Kritik Pidato SBY Terbaru (29 Mei 2012)

Mei 29, 2012

Kekuatan Terakhir: Pidato dan pidato…

Nuwun sewu….permisi. Disini kita ingin mengajukan beberapa kritik untuk pidato Pak SBY terbaru. Pidato itu bertema, gerakan penghematan nasional. Disiarkan MetroTV, TVOne, dan SCTV pada tanggal 29 Mei 2012, sekitar pukul 19.00 s/d 19.45 WIB.

Berikut beberapa kritik yang bisa disampaikan:

[1]. Pak SBY menyebutkan kondisi perekonomian nasional yang katanya stabil dengan beberapa indikasi, tetapi juga bermasalah. Khususnya karena persoalan belanja APBN yang membengkak. Kalau beberapa waktu lalu pemerintah beralasan dengan krisis Timur Tengah (soal Selat Hormuz) untuk menaikkan harga BBM; sekarang lain lagi alasan, yaitu krisis Eropa (khususnya di Yunani).

KRITIK: Rasanya selalu ada alasan bagi pemerintah untuk melegitimasi kebijakan-kebijakan yang tidak populer. Andaikan tidak ada krisis Eropa, pasti akan dicari alasan lain untuk membela kebijakan yang secara langsung bisa merugikan rakyat.

[2]. Pemerintah –melalui SBY- mengemukakan beberapa teori tentang penghematan energi (sekaligus penghematan APBN). Tetapi ujung-ujungnya balik lagi ke topik: menurunkan atau mengurangi belanja APBN untuk subsidi BBM.

KRITIK: Kalau begitu masalahnya, mestinya jujur saja mengaku bahwa pemerintah kecewa karena harga BBM gagal dinaikkan pada tanggal 1 April 2012 lalu. Jangan beretorika terlalu njelimet untuk akhirnya membahas lagi soal pengurangan subsidi BBM.

[3]. Ada 5 kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk merealisasikan kebijakan penghematan nasional, yaitu: (a). Di SPBU-SPBU akan dipasang program berbasis IT untuk memastikan bahwa BBM bersubsidi jatuh ke tangan yang berhak; (b). Mobil pemerintah, BUMN, BUMD, diwajibkan memakai BBM non subsidi, tidak boleh memakai BBM bersubsidi (bensin); (c). Untuk sarana transportasi di perkebunan-perkebunan, juga harus memakai BBM non subsidi. Pemerintah meminta Pertamina membangun pangkalan-pangkalan BBM di perkebunan-perkebunan; (d). Untuk transportasi umum, secara bertahap akan dilakukan konversi dari BBM biasa ke BBG (bahan gas). Diperkirakan akan tampak hasilnya mulai tahun 2013; (e). Gedung-gedung milik pemerintah harus melakukan penghematan listrik dan air.

KRITIK: Program-program seperti ini sering diserukan di masa pemerintah SBY, tetapi dalam realitas di lapangan jarang yang berhasil. Umumnya, hanya menjadi sumber isu dan diskusi saja (termasuk jadi sumber tulisan di blog. He he he…). Intinya, pemerintah tidak punya uang banyak, makanya tak mampu membiayai program-program mereka. Manajemennya “gali lubang, tutup lubang”.

[4]. Jika pemerintah konsisten dengan program tersebut –seandainya konsisten-, maka kebijakan itu juga bisa berakibat meningkatkan inflasi karena kendaraan umum sangat dipantau pembelian BBM mereka di SPBU-SPBU; berakibat membengkakkan anggaran transportasi aparat pemerintah dan birokrasi, sedangkan hal itu bisa membuka pintu-pintu korupsi dan kolusi; menurunkan daya saing produk perkebunan, karena mereka kena getah larangan memakai BBM bersubsidi; menimbulkan konflik aparat versus masyarakat, karena SBY menekankan agar aparat keamanan bersikap tegas bagi siapa yang melanggar aturan pemakaian BBM.

[5]. Menjelang bagian akhir pidato, SBY mengatakan, “Kebijakan penghematan itu pasti bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.”

KRITIK: Kata siapa Pak, pasti menguntungkan? Siapa bisa memastikan bahwa kebijakan itu pasti menguntungkan? Dilihat dari kacamata siapa, ditengok dari kepentingan siapa? Tidak bisa Pak Presiden memastikan begitu saja, tanpa mengkaji masalah tersebut dari berbagai sisi. Contoh, mengapa kalangan perkebunan juga dibebani kewajiban memakai BBM non subsidi? Bukankah di lingkungan perkebunan itu banyak petani/pekebun miskin yang bekerja disana? Harus ingat, orang miskin katanya berhak dapat subsidi BBM. Justru kebijakan seperti itu bisa mematikan sumber kehidupan para petani/pekebun tersebut. Kecuali, untuk perkebunan-perkebunan yang dimiliki pribadi, industry, atau pengusaha.

[6]. Ada dua kebijakan primitif kepemimpinan SBY yang akhirnya menyusahkan dirinya dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Pertama, SBY bermudah-mudah mencari hutang ke lembaga donor, negara asing, atau dengan menjual SUN (Surat Utang Negara). Idenya, “Kalau negara bokek, tinggal ngutang saja.” Ini adalah pemikiran primitif, kalau tidak sangat berbahaya; karena yang harus menanggung beban hutang itu adalah rakyat semua; para pejabat memiliki banyak kekayaan yang memungkinkan mereka bisa hidup enak di negara mana saja yang mereka suka (di luar Indonesia). Rata-rata pejabat, elit politik, atau pengusaha Indonesia sudah punya rumah untuk menyelamatkan diri di luar negeri. Omong kosong mereka bicara nasionalisme. Meminjam istilah Gombloh, “…kucing rasa coklat, buat nasionalisme mereka!”

Kedua, SBY memperbanyak PNS, relawan PBNS, pengangkatan guru baru, guru honorer, guru bantu, dll. yang akibatnya sangat menyedot anggaran negara. Mengapa SBY lakukan itu? Jawabannya simple, supaya dia terpilih lagi dan lagi. Singkat kata, sebenarnya hancurnya struktur belanja APBN negara, itu karena salah dia sendiri selaku pemimpin yang sembrono memainkan keuangan negara. Maka kebijakan SBY itu seperti: menutup lubang dengan membuat lubang yang baru!

[7]. Secara visual, ada sesuatu yang lucu. Dalam pidato itu Pak Presiden memakai bahasa formal dan baku, tetapi sangat lancar dan mengalir. Padahal dia tidak terlihat membaca teks (paper) atau melihat tulisan di meja podium. Pertanyaannya, apakah dia hafal isi teks pidato itu? Kemungkinan besar, dia membaca teks di layar yang posisinya diletakkan di belakang kamera shooting. Teknik ini seperti yang biasa dilakukan para presenter berita TV atau pejabat negara tertentu. Alasannya: (a). Posisi presiden saat itu menghadap kamera, sedangkan menteri-menterinya ada di sisi kanan Presiden. Mestinya, posisi menteri ada di depan presiden, biar kelihatan kalau dia sedang mengarahkan menterinya juga; (b). Raut muka para menteri itu kelihatan tidak semangat, lesu, dan seperti menahan suatu beban berat. Mungkin mereka tahu “drama” yang sedang dimainkan pemimpinnya; (c). Beberapa kali presiden salah mengucapkan kata-kata, lalu memperbaikinya. Kalau dalam pidato tanpa teks, tidak perlu mengulangi membaca. Tampaknya disana Pak Presiden perlu mengeluarkan biaya khusus untuk melakukan pidato “tanpa teks” itu, demi pencitraan yang lebih baik. Nah, dengan logika pencitraan yang butuh biaya tambahan ini, bagaimana bisa Pak Presiden ingin bicara soal Gerakan Penghematan Nasional? Beliau sendiri sudah mencontohkan sikap hambur biaya, sekedar untuk pencitraan pidato “tanpa teks”. Sikap demikian ini sering membuat kebijakan-kebijakan presiden ini kandas di tengah jalan. Ya gimana lagi, kebijakan tidak dimulai dari dirinya sendiri.

Demikianlah…beberapa catatan kecil. Secara pribadi, saya skeptis dengan ide penghematan nasional itu. Bukan karena apa, sebab pemerintah SBY memang dikenal inkonsisten sejak dulu. Mau berantas korupsi, buktinya di tubuh Demokrat banyak koruptor; mau penegakan hukum, kasus Century didiamkan sekian lama; mau berantas narkoba, pelaku kejahatan narkoba malah diberi keringanan hukuman; mau penghematan APBN, buktinya kerugian lumpur Lapindo sekitar 8 triliun ditanggung negara; mau memberi contoh sikap negarawan, anak-isteri, kerabatnya, pada terjun ke dunia politik; bicara soal pertumbuhan ekonomi, orang asing yang menikmati; bicara solusi kemiskinan, buktinya orang miskin secara riil sangat banyak; dan lain-lain.

Oke deh…begitu saja. Terimakasih atas semua perhatiannya. Selesai ditulis, 29 Mei 2012, pukul 22.37 WIB. Publikasi, 30 Mei 2012, pukul 04.35 WIB. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. []

Mine.

Iklan

Ngobrol Itu Nikmat Lho…

Mei 25, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada sebuah kejadian menarik yang belum lama lalu saya alami. Hal itu menjadi inspirasi untuk menulis artikel kecil ini. Sesuatu yang kadang kita anggap kecil, tetapi dalam waktu-waktu tertentu menjadi begitu berharga.

Sebelumnya, ingin saya jelaskan kaidah sederhana tentang rasa syukur. Pertama, sebagai manusia kita diperintahkan oleh Allah Ar Rahmaan untuk selalu bersyukur kepada-Nya. Kedua, andaikan kita menghitung-hitung nikmat Allah, kita tak akan mampu menghitungnya. Ketiga, nilai suatu nikmat akan kita rasakan, ketika kita telah kehilangan nikmat itu.

Singkat kata, baru-baru ini saya naik angkutan umum. Semacam Mikrolet. Ini adalah angkutan yang sangat sering dipakai dalam perjalanan sehari-hari. Selama naik angkutan ini jarang sekali saya bisa ngobrol dengan orang lain. Rata-rata para penumpang memilih diam, sibuk dengan Blackberry atau HP-nya, atau tertidur. Jika ada obrolan, biasanya antar sesama teman sendiri.

“Loh…ngerti kagak siiihhh…!”

Suatu saat, saya mencegat angkutan Mikrolet ini. Alhamdulillah, dapat duduk di depan. Tidak berselang lama, ada penumpang lain, seorang bapak-bapak masuk angkot. Dia memilih duduk di depan, berdampingan dengan saya. Saya tidak kenal bapak itu, mungkin usianya sekitar 50 tahunan.

Setelah mobil berjalan, rupanya bapak itu beberapa kali menyapa saya dengan ramah. Saya anggap beliau seperti mengajak ngobrol. Dengan niat menghormati yang lebih tua, saya pun berusaha membalas sapaan beliau. Andaikan ada obrolan positif, ya alhamdulillah. Apalagi beliau saya dengar masih konsisten Shalat Subuh.

Dalam obrolan, saya selalu berusaha mengukur kadar pemahaman lawan bicara. Apapun dan bagaimanapun, saya berusaha mengikuti keadaan lawan bicara. Saya tidak akan bersikap “agressif” kalau situasi tidak memungkinkan. Hal-hal demikian membutuhkan proses waktu dan pengalaman panjang. Kita perlu memahami kadar pemahaman orang lain; bisa memilih bahan-bahan obrolan yang tepat; dan bersikap simpati, menjaga perasaan orang lain, tidak berusaha menggurui, mengadili, mendominasi, dan sebagainya.

Namun tampaknya, obrolan saya waktu itu dengan Sang Bapak, seperti sebuah “mimpi buruk” yang tidak pernah terbayangkan. Berkali-kali saya gagal membangun obrolan yang baik; sering muncul sikap “salah paham” dari beliau; bahkan akhirnya berujung suasana hati yang benar-benar tidak enak.

Coba saya runut kronologinya ya…

Mula-mula saya bertanya ke Bapak itu: “Setiap hari naik angkot, Pak?”

Lalu beliau jawab iya.

Kemudian saya tanya lagi: “Kerja dimana, Pak?”

Beliau bilang kerja di konsultan, di kawasan Melawai, Jakarta Selatan. Selain itu, beliau juga bilang bahwa dia harus tetap bekerja, supaya anak-anaknya bisa sekolah.

Saya merasa empati dengan posisi dia sebagai orangtua yang setiap hari kerja mencari nafkah untuk biaya sekolah anak-anak. Lalu saya katakan: “Iya Pak, saat ini peraturan sekolah berubah-ubah terus. Waktu itu PT bersifat negeri, lalu diswastanisasi sehingga biayanya mahal. PT hanya bisa dimasuki anak-anak orang kaya. Katanya, sekarang mau jadi negeri lagi.” Sebenarnya, saya ingin empati dengan bapak itu, sehingga saya sebutkan kenyataan tersebut.

Ternyata bapak itu mengatakan, “Hah, saya tidak mau pusing. Saya tidak mau mikir ini itu. Yang penting anak saya bisa sekolah.”

Jujur, saya merasa tidak enak dengan jawaban seperti itu, sehingga saya coba alihkan ke persoalan lain. “Kerja di konsultan apa, Pak?”

Kemudian dia jawab: “Ya banyak. Konsultan macam-macam. Ya ada engineering, ada…” Dia tampaknya tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Lalu saya tambahi, “Konsultan manajemen, keuangan…”

Kemudian dia berkata lagi: “Itu seperti mencari lokasi-lokasi pertambangan.” Lalu saya timpali: “Seperti surveyor itu ya.” Lalu dia mengiyakan. Kemudian dia bilang, juga mengurusi alat-alat berat.

Kemudian saya tanya, apa konsultan lokal atau asing. Dia bilang asing, dari Amerika. Waktu saya tanya: “Apa AC Nielsen?” Dia tidak menjawab dengan jelas. Intinya dia kerja di konsultan asing, asal Amerika.

Karena dia menyebut kata “Amerika” dan “alat-alat berat”, saya ada ide untuk mengungkap sebuah kisah nyata tentang seorang pengusaha Indonesia yang berusaha membeli alat-alat berat di Amerika, lalu ditangkap, dipenjara; dengan tuduhan sebagai importer senjata ilegal. Sejak awal saya sebutkan sumber beritanya: “Saya pernah lihat di TV, di MetroTV.” Saat saya sebut MetroTV, dia memaklumi.

Tapi sepanjang saya cerita itu, dia terus memberikan komentar-komentar yang tidak nyambung dengan apa yang saya sampaikan. Sangat mengganggu rasanya; tapi karena memang orang tua, ya dimaklumi saja.

Di antara komentar-komentar yang saya rasa tidak nyambung, misalnya:

Dia bilang, “Perusahaan kami legal. Setiap bulan kami membayar pajak ratusan juta, masuk kas negara.”

Jujur, saya tidak ada urusan dengan perusahaan itu. Bahkan niat menyindir saja tidak. Kita hanya sekedar mengungkap suatu cerita sosial yang mungkin enak untuk diobrolkan. Tapi bapak itu kesannya, saya berusaha menyelidiki perusahaan dia.

Paling parah ketika saya katakan: “Pengusaha itu ingin membeli alat-alat berat, tapi malah dituduh mau jual-beli senjata.”

Tiba-tiba bapak itu seperti ketakutan: “Wah, kalau Mas bicara begitu, saya tidak ikut-ikutan. Saya tidak mau menjadi saksi. Saya tidak mau pusing dengan urusan ini itu. Saya tidak mau berurusan dengan hukum. Enak tidak berurusan dengan hukum. Kita bisa bebas kemana-mana.”

Apa yang saya ceritakan itu adalah kasus yang diceritakan oleh media, yaitu MetroTV. Khususnya dalam acara “Kick Andy”. Cerita ini didengar oleh rakyat Indonesia. Ia bukan kasus hukum yang menyangkut kita-kita. Itu hanyalah sebuah berita atau info di media. Jadi ini tidak ada kaitan sama sekali dengan kita. Tapi bapak itu begitu ketakutan kalau dia nanti “bisa jadi saksi”. Saksi apaan lagi?

Di akhir perjalanan, bapak itu keluar angkot lebih dulu. Sebelum keluar angkot, dia “semi bertengkar” dulu dengan sopir. Ketika memberikan ongkos, dia menyerahkan uang Rp. 2000,-. Kata sopir, “Kurang Rp. 500,- ongkosnya.” (Memang standar angkutan itu ke terminal, sejak lama Rp. 2500,-).

Bapak itu lalu merespon: “Kan biasanya dua ribu.” Sopirnya agak mau marah, sebab memang sudah dimaklumi, ongkosnya ke terminal Rp. 2.500,-. Akhirnya bapak itu memberi tambahan Rp. 500,- seperti yang diminta. Dia langsung keluar dari angkutan dan ngeloyor begitu saja, tanpa menutup pintu mobil.

Ya…saya tidak bermaksud mengadili bapak itu. Mungkin karena sudah tua, atau stress menghadapi masalah-masalah hidup, akhirnya jadi seperti itu. Padahal kalau mau tahu, sejak awal yang menyapa untuk obrolan itu beliau sendiri.

Seperti saya katakan di muka… Nilai sebuah nikmat itu akan terasa ketika kita kehilangan nikmat itu. Pernahkah kita menakar seberapa besar nilai nikmat ngobrol atau berbincang-bincang dengan orang lain? Anda akan bisa menghargai nikmat itu bila suatu saat kebetulan berbicara dengan orang yang bertipe “jaka sembung makan permen”…(gak nyambung, Men!).

Namanya manusia, kita maunya ngobrol yang nyambung, hangat, seru, saling “jual-beli”… He he he. Tapi kalau Allah menakdirkan situasi berbeda, ya harus diterima dengan lapang hati. Nggih Gusti, kula tampi kemawon sedoyo paparing. (Ya Tuhan, saya terima saja segala pemberian-Mu).

Inilah Saudaraku yang dinamakan nikmat ngobrol. Sesuatu yang tampak sepele, remeh, tetapi esensial. Betapa sepi hidupmu tanpa berbincang-bincang dengan orang lain. Tapi meskipun berbincang, kalau tidak nyambung, lebih tidak enak lagi. Mending kita diam membisu, daripada bicara “jaka sembung”.

Fadzkuruni adzkurkum, wasykuru liy wa laa takfuruun” (ingat-ingatilah Aku, maka Aku akan selalu mengingatimu; dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur nikmat). [Surat Al Baqarah: 152].

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Itu Lho, Lady Gaga & Irshad Manji…

Mei 21, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sungguh dalam soal Lady Gaga & Irshad Manji, saya tidak memiliki banyak catatan informasi. Dalam sebuah diskusi internal sampai saya meminta seorang kawan menjelaskan, “Ada apa dengan Irshad Manji?” Kayaknya…pertanyaan yang kuper banget ya. Maklum sih, sudah lelah mengikuti berita-berita media. Kata orang…sudah cuaaaapek!

Tertarik untuk ikut berkomentar, karena memang isu “Lady Gaga & Irshad Manji” ini sudah sebegitu populer dan gegap gempita. Klas beritanya, mengalahkan kehebohan kecelakaan Sukhoi di Gunung Salak. Siapa tahu, dengan sedikit goresan kecil ini, bisa memberikan taste berbeda.

Mari kita lihat…

“Enalin…owe Lady Gagak sejati, gitu.”

[1]. Kaum Muslimin di Nusantara ini seperti tidak berdaya. Kita selama ini selalu menjadi “konsumen isu” begitu gembul dalam menelan setiap isu-isu yang beredar. Kita belum sampai ke taraf: “analis isu”, “pemicu isu”, atau “regulator isu”. Kita baru sampai di tingkat “konsumen isu”. Selama bertahun-tahun, utamanya sejak Reformasi (atau sejak tahun 2000-an), kita selalu menjadi “sasaran permainan isu”. Jarang sekali kaum Muslimin menjadi “kreator isu“; apalagi sampai menjadi “regulator isu“. Dalam isu seputar Irshad Manji dan Lady Gaga, lagi-lagi kita menjadi “konsumen isu”. Begitu terus. Setiap ada isu baru, kita akan menggumulinya, tanpa tahu jelas kemana arah isu bergulir dan bagaimana mengambil manfaat dari beredarnya isu tersebut.

[2]. Publikasi Lady Gaga & Irshad Manji yang berlebihan, tak lepas dari bisnis media yang memang sangat butuh isu. Media-media berita (termasuk TV), mereka sangat butuh isu seperti itu, untuk mendapatkan nafkah. Termasuk eksploitasi pemberitaan Sukhoi juga untuk tujuan cari iklan. Ya di zaman seperti itu tidak usah basa-basilah, akui saja secara jujur. Seiring terjadinya kemelut-kemelut sosial, apapun masalahnya, ada yang merasa berduka, tetapi bagi orang-orang media itu adalah “rizki jariyah” (rizki terus mengalir, selama masih ada masalah sosial).

[3]. Ada yang mengatakan, blow up kasus Lady Gaga & Irshad Manji, tidak lepas dari upaya menutupi kasus korupsi seorang pimpinan partai politik, yang kasusnya sedang didalami oleh KPK. Senyampang semua mata dan kesadaran melihat isu Lady Gaga dan Irshad, maka kasus korupsi ketua partai politik berwarna biru itu terlewat dari pandangan. Benar kan?

[4]. Ummat Islam mestinya jangan terus menjadi “pemakan isu”. Janganlah… Sampai kapan kita akan jadi bulan-bulanan isu media. Kita ini harus bersatu dan punya agenda bersama; lalu menjalankan agenda itu secara bertahap; lalu konsisten dengan agenda itu sampai membuahkan hasil. Adapun soal mengomentari isu ini dan itu, serahkanlah kepada ahlinya. Jangan semua kesadaran, pikiran, kekuatan, emosi, dicurahkan semua disana. Nanti kapan proyek-proyek pembangunan Ummat akan kelar, kalau pikiran kita terbawa terus oleh isu-isu seperti itu?

[5]. Sebenarnya, kalau ada isu-isu negatif, pikiran kita jangan melulu tertuju ke obyek itu (seperti Lady Gaga dan Irshad Manji). Mereka ini kan layaknya pion-pion (figuran); di belakang mereka ada tangan-tangan kuat yang bermain. Mestinya perhatian kita juga diarahkan ke “kekuatan di balik layar” itu. Salah satunya adalah hegemoni media. Saya yakin, masalah Lady Gaga dan Irshad Manji itu akan sangat kecil; kalau tidak dibesar-besarkan oleh media. Jadi, saat kita “berperang” menghadapi Lady Gaga dan Irshad Manji, sebenarnya kita sedang berperang menghadapi “gelombang opini” yang berhasil diproduksi oleh media-media massa (khususnya TV) yang membesar-besarkan kedua obyek itu (Lady Gaga dan Irshad Manji). …tapi jangan pula nanti arah pikiran kita jadi masuk ruang labirin seperti ini: “Nah, makanya sudah saatnya kita punya TV sendiri. Mari kita bangun TV Islami yang lebih baik dari TV-TV sekuler itu.” Jangan begitu berpikirnya, sebab hal itu sudah ribuan kali dipikirkan kaum Muslimin di negeri ini, dan faktanya hasilnya nihil. Jangan bermimpi pengusaha-pengusaha Arab akan menggelontorkan investasi untuk membangun TV Islami; sebab mereka sudah sibuk membeli klub-klub bola di Inggris. Solusi counter media tidak melulu membuat TV Islami (apalagi kalau kita tidak ada uang untuk membuatnya). Ummat Islam mestinya berpikir kreatif tentang cara-cara menghadapi hegemoni media.

[6]. Ada kemiripan pesan yang dibawa oleh Lady Gaga maupun Irshad Manji, yaitu: konfrontasi terbuka dan terang-terangan terhadap nilai-nilai MORALITAS manusia (khususnya sesuai ajaran Islam). Kampanye-kampanye Homoseks, Gay, Lesbian, marak dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini berkaitan dengan perang KONTRA MORAL yang dijalankan agen-agen Zionisme (Freemasonry). Bahkan sebutan “Kiamat 2012” itu seperti sebuah simbolisasi agressi kontra moral yang sangat massif, dimulai tahun 2012.

[7]. Bagaimanapun juga, jangan putus-asa terhadap makar manusia-manusia anti Allah dan Rasul-Nya. Jangan putus-asa. Sehebat-hebatnya makar Zionisme, nanti ujungnya juga akan runtuh. Kaum Zionis pada dasarnya sangat tahu “jadwal sejarah” itu; tapi mereka berusaha menikmati senikmat-nikmatnya proses menuju ujung kekalahan nanti. Solusi atas masalah ini: jangan lepas-lepas dari Al Qur’an, Sunnah, dan ilmu-ilmu ulama Salaf. Jadilah Muslim Ortodoks, karena ia sangat ditakuti oleh Zionisme dan sekutunya. Kalau kita hidupkan semua itu, tak ada yang dikhawatirkan dari Lady Gagak, Irshad Manji, dan kawan-kawan.

Akhirnya…

Sebagai upaya nahyul munkar terkait munculnya isu-isu sosial seperti Lady Gaga dan Irshad Manji, tentu sangat boleh kita melakukan upaya-upaya penolakan. Hanya saja, ada beberapa catatan, perlu diperhatikan: Kita jangan hanya menjadi pemakan isu, kita harus lebih berdaya dari itu; kita jangan hanya melihat obyek isu, tetapi lihat juga siapa penggeraknya; kita jangan melupakan agenda-agenda kongkret ummat yang sudah disepakati untuk dijalankan dan bersikap konsisten di atasnya.

Oke, sampai disini dulu. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Mine.


Memilih Istilah “Wanita” Atau “Perempuan”?

Mei 17, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Unek-unek ini saya tahan sangat lama, bertahun-tahun. Terutama sejak nama sebuah kementerian di kabinet pemerintah berubah dari “Menteri Negara Peranan Wanita” atau “Menteri Negara Urusan Peranan Wanita”, diubah menjadi “Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan” pada tahun 2004, dengan menteri pertamanya Meutia Hatta Swasono (putri Proklamator Bung Hatta, sekaligus isteri Prof. Dr. Sri Edi Swasono). Kemudian berubah lagi menjadi “Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak” (Meneg PP & PA).

Sejak lama para aktivis gender dan feminis merasa terhina dengan sebutan “Wanita”. Bagi mereka istilah “Perempuan” lebih baik, lebih mulia, lebih manusia, dan tidak mengesankan praktik penindasan oleh kaum laki-laki. Mungkin untuk memperkuat hal itu, mereka pun melantunkan sebuah lirik lagu yang sayup-sayup terdengar, “Sejak dulu, wanita dijajah pria….”

Kemuliaan Wanita Tercermin dari Komitmen Moralnya.

Mengapa para aktivis gender, termasuk Meutia Hatta, begitu tidak suka dengan istilah Wanita? Mengapa mereka justru lebih suka dan mencintai istilah Perempuan?

Alasannya adalah: Kata wanita dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Jawa, yaitu WANITO. Sedangkan makna Wanito itu wani ditoto atau berani ditata. Mengesankan, wanita selalu diatur-atur, selalu dikendalikan, selalu diperintah oleh kaum laki-laki. Ya begitulah analoginya, yang kerap disampaikan oleh para aktivis gender dan feminis.

Terus terang, saya merasa gelisah dengan logika berpikir seperti itu. Bukan karena alasan mendukung penindasan, diskriminasi, atau penghinaan martabat wanita; karena bagaimanapun ibu saya, kakak-adik saya juga wanita, isteri dan anak-anak saya juga wanita; sehingga tidak mungkin kita ingin menindas wanita sebagai sesama hamba Allah. Penindasan seperti itu adalah peninggalan era jahiliyah masa lalu yang sudah diperbaiki oleh ajaran Islam.

Tapi realitas di zaman modern, penindasan wanita, pelecehan, eksploitasi, atau perbudakan, bukan tidak ada. Hanya berubah sebutan saja. Peradaban kapitalis Barat, secara penampilan seolah memberi memberi kebebasan wanita, padahal hakikatnya melenyapkan substansi dan esensi kemuliaan martabat wanita itu sendiri. Nia Dinata dan kawan-kawan pernah show of force dengan memakai hots pant, rok mini, dan lainnya memprotes pernyataan Gubernur DKI tentang rok mini. Ekspresi seperti itu dan semisalnya, seperti foto dan video pornografi yang melibatkan model utama kaum wanita, tari erotis, busana seksi, dll. semua itu menunjukkan kerelaan wanita-wanita masa kini menjadi obyek eksploitasi. Mereka rela dan bangga “diperbudak”. Lucunya, praktik “perbudakan” itu diberi judul “kebebasan wanita”. Aneh sekali, wanita zaman modern ini tidak mau diberi kehidupan nyaman, aman, terlindungi, terhormat, memiliki anak dan keluarga, yang sesuai fitrah mereka. Malah mereka sangat nafsu dan gembul melahap satu demi satu praktik eksplotasi. Sangat mengherankan sekali.

Dalam pandangan saya, pemilihan istilah Wanita, itu sudah benar dan sangat bermakna. Sedangkan pemilihan istilah Perempuan, justru ia menghinakan harkat martabat kaum wanita sendiri. Saya punya banyak alasan yang bisa disebutkan disini. Maka itu saya jarang memakai istilah Perempuan, demi memuliakan martabat kaum Wanita. Istilah Perempuan biasa kami pakai untuk menyebut anak-anak perempuan dan remaja (belum dewasa).

Berikut ini alasan-alasan yang bisa disampaikan…

[1]. Kata Wanita merupakan kata yang memiliki makna, sedangkan kata laki-laki atau pria, itu tidak jelas apa maknanya. Coba Anda pikirkan, apa arti kata laki-laki atau pria? Tidak ada kan. Kalau wanita ada, yaitu wanito wani ditoto atau berani ditata. Ini adalah satu kelebihan permulaan.

[2]. Dulunya, kata Perempuan itu dipakai untuk menyebut dua jenis kaum wanita. Pertama, dipakai untuk menyebut wanita yang masih berusia anak-anak atau remaja. Misalnya ada yang berkata, “Di kelas ada 10 anak perempuan.” Untuk orang dewasa, memakai kata wanita. Kedua, dipakai untuk menyebut “wanita nakal” alias pelacur. Dulu kita mendengar ada orang yang berkata, “Dia suka main perempuan.” Maksudnya, suka mencari kesenangan dengan wanita-wanita pelacur. Atau ada yang berkata, “Dasar perempuan murahan!” Atau ada yang berkata, “Tenang saja, disana banyak perempuan.” Atau perkataan lain, “Kemana-mana dia selalu membawa perempuan.” Kata-kata ini sebagian besar mencerminkan dunia hitam (dunia amoral).

[3]. Wanita-wanita yang terlibat dalam prostitusi dulu dikenal dengan nama WTS (Wanita Tuna Susila; maksudnya, wanita yang tidak memiliki standar moralitas). Lihatlah, meskipun posisi mereka sebagai pelayan prostitusi, tetapi istilahnya masih sopan. Bandingkan dengan istilah PEREK (Perempuan Eksperimen) yang juga dipakai di masa lalu. Istilah WTS lebih sopan ketimbang PEREK. Sedangkan istilah PSK (Pekerja Seks Komersial) adalah istilah menyesatkan, sebab ia menyamakan dunia prostitusi seperti dunia profesional yang halal. Dunia pelacuran yang haram di-halalisasi dengan istilah PSK. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[4].  Dari asal-usul kata, Perempuan berasal dari kata “Empu”. Empu maksudnya milik. Misalnya ada kalimat, “Siapa empunya buku ini?” Maksudnya, siapa pemilik buku ini? Atau ada kalimat, “Tanyakan pada empunya pekerjaan itu!” Maksudnya, tanyakan kepada pemilik pekerjaan itu. Atau misal ada kalimat, “Barang ini sudah rusak sejak didatangkan dari si empunya.” Namun ketika kata “empu” disambung dengan imbuhan “per-an” menjadi “per-empu-an”, ia bisa memiliki makna negatif. Perempuan disini bermakna “permilikan”.  Kata yang semodel itu misalnya pertigaan, pertapaan, perternakan, perjudian, pertarungan, percobaan, perzinahan, perselisihan, pertukangan, dll. Jadi kata Perempuan bermakna “Permilikan”, atau tentang suatu kepemilikan, atau sesuatu yang dimiliki.

Misalnya ada aktivis gender yang berkata, “Di balik kata Perempuan ada makna yang mulia yaitu memiliki sesuatu.” Pertanyaannya, memiliki apa? Memiliki sesuatu itu luas sifatnya; bisa apa saja, baik atau buruk. Pengertian “memiliki sesuatu” tidak jelas apa yang dimiliki. Kalau dikaitkan dengan penggunaan kata Perempuan di masa lalu, pada komunitas anak-anak perempuan dan wanita-wanita nakal, maka kata Perempuan itu lebih tepat bermakna “sesuatu yang dimiliki“. Anak-anak perempuan dimiliki oleh orangtua dan keluarganya, sedangkan perempuan nakal dimiliki oleh laki-laki hidung belang.

Kata Perempuan justru bisa bermakna kaum wanita sebagai “obyek kepemilikan” orang lain (kaum laki-laki). Mereka seperti benda, barang, atau properti. Ini adalah pemaknaan yang sangat tidak bermartabat bagi kaum wanita. Dan sangat mudah dipahami kalau dulu, orang-orang menggunakan kata Perempuan untuk menyebut wanita nakal. Karena sudah menjadi kebiasaan laki-laki amoral (di Timur maupun Barat), mereka biasa memiliki Perempuan untuk dieksploitasi dengan syahwat gelapnya.

[5]. Para aktivis gender marah dengan istilah Wanita. Kata itu menurut mereka bermakna penindasan. Mereka menuduh, kata Wanita itu dipaksakan kaum laki-laki di masa lalu untuk menindas kaum wanita. Nah, masalahnya siapa yang tahu bahwa istilah Wanita (atau Wanito) itu dimunculkan oleh kaum laki-laki? Siapa yang bisa memastikan hal itu? Bisa saja kan, istilah itu dimunculkan oleh kaum Wanita sendiri, untuk memberikan makna luhur dalam predikat mereka sebagai wanita? Selagi para aktivis itu tidak bisa membuktikan siapa yang paling pertama meng-introdusir istilah Wanita, mereka tidak boleh menyalahkan kaum laki-laki.

[6]. Andaikan pengertian Wanita kita pastikan sebagai Wanito atau wani ditoto (berani ditata); apakah kata-kata seperti itu buruk? Ditoto itu artinya: ditata, diatur, dimanajemen, diurus baik-baik. Semuanya memiliki konotasi positif. Di balik istilah Wanita terdapat makna-makna luhur, yaitu: Taat aturan, patuh pada hukum, komitmen dengan prosedur, tidak koruptif, tidak menyeleweng. Makna-maknanya sangat baik. Mengapa lalu malah diganti Perempuan yang bisa bermakna “sesuatu yang dimiliki”? Aneh banget. Hal ini seperti perkataan Nabi Musa ‘Alaihissalam kepada Bani Israil: “Atastabdiluna alladzi huwa adna billadzi huwa khair” (apakah kalian meminta ganti yang buruk untuk menggantikan yang baik?). [Al Baqarah: 61].

[7]. Kata Wanita memiliki makna berani ditata, berani diatur, taat hukum, taat aturan main, taat regulasi, tidak korupsi, tidak manipulasi, tidak menyalah-gunakan prosedur. Ini adalah suatu makna yang luhur. Justru kaum laki-laki atau pria, tidak jelas apa pengertian dari kata itu. Di balik kata Wanita tercermin suatu komitmen untuk patuh kepada aturan, baik aturan negara, aturan organisasi, aturan perusahaan, aturan rumah-tangga, maupun tentunya aturan Tuhan (Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Masya Allah, ini adalah suatu performa moral yang tinggi.

[8]. Mungkin sebagian aktivis gender dan feminis akan melontarkan sanggahan. Bisa jadi mereka akan berkata, “Tetapi pengertian Wanita (Wanito) atau berani ditata itu maksudnya tidak begitu. Maksudnya, lewat istilah itu kaum laki-laki ingin menindas, menjajah, membelenggu kebebasan, dan mengendalikan kaum wanita seenaknya sendiri. Begitu maksudnya.”

Kita jawab pemikiran ini. Pertama, logika berpikir seperti itu tidak punya landasan apapun, selain prasangka buruk, kecurigaan, dan provokasi permusuhan antar gender. Ia hanyalah prasangka buruk, tanpa landasan. Prasangka buruk tidak boleh dibawa ke ranah peradaban manusiawi, sebab ia berada di area lain. Kedua, kata ditata, diatur, diurus, sama sekali tidak memiliki makna ditindas, dieksploitasi, dijajah, dibelenggu; keduanya sangat berbeda. Penataan, pengaturan, regulasi, memiliki makna positif untuk mengurus segala sesuatu sebaik-baiknya; tiap elemen diletakkan secara fit dan proper. Ketiga, andaikan kaum wanita mesti ditata, apakah hanya mereka yang harus taat aturan, hukum, atau prosedur? Kaum laki-laki pun tidak bisa lepas dari aturan hukum.

Jadi, upaya memberi makna pada kata Wanita dengan: penindasan, pelecehan, penjajahan, eksploitasi, dll. oleh kaum laki-laki; semua ini hanyalah prasangka buruk, stigma, dan penyesatan. Tidak ada suatu pijakan yang bisa dijadikan pegangan. Justru tuntutan kebebasan mutlak seperti yang selalu diminta oleh para aktivis gender itu, ia kerap kali akan berakhir dengan ekploitasi terhadap kehidupan kaum wanita itu sendiri.

[9]. Perkara terburuk dibalik sosialisasi istilah Perempuan secara massif dan sistematik, untuk menggantikan istilah Wanita; ia akan menjadikan kaum Wanita sebagai obyek eksploitasi, sebagai properti yang dimiliki, sebagai suplier kebutuhan industri, sebagai “barang dagangan”, dan sebagainya. Mengapa demikian? Karena istilah Perempuan itu sendiri tidak memiliki konotasi yang positif seperti istilah Wanita. Ia malah bisa bermakna sebagai “properti yang dimiliki”. Ada kesan, dengan melegalkan istilah Perempuan sebagai istilah umum, hal itu seperti membuka pintu-pintu LIBERALISASI kultur kaum wanita seluas-luasnya. Kalau masih dipakai istilah wanita, maka kemana-mana istilah itu mengandung makna moral luhur. Sangat berbeda dengan istilah Perempuan.

[10]. Terakhir, dalam bahasa Inggris, istilah Wanita identik dengan Women; sedangkan istilah Perempuan identik dengan Girl. Baik Women atau Girl menunjuk ke gender Wanita, tetapi rasa bahasanya berbeda. Istilah Women lebih dewasa dan sopan.

Demikian sebuah kajian kritis yang sekian lama membebani pikiran, jika belum disampaikan. Singkat kata, penggunaan nama “Menteri Negara Peranan Wanita” itu lebih baik daripada memakai nama “Menteri Wanita Pemberdayaan Perempuan”. Mengadopsi istilah Perempuan dalam ruang-ruang publik, formal, dan birokrasi; menunjukkan tingkat kemerosotan moral bangsa yang serius. Saat kaum wanita oleh para pendahulu diberikan predikat sebagai kaum bermoral, justru di masa kini ia diberi label berbeda yang mengesankan dirinya sebagai “obyek eksploitasi”. Sangat menyedihkan!

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.


Beberapa Foto Lucu…

Mei 14, 2012

Berikut ini beberapa foto lucu yang diperoleh dari situs albashirah.com. Foto-foto ini menceritakan tentang suatu acara ritual-seremonial yang dilakukan militer dan para pejabat birokrasi di IRAN. Mereka hendak mengenang kembali kedatangan Khomeini yang semula tinggal di Perancis, lalu datang ke Iran untuk memimpin Revolusi 1979.

Perjalanan politik Khomeini itu persis seperti Mustafa Kamal Attaturk di Turki. Keduanya sama-sama didukung oleh Barat. Barat berusaha menciptakan drama sedemikian rupa, agar kedua tokoh itu tampak “sangat berjasa” di mata rakyatnya. Ini adalah drama tingkat tinggi yang sulit dipahami oleh awam. Apalagi media-media massa Barat sepakat untuk terus membuat kesan hebat perjuangan “sang imam”. Dulu Kamal Attaturk juga dibuatkan kesan “sangat hebat” di mata rakyat Turki.

Mungkin karena lagi “tak ada kerjaan”, kalangan Syiah di Iran berusaha melakukan ritual “napak tilas” dengan mengenang kembali saat-saat kedatangan Khomeini ke Iran. Agar upaya itu semakin khusyuk, mereka memakai beberapa foto Khomeini sebagai sarana ritual-seremonial. Mungkin ke depan, napak tilas ini akan dijadikan “obyek wisata spiritual” oleh kalangan Syiah Iran. Tak tahulah… (Sumber rujukan: Situs Albashirah.Com).

Mari kita lihat saja parade foto-foto ini, selamat “cuci mata”!

“Acara sudah mau dimulai, hatiku deg deg sekali! Oh sang imam…”

“Sang imam silakan turun dari pesawat, Graaakkkkk!”

“Sang imam mulai berjalan, hormaaaaaat gubrakkkk…eh maksudnya, graakkkk!”

“Sang imam naik mobil, grakkkkkkkk!”

“Kami siap mengawal perjalanan sang imam….brum brum brum….”

“Imam lagi duduk di majelis…semua diam…jangan berkata-kata…semua tenang! Mari kita dengarkan khutbah revolusi imam…”

“Eh, aduh…maaf imam, tadi tangan saya menyenggol kaki imam. Maaf, maafin, saya kurang sopan.”

HIKMAH

Dulu, Rib’i bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu, beliau diutus oleh Panglima Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘Anhu, untuk menjumpai Jendral Rustum, penguasa Persia. Mula-mula Rib’i hendak ditolak oleh Rustum, karena beliau adalah laki-laki kulit hitam. Tetapi para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum meyakinkan, bahwa Rib’i adalah laki-laki terbaik di tengah mereka.

Lalu Rustum bertanya kepada Rib’i: “Dengan membawa pesan apa Engkau datang kesini?”

Rib’i Radhiyallahu ‘Anhu menjawab: “Kami datang kesini diutus untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah saja; dari kezhaliman segala agama-agama, menuju keadilan Islam; dari sempitnya kehidupan dunia menuju keluasannya.”

Kata-kata Rib’i bin Amir ini begitu monumental, sehingga banyak dikutip oleh para ulama. Di balik kata-kata itu tercermin tujuan-tujuan asasi kedatangan Islam. Salah satunya, yang terpenting, ialah MEMBEBASKAN MANUSIA DARI HAKIKAT PENJAJAHAN & PENINDASAN, MENUJU KEMERDEKAAN SEBAGAI HAMBA-HAMBA ALLAH YANG HANYA MENGABDI KEPADA-NYA.”

Islam adalah Dinut Tauhid. Ciri kelurusan Islam, ketika disana manusia merdeka, bebas dari penindasan, penjajahan, dan penghambaan kepada sesama manusia (atau makhluk lain). Sedangkan ciri aliran sesat: pada akhirnya akan selalu menjajah kebebasan manusia sebagai hamba Allah. Dimana saja kebebasan beribadah kepada Allah dibelenggu oleh kultus individu, mengibadahi imam-imam, kasta, klas-klas, elitisme, eksklusivisme, kesenjangan sosial, ashabiyah (kesukuan), dll. waspadai disana ada kesesatan!

Kaum Persia sudah dibebaskan oleh Allah dari belenggu jahiliyah (penghambaan manusia ke atas manusia lainnya); tetapi kaum Syiah Rafidhah telah mengembalikan lagi era jahiliyyah itu. Banyak esensi ajaran Syiah itu yang mengandung makna: menyembah dan mengibadahi imam-imam Syiah (sesama manusia). Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa lil Muslimin.

AM. Waskito.


Barcelona dan Messi, Siapa Butuh Siapa?

Mei 12, 2012

Tanpa Gue, Emang Lu Bisa Menang?

Musim 2012 ini bisa dianggap sebagai musim paling buruk bagi Barcelona FC. Saat performa mereka sedang menanjak, Barca nyaris kehilangan semua gelar juara. Peluang terakhir meraih tropi piala Raja, Copa del Rey.

Rasanya sebuah ironi, saat banyak penggemar Barca sedang mengelu-elukan permainan Tiki Taka, justru Barca terpuruk. Pukulan paling telak ialah ketika Barca bermain versus Chelsea di Camp Nou, 25 April 2012. Dalam pertandingan itu Barca ditahan imbang 2-2. Padahal saat bermain di kandang Chelsea, Barca kalah 2-1. Total akhir angka 3-2 untuk kemenangan Chelsea.

Momen paling disesali oleh Barca ialah ketika Lionel Messi gagal mengeksekusi tendangan pinalti pada menit ke-48. Tendangan Messi hanya membentur mistar gawang. Kegagalan ini seperti meruntuhkan mental para pemain Barca. Mereka mendapatkan menit-menit istimewa untuk memperbesar keunggulan, tetapi gagal memenangi pertandingan dengan skor yang memuaskan. Akhirnya, Barca tersingkir dari liga Champions.

Tapi ceritanya…ini bukan soal bola. Ini adalah semacam bagi-bagi inspirasi dan cara pandang…

[1]. Kegagalan Lionel Messi seperti sebuah ironi besar, ketika pemain itu justru sedang berada di puncak prestasi. Seperti pesawat yang sedang menukik ke atas mencapai ketinggian di atas 30.000 kaki (posisi di atas awan); lalu ia tiba-tiba terpelanting jatuh vertikal ke bawah. Tidak dibayangkan kalau ada kondisi seperti itu. (Ya…samalah seperti para awak pesawat dan penumpang Super Jet 100 Sukhoi yang sedang bergembira ria di atas pesawat, dengan senyum lebar, dandanan seksi, dan sebagainya, lalu tiba-tiba gubrakkk…mencium tebing Gunung Salak). Di puncak hasrat kegembiraan manusia, kadang muncul kekalahan tiba-tiba.

[2]. Manajemen Barca sangat berambisi mendatangkan Fabregas dari Arsenal. Alasannya, karena pemain itu memang bagus menurut standar Barca, ia menjadi andalan Arsenal, lagi pula masa kecilnya Fabregas dididik di akademi bola Barca. Tetapi kedatangan Fabregas seperti membawa “paceklik gelar”…karena selama di Arsenal dia juga sedikit berperan membawa Arsenal sukses membawa gelar. Hampir tidak membawa gelar apapun. Dulu dalam suasana pelayaran kapal layar antar pulau, antar negara, sebelum ada pesawat terbang. Kalau di dalam kapal ada manusia pendosa, ia dipercaya akan membawa masalah dalam pelayaran. Maka itu, kalau kapal layar dilanda badai, manusia pendosa itu harus dilemparkan ke laut. (Mungkin ya…di tubuh pesawat Superjet Sukhoi itu ada orang-orang yang secara moralitas kurang bagus, sehingga keberadaannya membawa masalah bagi keselamatan penerbangan. Ya ini hanya analogi saja kalau dibandingkan dengan situasi di kapal layar). Adapun soal Fabregas…lupakan sajalah!

[3]. Dalam pertandingan bola, kalau seluruh pemain menumpuk di depan gawang, maka tim lawan sehebat apapun pasti sangat sulit menembus barisan pertahanan itu. Andaikan Persija lawan Barca, lalu 10 pemain Persija menjadi back semua, tidak satu pun yang boleh menyerang; belum tentu Barca bisa mengalahkan Persija dalam kondisi itu. Tipe permainan Barca menyerang, sedangkan Chelsea dalam beberapa kali pertemuan bersikap “bertahan terus”. Hingga Pep Guardiola menyindir, “Nanti saat bermain di Camp Nou, seluruh pemain Chelsea ditumpuk di depan gawang.” Hei…ternyata ide Pep dilaksanakan dengan sempurna oleh Chelsea. “Thanks much for the idea, Pep!” barangkali begitu komentar Ramires dan kawan-kawan.

Untuk mencapai suatu keberhasilan dalam penerbangan, apalagi dalam even percobaan; seharusnya menerapkan ide “minimum in risk” (meminimalisasi resiko). Meskipun nanti disebut pengecut, tidak jantan, cewek, atau apapun lah…untuk penerbangan yang krusial, diharapkan kesuksesannya 100 %, mestinya menerapkan standar keamanan prima. Ketinggian terbang telah dipikirkan masak-masak, rute penerbangan dipikirkan, apa saja yang dilakukan di dalam pesawat di-setting sedemian teliti. Bolehlah ia dianggap sebagai “penerbangan paranoid”. Tidak mengapa. Asalkan uji penerbangan itu sukses besar. Lha ini tidak, sudah ketinggian minimum, lewat jalur gunung-gunung berkabut, aktivitas di dalam pesawat tidak terjaga secara moral (Islami). Mestinya Sukhoi belajar dari manajemen “resiko minimum” Di Matteo Chelsea. Kali mereka tidak menonton laga Champions itu ya…

[4]. Kegagalan Messi mengeksekusi pinalti, membuat wajah awak manajemen dan pemain Barca muram. Mereka sedih, kesal, dan kecewa. Tapi mereka tidak bisa apa-apa, wong Barca sangat bergantung ke Messi. Tanpa Messi, siapa yang bisa mencetak gol di Barca…he he he (becanda). Messi adalah simbol kemenangan Barca, dan Barca sangat butuh Messi; meskipun dalam timnas Argentina, keadaan Messi tak ubahnya seperti Bambang Pamungkas, jarang membawa timnas menang. Barca boleh sedih karena kegagalan Si Messi, tapi Messi juga punya alasan: “Emang kalau bukan karena Gue, Lu bisa menang githu?” (Katanya, pilot SSJ 100 itu sangat berpengalaman. Wah, pokoknya sudah hebat lah reputasi terbangnya. Tapi ya kok melompati Gunung Salak saja tidak bisa? Ini kan ironis…pesawat-pesawat besar, apalagi bermesin jet, mestinya jangan lewat tempat-tempat sempit di Gunung Salak itu. Mungkin pihak pilotnya punya alasan, “Kalau bukan Gue, emang siapa yang handal membawa pesawat ini?” Jadi serba dilematik. Pilot disalahkan, dia sudah pengalaman. Kalau tidak disalahkan, kok kecelakaan itu amat sangat tragis sekali).

Nama Lionel Messi sungguh unik. Kalau diuraikan ia menjadi: Lion El Messi. “El” dalam bahasa Latin sama dengan “Al” dalam bahasa Arab. Kata ini menjadi penyambung makna antara kata sebelumnya dengan sesudahnya. Lion El Messi artinya kurang lebih: Singa-nya Messi. Messi sendiri dari kata Messiah. Messiah itu dalam terminologi Yahudi, sebagai pemimpin yang mereka tunggu-tunggu. Dalam terminologi Islam maknanya “Dajjal”; sedangkan dalam terminologi Syiah maknanya “Al Mahdi Al Muntazhar” atau sang imam yang dinanti-nanti. Konsep Imam Mahdi dalam Islam, sangat berbeda dengan “Imam Mahdi” Syiah.

Jadi, nama Lionel Messi itu sebenarnya merupakan promosi gerakan Zionisme juga. Hanya mungkin kita tidak menyadarinya… Bisa jadi nama asli “Lionel Messi” bukan itu, tapi demi promosi akidah apapun dilakukan.

Ke depan, tampaknya Sukhoi perlu belajar banyak dari riwayat Piala Champions Chelsea versus Barca. Semoga bermanfaat!

Admin.


Sisi Unik Prof. Widjajono Partowidagdo (Mantan Wamen ESDM)

Mei 7, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seringkali kehidupan yang terlalu formalis, rutinitas, atau penuh dengan norma-norma etik membelenggu; membuat manusia bosan, kehilangan sense of humanity-nya, bahkan meluruh kreativitasnya. Saat itu kita dinasehatkan untuk “out of box” (keluar dari kotak belenggu). Bisa berupa sikap, pemikiran, atau tindakan. Kata orang, “Sesekali iseng sedikit.”

Satu hal yang unik dari profil seorang Prof. Dr. Widjajono Partowidagdo, sebagai seorang akademisi, guru besar, bahkan pejabat birokrasi (Wakil Menteri ESDM). Dalam posisinya sebagai pejabat birokrasi, yang tentu saja banyak dikelilingi oleh aturan-aturan formal birokratis; dia mampu berpikir “out of box” (keluar dari kebiasaan).

Sebagai seorang pejabat, biasanya senang duduk di belakang meja, melakukan kunjungan kesana kemari, menggelar rapat, mendengar laporan bawahan, menyuruh sana-sini, meminta pelayanan serba “kelas satu”, dan sebagainya. Tapi sosok Profesor Widjajono tetap setia dengan hobinya, yaitu naik gunung. Tidak terbayangkan, seorang Wakil Menteri senang naik gunung. Dan hal itu dilakukan sekitar 6 bulan setelah menjadi pejabat kementrian.

Untuk klas para pejabat di Indonesia, hal ini termasuk unik dan mengesankan pendirian berbeda. Kata isteri Pak Profesor, suaminya memang hobi naik gunung, sehingga fisiknya selalu sehat. Entahlah, apakah kualitas sehat seorang pejabat di negeri ini ada dampaknya bagi kesehatan departemen yang dia pimpin; yang jelas kesehatan fisik itu memang penting. Tanpa kesehatan, kita akan terhambat melaksanakan banyak tugas kehidupan.

Sebagian orang menganggap hobi Pak Wamen tergolong ekstrem. Tapi sebagian lain menganggap, setiap orang punya cita-rasa berbeda.

Maka pada hari Sabtu, 21 April 2012, Sang Wamen dijemput maut, di Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun.

Kabarnya, beliau mengalami sesak nafas sehingga menimbulkan serangan jantung. Di gunung-gunung, dia suka berkunjung; disana pula umurnya berkesudahan. Kadang manusia bersembunyi dari maut, kadang pula ada yang mendatanginya.

Sebagai catatan. Ini informasi dari kawan-kawan pendaki. Jika seseorang naik ke puncak Gunung Semeru, dibatasi waktu naiknya. Mereka harus naik dan turun dari puncak, tidak boleh melebihi jam 12.00 siang. Kalau melewati itu, dari puncak akan luruh gas beracun yang mematikan. Maka di bawah puncak Semeru itu terdapat suatu area yang banyak batu nisannya. Batu nisan tersebut tanpa ada jenazah di bawahnya. Ia sekedar sebagai simbol pusara bagi para pendaki yang naik ke Puncak Semeru, dan tidak kembali selamanya. (Ya, ini sekedar catatan, jangan terlalu dipikirkan).

Belajar dari sebuah kejadian… Ternyata, ada manusia yang berusaha “out of box” dalam posisinya yang sebenarnya “super deep in box”.

Mine.