Premanisme dan Nasib Bangsa Kita

Februari 28, 2012

REALITAS HUKUM INDONESIA: “Di Indonesia ini, semua orang boleh berbuat kekerasan, selain FPI. Boleh membunuh, menghancurkan properti, tembak-menembak di jalanan; selain FPI. Boleh mengepung bandara, mengacung-acungkan golok dan parang di bandara, boleh mengancam bakar pesawat, mau membunuh tokoh-tokoh; selain FPI. Boleh memfitnah, memprovokasi, menzhalimi, mendustai masyarakat, mencuci-otak manusia; terutama demi menghancurkan FPI.” Begitulah realitas hukum yang ada…

Sementara, kasus pembunuhan oleh John Key dan kawan-kawan, dianggap kriminal biasa. Kasus penyerbuan preman ke RSPAD sehingga terbunuh dua orang, dianggap perbuatan preman biasa. Kasus penyerbuan manusia-manusia berhati kufur dan zhalim ke bandara di Palangkaraya, dianggap “aspirasi masyarakat”. Kasus kerusuhan di LP Kerobokan Denpasar Bali, dianggap “ya itu kan gesekan antar Napi saja”. Begitulah…banyak toleransi, banyak helah, banyak pemaafan terhadap semua yang berbau kekerasan itu. “Selagi bukan FPI, segalanya halal di negeri ini,” begitulah kredonya.

Padahal ya…sekeras-kerasnya FPI, sebandel-bandelnya aksi mereka, sesangar-sangarnya perbuatan aktivisnya; semua itu rata-rata ada tujuannya. Misalnya, menolak minuman keras, menolak pornografi, menolak perjudian, menolak liberalisasi, menolak korupsi, menolak tirani preman-preman, menolak bahaya aliran sesat, dan sebagainya. Jadi motivasinya selalu ada unsur KEBAIKAN. Hanya saja, caranya kadang dengan kekerasan, karena sarana hukum sudah sulit diharapkan. Bagaimana hukum akan bertindak, wong banyak aparat polisi, militer, perwira, atau pejabat, malah melindungi sarang-sarang kemungkaran (hedonisme, miras, narkoba, perjudian, pornografi, korupsi, dll.).

Kini taring-taring kaum preman semakin kelihatan. Aksi-aksi mereka semakin nekad, terang-terangan, dan tanpa ampun. Perang antar geng atau kelompok preman, sudah menjadi “agenda keamanan” rutin. Cakar-cakar kaum preman semakin tajam menukik ke jantung. Masyarakat semakin takut, semakin lemah, dan tak berdaya. Preman semakin menguat, keamanan semakin langka, penegakan hukum semakin ambles ke dalam tanah.

Lalu apa yang terus dilakukan media-media massa, para politisi, aktivis LSM, Komnas HAM, seniman-seniman, dan lain-lain?

Mereka terus saja memusuhi upaya nahi munkar (seperti FPI). Mereka mimpikan “Indonesia Tanpa FPI”. Ya, agar kebanditan, kehitam-legaman amoralitas, kekejian, kebrutalan preman-preman, dan seterusnya semakin merajalela. Sampai suatu saat, semua kekejian itu akan mengarah ke anak-anak, isteri, dan kerabat orang-orang yang memusuhi FPI itu.

FPI (atau gerakan Islam sejenis) tidak disukai oleh orang-orang yang menginginkan Indonesia dikuasai preman-preman; tidak disukai oleh mereka yang ingin anak-anak Indonesia selalu teler di jalan-jalan akibat menenggak miras; tidak disukai oleh mereka yang merindukan generasi muda Indonesia menjadi pecandu seks bebas, pelacuran, dan homoseks, akibat pengaruh deras pornografi; tidak disukai oleh mereka yang ingin agar perjudian menjadi transaksi kehidupan legal, sama seperti legalnya berdagang, bertani, dan menjadi nelayan; tidak disukai oleh para penjajah yang ingin mencabik-cabik kehidupan manusia Indonesia, sampai ke tulang-belulang terdalam. …intinya FPI tidak disukai oleh mereka yang ingin agar Indonesia dikuasai oleh raja-raja preman, kaum pecundang, hedonis, dan manusia durjana.

Tidak ada yang lebih berbahaya, selain media-media TV yang telah merusak nalar publik; mencuci-otak manusia; melahirkan kelumpuhan nasional, disintegrasi, memakmurkan hedonisme, memakmurkan kemiskinan, serta membunuhi jiwa-jiwa manusia (tak berdosa) yang mestinya dilindungi. Bandit-bandit berhati setan itu marah dengan pukulan tangan FPI; tetapi tidak marah dengan pembunuhan-pembunuhan keji. Mereka marah dengan rusaknya properti bar-bar dan nights club, tetapi tidak marah dengan hancurnya moral generasi muda. Mereka benci dengan jubah dan sorban FPI, tetapi bersikap welcome kepada penjajahan asing. Begitulah seterusnya…

Singkat kata…media-media sekuler, media-media TV, kaum hedonis, penyuka amoralitas, politisi busuk, dll. mereka semua adalah kawanan srigala-srigala penghancurkan kehidupan bangsa dan negara. Indonesia semakin sakit di tangan mereka; bangsa semakin kusut bersama mereka; Nusantara semakin tercabik-cabik dengan ide-ide konyol mereka.

Bilamana srigala-srigala moral itu terus bicara, alamat bangsa kian menderita. Bilamana mereka terus ngoceh, alamat nasib rakyat jelata semakin terleceh. Bilamana mereka membuat teori-teori, yakinlah semua itu akan berujung dengan korupsi.

Mana mungkin berharap belas kasih kepada srigala moral? Nonsense.

Mine.


Partai Demokrat Tambah Ancur Cur…

Februari 22, 2012

Baru-baru ini situs suara-islam.com memuat berita yang sangat heboh. Heboh…boh…boh. Beritanya tentang skandal seks yang pernah Ulil Abshar Abdala lakukan dengan seorang cewek bernama, Marchelinta. Parah, parah, parah banget. “Sesuatu bhangghetth…” kata anak-anak ABG.

Berita lengkapnya baca artikel berikut: FPI Buka Skandal Seks Dedengkot JIL. Disini diungkap foto-foto pesan BBM Ulil Abshar. Disana terlihat jelas foto dan nama Ulil Abshar. Parah, parah, parah baaaangghetth…

Ulil Sedang Pusing 7 Putaran…

Berikut ini kata-kata Ulil Abshar dalam BBM ketika dia merasa cemburu dengan Marchelinta: “Kamu menyakiti aku berkali2. Aku berusaha sabar. Yg terakhir kemaren itu, aku sudah tak tahan. Aku baru saja kirim bunga Valentine ke kamu, tiba2 kamu pacaran dengan cowo lain, dan kamu tunjukin di pp BB.”

Kasihan bangghetth Si Ulil. Dia sudah nafsu, sampai begitunya. Apa dia gak inget anak-isteri ya? Wal ‘iyadzubillah min dzalik.

Partai Demokrat (PD) yang sudah carut-marut, dengan tersebarnya berita ini semakin nyungsep saja. Kasihan Pak Sebeye. Mungkin sebentar lagi dia akan menggubah lagu baru, bertema melankolik. “Betapa malang nasibku… Semenjak ditinggal ibu….” Jadi teringat lirik lagu Ratapan Anak Tiri yang sangat populer saat aku duduk di bangku SD dulu. Lagu ini kalau dinyanyikan Pak Sebeye, mungkin bisa menaikkan pamornya. Meskipun tentu jadi tampak lebay sekali.

Sangat menyedihkan. Padahal Ulil Abshar ini kan menantu KH. Mustafa Bisri, seorang kyai terkenal asal Rembang. Bagaimana perasaan dia dan keluarganya ketika melihat kelakuan menantunya seperti itu?

Ya, orang-orang yang berani melecehkan Syariat Islam, dia akan dilecehkan oleh Allah Ta’ala. “Innalladzina yuhaaddunallaha wa rasulahu kubitu kamaa kubitalladzina min qablihim” (sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka akan dihinakan seperti telah dihinakan orang-orang sebelum mereka). [Al Mujaadilah: 5].

Kalau ada yang bertanya, bagaimana cara menghukum orang-orang seperti Ulil Abshar, atau Habib “Homoseks” Hasan bin Ja’far Assegaf (Pemimpin Majelis Taklim Nurul Mustofa) itu? Bagaimana baiknya?

Ya, kalau menurut hukum Islam, ya dihukum rajam, sampai mati. Untuk pelaku homoseks, boleh juga dihukum mati, meskipun bukan dengan rajam. Kalau tidak salah, ada pembahasan soal itu.

Kalau hukum seperti itu sulit diterapkan, bolehlah dihukum dengan beberapa alternatif berikut ini:

==> Dilemparkan ke kandang buaya, buat tambahan ransum. Biar nanti matinya pelan-pelan. Mula-mula tangan dulu ilang, lalu kaki, lalu ini, itu, dan seterusnya.

==> Atau dibuat tambahan pakan ternak.

==> Atau kalau mau, dijadikan obyek eksperimen di kandang ikan hiu. Ya, kita mau lihat, apa dagingnya masih disukai ikan itu atau tidak?

Ini hanya sekedar intermezzo. Intinya, wajah Partai Demokrat semakin gak karu-karuan. “Betapa malang nasibku…,” terdengar seorang pemimpin politik melantunkan lagu melankolik.


Bung Abraham Samad dan Revolusi Kehidupan!

Februari 20, 2012

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Ini adalah ucapan baik yang perlu kita lantunkan melihat gebrakan-gebrakan Ketua KPK yang baru, Bung Abraham Samad. Pemimpin KPK yang berani, bernyali, dan pro keadilan; adalah dambaan seluruh insan Indonesia.

Ketua-ketua KPK sebelumnya (selain Antasari Azhar), lebih banyak bermain-main retorika, menikmati publikasi, kongkow dengan wartawan, senang buat jumpa pers, dll. Lagaknya banyak, tenaga pemberantasan korupsi letoy.

Dalam masa kepemimpinan tidak lama, Bung Abraham Samad sudah membuat gebrakan-gebrakan. Pertama, dia tetapkan Miranda Goeltom sebagai tersangka kasus suap pemilihan Deputi Senior BI. Kedua, dia tetapkan Angelina Sondakh sebagai tersangka kasus Wisma Atlet. Dan belum lama lalu, Bung Abraham Samad berjanji, akan menyelesaikan kasus Century di tahun ini (2012). Ya, tipikal pemimpin yang tegas, bernyali, dan berani mati itulah yang kini dinantikan oleh masyarakat dari lembaga KPK.

Antasari Azhar pernah mengatakan teori “makan bubur ayam”. Kalau makan bubur panas, harus dari pinggir. Nanti ujungnya akan sampai ke tengah (maksudnya, lingkaran dalam kekuasaan SBY). Namun sebelum Bung Antasari selesai makan bubur, mungkin baru makan kerupuk dan daun-daun seledri-nya, beliau sudah “dihadiahi” sejumput kisah seputar Rani Yuliani; sebuah kisah yang kelihatan sangat dibuat-buat.

Untuk memperbaiki kondisi kehidupan di Indonesia, kita bisa gambarkan metode praktisnya sebagai berikut:

== Menangkapi para pejabat-pejabat birokrasi, siapapun dirinya, yang terlibat korupsi. Pejabat itu bisa dari level bawah sampai ke tampuk kekuasaan Kepresidenan. Toh, menurut laporan Wikileaks, lingkar kekuasaan SBY tidak sepi dari korupsi. Apalagi setelah terbongkar prahara Partai Demokrat seperti saat ini.

== Kalau para pejabat korup sudah dibereskan, sasaran diarahkan ke lembaga-lembaga hukum, seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, dan lainnya. Sebab yang membiarkan kasus-kasus korupsi itu berlarut-larut, ya lembaga-lembaga hukum ini.

== Kalau itu sudah selesai, masuk ke korupsi korporasi, oleh perusahaan-perusahaan, baik lokal maupun asing. Disana terdapat sangat banyak kasus korupsi dengan segala bentuknya. Semua itu harus dibasmi. Ibaratnya, kalau kita sudah punya “sapu yang bersih”, pakailah ia untuk membersihkan sampah di halaman (bisnis korporasi).

== Setelah itu, baru kita bangun kehidupan masyarakat yang bebas korupsi, kezhaliman, monopoli, penindasan minoritas, dan sebagainya. Ujungnya akan kesana, sehingga harapan masyarakat adil dan makmur itu akan tercapai. Insya Allah.

Namun, langkah demikian tentu tidak mudah. Banyak mafia-mafia yang harus dihadapi oleh Bung Abraham Samad dan kawan-kawan. Di antara mafia itu adalah: mafia MEDIA, mafia PAKAR/PENGAMAT, mafia birokrasi, mafia hukum, mafia beneran (preman dan kriminalis), mafia poilit (elit dan partai politik), mafia bisnis (konglomerat dan anak-buahnya), mafia asing (dalam segala bentuknya). Semua mafia ini harus dihadapi.

Sebagai sebuah langkah awal, gebrakan Bung Abraham Samad harus kita dukung. Selanjutnya perlu dilakukan langkah-langkah sistematik untuk membersihkan korupsi, dan mematahkan mata-rantai mafia-mafia durjana itu. Semoga Allah Al ‘Aziz menolong untuk menyelamatkan negeri dari angkara murka, kezhaliman, dan penindasan (minoritas). Amin Allahumma amin.

Dan tentu, Bung Abraham Samad harus hati-hati. Jangan sampai nanti beliau (seperti kasus Antasari) diberi “Rani Yuliani” dalam bentuk yang lain. Doakan semoga beliau istiqamah dalam membela keadilan dan melenyapkan kezhaliman. Amin Allahumma amin.

AMW.


Konspirasi: FPI Jadi Korban, FPI Dihujat !!!

Februari 14, 2012

Kalau jujur mau mengakui, di Indonesia ini banyak orang-orang aneh. Lihatlah kelakuan media-media yang kini gencar menyerang FPI. Mereka itu kelihatan pintar, intelektual, cerdas; tetapi moralitasnya ambruk. Sayang, sangat disayangkan sekali. Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

Sudah jelas-jelas beberapa hari kemarin, saat kunjungan ke Kalimantan Tengah, beberapa tokoh FPI nyaris menjadi sasaran amuk massa dan pengepungan komunitas-komunitas Dayak anarkhis. Buktinya, DPP FPI melaporkan Gubernur dan Kapolda Kalteng ke mabes Polri untuk beberapa tuduhan sekaligus. Salah satunya, upaya pembunuhan pimpinan FPI.

FPI Jadi Korban, Kok Malah Dihujat. Aneh Sekali Kan? Ada Apa Ini?

Tapi aneh bin ajaib. FPI yang jadi korban, FPI juga yang dihujat. Dalam demo di Bundaran HI, Ulil Abshar dan kawan-kawan menyerukan agar FPI dibubarkan. Media-media massa, termasuk MetroTV dan TVOne, tidak segan-segan memberi CORONG GRATIS kepada siapa saja yang anti FPI, dengan tentunya -seperti biasa- mereka tinggalkan etika Cover Both Side. Kompas malah sangat kacau (kalau tidak disebut rusak nalar), media itu mengutip pernyataan Din Syamsuddin yang katanya menolak ormas anarkhis. Padahal dalam perkataan Din, tidak ada pernyataan ormas anarkhis.

Paling parahnya, SBY juga ikut-ikutan menyudutkan FPI. Dia meminta agar FPI instropeksi diri. Orang ini aneh sekali. Masalah hukum soal “ancaman pembunuhan” tokoh-tokoh FPI belum dia bahas, malah sudah meminta FPI instropeksi diri. Hal begini ini kan sangat kelihatan kalau kasus FPI itu sebagai pengalihan isu, ketika Partai Demokrat sedang dilanda “Tsunami Besar” akibat kasus-kasus korupsi yang melibatkan elit-elit mereka. Kita mesti ingat, di masa-masa sebelum, setiap ada masalah besar menimpa Pemerintah SBY, selalu saja ada “jalan keluar” berupa kasus-kasus terorisme, kerusuhan agama, dan lainnya.

Nah, disinilah kita saksikan betapa anehnya kelakuan orang-orang Indonesia. Sudah tahu, mereka itu sakit dan banyak menanggung penyakit. Bukannya berobat atau menahan diri, agar sakitnya tidak semakin parah. Malah mereka semakin menghujami dadanya dengan belati tajam, untuk menghancurkan dirinya sendiri. Aneh…aneh…tidak waras!

Kalau dicermati, tampak adanya KAITAN antara insiden di Palangkaraya, respon media-media massa yang begitu cepat, gerakan demo anti FPI dipimpin oleh seorang tokoh Partai Demokrat, serta pernyataan SBY. Semua elemen-elemen ini tampaknya saling berkaitan satu sama lain, menggarap isu FPI, dalam rangka mengalihkan perhatian masyarakat dari bencana korupsi yang kini sedang menimpa jajaran elit Partai Demokrat.

Kalau dianalisis lebih dalam, kita bisa melihat adanya model skenario yang KEMUNGKINAN dijalankan, untuk menjebak FPI dalam pusaran kasus sosial; lalu kasus itu dipakai untuk tujuan-tujuan politik.

Pertama, FPI diundang datang ke Kalteng untuk membela masyarakat yang katanya dizhalimi oleh Gubernur Kalteng. Mengapa FPI ingin dilibatkan? Karena FPI secara gagah berani membela warga Mesuji, Lampung. Kasus Mesuji itu bisa menjadi titik peluang untuk mengundang FPI ke Kalteng.

Kedua, ketika di Kalteng, pihak Gubernur sudah menyiapkan penyambutan bagi tokoh-tokoh FPI yang akan datang. Menurut informasi, gerakan massa dimulai dari kantor Gubernur Kalteng. Aneh sekali, kantor negara dipakai untuk merencanakan gerakan-gerakan anarkhis.

Ketiga, terjadi insiden di lapangan udara Palangkaraya, berupa penolakan dan pengepungan pesawat oleh massa anarkhis, dengan membawa senjata tajam dan mengeluarkan kata-kata makian. Alhamdulillah, tidak ada satu pun tokoh FPI yang cidera secara fisik. Insiden terjadi lagi saat tokoh-tokoh FPI singgah di Banjarmasin.

Keempat, sebelum insiden terjadi pihak FPI sudah mencium ada gelagat tidak beres di Kalteng. Dan lebih mengherankan lagi ketika Kapolda Kalteng angkat tangan, tidak mau tanggung-jawab kalau tokoh-tokoh FPI tetap datang ke Kalteng. Hal ini membuktikan, bahwa ada SKENARIO BESAR yang tak sanggup dihadapi oleh Kapolda Kalteng.

Kelima, setelah terjadi insiden Kalteng, para aktivis LIBERAL dan KOMPRADOR di Jakarta sudah menyiapkan demo untuk menggugat FPI. Media-media massa sudah siap “nampani” amanah untuk menggebuk FPI dari sisi opini media. Kompas, Detik.com, MetroTV, TVOne, Kantor Berita Antara, dll. sudah siap untuk memanaskan situasi. Mereka lupa sama sekali dengan kenyataan, bahwa tokoh-tokoh FPI hampir habis dikeroyok komunitas Dayak anarkhis.

Keenam, sebagai bagian dari skenario ini ialah pernyataan SBY yang meminta agar FPI instropeksi diri. Ditambah lagi pernyataan Mendagri Gamawan Fauzi, bahwa ormas anarkhis bisa dibekukan.

Hal-hal seperti di atas bisa dibaca secara terpisah-pisah, bisa juga dibaca sebagai sebuah kesatuan skenario, demi menjatuhkan FPI dan mencapai target politik tertentu. Lagi pula hal-hal demikian sudah sering terjadi. Saat kapan saja ketika Pemerintah SBY atau Partai Demokrat sedang terdesak, selalu ada “jalan keluar” untuk mengalihkan perhatian publik. Yang paling sering dipakai adalah isu TERORISME, ormas anarkhis, dan kerusuhan berbasis agama.

Tapi yang paling kasihan dari semua ini ya…masyarakat Indonesia selama ini (dan tentu saja aktivis-aktivis Islam yang sering “digunakan” oleh negara sebagai “jalan keluar”). Masyarakat terus disuduhi kebohongan, penyesatan, skandal, konspirasi, pengkhianatan, kezhaliman, dan seterusnya.

Yah, bagaimana hidup akan aman, tentram, dan damai; kalau cara-cara licik seperti itu selalu dipakai? Mau hidup damai dimana, Pak, Bu, Mas, dan Mbak? Anda hendak sembunyi di dasar inti bumi sekalipun, kalau OTAK LICIK itu masih ada, nonsense akan ada kedamaian. Yang ada hanyalah kemunafikan telanjang; mengaku anti kekerasan, padahal paling terdepan dalam membela kezhaliman. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Ya Allah ya Rahman, selamatkanlah kaum Mukminin, Mukminat, Muslimin, dan Muslimat; dimana pun mereka berada, khususnya di negeri Nusantara ini. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Abah Syakir.


Wahai Muslimin Tolonglah Saudaramu di Bumi Jihad SURIAH !!!

Februari 13, 2012

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, bahwa di bumi Syam (termasuk Suriah atau Syria di dalamnya) akan senantiasa ada para pembela-pembela Islam. Disana akan senantiasa tegak hamba-hamba Allah Ta’ala yang selalu konsisten di atas agama-Nya, menjaga Syariat-Nya, serta berkorban demi izzah Dinul Islam. Di Syam akan senantiasa tegak para penolong-penolong agama Allah. Sejarah telah membuktikan kebenaran sabda Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam tersebut.

Namun di era modern (abad 20-21) bumi Syam senantiasa menangis darah, nyawa, air-mata, dan tulang-belulang kaum Muslimin terongkok bagaikan bangkai yang bergelimpangan. Tidak peduli para pemuda, para gadis, kaum tua, sampai anak-anak yang tidak mengerti dosa; mereka menjadi korban kezhaliman, kedurjanaan, pengkhianatan, kesesatan yang gelap, ambisi kekuasaan yang dikooptasi jiwa-jiwa iblis laknatullah, serta kecongkakan kekufuran tiada tara. Na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli dzalik. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum, wa li sa’iril Muslimin, khushushan li ikhwanina wa akhawatina fi Syiria. Amin ya Mujibas sa’ilin.

Sekutu Durjana Hendak Menumpas Singa-singa Islam di Bumi Syam.

Bumi Syam telah membara, terbakar, terhimpit oleh pekat kezhaliman dari segala penjuru. Kaum Muslimin Ahlus Sunnah disana ditikam oleh kaum Zionis Israel; mereka dijerat leher oleh kaum Syiah dari Libanon, Iran, Irak, dan Syria sendiri; mereka ditumpas oleh kaum Alawi radikal yang haus darah dan berlumur kezhaliman gelap; bahkan mereka menjadi bulan-bulanan ambisi kerakusan ekonomi negara-negara Barat dan Timur penjajah.

Mengapa demikian wahai Saudaraku?

Sebab kaum Al Ahzab (Sekutu) di atas kesesatan, kezhaliman, dan kekufuran itu; mereka semua sangat sadar dan meyakini kebenaran sabda Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, bahwa di bumi Syam akan senantiasa lahir singa-singa Islam, pembela-pembela panji Sunnah, penolong-penolong Syariat yang suci, serta para mujahidin yang gagah berani. Orang-orang sesat, durjana, dan kufur, mereka tahu akan hakikat para pembela Islam tersebut. Maka, mereka pun bergandeng tangan, membuat makar, menumpahkan darah, melenyapkan nyawa, serta menghancurkan kehidupan; demi untuk menumpas singa-singa Allah itu.

Kini regim “Fir’aun” gaya baru, Bashar Asad, laknatullah ‘alaihi wa ahzabihi ajma’in; manusia terkutuk ini rupanya ingin mewarisi jiwa kejam “Fir’aun sebelumnya”, yaitu Hafezh Asad, yang tidak kalah durjana, sesat, dan kufurnya. Antara anak dan ayah, seperti pinang dibelah kedua. Keduanya sama-sama berlomba memiripkan dirinya dengan sosok Fir’aun laknatullah ‘alaih. Kaum durjana ini telah membunuhi kaum Muslimin Ahlus Sunnah di Suriah, baik dulu maupun kini.

Berikut jeritan saudara-saudara kita kaum Muslimin Ahlus Sunnah di Suriah:

SERUAN DARI SURIAH UNTUK UMAT ISLAM INDONESIA

Oleh Ghiyast Abdul Baqi
(Universitas Malik Abdul Aziz Jeddah. Jamaah Huquq Al Insan fi Suriah)

Sejak sepuluh bulan yang lalu rezim Assad melancarkan operasional biadab dan serangan dahsyatnya terhadap rakyat Suriah terutama kota-kota Himsha, Edlib, Dir’a dan kota-kota serta desa-desa sekitar Damaskus. Masyarakat itu digempur dengan tank-tank, bom, mortir, dan tembakan dari pesawat terbang. Sungguh telah mati sejumlah penduduk yang tidak berdosa, tanpa senjata, mereka dibunuhi di rumah-rumah mereka. Kebenyakan mereka adalah anak-anak, para wanita, dan kakek-kakek serta nenek-nenek.

Di jalan-jalan dapat dilihat jasad-jasad yang sudah tidak bernyawa karena dibunuh, dan ratusan yang luka-luka, namun tidak ada seorang pun yang menolong dan mengobati lukanya.

Dewan Keamanan ada namun tidak ada kebaikan yang dilakukannya, sedangkan Rusia dan Cina berdiri di belakang Bashar Assad, mendukungnya denga senjata  sehingga membunuhi rakyat Suriah yang mereka itu menuntut kebebasan,kehormatan, dan mengatakan demi Allah, tiada penolong bagi kami kecuali Allah. Ya Allah. Namun sampai-sampai ada yang disiksa dengan agar bersujud pada gambar Bashar Assad, dan harus mengatakan tiada tuhan selain Assad.

Berdiri di belakang rezim pembunuh ini adalah Iran yang memberikan senjata, tenaga, dan harta. Dan Juga Hizb Nasrullah la’natullah yang syiah dari Libanon, serta pemerintahan Al-Maliki Irak yang syiah. Para Gerombolan hitam itulah yang membunuhi anak-anak, wanita-wanita, dan kakek-kakek serta nenek-nenek di Suriah sejak sepuluh bulan yang lalu.

Di manakah para propagandis hak-hak asasi manusia di dunia ini? Di manakah propagandis kebebasan rakyat? Kenapa Amerika dan Barat tidak bergerak, padahal merekalah yang mengumandangkan cinta rakyat dan demokrasi. Kenapa mereka tidak bergerak dan menghentikan kebrutalan sadis Bashar Assad di Suriah? Juga di manakah Dunia Islam, di mana pula bangsa-bangsa Arab? Apakah mereka buta, tuli, dan bisu hingga mereka tidak melihat sedikitpun tentang kejahatan yang tidak berperikemanusiaan ini?

Wahai bangsa Indonesia, suadara-saudaramu di Suriah sangat butuh sekali untuk berdiri bersama, untuk dibantu dalam tragedi yang mengenaskan sekali ini.

Organisasi-organisasi kemanusiaan mengatakan, sekarang jumlah korban yang dibunuhi lebih dari 10.000 orang. Tetapi sebenarnya jumlah sejatinya lebih besar dari itu. Sedang yang dipenjara lebih dari 150 ribu. Yang luka-luka ada ribuan orang, tidak ada yang merawatnya dan tidak ada obat.

Rakyat Suriah yang lari mengungsi ke Turki sekitar 12.000 orang. Ke Libanon 5.000-an orang. Ke Yordan lebih dari 10.000 orang. Ke Arab Saudi dan Negara-negara Teluk sekitar 3.000 orang.

Di kota Himsha itu sendiri ada 5.000-an orang yang cacat karena disiksa, ada yang buntung kakinya, buntung tangannya dan sebagainya. Itu akibat penyiksaan di penjara-penjara Suriah. Di penjara-penjara, polisinya Bashar Assad sampai memotong alat vital, mencongkel mata dan sebagainya. Kesadisan yang luar biasa itu semua disiksakan terhadap Ummat Islam Ahlis Sunnah, bukan karena apa-apa tetapi hanya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [البروج/8]

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, (QS Al-Buruj: 8).

Para penyiksa itu adalah pelanjut dari apa yang disebut oleh Imam Ibnu Taimiyah sebagai golongan Syiah Nushairiyah yang kejamnya terhadap Muslimin lebih sadis ketimbang Yahudi dan Nasrani.

Dari kenyataan itu, kami yang berasal dari Suriah menyerukan dan mengajak kepada para ulama dan da’i serta khatib di Indonesia, kami berharap pada Antum untuk tidak melupakan saudara-saudara kalian kaum Muslimin di Suriah untuk didoakan terutama di Hari Jum’at , karena pemerintah Suriah yang dhalim, membunuh dan menyembelihi kaum Muslimin.

(Sumber: Seruan dari Suriah untuk Umat Islam Indonesia).

Kaum Muslimin…

Dengarkan seruan saudaramu itu! Tolonglah saudaramu di Suriah, para Ahlus Sunnah yang terzhalimi oleh Yahudi, Syiah Rafidhah, Alawi haus darah, Soviet-China, dan negara-negara kapitalis Barat. Saudaramu kini menderita, kehilangan nyawa, berkuah darah, tertindas tanpa penolong, menjadi santapan srigala-srigala buas berhati iblis. Kini Ummat Muhammad di Suriah menderita, kehidupan mereka hancur, masa depan mereka dipertaruhkan.

Disana wahai kaum Muslimin, putra-putra Islam, para pembela agama Allah, singa-singa Syariat agama ini; mereka tengah dikepung oleh maut dari segala penjuru. Siapa yang hendak menolong wahai Saudaraku? Siapakah? Kepada siapa mereka hendak merintih, menghiba, dan berteriak: “Tolonglah kami wahai pejuang Islam? Tolonglah kami wahai pembela Sunnah? Tolonglah kami wahai pengibar bendera Nabi?”

Mereka merintih, menjerit, dan meminta pertolongan kepadamu, wahai Saudaraku! Tolonglah saudaraku, tolongkah kaum Muslimin disana, kasihanilah mereka, santuni mereka, tolonglah dengan apapun yang sanggup engkau berikan. Tolonglah wahai kaum Muslimin Indonesia atas derita sesama saudaramu di Suriah! Tolonglah saudaramu, wahai Ummat Muhammad?

Jika mampu, berangkatkan ke bumi Suriah, gentarkan musuh-musuh Islam dengan pengorbananmu. Jika tidak mampu, bantulah para pemuda mujahidin yang hendak berangkat kesana. Jika tidak mampu juga, sisihkan harta-bendamu untuk membantu saudara-saudaramu di Suriah yang sedang menderita. Jika tidak mampu juga, berdoalah meminta pertolongan Allah Ta’ala, agar membantu kaum Muslimin Suriah menghadapi kebrutalan manusia-manusia durjana, sesat, dan kufur.

Orang-orang durjana, sesat, dan kufur itu sedang berkolaborasi untuk mematahkan sabda Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Mereka hendak menumpas singa-singa Islam yang akan selalu lahir dan menjaga agama dari bumi Syam. Dengan cara itu, mereka ingin mengamankan DUA IMPERIUM BATHIL (imperium Rafidhah di Iran dan imperium Zionis Israel). Mereka hendak menumpas benih-benih para pembela Islam, agar singa-singa Islam tidak pernah lagi mengganggu imperium Rafidhah yang kufur, dan imperium Zionis Israel. Inilah rahasia di balik kebiadaban selama ini.

Ya Allah ya ‘Aziz ya Jabbar ya Mutakabbir…

Ya Allah pecahkan kepada Bashar Ashad dan manusia-manusia durjana yang mendukung kebiadabannya. Tumpahkan kebutaan, kelumpuhan, kehinaan, serta jeritan kesedihan bagaikan lolongan anjing paling menderita, atas diri mereka; musuh-musuh Islam, para penghina kesucian Nabi, penghina Ahli Baitnya, serta penghina para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Patahkan tangan dan kaki-kaki mereka ya Jabbar ya Malik ya Qahhar, seperti Engkau patahkan bala tentara Fir’aun laknatullah. Hujani musuh-musuh Islam itu berupa penyakit, angin topan, ketakutan, serta pertikaian di antara mereka sendiri. Pulangkan doa-doa laknat mereka, sumpah serapah mereka, atas Nabi, isteri-isteri beliau, para Shahabat, dan kaum Muslimin; pulangkan doa-doa itu ke diri mereka, laksana panah api baja yang menembus ke jantung mereka, membakar rumah dan rambut-rambut mereka. Ya Allah benamkan para penyembah syaitan itu, kaum musyrikin yang najis, serta bala tentara dajjal itu dalam lautan kekalahan dan kehinaan; karena mereka bermakar ingin menumpas para pembela-pembela agama-Mu di bumi Syam.

Ya Arhama Rahimin, ya Rabbul Arasyil Karim…

Ya Allah rahmati kaum Muslimin Ahlus Sunnah di Syam. Ampuni mereka atas segala dosa dan kesalahan, atas segala khilaf dan kelemahan. Perbaiki hidup mereka, iman mereka, semangat mereka, serta kehidupan mereka. Rahmati mereka yang telah gugur di jalan-Mu, baik dulu maupun kini. Hapuskan dosa-dosa mereka, sucikan diri mereka seperti Engkau sucikan kain yang putih dengan air, salju, dan embun. Tolonglah mereka yang menderita, terluka, kehilangan kesehatan, tertimpa kesempitan, musibah, serta teraniaya. Mudahkan urusan mereka, berikan jalan-jalan keluar atas segala kesulitan. Ya Allah ya Sallam, tolonglah kaum wanita, anak-anak, dan kaum lemah Ahlus Sunnah (Muslim) di bumi Syam. Tolonglah mereka, santuni mereka, sayangi mereka, selamatkan hidup dan kehidupan mereka.

Ya Allah ya Aziz ya Malik ya Quddus…musnahkan makar kaum durjana, sesat, dan kufur di bumi Syam. Jagalah kehidupan singa-singa Islam, para pembela agama-Mu, serta kesinambungan kehidupan mereka. Ya Allah ya Ra’uf satukan hati-hati kaum Muslimin sedunia untuk menolong para saudaranya di bumi Syam (khususnya Suriah). Satukan hati kami dalam kepedulian, perhatian, serta saling menolong dan meringankan beban saudara kami.

Ya Allah ya Qarib ya Mujib…terimalah doa-doa kami. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Ardhullah, 13 Februari 2012.

(Abu Muhammad Syakir).


Said Aqil Siradj dan Syiah Dihempas Tsunami

Februari 11, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak awal saya percaya bahwa Said Aqil Siradj akan celaka; sungguh-sungguh akan celaka. Mengapa ada asumsi seperti itu? Apakah ada dendam, dengki, atau benci ke Said Aqil Siradj? Apakah hal itu berdasarkan kalkulasi politik, hitung-hitungan mekanisme pencitraan publik, atau analisis media? Apakah berdasarkan wangsit, mimpi, ilham, dan sejenisnya?

Bukan, bukan sama sekali. Dasarnya adalah hukum keadilan itu sendiri. Dalam Surat Ar Rahmaan, Allah Ta’ala mengatakan: “Wa wadha-al mizan, allaa tath-ghau fil mizan, wa aqimul wazna bil qisthi,  wa laa tuqshirul mizan” (Dia -Allah- telah meletakkan mizan keadilan, maka janganlah melampaui mizan itu, dan tunaikanlah timbangan secara adil, jangan mengurangi dalam timbangan). Ayat-ayat ini sangat menekankan, betapa dalam kehidupan ini Allah sudah meletakkan mizan keadilan, maka setiap insan dilarang melampaui mizan tersebut. Kalau melampauinya, berarti ia telah berbuat kezhaliman. Dalam hadits, Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabba: “Ittaquu zhulma fa innaz zhulma zhulumatin fil akhirah” (takutlah akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu adalah kegelapan di Akhirat nanti).

Said Aqil Siradj telah banyak berbuat kezhaliman, khususnya ketika dia baru datang dari Arab Saudi, setelah menyelesaikan studi doktornya. Baru juga sampai di Indonesia, Said sudah berkata: “Inni tubtu min Wahabi” (aku bertaubat dari Wahabi). Dalam masa 14 mendapat beasiswa di Ummul Qura Makkah, Said Aqil begitu segut (gembul) dalam makan-minum, menikmati uang saku, mendapat penginapan, fasilitas, transportasi, dan segalanya yang dibutuhkan. Bahkan 4 orang anak-anak Said, lahir di Makkah, dalam naungan kemurahan kaum Wahabi. Tetapi setelah Said kenyang dari semua itu, dia mendadak “bertaubat” dari Wahabi.

"Said Datang, Badai Menyerang" (sumber foto: mediaindonesia.com).

Bukan hanya soal taubat dari Wahabi, Said Aqil juga mulai gandeng-renteng dengan Syiah (Iran). Selain tentunya, gandengan dengan Bank Dunia, dalam rangka “memerangi teroris”. Said tak segan-segan mulai membela simbol dan ajaran Syiah. Dia bahkan menjadi sponsor utama terbitnya “Trilogi Idahram” yang isinya amat-sangat memfitnah dakwah Wahabi dan orang-orang yang meniti jalan di atas dakwah itu (atau yang tidak terkait sekalipun). Permusuhan Said tidak tanggung-tanggung, dia mengklaim bahwa Wahabi adalah musuh negara, karena kebanyakan “teroris” berpaham Wahabi. Itu menurut klaim dia. Hingga di majalah Tempo, secara terang-terangan Said mengaku diri sebagai penganut Syiah.

Disini kita lihat betapa berat kezhaliman yang sudah dilakukan oleh Si Said ini. Dia sudah diberi kemurahan oleh orang lain; bukan berterimakasih, atau sekedar menghargai semua itu. Tetapi dia balas semua kebaikan orang dengan permusuhan, adu-domba, fitnah, penyesatan, penikaman, dan sebagainya. Obsesi Said, dia berharap agar kaum Wahabi diperangi di Indonesia, seperti Densus88 memberanras para terduga teroris selama ini. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Nah, alasan-alasan itulah yang membuat Said jatuh dalam bencana dan kecelakaan perih. Tidak ada tempat lari baginya, meski harus ke ujung dunia sekalipun. Mengapa? Sebab dalam diri dan kehidupan Said sudah tertanam sangat banyak jasa-jasa baik orang lain. Kebaikan-kebaikan yang pernah dia terima akan menjadi “kanker” yang akhirnya menyerang dirinya sendiri, dari segala arah, dengan tiada satu pun mampu mencegah. Said berbeda dengan Abdurrahman Wahid. Kalau Wahid melakukan permusuhan kepada Islam dengan modal sendiri (atau modal keluarga), maka Said memusuhi Islam, lewat jasa baik manusia lain.

Salah satu dari bentuk kecelakaan Said, selain serial lain yang pasti akan menimpanya, adalah terbongkarnya perjanjian rahasia antara Said dan elemen-elemen Iran. Berita lengkapnya di situs hidayatullah.com berikut ini:

Syuriah PBNU Batalkan Kerjasama dengan Iran

Hidayatullah.com–Syuriah PBNU dikabarkan telah membatalkan kerjasama dengan Iran. Kabar ini disampaikan HM. Cholil Nafis, Wakil Ketua Bahtsul Masail PBNU kepada www.hidayatullah.com, (11/02/2012), Sabtu pagi.

Menurut Cholil Nafis, diam-diam, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj membuat nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas al-Mustafa al-‘Alamiyah, Qom, Iran.  Dokumen kerjasama di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Syuriah PBNU. Dokumen tertanggal 27 Oktober 2011 itu dibuat dalam dua bahasa, Persia dan Indonesia.

“Said Aqil menandatangani MoU itu bersama Muhammad Zain (Ketua Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffaz PBNU) dan Ahmad Mubarok dari Partai Demokrat ikut dalam rombongan,” kata Cholil.

Kata Cholil, sebelumnya Said Aqil selalu menyangkal adanya MoU tersebut. Namun, ketika ditunjukkan dokumen itu, Said Aqil tidak bisa mengelak lagi. Pada Desember 2011 lalu, MoU itu pun dibatalkan oleh Dewan Syuriah PBNU.

Cholil mengatakan, MoU itu dibatalkan karena diputuskan secara sepihak tanpa musyawarah. Lagi pula, katanya, PBNU menilai Iran bukanlah pihak yang tepat untuk diajak kerjasama, khususnya dengan NU.* (Publikasi: Sabtu, 11 Februari 2012).

Selain itu, kecelakaan besar yang diterima Si Said adalah gelombang Tsunami yang menimpa kaum Syiah di Indonesia saat ini. Sepanjang sejarah Nusantara, belum pernah Syiah mendapat perlawanan sangat besar, dari segala penjuru, dan sangat telak; kecuali saat ini. Ajaran-ajaran sesat Syiah benar-benar dikuliti sampai ke akar-akarnya. Kelicikan, konspirasi, kebejatan, kezhaliman, kebohongan, serta kehinaan mereka; walhamdulillah, berhasil disampaikan kepada Ummat Islam, seterang-terangnya. Hingga semua ini menyadarkan kaum Muslimin, sehingga ada upaya MUI untuk segera mengeluarkan fatwa sesat bagi Syiah.

Semua itu adalah akibat dari perbuatan-perbuatan provokasi Said Aqil Siradj yang sangat nafsu dalam menyerang dakwah Sunnah,  tanpa ampun. Di sisi lain, Said Aqil juga sangat nafsu ingin “mengkudeta” kedudukan dai-dai senior Syiah, seperti Jalaluddin Rahmat, Haidar Bagir, Umar Shihab, dll. Kalau dai-dai itu semula selalu menampilkan diri dengan pembawaan lembut, penuh perhitungan, dan bersikap “cinta damai”; maka Said juga muncul dengan sikap arogan, bledag-bledug, memfitnah, menyerang, dan seterusnya.

Bersama sekumpulan anak-anak muda Syiah yang sudah kenyang “main mut’ah” Syiah melakukan gerakan politik tersendiri, keluar dari mainstream Jalaluddin Cs. Sepertinya Said ingin menjadi imam Syiah untuk kawasan Asia Tenggara. Itu kan “jabatan menggiurkan”… Ya kan Said? Namun karena dia terlalu nafsu, sehingga melakukan serangan-serangan tidak kira-kira. Akibatnya, kini Said menjadi sakit; dia terhimpit dimana-mana; dicurigai dimana-mana; bahkan mengalami penolakan-penolakan dari ulama-ulama senior NU (Jawa Timur).

Said…Said… engkau lupa, bahwa setiap hujatanmu kepada Wahabi, Salafi, atau kaum Sunni; semua itu akan kembali menjadi LAKNAT bagi dirimu sendiri. Mengapa wahai Said? Sebab terlalu banyak jasa-jasa baik orang yang kamu musuhi, kini semua jasa itu bersarang dalam tubuhmu, sejak dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setiap laknatmu wahai Said, akan kembali ke dirimu sendiri.

Harapan yang bisa disampaikan, ialah agar Ummat benar-benar sadar, bahwa: Setiap kezhaliman itu akan berbalas kecelakaan bagi para pelakunya. Innallaha laa yuhibbuz zhalimin (sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang zhalim).

Said…Said…semakin lama engkau semakin sakit…

Al faqir ila Rahmatillah

(Joko Waskito bin Buang).


Manusia dari Kaleng…

Februari 9, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seorang kawan bercerita. Dia kini punya kantor resmi di Jakarta. Bukan sekedar kerja biasa, tetapi dia punya saham di kantor itu. Dia sudah dianggap masuk jajaran “Dewan Direksi”. Pemilik saham terbesar orang-orang China (lokal). Umumnya beragama non Muslim.

Dia biasanya kerja lapangan, sebagai peneliti, surveyor, dan lainnya. Namun kemudian harus sering ngetem di kantor, berdampingan dengan para bos. Saya pernah bertanya, “Apa bos-bos itu tidak memaksakan gaya hidupnya?” Apalagi mereka kan non Muslim. Singkat kata, pengaruh itu ada, tetapi kata kawan, dia masih bisa mengeliminir pengaruh buruknya.

Dari obrolan ini, dia tahu gaya hidup kawan-kawan kantornya yang memang tergolong level eksekutif muda. Sekali lagi, mereka non Muslim. Kawan saya itu tentu diajak-ajak “mencicipi” gaya hidup itu, tetapi dia dengan sopan menolak. Kawan saya selalu beralasan “ingat anak-isteri di rumah”.

Hidup Seperti Robot. Ada Raga, Namun Tiada Jiwa.

Salah satu gaya hidup yang diceritakan. Di antara eksekutif muda itu, kalau habis capek kerja, mereka datang ke tempat SPA. Disana dia dipijit dari ujung rambut sampai ujung kaki; dalam keadaan “tanpa sehelai benang”. Yang melakukan pemijitan itu cewek-cewek cantik. Biasanya sekali masuk SPA tarif mencapai Rp. 250.000 (setara dengan honor kalau aku mengisi bedah buku. He he he). Durasi SPA itu selama 2 jam.

Setelah dipijit-pijit secara sempurna, tentu termasuk selangkangan juga. Laki-laki eksekutif itu lalu diberi “sentuhan spesial” (baca: masturbasi). Setelah mencapai puncaknya… Lalu dia istirahat. Katanya, setelah semua proses itu, badannya merasa segar dan ringan kembali. (Heran juga ya, kok bisa badannya jadi segar bugar? Tidak terbalik tuh?).

Kawan saya kalau dipijat dengan cara refleksi, oleh pemijat tunanetra. Tentu saja laki-laki. Dan tidak ada sentuhan-sentuhan seks-nya. Tapi eksekutif muda di atas dan yang semisalnya tidak puas sekedar dipijat saja. Harus ada plus-plus-nya… Ya begitulah kaum hedonic mania!

Malah katanya, bisa lebih parah dari itu. Bisa mengarah ke model pelacuran, meskipun cover-nya layanan SPA. Maka harus hati-hati terhadap layanan seperti ini. Termasuk bagi kaum wanita. Harus pilih-pilih secara teliti.

Tapi ada satu hikmah yang menarik…

Nah, untuk itu pula, saya sengaja menulis artikel ini.

Kalau dilihat dari sisi moral, para eksekutif itu jelas bobrok, rusak, dan  mengerikan. Ya, namanya manusia yang sehat, benar, dan bermoral, sudah semestinya menghindari hal-hal tercela seperti itu. Bukan hanya soal SPA oleh perempuan, masturbasi, hingga seks pelacuran. Tetapi semua itu sudah menjadi gaya hidup, dan ingin ditular-tularkan ke orang lain.

Di atas budaya hidupnya yang rusak itu, TERNYATA…ini harus benar-benar kita camkan…orang-orang itu memiliki skill kerja, pengetahuan, pengalaman, dan keahlian. Bisa jadi, kemampuan SDM yang mereka miliki, melebihi kemampuan orang-orang shalih (aktivis Islam).

Inilah yang membuat kita sangat MIRIS…

Ternyata, di balik kebobrokan moralnya itu, mereka memiliki kemampuan, keahlian, dan pengalaman kerja. Kalau mereka bobrok moral plus letoy kerja, mungkin kita bisa memaklumi, “Ya maklumlah, mereka bobrok!” Tapi ternyata, mereka punya keahlian juga.

Disini kita dapati sebuah kenyataan yang bisa disebut “sindrom manusia kaleng”. Maksudnya, ada sekumpulan manusia yang punya keahlian, kecakapan, dan pengalaman kerja; tetapi moralnya bobrok. Diri mereka seperti sebentuk tubuh terbuat dari kaleng. Fisiknya ada, berdiri kokoh, dan bisa jadi pintar. Tetapi jiwanya kosong, moralnya rusak, hati nuraninya “mati”.

Anda masih ingat sebuah “tragedi kemanusiaan” yang terjadi di China beberapa waktu lalu. Ketika itu ada anak kecil tertabrak kendaraan, lalu dibiarkan saja oleh manusia yang lalu-lalang di jalan. Nah, seperti itulah “sindroma manusia kaleng”. Fisiknya ada, kehidupan ada, tetapi nurani mati.

Banyak pejabat, politisi, perwira, tokoh publik, artis, dll. mereka juga terkena “sindroma manusia kaleng” itu. Fisiknya ada, kaya raya, terkenal, bahkan cantik dan tampan; tetapi hati nurani lenyap, moral bobrok, kesantunan diri nihil. Mereka disebut dengan istilah “mayat hidup” gentayangan. Fisik masih hidup, tetapi jiwa sudah mati. Makan-minum jalan terus, tetapi ekspressi hati nurani tidak ada.

Di zaman modern, banyak manusia-manusia kaleng itu. Mereka memiliki raga, tanpa jiwa. Mereka hidup, padahal hakikatnya “mati”. Kehidupan modern membuat mereka menjauhi hakikat agama, dan terjerumus memuja hawa nafsu. Akibatnya fatal, mereka hanya memiliki kehidupan fisik belaka, tanpa reputasi kebaikan insani.

Na’udzubillah wa na’udzubillah bi izzatillahil karim min kulli dzalika, wa ilallahi nas’alul ‘afiyah lid dina wad dunya wal akhirah. Amin Allahumma amin.

Mine.


Anas Pasti Terjungkal!

Februari 8, 2012

Saat ini posisi politik Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, semakin terpojok. Terutama setelah Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Beberapa hari lalu, Angie (demikiaan sapaan Angelina Sondakh) berziarah ke makam suaminya, Ajie Masaid. Entahlah, apa tujuan Angie datang kesana?

Kata orang, “Tumben Angie ingat makam suaminya?” Maklum polisi sih, jadi urusan ke makam pun dilakukan sesuai “kepentingan politik”.  (Kasihan Ajie Masaid, meskipun sudah wafat, masih “diharapkan” kontribusi politiknya. He he he). Mungkin, ini semacam acara “meminta empati publik” seperti yang dilakukan Afriyani Susanti beberapa waktu lalu, saat dia hujan tangis, memohon maaf karena sudah “menghabisi” 9 nyawa manusia. Afriyani tidak pernah hujan air-mata saat berdugem-dugem ria. Mandi keringat, iya kale…

Oh ya, kembali ke Bung Anas. Nama lengkapnya, Anas Urbaningrum; sebuah paduan nama antara maskulinitas dan feminitas. Dalam khazanah bahasa Jawa kata “ningrum” itu merupakan ciri identitas perempuan. Pantesan, kalau melihat gaya publik Bung Anas; sekali waktu tampak gagah, di waktu lain terkesan “cantik”. Ah sudahlah, lupakan saja. Mari kita fokus ke konten lagi.

Dalam situasi seperti ini, banyak orang berandai-andai soal nasib Bung Anas Urbaningrum. Ada yang berteori: “Anas tetap kokoh. Dia didukung oleh Pak SBY, plus tentunya dukungan Ibu Ani Yudhoyono. Posisi Anas tetap kuat. Dia akan aman melenggang sebagai Ketua Umum PD sampai tahun 2015 nanti.” Tetapi ada juga yang berteori: “Wah, posisi Anas sangat riskan. Dia tak akan bertahan lama.” Kenapa bisa begitu, Bung? “Ya, karena citra Partai Demokrat semakin ringsek. Kalau Anas tidak segera dilengserkan, Partai Demokrat bakal tamat.” Atau mungkin ada yang berteori: “Anas, bisa kuat, bisa lemah. Tergantung situasi dan kondisinya.”

Kalau saya percaya, bahwa Anas akan terguling. Dia akan terjungkal, insya Allah. Ini keyakinan saya pribadi. Bisa benar, bisa tidak.

Mengapa saya menduga seperti itu?

Hal ini bukan soal analisis kasus Wisma Atlet, kasus Munas Demokrat di Padalarang, atau kasus Hambalang. Bukan juga masalah hitung-hitungan politik seperti yang kerap ditunjukkan oleh Burhanuddin Muhtadi atau Eep Saefullah Fatah. Bukan juga karena hitung-hitungan logika hukum versi KPK, atau versi Jakarta Lawyers Club (Karni Ilyas). Bukan pula karena hitung-hitungan survei yang macam-macam. Bukan semua itu.

Lalu berdasarkan apa?

Jawabnya, berdasarkan Hukum Keadilan.

Maksudnya bagaimana?

Mari kita buka lembaran-lembaran sejarah lagi. Dalam Pemilu 2004, kita harus ingat Bung Anas Urbaningrum masuk dalam jajaran anggota KPU. Ketika itu KPU dilanda kemelut hebat. Beberapa pejabat KPU didakwa melakukan perbuatan korupsi (melawan hukum). Akibatnya, sebagian dari mereka mendapat sanksi hukuman, seperti Prof. Dr. Nazaruddin Syamsuddin, Prof. Dr. Mulyana W. Kusumah, dan lainnya. Pejabat-pejabat itu harus dihukum, dan kini sudah bebas dari hukuman.

Sebenarnya, Anas ketika itu tersangkut masalah-masalah di KPU. Namun dia cepat-cepat berlindung di balik punggung Pak SBY dan Partai Demokrat. Di tangan PD, posisi Anas aman, nyaman, terkendali, dan berkemajuan (apaan tuh maksudnya?). Pendek kata, ketika kawan-kawan Anas sudah dijebloskan ke penjara, Anas sendiri selamat, sehat, sentausa, bernaung di bawah perlindungan politik Partai Demokrat.

Tentu saja, sikap Anas ini amat sangat menyakitkan bagi kawan-kawannya di KPU. Anas dianggap mau selamat sendiri, mencari aman, dan tidak solider dengan nasib kawan. Entahlah, apa selama menjadi anggota HMI, Anas diajari sikap-sikap nyeleneh seperti itu? Rasanya aneh ya. Tapi itulah kenyataan.

Ketika geger KPU versi 2004 itu mencuat, salah satu delik yang dituduhkan ke Anas ialah: menerima gratifikasi (suap). Anas benar-benar menerima uang itu, meskipun bukan dia sendiri yang memakainya. Ketika ditanya, bagaimana status uang tersebut? Anas mengaku, kurang lebih: “Uang itu tidak haram, tapi juga tidak halal. Jadi statusnya syubhat.” Sambil cengengesan.

Kalau tahu uang syubhat, seharusnya dijauhi ya. Tapi ini malah dibagi-bagikan ke para kawan dan kolega. Itulah Anas Urbaningrum, salah satu alumni terbaik HMI, dengan sikap keagamaannya yang ambigu (aneh).

Setelah masuk Demokrat, Anas bukan saja terlindungi, tetapi semakin mencorong pamornya. Karier politik Anas melesat jauh tinggi. Kalau di dunia entertainment, mungkin semujur nasib Sule itulah.

Nah, dalam konteks sejarah Anas di masa lalu; sikapnya yang mencari selamat, tidak solider kepada kawan, dan juga kenyataan bahwa kawan-kawannya sudah dijebloskan ke penjara; tampaknya Anas akan mengikuti langkah itu.

Secara logika politik manusia bisa ngomong apa saja, selicin komentar-komentar Burhanuddin Muhtadi, sang pakar “politico mathematic” (mengkaji politik dengan pola pikir Matematik, he he he). Tetapi dalam rentangan sejarah dan hukum keadilan; Anas tidak akan bisa lari. Para Malaikat sudah menandai punggung dan dahinya. Hanya tinggal menanti momen yang tepat.

Bung Anas pasti terjungkal… Sebagai sunnah berlakunya hukum keadilan dalam kehidupan. Bukan hanya Bung Anas, tetapi juga “Bos Besar” dan “Ketua Besar” (dalam konteks ini, baca sebagai: Es-Be-Ye). Hanya soal waktu saja!

Wa lan tajida li sunnatillahi tabdila… Dan sekali-kali kamu tidak akan pernah melihat Sunnah Allah itu berubah.

Selamat menanti, Bung Anas! Ingat, kawan-kawan Anda di KPU 2004 sudah ada yang dijebloskan ke penjara. Dalam doa-doanya, mereka mungkin merintih agar Anda juga mendapatkan sanksi yang setimpal. Iya gak…

Mine.


Syiah, KH. Ali Yafie, dan Iran

Februari 5, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada saja cara manusia untuk menerima, memberi toleransi, atau mengakui keberadaan paham Syiah. Caranya bermacam-macam, termasuk dengan membuat dalih-dalih yang kurang tepat. Salah satu bentuk blunder besar, ialah yang dilakukan oleh Prof. Dr. KH. Ali Yafie, seorang ulama pakar fiqih dan sekaligus mantan anggota MUI Pusat. Mengapa disebut blunder? Sebab usia KH. Ali Yafie sudah sepuh. Secara pandangan manusiawi, beliau sudah berada di area “ambang kehidupan”. Mestinya, dalam usia demikian, KH. Ali Yafie mewariskan hal-hal yang kuat, kokoh, barakah, dan maslahat bagi Ummat. Namun, beliau justru ingin mengklaim keislaman penganut sekte Syiah (khususnya Imamiyah Itsna Asyari).

"Wariskan Kebaikan untuk Generasi Nanti" (Jangan Meninggalkan Fitnah).

Situs voa-islam.com menerbitkan artikel menarik, berjudul: “Anggapan Syiah Bagian dari Islam Sangat Tidak Beralasan.”  Dalam artikel ini KH. Ali Yafie menegaskan bahwa Syiah bagian dari Islam. Alasannya, karena negara Iran yang menganut paham Syiah Imamiyyah, diterima sebagai bagian dari OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang anggotanya sekitar 60 negara Islam. Berikut pernyataan KH. Ali Yafie:

Dengan tergabungnya Iran sebagai negara Islam dalam wadah OKI tersebut, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam. Itu sudah cukup. Kalau anda tanya apakah Syiah sesat, lebih baik tanyakan pada MUI saja. Jangan tanya saya. Yang jelas, kenyataannya seluruh dunia Islam, yang tergabung dalam 60 negara menerima Iran sebagai negara Islam.

Sebenarnya, untuk memahami kesesatan Syiah, sangatlah mudah. Termasuk untuk memahami bahwa Syiah ekstrem yang menjadi madzhab utama di Iran saat ini, bukan bagian dari Islam, juga mudah. Alasannya, kaum Syiah itu telah mengutuk, mencaci-maki, melaknati, mendoakan keburukan, memberikan gelar-gelar sangat kotor, serta merendahkan para Shahabat Nabi yang mulia Ridhwanallah ‘Alaihim Ajma’in. Mereka menggelari isteri-isteri Nabi serta para Shahabat terkemuka, seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman Radhiyallahu ‘Anhum, dengan gelar-gelar sangat kotor (na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli dzalik). Dengan satu alasan ini saja, telah cukup kalam untuk mengeluarkan sekte Syiah Imamiyyah dari Islam.

Dalilnya adalah Surat At Taubah, sebagai berikut: “Dan orang-orang yang mula pertama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan; Allah ridha atas mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dia (Allah) telah menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100).

Singkat kata, orang Syiah Rafidhah telah melaknati para Shahabat yang mulia, Radhiyallahu ‘Anhum; maka itu sama artinya mereka telah MELAKNATI kaum yang DIRIDHAI oleh Allah Ta’ala. Ini adalah kekufuran yang nyata dan sangat nyata. Maka, mengeluarkan kaum Syiah dari jalan Islam, atas alasan seperti itu, adalah benar semata.

Lalu bagaimana kalau ada 60 negara di dunia telah menerima keislaman kaum Syiah (meskipun mereka telah mengekalkan laknat dan permusuhan kepada para Shahabat yang mulia)? Bagaimana kalau Prof. Dr. KH. Ali Yafie, seorang guru besar fikih, mantan Ketua MUI, mantan anggota PBNU, dan lain-lain; beliau mengklaim bahwa Syiah adalah bagian Islam? Maka jawabnya sangat sederhana: “Jangankan kebijakan politik 60 negara di dunia, jangankan pendapat KH. Ali Yafie; andaikan seluruh manusia sejak awal sampai akhir menerima Syiah sebagai Islam, sedangkan mereka dalam ideologinya melawan RIDHA Allah, maka semua pendapat itu dianggap tidak ada, atau tidak penting. Sebab, kalau kita mengakui Syiah sebagai bagian dari Islam, sedangkan mereka telah melazimkan melaknat dan mengutuki para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum, maka kita akan menjadi kafir.”

Lalu bagaimana dengan keputusan politik 60 negara Muslim dalam organisasi OKI yang mengakui posisi Iran? Bukankah ini sudah cukup sebagai dalil bahwa Syiah adalah bagian dari Islam?

Mari kita nikmati pemikiran ini, lalu memberikan jawaban yang baik dan secukupnya; sekaligus sebagai upaya memberi nasehat kepada orangtua kita, KH. Ali Yafie, yang telah menyampaikan pendapat tidak tepat. Kepada Allah Ta’ala semata kita memohon ilmu, petunjuk, dan taufiq. Allahumma amin.

[1]. Dalam studi Syariat Islam, dalil yang dipakai untuk menghukumi masalah-masalah Syariat (termasuk di dalamnya perkara akidah) adalah Kitabullah dan Sunnah Shahihah, serta istinbat hukum yang adil. Hal ini ditegaskan secara jelas dalam Surat An Nisa’ ayat 59. Kalau terjadi perselisihan dalam apapun persoalan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi, berdalil dengan “kebijakan politik 60 negara Islam” bukan termasuk koridor Syariat.

[2]. Kita harus paham, bahwa keputusan politik 60 negara Muslim dalam OKI, bukanlah keputusan berdasarkan Syariat Islam. Ia adalah keputusan atau kebijakan yang dibangun di atas hukum internasional, konvensi dunia, kesepakatan bilateral atau multilateral antara negara-negara anggota, serta berdasarkan hukum masing-masing negara yang umumnya SEKULER. Jadi negara-negara anggota OKI ini bisa disebut sebagai “negara yang mayoritas penduduknya Muslim”, bukan negara Islam. Sebab, kalau benar-benar 60 negara itu berdasarkan Islam, mereka pasti akan bersatu-padu membentuk Khilafah Islamiyyah, bukan ngeyel dengan konsep negara nasionalis masing-masing. Singkat kata, keputusan atau kebijakan negara-negara OKI, tidak otomatis mewakili keputusan/kebijakan Islami.

[3]. Kesatuan negara-negara dalam suatu organisasi internasional adalah langkah atau kebijakan politik berdasarkan prinsip kerjasama dan kepentingan. Maksudnya, mereka bergabung karena melihat keuntungan di balik langkah kerjasama dengan negara lain. Di sisi lain, mereka bergabung juga dalam rangka mencari keuntungan tertentu. Jadi, titik-tolaknya bukan persoalan KESAMAAN AKIDAH & MANHAJ. Tetapi lebih ke aspek kerjasama dan kepentingan saja. Buktinya apa? Mudah sekali. Lihat saja konsep organisasi seperti PBB atau ASEAN. Dalam organisasi seperti ini semua jenis negara, tidak peduli apapun akidahnya, bisa bergabung dan bekerjasama. Baik negara Nashrani, Yahudi, Sekuler, Kapitalis, Paganis, Komunis, dll. bisa bergabung disana. Dalam organisasi OKI sendiri tidak ada ketentuan seperti: “Semua negara dalam OKI harus bermadzhab Ahlus Sunnah atau Sunni.” Adakah ketentuan seperti itu dalam piagam organisasi OKI?

[4]. Kesamaran posisi politik Iran, karena sejak awal mereka mengklaim istilah-istilah Islam. Nama resmi negara itu Jumhuriyyah Al Islamiyyah Al Iraniyyah (Republik Islam Iran). Mereka tidak menyebut diri sebagai Jumhuriyyah Asy Syiah Al Imamiyyah Al Itsna Asyariyyah. Revolusi mereka juga diklaim sebagai Ats Tsaurah Al Islamiyyah (Revolusi Islam). Ketika Salman Rushdie menghujat Al Qur’an, Khomeini menampakkan diri membela Al Qur’an. Hal-hal demikian menimbulkan syubhat yang mestinya bisa dijernihkan oleh ulama seperti KH. Ali Yafie itu, bukannya malah diabu-abukan kembali.

[5]. Kalau kita melihat sejarah Khilafah Islamiyyah, sejak era Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbassiyyah, Dinasti Ayyubiyyah, Dinasti Saljuk, Dinasti Turki Utsmani (berakhir tahun 1924 M). Disana kaum Muslimin tidak pernah mengakui negara yang berbasis ajaran Syiah (Rafidhah). Bahkan bukan rahasia lagi, bahwa salah satu musuh bebuyutan Khilafah Turki Utsmani, adalah sekte Syiah di Iran, Irak, dan sekitarnya.

Demikianlah, kita tidka boleh gegabah mengklaim Syiah (Rafidhah) sebagai bagian dari Islam. Alasan penerimaan 60 negara anggota OKI terhadap Iran, bukanlah refleksi dari kebijakan atau keputusan politik Islami, sebab organisasi OKI itu memang tidak berdasarkan Syariat Islam. Mereka semacam organisasi “kumpulan arisan” negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Sangat disayangkan, jika seorang alim dikenal sebagai guru besar fikih Islam, tetapi tidak cermat dalam membedakan antara “Syariat OKI” dengan Syariat Islam. Hal ini sangat disayangkan, dan sepatutnya tidak terjadi hal seperti itu. Namanya Syariat Islam pastilah berdasarkan tinjauan Kitabullah dan As Sunnah, bukan selainnya.

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Mohon dimaafkan atas segala salah dan kekurangan. Semoga Allah Ta’ala selalu merahmati kita (kaum Muslimin) semuanya. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Cimahi, 5 Februari 2012.

AMW.


Haidar Bagir dan Tuduhan Tahrif Al Qur’an

Februari 4, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam tulisan opini di Republika, edisi 27 Januari 2012, Dr. Haidar Bagir menulis artikel berjudul, “Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat“. Artikel ini merupakan jawaban atas tanggapan yang diberikan oleh Fahmi Salim, MA dan Prof. Dr. Muhammad Baharun yang mengkritik tulisan Haidar Bagir di media yang sama, pada edisi-edisi sebelumnya.

Singkat kata, dalam tulisan tersebut, juga tulisan Haidar Bagir sebelumnya, si penulis menampilkan STRATEGI KOMUNIKASI yang unik sekali. Sebenarnya, bagi para pembaca risalah-risalah kaum Syiah, hal ini bukan sesuatu yang baru. Tetapi dalam tulisan Haidar Bagir nuansanya seperti seseorang yang -oleh pakar psikologi- kerap disebut split personality. Satu sisi Haidar Bagir menjelaskan, bahwa dalam kalangan Syiah banyak sisi-sisi kesamaan dengan akidah Ahlus Sunnah pada umumnya. Tetapi pada saat yang sama, Haidar Bagir juga melontarkan kritik khas Syiah terhadap akidah Ahlus Sunnah. Dalam hal ini yang sangat kita garis-bawahi adalah tuduhan seputar adanya TAHRIF Al Qur’an (perubahan teks  dari aslinya).

Untuk lebih jauh memahami jalannya polemik Fahmi Salim & Prof. Muhammad Baharun versus Haidar Bagir, silakan lihat silsilah polemiknya di tulisan berikut ini: Perang Opini Sunni-Syiah di Republika. Dalam silsilah itu bisa dilihat jawaban-jawaban yang dikemukakan Fahmi Salim maupun Prof. Muhammad Baharun. (Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan Ummat! Amin).

Disini kita ingin menyinggung satu materi dari tulisan Haidar Bagir. Dalam artikel di atas, Haidar Bagir memberikan tambahan bukti tentang adanya perubahan-perubahan dalam Al Qur’an. Dia mengatakan:

Selain hadis tentang ayat Alquran dalam simpanan Siti Aisyah yang hilang itu, terdapat pula riwayat dalam Musnad Ahmad dan dinukil dalam Al-Itqan karya Imam Suyuthi bahwa Siti Aisyah mengatakan, “Pada masa Nabi, surah al-Ahzab dibaca sebanyak 200 ayat, tetapi ketika Usman menulis mushaf, ia tidak bisa mendapatkannya kecuali yang ada sekarang.“ Seperti kita ketahui bahwa surah al-Ahzab yang ada di mushaf sekarang ini adalah 73 ayat. Berarti menurut riwayat itu ada 127 ayat yang hilang dari surah ini. Sejalan dengan itu, Tafsir al Qurthubi menukilkan hadis dari Ubay bin Ka’b yang menyebut jumlah ayat dalam surah yang sama adalah 286. Rawi yang sama sebagaimana dinukil Al-Itqan menyebut bahwa jumlah surah Alquran adalah 116, bukan 114 yang kita miliki sekarang karena adanya dua surah yang hilang dan disebut-sebut bernama Al Hafd dan al-Khal’.

Dalam pernyataan ini disebutkan, bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dalam hadits Imam Ahmad mengatakan, bahwa mulanya Surat Al Ahzab itu dibaca 200 ayat. Namun kemudian hanya tersisa hanya 73 ayat saja (atau hilang sekitar 127 ayat). Dalam Tafsir Al Qurthubi (bukan menurut Al Qurthubi lho ya) Surat Al Ahzab semula berjumlah 286 ayat (sehingga kalau kini tinggal 73 ayat, berarti sudah hilang sebanyak 213 ayat). Dengan dasar-dasar ini, dapat ditarik kesimpulan, bahwa Al Qur’an sudah mengalami Tahrif (distorsi, perubahan, pemalsuan, dan semisalnya).

Lalu bagaimana menjawab pendapat seperti di atas?

Mari kita memohon karunia ilmu dan petunjuk kepada Allah Al ‘Alim; lalu kita melindungi Kemurnian dan Kesucian Al Qur’an Al Karim, sekuat kemampuan; karena memang setiap insan diberi beban Syariat, sesuai kesanggupannya. Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq untuk menetapi jalan yang diridhai-Nya. Allahumma amin.

[1]. Adanya satu atau dua riwayat yang mengatakan ini dan itu, di luar pemahaman mainstream para ulama, tidak boleh langsung diterima begitu saja. Harus dilakukan tash-hih (penshahihan) dulu, apakah riwayat tersebut shahih atau tidak. Riwayat-riwayat yang mengatakan telah terjadi perubahan pada Al Qur’an, rata-rata tidak diterima. Karena alasannya: (a) Bertentangan dengan Surat Al Hijr ayat 9, bahwa Allah yang menurunkan Al Qur’an dan Dia pula yang menjaganya; (b) Bertentangan dengan riwayat-riwayat yang lebih kuat, bahwa Al Qur’an itu sempurna, tidak mengalami perubahan; (c) Bertentangan dengan Ijma’ kaum Muslimin sejak masa Rasulullah dan para Shahabat, sampai hari ini. Dengan alasan itu, maka dari sisi telaah Dirayah (substansi hadits), hadits-hadits yang menjelaskan adanya Tahrif itu tertolak. Dalam ilmu hadits, sebuah hadits yang bertentangan secara pasti dengan riwayat-riwayat yang lebih kuat, ia tertolak.

[2]. Dalam ilmu hadits disebutkan sifat Hadits Mutawatir. Ia adalah hadits yang paling kuat, karena diriwayatkan dari satu generasi ke generasi lain secara kolektif. Bukan sejenis hadits Ahad yang diriwayatkan oleh perawi personal. Orisinalitas Al Qur’an termasuk bagian dari warisan Islam yang diriwayatkan secara Mutawatir oleh para Shahabat, kemudian ke Tabi’in, ke Tabi’ut Tabi’in, dan seterusnya. Dalam hal ini berlaku sebuah kaidah penting: “Tidak mungkin manusia yang banyak, di zaman Shahabat, akan bersepakat untuk dusta bersama-sama menutupi adanya kenyataan bahwa Al Qur’an mengalami distorsi.”

[3]. Metode pewarisan Al Qur’an dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan cara sebagai berikut: Diajarkan secara talaqqi (pengajaran langsung) dari guru ke murid; ayat-ayat dihafal secara sempurna dan muraja’ah terus-menerus; penulisan Mushaf yang disaksikan oleh para Shahabat dan diteliti ulang oleh mereka; adanya periwayatan silsilah secara bersambung dalam bidang bacaan dan hafalan. Dengan metode demikian, sangat mustahil akan ada distorsi, karena sistemnya telah diproteksi secara ketat. Sampai saat ini, baik bacaan maupun hafalan Al Qur’an, ada silsilah sanad-nya sampai ke Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

[4]. Kalau benar perkataan bahwa Surat Al Ahzab telah berubah (semula 200 ayat, lalu jadi 73 ayat), tentulah hal itu akan diketahui secara MUTAWATIR oleh para Shahabat. Tidak mungkin hanya Aisyah Radhiyallahu ‘Anha saja yang mengetahui. Sangat tidak mungkin hanya Aisyah yang tahu, sementara yang lain lalai. Kesimpulan seperti itu sama saja dengan mengatakan, bahwa: para Shahabat Nabi sepakat untuk berbohong secara berjamaah. Hal ini adalah tuduhan berbisa. Tuduhan semisal ini kalau muncul dari kalangan Syiah, tidak dianggap aneh. Sebab, salah satu “amal shalih” ajaran kekufuran mereka, adalah mencaci-maki para Shahabat dan menistakan kehormatan mereka. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[5]. Harus dipahami, bahwa Mushaf Utsmani bukanlah Mushaf yang pertama kali ditulis oleh para Shahabat. Mushaf yang pertama adalah Mushaf Induk yang ditulis oleh panitia yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu. Mushaf itu disusun atas usul Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu kepada Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu, ketika dalam satu pertempuran ada sekitar 70 hafizh Al Qur’an wafat dalam peperangan. Kalau Mushaf tidak segera ditulis, khawatir nanti Ummat Islam akan kesulitan menjaga orisinalitas Al Qur’an. Dari motivasi penyusunan Mushaf ini saja sudah tampak, bahwa tujuannya adalah menjaga ORISINALITAS Al Qur’an. Dan para Shahabat di zaman Khalifah Abu Bakar sudah Ijma’ menerima keaslian Mushaf itu. Tidak ada penolakan sedikit pun di kalangan mereka. Sedangkan Mushaf Ustmani, yang ditulis di masa Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘Anhu, hal itu sifatnya hanya PENGGANDAAN saja, bukan penulisan Mushaf sejak awal. Mushaf Induk dari zaman Khalifah Abu Bakar disalin empat, sehingga semuanya ada 5 Mushaf. Tujuan penggandaan ini adalah untuk menyatukan bacaan Al Qur’an kaum Muslimin, agar tidak terjadi pertikaian antar mereka karena soal perbedaan bacaan. Lihatlah, disana lagi-lagi ada upaya pemeliharaan orisinalitas Al Qur’an, dengan upaya mengeliminasi aneka perbedaan bacaan. Jadi, Mushaf Ustmani itu sifatnya hanya MENYALIN saja, bukan menuliskan Al Qur’an sejak awal.

[6]. Sebenarnya, upaya penjagaan orisinalitas Al Qur’an sudah dilakukan sejak zaman Nabi masih hidup. Dalam hadits shahih dijelaskan, bahwa setiap bulan Ramadhan tiba, Jibril ‘Alaihissalam selalu memeriksa bacaan Al Qur’an Nabi. Saat beliau menjelang wafat, pemeriksaan bacaan di bulan Ramadhan itu dilakukan 2 kali. Hal ini sudah menunjukkan, bahwa Malaikat Jibril pun sejak awal sudah ikut menjaga Al Qur’an dengan memeriksa bacaan Nabi sesuai bacaan asli yang beliau (Jibril) ajarkan kepada Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

[7]. Para Ahli Tafsir dari kalangan Ahlus Sunnah, mereka adalah orang-orang yang mumpuni seputar Al Qur’an, seperti At Thabari, Al Qurthubi, Al Baghawi, Ibnu Katsir, Al Alusy, Al Jalalain, Rasyid Ridha, Ahmad Syakir, Al Maraghi, As Sa’diy, Wahbah Az Zuhaily, dll. dari para ahli tafsir; mereka sepakat bahwa tidak ada Tahrif (distorsi) dalam Al Qur’an. Kalau ada pemikir Syiah, cendekiawan Syiah, atau ulama Syiah mengatakan adanya Tahrif, ya dimaklumi saja. Wong, mereka bukan Ahlus Sunnah. Kalangan Ahlus Sunnah tidak menjadikan ulama-ulama Syiah sebagai panutan. (Bahkan Quraish Shihab yang notabene banyak terpengaruh pemikiran Syiah itu, dalam Tafsir Al Mishbah hasil karyanya, dia tidak mengklaim ada distorsi dalam Al Qur’an).

Demikian, dapat dipahami bahwa bahwa dalam Al Qur’an tidak ada distorsi. Riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha yang mengatakan bahwa Surat Al Ahzab semula adalah 200 ayat; riwayat seperti ini tidak bisa diterima, karena bertentangan dengan pendapat Jumhur para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Pendapat Shahabat dalam masalah ini adalah IDENTIK dengan sikap penerimaan mereka terhadap Mushaf Induk (atau Mushaf Madinah) yang disusun oleh panitia yang dipimpin Zaid bin Tsabit Radhiyallahu Anhu di masa Khalifah Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu.

Semoga kajian sederhana ini bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Cimahi, 4 Februari 2012.

[Abahnya Aisyah, Fathimah, Khadijah].