Barcelona dan Messi, Siapa Butuh Siapa?

Tanpa Gue, Emang Lu Bisa Menang?

Musim 2012 ini bisa dianggap sebagai musim paling buruk bagi Barcelona FC. Saat performa mereka sedang menanjak, Barca nyaris kehilangan semua gelar juara. Peluang terakhir meraih tropi piala Raja, Copa del Rey.

Rasanya sebuah ironi, saat banyak penggemar Barca sedang mengelu-elukan permainan Tiki Taka, justru Barca terpuruk. Pukulan paling telak ialah ketika Barca bermain versus Chelsea di Camp Nou, 25 April 2012. Dalam pertandingan itu Barca ditahan imbang 2-2. Padahal saat bermain di kandang Chelsea, Barca kalah 2-1. Total akhir angka 3-2 untuk kemenangan Chelsea.

Momen paling disesali oleh Barca ialah ketika Lionel Messi gagal mengeksekusi tendangan pinalti pada menit ke-48. Tendangan Messi hanya membentur mistar gawang. Kegagalan ini seperti meruntuhkan mental para pemain Barca. Mereka mendapatkan menit-menit istimewa untuk memperbesar keunggulan, tetapi gagal memenangi pertandingan dengan skor yang memuaskan. Akhirnya, Barca tersingkir dari liga Champions.

Tapi ceritanya…ini bukan soal bola. Ini adalah semacam bagi-bagi inspirasi dan cara pandang…

[1]. Kegagalan Lionel Messi seperti sebuah ironi besar, ketika pemain itu justru sedang berada di puncak prestasi. Seperti pesawat yang sedang menukik ke atas mencapai ketinggian di atas 30.000 kaki (posisi di atas awan); lalu ia tiba-tiba terpelanting jatuh vertikal ke bawah. Tidak dibayangkan kalau ada kondisi seperti itu. (Ya…samalah seperti para awak pesawat dan penumpang Super Jet 100 Sukhoi yang sedang bergembira ria di atas pesawat, dengan senyum lebar, dandanan seksi, dan sebagainya, lalu tiba-tiba gubrakkk…mencium tebing Gunung Salak). Di puncak hasrat kegembiraan manusia, kadang muncul kekalahan tiba-tiba.

[2]. Manajemen Barca sangat berambisi mendatangkan Fabregas dari Arsenal. Alasannya, karena pemain itu memang bagus menurut standar Barca, ia menjadi andalan Arsenal, lagi pula masa kecilnya Fabregas dididik di akademi bola Barca. Tetapi kedatangan Fabregas seperti membawa “paceklik gelar”…karena selama di Arsenal dia juga sedikit berperan membawa Arsenal sukses membawa gelar. Hampir tidak membawa gelar apapun. Dulu dalam suasana pelayaran kapal layar antar pulau, antar negara, sebelum ada pesawat terbang. Kalau di dalam kapal ada manusia pendosa, ia dipercaya akan membawa masalah dalam pelayaran. Maka itu, kalau kapal layar dilanda badai, manusia pendosa itu harus dilemparkan ke laut. (Mungkin ya…di tubuh pesawat Superjet Sukhoi itu ada orang-orang yang secara moralitas kurang bagus, sehingga keberadaannya membawa masalah bagi keselamatan penerbangan. Ya ini hanya analogi saja kalau dibandingkan dengan situasi di kapal layar). Adapun soal Fabregas…lupakan sajalah!

[3]. Dalam pertandingan bola, kalau seluruh pemain menumpuk di depan gawang, maka tim lawan sehebat apapun pasti sangat sulit menembus barisan pertahanan itu. Andaikan Persija lawan Barca, lalu 10 pemain Persija menjadi back semua, tidak satu pun yang boleh menyerang; belum tentu Barca bisa mengalahkan Persija dalam kondisi itu. Tipe permainan Barca menyerang, sedangkan Chelsea dalam beberapa kali pertemuan bersikap “bertahan terus”. Hingga Pep Guardiola menyindir, “Nanti saat bermain di Camp Nou, seluruh pemain Chelsea ditumpuk di depan gawang.” Hei…ternyata ide Pep dilaksanakan dengan sempurna oleh Chelsea. “Thanks much for the idea, Pep!” barangkali begitu komentar Ramires dan kawan-kawan.

Untuk mencapai suatu keberhasilan dalam penerbangan, apalagi dalam even percobaan; seharusnya menerapkan ide “minimum in risk” (meminimalisasi resiko). Meskipun nanti disebut pengecut, tidak jantan, cewek, atau apapun lah…untuk penerbangan yang krusial, diharapkan kesuksesannya 100 %, mestinya menerapkan standar keamanan prima. Ketinggian terbang telah dipikirkan masak-masak, rute penerbangan dipikirkan, apa saja yang dilakukan di dalam pesawat di-setting sedemian teliti. Bolehlah ia dianggap sebagai “penerbangan paranoid”. Tidak mengapa. Asalkan uji penerbangan itu sukses besar. Lha ini tidak, sudah ketinggian minimum, lewat jalur gunung-gunung berkabut, aktivitas di dalam pesawat tidak terjaga secara moral (Islami). Mestinya Sukhoi belajar dari manajemen “resiko minimum” Di Matteo Chelsea. Kali mereka tidak menonton laga Champions itu ya…

[4]. Kegagalan Messi mengeksekusi pinalti, membuat wajah awak manajemen dan pemain Barca muram. Mereka sedih, kesal, dan kecewa. Tapi mereka tidak bisa apa-apa, wong Barca sangat bergantung ke Messi. Tanpa Messi, siapa yang bisa mencetak gol di Barca…he he he (becanda). Messi adalah simbol kemenangan Barca, dan Barca sangat butuh Messi; meskipun dalam timnas Argentina, keadaan Messi tak ubahnya seperti Bambang Pamungkas, jarang membawa timnas menang. Barca boleh sedih karena kegagalan Si Messi, tapi Messi juga punya alasan: “Emang kalau bukan karena Gue, Lu bisa menang githu?” (Katanya, pilot SSJ 100 itu sangat berpengalaman. Wah, pokoknya sudah hebat lah reputasi terbangnya. Tapi ya kok melompati Gunung Salak saja tidak bisa? Ini kan ironis…pesawat-pesawat besar, apalagi bermesin jet, mestinya jangan lewat tempat-tempat sempit di Gunung Salak itu. Mungkin pihak pilotnya punya alasan, “Kalau bukan Gue, emang siapa yang handal membawa pesawat ini?” Jadi serba dilematik. Pilot disalahkan, dia sudah pengalaman. Kalau tidak disalahkan, kok kecelakaan itu amat sangat tragis sekali).

Nama Lionel Messi sungguh unik. Kalau diuraikan ia menjadi: Lion El Messi. “El” dalam bahasa Latin sama dengan “Al” dalam bahasa Arab. Kata ini menjadi penyambung makna antara kata sebelumnya dengan sesudahnya. Lion El Messi artinya kurang lebih: Singa-nya Messi. Messi sendiri dari kata Messiah. Messiah itu dalam terminologi Yahudi, sebagai pemimpin yang mereka tunggu-tunggu. Dalam terminologi Islam maknanya “Dajjal”; sedangkan dalam terminologi Syiah maknanya “Al Mahdi Al Muntazhar” atau sang imam yang dinanti-nanti. Konsep Imam Mahdi dalam Islam, sangat berbeda dengan “Imam Mahdi” Syiah.

Jadi, nama Lionel Messi itu sebenarnya merupakan promosi gerakan Zionisme juga. Hanya mungkin kita tidak menyadarinya… Bisa jadi nama asli “Lionel Messi” bukan itu, tapi demi promosi akidah apapun dilakukan.

Ke depan, tampaknya Sukhoi perlu belajar banyak dari riwayat Piala Champions Chelsea versus Barca. Semoga bermanfaat!

Admin.

Iklan

6 Responses to Barcelona dan Messi, Siapa Butuh Siapa?

  1. fahririzki berkata:

    Afwan Ustadz, kalimat yang ini:
    Tetapi kedatangan Fabregas seperti membawa “paceklik gelar”…karena selama di Arsenal dia juga sedikit berperan membawa Arsenal sukses membawa gelar.
    Terkesan tathoyyur.

  2. adiffahrizal berkata:

    Messi itu nama keluarga dari Itali pak… Gak ada hubungannya dengan Zionis… Aneh2 aja… Othak-athik mathuk… Tulisan2 model begini ini yang membodohi umat Islam

  3. abisyakir berkata:

    @ Fahririzki…

    Afwan Ustadz, kalimat yang ini: Tetapi kedatangan Fabregas seperti membawa “paceklik gelar”…karena selama di Arsenal dia juga sedikit berperan membawa Arsenal sukses membawa gelar. Terkesan tathoyyur.

    Respon: Alhamdulillah, Anda cukup jeli. Saya kira bagian itu akan terlewat. He he he. Alhamdulillah, ada yang jeli. Sebenarnya, kalau menyangkut perbuatan manusia (non Muslim) atau siapa saja yang tidak dikenal memiliki kebaikan-kebaikan; bisa hal itu menyebabkan datangnya kesulitan. Sebagaimana adanya orang-orang shalih/beriman, ia bisa akan mendatangkan kebaikan. Maka itu ada firman Allah: “Andaikan suatu kaum beriman dan bertakwa, maka akan Kami datangkan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi.” (Al A’raaf: 96).

    Kecuali, kalau dikaitkan dengan hari, benda, makhluk, atau siapa saja yang bukan mukallaf (dibebani) kewajiban Syariat. Maka ia bisa masuk dalam kategori tathoyur.

    AMW.

  4. abisyakir berkata:

    @ Adiffahrizal…

    Ya, boleh Anda berpendapat begitu. Kan keyakinan Messi-ah itu bukan hanya Yahudi, Nasrani juga mengenalnya. Saya gak tahu ya hubungan personel antara Messi dengan Zionis. Tapi secara simbol, itu sudah kena. Seperti simbol MU sebagai “red devil”. Itu sudah kena.

    Ya…jangan dibilang membodohi Ummat lah…kan itu urusan bola. Urusan bola bukan urusan agama. Boleh-boleh kita saja kan, selama tidak berlebihan mencintai urusan begituan. Akan membodohi ummat, kalau Anda dan masyarakat kaum Muslimin mencintai Messi, sebagai sebuah simbol sosial. Itu benar-benar sebuah kebodohan. Kalau tulisan begini kan termasuk kreativitas.

    AMW.

  5. adiffahrizal berkata:

    Mohon maaf sebelumnya pak ustadz…Sebenarnya tidak ada yang salah dari tulisan di atas. Cukup menarik dan menggelitik malah. Tapi yang agak ‘mengganggu’ bagi saya, waktu di bagian akhir anda ‘menganalisis’ nama Lionel Messi dengan metode othak-athik lalu menghubungkannya dengan Zionisme. Sebaiknya kita jangan terlalu cepat meloncat ke kesimpulan dengan modal analisis yang seadanya. Tapi ya saya bisa maklum lah, sepertinya tulisan ini memang tidak dimaksudkan sebagai tulisan ilmiah yang berat.

  6. abisyakir berkata:

    @ Adiffahrizal…

    Tidak apa-apa, mohon maaf juga kalau dalam tulisan itu tak berkenan di hati Anda. Sebenarnya, kalau mau jujur…siapa saja yang menjadi icon dunia, biasanya tidak lepas dari peran Yahudi dalam menjadikan orang itu sebagai icon. Hal-hal begini sering kok dibahas dalam studi konspirasi. Terimakasih atas masukannya.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: