Tahun Baru Imlek dan Tragedi Gambir

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kita masih ingat, 26 Desember 2004. Waktu itu sehari setelah hari Natal. Bangsa Indonesia “dihadiahi” bencana alam paling dahsyat, yaitu gempa bumi dan terjangan Tsunami di Banda Aceh dan sekitarnya. Kini, di saat sebagian orang ramai-ramai merayakan Tahun Baru Imlek, 23 Januari 2012, terjadi KECELAKAAN TRAGIS yang belum ada duanya di Indonesia.

Seorang wanita pedugem, dengan mengendarai mobil Xenia warna hitam, dengan kecepatan sekitar 100 km/jam, dia membantai 9 nyawa manusia di sebuah trotoar, di dekat hakte Tugu Tani Gambir, Jakarta Pusat. Wanita pedugem yang bernama Afiyani Susanti itu kemudian diketahui sedang teler akibat miras dan narkoba (ekstasi). Orang teler mengendarai mobil, jelas sangat fatal akibatnya.

Bukan Sekedar Tradisi, Tapi Tradisi Kemusyrikan.

Ini adalah kecelakaan yang sangat tragis. Dalam sebuah aksi pengeboman oleh pelaku terorisme, belum tentu jatuh korban sampai 9 orang. Namun ini, seorang wanita pedugem dan kawan-kawan, terbukti “sukses” memulangkan manusia ke alam baka secara instan.

Kalau di Saudi, seorang sopir mobil secara tidak sengaja menabrak manusia, sampai wafat, akibatnya dia akan dijatuhi hukuman denda uang sangat mahal. Bisa miliaran rupiah. Bayangkan, dendanya sama dengan nilai 100 ekor onta. Kalau seekor onta seharga 15 juta rupiah, maka dia harus mengeluarkan uang senilai 1,5 miliar. Kalau korbannya lebih dari satu, lebih tinggi lagi.

Dalam konteks hukum Islam, pelaku penabrakan seperti Afriyani Susanti itu bisa dihukum mati. Alasannya, dia menabrak manusia sampai mati, setelah mengendarai mobil sangat cepat di lingkungan ramai, dan dia mengendarai dalam keadaan teler (akibat pengaruh miras dan narkoba). Orang seperti ini bisa dianggap “telah sengaja” membunuh manusia. Apalagi korbannya hingga 9 jiwa manusia. Lazimnya orang lagi teler, dia tidak boleh menyentuh kendaraan sedikit pun. Sebab sudah dimaklumi, para pengendara mabuk sangat mengancam jiwa manusia yang lain.

Kalau hari Natal 2004 selalu diingat manusia karena berdekatan waktunya dengan Tragedi Tsunami di Aceh; maka Tahun Baru Imlek tampaknya perlu diingat-ingat dengan KECELAKAAN TRAGIS di Tugu Tani Gambir.

Sebagai manusia Muslim, kita sangat mual melihat perayaan Imlek yang kian hari kian ramai itu. Di era Soeharto, tidak pernah ada perayaan Imlek. Namun di zaman Abdurrahman Wahid -semoga Allah membalas perbuatannya dengan hisab sempurna- dia buka keabsahan perayaan Imlek tersebut. Padahal sudah dipahami oleh setiap Muslim, tradisi China itu sangat dekat dengan warna-warna kemusyrikan.

Lihat saja, setiap Imlek dirayakan, orang-orang China datang ke kuil-kuil (klenteng). Mereka menyalakan hio, menghiasi rumah dengan lampion, bagi-bagi angpao, membakar petasan, ucapan ‘Gong Xi Fat Chai’, membuat parade Barongsai mengitari jalan-jalan, dan aneka macam tradisi; yang kesemua itu memiliki MAKNA SPIRITUAL menurut mitos yang mereka yakini.

Kegiatan-kegiatan ritual itu, menurut mitos China, tujuannya untuk mengusir roh-roh jahat; mengusir unsur-unsur sial; mendatangkan rezeki dan kemakmuran lebih melimpah-ruah. Bahkan mereka menjuluki setiap tahun dengan binatang-binatang tertentu; lalu meramal kehidupan di tahun itu dengan mitos Shio tersebut.  Semua ini adalah ajaran yang tidak ramah terhadap kemurnian Tauhid Ummat.

Tradisi China pekat dengan nilai-nilai paganisme (kemusyrikan). Disana ada keyakinan dewa-dewa, Feng Shui, Hong Shui, ideologi Tao, Konfusian, teologi Budha, dan lainnya. Hal-hal demikian saat merusuhi keyakinan Tauhid setiap Muslim. Ketika di TV ada banyak simbol-simbol Imlek, kami melarang anak-anak kami melihatnya. (Masih lebih baik nonton Shaun The Sheep, daripada melihat simbol-simbol paganisme itu).

Menurut ajaran Islam, peringatan Hari Raya Imlek tidak berbeda dengan perayaan Hari Natal. Keduanya sama-sama simbol agama dan peradaban kaum non Muslim. Semua itu haram didukung atau dirayakan oleh setiap Muslim. Dalil-dalilnya sama dengan larangan ikut merayakan Hari Natal.

Kalau di negeri kita semakin ramai dan meriah merayakan hari-hari paganisme ini, ya alamat banyak bencana dan masalah bakal terjadi. Untuk sementara, Tragedi Tugu Tani di Gambir sebagai “DP”-nya. Nanti, akan menyusul tragedi-tragedi lain, selama hari kemusyrikan dimeriahkan di negeri-negeri kaum Muslimin. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum, wa li sa’iril Muslimin.

Turut berduka atas wafatnya kaum Muslimin di halte Tugu Tani Gambir. Semoga setiap yang wafat diampuni oleh Allah, diberikan tempat yang luas di alam barzakh. Semoga keluarga korban diberi ketabahan, diberi pertolongan berupa rizki dan ketenangan. Semoga Allah menggantikan untuk mereka anugerah dan karunia yang lebih baik. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

 

AM. Waskito.

Iklan

11 Responses to Tahun Baru Imlek dan Tragedi Gambir

  1. Abubakar Yoe Hoo Gie berkata:

    Sejak awal saya masuk Islam karena Islam mengajarkan toleransi. Bagiku agamaku adalah agamaku, Agamamu adalah agamamu. Mengapa tulisan anda begitu phobia dan paranoid terhadap setiap perbedaan keyakinan??? Saya kecewa banget dengan anda!!!!!

  2. juhaiman berkata:

    Pak ustad … umat muslim saat ini umumnya minimal sudah dapat membedakan apakah imlek itu bagi mereka.
    Jarang saya dengar umat islam pindah agama ke agama Budha, hindu atau konghucu .
    Kalau murtad ke kristen sering kita dengar.
    Jadi terlalu berlebihan kalau kita mencurigai mereka .
    Dan saya hampir tidak pernah mendengar mereka mengganggu agama kita … jadi sebaiknya kita tidak juga mengganggu mereka .
    lain dengan yang satu ( kristiani ) ….yang ini memang nekad … tak tau diri .

  3. abisyakir berkata:

    @ Abubakar Yoe Hoo Gie…

    Oh ya, dalam masalah muamalah atau urusan duniawi, kita bisa bersikap luwes. Tetapi dalam soal AKIDAH/TAUHID tidak demikian. Harus jelas! Harus hitam-putih. Sebab Tauhid Islami tidak mengenal istilah “abu-abu”. Tahun Baru Imlek itu penuh simbol-simbol kemusyrikan, harus kita jauhi, dengan pertolongan Allah Ar Rahman.

    Soal Anda kecewa ke saya, tidak apa-apa. Asal tidak kecewa dengan ajaran agama Rabbul ‘alamiin. Terimakasih.

    AMW.

  4. abisyakir berkata:

    @ Juhaiman…

    Pak ustad … umat muslim saat ini umumnya minimal sudah dapat membedakan apakah imlek itu bagi mereka.

    Komentar: Antum pernah lihat tidak di TV, di kuil-kuil tertentu dibagikan paket-paket sembako, dalam rangka perayaan Imlek. Para penerima paket itu ribuan orang, rata-rata orang miskin kaum Muslimin. Apakah itu yang dinamakan, mereka sudah paham perbedaan?

    Jarang saya dengar umat islam pindah agama ke agama Budha, hindu atau konghucu. Kalau murtad ke kristen sering kita dengar.

    Komentar: Apakah ukuran bahaya akidah itu harus berupa orang menjadi “murtad” dulu? Bukankah Antum dan kawan-kawan sering menyerang para pelaku demokrasi sebagai “orang musyrik”? Apakah orang-orang itu murtad dari Islam karena terlibat demokrasi?

    Jadi terlalu berlebihan kalau kita mencurigai mereka. Dan saya hampir tidak pernah mendengar mereka mengganggu agama kita … jadi sebaiknya kita tidak juga mengganggu mereka.

    Komentar: Menurut Antum bagaimana keadaan seorang Muslim, kalau ikut-ikutan meyakini simbol dewa-dewa, hari sial, hari bagus, shio naga, shio kambing, feng shui, hong shui, berkah angpao, berkah barongsai, dll. Bagaimana menurut Antum keadaan itu?

    Bukankah Antum sangat sensitif soal maulid nabi, tawasul, ziarah kubur, dll. Lalu bagaimana dengan keyakinan-keyakinan mitos itu? Apakah sepele di sisi Antum?

    Lagi pula, siapa yang ingin mengganggu mereka? Apakah salah kita jelaskan ajaran Islam untuk mengingatkan Ummat agar tidak ikut-ikutan tradisi kemusyrikan?

    Lain dengan yang satu ( kristiani ) ….yang ini memang nekad … tak tau diri .

    Komentar: Antum pernah belajar akidah? Bagaimana pandangan Islam terhadap ahli kitab dan orang-orang musyrik? Mana yang dianggap lebih lunak bahayanya oleh Islam?

    AMW.

  5. juhaiman berkata:

    “:Antum pernah lihat tidak di TV, di kuil-kuil tertentu dibagikan paket-paket sembako, dalam rangka perayaan Imlek. Para penerima paket itu ribuan orang, rata-rata orang miskin kaum Muslimin. Apakah itu yang dinamakan, mereka sudah paham perbedaan”

    Komentar : Apakah pak ustad berpendapat dengan dibagikan sembako oleh orang tionghoa tsb , mereka lantas berpindah agama ???. Terlalu naif .
    Umumnya hanya mengambil hadiahnya saja . urusan menukar aqidah ..tunggu dulu .mereka tidak sebodoh itu …

    Apakah ukuran bahaya akidah itu harus berupa orang menjadi “murtad” dulu? Bukankah Antum dan kawan-kawan sering menyerang para pelaku demokrasi sebagai “orang musyrik”? Apakah orang-orang itu murtad dari Islam karena terlibat demokrasi

    Komentar : anda salah lagi dalam menilai …tolong tunjukan bahwa saya secara pribadi menuduh pelaku demokrasi sebagai orang musrik ( anda saja tidak mengenal saya , bagaimana anda bisa menilai saya ………. saya secara pribadi tidak terkait dengan organisasi atau sejenisnya )

    “Bukankah Antum sangat sensitif soal maulid nabi, tawasul, ziarah kubur, dll. Lalu bagaimana dengan keyakinan-keyakinan mitos itu? Apakah sepele di sisi Antum

    Komentar : Sekali lagi anda salah menilai saya .. pada tulisan mana saya memperlihatkan sensitivitas saya terhadap masalah maulid nabi, tawasul, ziarah kubur ( anda hanya membuat suatu praduga praduga saja yang ternyata salah ) . saya bukan termasuk orang yang anda tuduhkan .

    “: Antum pernah belajar akidah? Bagaimana pandangan Islam terhadap ahli kitab dan orang-orang musyrik? Mana yang dianggap lebih lunak bahayanya oleh Islam ”

    Komentar : Saya hanya seorang yang sedang taraf belajar … pastinya ilmu ustad lebih tinggi dari saya …

    Maaf bila menyinggung perasaaan ustad wasss………

  6. Liong berkata:

    hihi, juhaiman ini tdk tau apa2. di daerah sy angpao/hadiah itu tdk asal dikasih. paling tidak harus mengucapkan gong xi fa cai. nah ini kan terkait tentang hukum mengucapkan selamat pd perayaan org kafir. tapi ga tau sih klo di daerah lain… mngkin bs ditanyakan pada org2 yg menerima angpao/hadiah itu.. atau ditanyakan pada Abubakar Yoe Hoo Gie. tpi menurut sy mendatangi perayaan imlek meski sekedar utk mengambil angpao (baik itu uang/paket sembako), udah mengandung persetujuan atas acara itu.
    smg Allah Ta’ala menjaga akidah kita

  7. abisyakir berkata:

    @ Juhaiman…

    Apakah pak ustad berpendapat dengan dibagikan sembako oleh orang tionghoa tsb , mereka lantas berpindah agama ???. Terlalu naif. Umumnya hanya mengambil hadiahnya saja . urusan menukar aqidah ..tunggu dulu .mereka tidak sebodoh itu.

    Respons: Lho, memang saya mengatakan seperti itu gitu, Pak? Tidak, tidak. Saya ingin mengatakan, bahwa rata-rata yang menerima paketan dari kuil-kuil itu adalah Muslim. Lalu apakah semua ini dilarang dalam Islam? Apakah dilarang seorang Muslim menerima paketan sembako saat Imlek di kuil-kuil?

    Dalam Al Maa’idah ayat 3 ada ayat begini: “Hurrimat ‘alaikum…wa maa dzubiha ‘alan nushub…” (diharamkan atas kalian…dan hewan yang disembelih untuk berhala…). Jadi segala sesuatu yang dipersembahkan untuk berhala, itu haram. Termasuk paketan-paketan Imlek yang dinaitkan sebagai bentuk pengabdian ke dewa-dewa, dengan cara dibagikan ke manusia-manusia, dalam bentuk angpao, paketan sembako, dll.

    Anda salah lagi dalam menilai …tolong tunjukan bahwa saya secara pribadi menuduh pelaku demokrasi sebagai orang musrik (anda saja tidak mengenal saya , bagaimana anda bisa menilai saya ………. saya secara pribadi tidak terkait dengan organisasi atau sejenisnya). Sekali lagi anda salah menilai saya .. pada tulisan mana saya memperlihatkan sensitivitas saya terhadap masalah maulid nabi, tawasul, ziarah kubur ( anda hanya membuat suatu praduga praduga saja yang ternyata salah ) . saya bukan termasuk orang yang anda tuduhkan .

    Respons: Ya, mohon dimaafkan. Saya salah dalam menilai. Saya keliru, mohon dimaafkan. Pernyataan ini sekaligus ralat untuk jawaban komentar sebelumnya. Saya hanya melihat dari sebutan yang Anda pakai, @ Juhaiman.

    Saya hanya seorang yang sedang taraf belajar … pastinya ilmu ustad lebih tinggi dari saya … Maaf bila menyinggung perasaaan ustad wasss………

    Respons: Ya, sama-sama kita juga masih belajar. Belum tentu ilmu saya lebih tinggi. Allah Ta’ala lebih tahu siapa yang lebih ‘alim di antara hamba-hamba-Nya. Mohon maafkan saya juga kalau jawaban komentarnya keliru, tidak tepat, atau terkesan emosional. Astaghfirullaha li wa lakum.

    AMW.

  8. sahabat berkata:

    trims tuk pembahasannya, tadinya kami gak ngeh, nah lewat tulisan abisyakir ini kami jd ngeh deh. trims sekali lagi.
    Moga2 bisa istiqamah ya…
    Tampaknya hari natal & imlek BAWA SIAL ya buat indonesia,
    pastilah gara2 syiriknya.
    DEWA yg CUMA MITOS & GA BERDAYA ko diagung2kan ya.
    TDK ADA BUKTI ILMIAH KEBERADAAN DEWA & KESAKTIANNYA, ini berbeda dg ALLAH & pesuruhnya para malaikat yg bukti ilmiahnya jelas yaitu ALQURAN yg tak bisa dibantah.
    Kami dukung anda mas Abisyakir.

  9. anes suwae berkata:

    saya sangat setuju dengan koment2 yang ada “namun yang saya lihat/baca bahwa bukan suatu jalan keluar yang mau di pecahkan atau menolong sadara kita namu hanya saling menjelekan agama yang satu dengan agama yang lain atau menjauhkan /melarikan diri dari hal – hal yang di anggap salah marilah kita bersatu untuk menolong mereka kalau kita menganggap hal itu sangat merugikan kita dan kehidupan mereka Ingat!!!!!!!!!!!!! jika kita melakukan sesuatu yang baik Tuhan pasti menolong memberikan jalan keluar”””

  10. Onimlek berkata:

    yg bnr kwn jd kecelakaan yg terjadi pas hr raya id gimana dong salain sapa .

  11. abisyakir berkata:

    @ Onimlek…

    Biasa saja, kan namanya juga beropini. Boleh kan?

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: