Anas Pasti Terjungkal!

Saat ini posisi politik Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, semakin terpojok. Terutama setelah Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Beberapa hari lalu, Angie (demikiaan sapaan Angelina Sondakh) berziarah ke makam suaminya, Ajie Masaid. Entahlah, apa tujuan Angie datang kesana?

Kata orang, “Tumben Angie ingat makam suaminya?” Maklum polisi sih, jadi urusan ke makam pun dilakukan sesuai “kepentingan politik”.  (Kasihan Ajie Masaid, meskipun sudah wafat, masih “diharapkan” kontribusi politiknya. He he he). Mungkin, ini semacam acara “meminta empati publik” seperti yang dilakukan Afriyani Susanti beberapa waktu lalu, saat dia hujan tangis, memohon maaf karena sudah “menghabisi” 9 nyawa manusia. Afriyani tidak pernah hujan air-mata saat berdugem-dugem ria. Mandi keringat, iya kale…

Oh ya, kembali ke Bung Anas. Nama lengkapnya, Anas Urbaningrum; sebuah paduan nama antara maskulinitas dan feminitas. Dalam khazanah bahasa Jawa kata “ningrum” itu merupakan ciri identitas perempuan. Pantesan, kalau melihat gaya publik Bung Anas; sekali waktu tampak gagah, di waktu lain terkesan “cantik”. Ah sudahlah, lupakan saja. Mari kita fokus ke konten lagi.

Dalam situasi seperti ini, banyak orang berandai-andai soal nasib Bung Anas Urbaningrum. Ada yang berteori: “Anas tetap kokoh. Dia didukung oleh Pak SBY, plus tentunya dukungan Ibu Ani Yudhoyono. Posisi Anas tetap kuat. Dia akan aman melenggang sebagai Ketua Umum PD sampai tahun 2015 nanti.” Tetapi ada juga yang berteori: “Wah, posisi Anas sangat riskan. Dia tak akan bertahan lama.” Kenapa bisa begitu, Bung? “Ya, karena citra Partai Demokrat semakin ringsek. Kalau Anas tidak segera dilengserkan, Partai Demokrat bakal tamat.” Atau mungkin ada yang berteori: “Anas, bisa kuat, bisa lemah. Tergantung situasi dan kondisinya.”

Kalau saya percaya, bahwa Anas akan terguling. Dia akan terjungkal, insya Allah. Ini keyakinan saya pribadi. Bisa benar, bisa tidak.

Mengapa saya menduga seperti itu?

Hal ini bukan soal analisis kasus Wisma Atlet, kasus Munas Demokrat di Padalarang, atau kasus Hambalang. Bukan juga masalah hitung-hitungan politik seperti yang kerap ditunjukkan oleh Burhanuddin Muhtadi atau Eep Saefullah Fatah. Bukan juga karena hitung-hitungan logika hukum versi KPK, atau versi Jakarta Lawyers Club (Karni Ilyas). Bukan pula karena hitung-hitungan survei yang macam-macam. Bukan semua itu.

Lalu berdasarkan apa?

Jawabnya, berdasarkan Hukum Keadilan.

Maksudnya bagaimana?

Mari kita buka lembaran-lembaran sejarah lagi. Dalam Pemilu 2004, kita harus ingat Bung Anas Urbaningrum masuk dalam jajaran anggota KPU. Ketika itu KPU dilanda kemelut hebat. Beberapa pejabat KPU didakwa melakukan perbuatan korupsi (melawan hukum). Akibatnya, sebagian dari mereka mendapat sanksi hukuman, seperti Prof. Dr. Nazaruddin Syamsuddin, Prof. Dr. Mulyana W. Kusumah, dan lainnya. Pejabat-pejabat itu harus dihukum, dan kini sudah bebas dari hukuman.

Sebenarnya, Anas ketika itu tersangkut masalah-masalah di KPU. Namun dia cepat-cepat berlindung di balik punggung Pak SBY dan Partai Demokrat. Di tangan PD, posisi Anas aman, nyaman, terkendali, dan berkemajuan (apaan tuh maksudnya?). Pendek kata, ketika kawan-kawan Anas sudah dijebloskan ke penjara, Anas sendiri selamat, sehat, sentausa, bernaung di bawah perlindungan politik Partai Demokrat.

Tentu saja, sikap Anas ini amat sangat menyakitkan bagi kawan-kawannya di KPU. Anas dianggap mau selamat sendiri, mencari aman, dan tidak solider dengan nasib kawan. Entahlah, apa selama menjadi anggota HMI, Anas diajari sikap-sikap nyeleneh seperti itu? Rasanya aneh ya. Tapi itulah kenyataan.

Ketika geger KPU versi 2004 itu mencuat, salah satu delik yang dituduhkan ke Anas ialah: menerima gratifikasi (suap). Anas benar-benar menerima uang itu, meskipun bukan dia sendiri yang memakainya. Ketika ditanya, bagaimana status uang tersebut? Anas mengaku, kurang lebih: “Uang itu tidak haram, tapi juga tidak halal. Jadi statusnya syubhat.” Sambil cengengesan.

Kalau tahu uang syubhat, seharusnya dijauhi ya. Tapi ini malah dibagi-bagikan ke para kawan dan kolega. Itulah Anas Urbaningrum, salah satu alumni terbaik HMI, dengan sikap keagamaannya yang ambigu (aneh).

Setelah masuk Demokrat, Anas bukan saja terlindungi, tetapi semakin mencorong pamornya. Karier politik Anas melesat jauh tinggi. Kalau di dunia entertainment, mungkin semujur nasib Sule itulah.

Nah, dalam konteks sejarah Anas di masa lalu; sikapnya yang mencari selamat, tidak solider kepada kawan, dan juga kenyataan bahwa kawan-kawannya sudah dijebloskan ke penjara; tampaknya Anas akan mengikuti langkah itu.

Secara logika politik manusia bisa ngomong apa saja, selicin komentar-komentar Burhanuddin Muhtadi, sang pakar “politico mathematic” (mengkaji politik dengan pola pikir Matematik, he he he). Tetapi dalam rentangan sejarah dan hukum keadilan; Anas tidak akan bisa lari. Para Malaikat sudah menandai punggung dan dahinya. Hanya tinggal menanti momen yang tepat.

Bung Anas pasti terjungkal… Sebagai sunnah berlakunya hukum keadilan dalam kehidupan. Bukan hanya Bung Anas, tetapi juga “Bos Besar” dan “Ketua Besar” (dalam konteks ini, baca sebagai: Es-Be-Ye). Hanya soal waktu saja!

Wa lan tajida li sunnatillahi tabdila… Dan sekali-kali kamu tidak akan pernah melihat Sunnah Allah itu berubah.

Selamat menanti, Bung Anas! Ingat, kawan-kawan Anda di KPU 2004 sudah ada yang dijebloskan ke penjara. Dalam doa-doanya, mereka mungkin merintih agar Anda juga mendapatkan sanksi yang setimpal. Iya gak…

Mine.

Iklan

11 Responses to Anas Pasti Terjungkal!

  1. DODO berkata:

    Anas kalau berbicara di media sangat santun ……………
    Presiden juga berbicara sangat santun …………..
    Banyak pejabat kita ngomong juga santun………………………..

    Eh …….Ryan dari jombang kalau berbicara jugan sangatt santun ….

    Fenomena apakah ini ??????????

  2. abisyakir berkata:

    @ Dodo…

    Ya, kalau kelihatan santun, tapi ternyata doyan duit haram… Itu sih bukan santun, tetapi seperti ungkapan “srigala berbulu domba”. Penampilan domba, jati diri srigala.

    Kata Nazaruddin, Anas itu sering dipijit dan SPA di hotel Ritz Carlton. Nazaruddin bilang begitu, sebab memang sering “main” dengan Anas kesana.

    Anda tahu tidak? Menurut info yang saya dengar. Kalau main SPA itu bukan cuma soal dipijat seluruh badan doang, dengan tidak memakai pakaian apa-apa. Tidak cuma itu lho. Tapi ada dua versi lanjutan. Pertama, orang yang di-SPA sekaligus (maaf sekali ya) di-masturbasi oleh yang melakukan SPA (biasanya cewek2). Kedua, si ceweknya diajak “main lain” di luar urusan SPA. Jadi ini masih seputar urusan sex service begituan.

    Kalau SPA yang murni, tanpa seks begituan, biasanya untuk cewek. Untuk kepentingan kecantikan, kebugaran, atau kesehatan kulit. Tapi kalau laki-laki yang masuk SPA, urusannya kebanyakan “tidak bener”.

    AMW.

  3. Anonim berkata:

    Mas Waskito, Anas dkk itu anggota KPU pd Pemilu 2004, bukan 1999. Smtr Andi Nurpati Cs itu 2009.

  4. DODO berkata:

    mau tahu jawaban Anas kalau dipanggil KPK ??

    lihat dibawah ini :http://www.youtube.com/watch?v=7cSudpyEU9w

  5. abisyakir berkata:

    @ Dodo…

    Syukran jazakallah Pak Dodo, sudah berbagi informasi. Moga bermanfaat.

    AMW.

  6. masanto berkata:

    artikel yang menarik. juga artikel2 yg lain utamax ttg pks n im … jadi tahu juga, meskipun harus waspada, tidak menelan mentah2.. hy jdi bingung saja, mana yg benar ya? tentu Alloh yg plg benar. stlah Alloh, barulah diri kita sendiri?

  7. kolo taore berkata:

    Saia suka dan Pd bbrp hal setuju dengan analisis anda..tp satu hal, anda menulis “… Entahlah, apa selama menjadi anggota HMI, Anas diajari sikap-sikap nyeleneh seperti itu? Rasanya aneh ya. Tapi itulah kenyataan..Itulah Anas Urbaningrum, salah satu alumni terbaik HMI, dengan sikap keagamaannya yang ambigu (aneh)..saia agak kurang sreg dengan tulisan tersebut..seperti tendensius..

  8. abisyakir berkata:

    @ Kolo Taore…

    Suka maen bola ya…

    Iya, bagaimanapun saya masih menganggap baik HMI, sebagai bagian dari gerakan Islam di Indonesia. Ya, pandangan secara umum saja, sebagai sesama Muslim. Maksud dari pernyataan itu bukan menyudutkan HMI. Tapi merasa tak percaya kalau di HMI diajarkan moral tercela. Iya kan? Di HMI gak diajarkan hal itu kan? Jadi, saya masih percaya bahwa di HMI tidak diajarkan moral2 buruk.

    Nah, itu maksudnya. Jadi bukan soal tendensius yang Anda katakan. Terimakasih atas komentarnya.

    AMW.

  9. muhammad radhi berkata:

    anas tidak akan terjungkal, tetapi akan tergantung di monas sebagaimana yang ia katakan

  10. seralove2 berkata:

    sependapat memang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: