Kritik Pidato SBY Terbaru (29 Mei 2012)

Kekuatan Terakhir: Pidato dan pidato…

Nuwun sewu….permisi. Disini kita ingin mengajukan beberapa kritik untuk pidato Pak SBY terbaru. Pidato itu bertema, gerakan penghematan nasional. Disiarkan MetroTV, TVOne, dan SCTV pada tanggal 29 Mei 2012, sekitar pukul 19.00 s/d 19.45 WIB.

Berikut beberapa kritik yang bisa disampaikan:

[1]. Pak SBY menyebutkan kondisi perekonomian nasional yang katanya stabil dengan beberapa indikasi, tetapi juga bermasalah. Khususnya karena persoalan belanja APBN yang membengkak. Kalau beberapa waktu lalu pemerintah beralasan dengan krisis Timur Tengah (soal Selat Hormuz) untuk menaikkan harga BBM; sekarang lain lagi alasan, yaitu krisis Eropa (khususnya di Yunani).

KRITIK: Rasanya selalu ada alasan bagi pemerintah untuk melegitimasi kebijakan-kebijakan yang tidak populer. Andaikan tidak ada krisis Eropa, pasti akan dicari alasan lain untuk membela kebijakan yang secara langsung bisa merugikan rakyat.

[2]. Pemerintah –melalui SBY- mengemukakan beberapa teori tentang penghematan energi (sekaligus penghematan APBN). Tetapi ujung-ujungnya balik lagi ke topik: menurunkan atau mengurangi belanja APBN untuk subsidi BBM.

KRITIK: Kalau begitu masalahnya, mestinya jujur saja mengaku bahwa pemerintah kecewa karena harga BBM gagal dinaikkan pada tanggal 1 April 2012 lalu. Jangan beretorika terlalu njelimet untuk akhirnya membahas lagi soal pengurangan subsidi BBM.

[3]. Ada 5 kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk merealisasikan kebijakan penghematan nasional, yaitu: (a). Di SPBU-SPBU akan dipasang program berbasis IT untuk memastikan bahwa BBM bersubsidi jatuh ke tangan yang berhak; (b). Mobil pemerintah, BUMN, BUMD, diwajibkan memakai BBM non subsidi, tidak boleh memakai BBM bersubsidi (bensin); (c). Untuk sarana transportasi di perkebunan-perkebunan, juga harus memakai BBM non subsidi. Pemerintah meminta Pertamina membangun pangkalan-pangkalan BBM di perkebunan-perkebunan; (d). Untuk transportasi umum, secara bertahap akan dilakukan konversi dari BBM biasa ke BBG (bahan gas). Diperkirakan akan tampak hasilnya mulai tahun 2013; (e). Gedung-gedung milik pemerintah harus melakukan penghematan listrik dan air.

KRITIK: Program-program seperti ini sering diserukan di masa pemerintah SBY, tetapi dalam realitas di lapangan jarang yang berhasil. Umumnya, hanya menjadi sumber isu dan diskusi saja (termasuk jadi sumber tulisan di blog. He he he…). Intinya, pemerintah tidak punya uang banyak, makanya tak mampu membiayai program-program mereka. Manajemennya “gali lubang, tutup lubang”.

[4]. Jika pemerintah konsisten dengan program tersebut –seandainya konsisten-, maka kebijakan itu juga bisa berakibat meningkatkan inflasi karena kendaraan umum sangat dipantau pembelian BBM mereka di SPBU-SPBU; berakibat membengkakkan anggaran transportasi aparat pemerintah dan birokrasi, sedangkan hal itu bisa membuka pintu-pintu korupsi dan kolusi; menurunkan daya saing produk perkebunan, karena mereka kena getah larangan memakai BBM bersubsidi; menimbulkan konflik aparat versus masyarakat, karena SBY menekankan agar aparat keamanan bersikap tegas bagi siapa yang melanggar aturan pemakaian BBM.

[5]. Menjelang bagian akhir pidato, SBY mengatakan, “Kebijakan penghematan itu pasti bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.”

KRITIK: Kata siapa Pak, pasti menguntungkan? Siapa bisa memastikan bahwa kebijakan itu pasti menguntungkan? Dilihat dari kacamata siapa, ditengok dari kepentingan siapa? Tidak bisa Pak Presiden memastikan begitu saja, tanpa mengkaji masalah tersebut dari berbagai sisi. Contoh, mengapa kalangan perkebunan juga dibebani kewajiban memakai BBM non subsidi? Bukankah di lingkungan perkebunan itu banyak petani/pekebun miskin yang bekerja disana? Harus ingat, orang miskin katanya berhak dapat subsidi BBM. Justru kebijakan seperti itu bisa mematikan sumber kehidupan para petani/pekebun tersebut. Kecuali, untuk perkebunan-perkebunan yang dimiliki pribadi, industry, atau pengusaha.

[6]. Ada dua kebijakan primitif kepemimpinan SBY yang akhirnya menyusahkan dirinya dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Pertama, SBY bermudah-mudah mencari hutang ke lembaga donor, negara asing, atau dengan menjual SUN (Surat Utang Negara). Idenya, “Kalau negara bokek, tinggal ngutang saja.” Ini adalah pemikiran primitif, kalau tidak sangat berbahaya; karena yang harus menanggung beban hutang itu adalah rakyat semua; para pejabat memiliki banyak kekayaan yang memungkinkan mereka bisa hidup enak di negara mana saja yang mereka suka (di luar Indonesia). Rata-rata pejabat, elit politik, atau pengusaha Indonesia sudah punya rumah untuk menyelamatkan diri di luar negeri. Omong kosong mereka bicara nasionalisme. Meminjam istilah Gombloh, “…kucing rasa coklat, buat nasionalisme mereka!”

Kedua, SBY memperbanyak PNS, relawan PBNS, pengangkatan guru baru, guru honorer, guru bantu, dll. yang akibatnya sangat menyedot anggaran negara. Mengapa SBY lakukan itu? Jawabannya simple, supaya dia terpilih lagi dan lagi. Singkat kata, sebenarnya hancurnya struktur belanja APBN negara, itu karena salah dia sendiri selaku pemimpin yang sembrono memainkan keuangan negara. Maka kebijakan SBY itu seperti: menutup lubang dengan membuat lubang yang baru!

[7]. Secara visual, ada sesuatu yang lucu. Dalam pidato itu Pak Presiden memakai bahasa formal dan baku, tetapi sangat lancar dan mengalir. Padahal dia tidak terlihat membaca teks (paper) atau melihat tulisan di meja podium. Pertanyaannya, apakah dia hafal isi teks pidato itu? Kemungkinan besar, dia membaca teks di layar yang posisinya diletakkan di belakang kamera shooting. Teknik ini seperti yang biasa dilakukan para presenter berita TV atau pejabat negara tertentu. Alasannya: (a). Posisi presiden saat itu menghadap kamera, sedangkan menteri-menterinya ada di sisi kanan Presiden. Mestinya, posisi menteri ada di depan presiden, biar kelihatan kalau dia sedang mengarahkan menterinya juga; (b). Raut muka para menteri itu kelihatan tidak semangat, lesu, dan seperti menahan suatu beban berat. Mungkin mereka tahu “drama” yang sedang dimainkan pemimpinnya; (c). Beberapa kali presiden salah mengucapkan kata-kata, lalu memperbaikinya. Kalau dalam pidato tanpa teks, tidak perlu mengulangi membaca. Tampaknya disana Pak Presiden perlu mengeluarkan biaya khusus untuk melakukan pidato “tanpa teks” itu, demi pencitraan yang lebih baik. Nah, dengan logika pencitraan yang butuh biaya tambahan ini, bagaimana bisa Pak Presiden ingin bicara soal Gerakan Penghematan Nasional? Beliau sendiri sudah mencontohkan sikap hambur biaya, sekedar untuk pencitraan pidato “tanpa teks”. Sikap demikian ini sering membuat kebijakan-kebijakan presiden ini kandas di tengah jalan. Ya gimana lagi, kebijakan tidak dimulai dari dirinya sendiri.

Demikianlah…beberapa catatan kecil. Secara pribadi, saya skeptis dengan ide penghematan nasional itu. Bukan karena apa, sebab pemerintah SBY memang dikenal inkonsisten sejak dulu. Mau berantas korupsi, buktinya di tubuh Demokrat banyak koruptor; mau penegakan hukum, kasus Century didiamkan sekian lama; mau berantas narkoba, pelaku kejahatan narkoba malah diberi keringanan hukuman; mau penghematan APBN, buktinya kerugian lumpur Lapindo sekitar 8 triliun ditanggung negara; mau memberi contoh sikap negarawan, anak-isteri, kerabatnya, pada terjun ke dunia politik; bicara soal pertumbuhan ekonomi, orang asing yang menikmati; bicara solusi kemiskinan, buktinya orang miskin secara riil sangat banyak; dan lain-lain.

Oke deh…begitu saja. Terimakasih atas semua perhatiannya. Selesai ditulis, 29 Mei 2012, pukul 22.37 WIB. Publikasi, 30 Mei 2012, pukul 04.35 WIB. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. []

Mine.

Iklan

12 Responses to Kritik Pidato SBY Terbaru (29 Mei 2012)

  1. ISLAMFORCE berkata:

    Assalamualaik..ya akhi Syakir.
    Anda ktkan tlah skeptis dgn pidato SBY,kalo saya bkn skeptis lg tp MUAK!trimksh.
    Wassalam.

  2. haykalsulaiman berkata:

    Saya sdh ikutin anjuran sby utk berhemat energi, yaitu dg cara mematikan tv pada saat beliau pidato. Demikian laporan saya, Terima kasih.

  3. Miftah D Glory berkata:

    pidato ga penting mas bro…

  4. Rakaie Pikatan berkata:

    Supaya terpilih LAGI dan LAGI ? Ah.. kebiasaan ente semangat ngritik tapi males cari data belum sembuh juga.

    Gak mungkin SBY ingin dipilih lagi lha wong 2014 nanti sudah gak boleh nyalon lagi koq.

    Masa jabatan Presiden RI maksimal 2 periode jabatan. Dah sekarang ini sudah periode kedua.

    Baca TAP MPR No. XIII/MPR/1998 Pasal 1. Lain kali hati-hati kalo ngritik orang.

  5. Sawung Kampret berkata:

    ……..mencari hutang koq ke lembaga donor ?….klo ke LEMBAGA DONOR itu mencari hibah (grant) Pak…klo cari hutang carinya ke CREDITOR alias LENDER …. …. Bpk tdk tahu beda lemb donor dgn creditor ya ? Tanya ke Google dulu…..biar tulisan Bpk terlihat cerdas…tapi bpk msh bisa berkelit koq…. dgn berkata begini : istilah tdk penting…yg penting substansi tulisan saya….. he..he… kalo gitu ya udah ….wassalam saja …..

  6. abisyakir berkata:

    @ Sawung Kampret…

    Istilah resminya memang “lembaga kreditor”, lembaga yang ngasih kredit (hutang). Tetapi “lembaga donor” juga sering dipakai. Untuk menunjukkan lembaga internasional yang kuat, punya finansial besar, dan sering membantu negara-negara “developing country” seperti Indonesia dengan bantuan berupa hibah, pinjaman lunak, dll. Sering kita dengar istilah “lembaga donor”. Mungkin ini diserupakan dengan orang yang mendonorkan organ tubuhnya untuk orang lain; atau mendonorkan darahnya untuk orang lain. Hal demikian sering kok kita dengar.

    AMW.

  7. abisyakir berkata:

    @ Rakaie Pikatan…

    Supaya terpilih LAGI dan LAGI ? Ah.. kebiasaan ente semangat ngritik tapi males cari data belum sembuh juga. Gak mungkin SBY ingin dipilih lagi lha wong 2014 nanti sudah gak boleh nyalon lagi koq. Masa jabatan Presiden RI maksimal 2 periode jabatan. Dah sekarang ini sudah periode kedua. Baca TAP MPR No. XIII/MPR/1998 Pasal 1. Lain kali hati-hati kalo ngritik orang.

    Respon: Ya, anda jangan terlalu polos juga menanggapi kalimat seperti itu. Tetap ada relevansinya. Pertama, di antara politisi Demokrat ada yang pernah melontarkan gagasan, agar masa jabatan Presiden dijadikan 3 kali. Kedua, kalau bukan SBY-nya, ada kesan dia akan mendukung isteri, anak, atau iparnya untuk masuk bursa kepemimpinan nasional. Ketiga, kalau bukan alternatif ke-2 itu, bagaimanapun SBY tetap ingin memperjuangan agar Demokrat tetap menjadi dominator partai politik nasional. Terimakasih.

    Admin.

  8. Sawung Kampret berkata:

    Ke2 istilah itu betul sama2 sering qt dengar. Lemb donor sering qt dengar, sesering qt mendengar lembaga kreditor. ……. …… tapi gak mungkin org yg tahu masalah ngomong ‘cari hutangan ke lemb donor’ …… bisa diketawain tuh …….lain x klo dengar/baca istilah itu (di TV/radio/koran/majalah) tlng cermati kpn istilah donor dipakai & istilah kreditor dipake … hanya org yg ga tahu masalah yg memakainya secara tertukar-tukar.

    Istilah resminya memang “lembaga kreditor”, lembaga yang ngasih kredit (hutang). Tetapi “lembaga donor” juga sering dipakai.
    Jwbn itu makin menjukkan Bpk tdk tahu beda 2 istilah itu …. dua2nya istilah resmi Pak. …itu menunjukkn 2 hal yg berbeda ….tdk bisa saling menggantikn ……masih mending kalo bpk jwbnya bgini ‘Kalo ADB dlm waktu yg sm kasih hutangan skaligus kasih hibah ia dsebut sbg lembaga apa ?’ …… bpk dkasih info oleh yg lbh tahu koq ngeyel….apa susahnya sih menjawab dgn rendah hati …..misalnya ‘Ooo begitu tho, terima kasih atas infonya’….

  9. Rakaie Pikatan berkata:

    Misalnya ada orang menuduh Abi Syakir berdakwah kesana sini cuman biar bukunya laku LAGI dan LAGI.

    Setelah terbukti Abi Syakir itu tidak begitu, Si Penuduh masih ngotot dan berkata ‘Ya ente jangan polos menanggapi kalimat ane, khan bisa juga diartikan yg ingin buku Abi Syakir laris adalah istrinya, anaknya, iparnya, tetangganya dll’

    Gaya ngeles yang aneh… kekekekek..

  10. abisyakir berkata:

    @ Rakaie Pikatan…

    Misalnya ada orang menuduh Abi Syakir berdakwah kesana sini cuman biar bukunya laku LAGI dan LAGI. Setelah terbukti Abi Syakir itu tidak begitu, Si Penuduh masih ngotot dan berkata ‘Ya ente jangan polos menanggapi kalimat ane, khan bisa juga diartikan yg ingin buku Abi Syakir laris adalah istrinya, anaknya, iparnya, tetangganya dll’. Gaya ngeles yang aneh… kekekekek..

    Komentar: Iyalah…semua orang tahu, sejak reformasi masa jabatan presiden dibatasi 2 kali saja, semua tahulah yang begitu. Tapi apa semua bisa mencegah, kalau misalnya SBY berkeinginan mengubah Konstitusi melalui cara-cara politik, agar dapat dipilih lagi? Seberapa kuat kekuatan masyarakat untuk membendung syahwat politik itu?

    Masih ingat kasus Bank Century, kasus korupsi yang melibatkan elit-elit Demokrat, kasus Wamen, kasus Lumpur Lapindo, dll. Seberapa kuat masyarakat mampu membendung syahwat politik SBY dalam kasus-kasus seperti itu?

    Lagi pula, siapa politisi yang tidak ngiler dengan impian membuat “kerajaan politik” dengan melibatkan keluarganya masuk dunia politik? Ingat lho ya, ternyata banyak anggota DPR/pejabat zaman sekarang ini, mereka masih punya koneksi dengan DPR/pejabat di masa lalu.

    Admin.

  11. abisyakir berkata:

    @ Sawung…

    Oke oke…saya terima masukannya. Tapi saya enggan mengubah kalimat aslinya, sebab tidak terlalu esensial. Ia bukan main idea dari tulisan itu.

    Dalam praktiknya negara seperti Jepang, Amerika, Singapura, China, sering disebut negara kreditor. Tetapi dalam konteks lain, mereka juga memberi hibah, bantuan lunak, dll. sehingga dianggap sebagai negara donor. Negara donor ini kan memiliki makna implisit: bahwa mereka superior, lebih kuat dari sisi finansial, dan punya kesiapan membantu negara lemah. Dari sisi superioritas itu, tak masalah menyebut mereka negara donor; meskipun dalam transaksi ekonomi bersifat memberi kredit. Ya karena superioritasnya itu.

    Kan biasanya yang menjadi pendonor ialah yang superior; meskipun pada kasus tertentu, ada juga yang lemah menjadi donor (organ) dengan alasan-alasan tertentu.

    Admin.

  12. Muhammad Solihin berkata:

    saya hanya berpihak nenar .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: