Pak Mahfud MD…Itu Pak.

Saat deklarasi lembaga Islam baru, MIUMI, di Hotel Sahid, 28 Februari 2012 lalu; ada satu momen yang mengesankan. Ia adalah pidato Ketua MK, Mahfud MD. Sebenarnya banyak yang berkesan, tetapi pidato ini tampak memiliki keunikan tersendiri. Bahasa gaul jurnalistiknya, “I catch U!”

Sebenarnya forum MIUMI itu cocok untuk para aktivis Islam, para dai, atau kawan-kawan yang selama ini diklaim fundamentalis Islam. Pak Mahfud MD sebenarnya tidak terlalu cocok disini. Bayangkan saja, salah satu gagasan MIUMI seperti yang diklaim Ustadz Bachtiar Nasir, Lc (Sekjen MIUMI) adalah menghadang Liberalisme, Syiah, dan aliran sesat.

Okelah tak usah diributkan soal itu, mari kita sentuh soal isi pidato Prof. Mahfud MD, salah satu guru besar hukum di UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta. Pidato beliau tidak lama, tetapi ada substansi penting yang ingin disampaikan disini. Antara lain beliau bicara:

“Rusaknya suatu masyarakat, karena pemerintahnya rusak. Rusaknya pemerintah, karena ulamanya rusak. Rusaknya ulama, karena mereka tenggelam mencintai dunia.”

Jujur saya setuju dengan ungkapan ini. Ketika saya diskusikan masalah ini dengan seorang kawan, dia juga setuju.

Hitam-putih kehidupan rakyat, tergantung pemerintahannya. Kalau pemerintahan sakit, rakyat ikut sakit; kalau ia sehat, rakyat juga akan sehat. Sementara rusaknya pemerintahan, karena para ulama berdiam diri, tidak melaksanakan amanah nahyul munkar, tidak menasehati pemimpin zhalim, serta tidak melakukan ishlah secara intensif. Ya, siapa lagi bisa disalahkan atas rusaknya pemerintah, kalau para ulama selalu mencari aman? Dan ulama akan rusak ketika ambisi duniawinya melebihi ketakutannya kepada Allah Ta’ala. Kalau dunia sudah menguasai hati ulama, alamat hancur konsistensinya.

Intinya, ungkapan Pak Mahfud di atas ada benarnya; memiliki hujjah yang rasional; bisa dimengerti secara wajar. Kita tak usah berdebat panjang soal substansi pernyataan tersebut.

***

Lalu apa masalahnya?

Ya, sebenarnya tidak ada masalah serius.

Jangan bercanda, Anda pasti punya maksud tertentu?

Ada sih, tapi sabarlah.

Tidak, sampaikan saja, apa adanya. Jangan ditutup-tutupi! Apa masalah Anda?

Ya, ini hanya masalah Pak Mahfud saja kok.

Iya benar, tapi apa masalahnya? Anda membuat banyak orang penasaran? Mentang-mentang penulis…

Jangan begitulah, santai saja. Biasa saja.

Tidak bisa, apa masalahnya? Anda sudah sebut-sebut nama Pak Mahfud MD. Maka jelaskan masalahnya secara terang. “Seterang-terangnya,” meminjam ungkapan Pak Sebeye.

Oke, oke, saya jelaskan ya…

Ayo cepat, tidak usah lama-lama. Batere HP-ku mau habis tahu; aku sedari tadi sudah ngempet mau ke toilet; itu orang-orang sudah pada menunggu; 5 menit lagi pesawat akan take off; dan lain-lain alasan serba “darurat”.

Begini ya…pernyataan Pak Mahfudh MD itu…

Ayo cepat!!!

Waduh, jangan dipotong dulu, dong! Baru juga mau dijelaskan, sudah main potong saja. Tadi waktu Anda bicara saya tidak memotong. Tolong ya, hargai kata-kata orang lain.

Huh, belagak kayak debat di TVOne dan MetroTV, sok “potong-memotong”...

***

Jujur ya…pernyataan Pak Mahfud MD itu benar, logis, dan argumentatif. Bisa jadi ia dibangun di atas pemahaman, renungan, serta telaah ilmiah dan realitas, dalam masa panjang. Pernyataan itu kita hargai. Hanya masalahnya, kita kurang suka dengan gaya Pak Mahfud MD yang terkesan “disini senang, disana senang”. Maksudnya, Pak Mahfud itu kalau berbicara terkesan selalu “ingin menyenangkan tuan rumah”. Dimana saja dia berada, dia akan mengutarakan sesuatu yang “enak didengar” orang sekitar.

Kalau dia bicara di depan aktivis Islam, akan mengungkap isu-isu “seksi” di kalangan aktivis Islam. Kalau dia bicara bersama elit-elit politik, akan mencari isu yang “paling hot” sesuai selera elit politik. Kalau bicara di depan media, akan menyesuaikan dengan “opini media”. Kalau bicara di depan Pak Sebeye, akan mencari “celah batin” yang bersangkutan. Kalau bicara di depan aktivis LSM, juga akan bersikap “adaptatif”.

Nah, hal-hal semacam itu yang tidak kita sukai dari KARAKTER Mahfud MD. Istilahnya, dalam bahasa Biologi seperti “mimikri”. Atau dalam dunia Pramuka digambarkan dengan lagu “disini senang, disana senang”.

Sebagai argumen, ada seorang pakar mengatakan bahwa rusaknya pemerintahan karena rusaknya ulama. Masalahnya, kalangan pemerintahan itu juga tak mau dinasehati oleh ulama. Ketika ada ulama mengatakan “pentingnya Syariat Islam“…mukanya langsung merah, berubah menjadi hitam, jingga, kuning, warna zebra, dan seterusnya. Ya bagaimana ulama akan menasehati kalau omongan mereka tak didengar?

Orang yang mengatakan pemerintah begini dan begitu, sebenarnya dia bagian dari pemerintah itu sendiri. Harusnya dia melakukan perbaikan, bukan sekedar retorika atau pencitraan. Kalau seorang pemimpin konsisten dengan jalan kebenaran, dia pasti akan banyak diam, berbuat, dan terus melakukan perbaikan. Tidak tebar pesona, retorika, dan citra.

Ya, ini sebatas renungan saja. Betapa kita mesti berusaha untuk konsisten dan memohon pertolongan Allah Jalla Jalla Luhu agar senantiasa istiqamah di jalan yang diridhai-Nya. Amin Allahumma amin.

Maap, maapin ya kalo ade salah-salah kate… Wassalamu’alaikum warahhmatullah wabarakaatuh.

Mine.

Iklan

10 Responses to Pak Mahfud MD…Itu Pak.

  1. abu aisyah berkata:

    “Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.”

  2. abu aisyah berkata:

    “Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.”

  3. abu aisyah berkata:

    Demikian perkataan Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah, Lihat Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178.

  4. abu aisyah berkata:

    Pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Thâlib radhiallahu’anhu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, “Kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah, sedangkan pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar tidak?” ‘Ali radhiallahu’anhu menjawab, “Karena pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar yang menjadi rakyatnya adalah aku dan Sahabat yang lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian.”

    Dikutip dari: remajaislam.com/islam-dasar/jalanku/156-pemimpin-cerminan-dari-rakyatnya.html

  5. tofik_s83@yahoo.com berkata:

    “Di sini senang, di sana senang”, sama bermasalahnya dengan “disini buruk, di sana buruk”
    Waspadalah….

  6. abisyakir berkata:

    @ Abu Aisyah…

    Jazakallah khair Akhi atas kutipan tulisan yang Antum sampaikan. Selain dalil-dalil yang Antum sampaikan itu, penting juga Antum mencermati beberapa dalil kecil yang saya sebutkan berikut ini:

    =] Rasulullah Saw saat di Makkah pernah mengundang tetua-tetua Quraisy di bukit Shafa. Lalu mereka diajak untuk menerima “Laa ilaha illa Allah”. Tetapi mereka menolak. Malah Abu Lahab membantah Nabi dengan perkataan “celaka kamu Muhammad”. Kemudian turun Surat Al Lahab. Disini Nabi sengaja mengumpulkan tetua-tetua Quraisy, karena mereka punya pengaruh besar di masyarakatnya.

    =] Saat dalam tekanan hebat di Makkah, Nabi Saw memerintahkan sebagian Sahabat Ra dipimpin Ja’far bin Abu Thalib untuk menemui Raja Najasyi di Habasyah. Mereka diperintahkan meminta suaka kepada Raja Najasyi, bukan untuk meminta suaka ke rakyat Habasyah. Mengapa harus ke Raja?

    =] Dalam kasus Abu Dzar Al Ghifari dan Thufail Ad Dausy Radhiyallahu ‘Anhuma, mereka berhasil membawa sukunya untuk masuk Islam. Demikianlah memang perintah Nabi, agar mereka kembali ke suku masing-masing dan mendakwahkan Islam kepada mereka. Lihatlah betapa besar pengaruh dakwah mereka.

    =] Beberapa lama sebelum hijrah, Nabi Saw bertemu tetua-tetua Madinah yang menunaikan haji ke Makkah. Lalu terjalin ikatan loyalitas yang kemudian dikenal dengan sebutan Bai’at Aqabah I dan II. Mengapa harus menjalin ikatan dengan tetua-tetua Madinah? Mengapa tidak dengan rakyat jelata Madinah saja?

    =] Saat Nabi belum hijrah ke Madinah, beliau mengutus Mus’ab bin Umair Ra untuk dakwah ke Madinah. Di tangan Mus’ab ini -atas izin Allah- dua orang tokoh besar Madinah masuk Islam. Mereka adalah Sa’ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair Radhiyallahu ‘Anhuma. Setelah kedua pemimpin masuk Islam, maka rakyat Madinah begitu mudah masuk Islam (atas izin Allah).

    =] Salah satu sebab yang membuat masyarakat Kota Makkah mudah masuk Islam, ialah masuk Islamnya tokoh-tokoh Makkah seperti Khalid bin Walid, ‘Amru bin Al ‘Ash, Abu Sufyan bin Harb, Hindun binti Utbah, Radhiyallahu ‘Anhum. Hingga ketika Fathu Makkah, Rasulullah Saw mengatakan, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, dia selamat (dilindungi).

    =] Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyyah, Rasulullah Saw manfaatkan kesempatan untuk mendakwahi raja-raja di sekitar Jazirah Arab. Beliau mengirim surat kepada Kisra Persia, Hiraklius di Konstantinopel, Najasyi di Habasyah, Mukaukis Raja Syam, Raja Oman, dll. Mengapa Rasulullah tidak mengirim surat ke rakyat negeri itu satu per satu, mengapa harus ke para pemimpinnya?

    Singkat kata, kedudukan para pemimpin itu amat sangat menentukan. Sehingga Nabi Saw berkata, “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyatih” (setiap kalian adalah pemimpin, setiap kalian akan ditanya tentang ihwal kepemimpinanya). Sehingga para Salaf mengatakan, “Andaikan aku punya doa yang mustajab, tentu akan aku doakan para pemimpin.” Sebab jika pemimpin itu baik, rakyatnya akan baik pula. Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Siyasah As Syar’iyyah mengatakan, kurang lebih: “Agama ini dijaga oleh tiga perkara: harta, sultan, dan jihad.”

    Pernyataan Ibnul Qayyim Al Jauziyyah di atas, tidak bisa dipahami secara ekstrem. Itu sama saja dengan menyalahi Syariat dan Sunnatullah. Antum lihatlah dengan baik, bagaimana cara Allah memperbaiki keadaan manusia dari jahiliyyah menuju Islami? Yaitu, dengan menurunkan para Nabi dan Rasul, termasuk Rasulullah Saw. Hal ini menjadi ibrah, bahwa masyarakat itu diperbaiki dengan datangnya pemimpin-pemimpin yang shaleh, jujur, beriman, dan taqwa kepada Allah Ta’ala. Ungkapan Ibnul Qayyim itu bisa dimaknai: suatu nasehat agar kaum Muslimin memperbaiki diri, agar nanti setelah itu Allah berkenan memperbaiki keadaan bangsa dan negaranya. Jadi bukan untuk menafikan pentingnya kepemimpinan.

    Hingga ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, para penggembala di kaki-kaki gunung menyaksikan kejadian ajaib, dimana disana srigala tiba-tiba berkawan dengan domba. Mereka berkata, “Demi karena telah muncul pemimpin yang saleh, maka srigala itu berkawan dengan domba.” Saat Umar bin Abdul Aziz wafat, para penggembala domba sudah tahu. Mengapa? Karena tiba-tiba domba mereka diterkam srigala lagi.

    Semoga Allah Ta’ala memberi kita ilmu, hikmah, dan pemahaman yang lurus. Allahumma amin.

    AMW.

  7. via berkata:

    Ya bener itu,,
    Aneh mmg,
    byk agg Dewan, ketua mahkamah ini mahkamah itu serta pemangku kepentingan lain yg mengatakn bhw: pemerintah tidak becus/kacau/etc,…..
    Mereka tdk sdr bhwa mrk jg bagian dr pemerintah. Gaji mrk dibayar bkn utk mkritik pemerintah, tp ikut serta berbuat. Yg berhak mengkriitik adl masyarakat. Bukan “mengkritik”pun namanya, tp “menyarankan”…
    Apakh menghujat/mengadu domba ada pd diri rasul? Tidak. Mk dr itu coba teladanilah sifat2 beliau, berprilakulah yg islami jk anda bener2 islam sejati…

  8. abu aisyah berkata:

    Betul sekali ustadz, ungkapan Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah diatas memang bukan untuk menafikan pentingnya kepemimpinan. Akan tetapi sebagaimana yang antum katakan yakni suatu nasehat agar kaum Muslimin berusaha memperbaiki diri, agar nanti setelah itu Allah berkenan memperbaiki keadaan bangsa dan negaranya.

    Ketika saya membaca kutipan artikel diatas pada bagian: “Rusaknya suatu masyarakat, karena pemerintahnya rusak.” Saya terdorong untuk menyampaikan ungkapan Ibnul Qayyim tsb.

    Dan alangkah baiknya, sebagaimana yang sudah antum sebutkan juga diatas, dengan semakin meluasnya dakwah dari para da’i yang mengajak manusia kepada Allah sehingga muncul masyarakat yang mau meneladani salafushshalih seperti Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah yang berkata:

    “Jika aku mempunyai do’a yang mustajab, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.” ia ditanya: “Wahai Abu ‘Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata: “Apabila do’a itu hanya aku tujukan untuk diriku sendiri, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”

    Dan sungguh hal ini butuh keikhlasan tingkat tinggi.

  9. Rakai Pikatan berkata:

    Lalu masing-masing berusaha menyangkal.

    Ustadz tukang menyangkal :
    Bukan kami yang rusak. Kami sudah memberi masukan, tapi pemerintah saja yg gak mau mendengar masukan kami. Bukan kami yang rusak, tapi rakyat memang susah dididik. Hampir kering air liur kami berceramah, tapi rakyat gak mau berubah juga. Capek dech…(tidak lupa mengutip QS. 2:7)

    Pemerintah tukang menyangkal :
    Bukan kami gak mau mendengar. Masukan mereka saja yang gak mutu. Gak pernah konkrit. Kalau kami paling tidak, seseorang hanya bicara sesuai kompetensinya. Gak ada dokter bicara masalah teknis transaportasi, misalnya. Lha ini … ustadz bicara segala hal seakan-akan ia maha tahu. Ustadz bicara pengairan, pertanian, transportasi, energi, kesehatan, media, komunikasi, perdagangan, pertahanan, iptek, sepakbola, kesenian, budaya. Bisa ditebak, boro-boro bisa disebut masukan, ujung-ujungnya itu tidak lebih dari gerutuan. Normatif dan dangkal. Maka berlaku adagium di kalangan ilmuwan ‘orang yang bicara segala hal sesungguhnya ia tidak ahli dalam segala hal’.

    Rakyat tukang menyangkal :
    Kalaupun kami memang rusak, itu disebabkan pemimpin dan ulama itu yang rusak duluan. Begitu khan kata Pak Mahfudz ?

  10. abisyakir berkata:

    @ Rakai Pikatan…

    Saya tidak paham ke arah mana komentar Anda ini. Tapi saya anggap ia kritik buat saya, sebagai pengelola blog ini. Jazakillah khair, sudah diingatkan. Jangan segan-segan untuk berbagi nasehat dan masukan; setiap hal yang dilandasi niat baik, insya Allah berterima di sisi kami. Alhamdulillah.

    Saya coba komentari bagian ini:

    Lha ini … ustadz bicara segala hal seakan-akan ia maha tahu. Ustadz bicara pengairan, pertanian, transportasi, energi, kesehatan, media, komunikasi, perdagangan, pertahanan, iptek, sepakbola, kesenian, budaya. Bisa ditebak, boro-boro bisa disebut masukan, ujung-ujungnya itu tidak lebih dari gerutuan. Normatif dan dangkal. Maka berlaku adagium di kalangan ilmuwan ‘orang yang bicara segala hal sesungguhnya ia tidak ahli dalam segala hal’.

    Ya…anggaplah saya sudah mengomentari segala masalah, seperti yang Anda sebutkan itu. Maka berikut ini tanggapan yang bisa saya sampaikan:…

    1. Sebenarnya, konsep pengetahuan dalam Islam itu bersifat HOMOGEN sekaligus HETEROGEN. Homogen dari sisi pokok-pokok akidah dan kaidah fiqih. Tetapi heterogen dari sisi pengembangan. Bahan bakunya sama, tetapi sisi pengembangan bisa merambah aneka persoalan.

    2. Para ulama Muslim di masa lalu seperti Al Kindi, Ibnu Rusyd, Al Khawarizmi, Ibnu Hayyan, Al Jabar, dan lain-lain. Mereka menguasai berbagai bidang keilmuwan berbeda-beda, seperti bahasa, fiqih, matematika, astronomi, biologi, kedokteran, dll. Tetapi pada saat yang sama mereka juga memahami ilmu-ilmu keagamaan seperti tafsir, hadits, fiqih, dll.

    3. Dalam mengelola blog ini, sebagaimana lazimnya sebuah media online, ada pendekatan JURNALISTIK-nya. Dalam pendekatan jurnalistik, seringkali media membahas apa saja yang sedang menarik. Maka itu muncul sindiran “ilmu wartawan”. Tahu apa saja, tetapi tidak terlalu mendalam di semua sisinya. Kalau mau mendalam, ya bicara dengan pihak spesialisnya.

    4. Hampir dalam tulisan-tulisan yang ada disini, kita paparkan fakta, kita paparkan argumen, atau perbandingan. Ya, hal-hal seperti itu harus dilihat. Setidaknya, kalau kami bicara, ada dalil sandaran yang menjadi pertimbangan. Kecuali kalau kami “asbun” asal bunyi. Itu lain cerita. Maka para pembaca bisa melihat bobot suatu masalah dari argumentasinya.

    5. Kalau P Mahfudh sendiri, kalau memang kita batasi dari sisi “ilmu spesialis”. Harusnya beliau concern dengan ilmu hukum-hukum kenegaraan. Jangan bicara lebih jauh dari itu. Bahkan Anda sendiri wahai @ Rakai Pikatan, kalau mau jujur, Anda tidak boleh berkomentar, kecuali sesuai bidang Anda.

    Tetapi disini saya bersikap lapang. Tidak apa-apa kok berkomentar. Kita sama-sama terus membangun dan memberdayakan wawasan, sesuai missi blog ini. Sekali lagi terimakasih atas masukannya.

    Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: