Partai Demokrat Sangat Ekstrim dalam Memahami Makna KOALISI

Maret 31, 2012

Kenapa Sih Harus Selalu Sama? Senang Banget Copy Paste...

Beberapa menit setelah memimpin Sidang Paripurna, dini hari tanggal 31 Maret 2012, Ketua DPR Marzuki Ali bersalam-salaman dengan anggota DPR peserta sidang paripurna. Salah satunya dengan anggota DPR dari PKS. Sempat terdengar kata-kata “informal” Marzuki Ali. Mungkin dia tak merasa kalau suaranya masih terdengar. Atau bisa jadi, dia lupa mematikan mikrofon di depannnya.

Dalam kata-kata yang tidak terlalu jelas, antara lain Marzuki Ali mempertanyakan sikap wakil-wakil PKS di DPR. Kalau tidak salah kalimatnya sebagai berikut: “Bagaimana ini PKS? Katanya koalisi?” Dalam kacamata Marzuki Ali, kalau PKS ikut koalisi, ya seharusnya selalu seiring-sejalan dengan Partai Demokrat, seperti model “partai-partai pecundang” PAN, PKB, dan PPP. Kalau Demokrat setuju BBM naik, PKS ya harus cukup berkata: “Amin amin amin.” Ya intinya, PKS harus mau memegangi ekor Partai Demokrat, bagaimanapun partai itu melakukan atraksi “goyang ngebor”.

Oleh para politisi, pengamat, media, akademisi, dan seterusnya, sikap berbeda pandangan dengan mitra koalisi, seakan merupakan perkara HARAM. Mereka sering menyebut PKS memainkan politik “dua kaki”. Satu kaki di koalisi, satu kaki ikut arus anti pemerintah SBY. Mereka menyebut langkah PKS itu sebagai oportunis, plin plan, dan seterusnya. Ruhut Sitompul menyebut PKS sebagai pengkhianat. Begitu juga banyak politisi (terutama dari kalangan pecundang seperti PAN, PKB, dan PPP) mendesak agar kursi kementrian yang diduduki wakil-wakil PKS “dilelang” untuk wakil-wakil koalisi non PKS.

Disini ada beberapa catatan menarik…

[1]. Pengertian kita tentang “kabinet koalisi” ternyata sangat primitif. Seakan kalau partai penguasa bersikap A, semua partai peserta koalisi harus bersikap A. Mari kita ambil contoh. Misalnya partai penguasa menggulirkan program “kenaikan harga kaos dalam”. Maka partai pendukung yang berbasis nasionalis harus berteriak, “Kenaikan harga kaos dalam berguna bagi nusa dan bangsa.” Lalu partai yang berbasis Muslim tradisional harus berteriak, “Kenaikan harga kaos dalam barokah, makbul. Amin amin amin…” Lain lagi partai yang berbasis Muslim gak jelas, dia berdalih, “Kenaikan harga kaos dalam demi kemaslahatan Ummat.” Ya begitu deh…apapun omongan penguasa, partai pendukung (baca: yang diberi jatah kursi menteri) harus mengaminkan, tanpa reserve.

[2]. Kalau misalnya partai peserta koalisi tidak boleh berbeda pendapat, karena mereka sudah “diberi imbalan” kursi menteri, mengapa tidak sekalian saja partai-partai itu dibubarkan, lalu dibentuk satu partai induk? Iya kan. Logikanya kan seperti itu. Kalau partai seperti PKS tidak boleh beda pendapat, dan harus sama seperti Demokrat, PAN, PKB, dan PPP; ya sudah saja dibentuk partai baru yang namanya: Partai Demokrat Amanat Nasional Kebangkitan Bangsa Persatuan Pembangunan (PDANKBPP).

[3]. Aneh sekali, apakah ada satu rumusan hukum, baik secara legal formal maupun UU politik, yang melarang anggota partai koalisi berbeda pandangan dengan partai penguasa (induk)? Apa ada aturan seperti itu? Kalau ada, mohon Anda sebutkan! Adalah merupakan sikap politik OTORITER atau TIRANI ketika wajah politik itu harus sama dan homogen, apapun kenyataan, dalil, dan strategi politik yang berkembang. Ini sikap politik yang kaku, kalau tidak disebut MONOPOLITIK.

[4]. Lebih aneh lagi, ialah ketika partai induk pendukung pemerintah (misalnya Partai Demokrat) menjadikan “jatah kursi menteri” sebagai alat untuk membungkam apsirasi politik partai-partai lain. Ini sangat aneh. Apalagi ketika kebijakan pemerintah seperti itu terbukti secara sah, faktual, dan meyakinkan, banyak menyengsarakan masyarakat. Jatah menteri bagi sebuah partai tentu sangat menguntungkan, tetapi kalau jatah itu dipakai untuk membelenggu suatu partai; wah betapa mahal harga yang harus dibayar partai-partai tersebut. Jatah kursi itu bisa menjadi bentuk “penyuapan” politik.

[5]. Sebagai perbandingan, dulu di era tahun 1955-an, partai sosialis (PSI) berkoalisi dengan Masyumi. Secara politik mereka punya pandangan yang mirip-mirip, meskipun dalam ideologi dan kebijakan partai berbeda-beda. Dalam sejarah politik kita, baik Masyumi maupun PSI tidak dikenal selalu seiya-sekata, seiring-sejalan. Tidak begitu. Mereka juga berselisih, berbeda, atau saling beradu argumentasi. Kalau kita melihat realitas politik di negara-negara demokrasi murni (non Amerika) seperti Jerman, Belanda, atau India; sistem koalisi juga tidak seekstrim itu. Perbedaan-perbedaan setiap partai tetap diterima.

[6]. Kondisi politik di Indonesia sangat kebangetan. Disebut modern ya tidak, disebut maju ya belum, disebut aneh ya memang aneh. Kalau digambarkan, Partai Demokrat duduk sebagai “raja” di singgasana kekuasaan, karena mereka sebagai partai pemenang. Lalu PAN, PKB, dan PPP menjadi “abdi dalem” yang harus mengikuti setiap gerakan sang raja (Partai Demokrat). Kalau raja angkat tangan, abdi dalem angkat tangan. Kalau kalau raja angkat kaki, abdi dalem ikut angkat kaki. Kalau raja duduk, abdi dalem ikut duduk. Kalau raja nungging, abdi dalem ikut nungging. Kalau raja guling-guling, abdi dalem ikut juga. Kalau raja tertawa, abdi dalem ikut tertawa; kalau raja berhenti tertawa, dengan terpaksa abdi dalem harus cepat-cepat menahan otot rahangnya, agar tidak terdengar bunyi ketawa. Bentuk “peribadahan politik” seperti ini “ada pahalanya”, yaitu mendapat jatah kursi menteri. Kalau ada yang bersikap aneh atau mau neko-neko, seketika diancam: “Hei Lo, mau ngapain? Mau dipecat dari menteri ya?”

Nah, politik “peribadahan” seperti itu yang dipuji-puji oleh banyak kalangan akademisi, politisi, media massa, pengamat, tokoh sosial sebagai model politik beradab. Ya sayang sekali memang. Ternyata, politik kita masih PRIMITIF.

(Sahawae).

Iklan

Mahasiswa Seperti Dihujani “Bom Cluster”

Maret 31, 2012

Tadi malam, Jum’at tanggal 30 Maret 2012, sekitar pukul 08.00 malam, terjadi kericuhan yang mencekam di depan Gedung DPR/MPR RI.

Ribuan demonstran mahasiswa dan lainnya, mereka dihalau oleh aparat polisi keluar dari halaman Gedung DPR RI dengan gas air-mata dan tembakan “bola-bola api”. Tidak jelas, apakah “bola api” itu merupakan jenis gas air mata; ataukah ia merupakan petasan atau kembang api seperti yang disebutkan oleh beberapa media. Tetapi penembakan “bola-bola api” ini berhasil menghalau ribuan mahasiswa hanya dalam waktu beberapa menit saja.

Menghalau Demonstran dengan Efek Api. Seperti dalam Suasana Perang.

Kalau melihat tembakan-tembakan “bola api” itu bentuknya seperti bom cluster yang banyak dipakai Israel untuk menghujani warga Palestina di Ghaza. Tentu saja, ia bukan bom cluster, sebab bom itu sangat mematikan. Tetapi pola cahayanya ketika di udara sangat mirip sekali. Ia seperti lemparan “bola api” lalu di udara terpecah-belah menjadi serpihan bola-bola api yang lebih kecil. Karakter cahaya bom cluster di udara seperti itu. Biasanya ia dilemparkan dari atas pesawat tempur atau helikopter sejenis Apache.

Kalau tidak salah, di antara jenis gas air mata, memang ada yang mengeluarkan cahaya-cahaya berpendar yang sangat silau sekali. Jenis gas seperti itu juga dipakai di tanah konflik Palestina untuk menghalau para demonstran anti Zionis. Sebagai perbandingan, dalam pertandingan-pertandingan bola, kadang suporter ada yang membawa semacam petasan yang mengeluarkan api dan cahaya berpijar yang sangat terang. Kalau ia keluar cahayanya, stadion yang semula gelap bisa terasa terang-benderang.

Gas air mata atau apalah namanya seperti yang ditembakkan di depan gedung DPR itu, tidak mematikan; meskipun namanya juga “bola api” kalau mengenai tubuh, juga bisa menimbulkan luka-luka bakar tertentu. Tetapi efek yang paling besar, adalah efek MAKING FEAR (membuat rasa takut). Karena bentuk cahayanya seperti bom cluster, banyak orang meyakini mereka seperti sedang dihujani bom. Tentu saja mereka akan lari menyelamatkan diri. Dan setelah para demonstran bisa dihalau dari posisi yang didudukinya, mereka menyaksikan bahwa efek “bola-bola api” itu tidak membahayakan secara fisik. Efek hangus di jalan-jalan ada, tetapi ia tidak menimbulkan kerusakan berarti.

Apa yang terjadi semalam, sebagaimana ditayangkan di TV, seperti dalam suasana perang. Ya intinya, tolak kenaikan harga BBM, karena subsidi BBM itu hanya rakyat. Negara tidak berdosa memberi subsidi apa saja untuk rakyatnya. Sedangkan para pejabat, seperti SBY sekalipun, hakikatnya hanya “numpang” di atas hak-hak rakyat.

“Hidup kesengsaraan rakyat! Eh maaf, maksudnya: JANGAN MENYENGSARAKAN RAKYAT !!!”

(Sahawae).


Bangsa Indonesia dan “Teori Kekerasan”

Maret 29, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada suatu kenyataan ironis. Dua TV berita “arus utama” di Indonesia sangat giat menayangkan aksi-aksi demonstrasi anti kenaikan BBM. Tetapi pada saat yang sama, para presenter di TV-TV itu juga intensif mengecam, mencela, atau menyayangkan terjadinya demo-demo anarkhis. Ini merupakan sikap ambigu, kalau tidak disebut oportunis (mau ambil untungnya saja).

Berbicara tentang aksi-aksi demo selama ini, ia tidak lepas dari realitas sosial yang berat, susah, berbagai himpitan ekonomi menerjang dari segala arah. Banyak orang menulis: “rakyat sekarang menjerit”, “kemiskinan ada dimana-mana”, “masyarakat kecil sudah tidak bisa menangis karena air mata mereka sudah kering”, “banyak orang menjadi gila dan bunuh diri”, “rakyat merindukan kondisi seperti di zaman Soeharto dulu”, dan lain-lain.

Disini kita dihadapkan kepada situasi yang KONTRADIKTIF. Pertama, kehidupan sosial masyarakat sangat berat, mereka merindukan perubahan, perbaikan, atau lompatan yang nyata. Mereka tidak bisa sekedar nrimo atau pasrah di bawah keadaan yang penuh penderitaan ini. Kedua, banyak pihak terutama kalangan politisi, media massa, pejabat birokrasi, akademisi, para pengamat, dll. berharap agar terjadi perubahan secara damai, secara mulus, tanpa benturan, tanpa konflik, tanpa kekerasan.

Pertanyaannya: mungkinkah Indonesia akan berubah dari kondisi serba penuh penderitaan menjadi aman, makmur, dan sejahtera; melalui proses damai, tenang, mulus, tanpa konflik, tanpa berdarah-darah, tanpa ada lemparan batu, tanpa ada bakar-bakar ban, tanpa ada dorong-dorongan, tanpa ada aksi-aksi kekerasan? Tanpa ada kekerasan sama sekali? Mungkinkah…

Seperti sering kita kemukakan di blog ini, kondisi riil bangsa Indonesia saat ini, bukanlah kondisi normal, kondisi biasa, atau kondisi wajar. Bangsa kita saat ini andaikan diibaratkan seorang pasien, sudah masuk stadium 4, atau kondisi emergency, atau sudah harus masuk ICU. Bangsa kita tidak lagi bisa diterapi dengan kerokan, minyak angin, pemijitan, atau minum obat herba. Pilihannya hanya amputasi, operasi besar, atau transplantasi organ.

Bangsa kita sudah dikangkangi oleh mafia. Ia adalah Mafia PBB (mafia politik, mafia bisnis, dan mafia birokrasi). Kelompok mafia ini berhasil menguasai seluruh sektor kehidupan, dari hulu sampai hilir. Jangankan mall-mall, perusahaan, proyek-proyek; hingga urusan ustadz yang dakwah di media-media, mereka yang menguasai. Ibaratnya, dari jual-beli pesawat sampai jual-beli terasi dan cabe, didominasi mereka.

Baca entri selengkapnya »


SBY Senang “Cari Aman”

Maret 22, 2012

1. Bukan sekarang saja regim SBY ingin menaikkan harga BBM. Hal ini sudah dua kali terjadi, dan kalau sekarang jadi, menjadi yang ketiga kalinya. Kalau dibaca, alasan yang dipakai masih sama dari waktu ke waktu. “Kenaikan harga minyak dunia. Mengurangi beban APBN dengan mengurangi subsidi BBM. Menyelamatkan perekonomian nasional.” Kalau di era SBY misalnya ada 10 kali kenaikan harga BBM, alasannya pasti sama juga. Ya, tinggal di-copy paste.

2. Lucu kalau mendengar penjelasan-penjelasan Menteri ESDM Jero Wacik, lewat forum-forum diskusi di TV. “Tidak mungkinlah pemerintah ingin menyengsarakan rakyatnya. Setahu saya selama bekerja di kabinet Pak SBY, tidak ada alasan politik seperti itu. Kalau pemerintah menaikkan harga BBM karena ingin ada alasan untuk memberikan BLT, biar citra politiknya naik. Wah, itu jahat namanya.” Sosok seperti Pak Jero Wacik ini seperti politisi lugu yang benar-benar baru belajar politik. Dia berbicara dalam tataran “etika” dan “tatakrama”. Padahal dalam realitas sebenarnya, kondisi rakyat Indonesia tidak memperbolehkan lagi untuk ditipu dan dikibuli, apapun caranya. Termasuk dengan retorika “pura-pura tidak tahu”. Ya, kita bisa melihat kesungguhan Pak Jero Wacik dalam membela rakyat dari bukti berupa foto dia di depan caddy-caddy seksi di lapangan golf Halim. Andaikan Pak Jero Wacik “tidak jahat”, tidak perlu muncul foto seperti itu.

 

3. Dampak paling mematikan dari kenaikan harga BBM adalah efek domino dan eskalasi pengaruh-nya yang sangat kuat dalam meningkatkan kemiskinan dan penderitaan rakyat. Dalam salah satu pidatonya, Ny. Ani Yudhoyono mengklaim bahwa pilihan kenaikan harga BBM merupakan “pilihan terpaksa” demi menyelamatkan ekonomi nasional. Sebenarnya bukan “kepaksa” Bu, tapi malas; tidak mau bekerja keras dan berani mengambil resiko. Regim SBY sudah dikenal sebagai regim paling “cari aman”. Tidak mau berkeringat dan menunjukkan harga diri di hadapan para penekan (asing atau lokal).

4. Banyak sekali sektor-sektor yang bisa diperbaiki, selain melaksanakan opsi kenaikan BBM. Antara lain: meningkatkan lifting produk migas nasional, memangkas mata rantai perdagangan migas, memperbesar peranan Pertamina dalam eksplorasi minyak di Indonesia, mengutamakan konsumsi gas untuk dalam negeri, meningkatkan negosiasi royalti pertambangan dengan pihak asing, memberantas praktik korupsi di segala sektor (dimulai dari korupsi di tubuh Partai Demokrat), mengurangi jumlah PNS dan meningkatkan kinerja mereka, meningkatkan pendapatan pajak, terutama dari perusahaan-perusahaan besar dan asing, menggunakan multi mata uang dalam jual-beli migas; dan lain-lain jalan keluar. Seharusnya, opsi memotong subsidi untuk rakyat, mestinya menjadi opsi terakhir, ketika jalan-jalan lain sudah tidak ada. Tapi kita tahu, pemerintah SBY ini amat sangat mau enaknya saja, mau gampangnya saja.

5. Adalah hak rakyat untuk mendapatkan subsidi negara. Negara itu dibangun untuk siapa sih? Untuk rakyat kan. Lalu mengapa pemerintah SBY selalu merasa sangat bersalah kalau menyisihkan dana untuk rakyat? Padahal hakikatnya SBY itu kan digaji oleh rakyat. Sebaliknya, mereka merasa selalu termotivasi untuk memenuhi perjanjian-perjanjian dengan lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Sebenarnya, mereka itu pembela rakyat, atau antek asing ya? Urusan rakyat selalu dikorbankan demi memenuhi standar harga minyak NYMEX di New York. Apalagi menurut seorang ekonom, UU yang dipakai untuk menaikkan harga BBM itu sudah dibatalkan oleh keputusan MK.

6. Rakyat Indonesia bisa dikatakan “ada”, tetapi juga “tiada”. Maksudnya, secara realitas (de facto), rakyat Indonesia ada. Jumlahnya sekitar 240 juta. Belum lagi orang asing yang tinggal di negeri ini. Tetapi di mata pemerintah SBY, rakyat sebanyak itu seperti dianggap “asap” saja. Jerit-tangis, penderitaan, kemiskinan, kesusahan sosial, konflik, dan segala ancaman yang mengitari kehidupan rakyat; dianggap sepele oleh SBY dan kawan-kawan. Maka ketika SBY tidak mau mengorbankan partainya, tidak mau mengorbankan politisi demokrat, tidak mau mengorbankan para ekonom Neolib, tidak mau mengorbankan uang para konglomerat, tidak mau mengorbankan kekayaan perusahaan asing, tidak mau mengorbankan pengaruh kroni-kroninya; akhirnya rakyat yang jadi korban! Ya, rakyat adalah korban paling gampang direalisasikan.”Toh, mereka nanti juga gak akan melawan. Kalau mau melawan, kita punya Densus88. Itu saja solusinya. Gampang kan?” begitu logika simplisit mereka. Na’udzubillah min dzalik.

7. Ketika harga-harga melambung, infalasi melesat tinggi, rakyat miskin “yang terkena dampak” akan dibantu dengan BLT (BLSM). Masya Allah, ini benar-benar pemerintahan primitif. Di zaman semaju ini ada pemerintahan membagi-bagikan uang gratis. Masya Allah. Benar-benar bodo dan sebodo-bodonya manusia. Di negara maju dan beradab, bagi-bagi uang ini tidak dilakukan. Selain meningkatkan inflasi, memicu konflik sosial, meningkatkan mental pengemis di tengah rakyat; ya kok bodo sekali ya. Katanya, menaikkan BBM untuk mengurangi subsidi; lha kok sekarang uang negara dibagi-bagi obralan begitu? Satu sisi mengurangi subsidi, di sisi lain bagi-bagi uang secara cuma-cuma. Otak para pemimpin ditaruh dimana ya? Kenapa Anda -andaikan harus menaikkan harga BBM- mengapa tidak menaikkan dengan besaran kecil (misalnya maksimal 500 rupiah)? Mengapa lalu harus bagi-bagi uang kebohongan dan pengemisan rakyat itu? Disini terlihat jelas bahwa regim SBY amat sangat tidak manusia terhadap rakyatnya. Rakyat dianggap manusia-manusia robot yang tinggal diberi uang kalau kelaparan.

8. Berulang kali SBY curhat tentang keselamatan dirinya. Seolah seluruh rakyat dan dunia, harus concern memikirkan hak-hak eksklusif dirinya. Di sisi lain, dia tidak concern dengan hak-hak rakyat. Ini selain ketidak-adilan, juga hakikat pengkhianatan. Mengapa SBY tidak menjunjung tinggi hak-hak rakyat sebagaimana dia menjunjung tinggi hak-hak privasinya? Dimana sikap adil Anda, Pak Presiden?

9. Gerakan-gerakan sosial, termasuk gerakan mahasiswa, saat ini sedang merapat kembali untuk menuju jantung kekuasaan SBY. Mereka memberikan pilihan: “BBM naik, SBY turun!” Itu yang saya baca dari edaran yang disebarkan sebagian gerakan mahasiswa. Dari pengalaman memerintah RI sejak tahun 2004 sampai sekarang, tampak jelas hakikat sebenarnya: regim SBY lebih pro asing daripada kepada rakyat sendiri. Kebijakan-kebijakan menyengsarakan di zaman dia, banyak diarahkan oleh tangan-tangan asing. Dalam satu riwayat dikatakan, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang mencintai kalian dan kalian mencintainya; dia mendoakan kalian, dan kalian mendoakannya. Seburuk-buruk pemimpin adalah yang membenci kalian, dan kalian membencinya; dia melaknat kalian, dan kalian melaknat dirinya.” Hikmah dari riwayat ini, kepemimpinan SBY sebaiknya dihentikan; sebelum bangsa dan negara tambah rusak gak karuan.Ya Allah, kabulkanlah harapan kami. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

(Pak Sakerah).


Pernahkah Syiah Melawan Zionis?

Maret 17, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah Rafidhah selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

Sejarah Syiah: "Selalu Menusuk Ahlus Sunnah dari Belakang. Dan Tak Pernah Perang Melawan Orang Kafir."

[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Ya, kurang lebih begitu klaim para aktivis agama Persia (Syiah Rafidhah) ini. Di berbagai forum, kesempatan, termasuk dalam diskusi di blog ini, alasan-alasan itu selalu mereka munculkan. Seakan-akan, tidak lagi alasan bagi Syiah untuk tetap eksis di muka bumi, selain klaim-klaim seperti itu.

Lalu bagaimana pandangan kita sebagai Ahlus Sunnah tentang klaim kaum Syiah ini?

Mari kita bahas secara ringkas dan praktis, dengan memohon pertolongan Allah Al Hadi…

PERTAMA. Kaum Syiah Rafidhah itu terus bekerja keras dan sangat nafsu, agar mereka tetap diakui sebagai Islam, tetap dipandang sebagai Muslim, tetap menjadi bagian dari kaum Muslimin sedunia. Hal ini adalah hakikat siksaan spiritual yang Allah timpakan atas hati-hati mereka, selamanya. Mereka telah sangat berdosa karena mencaci, melecehkan, mengutuk, dan mendoakan keburukan atas isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Maka Allah pun menjadikan mereka selalu gelisah, takut, dan sangat menginginkan diberi label Islam atau Muslim. Mereka selalu dalam kebingungan seperti ini, layaknya Bani Israil yang kebingungan selama 40 tahun di Padang Tiih, karena telah menghina Musa ‘Alaihissalam dan Allah Ta’ala. Lihatlah manusia-manusia pemeluk agama Persia (Rafidhah) itu…mereka kemana-mana membawa laknat atas doa-doa laknat yang mereka bacakan untuk mengutuki manusia-manusia terbaik dari para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum.

KEDUA. Dalam sejarahnya, sejak zaman Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sampai hari ini, ketahuilah bahwa Syiah Rafidhah (agama Persia) ini tidak pernah berjihad melawan kaum kufar, baik itu Nashrani, Yahudi, musyrikin, dan orang-orang atheis. Syiah tidak punya sejarah jihad menghadapi kaum kufar. “Jihad” kaum Syiah sebagian besar diarahkan untuk menyerang kaum Sunni, sejak zaman dahulu sampai saat ini.

Mula-mula Syiah di Kufah mengundang Husein Radhiyallahu ‘Anhu datang ke Kufah, katanya mau dibaiat. Karena Husein sudah berangkat ke Kufah, oleh penguasa kala itu (Yazid bin Muawiyah) Husein dianggap bughat, sehingga boleh ditumpas. Waktu tiba di Kufah, tak satu pun kaum Syiah keluar untuk membaiat, menolong dan mendukung Husein. Posisi Husein sangat terjepit, akan kembali ke Madinah, dia sudah dianggap bughat. Meminta bantuan Kufah, tak satu pun Syiah yang akan menolong. Akhirnya, Husein ditumpas di Padang Karbala. Bahkan kala penumpasan itu, tak satu pun hidung Syiah menampakkan diri, walau sekedar untuk menolong korban dari pihak Husein dan keluarganya. Nah, peristiwa pembantaian Husein oleh kaum Syiah itulah yang selalu mereka rayakan dan nikmati dalam momen-momen Asyura. Air mata mereka mengutuk para pembunuh Husein, sedangkan hati mereka berucap: “Alhamdulillah Husein dan keluarganya telah binasa di Karbala.”

“Jihad” kaum Syiah berikutnya ialah membantu Hulagu Khan (penguasa Mongol) untuk menumpas Khilafah Abbassiyah. Kemudian mereka berusaha melenyapkan kaum Sunni di Mesir, tetapi berhasil ditumpas oleh Nuruddin Mahmud Zanki. Mereka terus menikam perjuangan Shalahuddin Al Ayyubi. Mereka juga selalu menjadi musuh Khilafah Turki Utsmani, selalu kerjasama dengan negara-negara Nashrani Eropa untuk melemahkan Khilafah Turki. Di zaman kontemporer, Revolusi Khomeini di Iran telah menumpas Ahlus Sunnah di Iran. Mereka juga menikam perjuangan mujahidin di Afghanistan. Mereka membantai Ahlus Sunnah di Irak, Libanon, Suriah, Yaman, bahkan mereka hampir menguasai Bahrain.

Singkat kata, tidak ada Jihad kaum Syiah dalam sejarah, selain “jihad” yang diarahkan untuk memusnahkan dan menghancur-leburkan kaum Sunni. Sejarah klasik dan modern sudah memaparkan fakta. Bahkan dalam kasus Iran Contra Gate terbongkar skandal besar. Ternyata, di balik gerakan Kontra di Nikaragua, Amerika memasok senjata kepada para gerilyawan itu. Darimana dananya? Dari hasil kerjasama jual-beli minyak dengan Iran. Padahal dalam kampanye dunia, sudah dimaklumkan bahwa Amerika itu sedang konflik dengan Iran. Tetapi di balik itu ada sandiwara “jual-beli minyak” yang menggelikan. Kasus ini sangat terkenal, sehingga seorang kolonel Amerika dikorbankan sebagai tumbalnya.

KETIGA. Apa sih yang dilakukan Hizbullah (Syiah Rafidhah) di Libanon kepada Israel? Apakah dia terlibat perang terbuka dengan Israel? Apakah dia menduduki wilayah Israel dan berusaha mengusir penduduk Yahudi? Ternyata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya melepaskan tembakan mortir ke arah pasukan Israel atau wilayah Israel. Atau mereka melakukan tembakan senapan, atau tembakan rudal anti tank. Hanya itu saja. Mereka tidak pernah terlibat perang terbuka vis a vis, seperti para pejuang Ahlus Sunnah di Irak, Afghanistan, Chechnya dan lainnya. Jadi singkat kata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya semacam “main-main” untuk membuang amunisi-amunisi ringan. Itu saja kok.

KEEMPAT. Dalam sejarah perang Arab-Israel, sejak merdeka tahun 1948 Israel sudah berkali-kali bertempur dengan pasukan Arab. Yang terkenal adalah perang tahun 48, perang tahun 67, dan perang tahun 70-an. Ia kerap disebut perang Arab-Israel. Setelah itu belum ada lagi perang yang significant. Dalam sejarah ini, lagi-lagi tiada peranan Iran sama sekali. Bahkan ketika Ghaza dihancur-leburkan Israel pada tahun 2008-2009 lalu, Iran lagi-lagi tidak terlibat apa-apa. Jadi, apa yang bisa dibanggakan dari manusia-manusia pemeluk agama Persia (Syiah Rafidhah) itu?

KELIMA. Menurut Ustadz Farid Okbah, di Iran itu sangat banyak orang-orang Yahudi. Menurut informasi, jumlahnya bisa mencapai 50.000 jiwa. Mereka bisa hidup aman dan sentosa di Iran, sedangkan Ahlus Sunnah hidupnya sangat menderita disana. Iran bersikap welcome kepada kaum Yahudi, dan sangat ofensif kepada kaum Muslimin. Ini adalah realitas yang sangat menyedihkan. Makanya tidak salah kalau ada yang mengatakan, Rafidhah lebih sadis dari orang-orang kafir lain.

Contoh yang sangat unik ialah kerjasama antara Hamas dan Iran. Banyak orang menyebutkan, Hamas kerap kerjasama dengan Iran. Hal itu konon berdasarkan sikap Syaikh Al Bana yang dulunya pernah berujar, bahwa Syiah adalah sesama saudara Muslim juga. Mereka sama-sama Ahlul Qiblah. Tetapi realitasnya, Ikhwanul Muslimin di Suriah dibantai puluhan ribu manusia disana oleh regim Hafezh Assad. Ternyata, regim itu dan anaknya, dibantu oleh Iran juga. Nah, ini kan sangat ironis. Hamas kerjasama dengan Iran, sementara Al Ikhwan di Suriah dibantai oleh regim Suriah yang didukung oleh Iran.

KEENAM. Propaganda bahwa Syiah Rafidhah itu musuh Zionis Israel, semua ini hanya propaganda belaka. Sejatinya mereka itu teman-karib, sahabat dekat, saling tolong-menolong, sebagian menjadi wali atas sebagian yang lain. Mereka ini selamanya tak akan pernah terlibat dalam peperangan. Kaum Yahudi membutuhkan Iran, sebagai seteru Ahlus Sunnah. Sedangkan Iran membutuhkan Yahudi, juga sebagai seteru Ahlus Sunnah. Dalam hadits Nabi Saw juga disebutkan bahwa kelak dajjal akan muncul dari Isfahan (salah satu kota di Iran yang saat ini banyak dihuni Yahudi) dengan 70.000 pasukan. Yahudi membutuhkan Iran, karena darinya akan muncul pemimpin mereka. Dan dalam literatur-literatur Syiah, sosok dajjal itu sebenarnya adalah sosok “Al Mahdi Al Muntazhar” yang selalu mereka tunggu-tunggu. Begitulah, banyak kesamaan kepentingan antara Syiah dan Yahudi.

KETUJUH. Fakta berikutnya yang sangat mencengangkan. Ternyata Syiah Iran juga menjalin kerjasama dengan China dan Rusia, dua negara dedengkotnya Komunis. Mereka ini umumnya kerjasama dalam soal industri, perdagangan, dan jual-beli senjata. Ketika Amerika berniat menjatuhkan sanksi akibat instalasi nuklir Iran, segera China dan Rusia memveto niatan itu. Kedua negara terang-terangan membela Iran. Begitu juga China dan Rusia juga membela regim Bashar Assad (semoga Allah Al Aziz segera memecahkan kepala manusia durjana satu ini, amin ya Mujibas sa’ilin) dari ancaman sanksi internasional. Sedangkan kita tahu, regim Suriah sangat dekat koneksinya dengan Iran. Jadi, kita bisa simpulkan sendiri posisi Iran di mata China, Rusia, dan regim Suriah.

Jadi kalau kemudian kita mendengar propaganda Syiah anti Yahudi, Syiah anti Amerika, Syiah anti Zionis, dan sebagainya…ya sudahlah, saya akan ketawa saja. Tidak usah dianggap serius. Anggaplah semua itu hanya “olah-raga kata-kata” saja (meminjam istilah seorang politisi busuk). Syiah selamanya akan berkawan dengan kaum kufar dan sangat apriori dengan kaum Muslimin (Ahlus Sunnah). Mereka itu lahir dari sejarah kita, tetapi wujud dan hatinya milik orang kafir. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Semoga kita semakin sadar, bahwa Syiah Rafidhah bukanlah kawan. Mereka membutuhkan istilah kawan selagi masih lemah. Nanti kalau sudah kuat, mereka akan menghancur-leburkan Ahlus Sunnah. Tetapi cukuplah Allah Ta’ala sebagai Wali, Pelindung, dan Penolong kita. Dialah sebaik-baik Pelindung dan Penjaga. Walhamdulillahi Rabbil a’alamiin.

Ardhullah, 17 Maret 2012.

AM. Waskito.


Aa Gym Rujuk dengan Teh Ninih

Maret 13, 2012

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, akhirnya Aa Gym rujuk kembali dengan mantan isterinya, Teh Ninih. Jujur perceraian Aa Gym pada masa-masa sebelum adalah perkara besar dan serius. Sebab, Aa Gym bagaimanapun adalah sosok dai yang sering diidolakan oleh Ummat Islam di Indonesia. Di sisi lain, adalah sangat “tidak adil” sikap menceraikan isteri yang sudah begitu besar jasanya dalam kehidupan seseorang. Apalagi sang isteri telah dikaruniai 7 orang anak.

Berikut berita positif yang dimuat situs eramuslim.com…

Alhamdulillah, Aa Gym dan Teh Ninih Kembali Menikah

Kabar gembira datang dari kota kembang Bandung. Da’i kondang KH. Abdullah Gymnatsiar yang akrab disapa Aa Gym menikah kembali (rujuk) dengan Teh Ninih. Akad Aa Gym dan Teh Ninih dilakukan tadi pagi sekitar pukul 08.00 WIB di kawasan Sariwangi, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Menurut seorang tetangga Teh Ninih, Dita (28), rombongan keluarga Teh Ninih berangkat dari Daarut Tauhiid ke Sariwangi untuk menghadiri akad rujuk tersebut dan kembali ke kawasan DT sekitar pukul 09.00 WIB.

“Alhamdulillah sudah rujuk lagi. Kami di sini tetangga senang banget. Jelas hal itu yang kami harapkan, mereka rujuk,” katanya, Selasa (13/3).

Usai rujuk, tambah Dita, Teh Ninih menggelar silaturahmi bersama para tetangga serta kerabat dan anak-anaknya di kediamannya di kawasan Daarut Tauhiid.

“Kita di sini tetangga sudah bersilaturahmi datang ke sana. Intinya tadi Teh Ninih semringah, wajahnya berseri,” katanya.

Sementara itu KH Miftah Faridl, sahabat Aa Gym, mengaku sangat bahagia mendengar kabar pasangan serasi tersebut kembali bersama. Meski belum mendapatkan kabar langsung dari Aa Gym, KH. Miftah berharap keputusan rujuk menjadi jalan yang terbaik bagi Aa Gym maupun Teh Ninih.

“Kalau dari Aa Gym langsung saya belum dapat kabar, kalau dari luar ya sudah. Ya sangat bersukur, mudah-mudahan ini jalan yang terbaik bagi keduanya. Rujuk adalah solusi yang terbaik,” ujarnya saat dihubungi detikbandung melalui telepon, Selasa (13/3). Sebelumnya Aa Gym dan teh Ninih bercerai pada bulan Juli 2011. Pasangan tersebut telah dikaruniai 7 orang anak. (Pz)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/nasional/alhamdulillah-aa-gym-dan-teh-ninih-rujuk.htm

Pagi hari ini seorang kawan menunjukkan berita, bahwa Aa Gym sudah rujuk dengan mantan isterinya. Alhamdulillah, kita merasa bersyukur dan mendukung langkah itu. Semoga Allah meneguhkan Aa Gym di atas istiqamah dalam sikap baiknya ini, karena sudah tidak ada lagi kesempatan rujuk baginya.

Saat siang hari, seorang kawan lain menelpon. Dia menelpon dari Garut, di tengah lapangan surve, di kaki gunung. Dia sangat bersyukur ketika mendengar berita Aa Gym sudah rujuk lagi. Dia bertanya, apakah saya punya info khusus tentang hal ini? Saya katakan, tidak ada informasi khusus. Yang jelas, kami sangat mendukung sikap Aa Gym; mendoakan kebaikan bagi mereka, termasuk bagi Teh Rini dan anak-anaknya. Semoga Allah memberikan kebaikan, setelah sekian lama “terlunta-lunta” dalam masalah-masalah rumah-tangga. Allahumma amin.

Ya itu dulu. Ahlan wa Sahlan…Aa Gym. Silakan lanjutkan kehidupan baru, dengan semangat baru, dengan gelora untuk melakukan perbaikan-perbaikan sekuat kesanggupan. Bangun kehidupan sakinah, mawaddah, dan rahmah; bagi diri sendiri, keluarga, juga bagi Ummat Islam. Perlu banyak-banyak istighfar untuk menutup kesalahan-kesalahan masa lalu. Hiduplah dengan semangat baru, di atas pijakan Tauhid dan Sunnah Nabi.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Depok, 13 Maret 2012.

AM. Waskito.


Ide Memiskinkan Media Sekuler…

Maret 11, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Gerakan-gerakan dakwah Islam di Indonesia perlu meningkatkan taraf perjuangannya, sebab tantangan-tantangan yang dihadapi semakin berat, komplek, dan sangat tajam. Kita tidak bisa hanya memakai cara-cara lama untuk menyikapi realitas kontemporer yang semakin rumit ini. Perlu ada terobosan-terobosan baru untuk memecah kebuntuan, demi menyelamatkan eksistensi Islam di bumi Nusantara.

Sebuah contoh mudah, adalah demo para aktivis Islam dengan tajuk: “Indonesia Damai Tanpa Liberal”. Untuk aksi besar ini ternyata liputan media TV dan koran-koran sangat minim. Sehingga Habib Rieziq menyimpulkan, “Karena kita bukan bencong, banci, dan homo, maka tidak ada televisi yang meliput aksi kita.” Itu kan artinya, media-media sekuler tersebut telah nyata-nyata dikuasai manusia-manusia amoral seperti banci, bencong, homo, free sex, dan seterusnya.

Dalam kasus sebelumnya di Palangkaraya, ada ratusan atau ribuan kaum Dayak berusaha mengepung dan mengancam keselamatan beberapa pimpinan FPI. Bahkan mereka terus memburu, sekalipun para pimpinan itu sudah berada di Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Hal ini lalu menjadi angle bagi media-media untuk JUSTRU menjelek-jelekkan FPI dan menghembuskan isu pembubaran ormas Islam tersebut. FPI jadi korban mereka dituntut dibubarkan, apalagi kalau FPI yang melakukan aksi pengepungan? Jangan-jangan media-medis sekuler itu akan menuntut Islam dibubarkan? Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Kasus-kasus kezhaliman media ini bukan sekarang saja. Sudah sangat sering. Dalam isu-isu terorisme, betapa banyak media yang ikut “membunuhi” para aktivis Islam, di balik punggung Densus88 dan aparat kepolisian. Begitu juga dalam kasus Cikeuting, Cikeusik, Pemalang, Kuningan, dll. Termasuk tentunya kasus Insiden Monas, 1 Juni 2008. Intinya, media-media itu memang benar-benar anti Islam, pro demoralisasi kehidupan bangsa, dan tidak bersikap adil layaknya media yang jujur-obyektif (sesuai kode etik jurnalistik yang menjadi panduan insan media di Indonesia selama ini).

Singkat kata, peranan media-media sekuler ini bukan saja membahayakan Islam dan kaum Muslimin. Tetapi juga sangat membahayakan bangsa dan negara. Sangat jelas bahwa mereka lebih pro industrialisasi, pro kepentingan asing, pro kepentingan konglomerat, pro kepentingan politik partai tertantu, pro liberalisme kehidupan, dan seterusnya. Demi Allah, agenda liberalisme kehidupan itu sangat kuat dampaknya dalam merusak MORAL BANGSA; pada gilirannya ia akan menghancurkan bangsa Indonesia ini sendiri. Jangankan berdasarkan Syariat Islam; berdasarkan UUD 1945 dan prinsip-prinsip Pancasila saja, liberalisme kehidupan itu amat sangat bertentangan. Hanya lagi-lagi, media sekuler selalu menyembunyikan semua itu.

Pertanyaannya: Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meruntuhkan eksistensi media-media sekuler ini?

Ummat Islam bisa membentuk sebuah komite advokasi Muslim (semodel Tim Pembela Muslim) yang khusus dibuat untuk melakukan gempuran-gempuran hukum terhadap media-media sekuler anti Islam itu. Komite ini tidak bertugas lain, selain hanya menggempur media-media sekuler yang selalu merugikan kepentingan Ummat Islam itu. Sebab, kalau kita tidak bisa melawan sebaran media mereka melalui media yang seimbang; kita bisa melawan mereka dengan jalur hukum. Dasar pemikirannya sederhana: “Setiap pelanggaran secara sengaja atas hak-hak kaum Muslimin oleh siapapun, bisa dicarikan landasan pelanggaran hukumnya, sekalipun dalam format hukum positif yang berlaku di Indonesia.”

Para ahli hukum Muslim bisa menggali banyak landasan hukum untuk menjerat media-media sekuler itu dengan pasal-pasal pelanggaran hukum, menurut versi hukum yang berlaku. Secara teknis, pelanggaran-pelanggaran itu perlu lebih sering dilimpahkan ke jalur hukum; tidak melulu dilakukan solusi-solusi negosiasi “kekeluargaan”. Bahkan dari pengalaman-pengalaman ini komite advokasi Muslim bisa belajar banyak, sehingga akan membuka celah-celah kekalahan media-media itu secara hukum. Tujuan akhirnya, ialah meruntuhkan media-media itu dengan tuntutan ganti-rugi yang sangat memberatkan beban keuangan mereka. Kalau perlu dituntut dengan nilai triliunan rupiah.

Memang ada peluang ralat, permohonan maaf, dan sebagainya yang dilakukan oleh media. Tetapi kalau mereka SERING melakukan permohonan-permohonan maaf, hal itu akan menghancurkan CITRA mereka sebagai media yang kredibel. Bahkan dengan semua catatan buruk media tersebut, kita bisa mencatat permohonan-permohonan maaf mereka dalam “Daftar Hitam Sejarah Hitam Media Sekuler”. Hal ini secara moral sangat berat bagi mereka.

Ide memiskinkan media-media sekuler, sama seperti ide memiskinkan para koruptor. Kalau mereka berhasil dilorot kekuatan kapitalnya, maka insya Allah tidak akan berani macam-macam dan kurang ajar. Pak Munarman, SH. bisa didorong untuk memasuki wilayah advokasi anti media sekuler ini. Dengan tentunya, beliau mesti bisa menurunkan sedikit tensi-nya ketika berhadapan dengan manusia-manusia sekuler itu.

Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah kontribusi dalam rangka melindungi, membantu, dan menolong kaum Muslimin dari segala kezhaliman elemen-elemen sekuler (semoga Allah menuntun mereka menuju taubat dan Syariat Islam, amin). Hanya kepada Allah kita berlindung diri, di atas urusan agama, dunia, dan akhirat. Allahumma amin.

AMW.