Jangan Tertipu Propaganda Zionis…

Juli 31, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak pembukaan Olimpiade 2012 di London, muncul kehebohan. Karena maskot Olimpiade dicurigai mengandung bentuk-bentuk promosi simbol dajjal dan freemasonry. Bahkan nama si maskot, Wenlock dan Mandevill bisa ditafsirkan menjadi: We-unlock-man-devil (kami membebaskan manusia iblis alias dajjal).

Mula-mula coba perhatikan maskot Olimpiade 2012 berikut ini…

Pasangan Wenlock dan Mandevill, dengan Simbol “Mata Satu”.

Maskot Sebelah Kiri, Bagian Dahinya Ada “Segitiga Piramida”.

Dalam benak kita, simbol dajjal itu selalu berupa ikon “Mata Satu”. Lalu kita mengenal simbol yang cukup populer, All Seeing Eye. Ia adalah simbol “Mata Satu” yang digambarkan selalu melihat gerak-gerik apapun dan siapapun.

Simbol “Mata Satu” yang Terkenal. Katanya, Die Bisa Ngeliat Apa Saja…

Tentu kita sangat sering melihat gambar-gambar populer di bawah ini…

Logo Klub Bola Tersohor. Ini Sebenarnya Juga Simbol “Mata Satu”.

Sosok “Plankton” dalam Serial Kartun Terkenal (Spongebob). Ini Juga “Mata Satu”.

Bagi para peminat studi konspirasi dan Zionisme, pasti sudah tidak asing dengan gambar-gambar di bawah ini… Taburan simbol-simbol “Mata Satu” pada mata uang Amerika.

Gambar Lembar Bawah, Sisi Kiri; Disana Ada Simbol Piramida dan “Mata Satu” All Seeing Eyes.

Pada gambar di bawah, kata “One Dollar” jika dibalik dengan jenis font tertentu, akan terbaca sebagai “Our Dajjal”. Lihat sendiri ya…

Alhamdulillah, Ada yang Begitu Kreatif dan Kritis Melihat dari Sisi Ini.

Setelah melihat gambar-gambar “Si Mata Satu” di atas, dan gambar-gambar serupa, lalu lihatlah satu image di bawah ini, sebagai pelengkap…

Ini Sih Bukan “Mata Satu”, tapi “Mata Tiga”.

Nah, setelah semuanya disampaikan, kita akan sebutkan sebuah RAHASIA BESAR disini. Sejatinya, wahai saudara-saudari Muslim dan Muslimah… Gambaran atau simbol “Mata Satu” bukanlah gambaran dajjal laknatullah ‘alaih, seperti yang diajarkan dalam Islam. Baik Al Qur’an atau As Sunnah tidak pernah memberi legalitas, bahwa dajjal itu bermata satu. Tidak sama sekali.

Dajjal tetap bermata dua. Sekali lagi, ia bermata dua, bukan “bermata satu”. Hanya saja, mata kanan-nya buta; atau tertutup, sehingga ia diberi sebutan Al Masih (atau mata kanan-nya tertutup). Adapun berbagai gambaran, simbol, image, dll yang menunjukkan bahwa dajjal “bermata satu”; ia hanya propaganda Zionis saja. Kita jangan tertipu oleh propaganda seperti itu.

Dalam hadits dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak tersembunyi (sifat-Nya) dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak buta. Sesungguhnya al masih dajjal, dia buta matanya (sebelah kanan), seperti anggur yang busuk.” (HR. Al Bukhari).

Lalu, mengapa Zionis menggambarkan sifat dajjal dengan “Si Mata Satu”?

Ya, karena mata satu itu dianggap sebagai keunikan, sesuatu yang tetap memiliki sisi istimewa. Padahal kalau mengikuti sabda Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, dajjal itu BUTA, bahkan mata kanannya seperti anggur BUSUK. Sifat buta, apalagi seperti anggur busuk, adalah sifat TERCELA dan HINA. Lalu semua itu hendak ditutupi dengan simbol “Mata Satu”. Apalagi didramatisir dengan ungkapan: All Seeing Eye (mata yang bisa melihat semuanya).

Ke depan…kita jangan ikut-ikutan menyebarkan simbol “Mata Satu” itu. Ia adalah simbol yang salah, tidak sesuai sabda Nabi. Pada hakikatnya dajjal buta mata kanannya. Dia tetap memiliki dua mata, bukan satu mata.

Semoga catatan ringan ini bermanfaat. Selamat berpuasa ya, semoga selalu mendapatkan rahmat, barakah, hidayah, maghfirah, dan fadhilah dari sisi Allah Azza Wa Jalla. Amin Allahumma amin.

Mine.

Iklan

Hikmah Ramadhan: Kapan Kemenangan Islam Tiba?

Juli 25, 2012

(Edited Version).

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebagai seorang Muslim, tentu kita pernah (sekali, dua kali, atau sering) bertanya-tanya: Kapankah datang kemenangan Islam?

Kemenangan atau Kekalahan, Tergantung Jadwal Sejarah di Sisi Allah

Kita bertanya demikian, karena menyadari betapa terpuruknya kondisi kaum Muslimin selama ini (di tingkat nasional maupun global); kita ingin agar segala keterpurukan itu lekas sirna, berganti kemenangan, kejayaan, dan kemuliaan.

Di sisi lain, kita juga mendapatkan jaminan dalam ajaran-ajaran Islam, bahwa kemenangan itu pasti akan tiba. Dalil yang sering disebutkan: “Wa’adallahu alladzina amanu minkum wa ‘amilus shalihaati, la yastakh-lifannahum fil ardhi kamaa istakh-lafa alladzina min qablihim” (dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang beramal shalih, bahwa mereka akan dijadikan berkuasa di muka bumi sebagaimana Allah telah menjadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka). [An Nuur: 55].

Kalau kita membaca, mendengar, atau mengikuti seruan-seruan yang disampaikan oleh saudara-saudara dari kalangan Hizbut Tahrir; akan terasa sekali seolah kemenangan itu sudah dekat. Tegaknya Daulah Islam, bahkan Khilafah Islamiyyah, seolah tinggal menghitung hari saja. Tetapi manakala kita berbicara dalam tataran realitas, duh betapa jauh antara harapan dan kenyataan.

Ketika masuk periode tahun 1400 Hijriyah (33 tahun lalu), Rabithah ‘Alam Islami mempelopori sebuah seruan besar, bahwa abad ke-15 Hijriyah adalah abad kebangkitan Islam. Singkat kata, ini adalah abad Islam. Kala itu kampanye Shahwah Islamiyyah (Kebangkitan Islam) marak dimana-mana. Tidak sedikit para aktivis Islam mengambil spirit dari keberhasilan Revolusi Khomeini di Iran, tahun 1979. Mereka berpikir, “Kalau Syiah bisa, mestinya Sunni lebih bisa lagi.” (Ketertipuan pemikiran ini sama ketika kaum Muslimin pernah mendukung Kemal Attaturk di Turki, yang ketika itu oleh media digambarkan sebagai sosok penyelamat peradaban Islam; padahal kemudian terbukti, dialah penghapus Khilafah Islamiyyah).

Banyak pakar Islam di Timur Tengah mengelu-elukan kaum Muslimin Nusantara. Kata mereka, kebangkitan Islam akan dimulai di Indonesia. Sosok Abuya Ashari Muhammad, pemimpin Darul Arqam, dengan tegas mengklaim bahwa kebangkitan Islam dimulai dari Indonesia; terutama setelah Pak Harto menunaikan Haji pada tahun 1995. Murid-murid Ashari Muhammad mengangkat slogan yang cukup unik, “Kini giliran Timur.” Namun Dr. Al Qaradhawi menasehati, agar seruan kebangkitan dari Indonesia ini tidak usah dibesar-besarkan; agar potensi kebangkitan itu tidak dihancur-leburkan oleh konspirator Barat.

Kembali ke topik awal…

Jujur kita ingin mengatakan, bahwa kondisi kaum Muslimin saat ini (khususnya di Indonesia) sangat terpuruk. Hal ini tidak lepas dari adanya upaya-upaya sistematik untuk menghancurkan kehidupan Ummat Islam, dari segala sisi. Ketika di negeri ini sempat berhembus angin Kebangkitan Islam, hal itu ditafsirkan sebagai ancaman sangat besar bagi sistem Kapitalisme-Liberalistik yang mendominasi kehidupan modern saat ini. Maka berbagai kekuatan asing dan lokal, bahu membahu dan saling ta’awun, untuk menghancurkan kehidupan Muslimin Indonesia, dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Secara ekonomi, kita dihancurkan sampai ke sendi-sendinya oleh IMF lewat Letter of Intents; secara politik, kita dihancurkan melalui demokrasi liberal; secara budaya, kita dihancurkan melalui dominasi TV-TV swasta; secara moral, kita dihancurkan oleh media-media dan pornografi di internet; secara dakwah, kita dihancurkan oleh serbuan dai-dai gaul dan selebritis; secara militer, kita dihancurkan melalui isu terorisme; secara pemikiran religius, kita dihancurkan melalui JIL, Syiah, dan aliran sesat; dll. Hari-hari yang kita jalani saat ini dengan segala kesumpekan, keruwetan, kehancuran, keironisan, kekalutan, kesadisan, kebobrokan, dan seterusnya ini, adalah buah dari penghancuran sistematik itu.

Dalam situasi demikian, kita bertanya-tanya: Apa yang sedang terjadi? Benarkah Islam akan bangkit? Benarkah akan muncul kebangkitan dari Nusantara? Bagaimana memahami situasi ini? Apa yang mesti kita perbuat?

Saudaraku rahimakumullah… engkau pasti sangat terbiasa dan akrab dengan model-model pemikiran sebagaimana di bawah ini…

[o]. Kalau pendidikan Ummat merosot, kita harus membangun pendidikan Islam yang berkualitas. Caranya, kita datangkan SDM guru Muslim yang handal; kita buat inovasi sistem pendidikan yang integral; kita kerahkan investasi besar untuk penyediaan sarana dan pra sarana. Yakinlah, dengan cara itu kita akan memiliki masa depan gemilang.

[o]. Ummat Islam terpuruk seperti ini karena penguasaan teknologi mereka sangat lemah. Kita mestinya membangun kehandalan di bidang telekomunikasi, kedirgantaraan, otomotif, teknologi digital, bioteknologi, nuklir untuk perdamaian, dll. Hanya dengan cara seperti itu, kita akan berhasil memimpin dunia di masa depan.

[o]. Selama ini Ummat Islam sangat lemah dari sisi ekonomi dan bisnis. Jihad ekonomi tidak diragukan lagi. Kita perlu mengembangkan seluas mungkin produk bank syariah, asuransi syariah, gadai syariah, MLM syariah, obligasi syariah (sukuk), pasar modal syariah, dll. Termasuk produk mikro ekonomi seperti BMT, koperasi syariah, BPR syariah. Inilah cara paling tepat untuk merebut kegemilangan masa depan di tangan Islam.

[o]. Jujur harus diakui, penguasa sebenarnya dunia saat ini adalah media. Kita perlu membangun media yang handal. Jangan banyak menyalahkan ini dan itu, yang penting kita berusaha nyata saja. Sudah saatnya kita membangun stasiun-stasiun TV Islami yang isinya 100 % murni sesuai Islam. Kalau orang membangun sebuah stasiun TV dengan modal 900 miliar, kita bisa membangun TV dengan mengumpulkan kencleng dari duit 100, 200, 500, atau 1000 rupiah. Intinya, kita harus bisa merebut dominasi media dan menyingkirkan media-media sekuler.

[o]. Keterpurukan Ummat Islam ini sebenarnya solusinya mudah, yaitu: penguatan sistem demokrasi, pendidikan politik, dan advokasi terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM. Hanya dengan cara demikian, kita akan bisa membangun masa depan yang cerah, gemilang, di tangan Islam. (Adapun soal gaji anggota DPR yang besar, kehidupan mewah, budaya jet set, dll. itu hanya “efek samping” saja. Yang utama ialah penguatan sistem demokrasi yang jujur, adil, transparan, akuntabel).

[o]. Dunia ini telah dikuasai oleh Yahudi, dengan organisasi pendukungnya, Freemasonry, Illuminati, Theosofi, dan segala jaringan mereka. Mereka telah menguasai dunia. Mereka mencapai kebangkitan besar dengan sistem gerakan under ground, maka kita pun harus membuat pola yang sama. Kita harus melawan kaum paganis itu secara kaffah, sebagaimana mereka telah melawan kita secara kaaffah.

[o]. Dan lain-lain pemikiran serupa, dari berbagai jurusan dan bidang.

Kita sering letih sendiri mengikuti alur-alur berpikir seperti itu. Bukan tidak ada gunanya, tetapi kerap kita bertanya: Apa arti semua pemikiran itu dalam mengentaskan Ummat dari segala penderitaannya? Apakah ada buah dan manfaatnya? Atau keterpurukan itu tidak beranjak dari posisinya, bahkan seiring waktu makin parah saja?

Dalam situasi demikian, saya ingin memberikan sedikit penjelasan, sebagai solusi kesesakan dada kita dan kebuntuan pemikiran yang sekian lama terus menghantui. Sebenarnya, ini bukan suatu solusi yang bersifat praktis; tetapi sekedar wawasan agar kita tahu keadaan sebenarnya.

Pada hakikatnya, kemenangan suatu kaum (misalnya dominasi Yahudi dan Barat) itu terjadi bukan semata-mata karena kekuatan mereka, kepandaian mereka, serta pengorbanan mereka. Tidak semata-mata itu. Tetapi kemenangan mereka ialah karena Allah Al Qadiir telah menetapkan jadwal kemenangan atas mereka. Hal ini harus benar-benar kita pahami.

Seperti dominasi Yahudi di masa sekarang ini; hal tidak serta-merta karena kepintaran mereka, karena duit yang mereka miliki, karena ketabahan mereka membangun sistem; tidak semata karena itu. Tetapi secara jadwal sejarah, memang Yahudi telah ditetapkan masa-masa keemasannya (baca Surat Al Israa’: 4-6). Coba perhatikan, sejak era Fir’aun sampai hari ini, kaum Yahudi terlunta-lunta dalam kepedihan, keperihan, dan tertindas luar biasa. Mereka tidak bisa keluar dari semua itu, sampai Allah mengeluarkan mereka, dan memberikan kemenangan demi kemenangan.

Jadwal sejarah ini merupakan Sunnatullah. Kita tidak akan bisa melawan Sunnatullah, membelokkan, atau membuat detail jadwal berbeda; sekalipun otak kita sangat pintar, tubuh kita sangat kuat, uang di tangan sangat besar, serta strategi kita sangat canggih. Ya, bagaimana cara mengalahkan Sunnatullah?

Kita harus meyakini, bahwa Yahudi tidak bisa mendatangkan kemenangan, sekalipun mereka sangat menginginkan hal itu; sebagaimana mereka tidak akan bisa menolak kemenangan, sekalipun mereka tidak bekerja untuk itu. Ini adalah menyangkut jadwal sejarah yang mesti berlaku di muka bumi ini.

Dalam Al Qur’an disebutkan: “Wa tilkal aiyamu nudawiluha bainan naasi wa li ya’lamallahu alladzina amanu wa yattakhida minkum syuhada’” (itu adalah masa -kejayaan dan kekalahan- yang Kami pergilirkan di antara manusia, agar Allah mengetahui siapa yang beriman dan Dia menjadikan di antara kalian para syuhada). [Ali Imran: 140].

Bisa dikatakan…saat ini adalah eranya kejayaan Yahudi dengan segala kekuatan dan anak buah yang mereka miliki. Hal demikian sudah menjadi jadwal sejarah yang Allah tetapkan. Kita tidak bisa melawan Sunnatullah ini. Andaikan kaum Yahudi isinya hanya orang-orang bodoh yang lumpuh dan buta; mereka tetap akan menguasai dunia, dengan izin Allah. Meskipun kaum lain memiliki sekian banyak keunggulan, tetap saja tidak akan bisa mengubah jadwal yang telah ditetapkan.

Lalu setelah ini semua, apa yang mesti kita lakukan?

[a]. Dijelaskan hal ini bukan agar kita lemes, lunglai, atau mati semangat. Bukan sama sekali. Tapi biar kita mengerti tentang jadwal sejarah itu; dan lebih berendah hati kepada Allah Ta’ala yang Maha Kuasa menetapkan apa saja di tengah-tengah kehidupan manusia. Intinya, agar kita semakin mengagungkan Allah dan memuliakan-Nya.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Katakanlah: Ya Allah yang memiliki kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau izzah-kan (muliakan) siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di Tangan-Mu segala kebajikan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Ali Imran: 26].

Lihatlah bagaimana kisah sejarah bangsa Mongol! Pada mulanya mereka tidak dikenal. Lalu di zaman Jengis Khan, mereka merajalela luar biasa; sehingga karena begitu takutnya akan serbuan Mongol, bangsa China mendirikan Tembok Besar hingga ribuan kilometer, dengan korban jiwa manusia puluhan ribu jiwa. Dahsyatnya kezhaliman Mongol sampai meruntuhkan ibukota Khilafah Abbassiyah di Baghdad. Kemudian sejarah Mongol perlahan tenggelam, terus merosot, hingga seolah padam. Kini manusia-manusia Mongol seperti tidak memiliki sejarah apapun. Negara pun seolah sirna. Namun nanti di akhir zaman, Mongol akan kembali merajalela; memuntahkan segala kedurhakaan, angkara murka, dan kekufuran hatinya. Abdurrahman Nashir As Sa’di rahimahullah menyebut Mongol inilah hakikat Ya’juj dan Ma’juj itu; dan saya setuju dengan pendapat beliau.

Lihatlah bangsa Mongol ini! Siapa yang mengingkari kekuatan, kehebatan, dan keberingasannya? Tetapi, bumi ini milik Allah Ta’ala; bukan Mongol yang berhak mengatur-atur kehidupan di muka bumi. Bila waktunya Mongol muncul, ia pasti akan muncul; sebagaimana jika mereka harus surut, pasti akan surut meskipun mati-matian mereka hendak berperan.

[b]. Meskipun kini giliran jadwal sejarah bagi Yahudi, bukan berarti kita akan diam, pasrah, dan menyerah. Tidak begitu. Kita harus berjuang untuk memberikan sepahit-pahit perlawanan kepada mereka. Bolehlah kini giliran Yahudi, tetapi kita tak akan membiarkan mereka memetik hasil dengan cara yang mudah.

[c]. Hal paling mendasar dalam kehidupan setiap Muslim adalah sikap ISTIQAMAH. Kita harus terus istiqamah dan istiqamah dalam menetapi kehidupan ini. Tentu kita tidak suci dari salah, kekurangan, dan dosa-dosa. Tetapi hendaknya kita selalu menjaga pokok-pokok ajaran Islam, sekuat tenaga. Hal itulah yang akan menyelamatkan kehidupan ini, sekaligus eksistensi Islam; dengan izin dan pertolongan Allah. Andaikan di tangan kita sudah tidak ada lagi benteng perlindungan, selain selembar kertas yang kumal; maka itu pun harus dipakai untuk menjaga Syariat Nabi Saw, sampai titik darah penghabisan.

[d]. Yakinlah akan kemuliaan kaum Mukminin. Ini sudah menjadi jaminan Allah Ta’ala. Dalam akhir Surat As Shaaf terdapat sebuah rahasia besar: “Wahai orang-orang beriman, jadilah kalian penolong-penolong agama Allah, sebagaimana Isa bin Maryam berkata kepada kaum Hawariyun, ‘Siapakah yang akan menolongku karena Allah?’ Maka Hawariyun berkata, ‘Kamilah penolong-penolong agama Allah.’ Maka berimanlah sebagian kaum Bani Israil (atas ajakan itu), dan kafirlah sebagian yang lain. Maka Kami akan berikan pertolongan kepada orang-orang beriman atas musuh-musuh mereka, lalu mereka akan mendapatkan kemenangan.” (As Shaff: 14).

Ayat ini sangat unik. Mulanya ia merupakan seruan untuk orang-orang beriman, agar menolong agama Allah. Lalu seruan itu berpindah ke dialog antara Isa Al Masih dengan para Shahabatnya, kaum Hawariyun. Dalam dialog itu Hawariyun menegaskan, bahwa mereka bulat tekad untuk membela agama Allah. Di kalangan Bani Israil ada yang membela Isa dan ada yang mengingkarinya. Lalu ayat ini ditutup dengan janji Allah, bahwa orang-orang beriman tak akan bisa dikalahkan musuh-musuhnya.

Masuk ke dalam ayat ini pertalian 3 kelompok: Orang Mukmin dari kalangan Muslimin, Isa Al Masih dan Hawariyun, dan Bani Israil. Selain itu, ayat ini membelah tiga zaman sekaligus: Zaman Bani Israil di masa lalu, zaman Isa Al Masih di masa lalu, dan zaman masa depan. Padahal kita tahu, kaum Zionis Israil (dan Syiah Rafidhah) selalu menanti-nanti kedatangan dajjal laknatullah ‘alaih; sementara pemusnah Dajjal itu nanti ialah Isa bin Maryam (dengan izin Allah). Artinya, ayat ini memiliki relevansi kuat dengan kondisi kaum Muslimin saat ini yang sangat terpuruk ini.

Dalam ayat tersebut, ada jaminan bahwa orang-orang beriman tak akan kalah oleh musuh-musuhnya (Yahudi). Kalaupun terjadi kekalahan, karena jumlah kaum beriman terlalu sedikit, dibandingkan jumlah Muslim yang awam. Sedikitnya jumlah Mukmin inilah yang membuat Yahudi seolah hebat; padahal sejatinya tidak demikian. Hingga Ibnu Katsir rahimahullah menyebut mereka sebagai Ashabul Qiradah Wal Khanazir (bangsa monyet dan babi).

Kalau kita ingin EKSISTENSI kuat saat berhadapan dengan Yahudi, syaratnya: (1). Kita harus menjadi insan yang Mukmin sejati; (2). Kita harus menjadi penolong-penolong agama Allah; (3). Dan kita harus merindukan datangnya Isa Al Masih putra Maryam ‘alaihissalam yang akan memimpin Ummat Islam melenyapkan dominasi kaum Yahudi (Zionis).

[e]. Maka kini, terus galakkan pengajaran Al Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman; galakkan amal-amal shalih secara pribadi, kelompok, dan kolektif; galakkan amar makruf nahi munkar sekuat kesanggupan; galakkan segala upaya membela dan menolong kaum Muslimin. Selagi kita masih bisa menolong Ummat, lakukan dan lakukan.

[f]. Era Islam di masa nanti adalah JIHAD membela Tauhid dari segala agressi kaum kufar dan paganis, dimana kaum Muslimin akan berlindung di balik bendera Jihad Isa Al Masih. Maka segala hal yang bermanfaat untuk menyambut datangnya Jihad Akbar itu, mesti telah kita cicil dari sekarang. Apa saja yang bermanfaat, dibutuhkan, dan relevan; persiapkan. Jangan malu kalau Anda mulai belajar menyerut bambu dan mengenali serat-serat kayu; karena semua itu kelak kita butuhkan. Jangan malu pula untuk belajar mengelus-elus leher kuda, karena kelak anak-cucu kita akan setiap hari mengelus-elus leher kuda dan memberinya makanan rumput.

Sungguh, kita sangat merindukan bangkitnya sebuah negara yang Islami; karena negara seperti itulah yang akan mampu melindungi jiwa-raga dan kehidupan kaum Muslimin secara komprehensif. Tetapi bila kemenangan politik, atau kedaulatan Islam itu belum terbentuk di masa-masa seperti ini; JANGANLAH ANDA KECEWA. Bukan karena amal-amal dan perjuangan kita sia-sia, tetapi memang saat kini adalah jadwal sejarah bagi orang-orang kufar untuk mendominasi kehidupan. Sekali lagi jangan kecewa; teruslah berjuang dan berjuang semampunya. Seperti disebut dalam ayat: “Fa’bud rabbaka hatta ya’tiyaka al yaqin” (maka sembahlah Rabb-mu -termasuk dengan perjuangan-, sampai datang kepadamu kematian).

Pilihan yang tepat bagi kaum Muslimin saat ini ialah: Menjaga aset-aset kehidupan yang ada, menjadi oposisi paling liat bagi Yahudi, dan mempersiapkan diri untuk benturan besar di masa nanti. Kalau kita memilih langkah menjadi kompetitor Yahudi, sungguh besar energi dan pengorbanan yang diminta, tetapi hasilnya tetap saja Yahudi yang unggul (karena jadwal sejarah mereka sedang unggul).

Demikian tulisan sederhana yang bisa disampaikan. Mohon maaf atas segala salah dan kekurangan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Rumitnya Perselisihan Seputar Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal

Juli 19, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan memuji kebesaran Allah Rabbul Jalil, memohon petunjuk, pengertian, hikmah, serta rahmat-Nya; kami memuji dan membesarkan-Nya, serta mengharapkan ‘inayah dan maghfirah-Nya; shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada As Sayyidul Anbiya’i Wal Mursalin, Muhammad ibnu Abdillah, beserta keluarga dan para shahabatnya.

Di antara masalah-masalah Islam yang kami kenal dan ketahui, maka ikhtilaf dalam penentuan awal Ramadhan, awal Syawal, dan awal Dzul Hijjah (bulan Haji) adalah ikhtilaf yang paling rumit. Biasanya, ikhtilaf itu terjadi atas suatu persoalan, lalu di dalamnya ada beberapa corak pendapat, ada yang begini dan begitu; tetapi dalam ikhtilaf seputar penentuan awal Ramadhan dan Syawal (terutama), unsur-unsur yang terlibat di dalamnya muncul dari berbagai sisi (nanti akan dijelaskan).

Ada sebagian orang berkata: “Kita ini sangat mengherankan. Kita sama-sama berpegang kepada metode rukyat. Mataharinya ya itu, bulannya ya itu. Tetapi kita selalu berselisih paham. Bukanlah kita diperintahkan untuk bersatu padu. Nabi mengatakan, hendaklah kalian berjamaah, karena jamaah itu rahmat, dan janganlah kalian berpecah belah karena perpecahan itu adzab. Bagaimana kita kok bisa selalu berselisih begini?”

Jika ada orang yang berkata demikian, pertanda dia baru mencium ilmu agama. Atau dia sedang berlagak mencari perhatian, dengan mengesankan dirinya sebagai orang yang “paling berakhlak” dibandingkan lainnya. Wahai saudaraku, dalam masalah posisi telunjuk kita saat Tasyahud dalam shalat saja, disana ada beberapa model perbedaan; apalagi dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal yang elemen-elemen pembeda yang bisa membuat perbedaan itu, banyak jumlahnya.

Dalil paling dasar yang digunakan oleh kaum Muslimin untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan, adalah hadits Nabi Saw sebagai berikut:

Shumuu li ru’yatihi wa afthiruu li ru’yatihi, fa in gham-ma ‘alaikum fa akmilul ‘iddata tsalatsina

[mulailah kalian berpuasa dengan melihatnya (bulan sabit), dan berbukalah mengakhiri puasa dengan melihatnya; jika hilal itu terhalang atas kalian, maka genapkanlah bilangan bulan sebelumnya menjadi 30 hari].

(HR. Nasa’i, At Tirmidzi, Ahmad, Al Hakim, Ad Daruquthni, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Abu Ya’la, dari Ibnu Abbas Ra. Sedangkan hadits senada bersumber dari riwayat Abu Hurairah, disebutkan oleh Imam Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, At Thabarani, Ibnu Hibban, At Thayalisi, At Thahawi, Al Baghawi. Keterangan ini merujuk tulisan Ustadz Abduh Zulfidar Akaha berjudul: Perintah Mengawali dan Mengakhiri Ramadhan Karena Melihat Bulan di Multiply).

Dasarnya sama, yaitu hadits di atas, tetapi penafsirannya bisa berbeda-beda. Mari kita lihat pada pandangan lapangan dari para ahli di ormas-ormas Islam…

[1]. Dari ahli falakiyah Nahdhatul Ulama. Dalam setiap Sidang Itsbat, mereka selalu bersuara keras dalam menetapi metode Rukyatul Hilal dengan kaidah Imkanur Rukyah (posibilitas melihat hilal). Kalau hilal belum memungkinkan dilihat, berarti tidak ada hilal, meskipun secara hisab hilal sudah dianggap ada. Mereka beralasan dengan kalimat dalam hadits di atas, “Fa in ghamma ‘alaikum” (jika hilal itu terhalang atas kalian oleh awan). Jadi, meskipun hilal itu sudah ada, sudah bisa dilihat, tetapi jika terhalang mata kita untuk melihatnya karena berbagai faktor (misalnya tertutup awan), ya bilangan bulan digenapkan jadi 30 hari. Artinya -menurut kalangan NU- adanya hilal itu bukan penentu, melainkan posibilitas dilihatnya hilal-lah yang jadi patokan.

[2]. Dari kalangan Muhammadiyah paling sering (dan konsisten) dengan metode hisab. Tetapi metode ini sendiri tetap mengacu kepada penampakan hilal, sebagaimana acuan umum kalender Hijriyah. Artinya, mereka tetap berpendapat berdasarkan ada tidaknya hilal. Hal itu dianggap tetap selaras dengan hadits Nabi Saw di atas. Dalam hal ini, mereka memulai dan mengakhiri Ramadhan tetap mengacu pada hilal. Hanya saja, bentuknya berupa wujudul hilal (atau eksistensi hilal). Jika hilal sudah eksis, meskipun hanya 0,5 derajat di atas ufuk, ya hal itu sudah dianggap masuk bulan baru (padahal menurut para ahli astronomi nasional dan internasional, hilal pada posisi 4 atau 5 derajat di atas ufuk pun, masih sulit dilihat). Dalam pandangan ini, di masa Nabi Saw sarana-prasarana teknologi masih sederhana, sehingga metodenya dengan Rukyatul Hilal murni. Sebagai catatan, di masa Nabi belum ada sistem kalender. Jika kemudian ada sarana teknologi yang lebih akurat (sistem perhitungan astronomi), mengapa tidak digunakan?

Toh, pada dasarnya Islam mengakui adanya metode hisab. “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Surat Yunus: 5].

[3]. Pandangan yang dianut Departemen Agama RI, yaitu menerapkan dua metode sekaligus, Hisabiyah dan Ru’yatul Hilal. Perhitungan hisab sangat dibutuhkan untuk memastikan bulan Sya’ban sudah berusia 29 hari, sehingga di masa itu ada potensi peralihan ke bulan berikutnya; nah, saat peralihan itulah momen paling tepat untuk melakukan Ru’yatul Hilal. Tanpa hasil hisab, sangat sulit menentukan kapan kita akan melakukan Ru’yatul Hilal. Sementara upaya ru’yah sendiri untuk memastikan apakah sudah masuk bulan Ramadhan/Syawal, atau bulan sebelumnya perlu digenapkan?

Dari sini saja sudah bisa dilihat kerumitan perselisihan ini. Apalagi dalam praktiknya, upaya Rukyatul Hilal melibatkan observasi terhadap elemen-elemen alam yang berbeda-beda. Kadang bulan ada di sisi kanan atau kiri matahari; kadang sudut antara bulan dan matahari berbeda-beda; kadang usia hilal berbeda-beda; kadang ketinggian hilal di atas ufuk berbeda, dan seterusnya. (Jadi sangat simplisit kalau ada yang mengatakan: “Mataharinya satu, bulannya satu, mata kita yang melihat; tetapi kenapa ya kok berbeda-beda hasil penglihatannya? Siapa yang salah? Mata kita atau benda-benda langit yang ada disana?”).

Baca entri selengkapnya »


Kapan Kita Mulai Puasa Ramadhan 1433 H…

Juli 19, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, amma ba’du.

[1]. Seperti kita ketahui, ormas Muhammadiyah sejak awal sudah memutuskan, bahwa awal Ramadhan 1433 H adalah hari Jum’at, 20 Juli 2012, berdasarkan perhitungan hisab wujudul hilal. Hal ini kemudian didukung oleh Ru’yatul Hilal di kawasan Cakung Jakarta Timur yang mengaku telah melihat hilal pada petang hari, 19 Juli 2012, sekitar pukul 17.50 menit (maaf kalau penyebutan jamnya tidak tepat). Front Pembela Islam (FPI) mendukung keputusan awal Ramadhan pada 20 Juli 2012, sehingga pada malam ini (Kamis, 19 Juli 2012) mereka sudah mulai Tarawih. Selain FPI, keputusan ini juga didukung oleh ormas An Najat.

[2]. Dalam sidang Itsbat Departemen Agama RI, 19 Juli 2012, sejak sekitar pukul 19.00 WIB; mayoritas suara peserta sidang menetapkan awal Ramadhan pada hari Sabtu, 21 Juli 2012. Mereka adalah: ormas Islam yang berpedoman pada hisab imkanur ru’yah, hasil ru’yat dari Tim Depag RI, para ahli falakiyah dan ru’yah ormas Islam (seperti NU), para ahli astronomi, dll. Mereka semua sepakat awal puasa Ramadhan dimulai pada 21 Juli 2012. Mayoritas ormas Islam mendukung keputusan ini.

Rumitnya Melihat Hilal: Seperti Mencari Sehelai Uban di Atas Tumpukan Pasir.

Pihak yang menetapkan awal puasa pada 21 Juli 2012 memiliki sandaran: “Posisi hilal pada petang hari 19 Juli 2012 tidak memungkinkan untuk melihat hilal dengan mata telanjang. Posisi hilal masih di bawah 2 derajat, padahal idealnya posisi hilal sekitar 4-5 derajat. Hal itu didukung oleh kesaksian banyak pengamaat dan ahli astronomi yang tidak melihat hilal pada petang hari 19 Juli 2012.”

Pihak yang menetapkan awal puasa pada 20 Juli 2012 memiliki sandaran: “Menurut hitungan kami, hilal sudah ada pada malam Jum’at, 19 Juli 2012, berarti esok harinya kita sudah puasa Ramadhan. Kalau Rasulullah Saw menyuruh menetapkan awal puasa dengan ru’yat hilal, bukan berarti harus diputuskan dengan melihat bulan semata. Bisa saja, di masa itu teknologi memang masih sederhana, sehingga cara penentuan awal bulan juga sederhana. Tapi sekarang sudah ada kemudahan teknologi, ya manfaatkan sarana yang ada. Kalau hilal dapat diperkirakan secara pasti, ya kita manfaatkan teknologi hisab  itu. Asalkan patokannya, tetap mengacu ke hilal. Jika sudah ada hilal, meskipun belum bisa dilihat, itu sudah menandakan tiba bulan baru.”

KESIMPULAN:

(a). Bagi setiap Muslim yang mau memulai puasa pada 20 Juli 2012, seperti Muhammadiyah, FPI, Pesantren Husainiyyah Cakung, ormas An Najat; hal itu sah, karena mereka ada yang mengaku telah melihat hilal dan sudah disumpah. Adapun hitungan hisab ormas Muhammadiyah dianggap telah dikonfirmasi oleh penglihatan ru’yat di Cakung.

(b). Bagi setiap Muslim yang mau memulai puasa pada 21 Juli 2012, seperti yang disampaikan dalam sidang itsbat Depag RI dan didukung mayoritas ormas Islam; hal itu sah, karena mereka mewakili jumlah MAYORITAS kaum Muslimin di Indonesia; sehingga jika mengikuti keputusan itu dengan alasan demi menjaga persatuan Ummat adalah benar.

Singkat kata, bagi yang mengacu kepada hasil ru’yat dari Cakung, silakan. Itu ada dasarnya. Ia juga didukung perhitungan hisab Muhammadiyah. Bagi yang mengacu pada keputusan mayoritas ormas Islam, seperti yang disebutkan dalam Sidang Itsbat Depag RI, 19 Juli 2012, juga benar. Menurut Dewan Dakwah Islam, keputusan Depag RI dianggap sebagai keputusan Ahlul Balad (pengelola negara) yang mesti diikuti; Wahdah Islamiyyah mendukung keputusan Depag RI sebagai bentuk menjaga persatuan kaum Muslimin. Malah ekstrimnya, kalau nanti Depag RI memakai metode hisab murni, Wahdah akan mendukung juga. (Catatan: Ya jangan hisab murni lah, kan kaidah Sunnah-nya, dengan melihat hilal. Kalau keputusan tak sesuai Sunnah, ya tak perlu ditaati).

Silakan ikuti mana yang lebih tentram di hati Anda. Boleh mulai 1 Ramadhan pada Jum’at, 20 Juli 2012; boleh juga bagi yang memulai 1 Ramadhan pada 21 Juli 2012. Kedua-duanya benar, dan memiliki dalil kuat. Sikap lapang dada dalam perbedaan, sadar dalam memilih, dan tidak merendahkan Muslim yang lain; hal itulah akhlaq Islami yang mesti dijaga.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.


Marhaban Ya Ramadhan Karim…

Juli 17, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Marhaban ya Ramadhan, marhaban ya Syahral Mubarak wa Syahras Shiyam

Alhamdulillah, akhirnya yang dinanti-nanti sudah di depan mata. Bulan Ramadhan insya Allah kembali mewarnai hidup kita. Ibarat sebuah penantian, kita sudah begitu lama menantikan bulan ini. Inilah bulan suci, bulan rahmat, bulan ibadah, bulan taubat, bulan perbaikan diri, dan bulan dimana Allah Azza Wa Jalla melimpahkan sangat banyak nikmat-Nya kepada kita semua.

Ramadhan memiliki banyak makna dalam hidup kaum Muslimin…

TRADISI IBADAH. Sebagian besar kaum Muslimin menyambut Ramadhan dalam pengertian ini. Ramadhan adalah bulan ibadah yang khas, sebulan penuh puasa, diwarnai aneka rupa dinamika hidup yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Ada tradisi Imsak, tradisi Shalat Subuh, tradisi menanti bedug Maghrib, tradisi Tarawih, dan sebagainya. Seringkali, sifat tradisi itu lebih mendominasi kesadaran Ummat saat berinteraksi dengan Ramadhan.

SEPERTI PENJARA. Bagi orang-orang yang lemah iman dan bergumul dengan maksiyat, Ramadhan dianggap “siksaaan berat”. Di bulan ini biasanya mereka tidak puasa, tidak menjalankan ibadah seperti yang lainnya. Mereka begitu berat dengan datangnya bulan suci ini, ingin rasanya jika bulan ini cepat berlalu; sebab selama ia masih ada, pintu-pintu kebebasan hawa nafsu yang mereka ingini tidak tercapai. Inilah tipe manusia yang dijauhkan dari rahmat Allah. Nas’alullah al ‘afiyah.

BULAN PENCITRAAN. Bagi orang-orang tertentu, terutama elit politik, Ramadhan menjadi momen istimewa untuk menunjukkan diri sebagai komunitas yang Islami. Soal setiap hari setiap waktu mereka menghujat agama, melecehkan, mendukung sekularisme, bergelimang politik kotor, dan korupsi; itu urusan lain. Pokoknya, selama Ramadhan tiba, semuanya mendadak menjadi “shalih dan santri”. Masyarakat awam sering terperdaya oleh gaya “srigala berbulu domba” ini.

Baca entri selengkapnya »


Kualitas Seks Manusia Zaman Modern…

Juli 16, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Biasanya di masa-masa menjelang Ramadhan, ormas-ormas Islam mulai sibuk dengan penentuan awal Ramadhan. Sidang Itsbat Departemen Agama, tentu yang dinanti-nanti. Meskipun ada juga yang sudah menerapkan tradisi “mencuri start” sebelum yang lain…he he he. Tahulah, siapa dia.

Tapi selain soal awal Ramadhan, ormas Islam biasanya juga mulai sibuk ingin menertibkan tempat-tempat maksiyat. Ya semacam night club, diskotik, bar, hotel dipakai prostitusi, kafe remang-remang, tempat mesum berkedok SPA, dll. Ini bukan pekerjaan kecil dan ringan, karena memang tempat-tempat mesum itu rata-rata dijaga oleh oknum aparat polisi, TNI, dan birokrasi. Banyak orang ternyata sama-sama menggantungkan “periuk nasi” di tempat hiburan seperti itu. Disini kerap ada potensi bentrok.

Para backing aparat di balik industri mesum itu, mereka bisa beralasan: “Enak saja mau sweeping tempat-tempat bisnis ini. Kami tolak 100 persen! Hidup kami ada di atas bisnis beginian, tahu! Kami kasih makan anak-isteri, kami bayar uang sekolah, kami bayar uang listrik, beli pulsa telepon, beli bensin, bayar pajak, dll. dari sini tahu. Lo berani ganggu tempat bisnis ini, berarti lo nantang maut ya?” Sedang ormas-ormas Islam juga punya alasan, yaitu alasan MORAL, SPIRITUAL, dan KESUCIAN bulan Ramadhan.

Oke…kita coba mulai masuk ke tema pembahasan tulisan ini…

Godaan seks begitu menggiurkan… Tetapi itu hanya dalam pencitraan-nya. Dalam realitas, indahnya seks tidak bisa lepas dari MORAL.

Ada sebuah pertanyaan: “Mengapa dalam 10 tahun terakhir, bisnis mesum atau bisnis esek-esek, begitu laris dan banyak penggemar?” Karena larisnya, maka ketika tiba bulan Ramadhan pun, bisnis itu tidak mau diganggu. Jika ada ancaman gangguan dari ormas-ormas Islam, para pembela bisnis mesum itu bersatu-padu membela slogan: memasyarakatkan kemesuman dan memesumkan masyarakat! Masya Allah.

Ya, semua ini tidak lepas dari “logika ekonomi”…ada demand ada supply. Dimana ada permintaan, pasti disana ada penawaran. Ada banyak laki-laki mesum butuh nikmat seks ilegal, maka bisnis mesum akan menjamur. Sebaliknya, kalau kaum laki-lakinya moralis, kuat dalam memegang prinsip keluarga; bisnis begituan tidak akan laku.

Nah, disini kita saksikan adanya fenomena seks manusia modern… Seks yang dimaksud bukanlah seperti dalam koridor aturan agama, dalam batasan norma sosial atau etika; tetapi seks dengan rasa sangat berbeda. Ada yang menyebutnya seks ilegal (karena tidak sesuai aturan agama); atau seks amoral (karena memang sangat melanggar batas-batas moral); atau seks komersial (karena berkaitan dengan hukum jual-beli); atau seks transaksional (sebatas ruang lingkup transaksi bisnis); atau seks industri (karena dijalankan penuh dengan pendekatan industrialis).

Ciri-ciri dari seks manusia modern (maksudnya seks yang tidak legal di atas) antara lain:

[a]. Instan. Seks semacam itu hanya bersifat instan, serba terburu-buru; semata demi memenuhi syahwat pihak laki-laki saja, tanpa memberi hak-hak bagi pihak wanita. Kalau si laki-laki sudah puas, tiada hak seksual bagi lawannya.

[b]. Ilegal. Jelas seks demikian tidak sesuai aturan agama (Islam), tidak sesuai aturan negara, juga norma sosial. Siapapun yang melakukannya, akan selalu dihantui rasa takut, khawatir, dan gelisah.

[c]. Transaksional. Selain bertujuan semata memuaskan pihak laki-laki (itu pun kalau puas); seks ini hanya bernilai jual-beli. Ada yang beli, ada yang menjual. Sangat sulit berharap ada kesenangan disini, karena memang sifatnya komersial sesaat. Bayangkan, urusan seksual jadi seperti urusan membeli kerupuk, gorengan, atau kue di pinggir jalan.

[d]. Permukaan. Seks demikian kelihatan heboh, excited, wonderful, amazing… Tapi itu di permukaan saja kelihatan seperti itu. Dalam realitas sebenarnya ia jauh dari kepuasan atau kesenangan. Hampir seluruh upaya seks yang bergaya beginian, hanya heboh di pencitraan; tetapi secara makna kesenangan, hambar dan terlalu tergesa.

[e]. Beresiko tinggi. Jelas, seks demikian beresiko tinggi. Beresiko kehamilan di luar nikah, beresiko tidak ada yang bertanggung-jawab atau dicampakkan; beresiko aborsi; beresiko citra sosial jatuh atau hancur; beresiko terkena penyakit kelamin dan HIV; beresiko jatuh dalam pusaran narkoba dan bunuh diri. Belum lagi jika keluarga hancur, studi hancur, profesi hancur, jabatan hancur, dll. Nas’alullah al ‘afiyah min kulli dzalik.

[f]. Reduksi. Maksudnya, secara nikmat seksual, hanya sedikit kebaikan yang bisa diperoleh. Dalam kondisi demikian, tujuan puncak seorang laki-laki, hanya sebatas mengeluarkan -maaf beribu maaf sperma semata; begitu juga bagi pihak wanitanya, asalkan sudah ada penetrasi, sudah dianggap “sempurna”. Padahal dalam situasi hubungan suami-isteri yang normal dan wajar; nilai kesenangan yang bisa dicapai sangat besar. Dalam konteks seks instan, paling nilai kesenangan yang dicapai maksimal 10 % saja.

Mungkin pertanyaannya, “Bagaimana kalau yang melakukan seks ilegal itu orang-orang yang sudah berpengalaman berumah-tangga? Bisa jadi nikmatnya jauh lebih besar?” Mungkin saja begitu, tetapi resikonya sangat besar. Disana ada resiko kehancuran keluarga, resiko kehancuran profesi, hancurnya nama baik sosial, hancurnya jabatan…semua itu jauh lebih menyakitkan. Tidak sedikit lho, orang-orang tua dihukum anak-anak dan isterinya karena sekali saja melakukan selingkuh (seks ilegal). Mereka harus menatap hari tua dalam hukuman sangat menyakitkan. Ini hanya soal waktu saja…

[g]. Depressi. Ia adalah akibat umum di balik perilaku seks ilegal itu. Tidak ada yang membahagiakan dari seks ilegal. Paling kesan heboh, kesan wah, kesan meriah…ya kesan begitu ada; tetapi pada hakikinya setiap jiwa yang masuk dalam pusaran seks ilegal ini, mereka menderita. Itu saja!

[h]. Verbalitas. Dampak lanjutan, meskipun hal ini jarang disinggung, yaitu sejenis kualitas seks verbalitas. Apa tuh maksudnya? Maksudnya, sebagian orang yang tidak bahagia secara seksual itu sering kali ngomong jorok; becandanya jorok melulu; kalau bicara tidak jauh dari organ-organ genital dan aktivitasnya… Orang demikian, sejatinya tersiksa secara seksual; karenanya omongan jorok menjadi sasaran. “Gue gak bahagia nih. Gue gak pernah puas. Maka sasaran gue ialah ngomong jorok selama-lamanya…,” begitulah logika berpikir orang-orang itu.

Sebuah saran praktis ingin disampaikan, terutama kepada pemuda atau remaja Muslim, yang sehari-hari menghadapi kepungan godaan zina dari berbagai penjuru… Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lahum jami’an.

Saudaraku…bila suatu ketika timbul dorongan syahwat luar biasa dalam dirimu, sehingga dengan dorongan itu tiba-tiba engkau ada niatan untuk memperkosa wanita di dekatmu, atau ingin berzina dengan pacarmu, atau ingin berzina dengan mencari pelacur… maka aku berikan nasehat sederhana kepadamu: “Dalam kondisi seperti itu, segeralah kamu masuk kamar mandi, lalu keluarkan sperma-mu disana. Jika sperma itu telah keluar, maka dorongan ingin memperkosa atau berzina itu seketika habis.” Dorongan itu ada selagi sperma masih ada di tempatnya; tetapi kalau sudah dikeluarkan, meskipun secara paksa; hal itu akan menghindarkan kamu dari bahaya zina, sodomi, memerkosa, dan sejenisnya.

Onani bukanlah perbuatan halal. Ia termasuk perbuatan haram. Tetapi haramnya jauh lebih kecil daripada perbuatan zina, prostitusi, sodomi, dll. Disini ada rahasia bagi mereka yang terjerumus ke dalam zina, sodomi, pelacuran…yaitu ketika muncul dorongan syahwat menggebu-gebu, ia disalurkan di tempat yang haram (bukan dengan isteri yang sah). Padahal jika dorongan syahwat (sperma) dalam diri itu sudah dikeluarkan, ia akan memadamkan niat berbuat jahat itu.

Tetapi jangan juga membiasakan melakukan onani, sebab hal itu bisa melemahkan tubuh, akal, dan ghirah seksualmu. Onani itu hanya sebagai “pintu sarurat” saja, ketika ada ajakan berbuat zina, sodomi, melacur di depan mata. Lebih utama, selamat, dan sangat ideal, jika kalian bersegera menikah. Menikah usia 20 tahun atau baru lulus SMA, tidak masalah. Pacaran setelah menikah jauh lebih indah, daripada pacaran sebelum menikah. You know, man?

Maling-maling moral, pembegal-pembegal kesucian, serta perompak-perompak susila…mereka selalu mengiming-imingi dirimu dengan indahnya zina, indahnya prostitusi, dan segarnya tubuh wanita-wanita nakal. Tetapi semua itu hanya tipuan pencitraan semata. Orang-orang yang memberikan iming-iming itu sendiri, mereka TIDAK MENIKMATI indahnya nikmat seks sama sekali. Mereka itu “sakit”, mereka berusaha mencari kawan untuk diberi “penyakit” yang sama.

Baiklah, di bagian akhir tulisan ini, aku sebutkan sebuah firman Allah: “Wa tilka hududullahi, wa man yatta’adda hududallahi fa qad zhalama nafsah” (itulah batas-batas aturan Allah, maka siapa yang melanggar batas-batas Allah, sesungguhnya dia telah menganiaya dirinya sendiri). At Thalaaq, ayat 2.

Semoga bermanfaat ya untuk menghindarkan diri, keluarga, dan Ummat dari bahaya perbuatan keji (zina, sodomi, prostitusi, dll). Amin Allahumma amin.

Admin.


Apresiasi Karya Kreatif Anak Bangsa…

Juli 15, 2012

Ini adalah sebuah contoh karya kreatif anak bangsa. Temanya, video seputar Pilkada DKI Jakarta, tetapi diambil dari film “Downfall” tentang Hitler. Percakapan dalam film berbahasa Jerman, diberi subtitle bahasa Indonesia asal-asalan, tetapi cukup menggelitik. Subtitle-nya terasa begitu pas dengan adegan dalam film. Cuplikan film ini pertama saya lihat di Facebook, lalu didapati di Youtube.

Tapi…pemuatan ini tak ada niatan politiknya ya. Ini murni buat selingan dan kreativitas saja, karena kami (pengelola blog) secara politik termasuk apatis dengan Pilkada DKI Jakarta dan semisalnya. Baik Jokowi, Foke, atau siapapun di antara kandidat Gubernur DKI, jika tidak mau memperbaiki ruhani rakyat Jakarta, sulit berharap akan terjadi perubahan. Rasulullah Saw memperbaiki kejahiliyahan masyarakat Arab ketika itu, dengan memperbaiki ruhani mereka. Mestinya, momen Pemilu, Pilpres, Pilkada, dll. dimanfaatkan untuk memperbaiki jiwa rakyat, bukan malah membutakan mata-hati mereka.

Sisi kelebihan video yang diunggah oleh Sam Imot ini, antara lain:

[=]. Ia begitu cepat diunggah, pasca kemenangan versi Quick Count, pasangan Jokowi-Ahok. Berarti proses kreatifnya begitu cepat.

[=]. Pemberian subtitle-nya begitu pas dengan potongan-potongan adegan dalam cuplikan film itu. Dialog-dialognya begitu hidup dan relevan dengan action para pemain dalam film. Pas betul…

[=]. Isi dialog itu lucu dan mengesankan kritik sosial yang sangat mengena. Video ini seperti sebuah kritik sosial, tetapi ditumpangkan di atas karya “lipsync” politik.

[=]. Dalam dialog-dialog itu, terlepas apakah datanya valid atau tidak, ada semangat kejujuran yang ingin disampaikan. Ya hidup ini jujur saja…tidak usah banyak berkelit macam-macam. Kebohongan-kebohongan itu kerap kali menipu banyak manusia (awam).

Sekali lagi, pemuatan video ini, tanpa tendensi politik; namun murni untuk selingan, share, dan menggugah semangat kreativitas dalam jalur-jalur tanpa pamrih (non komersial). Semoga berarti dan manfaat ya. Amin.

Berikut link yang bisa dilihat:

Admin.