Ngobrol Itu Nikmat Lho…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada sebuah kejadian menarik yang belum lama lalu saya alami. Hal itu menjadi inspirasi untuk menulis artikel kecil ini. Sesuatu yang kadang kita anggap kecil, tetapi dalam waktu-waktu tertentu menjadi begitu berharga.

Sebelumnya, ingin saya jelaskan kaidah sederhana tentang rasa syukur. Pertama, sebagai manusia kita diperintahkan oleh Allah Ar Rahmaan untuk selalu bersyukur kepada-Nya. Kedua, andaikan kita menghitung-hitung nikmat Allah, kita tak akan mampu menghitungnya. Ketiga, nilai suatu nikmat akan kita rasakan, ketika kita telah kehilangan nikmat itu.

Singkat kata, baru-baru ini saya naik angkutan umum. Semacam Mikrolet. Ini adalah angkutan yang sangat sering dipakai dalam perjalanan sehari-hari. Selama naik angkutan ini jarang sekali saya bisa ngobrol dengan orang lain. Rata-rata para penumpang memilih diam, sibuk dengan Blackberry atau HP-nya, atau tertidur. Jika ada obrolan, biasanya antar sesama teman sendiri.

“Loh…ngerti kagak siiihhh…!”

Suatu saat, saya mencegat angkutan Mikrolet ini. Alhamdulillah, dapat duduk di depan. Tidak berselang lama, ada penumpang lain, seorang bapak-bapak masuk angkot. Dia memilih duduk di depan, berdampingan dengan saya. Saya tidak kenal bapak itu, mungkin usianya sekitar 50 tahunan.

Setelah mobil berjalan, rupanya bapak itu beberapa kali menyapa saya dengan ramah. Saya anggap beliau seperti mengajak ngobrol. Dengan niat menghormati yang lebih tua, saya pun berusaha membalas sapaan beliau. Andaikan ada obrolan positif, ya alhamdulillah. Apalagi beliau saya dengar masih konsisten Shalat Subuh.

Dalam obrolan, saya selalu berusaha mengukur kadar pemahaman lawan bicara. Apapun dan bagaimanapun, saya berusaha mengikuti keadaan lawan bicara. Saya tidak akan bersikap “agressif” kalau situasi tidak memungkinkan. Hal-hal demikian membutuhkan proses waktu dan pengalaman panjang. Kita perlu memahami kadar pemahaman orang lain; bisa memilih bahan-bahan obrolan yang tepat; dan bersikap simpati, menjaga perasaan orang lain, tidak berusaha menggurui, mengadili, mendominasi, dan sebagainya.

Namun tampaknya, obrolan saya waktu itu dengan Sang Bapak, seperti sebuah “mimpi buruk” yang tidak pernah terbayangkan. Berkali-kali saya gagal membangun obrolan yang baik; sering muncul sikap “salah paham” dari beliau; bahkan akhirnya berujung suasana hati yang benar-benar tidak enak.

Coba saya runut kronologinya ya…

Mula-mula saya bertanya ke Bapak itu: “Setiap hari naik angkot, Pak?”

Lalu beliau jawab iya.

Kemudian saya tanya lagi: “Kerja dimana, Pak?”

Beliau bilang kerja di konsultan, di kawasan Melawai, Jakarta Selatan. Selain itu, beliau juga bilang bahwa dia harus tetap bekerja, supaya anak-anaknya bisa sekolah.

Saya merasa empati dengan posisi dia sebagai orangtua yang setiap hari kerja mencari nafkah untuk biaya sekolah anak-anak. Lalu saya katakan: “Iya Pak, saat ini peraturan sekolah berubah-ubah terus. Waktu itu PT bersifat negeri, lalu diswastanisasi sehingga biayanya mahal. PT hanya bisa dimasuki anak-anak orang kaya. Katanya, sekarang mau jadi negeri lagi.” Sebenarnya, saya ingin empati dengan bapak itu, sehingga saya sebutkan kenyataan tersebut.

Ternyata bapak itu mengatakan, “Hah, saya tidak mau pusing. Saya tidak mau mikir ini itu. Yang penting anak saya bisa sekolah.”

Jujur, saya merasa tidak enak dengan jawaban seperti itu, sehingga saya coba alihkan ke persoalan lain. “Kerja di konsultan apa, Pak?”

Kemudian dia jawab: “Ya banyak. Konsultan macam-macam. Ya ada engineering, ada…” Dia tampaknya tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Lalu saya tambahi, “Konsultan manajemen, keuangan…”

Kemudian dia berkata lagi: “Itu seperti mencari lokasi-lokasi pertambangan.” Lalu saya timpali: “Seperti surveyor itu ya.” Lalu dia mengiyakan. Kemudian dia bilang, juga mengurusi alat-alat berat.

Kemudian saya tanya, apa konsultan lokal atau asing. Dia bilang asing, dari Amerika. Waktu saya tanya: “Apa AC Nielsen?” Dia tidak menjawab dengan jelas. Intinya dia kerja di konsultan asing, asal Amerika.

Karena dia menyebut kata “Amerika” dan “alat-alat berat”, saya ada ide untuk mengungkap sebuah kisah nyata tentang seorang pengusaha Indonesia yang berusaha membeli alat-alat berat di Amerika, lalu ditangkap, dipenjara; dengan tuduhan sebagai importer senjata ilegal. Sejak awal saya sebutkan sumber beritanya: “Saya pernah lihat di TV, di MetroTV.” Saat saya sebut MetroTV, dia memaklumi.

Tapi sepanjang saya cerita itu, dia terus memberikan komentar-komentar yang tidak nyambung dengan apa yang saya sampaikan. Sangat mengganggu rasanya; tapi karena memang orang tua, ya dimaklumi saja.

Di antara komentar-komentar yang saya rasa tidak nyambung, misalnya:

Dia bilang, “Perusahaan kami legal. Setiap bulan kami membayar pajak ratusan juta, masuk kas negara.”

Jujur, saya tidak ada urusan dengan perusahaan itu. Bahkan niat menyindir saja tidak. Kita hanya sekedar mengungkap suatu cerita sosial yang mungkin enak untuk diobrolkan. Tapi bapak itu kesannya, saya berusaha menyelidiki perusahaan dia.

Paling parah ketika saya katakan: “Pengusaha itu ingin membeli alat-alat berat, tapi malah dituduh mau jual-beli senjata.”

Tiba-tiba bapak itu seperti ketakutan: “Wah, kalau Mas bicara begitu, saya tidak ikut-ikutan. Saya tidak mau menjadi saksi. Saya tidak mau pusing dengan urusan ini itu. Saya tidak mau berurusan dengan hukum. Enak tidak berurusan dengan hukum. Kita bisa bebas kemana-mana.”

Apa yang saya ceritakan itu adalah kasus yang diceritakan oleh media, yaitu MetroTV. Khususnya dalam acara “Kick Andy”. Cerita ini didengar oleh rakyat Indonesia. Ia bukan kasus hukum yang menyangkut kita-kita. Itu hanyalah sebuah berita atau info di media. Jadi ini tidak ada kaitan sama sekali dengan kita. Tapi bapak itu begitu ketakutan kalau dia nanti “bisa jadi saksi”. Saksi apaan lagi?

Di akhir perjalanan, bapak itu keluar angkot lebih dulu. Sebelum keluar angkot, dia “semi bertengkar” dulu dengan sopir. Ketika memberikan ongkos, dia menyerahkan uang Rp. 2000,-. Kata sopir, “Kurang Rp. 500,- ongkosnya.” (Memang standar angkutan itu ke terminal, sejak lama Rp. 2500,-).

Bapak itu lalu merespon: “Kan biasanya dua ribu.” Sopirnya agak mau marah, sebab memang sudah dimaklumi, ongkosnya ke terminal Rp. 2.500,-. Akhirnya bapak itu memberi tambahan Rp. 500,- seperti yang diminta. Dia langsung keluar dari angkutan dan ngeloyor begitu saja, tanpa menutup pintu mobil.

Ya…saya tidak bermaksud mengadili bapak itu. Mungkin karena sudah tua, atau stress menghadapi masalah-masalah hidup, akhirnya jadi seperti itu. Padahal kalau mau tahu, sejak awal yang menyapa untuk obrolan itu beliau sendiri.

Seperti saya katakan di muka… Nilai sebuah nikmat itu akan terasa ketika kita kehilangan nikmat itu. Pernahkah kita menakar seberapa besar nilai nikmat ngobrol atau berbincang-bincang dengan orang lain? Anda akan bisa menghargai nikmat itu bila suatu saat kebetulan berbicara dengan orang yang bertipe “jaka sembung makan permen”…(gak nyambung, Men!).

Namanya manusia, kita maunya ngobrol yang nyambung, hangat, seru, saling “jual-beli”… He he he. Tapi kalau Allah menakdirkan situasi berbeda, ya harus diterima dengan lapang hati. Nggih Gusti, kula tampi kemawon sedoyo paparing. (Ya Tuhan, saya terima saja segala pemberian-Mu).

Inilah Saudaraku yang dinamakan nikmat ngobrol. Sesuatu yang tampak sepele, remeh, tetapi esensial. Betapa sepi hidupmu tanpa berbincang-bincang dengan orang lain. Tapi meskipun berbincang, kalau tidak nyambung, lebih tidak enak lagi. Mending kita diam membisu, daripada bicara “jaka sembung”.

Fadzkuruni adzkurkum, wasykuru liy wa laa takfuruun” (ingat-ingatilah Aku, maka Aku akan selalu mengingatimu; dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur nikmat). [Surat Al Baqarah: 152].

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: