Antara Takfir dan Thaghut

Bismillahirrahmaaniirahiim.

Ada satu persoalan yang berkembang di sebagian saudara-saudara kita, para ikhwan Salafi Jihadi (semoga Allah memuliakan mereka dan kita dengan Jihad di jalan-Nya), yaitu seputar Takfir. Masalah ini cukup menguras energi, pikiran, melelahkan batin, dan menimbulkan aneka pertikaian. Semoga tulisan sangat sederhana ini bisa sedikit mengurai persoalan itu, sehingga menghasilkan kebaikan. Amin Allahumma amin.

[1]. Tidak dipungkiri bahwa konsekuensi Tauhid bagi seorang Muslim, adalah mengakui otoritas hukum Islam. Siapa yang mengakui kedaulatan hukum Islam, dia adalah Muslim; sedangkan siapa yang menolak berlakunya hukum Islam dalam kehidupan, jatuh hukum kekufuran atasnya. Dalilnya adalah sikap Khalifah Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu yang memerangi kaum murtadin, karena mereka menolak hukum Zakat maal.

Kelihatan Mirip, Tapi Berbeda…

[2]. Sikap taslim (menerima) hukum Islam berkonsekuensi keislaman; sedangkan inkar (menolak) hukum Islam, berkonsekuensi kekufuran. Dalilnya, “Katakanlah, taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling (dari Keduanya), maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran: 32). Disini jelas terlihat, bahwa ingkar terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya bisa menimbulkan kekafiran.

[3]. Ada yang berpendapat, bahwa menolak hukum Islam yang menimbulkan kekafiran ialah yang disertai juhud (penolakan) dalam hati. Kalau menolak secara zhahir, sedangkan menerima secara batin; hal itu tidak dianggap sebagai kekafiran. Lalu muncul istilah “Kufrun duna kufrin” (kufur, tetapi bukan kufur yang berarti keluar dari Islam). Para ulama menjelaskan, bahwa iman itu meliputi: pembenaran dalam hati, perkataan dengan lisan, pengamalan dengan perbuatan. Ia merupakan suatu kesatuan, tidak terpisahkan. Sehingga tidak bisa seseorang disebut Mukmin, kalau hanya batinnya saja yang membenarkan. Maka itu para ulama ada yang membagi kekafiran menjadi beberapa bagian: kafir i’tiqadi (kafir keyakinan), kafir qauliy (kafir perkataan), dan kafir ‘amaliy (kafir perbuatan). Namun ada toleransi, yaitu bagi siapa saja yang dipaksa mengucapkan kata-kata kekufuran, dengan ancaman kematian; dia boleh mengucapkan hal itu, demi keselamatan dirinya. (Kisah Ammar bin Yassir Radhiyallahu ‘Anhuma, seperti disebut dalam Surat An Nahl, 106).

[4]. Siapapun yang secara jelas menolak, mengingkari, membenci, atau menafikan hukum Islam; jatuh hukum kekafiran kepadanya. Orang-orang munafik di masa Nabi, seperti Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya, secara batin mereka kufur terhadap risalah Islam; tetapi secara sosial, mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda kekafiran. Syariat Islam hanya menghukumi manusia berdasarkan kenyataan zhahir. Kata Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam: “Wa hisabuhu ‘alallahi Ta’ala” (dan perhitungan atas batin mereka, terserah kepada Allah). [HR. Muslim, dari Abi Abdillah Thariq bin Usyaim Radhiyallahu ‘Anhu].

[5]. Hukum takfir ini sering dijadikan alat oleh sebagian orang untuk mengkafirkan sesama Muslim, tanpa kaidah yang benar. Siapa saja yang dianggap tidak berhukum kepada hukum Allah (kadang dengan mudah diartikan sebagai “siapa saja yang tidak mau diajak masuk kelompoknya”), langsung dituduh kafir. Lalu muncul aneka macam vonis takfir; ada yang secara mutlak, ada yang dirinci sesuai posisinya, ada yang diikat dengan syarat-syarat tertentu. Malah metode takfir juga digunakan untuk membangun kelompok, mencari anggota baru, meraih dukungan dan fasilitas. Mereka membagi-bagikan vonis kafir dengan mudah, seperti membagikan voucher gratis. Hal ini menandakan bahwa yang bersangkutan kurang memahami dasar-dasar ajaran Islam.

[6]. Untuk memahami apakah hukum takfir berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam sudah berlaku atau belum, caranya mudah. Lihatlah ketentuan hukum yang berlaku di sebuah negeri. Jika negeri itu sudah menerapkan hukum Islam, maka takfir secara hukmiyah, otomatis berlaku. Adapun jika di negeri itu belum berhukum dengan Syariat Islam, maka takfir tersebut tidak bisa diterapkan. Sebab, banyak dari kaum Muslimin mengikuti sesuatu bukan karena kesadaran atau sungguh-sungguh; tapi karena takut, karena ikut-ikutan, atau karena alasan mencari nafkah untuk keluarga. Jika kelak berlaku hukum Islam, mereka insya Allah akan menurut saja.

[7]. Dalil paling mudah untuk menjelaskan masalah takfir hukmiyah ini adalah Sunnah Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Ketika Nabi berdakwah di Makkah, disana berlaku hukum dakwah dan tarbiyah. Saat itu Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam tidak mengkafirkan manusia berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam; tetapi berdasarkan akidahnya, apakah dia menyembah Allah atau menyembah thaghut? Kalau menyembah Allah, dia bertauhid alias Muslim; kalau menyembah thaghut, dia musyrik alias kafir. Sedangkan Nabi mengkafirkan manusia berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam, baru diterapkan setelah Hijrah ke Madinah. Dalil yang bisa disebut disini ialah: Kisah Kaab bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu dan beberapa orang yang tidak ikut perang Tabuk, kisah pencegatan kafilah dagang Abu Sufyan yang berakibat terjadinya perang Badr, sikap Nabi kepada orang-orang munafik, konsekuensi perjanjian Hudaibiyah, dll.

[8]. Adalah tidak benar sikap bermudah-mudah memvonis kafir kepada orang lain, di atas kenyataan sebuah negara tidak berlandaskan hukum Islam ini. Kita belum memiliki hak menetapkan hukum kakafiran berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam; sebagaimana kita belum bisa menerapkan sanksi hukum hudud terhadap pelaku-pelaku perbuatan dosa besar. Alasannya, karena di suatu negeri (misalnya Indonesia) belum berlaku hukum Islam. Jika wasilah menuju suatu perkara tidak ada, otomatis hakikat perkara itu juga tidak ada. Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam tidak menerapkan takfir hukmiyah di Makkah, sebelum ada Baiat Aqabah dan Hijrah. Takfir hukmiyah bisa diterapkan di suatu negeri yang sudah berlaku hukum Islam. Jika disana belum ada hukum Islam, maka yang berlaku adalah hukum dakwah, tarbiyah, dan siyasah (untuk menerapkan hukum Islam).

[9]. Tetapi bukan berarti takfir hukmiyah tidak berlaku. Ia tetap bisa diajarkan atau didakwahkan sebagai PERINGATAN bagi kaum Muslimin, agar mereka loyal kepada Syariat dan tidak loyal kepada hukum non Islami. Namun untuk menetapkan status kafir kepada seorang Muslim (suatu kaum) dan diikuti berbagai konsekuensi hukumnya; belum bisa dilaksanakan di negara yang tidak memberlakukan hukum Islam sebagai UU formal yang mengikat rakyatnya. Darimana kepastian takfir akan ditetapkan, sedangkan hukum yang menjadi rujukannya belum terwujud? Hal ini sama seperti ketika kita tidak bisa menetapkan sanksi bagi pelaku zina, mencuri, merampok, membunuh, minum miras, dll. sesuai hukum Islam; lantaran hukum itu sendiri belum berlaku secara formal.

[10]. Takfir dan thaghut adalah dua hal berbeda. Tetapi keduanya bisa saling berhubungan. Takfir di masa Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam di Makkah umumnya berlandaskan keingkaran manusia kepada Allah dan penghambaannya kepada thaghut. Sedangkan takfir di masa Nabi di Madinah, salah satunya bersumber dari loyalitas kepada selain hukum Islam. Takfir demikian belum berlaku di Makkah, sebelum Fathu Makkah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Siapapun yang diibadahi selain Allah, selagi dia tidak membenci diibadahi, dia adalah thaghut. Dan siapa saja yang ditaati dalam rangka maksiyat kepada Allah, dan ditaaati dalam mengikuti jalan selain agama yang benar ini (Al Islam); sama saja apakah karena penerimaan kabarnya yang mengingkari Kitabullah atau ditaati perintahnya yang bertentangan dengan perintah Allah, dia adalah thaghut. Terhadap hal ini dinamai orang yang manusia berhukum kepadanya, dengan selain hukum Kitabullah, sebagai thaghut. Allah menamakan Fir’aun dan kaum Aad dengan sebutan tughat.” (Majmu’ Al Fatawa, juz 20, hlm. 200).

Dalam hal ini, Syaikhul Islam merangkum dua jenis sumber kekafiran sekaligus. Pertama, kekafiran yang bersumber dari penyembahan (ibadah) kepada selain Allah. Kedua, kekafiran yang bersumber dari berhukum kepada selain Syariat Islam. Kedua sumber kekafiran itu dinamai sebagai thaghut.

Semoga risalah sederhana ini bermanfaat. Jazakumullah khair atas segala perhatian. Dan mohon dimaafkan atas segala khilaf dan kesalahan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Ayah Syakir).

Iklan

9 Responses to Antara Takfir dan Thaghut

  1. mercadee berkata:

    Adapun hukum loyalitas kepada orang-orang kafir adalah haram berdasarkan ijma para ulama yang berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah. Perlu diperhatikan bahwa bentuk loyalitas ini ada yang mengeluarkan dari Islam dan sering disebut muwaalah kubra (tawalliy), dan ada pula yang “hanya” berupa dosa besar yang tidak mengeluarkan dari Islam dan lebih sering disebut muwaalah shughra.

  2. Agung berkata:

    hukum Allah diformalkan atau tdk,tetapsaja berlaku.sebutan bagi orang yang tdk mempergunakan hukum Allah swt tetap berkwajiban meberlakukannya jika tdk berusaha atau bahkan membenarkannya tetap tahkim kafara disandangnya.kecuali wa qolbuhu mutmainnun bil iman. Tapi uraian anda benar.terimakasih.

  3. las artes berkata:

    Fitnah muncul ketika kaum muslimin tidak mau berpegang kepada pemimpin kaum muslimin dengan alasan tidak berhukum dengan hukum Allah, padahal Nabi shallallah ‘alaihi wasallam telah mengabarkan akan datangnya pemimpin-pemimpin yang mengambil petunjuk selain petunjuk Rasulullah dan mengambil sunah selain sunah Nabi-Nya. Ini artinya mereka berhukum dengan hukum selain Allah, karena apabila ia mengambil petunjuk selain petunjuk Nabi tentu yang ia ambil adalah petunjuk buatan manusia dan sunah buatan manusia, namun Nabi shallallah ‘alaihi wasallam tidak menghukuminya kafir secara mutlak, dan tidak boleh seseorang berkata: “Mereka mengambil selain petunjuk Nabi shallallah ‘alaihi wasallam dalam beberapa kejadian saja, adapun jika mereka melakukannya dalam kejadian yang banyak seperti di zaman kita ini maka hadis itu tidak boleh dijadikan alasan”.

  4. [9]. Tetapi bukan berarti takfir hukmiyah tidak berlaku. Ia tetap bisa diajarkan atau didakwahkan sebagai PERINGATAN bagi kaum Muslimin, agar mereka loyal kepada Syariat dan tidak loyal kepada hukum non Islami. Namun untuk menetapkan status kafir kepada seorang Muslim (suatu kaum) dan diikuti berbagai konsekuensi hukumnya; belum bisa dilaksanakan di negara yang tidak memberlakukan hukum Islam sebagai UU formal yang mengikat rakyatnya. Darimana kepastian takfir akan ditetapkan, sedangkan hukum yang menjadi rujukannya belum terwujud? Hal ini sama seperti ketika kita tidak bisa menetapkan sanksi bagi pelaku zina, mencuri, merampok, membunuh, minum miras, dll. sesuai hukum Islam; lantaran hukum itu sendiri belum berlaku secara formal.

  5. abisyakir berkata:

    @ Las Artes…

    Fitnah muncul ketika kaum muslimin tidak mau berpegang kepada pemimpin kaum muslimin dengan alasan tidak berhukum dengan hukum Allah, padahal Nabi shallallah ‘alaihi wasallam telah mengabarkan akan datangnya pemimpin-pemimpin yang mengambil petunjuk selain petunjuk Rasulullah dan mengambil sunah selain sunah Nabi-Nya. Ini artinya mereka berhukum dengan hukum selain Allah, karena apabila ia mengambil petunjuk selain petunjuk Nabi tentu yang ia ambil adalah petunjuk buatan manusia dan sunah buatan manusia, namun Nabi shallallah ‘alaihi wasallam tidak menghukuminya kafir secara mutlak, dan tidak boleh seseorang berkata: “Mereka mengambil selain petunjuk Nabi shallallah ‘alaihi wasallam dalam beberapa kejadian saja, adapun jika mereka melakukannya dalam kejadian yang banyak seperti di zaman kita ini maka hadis itu tidak boleh dijadikan alasan”.

    Respon:

    [1]. Mengambil petunjuk selain dengan petunjuk Nabi Saw bisa juga diartikan sebagai “mengambil sistem lain selain sistem Khilafah”, apakah itu kerajaan, republik, demokrasi, dll. Sebab dalam hadits yang masyhur dari Irbath bin Sariyyah Ra, Nabi menjelaskan bahwa kepemimpinan yang sesuai Sunnah beliau ya Khulafaur Rasyidin, sehingga beliau memperingatkan agar Ummat tidak mengambil perkara “muhdatsatul umur”. Dalam riwayat lain disebutkan “Khilafah ‘ala minhaji nubuwwah”. Nah, ini tafsiran lain yang menunjukkan bahwa pemimpin di atas petunjuk Nabi adalah Khilafah.

    [2]. Adanya hadits itu, andaikan kita jadikan dalil, tidak boleh MENGHALALKAN YANG HARAM atau MENGHARAMKAN YANG HALAL. Sebagai KHABAR, hadits itu tidak apa-apa kita terima, sebagai peringatan; tetapi sebagai panduan amal, agar kita MENGAMBIL PETUNJUK SELAIN SYARIAT ISLAM; hal demikian tidak ada dalam Syariat Islam. Mungkinkah Allah dan Rasul-Nya menyuruh kaum Muslimin mengambil petunjuk selain Kitabullah dan Sunnah? Itu sangat tidak mungkin. Dalam Islam, tidak ada dalil-dalil yang bisa menetapkan kekufuran untuk dijalani, dipahami, dan direalisasikan.

    [3]. Dalam hadits yang masyhur, “Man ra’a minkumul munkaran, fal yughaiyiru bi yadih…” Hadits ini dan semisalnya, sangat menekankan pentingnya istiqamah, yaitu menetapi Syariat Islam dan menyelisihi yang bertentangan dengan Syariat. Kalau satu kemungkaran saja disuruh mengubahnya, apalagi kemungkaran SISTEMATIK dalam bentuk sistem dan hukum non Islam? Bahkan ciri generasi Salafus Shalih dalam Ali Imran 110, ialah: beriman, menyuruh berbuat makruf, mencegah kemungkaran.

    [4]. Dalam kaidah Siyasah Syar’iyyah, misalnya menurut Al Mawardi, kalau ada pemimpin yang buta, tuli, lumpuh, atau mengalami cacat berat; dia bisa di-ma’zulkan lantaran diduga tak akan mampu mengemban kepemimpinan dengan baik. Padahal itu barulah cacat fisik. Bagaimana dengan cacat keimanan, akidah, dan Syariat?

    [5]. Hadits yang Anda sebutkan itu, jangan dipahami untuk membenarkan Sekularisme dan kekufuran. Hal demikian sangat berat timbangannya di sisi Allah. Berhati-hatilah dalam bersikap, jangan ragu untuk menetapi yang haq itu haq, serta meyakini yang bathil itu bathil. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    Admin.

  6. ummu nuha berkata:

    terus terang pak, sy msh bingung ??
    Jd kalo menentang sistem pemerintahan RI yg non islami atau dimasa sekarang dimana tdk ada kekhilafahan Islam dan kelompok2 yg menentang pemerintahnya apakah memang patut disebut khawarij atau tidak ???

  7. abisyakir berkata:

    @ Ummu Nuha…

    Terus terang pak, sy msh bingung?? Jd kalo menentang sistem pemerintahan RI yg non islami atau dimasa sekarang dimana tdk ada kekhilafahan Islam dan kelompok2 yg menentang pemerintahnya apakah memang patut disebut khawarij atau tidak???

    Komentar:

    Kesesatan utama kaum Khawarij: (1). Mengkafirkan kaum Muslimin selain mereka; (2). Keluar dari kepemimpinan Islam dan mencabut bai’at atasnya; (3). Memerangi kepemimpinan Islam dan ummatnya. Jadi standarnya KEPEMIMPINAN ISLAM (Kekhalifahan atau Kesultanan Islam).

    Kalau menentang pemerintah non Islam (sekuler), itu bukan Khawarij; sebab yang ditentang bukan kepemimpinan Islami. Memang di kalangan Salafi ada kebingungan dalam hal ini. Mereka mengklaim bahwa pemerintahan sekuler itu juga ulil amri. Tidak boleh seperti itu. Itu salah. Yang Islami/halal adalah yang sesuai Syariat Islam; kalau tidak sesuai, ya bukan kepemimpinan Islami (ulil amri).

    Ya ambillah sisi-sisi baik dari kajian Salafi itu. Kalau dalam hal-hal mendasar seperti kepemimpinan Islam, jangan mengambil pendapat mereka. Terlalu riskan dan berbahaya. Nanti kita bisa menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal. Itu sangat bahaya!!!

    Admin.

  8. Fulan berkata:

    Lazuardi langit biru,apa betul situs Zionis? Ana masih awam..

  9. abisyakir berkata:

    @ Fulan…

    Kami tidak tahu tentang hakikat “lazuardi langit biru”. Yang jelas, kami tak ada hubungannya dengan situs itu, meskipun namanya mirip-mirip. Ikon “langit biru” dipakai di banyak tempat. Kalau kita ketik “blue sky” di Google, akan menemukan banyak data. Terimakasih.

    Admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: