Konflik NU dan Syiah

Juni 4, 2012

Oleh Kholil Hasbi

DARI serangkaian konflik sosial dua tahun terakhir antara pengikut Syiah dan Ahlus Sunnah belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Mulai insiden Bangil, kasus Sampang Madura hingga yang terbaru di Kencong Jember, semuanya melibatkan dua kelompok, yakni antara Syiah dan warga NU.

Kali ini Syiah yang menyerang warga NU. Rabu sore 30 Mei rumah ustadz Fauzi didatangi tujuh orang — yang menurut keterangan diindikasi sebagai pengikut Syiah. Ustadz Fauzi adalah pengurus Syuriyah Ranting NU desa Puger, Kencong Jember. Maksud sekawanan pengikut Syiah itu untuk menekan agar pelaksanaan pengajian di Kencong yang rencananya akan dihadiri Habib Muhdlar al-Hamid — da’i yang terkenal vokal dan tegas terhadap kekeliruan Syiah — dibatalkan. Ketika ust Fauzi menolak, kawanan Syiah menyerang dengan golok melukai seorang murid ustadz Fauzi.

Tidak ada balasan penyerangan dari warga NU setempat. Warga dan jajaran pengurus PCNU Jember menyerahkan kepada aparat keamanan. Bukan berarti persoalan selesai. Warga NU Jember kecewa sebab ada kabar kelima orang pelaku penganiyaan warga NU yang telah ditangkap polisi dilepas kembali (www.nukencong.or.id 02/06/2012).

Di sini, ada dua hal penting yang harus segera diperhatikan. Pertama, aspirasi warga nahdliyyin Jawa Timur agar Syiah dibekukan tampaknya belum direspon oleh pemerintah. Kedua, praktik merendahkan sahabat Nabi SAW masih dilakukan oleh Syiah dalam tulisan-tulisan dan pengajian. Untuk poin pertama, aspirasi NU itu dikuatkan dengan sikap pendiri NU — KH.Hasyim Asy’ari — yang menolak paham Syiah.

Dalam kitab Qonun Asasi li Jam’iyyati Nadlah al-Ulama’, KH. Hasyim Asy’ari menilai fenomena Syiah merupakan fitnah agama yang tidak saja patut diwaspadai, tapi harus diluruskan. Dalam kitab itu Kiai Hasyim mengecam golongan Syi’ah karena mencaci bahkan mengkafirkan sahabat Nabi SAW. Oleh sebab itu, beliau menghimbau agar para ulama’ yang memiliki ilmu untuk meluruskan penyimpangan golongan yang mencaci sahabat.

Sebenarnya, informasi adanya penodaan Syiah terhadap sahabat Nabi SAW bukanlah hal baru. Sudah jamak diketahui Syiah sulit menghilangkan ajaran itu. Di Jember, pihak PCNU mengaku telah mengantongi bukti-bukti berupa rekaman ceramah pemimpin Syiah yang merendahkan kedudukan sahabat Abu Bakar, Umar dan Ustman.

Di dalam kitab al-Kafi  — kitab rujukan Syiah — juz 8 halaman 245 ditulis:” Dari Abu Ja’far ia berkata: “Pasca wafatnya Nabi, orang-orang manjadi murtad semua, kecuali tiga. “Aku bertanya, siapa yang tiga itu? Beliau menjawab: “Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi”. Data-data semacam ini banyak dijumpai dalam kitab-kitab Syiah, juga dalam buku-buku mereka.

Dalam keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah — akidah yang dianut NU — ajaran-ajaran Syiah tersebut dikategorikan sebagai penodaan terhadap agama. Apapun bentuk penodaan terhadap sakralitas agama, pasti akan memantik konflik.  Dakwah pengikut Ahlus Sunnah sudah berkali-kali mengingatkan agar Syiah menyudahi penodaan terhadap sahabat. Jika pun ajaran penodaan itu sulit dihilangkan oleh pihak Syiah. Kalangan Sunni menghimbau agar mereka tidak menggelar aktifitas secara publik, sebab akan menyinggung kalangan Sunni.

Terkait itu, PCNU Jember secara resmi meminta pemerintah agar Syiah dibekukan. Di antar butir himbauan resmi yang ditujukan kepada pemerintah baru-baru ini berbunyi : “Kepada pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar tidak memberikan peluang penyebaran faham Syiah di Indonesia yang penduduknya berfaham Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah sangat berpeluang menimbulkan ketidakstabilan yang dapat mengancam keutuhan NKRI”.

Ketegangan demi ketegangan yang telah terjadi memang akan menimbulkan ketidakstabilan Negara. Oleh sebab itu, faktor mendasarnya jangan sampai diabaikan para tokoh masyarakat dan pemerintah. Persoalan mendasarnya adalah, ajaran-ajaran yang menodai agama harus dihentikan aktifitas publiknya. MUI Jawa Timur pada januari lalu telah memberi rekomendasi agar aktifitas publik Syiah segera dibekukan. PWNU Jawa Timur juga sepakat dengan MUI Jawa Timur. Bahwa kelompok Syiah juga menghina sahabat Nabi, serta menyatakan orang yang tak turut dalam kelompok mereka bukanlah orang Islam. Bagi PWNU Syiah telah melakukan kekeliruan akidah (metrotvnews.com 9 Januari 2012).

Apalagi pihak Syiah telah mulai ‘pasang dada’ di hadapan warga NU. Ustadz Idrus Romli — salah satu pengurus PCNU Jember — cukup prihatin dengan perkembangan Syiah. Menurutnya, baru sedikit saja mereka sudah berani anarkis, bagaimana nanti jika sudah besar. Keprihatinan Gus Idrus sesungguhnya mewakili keprihatinan mayoritas kyai NU di Jawa Timur. Almarhum KH. As’ad Syamsul Arifin kiai sepuh yang disegani kalangan NU, pada tahun 1985 telah memberi himbauan. Menurutnya, Syiah Imamiyah di Jawa Timur itu ekstrim yang harus dihentikan di Indonesia. Peringatan Kyai As’ad ini juga demi menjaga stabilitas warga Jawa Timur.

Maka, pihak kepolisian dan pemerintah sebaiknya tidak menganggap remeh konflik seperti ini. Jika tidak ada keadilan untuk warga NU, bisa jadi insiden lebih besar akan terjadi lagi, tidak hanya di Jember tapi juga di daerah-daerah Jawa Timur lainnya. Ketegangan antara mayoritas Sunni (pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah) dan pengikut Syiah sudah lama terjadi di Jawa Timur. Di beberapa kantong-kantong NU lainnya — seperti Pasuruan, Malang, dan Bondowoso — ‘insiden-insiden’ kecil kerap terjadi. Walaupun masih dalam taraf kecil, tapi bisa saja dari situ memantik konflik sosial yang lebih besar.

Apalagi ada kasus kelompok Syiah yang menyerang NU di Jember tempo hari. Emosi warga bisa naik, bila aparat mendiamkan dan tidak berbuat apa-apa terhadap Syiah di Jawa Timur. Yang mesti dilakukan adalah bukan berusaha membungkam warga NU agar tidak menyalahkan Syiah. Alasan ini tidak rasional, sebab bagi Ahlus Sunnah segala bentuk penodaan itu merupakan perongrongan kesucian agama. Harga diri agama dan sakralitas ajaran Islam menjadi hak tiap warga termasuk NU yang harus dilindungi. Umat Islam memiliki hak sakralitas agamanya dilindungi. Mestinya hal-hal yang memancing konflik itu diselesaikan.*

(Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya).

Sumber: http://www.hidayatullah.com/read/22972/04/06/2012/menyudahi-konflik-nu-dan-syiah.html.

Iklan

5 Karakter Wanita Modern

Juni 3, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dulu, di negeri kita, kaum wanita terikat oleh tatanan etik dan moral yang kuat. Contoh, kalau ada anak wanita usia SMP belum bisa mencuci baju sendiri, belum bisa nyetrika, tidak cakap beres-beres rumah, tidak pintar memasak, tidak sayang dengan bocah-bocah kecil…orangtuanya (terutama ibunya) akan sangat cemas. “Kenapa nih anak? Sudah mau kawin, tapi masih juga tidak bisa ngurus rumah?” Nah, itu sebuah contoh mudah.

Kaum wanita modern kehilangan begitu besar potensi kehidupan mereka. Tiada tampak kesegaran spirit, tetapi kelayuan…

Tapi di masa sekarang, terutama setelah Reformasi 1998, terjadi transformasi kultural yang sangat ekstrem. Seruan kebebasan bukan hanya beredar di dunia politik dan informasi; tetapi dalam kultur keseharian kaum wanita juga amat sangat berubah. Tata nilai dan standar etik kewanitaan (taruhlah dalam konteks keindonesiaan) berubah sangat tajam.

Beberapa contoh riil bisa disebutkan…

<o> Dulu kaum wanita muda merasa takut untuk keluar rumah malam-malam. Tetapi saat ini, batasan malam itu sudah tidak jelas bagi mereka. Banyak wanita sampai jam 11 malam masih ngider-ngider di tengah kota.

<o> Dulu memakai pakaian seksi, ketat, membentuk badan, memakai rok mini, celana pendek, dll. dianggap tabu dan memalukan. Tetapi saat ini ia menjadi kebanggaan. Banyak wanita muda masa kini “stress” kalau tidak bisa berseksi-seksi ria di depan umum.

<o> Dulu, dunia pelacuran itu sangat dibenci dan dijauhi sekuat tenaga. Tetapi saat ini banyak pelacur tanpa malu-malu memamerkan diri dan tubuhnya di TV, majalah, koran, arena konser, dan memamerkan suara erotik di radio, lewat lagu, dll.

<o> Dulu wanita-wanita muda yang terlibat dalam pornografi sangat sedikit. Sangat kecil jumlahnya. Tetapi saat ini, jumlah mereka sangat besar. Mereka tidak malu-malu menjadi obyek media pornografi. (Biasanya, wanita-wanita demikian sudah pernah melakukan zina dengan laki-laki, siapapun dirinya. Karena sudah pernah zina, jadi “urat rasa malunya” sudah putus. Dengan terlibat pornografi, selain alasan komersil, dia juga ingin “balas dendam” kepada semua laki-laki. Siapa yang berbuat, siapa yang kena akibat?).

<o> Dulu kaum wanita muda memiliki komitmen moral dalam sikap, perilaku, perkataan, cara bergaul. Mereka tidak mau melakukan hal-hal yang melanggar norma moral. Tapi saat ini, tingkah wanita sudah seperti “hidup tanpa norma” sama sekali. Sayang sekali…

Okelah….untuk sementara itu dulu contoh yang bisa disebut. Banyak kalau mau, tapi tujuan kita bukan kesana. Ini baru sekedar “pengantar” sebelum masuk materi sebenarnya.

Kalau dicermati dengan teliti, kaum wanita modern di Indonesia, termasuk kalangan Muslimahnya, memiliki 5 ciri khas. Hal itu menunjukkan karakter sesungguhnya dari kehidupan mereka. Karakter-karakter ini sangat simple, sehingga untuk memahaminya pun tidak membutuhkan proses berpikiur njelimet (kompleks).

5 KARAKTER WANITA (INDONESIA) MODERN…

[1]. Kalau beribadah seperlunya saja. (Itu pun bagi yang masih ibadah). Tidak tampak adanya kesungguhan, semangat, kegairahan menapak prestasi ibadah yang tinggi; seperti umumnya ciri wanita-wanita shalihah. Mereka memang shalat, tapi umumnya hanya shalat wajib dengan semangat “asal gugur kewajiban”. Kadang shalatnya juga cepat, tidak sampai 5 menit shalat selesai. Kalau untuk fitness, shoping, hung out di mall-mall, ngobrol di kafe-kafe…mereka kuat banget. Tetapi untuk hak-hak Rabb-nya, mereka berikan prioritas belakangan.

[2]. Aktivitas utama, kalau tidak studi, ya bekerja. Bisa jadi mereka masih SMP-SMA, tetapi banyak juga yang kuliah. Kalau tidak kuliah, biasanya bekerja. Bekerja apa saja, dari yang paling besar income sampai yang remeh-remeh; dari yang paling terhormat sampai paling nista; dari yang paling formal sampai paling informal; dari ruangan yang harum dengan parfum sampai tempat-tempat kumuh dengan bau comberan… Kaum wanita modern sangat semangat berebut pekerjaan, mengambil-alih tugas dan posisi yang mestinya dipikul kaum laki-laki. Tidak jarang situasinya terbalik…sang isteri bekerja di luar, sang ayah mengasuh anak.

[3]. Konsentrasi mengurus kecantikan dan penampilan diri. Dulu kaum wanita intens bekerja di dapur, bekerja beres-beres rumah, mengasuh bayi, memelihara tanaman, mengajar anak-anak mengaji, dll. Tetapi saat ini, konsentrasi ke arah itu sudah diambil alih kesibukan mempercantik diri dan penampilan. Caranya…membeli alat-alat kosmetik dan make up mahal; datang ke salon-salon; rutin berkunjung dan konsultasi ke dokter kulit; rajin membeli pakaian yang seksi-seksi di FO, mall, butik-butik; rajin ikut fitness; langgalan majalah wanita dan kecantikan; ikut seminar kecantikan dan pelatihan; makan nutrisi, vitamin, ikut saran diet; melakukan tindakan medis radikal seperti suntik botox, operasi plastik, transplantasi, dll. Krisdayanti pernah bilang: “The beauty is pain” (cantik itu sakit). Dalam model cantik penuh rekayasa modern…memang sakit Mbak; sakit di ruhani, fisik, dan kantong. He he he…

[4]. Sibuk dengan Fesbuk (FB). Ini termasuk kegiatan besar wanita modern. Seakan, mereka tidak bisa hidup (wajar), tanpa kehadiran FB. Di FB itu kaum wanita biasa mencurahkan apa saja…termasuk pernyataan-pernyataan sebagai berikut: “Oh, perut mules. Mau ke kamar mandi!” “Maaf, aku ngantuk, mau bobo.” “Laper nih, mau makan.” “Aku mau ganti baju dulu ya…” “Aduh, tadi kakiku kebentur meja. Saakiiit…” “Mau ngapain ya? Lagi gak punya duit….” Dunia FB menjadi semacam “pelipur lara” hati-hati kaum wanita modern. Kasihan banget ya…

Kalau di angkot nih, saya sering perhatikan urusan ke-FB-an ini. Setiap wanita muda masuk angkot, rata-rata akan melakukan 5 gerakan utama, yaitu: Satu, masuk angkot dan mencari posisi duduk; Dua, merogoh tas dan mengambil HP (jenis qwerty biasanya); Tiga, mulai deh tangannya sibuk “mengetik”; Empat, kadang senyum-senyum sendiri, kadang tampak sedih, kadang tampak “tanpa ekspresi”; Lima, tertib. Maksudnya, semua itu dilakukan secara tertib dari awal sampai akhir. Tidak kebolak-balik, lho. He he he…

[5]. Galau menatap masa depan pernikahan… Hampir setiap wanita modern, di atas usia 20 tahun, merasa galau dengan pernikahan. Ada yang galaunya “baru permulaan”, ada yang “moderat”, ada yang “parah bgt”… Mau menikah, ya sama siapa? Nanti kalo sudah menikah, bagaimana keadaannya? Kalau tidak menikah, sampai kapan? Dan aneka macam kegalauan…

Nah, inilah realitas kehidupan wanita modern. Wanita kini sangat berbeda dengan wanita masa lalu. Sangat berbahagia setiap laki-laki yang menikah dengan wanita dengan tata-nilai, moralitas, dan memegang etika. Wanita era lama, dalam banyak hal, lebih baik dari wanita modern. Meskipun tentu…setiap zaman ada kondisinya, ada prestasi dan kegemilangannya sendiri-sendiri.

Ya intinya…wahai kaum wanita, aku ingin menasehatimu dengan niatan cinta, kasih-sayang, dan penghormatan… Cobalah kalian renungi kembali hidupmu ini. Janganlah menjadi wanita “konsumen melulu”, tanpa kreasi dan sikap. Jangan menjadi wanita “ikut-ikutan melulu” tanpa memiliki kendali dan kemandirian. Jangan menjadi wanita “obyek industri”, tetapi jadilah penggerak kemajuan sesuai duniamu. Jangan menjadi “barang ekploitasi”, tetapi jadilah insan yang mulia dan berharga dalam kehidupan.

Kaum wanita… Jangan berharap orang lain akan menghargaimu; tetapi engkaulah yang bisa menghargai dirimu sendiri. Hargailah kehidupan dan kehormatanmu, agar Allah Ar Rahmaan menghargaimu. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

Mine.