Siapa Mau Poligami, Nikahi Saja Janda Tua, Sudah Nenek-nenek…

Rehat Sejenak Ya... Santai Dikitlah...

Di sebuah negeri yang katanya Muslim, tapi poligami dimusuhi. Di sono ada yang gething (benci banget) ke poligami, tapi juga ada yang nafsu banget. Ada yang sentimen, ada yang candanya “poligami melulu”. Ada yang “sok jantan” di depan kawan-kawan, tapi klepek-klepek di hadapan isteri (baca: Susis tentu).

Ada yang cepet bosen ke isterinya; kalau taklim yang dibahas Surat An Nisaa’ ayat 3 melulu. Tapi ada juga yang selalu cari-cari dalih untuk menolak poligami, dengan alasan “kami ini ahli tauhid” (baca: isteri hanya satu). Ya begitu deh…

Singkat kata, disana ada seorang ustadz muda…(tapi cerita ini bukan beneran lho ya, cuma humor rekaan saja)…dia sering berceramah masalah-masalah agama. Dia bisa membahas masalah tauhid, fiqih, ibadah, muamalah, adab, politik, jihad, dan lainnya. Tapi yang unik, di setiap ceramahnya dia selalu menyelipkan ajakan melakukan ta’addud zaujat (poligami atau poligini yang tepatnya). Mungkin hal itu sudah menjadi ciri kali ya, sehingga dia digelari  “ustadz poligami”. Padahal dia juga belon praktek.

Lama-lama banyak ibu-ibu mulai kasak-kusuk. Mereka berusaha menggalang kekuatan dengan menggandeng para gadis dan remaja putri. Mereka sepakat membentuk Setgab Koalisi “Anti Poligami” (disingkat SEKAP). Mereka berkali-kali mengadakan sidang komisi, lobi-lobi, menyusun rencana untuk mematahkan argumen “ustadz poligami”. Singkat kata, mereka telah mendapat alasan sangat kuat yang diyakini bisa membantah ceramah si ustadz.

Suatu hari saat pengajian “ustadz poligami” membahas masalah kenakalan remaja. Ibu-ibu yang biasanya sewot, tetapi waktu itu mereka malah nunggu-nunggu momen supaya si ustadz masuk ke masalah poligami. Setelah ditunggu-tunggu kok belum juga dibahas. Akhirnya salah seorang ibu, mungkin ini semacam “juru bicara fraksi” langsung angkat bicara.

Ibu Rosida: “Tolong Ustadz, tidak pake muter-muter! Langsung saja bahas poligami! Ustadz mau belok kesitu kan? Kami sudah menunggu dari tadi.”

Si ustadz tentu kaget. Biasanya ibu-ibu sangat sewot, kok hari itu malah kelihatan “nafsu”. Dia terheran-heran, kalau tidak mau dibilang curiga. Tapi sudahlah, karena jurus ustadz sudah ketahuan, ya dengan “berat hati” dia masuk bahasan poligami.

Ustadz: “Jadi Ibu-ibu, poligami itu sunnah Rasul. Namanya perbuatan sunnah, kalau dilakukan berpahala, kalau tidak dilakukan tidak apa-apa. Ya, zaman sekarang kan banyak godaannya. Daripada berzina yang haram, kan mending poligami saja yang halal.”

Ibu Naila: “Jadi poligami sunnah ya?”

Ustadz: “Ya betul Bu Naila. Itu sunnah. Kalau dilakukan ikhlas dan penuh tanggung-jawab, insya Allah sakinah, mawaddah, wa rahmah. Begitu Bu.”

Ibu Yulia: “Ustadz ada niat melakukan poligami?”

Ustadz: “He he he… Ya Ibu-ibu kan tahu sendiri, saya cuma segini-gininya. Rumah saja masih ngontrak, belum ada kerja yang jelas. Tapi soal poligami, saya ingin sekali.”

Ibu-ibu kompak: “Hhhuuuuuuuuu….pakai berbelit-belit segala.”

Ibu Farida: “Apa alasan Ustadz mau poligami?”

Ustadz: “Ikut sunnah Rasul!”

Ibu-ibu kompak: “Yang bener?”

Ustadz: “Bener! Sumpah Bu! Niatnya ikut Sunnah. Tak kurang tak lebih.”

Ibu Yasmin: “Kalau begitu Ustadz ikuti cara poligami Rasul?”

Ustadz: “Maksud Ibu?”

Ibu Yasmin: “Kalau mau nyontoh Rasul, ya ikuti cara Rasul. Ustadz sana cari nenek-nenek tua, nenek lansia yang sudah tua dan reyot. Silakan Ustadz nikahi dia. Mau gak?”

Disambut tepuk-tangan para jamaah pengajian. Ustadznya sendiri kelihatan bingung tidak karuan. Ibu-ibu tambah semangat melakukan serangan.

Ibu Hani: “Tetangga saya, ada nenek tua. Namanya Mbok Inah. Usianya sudah 70 tahun. Dia janda selama 30 tahun. Gimana Ustadz mau? Nanti saya kenalkan dengan Mbok Inah.”

Ibu Dania: “Benar ustadz. Kalau Ustadz setuju nikah dengan Mbok Inah, kami yang akan biayai semua keperluan pernikahannya. Ustadz tak usah keluar biaya apa-apa. Bagaimana Ustadz?”

Ibu Fajriyah: “Bagaimana Ustadz, masih mau mengikuti Sunnah Rasul?”

Tampaknya Pak Ustadz tidak bisa menjawab apa-apa. Mukanya merah menahan malu, wajahnya tertunduk. Apalagi dia semakin ditertawakan ibu-ibu.

Saat kondisi sangat genting itu, tiba-tiba seorang kakek-kakek, dengan suara tidak jelas (khas kakek-kakek) mengajukan pertanyaan.

Kakek: “Pak ustadz, bagaimana hukumnya mandi besar bagi kakek-kakek?”

Pertanyaan ini seketika mengundang tawa para jamaah pengajian. Baik ibu-ibu maupun bapak-bapak ketawa semua. Kakek-kakek masih sempatnya bertanya soal mandi besar. Nonton apa aja dia? (He he he… becanda, becanda, no more serious).

Ustadz: “Ya mandi besar berlaku bagi siapa saja, Kek. Kakek-kakek atau anak muda, kalau mengalami junub ya harus mandi besar.”

Ketika kakek-kakek itu bertanya, si ustadz tiba-tiba mendapatkan ide brilian. Dia punya jawaban jitu untuk mematahkan logika ibu-ibu.

Ustadz: “Ibu-ibu, pertanyaan tadi masih perlu dijawab tidak?”

Ibu-ibu kompak: “Ya jelas perlu lah. Ayo segera jawab!”

Ustadz: “Baik Ibu-ibu, saya akan jawab. Tapi Ibu harus jawab pertanyaan saya dulu, sebelum pertanyaan-pertanyaan Ibu saya jawab.”

Ibu-ibu kompak: “Pertanyaan apa Ustadz?”

Ustadz: “Ibu yang masih muda-muda dan cantik, mau tidak menikah dengan kakek yang baru bertanya ini?”

Ibu-ibu kompak: “Hhhuuuuuu… Siapa mau? Kakek tua begitu kok mau jadi suami. Gak mau ah. Yang muda masih banyak, kok mau nikah sama kakek-kakek. Gak mau Ustadz. Gak maaauuuuuuuuuuuu!!!!!”

Ustadz: “Nah, itulah jawaban saya Bu.”

Ibu-ibu kompak: “Maksudnya?”

Ustadz: “Ya kalau ibu-ibu saja tidak mau menikah sama kakek-kakek, mengapa nyuruh orang lain menikah sama nenek-nenek? He he he….”

Semua ibu-ibu, gadis-gadis, remaja putri pada cemberut mendengar jawaban “ustadz poligami”.

Ustadz: “Emangnya menikah itu kerja bakti apa…. Namanya nikah yang pasti ingin dapat kebaikan. Masak disuruh menikahi orang lansia? Uuaaaneh itu.”

Ibu Yasmin: “Tapi kan Nabi menikah nenek-nenek juga?”

Ustadz: “Emang berapa banyak nenek yang beliau nikahi, Bu? Cuma satu kan. Yang lainnya ada janda muda, ada janda pemimpin kabilah, dan ada seorang gadis.”

Ibu-ibu pengajian semuanya seketika berdiri dan keluar dari masjid, tanpa mengucapkan salam sepatah pun. Si “ustadz poligami”  hanya tersenyum manis melihat wajah ibu-ibu yang cemberut.

Tapi ini hanya selingan. Just intermezzo. Jangan terlalu dianggap serius… Matur nuwun.

Mine.

Iklan

9 Responses to Siapa Mau Poligami, Nikahi Saja Janda Tua, Sudah Nenek-nenek…

  1. Aremania berkata:

    Afwan……sindiran yang cespleng….Tadz

  2. Tami berkata:

    Manntaaa….p yg muda masih banyak kenapa harus lansia..he..he…

  3. lukman mubarok berkata:

    kasihan yang muda, tidak bisa mengisi waktu dengan “sahabat sejatinya”

  4. Sapaya2 berkata:

    Ibu2 yg ga baca Qur’an dengan teliti apa ga paham. Kan udah jelas di Qur’an …. nikahilah wanita2 lain YANG KAMU SUKAI ….

  5. gembul berkata:

    yang menulis dan memplubikasikan ” selingan ” ini , segeralah memohon ampun kepada allah .

    islam tidak melarang untuk bercanda , namun bukan mengada-ngada agar orang lain dapat ketawa.

    lebih berdosa lagi kalau dia menjadikan as sunnah sebagai bahan selingan .

  6. abisyakir berkata:

    @ Gembul…

    Anda ini berlebihan sih. Tulisan itu ada maksudnya “boss”. Itu untuk menyindir kaum wanita yang mempersyaratkan poligami hanya dengan nenek-nenek tua saja. Padahal dalam ajaran Islam, tidak ada syarat seperti itu. Coba Anda tunjukkan sisi mana kami menjadikan As Sunnah sebagai candaan? Aneh…

    Admin.

  7. Mas Aqil berkata:

    he he.,, ayo geloodt.,, pologami, dan poligami,,perempuan kan hiasan masak hiasan nenek -nenek !!!!!! cccccuuuuuaaaaaapeeekk deh.,.,.,

  8. dxxx berkata:

    setelah membacanya ustad di atas cuma satu dari 2 orang ini.
    1. ustadznya goblok. namanya ibu-ibu ya pasti sudah nikah,… mana mau disuruh nikah lagi sama kakek-kakek? berarti dia ga tau hukum poliandri

    2. ustadznya sesat. sudah tau ibu-ibu sudah pada nikah, masih disuruh nikah sama kakek-kakek. tahu poliandri dilarang tapi malah nyuruh nikah lagi, cuma untuk memenangkan perdebatan

    🙂 kira-kira yang mana ya?

  9. betul tuh berkata:

    dari pada nikah ama nenek . enak kan nikah ama janda hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: