Memilih Istilah “Wanita” Atau “Perempuan”?

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Unek-unek ini saya tahan sangat lama, bertahun-tahun. Terutama sejak nama sebuah kementerian di kabinet pemerintah berubah dari “Menteri Negara Peranan Wanita” atau “Menteri Negara Urusan Peranan Wanita”, diubah menjadi “Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan” pada tahun 2004, dengan menteri pertamanya Meutia Hatta Swasono (putri Proklamator Bung Hatta, sekaligus isteri Prof. Dr. Sri Edi Swasono). Kemudian berubah lagi menjadi “Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak” (Meneg PP & PA).

Sejak lama para aktivis gender dan feminis merasa terhina dengan sebutan “Wanita”. Bagi mereka istilah “Perempuan” lebih baik, lebih mulia, lebih manusia, dan tidak mengesankan praktik penindasan oleh kaum laki-laki. Mungkin untuk memperkuat hal itu, mereka pun melantunkan sebuah lirik lagu yang sayup-sayup terdengar, “Sejak dulu, wanita dijajah pria….”

Kemuliaan Wanita Tercermin dari Komitmen Moralnya.

Mengapa para aktivis gender, termasuk Meutia Hatta, begitu tidak suka dengan istilah Wanita? Mengapa mereka justru lebih suka dan mencintai istilah Perempuan?

Alasannya adalah: Kata wanita dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Jawa, yaitu WANITO. Sedangkan makna Wanito itu wani ditoto atau berani ditata. Mengesankan, wanita selalu diatur-atur, selalu dikendalikan, selalu diperintah oleh kaum laki-laki. Ya begitulah analoginya, yang kerap disampaikan oleh para aktivis gender dan feminis.

Terus terang, saya merasa gelisah dengan logika berpikir seperti itu. Bukan karena alasan mendukung penindasan, diskriminasi, atau penghinaan martabat wanita; karena bagaimanapun ibu saya, kakak-adik saya juga wanita, isteri dan anak-anak saya juga wanita; sehingga tidak mungkin kita ingin menindas wanita sebagai sesama hamba Allah. Penindasan seperti itu adalah peninggalan era jahiliyah masa lalu yang sudah diperbaiki oleh ajaran Islam.

Tapi realitas di zaman modern, penindasan wanita, pelecehan, eksploitasi, atau perbudakan, bukan tidak ada. Hanya berubah sebutan saja. Peradaban kapitalis Barat, secara penampilan seolah memberi memberi kebebasan wanita, padahal hakikatnya melenyapkan substansi dan esensi kemuliaan martabat wanita itu sendiri. Nia Dinata dan kawan-kawan pernah show of force dengan memakai hots pant, rok mini, dan lainnya memprotes pernyataan Gubernur DKI tentang rok mini. Ekspresi seperti itu dan semisalnya, seperti foto dan video pornografi yang melibatkan model utama kaum wanita, tari erotis, busana seksi, dll. semua itu menunjukkan kerelaan wanita-wanita masa kini menjadi obyek eksploitasi. Mereka rela dan bangga “diperbudak”. Lucunya, praktik “perbudakan” itu diberi judul “kebebasan wanita”. Aneh sekali, wanita zaman modern ini tidak mau diberi kehidupan nyaman, aman, terlindungi, terhormat, memiliki anak dan keluarga, yang sesuai fitrah mereka. Malah mereka sangat nafsu dan gembul melahap satu demi satu praktik eksplotasi. Sangat mengherankan sekali.

Dalam pandangan saya, pemilihan istilah Wanita, itu sudah benar dan sangat bermakna. Sedangkan pemilihan istilah Perempuan, justru ia menghinakan harkat martabat kaum wanita sendiri. Saya punya banyak alasan yang bisa disebutkan disini. Maka itu saya jarang memakai istilah Perempuan, demi memuliakan martabat kaum Wanita. Istilah Perempuan biasa kami pakai untuk menyebut anak-anak perempuan dan remaja (belum dewasa).

Berikut ini alasan-alasan yang bisa disampaikan…

[1]. Kata Wanita merupakan kata yang memiliki makna, sedangkan kata laki-laki atau pria, itu tidak jelas apa maknanya. Coba Anda pikirkan, apa arti kata laki-laki atau pria? Tidak ada kan. Kalau wanita ada, yaitu wanito wani ditoto atau berani ditata. Ini adalah satu kelebihan permulaan.

[2]. Dulunya, kata Perempuan itu dipakai untuk menyebut dua jenis kaum wanita. Pertama, dipakai untuk menyebut wanita yang masih berusia anak-anak atau remaja. Misalnya ada yang berkata, “Di kelas ada 10 anak perempuan.” Untuk orang dewasa, memakai kata wanita. Kedua, dipakai untuk menyebut “wanita nakal” alias pelacur. Dulu kita mendengar ada orang yang berkata, “Dia suka main perempuan.” Maksudnya, suka mencari kesenangan dengan wanita-wanita pelacur. Atau ada yang berkata, “Dasar perempuan murahan!” Atau ada yang berkata, “Tenang saja, disana banyak perempuan.” Atau perkataan lain, “Kemana-mana dia selalu membawa perempuan.” Kata-kata ini sebagian besar mencerminkan dunia hitam (dunia amoral).

[3]. Wanita-wanita yang terlibat dalam prostitusi dulu dikenal dengan nama WTS (Wanita Tuna Susila; maksudnya, wanita yang tidak memiliki standar moralitas). Lihatlah, meskipun posisi mereka sebagai pelayan prostitusi, tetapi istilahnya masih sopan. Bandingkan dengan istilah PEREK (Perempuan Eksperimen) yang juga dipakai di masa lalu. Istilah WTS lebih sopan ketimbang PEREK. Sedangkan istilah PSK (Pekerja Seks Komersial) adalah istilah menyesatkan, sebab ia menyamakan dunia prostitusi seperti dunia profesional yang halal. Dunia pelacuran yang haram di-halalisasi dengan istilah PSK. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[4].  Dari asal-usul kata, Perempuan berasal dari kata “Empu”. Empu maksudnya milik. Misalnya ada kalimat, “Siapa empunya buku ini?” Maksudnya, siapa pemilik buku ini? Atau ada kalimat, “Tanyakan pada empunya pekerjaan itu!” Maksudnya, tanyakan kepada pemilik pekerjaan itu. Atau misal ada kalimat, “Barang ini sudah rusak sejak didatangkan dari si empunya.” Namun ketika kata “empu” disambung dengan imbuhan “per-an” menjadi “per-empu-an”, ia bisa memiliki makna negatif. Perempuan disini bermakna “permilikan”.  Kata yang semodel itu misalnya pertigaan, pertapaan, perternakan, perjudian, pertarungan, percobaan, perzinahan, perselisihan, pertukangan, dll. Jadi kata Perempuan bermakna “Permilikan”, atau tentang suatu kepemilikan, atau sesuatu yang dimiliki.

Misalnya ada aktivis gender yang berkata, “Di balik kata Perempuan ada makna yang mulia yaitu memiliki sesuatu.” Pertanyaannya, memiliki apa? Memiliki sesuatu itu luas sifatnya; bisa apa saja, baik atau buruk. Pengertian “memiliki sesuatu” tidak jelas apa yang dimiliki. Kalau dikaitkan dengan penggunaan kata Perempuan di masa lalu, pada komunitas anak-anak perempuan dan wanita-wanita nakal, maka kata Perempuan itu lebih tepat bermakna “sesuatu yang dimiliki“. Anak-anak perempuan dimiliki oleh orangtua dan keluarganya, sedangkan perempuan nakal dimiliki oleh laki-laki hidung belang.

Kata Perempuan justru bisa bermakna kaum wanita sebagai “obyek kepemilikan” orang lain (kaum laki-laki). Mereka seperti benda, barang, atau properti. Ini adalah pemaknaan yang sangat tidak bermartabat bagi kaum wanita. Dan sangat mudah dipahami kalau dulu, orang-orang menggunakan kata Perempuan untuk menyebut wanita nakal. Karena sudah menjadi kebiasaan laki-laki amoral (di Timur maupun Barat), mereka biasa memiliki Perempuan untuk dieksploitasi dengan syahwat gelapnya.

[5]. Para aktivis gender marah dengan istilah Wanita. Kata itu menurut mereka bermakna penindasan. Mereka menuduh, kata Wanita itu dipaksakan kaum laki-laki di masa lalu untuk menindas kaum wanita. Nah, masalahnya siapa yang tahu bahwa istilah Wanita (atau Wanito) itu dimunculkan oleh kaum laki-laki? Siapa yang bisa memastikan hal itu? Bisa saja kan, istilah itu dimunculkan oleh kaum Wanita sendiri, untuk memberikan makna luhur dalam predikat mereka sebagai wanita? Selagi para aktivis itu tidak bisa membuktikan siapa yang paling pertama meng-introdusir istilah Wanita, mereka tidak boleh menyalahkan kaum laki-laki.

[6]. Andaikan pengertian Wanita kita pastikan sebagai Wanito atau wani ditoto (berani ditata); apakah kata-kata seperti itu buruk? Ditoto itu artinya: ditata, diatur, dimanajemen, diurus baik-baik. Semuanya memiliki konotasi positif. Di balik istilah Wanita terdapat makna-makna luhur, yaitu: Taat aturan, patuh pada hukum, komitmen dengan prosedur, tidak koruptif, tidak menyeleweng. Makna-maknanya sangat baik. Mengapa lalu malah diganti Perempuan yang bisa bermakna “sesuatu yang dimiliki”? Aneh banget. Hal ini seperti perkataan Nabi Musa ‘Alaihissalam kepada Bani Israil: “Atastabdiluna alladzi huwa adna billadzi huwa khair” (apakah kalian meminta ganti yang buruk untuk menggantikan yang baik?). [Al Baqarah: 61].

[7]. Kata Wanita memiliki makna berani ditata, berani diatur, taat hukum, taat aturan main, taat regulasi, tidak korupsi, tidak manipulasi, tidak menyalah-gunakan prosedur. Ini adalah suatu makna yang luhur. Justru kaum laki-laki atau pria, tidak jelas apa pengertian dari kata itu. Di balik kata Wanita tercermin suatu komitmen untuk patuh kepada aturan, baik aturan negara, aturan organisasi, aturan perusahaan, aturan rumah-tangga, maupun tentunya aturan Tuhan (Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Masya Allah, ini adalah suatu performa moral yang tinggi.

[8]. Mungkin sebagian aktivis gender dan feminis akan melontarkan sanggahan. Bisa jadi mereka akan berkata, “Tetapi pengertian Wanita (Wanito) atau berani ditata itu maksudnya tidak begitu. Maksudnya, lewat istilah itu kaum laki-laki ingin menindas, menjajah, membelenggu kebebasan, dan mengendalikan kaum wanita seenaknya sendiri. Begitu maksudnya.”

Kita jawab pemikiran ini. Pertama, logika berpikir seperti itu tidak punya landasan apapun, selain prasangka buruk, kecurigaan, dan provokasi permusuhan antar gender. Ia hanyalah prasangka buruk, tanpa landasan. Prasangka buruk tidak boleh dibawa ke ranah peradaban manusiawi, sebab ia berada di area lain. Kedua, kata ditata, diatur, diurus, sama sekali tidak memiliki makna ditindas, dieksploitasi, dijajah, dibelenggu; keduanya sangat berbeda. Penataan, pengaturan, regulasi, memiliki makna positif untuk mengurus segala sesuatu sebaik-baiknya; tiap elemen diletakkan secara fit dan proper. Ketiga, andaikan kaum wanita mesti ditata, apakah hanya mereka yang harus taat aturan, hukum, atau prosedur? Kaum laki-laki pun tidak bisa lepas dari aturan hukum.

Jadi, upaya memberi makna pada kata Wanita dengan: penindasan, pelecehan, penjajahan, eksploitasi, dll. oleh kaum laki-laki; semua ini hanyalah prasangka buruk, stigma, dan penyesatan. Tidak ada suatu pijakan yang bisa dijadikan pegangan. Justru tuntutan kebebasan mutlak seperti yang selalu diminta oleh para aktivis gender itu, ia kerap kali akan berakhir dengan ekploitasi terhadap kehidupan kaum wanita itu sendiri.

[9]. Perkara terburuk dibalik sosialisasi istilah Perempuan secara massif dan sistematik, untuk menggantikan istilah Wanita; ia akan menjadikan kaum Wanita sebagai obyek eksploitasi, sebagai properti yang dimiliki, sebagai suplier kebutuhan industri, sebagai “barang dagangan”, dan sebagainya. Mengapa demikian? Karena istilah Perempuan itu sendiri tidak memiliki konotasi yang positif seperti istilah Wanita. Ia malah bisa bermakna sebagai “properti yang dimiliki”. Ada kesan, dengan melegalkan istilah Perempuan sebagai istilah umum, hal itu seperti membuka pintu-pintu LIBERALISASI kultur kaum wanita seluas-luasnya. Kalau masih dipakai istilah wanita, maka kemana-mana istilah itu mengandung makna moral luhur. Sangat berbeda dengan istilah Perempuan.

[10]. Terakhir, dalam bahasa Inggris, istilah Wanita identik dengan Women; sedangkan istilah Perempuan identik dengan Girl. Baik Women atau Girl menunjuk ke gender Wanita, tetapi rasa bahasanya berbeda. Istilah Women lebih dewasa dan sopan.

Demikian sebuah kajian kritis yang sekian lama membebani pikiran, jika belum disampaikan. Singkat kata, penggunaan nama “Menteri Negara Peranan Wanita” itu lebih baik daripada memakai nama “Menteri Wanita Pemberdayaan Perempuan”. Mengadopsi istilah Perempuan dalam ruang-ruang publik, formal, dan birokrasi; menunjukkan tingkat kemerosotan moral bangsa yang serius. Saat kaum wanita oleh para pendahulu diberikan predikat sebagai kaum bermoral, justru di masa kini ia diberi label berbeda yang mengesankan dirinya sebagai “obyek eksploitasi”. Sangat menyedihkan!

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.

Iklan

41 Responses to Memilih Istilah “Wanita” Atau “Perempuan”?

  1. Amin P berkata:

    Saya baru membaca sekali ini analisa kata di atas ( wanita & perempuan-red), selama ini mungkin tidak memperhatikannya… mungkin kalau ada ahli bahasa akan beda komentarnya. jazakallah info segarnya ustadz

  2. lukman mubarok berkata:

    saya pernah dengar katanya perempuan itu berasal dari kata empu yang artinya punya, dengan awalan per dan an artiannya perpunyaan alias sesuatu yang dipunyai….. itu kata orang lho, mungkin beda kalau menurut ahli bahasa

  3. abisyakir berkata:

    @ Lukman Mubarak…

    Misalnya, kita artikan perempuan sebagai “perpunyaan”. Nah, maksudnya apa? Kalau perempuan itu punya sesuatu, punya apa? Disini ia menjadi tidak jelas.

    Atau perpunyaan itu kita artikan: yang dipunyai? Kalau makna kata perempuan sama dengan “yang dipunyai”, lagi-lagi ia seperti properti yang dimiliki oleh pihak lain.

    Jazakumullah khair untuk berbaginya Al Akh Lukman Mubarak. Barakallah fikum.

    AMW.

  4. sawi berkata:

    kelihatan sekali artikel ini sangat anti terhadap gerakan emansipasi perempuan. setahu saya kata dasar perempuan berasal dari kata empu, orang yang mulia, memiliki pengetahuan, bukan empu yg dimaksudkan empunya, miliknya. saya heran dengan kalian orang-orang Islam yang berpikiran sangat patriakhi, mencari berbagai peneguhan keyakinan untuk menegasikan perubahan sosial antara perempuan dan laki-laki. saya juga heran, sedemikian panjangnya artikel ini, tapi tidak berbobot dan tidak mencerahkan. mohon maap saya yang dalam.

  5. abisyakir berkata:

    @ Sawi…

    Ya kalo emansipasi bermaksud merusak fitrah manusia yang berpasang-pasangan, ya harus dilawan, sebab yang begituan pasti akibatnya menyusahkan.

    Kata “empu” bukan berasal dari kata “empu” yang artinya orang mulia atau orang berilmu. Orang mulia atau pendeta Hindu, disebutnya “Mpu” bukan “empu”. Lagian itu kan gelar, bukan kata tertentu, sama seperti gelar raden, kyai, tubagus, sutan, dll. Gelar begituan tak punya makna khusus.

    Kata “empu” ya berasal dari makna milik, kepunyaan, properti, dst. Bukan sejenis Mpu Gandring, Mpu Tantular, dst. Itu jelas beda.

    Jadi sebenarnya siapa yang gak tahu disini?

    Admin.

  6. Siti K berkata:

    Saya sebenarnya setuju dengan kata perempuan atau wanita. karena sebenarnya itu hanya istilah sja. pada intinya rohani dan jasmani d beri sma oleh Allah S.W.T. beliau sma sekali tdk men judge apakah perempuan lebih baik dri wanita. 🙂

  7. Siti K berkata:

    oia, sya melihat anda bgitu tidak stuju dgn adanya emansipasi. dan banyak men judge buruknya gerakan emansipasi. mengapa demikian? apakah emansipasi hanya sebatas kebebasan ruang gerak perempuan? lantas pemikiran seorang perempuan mau d kemanakan? ada istilah “di balik kesuksesan seorang laki2 adalah perempuan” klo mnurt sya, kta ” d balik” memiliki makna bahwasanya perempuan/ wanita mampu menyokong dan memberikan pemikiran2 yg baik untuk kemajuan seorang “laki2” (bgi yg sdh menikah). dan istilah gerakan gernder bukanlah suatu gerakan untuk melawan kaum laki2 serta menyalahkan kaum laki2. hal itu d buat karena perempuan/ wanita memiliki keinginan yg sma dgn laki2. krena secara harfiah kami jg manusia yg d berikan rasa ingin terhadap sesuatu. lantas apakah slah ketika perempuan/ wanita mencari pekerjaan untuk membantu keuangan dlm rumah tangga? jika anda menuntun kritisan pada agama maka ada baiknya telaah lebih jauh kefleksibelas ajaran agama. seyogyanya agama Islam merupakan agama yg paling sempurna. memberikan pengarahan mengenai perilaku manusia, yg wajib d kerjakan dan yg hrus d hindari. namun Islam tidak tertutup dgn kemajuan zaman. artinya sebagai manusia kita paput fleksibel dlm menghadapi perubahan. cranya bsa menggunakan Teori Akulturasi ataupun Asimilasi. selain itu, untuk memperbaiki kesalahan2 tanggapan mengenai “emansipasi” ada baiknya kita melihat kelebihan dri emansipasi, bukan kekurangan dri emansipasi. karena dgn mencari kekurangan trs menerus akan membawa kemunduran bukan kemajuan.

  8. abisyakir berkata:

    @ Siti K…

    Sebenarnya kami bukan anti “kebebasan wanita” Mbak. Wong Umar bin Khatthab RA saja sudah menyadari itu, sejak turunnya Surat An Nisaa’. Itu sejak era Kenabian. Tapi kami sangat tidak suka dengan gerakan yang mengatasnamakan emansipasi, padahal hakikatnya: menjadikan wanita sebagai KOMODITI doang! Kami punya ibu, kakak-adik wanita, isteri dan anak-anak wanita; tidak mungkin kami membiarkan gerakan EKSPLOITASI yang mengatasnamakan emansipasi itu. Itu gerakan perbudakan dalam makna yang lain; tapi dalil-dalilnya seolah ilmiah dan hebat; karena ujung dari semua itu akibatnya adalah penderitaan bagi kaum wanita itu sendiri.

    Semoga Mbak memahaminya. Terimakasih.

    Admin.

  9. abisyakir berkata:

    @ Siti K…

    Ya sama saja Mbak, Allah juga tidak men-judge apakah istilah “bangsat” lebih jelek dari istilah “penjahat”. Tidak men-judge. Tapi kita diberi akal dan hati untuk memahami mana yang lebih baik.

    Admin.

  10. Fulan2 berkata:

    untuk masalah analogi antara wanita dan perempuan saya lebih setuju dengan perempuan(MILIA) YANG LEBIH kearah kodrati seorang perempuan untuk selalu di hormati dihargai dan di sayangi.

  11. Suparyono berkata:

    Ulasan yang sangat ngawur.

  12. RiderAlit berkata:

    Dalam bahasa Indonesia ada istilah ameliorasi dan peyorasi. Kata “wanita” itu ameliorasi sedangkan kata “perempuan” itu peyorasi. Saya juga heran kenapa pemerintah menggunakan frasa “pemberdayaan wanita”. Apa itu ameliorasi dan peyorasi silahkan dicari sendiri. Saya setuju dengan gagasan artikel ini. Kata wanita memiliki rasa bahasa yang lebih tinggi daripada perempuan.

  13. abisyakir berkata:

    @ Suparyono…

    Yang ngawur kami atau kamu? Coba kamu buktikan, mana argumen kamu? Justru kamu itu yang ngawur. Cuma komen tanpa dasar apa pun.

    Admin.

  14. abisyakir berkata:

    @ RiderAlit…

    Ya terimakasih. Kami sangat heran, justru kata “wanita” itu menunjukkan komitmen pada ATURAN, tanda kepatuhan HUKUM. Kenapa kok ditolak? Kalau misalnya bermakna “patuh pada eksploitasi laki-laki” harusnya bukan WANI DITOTO, tapi WANI DIANIOYO (berani dianiaya).

    Admin.

  15. Fulan-1 berkata:

    saya sgt awam tp rasanya lebih enak kata “wanita” daripada “perempuan” mungkin karena kata perempuan lebih sering digunakan untuk hal-hal yang negatif, seperti perempuan nakal bukannya wanita nakal. Maaf tidak ada niat untuk membela salah satu pihak.

  16. arif berkata:

    Adminnya ngk asik, buat tulisan tapi kalau ditentang malah ditantang,nampak memang dari isinyapun seolah-olah “memaksa” dan merasa diri dan pendapat yg benar. Saya juga memaknai secara sedrhana wanita itu lebih berkonotasi lebih baik dari kata perempuan,tetapi tanpa menjudge perempuan dgn konotasi negatif,itu berlebihan namanya.

  17. abisyakir berkata:

    @ Arif…

    Bukan ditentang, tapi mempertahankan pendapat. Kalau kamu punya pendapat lebih bagus, It’s okay. Biasalah diskusi. Masak diskusi aja cemberut? Wek wek wek…

    Admin.

  18. Kris berkata:

    Admin bilang kata pria gak ada maknanya atau artinya, padahal kata pria itu menurut asal usulnya (pelajaran kelas 1 SMA) adalah :
    Para-yayi – priyayi – pria.
    Para yayi atau para ‘adik’ itu merujuk pada ‘adik-adik’ raja di jaman dulu.
    Lalu berkembang menjadi priayi, yang maknanya merujuk pada kaum bangsawan (male).
    Lalu berkembang lagi menjadi pria, yang makna nya merujuk pada seluruh manusia berjenis kelamin laki-laki (biasanya yang sudah dewasa.
    Fenomena seperti ini dalam bahasa indonesia dikenal sebagai pergeseran makna perluasan (generalisasi).
    Pergeseran makna ini maksudnya adalah pergeseran makna suatu kata yang tadinya hanya merujuk kepada hal-hal spesifik tertentu berubah menjadi merujuk pada hal yang sifatnya lebih umum.
    Hal yang sama kita jumpai pada istilah putri, yang tadinya maknanya hanya merujuk kepada anak perempuan raja saja berubah menjadi merujuk kepada anak perempuan siapa saja (putrinya bapak ini, putrinya ibu ini, putri indonesia)

    Begitu juga kata perempuan.
    Perlu di ingat asal muasal kata perempuan dan ’empu’ itu seperti apa.

    Kata Mpu atau Empu sendiri digunakan sebagai gelar pada era Hindu pada orang yang meminpin keagaman atau yang memiliki keahlian pada bidang tertentu, yang harkatnya mulia, yang mulia karena memiliki ilmu tertentu.
    Lalu muncul beberapa pergeseran makna seiring berjalannya waktu, civilization, culture dan berbagai faktor lainnya (pelajari kembali tentang pergeseran makna dalam bahasa)

    Salah satu pergeseran makna itu adalah pada kata empu-nya, yang merujuk pada ‘ahlinya’ atau ‘yang menguasi’.
    Lalu empu-nya berubah menjadi Punya yang berarti ‘yang menguasai’ atau ‘yang memiliki.

    Sedangkan kata perempuan, asal-usulnya bukanlah merujuk pada kata ’empu’ yang bermakna ‘punya’ , tetapi justru kata ’empu’ yang memiliki makna berilmu, mulia, dan memiliki kedudukan tinggi.
    Itulah sebabnya perempuan, atau perempuan atau puan pada jaman dahulu juga digunakan untuk menyebut istri datuk, lalu digunakan juga sebagai lawan kata tuan (tuan-puan).
    Kata perempuan ini juga akhirnya mengalami pergeseran makna perluasan di masa sekarang. Perempuan kini merujuk kepada semua manusia yang memiliki vagina, bisa melahirkan menyesui dsb.

    Perihal mengapa orang feminis lebih memilih istilah perempuan dibandingkan wanita dikarenakan memang asal muasal kata wanita merupakan produk patriarki jawa, yakni wanito atau waniditoto, atau diatur2.
    Bahwa kemudian anda berpendapat jika istilah wanita itu lebih tinggi dari kata perempuan adalah produk dari pelabelan wanita yang merendahkan.

    Perempuan diasosiasikan tanpa nilai, sementara wanita lebih mengarah kepada kedewasaan. Terang saja karena definisi dewasa di sini adalah sebuah pengabdian yang tersirat. Karena itu wanita hanya dinilai tinggi ketika bisa mengabdi sehingga diinginkan oleh lelaki. Kesetiaan kemudian dijadikan lebih baik dari kemandirian.

    Sangat wajar jika kaum feminis lebih nyaman bila menggunakan istilah perempuan.

    Terlepas dari semua hal diatas, kata wanita maupun perempuan sama-sama baik, jika kita menganggap bahasa indonesia adalah bahasa yang egaliter, bukan bahasa feodal. Karena di masa sekarang baik wanita maupun perempuan sama-sama merujuk manusia bervagina, berahim, melahirkan dan menyusui.

    Terimakasih.

  19. abisyakir berkata:

    @ Kris…

    Terimakasih untuk diskusinya yang hangat dan menarik. Mohon maaf bila ada bagian-bagian dalam terminologi itu yang belum terjangkau pengetahuan kami. Terutama kata “pria”. Terimkasih.

    Admin.

  20. Artikel yg bagus @admin. dan ada pula komentar yg bagus dan sinambung.

    Ilmu sejati nya di gunakan untuk mengayomi, orang pintar berguna jika dia ikhlas berbagi bukan “minteri” >mengakali. Dg ego nya ingin menguasai itu jg fitrah “buruk” manusia.

    Diskusi itu mencari solusi bukan unjuk gigi bahasa sekolahan yang lebih tinggi. Sebagai awam pun akan lebih memilih kata wanita drpd perempuan dilihat, diucapkan dan didengar lebih enak dan terhormat. Artikel ini ingin menyelamatkan dan menjujung tinggi harkat dan martabat seorang wanita itu sendiri.

    Fitrah dan kodrat adalah ketentuan illahi yang tidak bisa di tawar dg ilmu dan jaman apapun. Gerakan modernisasi di gagas oleh dunia barat yang bebas tanpa batas, amerika terkenal akan itu. Tapi di indo yang di dasari hidup lebih bermoral dan bernorma ada beberapa yang meresa tertekekang akan itu karena tipis nya iman. Maka tergoda, ilmu modern tapi perilaku jahiliah apa bedanya. Seharus nya semakin berilmu semakin menunduk karena tahu, semakin tahu semakin berat tanggung jawab nya. Bukan semakin tahu malah semakin sombong.

    Banyak sekali seperti penampilan pakaian wanita yang tidak menutup aurat malah menimbulkan wanita itu mengalami banyak kerugian. Tapi banyak wanita yang sudah kehilangan iman, malah senang jika dirinya jadi exploitasi pria nakal. Seperti dinikmati lekuk tubuh nya, dibilang cantik dsb, sampai ada yg extrim lagi di perkosa karena hanya kebebasan berpakaian. Aurat mengundang syahwat, syahwat itu jahat. Tapi banyak wanita malah suka.

    Sedang suka berpakaian minim dan dibilang cantik itu sendiri adalah sebuah penyakit jiwa, silahkan googling saya lupa. Jadi masalah disini adalah aksi emansipasi yang menyalahi fitrah itu salah. Sedang menentang al-kodrati adalah menentang ketentuan Tuhan. Kita ciptaan Tuhan bukan.

    menurut saya pribadi, yang sangat menjunjung tinggi bahasa “ibu” : EMANSIPASI hanyalah PROYEK garapan luar negeri untuk merusak kaum wanita itu sendiri, yang termakan adalah wanita karir, maka ini jadi megaproyek, pada dasarnya ada pada “KETURUNAN” selanjutnya, seorang ibu yang buruk hati nya akan melahirkan seorang anak yang akan mudah menjadi buruk pula. mega proyek ini sebenarnya demi masa depan yaitu mengurangi orang baik dengan cara mengurangi ibu yang baik, contoh besarnya adalah ANGKA PERCERAIAN yang semakin merajalela setelah EMANSIPASI di galakan oleh si aktor aktor itu, korbanya ibu rumah tangga biasa yg minim pendidikan dan itu menguasai hampir separuh penduduk indonesia, karena yg pasti 70+% rakyat indo digaris kemiskinan dalam arti sebenarnya. dikurangi yang malu di bilang miskin.

    Gerakan mereka banyak menelan korban yg tidak disadari. Modern boleh tapi jng lupakan budaya. Islam sudah di habisi generasinya melalui proyek KB dan dengan proyek EMANSIPASI generasi yang sedikit itu sudah banyak yang rusak.

    apa sih bisanya anak muda sekarang kebanyakan ?
    -anak motor,
    -anak game,
    -anak madat(miras&narkoba)
    -anak bebas hambatan (free sex)
    Mereka semua sudah hancur karena minimnya ibu yang baik, ibu yang baik yg tau fitrah dan kodrat nya. Saat ibu yang baik itu ada, yg keluar dr bicara dan perilakunya pasti baik pula dan itu yang di contoh oleh anak. Sekolah hanya menyumbang 10% kebaikan anak selebih nya banyak buruk nya. anak dirumah lebih dari waktu disekolah, ibu 24 jam bersama anak.

    Jd yg merasa pintar dan sekolah tinggi2 seharus nya lebih baik argument nya, karena dia lebih berakal, lebih berakal berarti lebih berfikir, tapi bukan untuk mengakali atas dasar kebebasan nafsu nya. NAFSU adalah 100% buruk.

    Wanita adalah seorang IBU dia adalah maha guru sang anak dari rahim, maka ia wajib baik, baik di dapat dari iman, iman di dapat dari agama dan Tuhan nya.

    salam sejahtera sentosa, lahir batin nya. Amin

  21. Yuli Trisnanto berkata:

    hahaha..admin yang baik. Coba ada baca lagi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Saya ingin mengoreksi pernyataan bahwa kata Perempuan itu dari kata “empu”. Dalam KBBI, ada 2 kata “empu”, dan 1 kata “empunya”. “Empu” pertama berarti gelar kehormatan yang berarti tuan, orang yang sangat ahli di bidang tertentu, Empu” kedua berarti berarti hulu atau kepala. Sedangkan, kata “Empunya” berarti pemiliknya dan punya. Nah, dalam konteks tulisan Anda, kata “perempuan” itu memiliki kata dasar “empu” yang memiliki imbuhan per-an, bukan “empunya”. Empu seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, berarti tuan atau orang yang ahli. Dari dasar itulah, alasan penggunaan kata perempuan pada beberapa lembaga negara. Kata perempuan dipandang memiliki makna yang justru memberi kesan yang lebih mulia dan terhormat pada kaum perempuan. Sekaligus menegaskan bahwa perempuan tidak hanya bisa diatur (ditata), karena makna dasarnya dia adalah orang yang sangat ahli. Berbeda dengan pengertian wanita yang Anda tuliskan, yakni dari kata Wanito, wani ditoto. Dalam konteks suami istri betul, bahwa perempuan harus seperti wanita yang bisa ditata oleh suami. Tetapi di luar konteks itu memberikan gagasan, ide, atau kreativitas mereka adalah manusia merdeka.
    Mungkin itu saja koreksi dari saya, mungkin lain waktu tulisan Anda bisa diperkaya dengan beragai sumber, tidak berdasarkan pandangan subjektif. Terutama, tulisan yang masuk ranah ilmiah. Salam!

  22. Edo berkata:

    Mbok ya kalau masih dangkal, belajar lagi. Anda sombong sekali, padahal sepertinya Anda kurang membaca. Maaf.

  23. faisal amri berkata:

    tidak ada emansipasi wanita dalam islam, karena tidak ada ajaran islam yang menjajah wanita,, kenapa gerakan emansipasi wanita massif di dunia barat, karena wanita dieksploitasi di sana. tidak ada gerakan persamaan ras dalam islam, karena islam tidak membeda2kan ras, kenapa banyak gerakan2 anti rasisme di barat, karena banyak di sana perbudakan terjadi untuk golongan kulit tertentu. orang2 berdecak kagum obama jadi presiden AS, karena tidak ada lagi rasisme di sana, tapi kita lupa islam sejak awal kemunculannya sudah memberikan kedudukan terhormat bagi siapa pun juga tanpa melihat ras. orang yang bernama amin, aman, teten, toton dsb, mendadak berubah namanya menjadi “bilal” ketika ia mengumandangkan azan,,, hehehe,, sungguh lucu teman, jangan pernah mau jadi ekor, lebih baik jadi kepala ikan teri daripada jadi ekor paus,,,hanya ikut2an,, orang emansipasi kita emansipasi, orang ke kanan kita kekanan, orang ke kiri kita kekiri,, 🙂

  24. Agatha berkata:

    Tolong lebih luas lagi pembelajaran ttg makna “perempuan” . setahu saya (menurut guru2 & peembelajaran saya selama ini) perempuan itu berasal dr kata “empu” (yg jika akan mempelajari lebih lanjut akan mengarah pd cerita Ken Arok & Ken Dedes)
    “Empu” dalam bahasa jawa sendiri berarti “ahli” . kata “wanita” menjadi naik derajat karena adanya pergeseran zaman bahasa sastra.

  25. abisyakir berkata:

    @ Setiahati…

    Ya sejatinya tujuan ke sana, tapi banyak yang salah paham. Terimakasih.

    Admin.

  26. abisyakir berkata:

    @ Yuli Trisnanto…

    Justru pemaknaan “tuan” itu untuk kaum laki-laki. Mana ada “empu” untuk kaum wanita. Coba Anda baca sejarah, apa ada empu masa lalu dari kaum wanita.

    Kalau “empu” dimaknakan “ahli atau pakar”, lho orang jadi heran. Pakar apa neh? Mengapa kok tiba-tiba jadi pakar? Pasti ada alasannya. Apakah itu berarti, kaum perempuan menjadi entitas para pakar, sedang lawannya “bukan pakar”? Malah aneh pemaknaan begitu.

    Terimakasih.

    Admin.

  27. abisyakir berkata:

    @ Edo…

    Justru komen Anda itu yang sombong. Anda gak biasa berbeda pandangan ya? Kalau mau, buat bantahan atas artikel itu, bukan main cela seenaknya.

    Admin.

  28. abisyakir berkata:

    @ Faisal…

    Terimakasih atas pandangannya. (y) (y)

    Admin.

  29. abisyakir berkata:

    @ Agatha…

    Ya kalau dimaknai “ahli”, itu maksudnya ahli apa? Kenapa kok muncul makna ahli? Apa alasannya? Apa ini mau dilarikan ke makna Empu Gandring, Empu Tantular dll? Toh, mereka itu laki-laki kan.

    Admin.

  30. Chika berkata:

    Dear Admin & all,

    Setelah saya baca artikel dan komentar2nya,, saya rasa kita tdk perlu meributkan masalah Wanita atau Perempuan, mana yang lebih bagus maknanya. Toh secara bahasa keduanya merujuk ke hal yg sama : lawan jenis laki2 atau pria.

    Sejujurnya, sedari SMP saya meyakini bahwa kata Perempuan itu lebih ‘halus’ drpd Wanita dengan alasan yg sangat simpel tanpa embel2 masalah kesetaraan gender atau hal2 rumit. Alasannya karena salah satu ulasan yg pernah saya baca (sy bahkan tdk ingat sumbernya drmn), Wanita itu asal katanya dari batina (bentuk pergeseran kata betina), sedangkan Perempuan berasal dari kata Empu (orang yg ahli, yg dihormati, tanpa memperhatikan apakah ada Mpu jaman dulu yg perempuan/wanita). Betina kan identik sm hewan, masak aku mau disamain sama hewan, dan lagipun sebagai cewe tentu ingin lah kalau kaum cowo menghormati dan menghargai cewe, begitulah pikiran saya waktu itu.Jaman itu saya tdk memperhatikan bahwa kata Wanita jg bermakna Wani ditata (maklum sy krg begitu tertarik sama pelajaran bahasa Jawa), tetapi yg jelas pemikiran saya tetap sama dari dulu bahkan sampai sekarang, yaitu wanita memang kodratnya hrs mau ditata, dibimbing suami (saya setuju dg pemikiran2 Admin soal ini).

    Setelah saya membaca artikel ini, pikiran saya lebih terbuka soal kata Wanita, dan krn saya mempercayai bahwa perempuan/wanita itu memang hrs wani ditata, saya jadi berpikir demikian : bahwa wanita/perempuan sudah kodratnya wani ditata sperti yg muncul dari kata Wanita, tetapi ada rasa juga kita ingin dihargai dan dihormati, yg saya rasa lebih muncul dari istilah Perempuan. Artinya bagi saya, kedua kata tsb sama2 memiliki makna yg baik dan masing2 bisa digunakan tergantung konteksnya.

    Saya memang bukan ahli bahasa, ahli sejarah, ahli politik, atau agama, apa yg saya tulis di atas adl pemikiran saya yg sederhana. Tetapi krn wanita/perempuan akarnya adalah bahasa, maka saya berusaha mencari artikel yg kira2 bisa memuaskan rasa ingin tahu saya, yg membahas perbedaan kedua kata tersebut dari segi bahasa, sehingga menjadi lebih netral. Dan berikut hasil pencarian saya, semoga bisa menambah wawasan kita semua : http://www.angelfire.com/journal/fsulimelight/betina.html

    Tambahan lain, sbg pendapat saya pribadi yg lagi2 saya coba utk berpikir lbh sederhana: di dunia yg sdh seperti sekarang ini, saya kira wajar jika banyak bermunculan aktivis2 persamaan gender ‘garis keras’, yg saya pribadi pun sebetulnya tidak setuju. Namun, kita harus menerima kenyataan itu sebagai konsekuensi perubahan jaman. Kita boleh jadi tidak setuju, tetapi itu semua kembali ke pribadi tiap2 orang, pd apa yg kita percayai.. Kita bisa saja menularkan pandangan2 kita akan suatu hal pada orang lain, tapi kita tidak bisa memaksa org lain mengikuti pemikiran kita.

    Terima kasih & mohon maaf kalau ada kata2 yg tdk berkenan.

    Salam.

  31. Wildan Hero berkata:

    kalau setahu saya, kata “perempuan” berasal dari kata “Mpu” yang berarti mulia atau berilmu yang mendapatkan awalan “per-” dan akhiran “-an”, sehingga menjadi kata “perempuan” yang memiliki arti kemuliaan/yang dimuliakan.

  32. Dikpra berkata:

    Maaf pak anda perlu paham arti kata empu sebagai kata dasar perempuan.
    Silahkan dilihat dihttp://kbbi.web.id/empu

    Wanita sendiri kemungkinan dari bahasa latin bonita atau wanita cantik (secara fisik).

    Jadi lebih terhormat mana perempuan atau wanita?

  33. abisyakir berkata:

    @ Dikpra…

    Empu di KBBI disebut “tuan”, ahli membuat keris; atau mengasuh/membimbing. Katakanlah, kita pakai makna mengasuh/membimbing. Sering orang kata “dia mengampu mata kuliah ini itu”. Terus apa maksudnya ketika ia menjadi peng-asuh-an atau pem-bimbing-an?

    Sedangkan wanita itu makna yang baik, seperti “taat aturan”, “taat manajemen”, hidup secara teratur, komitmen dengan aturan main, dst. Bukankah rusaknya bangsa kita karena korupsi (melawan hukum)?

    Admin.

  34. abisyakir berkata:

    @ Wildan Hero…

    Ya, tapi kan Mpu itu kaum laki-laki. Terkait dunia maskulin, membuat keris, bertapa, mencari ilmu sihir, dst. Apa tidak tambah jelek, wanita dikaitkan dengan dunia Mpu?

    Admin.

  35. abisyakir berkata:

    @ Chika…

    Terimakasih atas ide, pandangan, informasinya. Insya Allah positif. Terus mencari yang terbaik, untuk menuju keridhaan Allah (Tuhan).

    Admin.

  36. Sapaya berkata:

    Sepertinya yang menulis masalah perbedaan kata “wanita” dan “perempuan” ini, tak memahami bahasa Sanksekerta sebagai asal kedua kata itu

  37. abisyakir berkata:

    @ Sapaya…

    Boleh silakan sampaikan apa yang Anda tahu tentang bahasa Sangsekerta. Terimkasih.

    Admin.

  38. Fajar berkata:

    Terlepas dari kontroversi mana yang lebih baik antara wanita atau perempuan, saya hanya ingin menyampaikan sesuai pemahaman saya yang sederhana mengenai emansipasi wanita dan atau perempuan.

    Bahwa ada yang berpendapat emansipasi adalah produk barat, proyek menurunkan derajat, dan sebagainya, itu tidak sepenuhnya benar tapi juga tidak sepenuhnya salah.

    Bahwa ada yang berpendapat emansipasi merupakan usaha kaum wanita dan atau perempuan agar diakui (disamakan) dengan kaum laki-laki dan atau pria, itu juga tidak sepenuhnya benar tapi juga tidak sepenuhnya salah.

    Kemudian ada yang mempermasalahkan mengapa Islam seolah-olah anti terhadap gerakan emansipasi, itu juga tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah.

    Karena setahu saya, sebelum lahir gerakan feminisme, persamaan gender, atau apa pun itu namanya, jauh sebelum itu, Islam justru telah meletakkan dasar-dasar “emansipasi” bagi kaum ibu. Islam mengakui persamaan derajat antara pria dan wanita (maaf saya menggunakan istilah tersebut agar tidak terlalu panjang..hehe). Pria, wanita, sama kedudukannya di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah iman dan amalnya.

    Islam bahkan telah dengan tegas mewajibkan manusia untuk menghormati seorang ibu, bahkan porsinya lebih besar ketimbang ayah.

    Lebih luas lagi, dalam sejarah Islam dapat kita temukan wanita-wanita tangguh yang ikut dalam berbagai pertempuran. Wanita memiliki peranan yang besar pada waktu itu, mereka dengan gagah berani berperan sebagai perawat, kurir, pembawa makanan, dan sebagainya.

    Bukankah semua hal di atas wujud dari gerakan emansipasi wanita? Islam tidak membatasi ruang gerak wanita, termasuk dalam hal pekerjaan misalnya. Semua mendapat perlakuan dan kesempatan yang sama.

    Seorang wanita dibebaskan untuk menggapai cita-citanya asalkan tetap berpegang pada kodratnya serta hak dan kewajibannya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya, sebagai seorang istri bagi suaminya.

    Wanita boleh menjadi pilot, misalnya, tetapi ia tidak boleh menelantarkan anak-anaknya di rumah. Wanita berkesempatan menjadi tentara, asal ia tidak melupakan kewajibannya melayani suaminya. Wanita boleh menjadi artis (penyanyi, aktris), namun ia harus tetap menjaga kehormatannya. Semua ada aturannya, semua ada kebijaksanaannya.

    Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.
    Hahay, maaf untuk Admin jika saya terlalu lancang menulis sepanjang itu. Salam kenal, salam sukses.

  39. Nuy Sato berkata:

    Bukankah kata perempuan berasal dari kata mpu, yang maknanya bisa jadi pujangga atau orang-orang ahli yang sangat dihormati?
    Seperti contohnya para mpu pembuat keris itu?

  40. Perempuan berkata:

    Istilah wanita pun juga bisa wanita jalang apakah salah dengan istilah perempuan?
    Kalau saya mengartikan keduanya dr asal muasal yang telah jelas ya netral saja masing masing memiliki arti dan keunggulan tersendiri tergantung dr yang menafsirkan karna memang pemikiran setiap orang berbeda beda yang benar atau yang buruk kita tidak bisa menyalahkan. Positif saja. Karna kalo melihat arti wanita dan perempuan berdasarkan teori tidak melihat dari sebuah cerminan tingkah laku dan perbuatan tidak bisa ditafsirkan begitu saja. Kalo teori dan realita kehidupan justru berbeda kenapa harus menyalahkan dari salah satu istilah ataupun keduanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: