga diberikan kesembuhan, ‘afiyat, dan menjalani sisa kehidupan sebaik-baiknya, amin.

    Admin.

  17. Marcus berkata:

    Apakah kalian tau ?? Selain Anjing pun ada juga hewan lain yg najis contoh : Unta dan Jerapah hewan tersebutklo makan mengeluarkan liur dr mulut ny dan liru itu bersifat beracun bagi manusia ,jd berhentilah memprofokator hewan anjing mereka diciptakan untuk membantu manusia bknny utk memusuhi manusiadan manusia hrs memberi respond baik kepada anjing meski hewan itu najis tp mereka hsil ciptaan Allah jd hargailah anjing krn mereka hasil ciptaan Allah seperti kita menghargai karya org lain 😉 😀
    Be Smart !

  18. abisyakir berkata:

    @ Marcus…

    Sebenarnya, tujuan tulisan ini bukan seperti yang Anda katakan. Diskusinya jadi melebar kemana-mana. Terimakasih atas apresiasi dan diskusinya.

    Admin.

%d blogger menyukai ini: