Surve LSN Tentang “Partai Islam”

Juni 28, 2012

Harusnya mereka jadi pembela, pahlawan, dan panutan. Tapi malah jadi badut-badutan…

Baru-baru ini Lembaga Surve Nasional (LSN) membuat surve tingkat elektabilitas “partai Islam” dan “tokoh partai Islam” selama bulan Juni 2012. Hasilnya negatif. Tingkat elektabilitas partai-partai itu rata-rata di bawah 5 %. Paling tinggi PKS sekitar 5 %. Partai-partai lain seperti PAN, PPP, dan PKB rata-rata nyungsep. Begitu juga tingkat elektabilitas tokoh-tokoh partai itu seperti Hidayat Wahid, Hatta Rajasa, Yusril Ihza, dan lainnya juga memprihatinkan.

Jika dibandingkan per pemilu, hasil pemilu terbaik bagi partai Islam ialah Pemilu 1955, mencapai sekitar 45 %. Pada era Reformasi, hasil terbaik sekitar 38 % pada tahun 2004. Tahun 2009 perolehan partai-partai itu turun menjadi sekitar 29 %. Pada Pemilu 2014 nanti diperkirakan suara partai itu akan turun lagi, menjadi sekitar 15 %. Untuk info lebih jauh, silakan cari di media-media cetak atau online; banyak yang membahasnya. Salah satu sumber berikut ini: Keterpilihan “Partai Islam” Rata-rata di Bawah 5 %.

KOMENTAR:

[1]. Hasil surve yang disebarkan LSN itu sangat menyesatkan. Bukan karena soal hasilnya yang kecil, bukan sama sekali. Tetapi klaim LSN bahwa partai seperti PKS, PPP, PAN, dan PKB sebagai partai Islam. Ini adalah kebohongan besar. Mana ada partai Islam di antara partai-partai itu? Rata-rata mereka adalah partai sekuler yang sedang menjalankan politik haram. Kaum Muslimin tidak boleh mendukung partai-partai seperti ini, sebab mereka sekuler, jauh dari Syariat Islam; bahkan ketakutan untuk memperjuangkan Syariat Islam. Tidak ada satu pun partai-partai itu yang merepresentasikan partai Islam. Sekedar sebagai pembanding, Masyumi di era Orde Lama adalah partai Islam, karena mereka memperjuangan Syariat Islam, bahkan Konstitusi Islami. Sementara pada hari ini tidak ada satu pun partai yang memperjuangkan Syariat Islam. Rata-rata uber-uberan kekuasaan, syahwat, dan harta doang.

[2]. Kalau partai-partai itu tingkat elektabilitasnya rendah, ya wajar. Wong mereka sering membohongi Ummat Islam dengan janji-janji segunung. Mereka tidak amanah dan layak disebut sebagai orang munafik. Mengapa? Karena Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam menceritakan karakter orang munafik: Kalau berkata dusta, kalau berjanji ingkar, kalau diberi amanah khianat, kalau berdebat melampaui batas. Lha, ciri-ciri ini kan berhamburan di tengah partai-partai sekuler seperti PKS, PAN, PPP, dan PKB itu.

[3]. Politik yang berkembang di Indonesia saat ini, sekalipun dengan label “partai Islam”, pada dasarnya ialah politik badut-badutan. Orang-orang ini sering mencaplok agama, istilah dakwah, perjuangan Ummat, kepentingan kaum Muslimin, bahkan politik Islami. Namun pada dasarnya semua itu hanyalah penipuan belaka. Tidak ada yang lurus dari kerja-kerja politik manusia-manusia itu. Mereka telah menjadikan agama sebagai “alat mencari nafkah” melalui jalur politik. Politik badut-badutan seperti ini sangat mengundang murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka seharusnya melakukan Amar Makruf Nahyul Munkar; tetapi malah mengikuti jalan kaum yang dilaknat dari kalangan Bani Israil, Amar Munkar Nahyul Makruf.

Apa yang dilakukan LSN pada hakikatnya adalah sebuah KEBOHONGAN BESAR. Mereka bermaksud menutupi aspirasi kaum Muslimin yang menghendaki terbitnya partai Islam pro Syariat. Caranya dengan mengklaim, bahwa partai-partai itu adalah partai Islam. Dengan demikian, diharapkan, ke depan partai-partai sekuler berbaju Islam itu terus berperan di panggung demokrasi. Bahkan kalau perlu, terus ikut pemilu Ila Yaumil Qiyamah. Sehingga di tengah kita tidak pernah terbit kekuatan politik pro Syariat; cukuplah semuanya diwakili oleh badut-badut politik itu. Nas’alullah al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Mine.

Iklan

Hatta Rajasa Dapat Gelar Honoris Causa…

Juni 27, 2012

Hari ini, Rabu, 27 Juni 2012, di halaman 12 koran Republika, tercantum sebuah iklan unik, dari Pimpinan dan Anggota PAN. Mereka mengucapkan selamat atas pemberian gelar “Doktor Honoris Causa” kepada Hatta Rajasa.

Berikut ini kata-kata dalam iklan itu:

Pimpinan dan Anggota PAN: Mengucapkan selamat atas penganugrahan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Pertanian De Nitra, Slowakia, kepada Ir. H. M. Hatta Rajasa.”

(Fraksi PAN DPR RI, Ir. H. Tjatur Sapto Edy, MT. sebagai ketua; Ir. H. Teguh Juwarno, MSi. sebagai sekretaris).

KOMENTAR SINGKAT:

Adanya iklan seperti ini rasanya hanya membuat tertawa saja. Ya beginilah sebagian trik-trik politik, untuk membangun pencitraan. Mungkin, ini semacam ancang-ancang untuk tahun 2014 nanti. Bagaimanapun Hatta Rajasa punya ambisi jadi Presiden RI, minimal menjadi Wapres. Untuk itu, jauh-jauh dari sudah dilakukan pencitraan.

Lucunya, Hatta Rajasa mendapat gelar Honoris Causa dalam posisinya sebagai seorang pejabat negara yang tidak punya prestasi significant. Coba tanyakan kepada semua rakyat Indonesia (selain fanatikus PAN), apa prestasi Hatta selaku Menteri Perekonomian? Juga selaku mantan Menteri Perhubungan? Bahkan prestasi dia sebagai seorang sarjana teknik? Adakah hal-hal yang layak menjadikan dia mendapat gelar “Honoris Causa”?

Dan lebih lucu lagi tatkala ingat, Hatta mendapat gelar itu dari Universitas Pertanian De Nitra, Slowakia. Apa pula prestasi Hatta di bidang pertanian? Ha ha ha… Kadang model “komedi politik” seperti ini lebih mengesankan daripada komedi di TV-TV. He he he…

Hatta Hatta… saatmu akan tiba. Engkau merasa mampu, kuat, dan berpeluang tinggi. Engkau merasa mampu meng-handle segala urusan untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan politis. Dulu, saat dirimu menjadi anggota DPR RI dari Fraksi PAN, di era Abdurrahman Wahid; lidahmu amat sangat tajam dalam mengkritik habis Si Wahid itu. Namun kini, engkau adalah orang yang begitu menikmati posisi yang dulu kamu kecam habis-habisan.

Ingatlah wahai Hatta, sejarah kan bergulir. Ada masanya engkau di atas, dan diberi segala hal untuk memuaskan syahwat-mu. Namun ada masanya, ketika Ar Rabbul ‘alamiin mengejar hak-hak-Nya atas dirimu. Hanya soal waktu…Hatta.

Selamat menjadi Doktor Honoris Causa ya! He he he…

Mine.


Istilah USTADZ di Mata Orang Indonesia…

Juni 25, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kalau orang Indonesia ditanya, apa sih arti kata ustadz? Belum tentu ada yang paham. Masih lumayan kalau dia menjawab, “Ustadz itu artinya guru.” Ini masih lumayan meskipun sebenarnya masih terlalu general (polos).

Di balik istilah USTADZ, ada sesuatu yang indah. Tapi kita jarang memahaminya…

Banyak hal yang tidak kita pahami tentang istilah ustadz, sehingga kemudian menjadi salah kaprah. Masyarakat begitu mudah memberikan atau menyebut gelar ustadz tanpa memahami maknanya. Coba baca salah satu artikel ini: Menyoal Gaya Hidup Hedonis Ustadz Selebritis.

Dalam tulisan ini kita akan jelaskan posisi ustadz yang sebenarnya (insya Allah), agar Anda semua tidak salah paham.

[1]. Secara umum, ustadz itu diartikan sebagai GURU atau pendidik. Ini adalah pengertian dasarnya.

[2]. Guru dalam khazanah Arab atau Islam, memiliki banyak istilah yang berbeda-beda, yaitu: Mudarris, Mu’allim, Muaddib, Musyrif, Murabbi, Mursyid, dan termasuk Ustadz. Masing-masing istilah memiliki makna tersendiri.

[3]. Mudarris artinya guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang menyampaikan dirasah atau pelajaran. Siapa saja yang menyampaikan pelajaran di hadapan murid-murid, dia adalah Mudarris.

[4]. Mu’allim artinya guru juga, tetapi lebih spesifik: Orang yang berusaha menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya mereka belum tahu. Tugas Mu’allim itu melakukan transformasi pengetahuan, sehingga muridnya menjadi tahu.

[5]. Muaddib atau Musyrif, artinya juga guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mengajarkan adab (etika dan moral), sehingga murid-muridnya menjadi lebih beradab atau mulia (syarif). Penekanannya lebih pada pendidikan akhlak, atau pendidikan karakter mulia.

[6]. Murabbi artinya sama, yaitu guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mendidik manusia sedemikian rupa, dengan ilmu dan akhlak, agar menjadi lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih berdaya. Orientasinya memperbaiki kualitas kepribadian murid-muridnya, melalui proses belajar-mengajar secara intens. Murabbi itu bisa diumpamakan seperti petani yang menanam benih, memelihara tanaman baik-baik, sampai memetik hasilnya.

[7]. Mursyid artinya juga guru, tetapi skalanya lebih luas dari Murabbi. Kalau Murabbi cenderung privasi, terbatas jumlah muridnya, maka Musyrid lebih luas dari itu. Mursyid dalam terminologi shufi bisa memiliki sangat banyak murid-murid.

[8]. Baru kita masuk pengertian Ustadz. Secara dasar, ustadz memang artinya guru. Tetapi guru yang istimewa. Ia adalah seorang Mudarris, karena mengajarkan pelajaran. Ia seorang Mu’addib, karena juga mendidik manusia agar lebih beradab (berakhlak). Dia seorang Mu’allim, karena bertanggung-jawab melalukan transformasi ilmiah (menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya tidak tahu). Dan dia sekaligus seorang Murabbi, yaitu pendidik yang komplit. Jadi, seorang ustadz itu memiliki kapasitas ilmu, akhlak, terlibat dalam proses pembinaan, serta keteladanan.

[9]. Dalam istilah Arab modern, kalau Anda menemukan ada istilah “Al Ustadz Ad Duktur” di depan nama seseorang, itu sama dengan “Profesor Doktor”. Jadi Al Ustadz itu sebenarnya padanan untuk Profesor. Kalau tidak percaya, coba tanyakan kepada para ahli-ahli Islam yang pernah kuliah di Timur Tengah, apa pengertian “Al Ustadz Ad Duktur”?

[10]. Sejujurnya, istilah Ustadz itu dalam tataran ilmu, berada satu tingkat di bawah istilah Ulama atau Syaikh. Kalau seseorang disebut Ustadz, dia itu sebenarnya ulama atau mendekati derajat ulama. Contoh, seperti sebutan Ustadz Muhammad Abdul Baqi’, Ustadz Said Hawa, Ustadz Hasan Al Hudaibi, Ustadz Muhammad Assad, dan lain-lain.

Nah, hal seperti ini perlu dijelaskan, agar kita tahu dan memaklumi. Istilah Ustadz itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Di dalamnya terkandung makna ilmu, pengajaran, akhlak, dan keteladanan. Kalau kemudian di Indonesia, istilah Ustadz sangat murah meriah, atau diobral gratis… Ya itu karena kita saja yang tidak tahu.

Ke depan, jangan mudah-mudah menyebut atau memberi gelar ustadz, kalau memang yang bersangkutan tidak pada proporsinya untuk menerima hal itu. Sebagai alternatif, orang-orang yang terlibat dalam dakwah Islam bisa disebut sebagai: Dai (pendakwah), muballigh (penyampai risalah), khatib (orator), ‘alim (orang berilmu), dan yang semisal itu.

Adapun istilah Ustadz Selebritis, Ustadz Gaul, Ustadz Entertainis, Ustadz Komersil, Ustadz Panggung…dan lain-lain; semua ini tidak benar, ia bukan peristilahan yang benar. Derajat ustadz itu dekat dengan ulama. Itu harus dicatat!

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat ya. Allahumma amin.

[Abinya Syakir].


May It Be…

Juni 17, 2012

Sebuah lirik yang mengesankan. Berisi optimisme, bahwa KEGELAPAN akan runtuh dan KEBENARAN akan bersinar terang. Merupakan salah satu back song film The Lord of The Rings. Lirik lagu “May It Be” ini dibawakan oleh Enya.

Ia merupakan ekspressi rasa optimis orang-orang non Muslim, bahwa era kegelapan Dajjalisme akan runtuh juga; seperti runtuhnya menara Mordor, tempat dimana Sauron (Dajjal) menanjapkan eksistensi kegelapannya. Selamat merenungi!

May it be an evening star

Shines down upon you

May it be when darkness falls

Your heart will be true

You walk a lonely road

Oh! How far you are from home

(Kala bintang malam bersinar, menerangimu. Akan terjadi ketika kegelapan runtuh. Impianmu akan menjadi nyata, engkau berjalan sendiri di jalan -dengan aman-, sejauh manapun engkau pergi dari rumah. Note: Ia seperti gambaran bumi yang aman, bebas dari fitnah kegelapan Dajjal).

 Mornie utulie (Darkness has come)

Believe and you will find your way

Mornie alantie (Darkness has fallen)

A promise lives within you now

(Kegelapan akan datang, berimanlah maka engkau akan menemukan jalan. Kegelapan akan runtuh, sebuah janji kehidupan damai dimana engkau akan hidup di dalamnya).

 May it be the shadow’s call

Will fly away

May it be your journey on

To light the day

When the night is overcome

You may rise to find the sun

(Akan terjadi, dimana bayang-bayang kegelapan akan sirna, sehingga engkau akan bisa menempuh perjalanan di dalamnya, untuk menerangi hari. Ketika malam telah berakhir, engkau akan menemukan mentari bersinar).

Mornie utulie (Darkness has come)

Believe and you will find your way

Mornie alantie (Darkness has fallen)

A promise lives within you now

A promise lives within you now

(Kegelapan akan datang, berimanlah, engkau akan mendapati jalan. Kegelapan akan runtuh, sebuah janji kehidupan damai dimana engkau akan hidup di dalamnya…kini ada di depanmu).

Di tengah keterpurukan dan hilang rasa percaya diri, semoga segores kalimat-kalimat di atas bisa menambah semangat dan optimisme -bi idznillahil azhim-. Kalau orang non Muslim saja optimis, mengapa kita pesimis?

Mine.


SKETSA: Fenomena Bangsa “Sakit”

Juni 16, 2012

Mereka Sengsara Materi. Kita Sengsara Ruhani.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebenarnya berat untuk membahas masalah ini, karena mau tidak mau kita akan mencela bangsa sendiri, mencela masyarakat dimana kita tinggal di dalamnya. Tetapi masalahnya begitu pelik dan rumit; kalau tidak ada yang mengingatkan, kita salah semua. Ibaratnya, melihat tubuh saudara yang penuh dengan luka, koreng, nanah, bahkan kanker…tentu rasanya sangat berat. Tapi kalau tidak berkata jujur bahwa disana ada koreng, nanah, kanker, justru kita telah “membunuh” saudara itu tanpa sadar.

Baca entri selengkapnya »


Doa Khas Syiah di Bis Umum

Juni 13, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Belum lama lalu saya naik bis AC “PMJ” jurusan Bandung Jakarta. Saya duduk tidak jauh dari sopir. Saat melihat kaca depan, saya saksikan sesuatu yang unik. Disana ada 2 sticker berisi kaligrafi Arabic. Jarang lho sebuah bis umum meletakkan kaligrafi seperti itu.

Lebih heran lagi ketika melihat bahwa sticker itu resmi keluaran dari PO. Bis. Di bagian bawah sticker itu jelas-jelas terpampang logo resmi perusahaan itu.

Saya berusaha membaca isi sticker itu, baik tulisan kaligrafi maupun terjemahnya. Tetapi saya merasa ragu dengan tulisan Arabic-nya, sehingga saya hanya berusaha mencatat terjemah dari tulisan kaligrafi itu. Hal ini saya lakukan, karena isi kalimat yang tertera di atas logo itu sangat mengejutkan.

Mau tahu isinya?

Ia adalah sebuah doa yang bunyinya sebagai berikut:

“Bagiku ada 5 kekasih Allah, yang dengannya kupadamkan ganasnya bencana yang mematikan. Merekalah Al Mustafa Muhammad, Al Murtadha Ali, kedua putranya Hasan dan Husein, serta Fatimah.”

Dengan doa seperti ini, muncul rasa khawatir di hati saya. Berlindung kepada selain Allah Ta’ala, meskipun mereka adalah Nabi Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam; Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein Radhiyallahu ‘Anhum; tidak dibenarkan dalam Islam. Kecuali berlindung secara manusiawi, ketika beliau-beliau yang mulia itu masih hidup.

Berlindung kepada arwah yang telah wafat, dari berbagai bahaya, ganasnya bencana mematikan; hal itu termasuk perbuatan syirik yang dilarang dalam Islam. Dalilnya ialah firman Allah: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).

Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam pernah berpesan kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, “Idza sa’alta fas’alillah wa idza ista’anta fasta’in billah” (kalau engkau meminta, mintalah kepada Allah; kalau engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah). [HR. At Tirmidzi, disebut dalam Arbain An Nawawiyah, hadits no. 19].

Ketika sticker itu dibuat resmi oleh PO. Bis, apalagi sampai dipromokan di depan para penumpangnya; sebenarnya apa maksudnya? Apakah mereka ingin mempromosikan ajaran Syiah? Atau itu ingin menceritakan kenyataan, bahwa pemilik Primajasa adalah Syiah?

Tak tahulah. Hanya Allah yang Maha Tahu hakikat sebenarnya. Tapi jujur, bagi yang paham tauhid, naik bis dengan sticker seperti itu lebih menakutkan. Jangan tanya keselamatan, khawatir malah akan terjadi kecelakaan. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum jami’an.

Mine.


Antara Takfir dan Thaghut

Juni 7, 2012

Bismillahirrahmaaniirahiim.

Ada satu persoalan yang berkembang di sebagian saudara-saudara kita, para ikhwan Salafi Jihadi (semoga Allah memuliakan mereka dan kita dengan Jihad di jalan-Nya), yaitu seputar Takfir. Masalah ini cukup menguras energi, pikiran, melelahkan batin, dan menimbulkan aneka pertikaian. Semoga tulisan sangat sederhana ini bisa sedikit mengurai persoalan itu, sehingga menghasilkan kebaikan. Amin Allahumma amin.

[1]. Tidak dipungkiri bahwa konsekuensi Tauhid bagi seorang Muslim, adalah mengakui otoritas hukum Islam. Siapa yang mengakui kedaulatan hukum Islam, dia adalah Muslim; sedangkan siapa yang menolak berlakunya hukum Islam dalam kehidupan, jatuh hukum kekufuran atasnya. Dalilnya adalah sikap Khalifah Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu yang memerangi kaum murtadin, karena mereka menolak hukum Zakat maal.

Kelihatan Mirip, Tapi Berbeda…

[2]. Sikap taslim (menerima) hukum Islam berkonsekuensi keislaman; sedangkan inkar (menolak) hukum Islam, berkonsekuensi kekufuran. Dalilnya, “Katakanlah, taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling (dari Keduanya), maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran: 32). Disini jelas terlihat, bahwa ingkar terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya bisa menimbulkan kekafiran.

[3]. Ada yang berpendapat, bahwa menolak hukum Islam yang menimbulkan kekafiran ialah yang disertai juhud (penolakan) dalam hati. Kalau menolak secara zhahir, sedangkan menerima secara batin; hal itu tidak dianggap sebagai kekafiran. Lalu muncul istilah “Kufrun duna kufrin” (kufur, tetapi bukan kufur yang berarti keluar dari Islam). Para ulama menjelaskan, bahwa iman itu meliputi: pembenaran dalam hati, perkataan dengan lisan, pengamalan dengan perbuatan. Ia merupakan suatu kesatuan, tidak terpisahkan. Sehingga tidak bisa seseorang disebut Mukmin, kalau hanya batinnya saja yang membenarkan. Maka itu para ulama ada yang membagi kekafiran menjadi beberapa bagian: kafir i’tiqadi (kafir keyakinan), kafir qauliy (kafir perkataan), dan kafir ‘amaliy (kafir perbuatan). Namun ada toleransi, yaitu bagi siapa saja yang dipaksa mengucapkan kata-kata kekufuran, dengan ancaman kematian; dia boleh mengucapkan hal itu, demi keselamatan dirinya. (Kisah Ammar bin Yassir Radhiyallahu ‘Anhuma, seperti disebut dalam Surat An Nahl, 106).

[4]. Siapapun yang secara jelas menolak, mengingkari, membenci, atau menafikan hukum Islam; jatuh hukum kekafiran kepadanya. Orang-orang munafik di masa Nabi, seperti Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya, secara batin mereka kufur terhadap risalah Islam; tetapi secara sosial, mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda kekafiran. Syariat Islam hanya menghukumi manusia berdasarkan kenyataan zhahir. Kata Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam: “Wa hisabuhu ‘alallahi Ta’ala” (dan perhitungan atas batin mereka, terserah kepada Allah). [HR. Muslim, dari Abi Abdillah Thariq bin Usyaim Radhiyallahu ‘Anhu].

[5]. Hukum takfir ini sering dijadikan alat oleh sebagian orang untuk mengkafirkan sesama Muslim, tanpa kaidah yang benar. Siapa saja yang dianggap tidak berhukum kepada hukum Allah (kadang dengan mudah diartikan sebagai “siapa saja yang tidak mau diajak masuk kelompoknya”), langsung dituduh kafir. Lalu muncul aneka macam vonis takfir; ada yang secara mutlak, ada yang dirinci sesuai posisinya, ada yang diikat dengan syarat-syarat tertentu. Malah metode takfir juga digunakan untuk membangun kelompok, mencari anggota baru, meraih dukungan dan fasilitas. Mereka membagi-bagikan vonis kafir dengan mudah, seperti membagikan voucher gratis. Hal ini menandakan bahwa yang bersangkutan kurang memahami dasar-dasar ajaran Islam.

[6]. Untuk memahami apakah hukum takfir berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam sudah berlaku atau belum, caranya mudah. Lihatlah ketentuan hukum yang berlaku di sebuah negeri. Jika negeri itu sudah menerapkan hukum Islam, maka takfir secara hukmiyah, otomatis berlaku. Adapun jika di negeri itu belum berhukum dengan Syariat Islam, maka takfir tersebut tidak bisa diterapkan. Sebab, banyak dari kaum Muslimin mengikuti sesuatu bukan karena kesadaran atau sungguh-sungguh; tapi karena takut, karena ikut-ikutan, atau karena alasan mencari nafkah untuk keluarga. Jika kelak berlaku hukum Islam, mereka insya Allah akan menurut saja.

[7]. Dalil paling mudah untuk menjelaskan masalah takfir hukmiyah ini adalah Sunnah Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Ketika Nabi berdakwah di Makkah, disana berlaku hukum dakwah dan tarbiyah. Saat itu Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam tidak mengkafirkan manusia berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam; tetapi berdasarkan akidahnya, apakah dia menyembah Allah atau menyembah thaghut? Kalau menyembah Allah, dia bertauhid alias Muslim; kalau menyembah thaghut, dia musyrik alias kafir. Sedangkan Nabi mengkafirkan manusia berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam, baru diterapkan setelah Hijrah ke Madinah. Dalil yang bisa disebut disini ialah: Kisah Kaab bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu dan beberapa orang yang tidak ikut perang Tabuk, kisah pencegatan kafilah dagang Abu Sufyan yang berakibat terjadinya perang Badr, sikap Nabi kepada orang-orang munafik, konsekuensi perjanjian Hudaibiyah, dll.

[8]. Adalah tidak benar sikap bermudah-mudah memvonis kafir kepada orang lain, di atas kenyataan sebuah negara tidak berlandaskan hukum Islam ini. Kita belum memiliki hak menetapkan hukum kakafiran berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam; sebagaimana kita belum bisa menerapkan sanksi hukum hudud terhadap pelaku-pelaku perbuatan dosa besar. Alasannya, karena di suatu negeri (misalnya Indonesia) belum berlaku hukum Islam. Jika wasilah menuju suatu perkara tidak ada, otomatis hakikat perkara itu juga tidak ada. Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam tidak menerapkan takfir hukmiyah di Makkah, sebelum ada Baiat Aqabah dan Hijrah. Takfir hukmiyah bisa diterapkan di suatu negeri yang sudah berlaku hukum Islam. Jika disana belum ada hukum Islam, maka yang berlaku adalah hukum dakwah, tarbiyah, dan siyasah (untuk menerapkan hukum Islam).

[9]. Tetapi bukan berarti takfir hukmiyah tidak berlaku. Ia tetap bisa diajarkan atau didakwahkan sebagai PERINGATAN bagi kaum Muslimin, agar mereka loyal kepada Syariat dan tidak loyal kepada hukum non Islami. Namun untuk menetapkan status kafir kepada seorang Muslim (suatu kaum) dan diikuti berbagai konsekuensi hukumnya; belum bisa dilaksanakan di negara yang tidak memberlakukan hukum Islam sebagai UU formal yang mengikat rakyatnya. Darimana kepastian takfir akan ditetapkan, sedangkan hukum yang menjadi rujukannya belum terwujud? Hal ini sama seperti ketika kita tidak bisa menetapkan sanksi bagi pelaku zina, mencuri, merampok, membunuh, minum miras, dll. sesuai hukum Islam; lantaran hukum itu sendiri belum berlaku secara formal.

[10]. Takfir dan thaghut adalah dua hal berbeda. Tetapi keduanya bisa saling berhubungan. Takfir di masa Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam di Makkah umumnya berlandaskan keingkaran manusia kepada Allah dan penghambaannya kepada thaghut. Sedangkan takfir di masa Nabi di Madinah, salah satunya bersumber dari loyalitas kepada selain hukum Islam. Takfir demikian belum berlaku di Makkah, sebelum Fathu Makkah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Siapapun yang diibadahi selain Allah, selagi dia tidak membenci diibadahi, dia adalah thaghut. Dan siapa saja yang ditaati dalam rangka maksiyat kepada Allah, dan ditaaati dalam mengikuti jalan selain agama yang benar ini (Al Islam); sama saja apakah karena penerimaan kabarnya yang mengingkari Kitabullah atau ditaati perintahnya yang bertentangan dengan perintah Allah, dia adalah thaghut. Terhadap hal ini dinamai orang yang manusia berhukum kepadanya, dengan selain hukum Kitabullah, sebagai thaghut. Allah menamakan Fir’aun dan kaum Aad dengan sebutan tughat.” (Majmu’ Al Fatawa, juz 20, hlm. 200).

Dalam hal ini, Syaikhul Islam merangkum dua jenis sumber kekafiran sekaligus. Pertama, kekafiran yang bersumber dari penyembahan (ibadah) kepada selain Allah. Kedua, kekafiran yang bersumber dari berhukum kepada selain Syariat Islam. Kedua sumber kekafiran itu dinamai sebagai thaghut.

Semoga risalah sederhana ini bermanfaat. Jazakumullah khair atas segala perhatian. Dan mohon dimaafkan atas segala khilaf dan kesalahan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Ayah Syakir).