“Ensiklopedi Caci Maki” Seorang Anti Wahabi

April 27, 2012

"Hei Wahabi... Noh Sono Kebun Binatang!"

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Belum lama ini kita menerima “satu paket” caci-maki sangat dahsyat dari seorang Anti Wahabi yang membaca media ini. Kita tidak tahu, siapakah dia (mereka)? Tetapi kalau dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman selama ini dalam menghadapi caci-maki, ini adalah bentuk caci-maki yang paling dahsyat. Kalangan Salafi ekstrem, pendukung PKS, ikhwan Jihadis, atau sekuler sekalipun, tidak sehebat itu dalam serangan verbal mereka. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Teringat sebuah sabda Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam, “Sibabul muslimi fusuqun wa qitaluhum kufr” (mencaci-maki seorang Muslim adalah kefasikan, dan memerangi mereka adalah kufur). Dalam hadits lain, “At taqwa ha huna, bi hasbi imri’in minas syarri an yahqira akhihil Muslim” (takwa itu disini –kata Nabi sambil menunjuk dada beliau- cukuplah seorang Muslim telah berbuat jahat ketika dia menghina saudaranya yang Muslim). Dalam Al Qur’an juga disebutkan, “Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswatun hasanah” (sungguh bagi kalian telah ada dalam diri Rasulullah itu berupa keteladanan yang mulia). Bahkan kalau mau disempurnakan, dalam riwayat disebutkan sabda Nabi, “Inama buits-tu li utammima makarimal akhlaq” (bahwa aku ini diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia).

Andaikan sang pencaci itu memang Muslim, seharusnya dia merasa malu kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kaum Muslimin; karena dia telah membuat sejarah, yaitu menyusun “ensiklopedi caci-maki” yang luar biasa. Caci-maki itu sampai sebanyak 74 poin, dihiasi dengan kata-kata kasar, vulgar, hujatan, dan sebagainya. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa li sa’iril Muslimin.

Sebelum disini dimuat “ensiklopedi caci-maki” tersebut, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan, yaitu sebagai berikut:

[1]. Himpunan caci-maki ini tidak jelas siapa pengirimnya, dari mana asalnya, dan ditujukan kepada siapa caci-makinya? Apakah caci-maki itu ditujukan untuk Ustadz Hartono Ahmad Jaiz? Atau untuk Ustadz Yazid Jawwas dan murid-muridnya? Atau untuk diri saya sendiri (AMW)? Kalau caci-maki itu ditujukan untuk saya, maka responnya ada dua: Pertama, aku istighfar memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan yang membuat-Nya tidak ridha kepadaku. Kedua, aku ucapkan terimakasih kepada pihak pencaci-maki, karena dia telah sangat berjasa membantu saya mengurangi timbunan dosa dan kesalahan. Sekali lagi terimakasih.

[2]. Dari 74 poin masalah yang diutarakan oleh si pencaci-maki, alhamdulillah sebagian besarnya bisa direspon, diberikan ulasan, atau minimal didiskusikan. Tetapi karena cara-cara yang ditempuh sangat kasar, vulgar, jauh dari adab-adab akhlak mulia; maka dengan sangat menyesal, saya tidak perlu menanggapi poin-poin itu. Bukan karena tidak ada jawaban, tetapi TIDAK MAU melayani cara-cara seperti itu. Orang-orang yang dianugerahi akhlak luhur tidak perlu melayani caci-maki orang tidak berpengetahuan. Dalam Al Qur’an, “Wa idza khathabahumul jahiluna qaluu salama” (apabila orang-orang jahil berkata-kata terhadap mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang membawa keselamatan).

[3]. Dalam sebagian poin “ensiklopedi caci-maki” itu sebagian orang (mungkin termasuk saya) dituduh telah memvonis Habib Rizieq sebagai Syiah. Padahal tidak ada vonis seperti ini. Ia tidak ada buktinya. Dalam tulisan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz pun hanya disebut “cenderung Syiah”. Begitu juga, ada tuduhan bahwa kalangan Wahabi telah mengkafir-kafirkan pengikut paham Asy’ari. Hal ini tidak benar. Paling jauh, seperti sikap Ustadz Yazid dan kawan-kawan, sifatnya menyesatkan; bukan mengkafir-kafirkan, apalagi terhadap ulama-ulama besar Asya’irah. Tampaknya, si penyusun “ensiklopedi” senang menunggangi kata-kata takfir; padahal dia sendiri dalam tulisan itu jelas-jelas telah mengkafirkan kalangan “Wahabi”.

[4]. Dalam sebagian poin “ensiklopedi” itu disebutkan bahwa kalangan Wahabi sudah memalsukan kitab-kitab ulama. Andaikan tuduhan itu kita terima, maka HAKIKAT yang diubah adalah sebagian perkataan ulama atau isi kitab mereka. Bagaimanapun, perkataan ulama bukanlah dalil Syariat. Ia bisa diterima jika sesuai Kitabullah dan Sunnah; dan mesti ditolak jika tidak sesuai dengan keduanya. Maksudnya, sebagai Muslim rujukan dasar kita adalah Kitabullah dan Sunnah; lalu dibantu dengan metode, penafsiran, serta pendapat ulama Salafus Shalih. Mestinya, perbuatan mengubah sebagian perkataan ulama itu, meskipun ia tetap merupakan kesalahan; tidak dibawa ke arah pengkafiran, penghujatan, caci-maki, serta penghinaan kepada sesama Muslim. Toh untuk pengubahan sebagian teks itu, mereka punya alasan minimal, yaitu mengikuti madzhab yang mereka yakini. Hal demikian tidak boleh dikafirkan, kecuali kalau madzhab mereka sesat seperti Rafidhah, Jahmiyah, Ahmadiyah, Liberal, dan sebagainya.

[5]. Anggaplah paham Wahabi berbeda dengan paham Asy’ariyah; atau paling jauhnya paham Wahabi dianggap sesat oleh Asy’ariyah. Andaikan demikian, apakah hal itu lalu mengeluarkan kalangan Wahabi dari ajaran Islam, sehingga mereka berhak mendapatkan paket caci-maki yang sangat dahsyat itu? Bukankah Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Al muslimu man salima al muslima min lisanih wa yadih” (ukuran seorang Muslim itu ialah siapa saja yang Muslim lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya). Jika orang-orang yang anti Wahabi itu meyakini kebenaran hadits ini, lalu mengapa mereka melepaskan kendali amarah, kebencian, serta kemuakan tak terkira kepada kalangan Wahabi (sesama Muslim)? Apakah mereka sudah haqqul yakin hendak mengkafirkan Wahabi? Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

[6]. Pada intinya, manusia yang sehat bisa dilihat dari sikap, perkataan, dan perbuatannya. Begitu juga, manusia yang mengalami SAKIT PSIKIS bisa dilihat dari perbuatan, perkataan, dan sikapnya. Jangan terlalu berduka menghadapi kelakuan “orang sakit”; sebab kalau mesti berduka, akan terlalu banyak air-mata menetes untuk menangisi orang-orang gila yang bertelanjang badan di jalan-jalan. Yakinlah selalu akan firman Allah, “Wa laa yahiqul makrus saiyi’u illa bi ahlih” (dan tidaklah makar jahat itu akan mengenai, kecuali pelakunya sendiri). [Faathir: 43].

Baiklah, berikut ini ensiklopedi, koleksi, museum, himpunan, atau apalah; seputar caci-maki seseorang kepada sasaran “Wahabi”. Entahlah, siapa yang dimaksud dengan Wahabi disini. Hanya Allah yang Tahu pasti. Tulisan ini dikutip utuh tanpa ada tambahan dan pengurangan, kecuali pemberian judul. Selamat membaca, selamat mencermati, dan selamat bersabar atas kelakuan orang-orang “berakhlak mulia”! Semoga Allah menyelamatkan kita dari gelap-gulita fitnah di dunia, di alam kubur, dan di Akhirat kelak. Amin Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Baca entri selengkapnya »


Klarifikasi dari Seorang Pendukung Syiah

April 24, 2012

Bismillahirrahmaaniirahiim.

E-mail dari Anggoro Winindito, tanggal 17 April 2012. Dengan subyek: “Tanya mengenai sumber/daftar pustaka tulisan: Pernahkah Syiah Melawan Zionis”.

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berpikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan jika Anda memiliki pendapat, arahkanlah dunia dengan kata-kata. (Sumber: Khalid Muhammad Khalid dalam “Berdamai dengan Dunia: 10 Nasihat untuk Memenangkan Hidup”. Khalid ialah pengarang buku 60 Kisah Sahabat Nabi).
Assalammu’alaikum WrWb.

Pak Waskito yang terhormat, semoga Allah memberikan rahmatNya kepada kita berdua. Saya ingin bertanya lebih jauh mengenai sumber-sumber yang Bapak gunakan untuk menulis. Karena tuduhan Bapak itu begitu luar biasa… bahkan menjurus kepada sesuatu yang keji. Bapak tahu bahwa kita tidak boleh untuk mendiskreditkan saudara kita atau bahkan menuduh jelek saudara kita tanpa bukti dan fakta yang jelas dan tepat. Mohon Bapak kirimkan sumber-sumber dari tulisan Bapak.

Berikut adalah Tulisan Counter saya untuk menjawab mengenai tuduhan terhadap Kaum Syiah. Mohon dicermati agar Bapak menjadi tidak terlalu benci terhadap Kaum Syiah ini. Karena bila suatu tulisan dilandasi oleh kebencian yang berlebih (walau tidak disadarinya) jadilah ia kumpulan tuduhan yang sangat menyudutkan suatu kaum. Karena menurut AlQuran, Surat Al-Maidah : 8 : “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil”. Berlaku objektiflah/adil dan pahami suatu kaum itu dari sudut pandang mereka juga.

[RESPON ADMIN: Pak Anggoro, sebagian referensi yang bisa Bapak baca, antara lain: “Pengkhianatan Pengkhianatan Syiah: Dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Ummat Islam”. Karya Dr. Imad Ali Abdus Sami’. Kemudian buku, “Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Turki Utsmani”, karya Prof. Ali Muhammad As Shalabi. Dalam buku pertama disebutkan pengkhianatan Daulah Fathimiyah di Mesir dan rencana mereka untuk membunuh Shalahuddin Al Ayyubi. Dalam buku kedua disebutkan berbagai makar, serangan, permusuhan Syiah Persia terhadap Khilafah Turki Utsmani].

________________________________________________________________________

 

KLARIFIKASI TULISAN “PERNAHKAH SYIAH MELAWAN ZIONIS”.

Anggoro Winindito menyebut sumber tulisan dari Arrahmah.com, publikasi 23 Januari 2012, yang berjudul: “Hakekat Ahmadinejad: Mengungkap Tabir Hitam Pemimpin Syiah Ahmadinejad”. Karena tulisan ini cukup panjang, akhirnya tidak dimuat disini. Silakan pembaca merujuk kepada tulisan tersebut di Arrahmah.com. Disini langsung disebut klarifikasi yang disampaikan oleh Anggoro Winindito:

Berita Ahmadinejad berikut adalah hoax atau tidak bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya: Menjudge tanpa bukti-bukti yang kuat adalah hal yang tidak pada tempatnya. Hanya karena memang Syiah itu bermusuhan karena menjelek-jelekan para Sahabat, tidak bisa begitu saja dibesar-besarkan menjadi generalisasi bahwa Syiah itu adalah musuh besar kita. Berikut adalah klarifikasi saya berdasarkan logika dan hasil penelusuran saya lewat internet.

[RESPON ADMIN: Menjelek-jelekkan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum bukan masalah “hanya”. Tapi ini masalah besar dalam Islam. Tidak ada Islam, tanpa Shahabat. Maka menjelek-jelekkan Shahabat sama saja dengan meruntuhkan Islam itu sendiri. Maka tidak salah jika Abu Zur’ah Ar Razi menghukumi orang yang menjelek-jelekkan Shahabat sebagai zindiq (atheis). Siapa yang diharamkan hatinya untuk mencintai, memuliakan, meneladani, dan mendoakan Shahabat Nabi; mereka diharamkan dari kebaikan Islam. Tidak ada kebaikan Islam dalam caci-maki, celaan, dan menjelek-jelekkan Shahabat].

(1). Keturunan Yahudi. Pada 2009 Telegraph.co.uk—harian berita dari Inggris—menurunkan berita yang cukup mengejutkan. Sebuah foto Presiden Iran Ahmadinejad sambil mengangkat kartu identitasnya selama pemilihan umum Maret 2008 dengan jelas menunjukkan keluarganya memiliki akar Yahudi. Dokumen close-up itu mengungkapkan dia sebelumnya dikenal sebagai Sabourjian – atau kain tenun dalam arti nama bahasa Yahudi.

KOMENTAR Anggoro: Bukankah berita ini sama dengan berita Obama yang Ayahnya adalah keturunan Islam? Bila memang Ahmadinejad dekat dengan keluarga Zionis Yahudi? Bukankah seharusnya kita tahu dari dulu, bahwa akan ada banyak perusahaan Zionis Israel di Iran sebagaimana layaknya di Amerika? Di buku-buku tentang konsiprasi Zionis Yahudi banyak dibeberkan mengenai kaum Zionis Amerika yang berkecimpung di Senat Amerika dan berpihak kepada Zionis Yahudi? Apakah di Iran Ahmadinejad dikepung oleh orang-orang Zionis Yahudi sebagaimana Obama dikepung oleh Zionis Yahudi dan Zionis Kristen? Apakah telah ada banyak buku yang mengungkapkan hal ini? Menurut saya tukilan hanya dari satu sumber yaitu Telegraph.co.uk itu tidaklah bisa dipercaya! Karena hanya ada 1 sumber dan kredibilitasnya belum bisa dipercaya.

(RESPON ADMIN: Kalau membaca data Telegraph itu, ia adalah data unik. Karena ia diperoleh secara tidak sengaja. Siapa yang menyangka, bahwa saat Ahmadinejad mengangkat kartunya, ternyata kartu itu di-scan, diperbesar, dan dibuat penafsiran. Ini bukan satu data. Tentu banyak data-data lain, misalnya di Iran banyak berdiri sinagog-sinagog, disana banyak kaum Yahudi bisa menikmati kebebasan. Data lain yang sangat menakjubkan, Israel atau Amerika seolah tidak cemas dengan persenjataan nuklir Iran. Padahal dalam kasus Irak, mereka begitu nafsu menyerang Irak, hanya karena disana diduga ada senjata pemusnah missal. Mengapa perlakuan kepada Iran dan Irak berbeda? Harusnya itu dibaca. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan di balik sikap toleran Amerika-Israel ke Iran selama ini).

Baca entri selengkapnya »


Curhat Seorang Muslimah: Seputar Komersialisasi Dakwah!

April 14, 2012

Tulisan ini dimuat sebagai sebuah bentuk apresiasi terhadap kepedulian, sikap kritis, dan harapan-harapan seorang Muslimah yang disampaikan dalam salah satu komentarnya. Sudah dilakukan proses editing pada bagian-bagian tertentu. Semoga ungkap hati atau curhatan ini bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk berbuat lebih baik. Amin Allahumma amin. Selamat membaca! _________________________________________________________________

"Kamu mau dakwah, apa nyari duit, Nak?"

Terus terang, komentar saya sebelumnya bukan karena apriori, tetapi itu berdasarkan pengalaman-pengalaman.

Waktu SD, dimana wali kelas kita sendiri ngasih contekan ujian akhir. Pengalaman adikku yang waktu itu juara umum di sebuah SMU, dimana dia ditekan oleh guru-guru disana agar ngasih contekan ke semua teman-temannya. Di hari pertama ujian akhir dia menolak ngasih contekan, dan beberapa temannya mengadu ke guru. Ajaibnya, yang dimarahi justru adikku. Dan cukup banyak cerita-cerita seperti ini yang kita dengar, atau mungkin kita pernah mendengar kasus Bu Siami di Surabaya yang menghebohkan itu.

Tapi  saya pun sama sekali tak bermaksud menafikan guru-guru yangg ikhlas mengajar. Hanya saja, cara-cara seperti ini ternyata cukup banyak disetujui oleh sekolah-sekolah kita.

Suamiku disini sering dipercaya jadi ketua panitia tabligh akbar. Waktu remaja saya pernah diajak ikut mengundang (penceramah) buat mengisi acara tabligh. Kadang kita harus menyesuaikan acara tabligh di tempat kita dengan mubaligh yang mau kita undang (dikarenakan jadwal undangannya padat). Walaupun ada kyai yang beranggapan kalau kita merayakan Maulid, nanti arwah Rasulullah akan datang ke tempat tersebut. Ketika ditanya, “Tapi kan Pak Kyai, banyak yang merayakan acara Maulid. Nanti arwah Rasulullah jadi bingung?” Pak Kyai menjawab, “Oh, nanti arwah Rasulullah akan datang ke perayaan Maulid yang diinginkannya. Mudah-mudahan tempat kita lah saat ini yang didatangi arwah Rasulullah.” Jawaban dari seorang Kyai yang aneh dan lucu.

Tapi sebenarnya, cukup banyak kyai/ustadz dari kalangan (yang suka Maulid) yang tahu kalau acara Maulid atau Rajaban bukanlah Syariat ajaran Nabi. Tapi mereka tetap menganggap itu suatu “sunnah”. Ternyata, alasan sebenarnya karena bulan Maulid dan Rajaban adalah masanya “panen” (honor dari jamaah –edt.).

Bila di bulan itu seharinya ada 5 undangan tabligh yang datang, sedangkan sang kyai maksimalnya hanya sanggup mengisi 3 saja; kalau bayarannya rata-rata 3 juta; berapa seharinya dia dapatkan kalau dikalikan sebulan!?! (9 juta kali 30 hari, sekitar 270 juta –edt.).

Kalau saya berpandangan, bahwa para juru dakwah dan lembaga-lembaga Islam seperti itu (karena saya mungkin lebih banyak melihat apa yang ada di sekitaran saya) lumayan banyak tahu soal tarif ustadz-ustadz kondang. Termasuk Habib-habib yang pro Syiah, karena kami dan rekan-rekan kami (sesama panitia penyelenggara tabligh, sering sharing soal ini).

Kami cukup sering mengalami pengalaman aneh, misalnya soal kyai yang protes karena uang amplop-nya katanya “tidak seperti biasanya”. Bahkan kami dengar curhatan Pak Lurah daerah sini. Beliau bercerita, “Pak Kyai, nanti ceramah di tempat saya ya. Tapi saya bisanya ngasih cuma 2 jt.” Jawaban Pak Kyai, “Aah Pak Lurah ini, tambah 1 juta lagi dong!” Seketika itu Pak Lurah langsung diam seribu bahasa. Pak Lurah menceritakan ini karena di masjid kami pernah ngondang kyai tersebut. Pak abisyakir kalau tidak percaya cerita ini datanglah ke kantor kelurahan di tempat kami, tanya langsung sama lurahnya. (Editor: Percaya Bu, yakinlah saya percaya kok. Kalau saya datang ke kelurahan itu, ntar disuruh bikin KTP lagi. He he he…).

Seorang rekan kami yang kerja di perusahaan. Dia bercerita, karena termasuk panitia acara. Perusahaannya akan mengadakan acara tabligh akbar. Mereka sudah sepakat mau ngondang kyai fulan yang sudah sangat terkenal di kota ini. Sudah deal semuanya 10 juta, sekali tabligh. Tapi belakangan sang kyai tahu kalau acara tersebut disponsori Kopi Torabika, karena evennya memang acara besar. Kyai tersebut minta honor dinaikan jadi 25 juta. Katanya untuk acara besar ya tarifnya segitu. Kalau 10 juta itu untuk tabligh yang biasa saja. Karena kyainya keukeuh hayang sakitu wae (ngeyel maunya segitu saja –edt.), akhirnya pihak panitia memutuskan mencari kyai kondang lain yang mau dibayar 10 juta.

Ada lagi. Dimana waktu itu pas Pak SBY mau nyalon lagi jadi Capres (entah ini kampanye atau apa, karena seingatku waktu itu belum masuk masa kampanye). Terus terang Pak, keluarga saya kebagian satu bus (yang ikut itu kyai, ustadz  semuanya, dan saya sudah pasti tak ikut karena saya bukan ustadzah) untuk datang ke Sentul City. Katanya, acara silaturrahmi bersama Bapak SBY. Mereka memberi transportasi dan makan gratis, dan semua yang ikut masing-masing dikasih amplop berisi 50 ribu…

Terus ada lagi seorang kyai (pernah masuk TV lokal) yang ngasih saran, “Kalau mau jadi ustadz itu harus punya gelar. Walau tak begitu kondang, tapi kalau punya gelar, sekali undangan tabligh itu bisa dibayar minimal 1 juta. Coba kalau cuma ustadz kampung, sekali tabligh rata-rata palingan cuma 100 ribu.” (Editor: Waduh, aku masuk kategori ustadz kampung dong? He he he…).

Remaja masjid di tempat kami yang punya grup Hadroh, pernah diajak Habib (yang ganteng dan masih muda, spanduknya dipajang besar-besar di sekitaran kota ini) untukk ngisi hadroh-nya (semacam nyanyi-nyanyi lagu pujian diiringi rebana –edt.).

Ketika remaja masjid itu ditanya, “Habib-nya dibayar berapa?”

Jawab mereka, “Habib-nya dibayar 12 juta.”

Ditanya lagi, “Lalu kalian dapat berapa?”

Jawabnya, “Kita tidak mendapat sepeser pun.”

Ditanya lagi, “Iiih, kok kalian mau-maunya?”

Jawabnya, “Tak apalah dia kan Habib, turunan Nabi.”

Ya walaupun mencoba dijelaskan ke mereka, benar atau tidaknya Habib itu turunan Nabi. Tapi kalau mereka sudah fanatik susah juga. Kan tak sedikit juga wanita-wanita pengikut Habib yang mau dipoligami dan siap jadi istri ke berapapun, asalkan bisa punya anak turunan Habib (Nabi) katanya. Dan kyai yang pernah begitu dekat dengan keluarga kami. Dia pun sudah 2 periode ini jadi anggota dewan dan keluargaku pernah ikut-ikutan jadi tim suksesnya. Kami tahu dia dikasih uang “sedikit lagi mendekati 1 M” oleh seorang Capres agar mendukungnya!

Sebenarnya masih banyak pengalaman-pengalaman aneh lainnya. Tapi mungkin benar kata Bapak, tidak baik kalau borok itu dikorek terlalu dalam.

Dan yang paling mengherankan, “Ternyata masyarakat justru akan sangat heran sekali apabila ada juru dakwah yang tidak mau dibayar sepeser pun. Apalagi kalau sang juru dakwahnya itu malah ngasih sumbangan ke masyarakat. Kenapa ya?”

Makanya saya setuju kalau ada ungkapan: “Ustadz begitu, Umat begitu.” Kenapa ustadz-ustadz yang ceramah di TV, di hadapan pemimpin, di hadapan umat. Tapi sepertinya tidak bisa mengubah baik itu siaran Tv, pemimpin, dan umat menjadi lebih baik. Mungkin karena ustadz-ustadz itu sendiri yang menghargai dirinya dengan beberapa rupiah saja!! Dakwah yang tulus ikhlas dari hati akan mengena di hati. Dakwah demi dunia yang diibaratkan Rasulullah seperti bangkai kambing cacat, maka kita pun tahu hasilnya bakalan kayak apa?!

Terus terang saja Pak, kalau mau mengkritik orang yang sudah menjual agamanya demi nafsu dunia yang tak seberapa, justru itu paling SUSAH. Dikasih dalil apapun sulit mempan!

Boleh jadi mereka-mereka yang seperti ini yang menjadi, ibaratnya penyakit kanker di tubuh Islam itu sendiri. Mereka inilah kemungkinan yang akan terdepan menolak tegaknya Islam yang haq, bukan kaum kafir!

Soal mengkomersilkan dakwah, sebenarnya sudah ada beberapa yang menyoroti hal ini, seperti karya tulis Ustadz Abu Umar Basyir yang judulnya: “Menjadi Kaya dengan Berdakwah” dan “Pesantren dan Dakwah Islam di Indonesia”, juga dosen dari UIN, dll.

Kalau bicara soal lembaga-lembaga pendidikan, jadi agak dilematis. Kami tahun lalu survei SDIT-SDIT terkemuka di kota ini (dari sekitaran Bandung sampai Cimahi, dari SDIT yang terkenal sampai yang katanya paling murah). Kami juga cari tahu Ma’had-ma’had yang katanya itu Ahlusunnah sebenarnya. Dan akhirnya, kami harus bertrimakasih kepada pemerintah yang mensubsidi wajib belajar 9 tahun, karena lembaga pendidikan inilah yang terbaik untuk anak kami. Karena saat ini keuangan kami tak bisa menjangkau SDIT-SDIT yang katanya bagus-bagus itu. Ma’had-ma’had seperti Imam Bukhori, Bin Baz, Ihyaussunnah, Annajiyah, bahkan Gontor yang sangat terkenal itu, memang tidak diperuntukkan bagi kalangan kami!!!

[Editor: Jangan begitu, Bu! Jangan “lemes” begitu. Setahu saya, Gontor termasuk pesantren yang paling murah. Pertama kali masuk biaya sekitar 3 jutaan (untuk data terakhir saya belum tahu). Kalau dengan keperluan ini itu, ya bisalah mencapai 5 jutaan. Nanti setiap bulan bayar SPP & uang makan sekitar 400-500 ribu. Dibandingkan pesantren-pesantren “Islam terpadu”, Gontor lebih murah. Tetapi memang sistem pendidikannya kolektif (kebersamaan). Perlu diketahui, hampir semua anak yang masuk Gontor, 95 % diterima. Hanya saja, dia nanti ditempatkan di kelas mana, itu nanti berdasarkan prestasi. Ada yang masuk sejak lulus SD (terbanyak), dan ada yang setelah lulus SMP. Biasanya ketika baru masuk, semua pendaftar seperti di-camp dulu di Gontor II Ponorogo. Ini untuk adaptasi dan pembekalan menuju proses belajar normal. Tradisi kegontoran sudah dikenalkan sejak disini].

Tapi di sisi lain, justru lembaga pendidikan milik NU malah lebih terjangkau rakyat kecil. Karena saya pun pernah nyantri di pesantren NU. Keluargaku juga punya pesantren NU, punya pesantren thariqat tasawuf. Sedikit banyak saya tahu apa saja yang diajarkan disana.

Belum lagi lembaga Islam lainnya seperti BMT yang lebih ke bisnis, atau pun yang katnya itu Baitul Zakat. Ternyata kalau kita yang mengajukan sendiri (meminta bantuan) susah dapat tanggapannya. Ada yang mensyaratkan harus jadi anggota dulu, harus ikut kegiatan mereka dulu, harus ikut pengajian mereka dulu. Dan anehnya, ada Baitul Zakat tapi seperti kredit pinjaman (maaf ada bunganya).

Dan lebih aneh lagi beberapa masjid agung kita, entah itu uang kas masjid atau apa (saya tidak tahu), tapi yang pasti beberapa masjid agung bisa memberi bantuan pinjaman uang dengan syarat jaminan BPKB kendaraan. Apakah ada bunganya?! Kata mereka sih bukan bunga, cuma ada “biaya administrasi” atau ‘bayar seridhonya”. Dan ternyata, justru pinjaman dari masjid agung inilah yang jadi favoritnya para kyai & ustadz. Juga dikarnakan pihak masjid agung memang memprioritaskan pemberian pinjaman ke kalangan tersebut.

Tapi, bukan maksud saya menafikan lembaga yang benar-benar ingin menolong umat atau pun menafikan para juru dakwah yang tulus. Tidak, tidak seperti itu. Karena saya tahu benar, masih ada yang jujur, ikhlas hanya mengharapkan upah dari Allah.

Seperti yang saya alami sendiri. Saya mengenal seorang ustadz di daerah tertentu, tinggal di belakang pasar, bekerja sebagai pedagang. Dia mengadakan pengajian di kontrakannya. Semua jamaahnya dibelikan kitab dari uangnya sendiri. Dia ajarkan bacaan Al Qur’an, dia selalu menyediakan sekedar makanan kecil untuk semua jamaahnya, dan walaupun satu orang yang datang dan benar-benar ingin mengaji. Dia begitu memprioritaskan muridnya ini daripada kegiatan lain. Ketika saya Tanya, “Kenapa tidak meminta bayaran. Kan dibolehkan kalau ngajar Qur’an?” Dia menjawab, “Hari gini, orang mau datang ngaji saja sdh bagus sekali.” Juga ada beberapa cerita serupa lainnya!!

Namun masalahnya yang seperti ini hanya secuil kuku, kalau dibandingkan betapa banyaknya masayaarakat Muslim Indonesia; begitu juga ditambah banyaknya pemasalahan umat yang lain; serta semakin dahsyatnya godaan syahwat dan lain-lain.
Jadi, kalau dalam pandangan saya, amat sangat berat cita-cita tegaknya Islam yang haq sebagai sistem di negrri ini. Lalu apakah salah kalau saya mengkritisi juru dakwahnya terlebih dulu (dalam pandangan saya, memang banyak yang kacau)??? Karena juru dakwah sejatinya adalah pewaris Nabi untuk membimbing Ummat.

Cukup sering saya dengar juru dakwah di TV, radio, mendengar langsung… yang mengeluh/mengejek Ummat Muslim di negri ini dengan segala karakter dan kebiasaan jeleknya, Padahal Rasulullah tak pernah mengeluhkan, apalagi mengejek umatnya yang kala itu boleh jadi lebih bejat dari kita. Malah beliau lebih banyak mendoakan kebaikan, berjuang dengan segenap upaya dan menghabiskan seluruh hartanya demi umat, agar mengenal Rabb-nya. “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya….”

Dan bila juru dakwah kita boleh sebebasnya mengkritisi umat, lantas apakah saya sebagai bagian dari Ummat tidak boleh mengkritisi ustadz-nya? Sewaktu saya mengkritisi ustadz Salafi, Pak abisyakir diam saja. Apa kali ini Bapak pun merasa tersinggung? (Kali ini mungkin saya benar-benar apriori/su’uzhon). [Editor: Saya sendiri bingung Bu. Kalau diam, dianggap setuju. Kalau berkomentar, dianggap “bela kawan”. Kalau tidak diam dan tidak berkomentar, dianggap plin-plan. Jadi mesti gimana?]. 😥

Kalaupun saya katakan tak ada juru dakwah yang punya visi-missi dan program unggulan; adalah karena saya mungkin belum menemukan, atau boleh jadi tak akan pernh menemukan visi-missi serta program-program dakwah yang sama seperti Rasulullah. Saya pikir setiap juru dakwah setiap harinya wajib mempelajari Sirah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau Bapak katakan saya sinis… Ya benar sekali, saya sangat sinis sama mereka yang mengkomersilkan dakwahnya, sama seperti rasa sinis Pak abisyakir kepada pemerintah kita yang tidak Islami. (Editor: Oooh, jadi Ibu sering mampir kesini? Kok bisa membuat kesimpulan yang TEPAT begitu. He he he…).

Kalau arti dari sinis adalah tanda tak mampu, mungkin benar juga. Saya jadi sinis kepada lembaga, yayasan yang katanya itu bagus (ahlusunnah) karena sebenarnya saya memang tak mampu menyekolahkan anak saya kesana. Jujur saja, saya merasa tak enak hati menceritakan ini, karena yang saya kritisi di antaranya juga bagian dari keluargaku sendiri.

Semoga sekedar curhat, sharing, atau sumbang opini ini bermanfaat; buat diri kami sendiri, buat pengelola media, maupun buat kaum Muslimin seluruhnya. Allahumma amin.

(Seorang Muslimah di Cimahi).


Isu Revolusi: Jangan Sampai Pejuang Islam Jadi Tunggangan Syiah Rafidhah!!!

April 12, 2012

Catatan Editor: Tulisan ini diedit ulang pada Jum’at, 4 Mei 2012. Isi tulisan yang berkaitan dengan Joserizal Jurnalis dan MER-C ditiadakan. Alasannya, ketika saya menghubungi narasumber dan menceritakan pemuatan informasi tersebut, beliau keberatan. Narasumber tidak mau ada pemuatan. Dengan demikian informasi seputar Joserizal dan MER-C ditiadakan. Harap dimaklumi.

_____________________________________________________

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebelum membaca tulisan ini, mohon pembaca sudi terlebih dulu membaca beberapa artikel di bawah ini:

Para Aktivis Islam Mau Dijadikan “Kuda Troya” oleh Kaum Revolusioner Syiah Rafidhah.

[1]. Syiah, Holocaust, dan Clash Civilization (eramuslim.com).

[2]. Waspadai Revolusi Kalangan Syiah (nahimunkar.com).

[3]. Syiah Indonesia Tengah Mempersiapkan Revolusi (eramuslim.com).

Tulisan-tulisan di atas saling berkaitan satu sama lain. Benang merahnya, Syiah Rafidhah tampaknya sedang merancang sebuah revolusi di negeri ini, terinspirasi oleh Revolusi Rafidhah di Iran tahun 1979 lalu. Mereka bukan mengendarai kendaraan sendiri untuk menggulirkan revolusi itu, tetapi mereka memakai isu para aktivis Islam (mujahidin) yang sudah sangat muak dengan regim sekuler Neolib untuk melancarkan revolusi. Bahkan mereka menjadikan para mujahidin sebagai “kuda troya”. Nanti para mujahidin yang bermandi keringat, lalu mereka yang memungut hasil. Sangat menakjubkan!

Adapun tulisan ini sifatnya hanya sebagai pendukung dan pelengkap data saja. Para Ahlus Sunnah di Nusantara harus segera sadar, betapa sangat berbahaya konspirasi Syiah yang mengatasnamakan “revolusi” itu. Semoga Allah Ar Rahmaan senantiasa memberikan taufiq dan pertolongan untuk menetapi jalan hidup yang diridhai-Nya. Amin Allahumma amin.

Mari kita mulai merunut fakta dan datanya…

[1]. Analisis dari lembaga Islam internasional, Rabithah Ulama Muslimin:

“Gejolak kawasan Timur Tengah akhir-akhir ini rupanya menjadi perhatian Rabithah Ulama Al-Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin)Dalam sebuah Muktamar terbarunya di Istanbul, Turki yang berlangsung dari tanggal 27-28 Rabi’ul Awwal 1432 H baru-baru ini, Rabithah Ulama Muslim mendukung langkah-langkah reformasi di Tunisia dan Mesir. Acara bertema, “Ulama dan Kebangkitan Umat” yang yang dihadiri lebih dari seratus ulama dan du’at (dai) dari 35 negara itu membahas dan mendiskusikan berbagai topik aktual di Dunia Islam.

Rabithah juga mengingatkan umat Islam dari bahaya konspirasi global Syi’ah Shafawiyah dengan propagandanya yang menipu; baik itu di Bahrain dan negara lainnya. Syi’ah Shafawiyah adalah Aliansi strategis pemerintah Iran, pemerintah Suriah, kelompok Hizbullah dan kelompok Syiah Irak yang ingin mengembalikan kejayaan dinasti (Syi’ah) Shafawiyah dan Fathimiyah dalam menguasai kekuasaan di semenanjung Arab dan Afrika. (DR Muhammad Bassam Yusuf, penulis buku “Menyingkap Konspirasi Besar Zionis-Salibis dan Neo Syiah Shafawis terhadap Ahlussunnah di Semenanjung Arabia”).

Perhatikan: Ini hasil analisis para ulama Muslim Ahlus Sunnah sedunia. Tidak boleh ada sikap ofensif, meremehkan, atau segala “celetukan” yang bernada mementahkan bayan di atas. Ingat selalu, “Al ulama’u waratsatul anbiya‘” (ulama itu pewaris para Nabi). Kalau kalangan Syiah meremehkan atau mementahkan, wajar saja wong mereka memang mengikuti jalan “begituan”.

[2]. Mungkinkah Syiah Rafidhah akan melakukan revolusi di Indonesia, sedangkan jumlah mereka sangat minoritas? Kalau di Iran atau Irak mungkin saja, tapi di Indonesia apa mungkin? Ini pertanyaan penting. Jawabnya: Kalangan Syiah Rafidhah akan memakai pola seperti di Suriah. Mereka jumlahnya minoritas, tetapi mengendalikan militer untuk menjajah kaum Ahlus Sunnah. Pola mereka bukan seperti di Iran, tetapi seperti di Suriah. Singkat kata, mereka bukan akan memakai jalan demokrasi atau semacamnya, tetapi jalan kekuasaan dan kekerasan militer.

[3]. Apa mungkin Syiah Rafidhah akan main kekerasan? Jawabnya, sangat mungkin. Menurut informasi yang beredar di kalangan aktivis Islam, Syiah Rafidhah di Indonesia telah memiliki apa yang dinamakan “Laskar Al Mahdi”. Ini adalah semacam kekuatan milisi swasta yang sewaktu-waktu bisa diarahkan menjadi organisasi sejenis “Hizbullah” di Libanon itu. Anda perlu ingat juga, saat perayaan Hari Asyura beberapa waktu lalu, ia diadakan di komplek lapangan udara Halim Perdanakusumah. Hebat banget, mereka sudah bisa mengakses fasilitas militer milik TNI.

[4]. Sebagai fakta lanjutan, masih ingat buku “Trilogi Idahram”, khususnya buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”? Dalam buku-buku ini, kaum Salafi-Wahabi oleh Idahram dan Said Aqil Siradj diposisikan sebagai “musuh negara” alias “teroris”. Said Aqil kerjasama dan BNPT (Ansyad Mbai) gandeng-renteng melakukan upaya deradikalisasi. Ansyad Mbai sendiri secara verbal akan menjadikan buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” sebagai rujukan lembaganya. Apa yang bisa disimpulkan? Ini adalah cara main kekuasaan dan kekerasan.

[5]. Coba perhatikan ucapan Idrus Jamalullail yang di sebuah media: “Habib Idrus Jamalulail di acara maulid Nabi (hari Jum’at malam tanggal 3 Februari 2012) mengatakan, peringatan maulid jangan hanya mengejar nasi kebuli, tetapi harus ada target untuk mengangkat Imam untuk kaum Muslimin di Indonesia. “Kalau di dunia ada Imam Khomeini, maka mari di Indonesia kita angkat Habib Rizieq Syihab sebagai Imam kaum muslimin di Indonesia.” Ini adalah signal-signal, bahwa para aktivis akan menjadikan “imam khomeini” sebagai inspirasi gerakan mereka. Kalau benar-benar Ahlus Sunnah, akan sangat risih dengan pernyataan seperti ini. Apa tidak ada inspirasi lain yang lebih baik selain Khomeini?

[6]. Tanggal 12 Maret 2012, di ruang Anggrek Istora Senayan, dilaksanakan acara dialog bertema “Calon Presiden Syariah”. Acaranya sangat meriah sekali dan didukung spirit besar para aktivis Islam. Singkat kata, forum ini berencana menjadikan Habib Riziq sebagai Capres Syariah, dan menggulirkan tatanan negara Indonesia yang berbasis Syariat Islam. Dalam satu pernyataannya, Al Akh Munarman mengatakan: “Kalau nanti kita sudah berhasil mengangkat seorang Capres Syariah, pada hari itu juga kita terbitkan dekrit yang menyatakan di Indonesia berlaku Syariat Islam.” Begitu kurang lebih pernyataan Munarman. Singkat kata, para aktivis gerakan Islam ini insya Allah tulus ingin menegakkan Syariat.

Tetapi menariknya, di sela-sela acara, ada seorang penanya atau sebutlah “penceramah dadakan” berasal dari Bogor. Dalam pernyataannya dia kembali mengangkat nama “Imam Khomeini”. Kata dia, di Indonesia saat ini butuh sosok seperti “Imam Khomeini” untuk memimpin gerakan revolusi. Rasanya sangat risih, mengapa Khomeini lagi Khomeini lagi? Hal ini menjadi signal untuk kesekian kalinya, bahwa ada bayang-bayang Syiah Rafidhah di balik gerakan revolusi yang hendak digulirkan para aktivis Islam itu.

[7]. Bukan kebetulan jika hari-hari ini para aktivis Syiah sangat nafsu menyebarkan ceramah Habib Riziq Shihab yang membantah buku Yazid Abdul Qadir Jawwas yang berjudul “Mulia dengan Manhaj Salaf”. Oleh para aktivis Syiah, buku ini mereka pakai untuk menyerang kaum Wahabi. Nah, itulah liciknya mereka, selalu menggunakan momen untuk menyerang musuh-musuhnya dari kalangan Ahlus Sunnah Salafiyah (baca: Wahabi). Modusnya sama, yaitu masuk dari celah sikap dai-dai Salafi, lalu memanfaatkan hal itu untuk menyerang Ahlus Sunnah secara umum. Modus buku “Trilogi Idahram” kan begitu. Penulisnya masuk dari fakta-fakta kerasnya dakwah ikhwan Salafi, lalu menyerang Ahlus Sunnah secara membabi-buta.

Coba perhatikan kata-kata Habib Riziq dalam ceramah itu: “Buku-buku semacam ini memecah belah umat. Kalau pengarang ini merasa bahwa Wahhabi adalah ajaran yang paling benar, silahkan. Dia menamakan dirinya pengikut Salafi atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama istilah Wahhabi. Kalau dia merasa Salafi Wahhabi paling benar, hak dia. Kalau dia merasa paling suci, hak dia. Kalau dia merasa paling lurus, hak dia. Tapi dia tidak punya hak untuk sesat menyesatkan, kafir mengkafirkan sesama umat Islam. Apalagi umat Islam dari kalangan Asy’ari dan Maturidi yang sudah 1200 tahun lebih secara representatif mewakili Ahlussunnah wal Jama’ah. Wahhabi baru lahir kemarin, terus ingin mengkafirkan Asy’ari. Memang selama ini 1000 tahun yang disebut Ahlussunnah itu siapa? 1000 tahun lebih yang disebut Ahlussunnah  itu adalah Asy’ari dan Maturidi. Wahhabi tidak masuk daftar. Baru muncul belakangan, sudah ingin sesat menyesatkan umat Islam yang tidak sepakat dengan mereka. Innalillahi wainailahi rojiun.” (Sumber: Tanggapan Habib Riziq Terhadap Wahabi dan Syiah).

Lihat pernyataan di atas, bermula dari buku Yazid Abdul Qadir Jawwas, lalu masuk menyerang Wahabi secara keseluruhan. Masya Allah…apakah itu keadilan, Habib Riziq? Bukankah selama ini Anda banyak dibantu, didukung, dipromosikan oleh kalangan Wahabi? Apa sih susahnya membatasi masalah HANYA pada buku Ustadz Yazid Jawwas saja, tanpa harus menempeleng atau memukul kalangan Wahabi? Mestinya Habib Riziq bisa membedakan masalah umum dan khusus, masalah pribadi dan jamaah, masalah ushul dan furu’.

[8]. Perlu diingat juga, pertimbangan geopolitik. Indonesia itu besar, tetapi kekuatan terkonsentrasi di Pulau Jawa. Pulau Jawa luas, tetapi titik pusat kekuasaan di DKI Jakarta. Banyak orang berteori, kalau Jakarta bisa dikuasai, maka Indonesia akan mudah dikuasai. Maka itu pada era tahun 1965 dulu, target revolusi PKI adalah Jakarta. Sedangkan secara sosial-keagamaan, Jakarta bisa dibilang telah dikuasai oleh jaringan Habib-habib. Kalau tidak percaya, turunlah ke Jakarta. Lihat spanduk, baliho, dan aneka acara Mauludan “forever and forever” yang biasa diadakan di Jakarta! Bisa saja, nanti Habib Riziq didukung para Habaib Jakarta untuk melakukan revolusi. Ketika Habib Riziq sudah kedodoran, baru para Habaib akan tampil ke depan untuk merebut kekuasaan Habib Riziq. Ingat, para Habaib di Jakarta memiliki massa pengikut yang sangat banyak sekali.

Dulunya Jakarta ini dikuasai kawan-kawan PKS. Tetapi karena mereka tidak amanah, dan lebih cinta dunia, akhirnya warga Jakarta berpaling ke komunitas “Mauludan forever and forever” itu, yaitu kalangan Habib-habib. Fakta yang tampak selama ini, para penggiat dakwah Syiah Rafidhah di Indonesia juga kalangan Habib-habib asal Hadramaut ini. Salah satu yang disebut-sebut mendukung Syiah ialah Habib Husein Al Attas.  Namun yang bersangkutan menolak dikatakan sebagai Syiah. Dia bahkan menantang mubahalah bagi sesiapa saja yang menuduhnya sebagai Syiah.

[9]. Tampaknya Syiah Rafidhah sangat lihai dalam memainkan peran media. Mereka butuh kekuatan revolusioner untuk mendobrak regim sekuler yang berkuasa. Maka itu mereka memanfaatkan para aktivis dan mujahidin Islam yang pro Syariat, sebagai kuda tunggangan. Para aktivis dan mujahidin hendak dibenturkan dengan pengusa sekuler. Ketika terjadi benturan (yang populer disebut “revolusi”) para aktivis Islam dan mujahidin pada bonyok dihajar oleh penguasa (militer dan Polri). Tetapi aparat juga bonyok juga. Akhirnya, ketika kedua pihak sudah bonyok, Syiah Rafidhah akan masuk memetik hasil. Itulah skenarionya.

Makanya saat ini Syiah Rafidhah sangat giat membangun kekuatan di segala lini. Tujuannya, mempersiapkan diri untuk memetik kekuasaan, setelah para mujahidin dan aktivis Islam bonyok disikat aparat keamanan. Maka itu tak heran, kalau Syiah Rafidhah mendukung isu-isu revolusi ini, tujuannya agar para pemuda Islam terbakar amarah dan emosinya, sehingga hal itu bisa mereka pakai untuk mengambil alih kekuasaan.

Bayangkan, dalam isu revolusi ini, kita sudah mendengar pernyataan-pernyataan SERAM, seperti: “Orang-orang miskin, kalian jangan putus-asa, jangan bunuh diri. Daripada bunuh diri, lebih baik kalian bunuh SBY. Hari ini mahasiswa sudah berhasil menguasai Gedung DPR, kapan kita menguasai Istana Negara? Nanti kalau sudah terpilih Presiden Syariah, kita akan umumnya dekrit bahwa di Indonesia berlaku Syariat Islam. Anggota militer harus mendukung, kalau tidak mendukung, nanti Anda akan kami perangi!” Bayangkan wahai sahabat, pernyataan demikian sudah bermunculan!

[10]. Kita bukan pro “ulil amri” sekuler, tetapi pro Ulil Amri yang tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Itu sudah menjadi akidah dan pilihan kita. Kalau pro “ulil amri” sekuler, nanti kita akan ikut memikul dosa “ulil amri” seperti itu, karena kita tidak mengingkari kemunkarannya. Intinya, kita pro Ulil Amri sesuai Syariat Islam. Tetapi disini ingin diingatkan, betapa bahayanya kalau para aktivis atau mujahidin Islam menjadi “kuda tunggangan” revolusi Syiah seperti yang diungkap oleh Ustadz Hartono Ahmad Jaiz. Jangan sampai kita dikadalin oleh Syiah. Para aktivis Islam yang bermandi keringat (atau bahkan darah), sedangkan Syiah Rafidhah yang memetik hasil.

Ingat peristiwa Revolusi 1998. Ketika itu mahasiswa yang berkuah keringat-darah, lalu yang memetik hasil Abdurrahman Wahid dan Megawati. Amat sangat disayangkan sekali. Kata para ustadz, “Kita ini selalu menjadi pendorong mobil mogok. Setelah mobil berlari, kita ditinggalkan.” Tampaknya Syiah Rafidhah mau memakai cara yang sama terhadap para aktivis Islam.

Disini kita ingin menegaskan: Insya Allah Habib Riziq, FPI, para aktivis dan mujahidin Islam, mereka ini orang-orang yang giat, ikhlas, dan ingin menggulirkan perubahan. Tetapi kalau tidak waspada, mereka bisa dikendalikan oleh tangan-tangan Syiah Rafidhah di balik layar. Lalu mereka yang memungut hasil kekuasaan, sedang kita gigit jari. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Mari kita atur lagi barisan. Mari kita damaikan antara kalangan Asy’ari-Maturidi dan kalangan Wahabi. Jangan membuat perselisihan di antara dua barisan besar ini, sebab Syiah akan memungut hasil dari pertikaian di antara kita. Itulah pesan utamanya. Jazakumullah khairan katsira. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[Ayahnya Syakir].

NB: Sebagian redaksi seputar Husein Al Attas sengaja diperbaiki. Alasannya, seperti tercantum dalam tulisan millis Gheis Chalifah, bahwa tidak ada yang secara meyakinkan bisa membuktikan bahwa Husein Al Attas adalah Syiah.


Siapa Mau Poligami, Nikahi Saja Janda Tua, Sudah Nenek-nenek…

April 4, 2012

Rehat Sejenak Ya... Santai Dikitlah...

Di sebuah negeri yang katanya Muslim, tapi poligami dimusuhi. Di sono ada yang gething (benci banget) ke poligami, tapi juga ada yang nafsu banget. Ada yang sentimen, ada yang candanya “poligami melulu”. Ada yang “sok jantan” di depan kawan-kawan, tapi klepek-klepek di hadapan isteri (baca: Susis tentu).

Ada yang cepet bosen ke isterinya; kalau taklim yang dibahas Surat An Nisaa’ ayat 3 melulu. Tapi ada juga yang selalu cari-cari dalih untuk menolak poligami, dengan alasan “kami ini ahli tauhid” (baca: isteri hanya satu). Ya begitu deh…

Singkat kata, disana ada seorang ustadz muda…(tapi cerita ini bukan beneran lho ya, cuma humor rekaan saja)…dia sering berceramah masalah-masalah agama. Dia bisa membahas masalah tauhid, fiqih, ibadah, muamalah, adab, politik, jihad, dan lainnya. Tapi yang unik, di setiap ceramahnya dia selalu menyelipkan ajakan melakukan ta’addud zaujat (poligami atau poligini yang tepatnya). Mungkin hal itu sudah menjadi ciri kali ya, sehingga dia digelari  “ustadz poligami”. Padahal dia juga belon praktek.

Lama-lama banyak ibu-ibu mulai kasak-kusuk. Mereka berusaha menggalang kekuatan dengan menggandeng para gadis dan remaja putri. Mereka sepakat membentuk Setgab Koalisi “Anti Poligami” (disingkat SEKAP). Mereka berkali-kali mengadakan sidang komisi, lobi-lobi, menyusun rencana untuk mematahkan argumen “ustadz poligami”. Singkat kata, mereka telah mendapat alasan sangat kuat yang diyakini bisa membantah ceramah si ustadz.

Suatu hari saat pengajian “ustadz poligami” membahas masalah kenakalan remaja. Ibu-ibu yang biasanya sewot, tetapi waktu itu mereka malah nunggu-nunggu momen supaya si ustadz masuk ke masalah poligami. Setelah ditunggu-tunggu kok belum juga dibahas. Akhirnya salah seorang ibu, mungkin ini semacam “juru bicara fraksi” langsung angkat bicara.

Ibu Rosida: “Tolong Ustadz, tidak pake muter-muter! Langsung saja bahas poligami! Ustadz mau belok kesitu kan? Kami sudah menunggu dari tadi.”

Si ustadz tentu kaget. Biasanya ibu-ibu sangat sewot, kok hari itu malah kelihatan “nafsu”. Dia terheran-heran, kalau tidak mau dibilang curiga. Tapi sudahlah, karena jurus ustadz sudah ketahuan, ya dengan “berat hati” dia masuk bahasan poligami.

Ustadz: “Jadi Ibu-ibu, poligami itu sunnah Rasul. Namanya perbuatan sunnah, kalau dilakukan berpahala, kalau tidak dilakukan tidak apa-apa. Ya, zaman sekarang kan banyak godaannya. Daripada berzina yang haram, kan mending poligami saja yang halal.”

Ibu Naila: “Jadi poligami sunnah ya?”

Ustadz: “Ya betul Bu Naila. Itu sunnah. Kalau dilakukan ikhlas dan penuh tanggung-jawab, insya Allah sakinah, mawaddah, wa rahmah. Begitu Bu.”

Ibu Yulia: “Ustadz ada niat melakukan poligami?”

Ustadz: “He he he… Ya Ibu-ibu kan tahu sendiri, saya cuma segini-gininya. Rumah saja masih ngontrak, belum ada kerja yang jelas. Tapi soal poligami, saya ingin sekali.”

Ibu-ibu kompak: “Hhhuuuuuuuuu….pakai berbelit-belit segala.”

Ibu Farida: “Apa alasan Ustadz mau poligami?”

Ustadz: “Ikut sunnah Rasul!”

Ibu-ibu kompak: “Yang bener?”

Ustadz: “Bener! Sumpah Bu! Niatnya ikut Sunnah. Tak kurang tak lebih.”

Ibu Yasmin: “Kalau begitu Ustadz ikuti cara poligami Rasul?”

Ustadz: “Maksud Ibu?”

Ibu Yasmin: “Kalau mau nyontoh Rasul, ya ikuti cara Rasul. Ustadz sana cari nenek-nenek tua, nenek lansia yang sudah tua dan reyot. Silakan Ustadz nikahi dia. Mau gak?”

Disambut tepuk-tangan para jamaah pengajian. Ustadznya sendiri kelihatan bingung tidak karuan. Ibu-ibu tambah semangat melakukan serangan.

Ibu Hani: “Tetangga saya, ada nenek tua. Namanya Mbok Inah. Usianya sudah 70 tahun. Dia janda selama 30 tahun. Gimana Ustadz mau? Nanti saya kenalkan dengan Mbok Inah.”

Ibu Dania: “Benar ustadz. Kalau Ustadz setuju nikah dengan Mbok Inah, kami yang akan biayai semua keperluan pernikahannya. Ustadz tak usah keluar biaya apa-apa. Bagaimana Ustadz?”

Ibu Fajriyah: “Bagaimana Ustadz, masih mau mengikuti Sunnah Rasul?”

Tampaknya Pak Ustadz tidak bisa menjawab apa-apa. Mukanya merah menahan malu, wajahnya tertunduk. Apalagi dia semakin ditertawakan ibu-ibu.

Saat kondisi sangat genting itu, tiba-tiba seorang kakek-kakek, dengan suara tidak jelas (khas kakek-kakek) mengajukan pertanyaan.

Kakek: “Pak ustadz, bagaimana hukumnya mandi besar bagi kakek-kakek?”

Pertanyaan ini seketika mengundang tawa para jamaah pengajian. Baik ibu-ibu maupun bapak-bapak ketawa semua. Kakek-kakek masih sempatnya bertanya soal mandi besar. Nonton apa aja dia? (He he he… becanda, becanda, no more serious).

Ustadz: “Ya mandi besar berlaku bagi siapa saja, Kek. Kakek-kakek atau anak muda, kalau mengalami junub ya harus mandi besar.”

Ketika kakek-kakek itu bertanya, si ustadz tiba-tiba mendapatkan ide brilian. Dia punya jawaban jitu untuk mematahkan logika ibu-ibu.

Ustadz: “Ibu-ibu, pertanyaan tadi masih perlu dijawab tidak?”

Ibu-ibu kompak: “Ya jelas perlu lah. Ayo segera jawab!”

Ustadz: “Baik Ibu-ibu, saya akan jawab. Tapi Ibu harus jawab pertanyaan saya dulu, sebelum pertanyaan-pertanyaan Ibu saya jawab.”

Ibu-ibu kompak: “Pertanyaan apa Ustadz?”

Ustadz: “Ibu yang masih muda-muda dan cantik, mau tidak menikah dengan kakek yang baru bertanya ini?”

Ibu-ibu kompak: “Hhhuuuuuu… Siapa mau? Kakek tua begitu kok mau jadi suami. Gak mau ah. Yang muda masih banyak, kok mau nikah sama kakek-kakek. Gak mau Ustadz. Gak maaauuuuuuuuuuuu!!!!!”

Ustadz: “Nah, itulah jawaban saya Bu.”

Ibu-ibu kompak: “Maksudnya?”

Ustadz: “Ya kalau ibu-ibu saja tidak mau menikah sama kakek-kakek, mengapa nyuruh orang lain menikah sama nenek-nenek? He he he….”

Semua ibu-ibu, gadis-gadis, remaja putri pada cemberut mendengar jawaban “ustadz poligami”.

Ustadz: “Emangnya menikah itu kerja bakti apa…. Namanya nikah yang pasti ingin dapat kebaikan. Masak disuruh menikahi orang lansia? Uuaaaneh itu.”

Ibu Yasmin: “Tapi kan Nabi menikah nenek-nenek juga?”

Ustadz: “Emang berapa banyak nenek yang beliau nikahi, Bu? Cuma satu kan. Yang lainnya ada janda muda, ada janda pemimpin kabilah, dan ada seorang gadis.”

Ibu-ibu pengajian semuanya seketika berdiri dan keluar dari masjid, tanpa mengucapkan salam sepatah pun. Si “ustadz poligami”  hanya tersenyum manis melihat wajah ibu-ibu yang cemberut.

Tapi ini hanya selingan. Just intermezzo. Jangan terlalu dianggap serius… Matur nuwun.

Mine.