Anas Pasti Terjungkal!

Februari 8, 2012

Saat ini posisi politik Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, semakin terpojok. Terutama setelah Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Beberapa hari lalu, Angie (demikiaan sapaan Angelina Sondakh) berziarah ke makam suaminya, Ajie Masaid. Entahlah, apa tujuan Angie datang kesana?

Kata orang, “Tumben Angie ingat makam suaminya?” Maklum polisi sih, jadi urusan ke makam pun dilakukan sesuai “kepentingan politik”.  (Kasihan Ajie Masaid, meskipun sudah wafat, masih “diharapkan” kontribusi politiknya. He he he). Mungkin, ini semacam acara “meminta empati publik” seperti yang dilakukan Afriyani Susanti beberapa waktu lalu, saat dia hujan tangis, memohon maaf karena sudah “menghabisi” 9 nyawa manusia. Afriyani tidak pernah hujan air-mata saat berdugem-dugem ria. Mandi keringat, iya kale…

Oh ya, kembali ke Bung Anas. Nama lengkapnya, Anas Urbaningrum; sebuah paduan nama antara maskulinitas dan feminitas. Dalam khazanah bahasa Jawa kata “ningrum” itu merupakan ciri identitas perempuan. Pantesan, kalau melihat gaya publik Bung Anas; sekali waktu tampak gagah, di waktu lain terkesan “cantik”. Ah sudahlah, lupakan saja. Mari kita fokus ke konten lagi.

Dalam situasi seperti ini, banyak orang berandai-andai soal nasib Bung Anas Urbaningrum. Ada yang berteori: “Anas tetap kokoh. Dia didukung oleh Pak SBY, plus tentunya dukungan Ibu Ani Yudhoyono. Posisi Anas tetap kuat. Dia akan aman melenggang sebagai Ketua Umum PD sampai tahun 2015 nanti.” Tetapi ada juga yang berteori: “Wah, posisi Anas sangat riskan. Dia tak akan bertahan lama.” Kenapa bisa begitu, Bung? “Ya, karena citra Partai Demokrat semakin ringsek. Kalau Anas tidak segera dilengserkan, Partai Demokrat bakal tamat.” Atau mungkin ada yang berteori: “Anas, bisa kuat, bisa lemah. Tergantung situasi dan kondisinya.”

Kalau saya percaya, bahwa Anas akan terguling. Dia akan terjungkal, insya Allah. Ini keyakinan saya pribadi. Bisa benar, bisa tidak.

Mengapa saya menduga seperti itu?

Hal ini bukan soal analisis kasus Wisma Atlet, kasus Munas Demokrat di Padalarang, atau kasus Hambalang. Bukan juga masalah hitung-hitungan politik seperti yang kerap ditunjukkan oleh Burhanuddin Muhtadi atau Eep Saefullah Fatah. Bukan juga karena hitung-hitungan logika hukum versi KPK, atau versi Jakarta Lawyers Club (Karni Ilyas). Bukan pula karena hitung-hitungan survei yang macam-macam. Bukan semua itu.

Lalu berdasarkan apa?

Jawabnya, berdasarkan Hukum Keadilan.

Maksudnya bagaimana?

Mari kita buka lembaran-lembaran sejarah lagi. Dalam Pemilu 2004, kita harus ingat Bung Anas Urbaningrum masuk dalam jajaran anggota KPU. Ketika itu KPU dilanda kemelut hebat. Beberapa pejabat KPU didakwa melakukan perbuatan korupsi (melawan hukum). Akibatnya, sebagian dari mereka mendapat sanksi hukuman, seperti Prof. Dr. Nazaruddin Syamsuddin, Prof. Dr. Mulyana W. Kusumah, dan lainnya. Pejabat-pejabat itu harus dihukum, dan kini sudah bebas dari hukuman.

Sebenarnya, Anas ketika itu tersangkut masalah-masalah di KPU. Namun dia cepat-cepat berlindung di balik punggung Pak SBY dan Partai Demokrat. Di tangan PD, posisi Anas aman, nyaman, terkendali, dan berkemajuan (apaan tuh maksudnya?). Pendek kata, ketika kawan-kawan Anas sudah dijebloskan ke penjara, Anas sendiri selamat, sehat, sentausa, bernaung di bawah perlindungan politik Partai Demokrat.

Tentu saja, sikap Anas ini amat sangat menyakitkan bagi kawan-kawannya di KPU. Anas dianggap mau selamat sendiri, mencari aman, dan tidak solider dengan nasib kawan. Entahlah, apa selama menjadi anggota HMI, Anas diajari sikap-sikap nyeleneh seperti itu? Rasanya aneh ya. Tapi itulah kenyataan.

Ketika geger KPU versi 2004 itu mencuat, salah satu delik yang dituduhkan ke Anas ialah: menerima gratifikasi (suap). Anas benar-benar menerima uang itu, meskipun bukan dia sendiri yang memakainya. Ketika ditanya, bagaimana status uang tersebut? Anas mengaku, kurang lebih: “Uang itu tidak haram, tapi juga tidak halal. Jadi statusnya syubhat.” Sambil cengengesan.

Kalau tahu uang syubhat, seharusnya dijauhi ya. Tapi ini malah dibagi-bagikan ke para kawan dan kolega. Itulah Anas Urbaningrum, salah satu alumni terbaik HMI, dengan sikap keagamaannya yang ambigu (aneh).

Setelah masuk Demokrat, Anas bukan saja terlindungi, tetapi semakin mencorong pamornya. Karier politik Anas melesat jauh tinggi. Kalau di dunia entertainment, mungkin semujur nasib Sule itulah.

Nah, dalam konteks sejarah Anas di masa lalu; sikapnya yang mencari selamat, tidak solider kepada kawan, dan juga kenyataan bahwa kawan-kawannya sudah dijebloskan ke penjara; tampaknya Anas akan mengikuti langkah itu.

Secara logika politik manusia bisa ngomong apa saja, selicin komentar-komentar Burhanuddin Muhtadi, sang pakar “politico mathematic” (mengkaji politik dengan pola pikir Matematik, he he he). Tetapi dalam rentangan sejarah dan hukum keadilan; Anas tidak akan bisa lari. Para Malaikat sudah menandai punggung dan dahinya. Hanya tinggal menanti momen yang tepat.

Bung Anas pasti terjungkal… Sebagai sunnah berlakunya hukum keadilan dalam kehidupan. Bukan hanya Bung Anas, tetapi juga “Bos Besar” dan “Ketua Besar” (dalam konteks ini, baca sebagai: Es-Be-Ye). Hanya soal waktu saja!

Wa lan tajida li sunnatillahi tabdila… Dan sekali-kali kamu tidak akan pernah melihat Sunnah Allah itu berubah.

Selamat menanti, Bung Anas! Ingat, kawan-kawan Anda di KPU 2004 sudah ada yang dijebloskan ke penjara. Dalam doa-doanya, mereka mungkin merintih agar Anda juga mendapatkan sanksi yang setimpal. Iya gak…

Mine.

Iklan

Syiah, KH. Ali Yafie, dan Iran

Februari 5, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada saja cara manusia untuk menerima, memberi toleransi, atau mengakui keberadaan paham Syiah. Caranya bermacam-macam, termasuk dengan membuat dalih-dalih yang kurang tepat. Salah satu bentuk blunder besar, ialah yang dilakukan oleh Prof. Dr. KH. Ali Yafie, seorang ulama pakar fiqih dan sekaligus mantan anggota MUI Pusat. Mengapa disebut blunder? Sebab usia KH. Ali Yafie sudah sepuh. Secara pandangan manusiawi, beliau sudah berada di area “ambang kehidupan”. Mestinya, dalam usia demikian, KH. Ali Yafie mewariskan hal-hal yang kuat, kokoh, barakah, dan maslahat bagi Ummat. Namun, beliau justru ingin mengklaim keislaman penganut sekte Syiah (khususnya Imamiyah Itsna Asyari).

"Wariskan Kebaikan untuk Generasi Nanti" (Jangan Meninggalkan Fitnah).

Situs voa-islam.com menerbitkan artikel menarik, berjudul: “Anggapan Syiah Bagian dari Islam Sangat Tidak Beralasan.”  Dalam artikel ini KH. Ali Yafie menegaskan bahwa Syiah bagian dari Islam. Alasannya, karena negara Iran yang menganut paham Syiah Imamiyyah, diterima sebagai bagian dari OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang anggotanya sekitar 60 negara Islam. Berikut pernyataan KH. Ali Yafie:

Dengan tergabungnya Iran sebagai negara Islam dalam wadah OKI tersebut, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam. Itu sudah cukup. Kalau anda tanya apakah Syiah sesat, lebih baik tanyakan pada MUI saja. Jangan tanya saya. Yang jelas, kenyataannya seluruh dunia Islam, yang tergabung dalam 60 negara menerima Iran sebagai negara Islam.

Sebenarnya, untuk memahami kesesatan Syiah, sangatlah mudah. Termasuk untuk memahami bahwa Syiah ekstrem yang menjadi madzhab utama di Iran saat ini, bukan bagian dari Islam, juga mudah. Alasannya, kaum Syiah itu telah mengutuk, mencaci-maki, melaknati, mendoakan keburukan, memberikan gelar-gelar sangat kotor, serta merendahkan para Shahabat Nabi yang mulia Ridhwanallah ‘Alaihim Ajma’in. Mereka menggelari isteri-isteri Nabi serta para Shahabat terkemuka, seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman Radhiyallahu ‘Anhum, dengan gelar-gelar sangat kotor (na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli dzalik). Dengan satu alasan ini saja, telah cukup kalam untuk mengeluarkan sekte Syiah Imamiyyah dari Islam.

Dalilnya adalah Surat At Taubah, sebagai berikut: “Dan orang-orang yang mula pertama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan; Allah ridha atas mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dia (Allah) telah menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100).

Singkat kata, orang Syiah Rafidhah telah melaknati para Shahabat yang mulia, Radhiyallahu ‘Anhum; maka itu sama artinya mereka telah MELAKNATI kaum yang DIRIDHAI oleh Allah Ta’ala. Ini adalah kekufuran yang nyata dan sangat nyata. Maka, mengeluarkan kaum Syiah dari jalan Islam, atas alasan seperti itu, adalah benar semata.

Lalu bagaimana kalau ada 60 negara di dunia telah menerima keislaman kaum Syiah (meskipun mereka telah mengekalkan laknat dan permusuhan kepada para Shahabat yang mulia)? Bagaimana kalau Prof. Dr. KH. Ali Yafie, seorang guru besar fikih, mantan Ketua MUI, mantan anggota PBNU, dan lain-lain; beliau mengklaim bahwa Syiah adalah bagian Islam? Maka jawabnya sangat sederhana: “Jangankan kebijakan politik 60 negara di dunia, jangankan pendapat KH. Ali Yafie; andaikan seluruh manusia sejak awal sampai akhir menerima Syiah sebagai Islam, sedangkan mereka dalam ideologinya melawan RIDHA Allah, maka semua pendapat itu dianggap tidak ada, atau tidak penting. Sebab, kalau kita mengakui Syiah sebagai bagian dari Islam, sedangkan mereka telah melazimkan melaknat dan mengutuki para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum, maka kita akan menjadi kafir.”

Lalu bagaimana dengan keputusan politik 60 negara Muslim dalam organisasi OKI yang mengakui posisi Iran? Bukankah ini sudah cukup sebagai dalil bahwa Syiah adalah bagian dari Islam?

Mari kita nikmati pemikiran ini, lalu memberikan jawaban yang baik dan secukupnya; sekaligus sebagai upaya memberi nasehat kepada orangtua kita, KH. Ali Yafie, yang telah menyampaikan pendapat tidak tepat. Kepada Allah Ta’ala semata kita memohon ilmu, petunjuk, dan taufiq. Allahumma amin.

[1]. Dalam studi Syariat Islam, dalil yang dipakai untuk menghukumi masalah-masalah Syariat (termasuk di dalamnya perkara akidah) adalah Kitabullah dan Sunnah Shahihah, serta istinbat hukum yang adil. Hal ini ditegaskan secara jelas dalam Surat An Nisa’ ayat 59. Kalau terjadi perselisihan dalam apapun persoalan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi, berdalil dengan “kebijakan politik 60 negara Islam” bukan termasuk koridor Syariat.

[2]. Kita harus paham, bahwa keputusan politik 60 negara Muslim dalam OKI, bukanlah keputusan berdasarkan Syariat Islam. Ia adalah keputusan atau kebijakan yang dibangun di atas hukum internasional, konvensi dunia, kesepakatan bilateral atau multilateral antara negara-negara anggota, serta berdasarkan hukum masing-masing negara yang umumnya SEKULER. Jadi negara-negara anggota OKI ini bisa disebut sebagai “negara yang mayoritas penduduknya Muslim”, bukan negara Islam. Sebab, kalau benar-benar 60 negara itu berdasarkan Islam, mereka pasti akan bersatu-padu membentuk Khilafah Islamiyyah, bukan ngeyel dengan konsep negara nasionalis masing-masing. Singkat kata, keputusan atau kebijakan negara-negara OKI, tidak otomatis mewakili keputusan/kebijakan Islami.

[3]. Kesatuan negara-negara dalam suatu organisasi internasional adalah langkah atau kebijakan politik berdasarkan prinsip kerjasama dan kepentingan. Maksudnya, mereka bergabung karena melihat keuntungan di balik langkah kerjasama dengan negara lain. Di sisi lain, mereka bergabung juga dalam rangka mencari keuntungan tertentu. Jadi, titik-tolaknya bukan persoalan KESAMAAN AKIDAH & MANHAJ. Tetapi lebih ke aspek kerjasama dan kepentingan saja. Buktinya apa? Mudah sekali. Lihat saja konsep organisasi seperti PBB atau ASEAN. Dalam organisasi seperti ini semua jenis negara, tidak peduli apapun akidahnya, bisa bergabung dan bekerjasama. Baik negara Nashrani, Yahudi, Sekuler, Kapitalis, Paganis, Komunis, dll. bisa bergabung disana. Dalam organisasi OKI sendiri tidak ada ketentuan seperti: “Semua negara dalam OKI harus bermadzhab Ahlus Sunnah atau Sunni.” Adakah ketentuan seperti itu dalam piagam organisasi OKI?

[4]. Kesamaran posisi politik Iran, karena sejak awal mereka mengklaim istilah-istilah Islam. Nama resmi negara itu Jumhuriyyah Al Islamiyyah Al Iraniyyah (Republik Islam Iran). Mereka tidak menyebut diri sebagai Jumhuriyyah Asy Syiah Al Imamiyyah Al Itsna Asyariyyah. Revolusi mereka juga diklaim sebagai Ats Tsaurah Al Islamiyyah (Revolusi Islam). Ketika Salman Rushdie menghujat Al Qur’an, Khomeini menampakkan diri membela Al Qur’an. Hal-hal demikian menimbulkan syubhat yang mestinya bisa dijernihkan oleh ulama seperti KH. Ali Yafie itu, bukannya malah diabu-abukan kembali.

[5]. Kalau kita melihat sejarah Khilafah Islamiyyah, sejak era Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbassiyyah, Dinasti Ayyubiyyah, Dinasti Saljuk, Dinasti Turki Utsmani (berakhir tahun 1924 M). Disana kaum Muslimin tidak pernah mengakui negara yang berbasis ajaran Syiah (Rafidhah). Bahkan bukan rahasia lagi, bahwa salah satu musuh bebuyutan Khilafah Turki Utsmani, adalah sekte Syiah di Iran, Irak, dan sekitarnya.

Demikianlah, kita tidka boleh gegabah mengklaim Syiah (Rafidhah) sebagai bagian dari Islam. Alasan penerimaan 60 negara anggota OKI terhadap Iran, bukanlah refleksi dari kebijakan atau keputusan politik Islami, sebab organisasi OKI itu memang tidak berdasarkan Syariat Islam. Mereka semacam organisasi “kumpulan arisan” negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Sangat disayangkan, jika seorang alim dikenal sebagai guru besar fikih Islam, tetapi tidak cermat dalam membedakan antara “Syariat OKI” dengan Syariat Islam. Hal ini sangat disayangkan, dan sepatutnya tidak terjadi hal seperti itu. Namanya Syariat Islam pastilah berdasarkan tinjauan Kitabullah dan As Sunnah, bukan selainnya.

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Mohon dimaafkan atas segala salah dan kekurangan. Semoga Allah Ta’ala selalu merahmati kita (kaum Muslimin) semuanya. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Cimahi, 5 Februari 2012.

AMW.


Haidar Bagir dan Tuduhan Tahrif Al Qur’an

Februari 4, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam tulisan opini di Republika, edisi 27 Januari 2012, Dr. Haidar Bagir menulis artikel berjudul, “Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat“. Artikel ini merupakan jawaban atas tanggapan yang diberikan oleh Fahmi Salim, MA dan Prof. Dr. Muhammad Baharun yang mengkritik tulisan Haidar Bagir di media yang sama, pada edisi-edisi sebelumnya.

Singkat kata, dalam tulisan tersebut, juga tulisan Haidar Bagir sebelumnya, si penulis menampilkan STRATEGI KOMUNIKASI yang unik sekali. Sebenarnya, bagi para pembaca risalah-risalah kaum Syiah, hal ini bukan sesuatu yang baru. Tetapi dalam tulisan Haidar Bagir nuansanya seperti seseorang yang -oleh pakar psikologi- kerap disebut split personality. Satu sisi Haidar Bagir menjelaskan, bahwa dalam kalangan Syiah banyak sisi-sisi kesamaan dengan akidah Ahlus Sunnah pada umumnya. Tetapi pada saat yang sama, Haidar Bagir juga melontarkan kritik khas Syiah terhadap akidah Ahlus Sunnah. Dalam hal ini yang sangat kita garis-bawahi adalah tuduhan seputar adanya TAHRIF Al Qur’an (perubahan teks  dari aslinya).

Untuk lebih jauh memahami jalannya polemik Fahmi Salim & Prof. Muhammad Baharun versus Haidar Bagir, silakan lihat silsilah polemiknya di tulisan berikut ini: Perang Opini Sunni-Syiah di Republika. Dalam silsilah itu bisa dilihat jawaban-jawaban yang dikemukakan Fahmi Salim maupun Prof. Muhammad Baharun. (Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan Ummat! Amin).

Disini kita ingin menyinggung satu materi dari tulisan Haidar Bagir. Dalam artikel di atas, Haidar Bagir memberikan tambahan bukti tentang adanya perubahan-perubahan dalam Al Qur’an. Dia mengatakan:

Selain hadis tentang ayat Alquran dalam simpanan Siti Aisyah yang hilang itu, terdapat pula riwayat dalam Musnad Ahmad dan dinukil dalam Al-Itqan karya Imam Suyuthi bahwa Siti Aisyah mengatakan, “Pada masa Nabi, surah al-Ahzab dibaca sebanyak 200 ayat, tetapi ketika Usman menulis mushaf, ia tidak bisa mendapatkannya kecuali yang ada sekarang.“ Seperti kita ketahui bahwa surah al-Ahzab yang ada di mushaf sekarang ini adalah 73 ayat. Berarti menurut riwayat itu ada 127 ayat yang hilang dari surah ini. Sejalan dengan itu, Tafsir al Qurthubi menukilkan hadis dari Ubay bin Ka’b yang menyebut jumlah ayat dalam surah yang sama adalah 286. Rawi yang sama sebagaimana dinukil Al-Itqan menyebut bahwa jumlah surah Alquran adalah 116, bukan 114 yang kita miliki sekarang karena adanya dua surah yang hilang dan disebut-sebut bernama Al Hafd dan al-Khal’.

Dalam pernyataan ini disebutkan, bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dalam hadits Imam Ahmad mengatakan, bahwa mulanya Surat Al Ahzab itu dibaca 200 ayat. Namun kemudian hanya tersisa hanya 73 ayat saja (atau hilang sekitar 127 ayat). Dalam Tafsir Al Qurthubi (bukan menurut Al Qurthubi lho ya) Surat Al Ahzab semula berjumlah 286 ayat (sehingga kalau kini tinggal 73 ayat, berarti sudah hilang sebanyak 213 ayat). Dengan dasar-dasar ini, dapat ditarik kesimpulan, bahwa Al Qur’an sudah mengalami Tahrif (distorsi, perubahan, pemalsuan, dan semisalnya).

Lalu bagaimana menjawab pendapat seperti di atas?

Mari kita memohon karunia ilmu dan petunjuk kepada Allah Al ‘Alim; lalu kita melindungi Kemurnian dan Kesucian Al Qur’an Al Karim, sekuat kemampuan; karena memang setiap insan diberi beban Syariat, sesuai kesanggupannya. Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq untuk menetapi jalan yang diridhai-Nya. Allahumma amin.

[1]. Adanya satu atau dua riwayat yang mengatakan ini dan itu, di luar pemahaman mainstream para ulama, tidak boleh langsung diterima begitu saja. Harus dilakukan tash-hih (penshahihan) dulu, apakah riwayat tersebut shahih atau tidak. Riwayat-riwayat yang mengatakan telah terjadi perubahan pada Al Qur’an, rata-rata tidak diterima. Karena alasannya: (a) Bertentangan dengan Surat Al Hijr ayat 9, bahwa Allah yang menurunkan Al Qur’an dan Dia pula yang menjaganya; (b) Bertentangan dengan riwayat-riwayat yang lebih kuat, bahwa Al Qur’an itu sempurna, tidak mengalami perubahan; (c) Bertentangan dengan Ijma’ kaum Muslimin sejak masa Rasulullah dan para Shahabat, sampai hari ini. Dengan alasan itu, maka dari sisi telaah Dirayah (substansi hadits), hadits-hadits yang menjelaskan adanya Tahrif itu tertolak. Dalam ilmu hadits, sebuah hadits yang bertentangan secara pasti dengan riwayat-riwayat yang lebih kuat, ia tertolak.

[2]. Dalam ilmu hadits disebutkan sifat Hadits Mutawatir. Ia adalah hadits yang paling kuat, karena diriwayatkan dari satu generasi ke generasi lain secara kolektif. Bukan sejenis hadits Ahad yang diriwayatkan oleh perawi personal. Orisinalitas Al Qur’an termasuk bagian dari warisan Islam yang diriwayatkan secara Mutawatir oleh para Shahabat, kemudian ke Tabi’in, ke Tabi’ut Tabi’in, dan seterusnya. Dalam hal ini berlaku sebuah kaidah penting: “Tidak mungkin manusia yang banyak, di zaman Shahabat, akan bersepakat untuk dusta bersama-sama menutupi adanya kenyataan bahwa Al Qur’an mengalami distorsi.”

[3]. Metode pewarisan Al Qur’an dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan cara sebagai berikut: Diajarkan secara talaqqi (pengajaran langsung) dari guru ke murid; ayat-ayat dihafal secara sempurna dan muraja’ah terus-menerus; penulisan Mushaf yang disaksikan oleh para Shahabat dan diteliti ulang oleh mereka; adanya periwayatan silsilah secara bersambung dalam bidang bacaan dan hafalan. Dengan metode demikian, sangat mustahil akan ada distorsi, karena sistemnya telah diproteksi secara ketat. Sampai saat ini, baik bacaan maupun hafalan Al Qur’an, ada silsilah sanad-nya sampai ke Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

[4]. Kalau benar perkataan bahwa Surat Al Ahzab telah berubah (semula 200 ayat, lalu jadi 73 ayat), tentulah hal itu akan diketahui secara MUTAWATIR oleh para Shahabat. Tidak mungkin hanya Aisyah Radhiyallahu ‘Anha saja yang mengetahui. Sangat tidak mungkin hanya Aisyah yang tahu, sementara yang lain lalai. Kesimpulan seperti itu sama saja dengan mengatakan, bahwa: para Shahabat Nabi sepakat untuk berbohong secara berjamaah. Hal ini adalah tuduhan berbisa. Tuduhan semisal ini kalau muncul dari kalangan Syiah, tidak dianggap aneh. Sebab, salah satu “amal shalih” ajaran kekufuran mereka, adalah mencaci-maki para Shahabat dan menistakan kehormatan mereka. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[5]. Harus dipahami, bahwa Mushaf Utsmani bukanlah Mushaf yang pertama kali ditulis oleh para Shahabat. Mushaf yang pertama adalah Mushaf Induk yang ditulis oleh panitia yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu. Mushaf itu disusun atas usul Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu kepada Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu, ketika dalam satu pertempuran ada sekitar 70 hafizh Al Qur’an wafat dalam peperangan. Kalau Mushaf tidak segera ditulis, khawatir nanti Ummat Islam akan kesulitan menjaga orisinalitas Al Qur’an. Dari motivasi penyusunan Mushaf ini saja sudah tampak, bahwa tujuannya adalah menjaga ORISINALITAS Al Qur’an. Dan para Shahabat di zaman Khalifah Abu Bakar sudah Ijma’ menerima keaslian Mushaf itu. Tidak ada penolakan sedikit pun di kalangan mereka. Sedangkan Mushaf Ustmani, yang ditulis di masa Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘Anhu, hal itu sifatnya hanya PENGGANDAAN saja, bukan penulisan Mushaf sejak awal. Mushaf Induk dari zaman Khalifah Abu Bakar disalin empat, sehingga semuanya ada 5 Mushaf. Tujuan penggandaan ini adalah untuk menyatukan bacaan Al Qur’an kaum Muslimin, agar tidak terjadi pertikaian antar mereka karena soal perbedaan bacaan. Lihatlah, disana lagi-lagi ada upaya pemeliharaan orisinalitas Al Qur’an, dengan upaya mengeliminasi aneka perbedaan bacaan. Jadi, Mushaf Ustmani itu sifatnya hanya MENYALIN saja, bukan menuliskan Al Qur’an sejak awal.

[6]. Sebenarnya, upaya penjagaan orisinalitas Al Qur’an sudah dilakukan sejak zaman Nabi masih hidup. Dalam hadits shahih dijelaskan, bahwa setiap bulan Ramadhan tiba, Jibril ‘Alaihissalam selalu memeriksa bacaan Al Qur’an Nabi. Saat beliau menjelang wafat, pemeriksaan bacaan di bulan Ramadhan itu dilakukan 2 kali. Hal ini sudah menunjukkan, bahwa Malaikat Jibril pun sejak awal sudah ikut menjaga Al Qur’an dengan memeriksa bacaan Nabi sesuai bacaan asli yang beliau (Jibril) ajarkan kepada Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

[7]. Para Ahli Tafsir dari kalangan Ahlus Sunnah, mereka adalah orang-orang yang mumpuni seputar Al Qur’an, seperti At Thabari, Al Qurthubi, Al Baghawi, Ibnu Katsir, Al Alusy, Al Jalalain, Rasyid Ridha, Ahmad Syakir, Al Maraghi, As Sa’diy, Wahbah Az Zuhaily, dll. dari para ahli tafsir; mereka sepakat bahwa tidak ada Tahrif (distorsi) dalam Al Qur’an. Kalau ada pemikir Syiah, cendekiawan Syiah, atau ulama Syiah mengatakan adanya Tahrif, ya dimaklumi saja. Wong, mereka bukan Ahlus Sunnah. Kalangan Ahlus Sunnah tidak menjadikan ulama-ulama Syiah sebagai panutan. (Bahkan Quraish Shihab yang notabene banyak terpengaruh pemikiran Syiah itu, dalam Tafsir Al Mishbah hasil karyanya, dia tidak mengklaim ada distorsi dalam Al Qur’an).

Demikian, dapat dipahami bahwa bahwa dalam Al Qur’an tidak ada distorsi. Riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha yang mengatakan bahwa Surat Al Ahzab semula adalah 200 ayat; riwayat seperti ini tidak bisa diterima, karena bertentangan dengan pendapat Jumhur para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Pendapat Shahabat dalam masalah ini adalah IDENTIK dengan sikap penerimaan mereka terhadap Mushaf Induk (atau Mushaf Madinah) yang disusun oleh panitia yang dipimpin Zaid bin Tsabit Radhiyallahu Anhu di masa Khalifah Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu.

Semoga kajian sederhana ini bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Cimahi, 4 Februari 2012.

[Abahnya Aisyah, Fathimah, Khadijah].


Sifat Allah dan Ujian Keimanan

Februari 1, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Umumnya manusia tidak suka jika dirinya diuji; dalam bentuk apapun. Contoh paling mudah ialah ujian yang dihadapi para pelajar. Mayoritas pelajar kurang suka menghadapi ujian, bahkan banyak yang merasa tegang (nervous). Begitu pula, ujian-ujian dalam kehidupan umum, cenderung kurang disukai; apakah ia berupa kemiskinan, kegagalan, patah hati, sakit yang menimpa, gagal panen, PHK, kecelakaan, dll.

Tetapi, sudah menjadi sunnatullah, bahwa Allah Ta’ala akan menguji manusia dengan ujian-ujian. Dalam Al Qur’an disebutkan: “Kullu nafsin dza-iqatul maut, wa nablukum bis syar-ri wal-khairi fitnah, wa ilaina turja’un” (setiap yang hidup akan merasakan mati, dan Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan). [Al Anbiyaa’: 35].

Kehidupan Tak Lepas dari Gelombang Ujian

Ujian ini bukan untuk mempersulit manusia, mempersempit dada dan kehidupannya, atau membuatnya frustasi; tetapi justru untuk memperkuat dirinya, memperbaiki sifat-sifatnya, meninggikan rasa syukurnya atas nikmat Allah, serta mengangkat derajatnya dalam kehidupan. Tidak berlebihan jika dalam riwayat disebutkan, manusia yang paling berat diuji adalah para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussalam, kemudian para ulama, para shalihin, dan seterusnya. Hal ini menandakan, bahwa semakin berat beban ujian semakin tinggi pula derajat manusia dalam pandangan Allah Ta’ala.

TELADAN NABI IBRAHIM

Lihatlah sosok Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Beliau diuji dengan perintah (melalui mimpi) untuk menyembelih putranya sendiri. Padahal beliau sangat mencintai putranya, bahkan beliau pernah merasakan tekanan jiwa yang sangat pelik ketika harus meninggal putranya dalam keadaan masih bayi bersama ibunya, di lembah lembah Bakkah (Makkah) yang disifati dengan perkataan “bi waadin ghairi dzi zar’in” (di sebuah lembah yang tidak ada tanam-tanaman padanya). [Lihat Surat Ibrahim: 37]. Namun ketika beliau berhasil melewati ujian paling pelik dalam sejarah manusia ini, beliau pun mendapat pujian sangat tinggi dari Allah Ta’ala.

Dalam Al Qur’an disebutkan: “Wa tarakna ‘alaihi fil akhirin, salamun ‘ala Ibrahim, ka dzalika naj-zil muhsinin, innahu min ‘ibadinal mu’miniin” [Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan manusia-manusia di kemudian hari, keselamatan bagi Ibrahim, demikianlah Kami memberi balasan orang-orang yang berbuat ihsan, dan sesungguhnya Ibrahim termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman]. Surat As Shaffat: 108-111. Nabi Ibrahim mendapat julukan Khalilullah (kekasih Allah) salah satunya ialah karena ketabahan-ketabahannya menghadapi ujian Allah.

Ujian meskipun tidak disukai manusia, tetapi ia memiliki maksud-maksud baik. Bahkan lewat ujian itu akan terbukti, apakah keimanan seseorang benar-benar mantap atau masih goyang? Keimanan Yusuf ‘Alaihissalam tidak goyang karena menghadapi aneka konspirasi, penjara, dan tipu-daya. Begitu juga, komitmen Sayyid Quthb rahimahullah terhadap hukum Allah tidak melemah karena penjara dan siksaan.

Atas hal-hal seperti inilah, Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: “Ahasiban naas ai-yutrakuu ai-yaqulu a-manna wa hum laa yuftanuun? Wa laqad fatan-nal ladzina min qablihim falaya’lamannallahu alladzina shadaqu wa laya’lamannal kadzibin” (apakah manusia itu akan Kami biarkan begitu saja mengatakan ‘kami telah beriman’, padahal mereka belum diuji? Dan benar-benar Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapa di antara mereka yang benar –dalam keimanannya- dan agar Dia mengetahui siapa dari mereka yang berdusta). [Al Ankabuut: 2-3].

Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh phobia menghadapi ujian-ujian Allah; namun juga tidak boleh menyombongkan diri, dengan merasa kuat dan sabar, lalu menantang agar Allah mendatangkan ujian kepada kita. Diceritakan, pernah Imam Al Ghazali rahimahullah merasa telah sabar dan mampu menghadapi ujian, lalu beliau meminta diuji oleh Allah. Lalu dia mendapat ujian dengan tidak mampu buang air kecil. Dengan ujian itu, beliau menyerah dan merasa sangat hina (di hadapan Allah Ta’ala). Konon, begitu besarnya rasa penyesalan beliau sehingga meminta anak-anak kecil untuk memukuli wajahnya. Wallahu a’lam bisshawaab.

Baca entri selengkapnya »