Bolehkah Memilih Gubernur DKI Jakarta 2012?

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Tanggal 11 Juli 2012, semua institusi negeri dan swasta di Jakarta, akan diliburkan. Kenapa? Ada Pilkada DKI, untuk memilih sosok Gubernur DKI untuk periode 2012-2017. Karena ada Pilkada, maka urusan lain diliburkan. Begitulah.

PILKADAL… Maksud Loe? Pil + Kadal…

Dalam beberapa bulan terakhir, orang-orang Jakarta, termasuk mereka yang tinggal di Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang; yang notabene bukan warga Jakarta; bahkan masyarakat non Jadebotabek yang ada di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua, dan sebagainya juga ikut-ikutan sibuk bicara Pilkada Jakarta. “Maklum sih, Jakarta adalah ibukota negara. Apapun yang terjadi di kota ini, bangsa Indonesia akan merasakan dampaknya,” begitu logika berpikirnya.

Saya masih ingat, beberapa tahun lalu, ketika ibunda seorang kawan meninggal di Jakarta, ketika itu sudah ada promosi sosok Bang Sani (Triwisaksana). Ketika itu sosok ini sudah dipromosikan lewat baliho-baliho besar di pinggir-pinggir jalan. Memang promosinya tidak berbau politik, misalnya Bang Sani dikenalkan sebagai sosok dai, pemuda yang simpatik, tokoh masa depan. Anda tahu, mengapa Bang Sani dipromosikan demikian? Ya, karena tujuan Pilkada DKI. Waktu itu, PKS berniat mengangkat sosok Bang Sani sebagai calon gubernur dari PKS. Tetapi, ketika detik-detik akhir menjelang penetapan calon gubernur dari PKS, tiba-tiba nama Bang Sani lenyap dari peredaran. Dia diganti total oleh sosok Hidayat Nurwahid dan Didik Rachbini.

Saya pernah bertanya ke seorang kawan, pendukung PKS, mengapa sosok Bang Sani tiba-tiba dibuang begitu saja oleh PKS, padahal dia telah dipromosikan sejak sekitar 3 tahunan sebelumnya? Dia menjawab, menurut surve internal PKS, sosok Bang Sani kurang menjual untuk Pilkada DKI 2012; masyarakat Jakarta katanya kurang berminat. Nilai elektabilitasnya rendah. Ya, kalau menurut saya, yang biasanya berpikir idealis, tetap saja PKS mesti konsisten dengan skema politik yang mereka rencanakan sebelumnya. Meskipun gagal tidak apa-apa, asalkan telah memperjuangkan NILAI; sebab hal inilah yang akan menyelamatkan kehidupan, mempertahankan eksistensi Ummat dan agama. Bukan hitung-hitungan politik yang hanya bermotif kekuasaan. Kekuasaan itu, meskipun dapat diraih, tak menjamin lestarinya kebaikan dan kehidupan; tetapi konsisten dengan janji, amanat, dan ikrar yang telah diucapkan, hal itu akan menjadikan Allah ridha; meskipun resikonya kehilangan kekuasaan. (Disini dengan mudah dapat dibaca, sebenarnya apa yang diinginkan oleh PKS lewat Pilkada DKI itu).

Pilkada DKI 2012 menjadi perhatian semua partai-partai besar, baik Demokrat, PDIP, Golkar, PKS, Gerindra, Hanura, dan lainnya. Mereka butuh Pilkada ini, karena menyangkut persiapan Pemilu dan Pilpres 2014 nanti. Kalau suatu partai bisa menguasai DKI Jakarta, maka ia bisa menjadi semacam “pundi-pundi” untuk mendanai Pemilu-Pilpres 2014. Jadi cara berpikirnya, sudah KORUPSI duluan. Mereka akan jadikan potensi keuangan di DKI Jakarta, sebagai sumber-sumber pendanaan pemenangan Pemilu-Pilpres 2014 nanti. Sampai-sampai untuk Jokowi yang masih menjabat Walikota Solo dan Alex Noerdin yang menjabat Gubernur Sumatera Selatan; keduanya dipaksakan untuk iktu Pilkada DKI 2012. Untuk apa keduanya dipaksa-paksa, padahal masih punya jabatan resmi?

Ya, itu karena sudah NGILER dengan besarnya sumber-sumber dana di DKI yang nantinya akan dipakai untuk membiayai Pemilu-Pilpres 2014 nanti. “Haduh, haduh, haduh… Duit, duit, duit… Duit di DKI ini gedhe banget. Aku nafsu banget, nafsu, aku sangat gairah…lebih nafsu daripada ke isteriku sendiri. Lebih nafsu daripada nonton VCD porno. Haduh, haduh, duit, duit…. DKI ini seksi banget. Ini akan bikin kita bisa menguasai Indonesia, dari Sabang sampai Merauke,” begitulah lamunan politisi-politisi aneh itu.

Seorang kawan lain, pendukung PKS, pernah bilang ke saya; seluruh kader-kader PKS di Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok, dilibatkan untuk pemenangan pasangan Hidayat-Didiek. Bahkan kata kawan lain, kader-kader PKS Jawa Barat (provinsi yang dekat DKI) juga dilibatkan. Wuih…gitu-gitu amat. Nafsu banget sih… Ya begitulah manusia, kalau sudah nafsu berkuasa, apapun cara dan  bagaimanapun, akan dilakukan. Tapi cara-cara demikian, bisa menghancurkan keberkahan, bisa melenyapkan kebaikan, bisa membuyarkan benih-benih kebajikan; karena sangat nafsu berkuasa.

Okelah…satu pertanyaan penting seputar Pilkada DKI 2012 ini: Bagaimana sikap seorang Muslim, apa perlu ikut Pilkada DKI atau tidak usah ikut? Kalau ikut mesti bagaimana, kalau tidak ikut apa alasannya?

Disini saya tidak akan langsung menjawab pertanyaan ini to the point; tapi akan saya sebutkan beberapa sikap kaum Muslimin saat berhadapan dengan pertanyaan demikian…

SATU. Kalau merujuk ke fatwa MUI, seperti pernah disampaikan oleh Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub, MA. bahwa golput itu haram (tidak boleh. Kaum Muslimin harus memilih dan menggunakan hak pilihnya, tidak boleh bersikap golput.

DUA. Kalau merujuk pendapat kawan-kawan Jihadis, mereka mengharamkan Pemilu/Pilkada/Pilpres, dengan alasan ia dilakukan melalui mekanisme demokrasi, sedangkan demokrasi haram mutlak menurut mereka, karena berusaha mengambil alih hak Allah dalam penetapan hukum. Dapat dipastikan, kawan-kawan Jihadis akan golput.

TIGA. Kawan-kawan Salafi berada dalam dilema. Satu sisi, mereka harus “taat ulil amri”, tetapi di sisi lain mereka juga mengharamkan Pemilu seperti pandangan Jihadis. Mungkin dalam praktiknya nanti, kawan-kawan Salafi akan datang ke TPS-TPS, tetapi sekedar datang saja, untuk memenuhi panggilan “ulil amri”. Tetapi mereka sendiri tak akan memilih, karena alasan “pemilu haram”. Soal Salafi di Mesir sudah mendirikan partai politik (An Nuur). Itu lain cerita. “Kan di Indonesia, kata ustadz-ustadz, hukum pemilu masih haram. Belum dihalalkan. Jadi kami tawaquf sajalah.” (Tawaquf, ngikut saja, gak banyak coment).

EMPAT. Pandangan moderat kawan-kawan aktivis Islam. Mereka memakai pertimbangan “politik daripada”, atau “politik memilih yang terbaik di antara yang terjelek”. Singkat kata, mereka akan tetapi memilih salah satu dari pasangan: Foke-Nara, Jokowi-Ahok, Hidayat-Didiek, dan Alex-Nono. Dua pasangan lain, dianggap “sonoh ke laut ajah”. Dalam pandangan ini, di antara sekian kandidat yang ada, pasti ada yang terbaik di antara mereka. Naga-naganya, mereka akan memilih Hidayat-Didiek, karena pasangan ini masih ada unsur “bau-bau ustadz” pada sosok Hidayat Nurwahid. Soal Hidayat punya kekurangan sekian-sekian, mereka tidak mau tahu; yang penting memilih dia karena masih ada unsur ustadz-nya. Sementara kalangan Habaib Jakarta dan komunitas “mauludan forever and forever“, mereka mendukung Foke-Nana. Karena, sosok Hidayat masih dianggap “berbau Wahabi”.

LIMA, kalangan yang tidak memilih sama sekali, karena merasa tidak ada satu pun kandidat yang layak dipilih dari 6 kandidat tersebut. Masing-masing memiliki catatan negatif yang membuatnya tidak layak dipilih. Foke-Nara kekurangan terbesarnya, dia didukung Partai Demokrat (SBY). Memilih Foke-Nana sama dengan memilih Partai Demokrat. Hendardji-Reza, dia itu seorang karateka (Ketua FORKI), tidak ada pengalaman memimpin birokrasi. Jokowi-Ahok, dia ini campuran Kejawen dan Chinese; yang terpenting, Kota Solo jelas berbeda dengan DKI Jakarta. Di Solo Jokowi bisa eksis, di Jakarta belum tentu. Hidayat-Didiek, dia pernah menjadi Ketua MPR, dan tidak ada prestasi significant. Saat jadi Ketua MPR, Pak Hidayat lebih peduli dengan isu Palestina, daripada isu bangsanya sendiri. Banyak pemuda-pemuda Islam dijadikan mainan oleh isu terorisme, tapi beliau diam saja. (Bukan karena isu Palestina tidak penting; tapi setiap pemimpin harus paham tanggung-jawab prioritas di pundaknya). Faisal Basri-Biem, intinya dia NEOLIB. Sudah tidak usah dibahas lagi. Alex Noerdin-Nono, dia ini memimpin Sumatera Selatan belum beres, kok mau memimpin Jakarta. Ini tidak layak.

Adapun alasan umumnya: masing-masing kandidat jauh dari profil politisi Islami, jauh dari keberpihakan kepada Ummat, jauh dari ghirah untuk membela kepentingan kaum Muslimin, mereka sepakat dengan agenda liberalisme-kapitalisme, mereka haus kekuasaan, mereka menjadi alat politik partai-partai menuju Pemilu-Pilpres 2014, mereka tidak ada satu pun yang pro Syariat Islam, mereka tidak ada nyali menghadapi “Mafia PBB” (mafia politik, birokrasi, bisnis), mereka bersikap rapuh terhadap manuver dan intervensi asing (seperti kepemimpinan Foke selama ini)…

Jadi intinya, tidak ada kandidat yang secara Syariat Islam layak untuk dipilih dan didukung. Mungkin sosok Hidayat Nur Wahid masih ada “bau-bau ustadz”, tetapi sosok pemimpin yang diharapkan akan membawa kebaikan bukan seperti itu. Kaidah sederhananya sebagai berikut:

[a]. Hukum asalnya, meminta jabatan itu tidak boleh. Bahkan Nabi Saw melarang memberi jabatan kepada siapa yang sangat menginginkan jabatan itu. Beliau pernah berkata kepada Abu Dzar Al Ghifari Ra, “Ya aba dzar, innaka dhaif, wa innaha amanah, wa innaha yaumal qiyamati hizyu wa nadamah” (wahai Abu Dzar, engkau itu lemah, sementara yang engkau minta itu amanah; amanah itu kelak di Hari Kiamat akan menjadi kehinaan dan sesalan). Jadi hukum asalnya, meminta jabatan itu salah; maka seluruh kandidat Gubernur DKI dan para penyokongnya, otomatis gugur total.

[b]. Namun dalam kondisi tertentu, boleh seseorang menawarkan diri untuk mengemban suatu amanah (jabatan); ketika kondisi membutuhkan manusia yang cakap, handal, dan terpercaya, sementara dia sendiri memiliki sifat handal dan terpercaya. Hal ini seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Yusuf As ketika beliau menawarkan diri untuk mengelola Baitul Maal di Mesir, dengan alasan dirinya memiliki dua sifat utama, hafizhun ‘alim (pandai menjaga, dan berpengetahuan luas). Disini, boleh kita meminta jabatan, ketika kondisi membutuhkan tampilnya orang-orang dengan skill handal, sementara kita sendiri memiliki kemampuan itu dan memiliki komitmen moral baik.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Innallaha ya’murukum an tu’addul amanati ila ahliha wa idza hakamtum bainan naasi an tahkumu bil ‘adli” (Allah memerintahkan kalian menunaikan amanat kepada yang berhak, dan jika kalian menetapkan hukum hendaknya menetapkan dengan adil). Surat An Nisaa’, ayat 58.

Menurut Ibnu Taimiyyah rahimahullah, ayat ini berkaitan dengan tugas-tugas pemimpin Islam. Mereka harus menyampaikan amanat-amanat kepada yang berhak, dan menghukumi di antara manusia dengan hukum Islam secara adil. Dapat disimpulkan, posisi kepemimpinan itu benar-benar tugas suci untuk menunaikan amanat Ummat dan memberi hukum yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Kalau kepemimpinan tidak seperti itu, ia tidak ada nilainya di sisi Allah.

Kalau dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta 2012, para kandidat itu sangat nafsu ingin berkuasa dan menempati jabatan birokrasi tertinggi di DKI Jakarta; sementara mereka tidak memiliki kualitas hafizhun ‘alim (pandai menjaga dan berpengetahuan luas). Jadi dari dua kriteria itu, mereka sudah gugur. Bahkan di mata mereka, masalah utama DKI bukan soal ruhani manusia, tapi soal banjir dan kemacetan…suatu pandangan yang sangat primitif. Padahal kata Nabi Saw, sumber masalah manusia itu di hatinya. Kalau hatinya baik, baik hidupnya; kalau hatinya buruk, buruk hidupnya. Yang membuat Jakarta penuh masalah, ya karena kondisi ruhani rakyatnya centang-perenang, atau acak-kadut, atau ancur-ancuran.

Kepemimpinan Islami itu seperti Nabi Saw. Mula-mula beliau perbaiki hati manusia, perbaiki jiwa dan akhlaknya, perbaiki moral dan komitmennya; lalu diperbaiki peradabannya secara keseluruhan. Ya, kalau 6 kandidat itu, ngomong-nya dunia melulu, sampai kapan masalah Jakarta akan beres-beres? Nah, inilah kesalahan mendasar bangsa Indonesia (termasuk warga Jakarta) ketika bicara soal pemimpin. Bawaannya ngomong dunia melulu, tanpa niat memperbaiki ruhani masyarakat dengan dakwah.

Kalau kaum Muslimin di Jakarta tidak memilih salah satu kandidat, itu BOLEH. Itu SAH. Dengan alasan, tidak ada satu pun kandidat yang diyakini memiliki sifat-sifat yang layak. Dengan demikian, kita bisa berlepas diri kalau kelak ditanya oleh Allah Ta’ala soal pemimpin yang kita pilih. Kita tidak mau memilih, karena tidak ada figur yang layak dipilih.

Dalilnya adalah firman Allah, “Laa yukallifullahhu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya). Surat Al Baqarah, ayat 286. Singkat kata, Ummat Islam disuruh memilih pemimpin yang baik-baik, cakap, amanat, dan berbuat adil. Kalau sosok seperti itu tidak ada, ya tidak ada yang bisa dipilih. Bukan karena tidak mau memilih, tetapi stock pemimpin yang baiknya tidak ada. Bukan salah kita kalau tidak memilih. Kita sudah berusaha sekuat tenaga, semampunya. Bahkan sikap demikian ini merupakan CARA BERPOLITIK (Islami) juga. Itu harus diingat!!!

Kalau kita memilih pemimpin yang keliru, akibatnya akan ditanggung sampai Hari Kiamat nanti. Jangan salah mengira, setiap pilihan Anda nanti akan ditanyakan di Akhirat. Itu harus benar-benar diperhatikan. Logikanya bukan “daripada tidak memilih, mending memilih yang terbaik di antara yang terjelek”. Bukan begitu logikanya. Tetapi mestinya begini: “Kewajiban kami memilih pemimpin yang shalih, amanat, cakap, dan adil. Kalau tidak ada pemimpin begitu, ya sudah kami tidak bisa memilih. Bukan salah kami karena tidak memilih, sebab memilih pemimpin yang salah, kelak akan dipertanggung-jawabkan sampai di Akhirat.”

Bukankah di antara sekian figur itu ada yang terbaik di antara yang jelek-jelek? Mengapa kita tidak memilih sosok seperti itu? Misalnya sosok Pak Hidayat Nur Wahid yang masih ada “bau-bau ustadz”?

Jawabnya, memilih sosok demikian juga tidak menjamin kebaikan bagi masyarakat nanti. Toh, selama ini sudah ada pemimpin-pemimpin birokrasi yang background-nya ustadz, kyai, dan sebagainya. Buktinya mereka sami mawon (sama saja) dengan pemimpin-pemimpin sekuler. Malah memilih pemimpin yang ada unsur Islam-nya, sering kali menjadi menjadi fitnah bagi agama. Mengapa? Ketika pemimpin itu terbukti gagal atau tidak berkualitas; nama Islam selalu dibawa-bawa. “Tuh lihat, itu tuh akibatnya kalau memilih pemimpin seorang ustadz,” kata sebagian orang. Demi Allah, saya pernah membaca sebuah selebaran yang intinya anti pemimpin dengan background agama, setelah kegagalan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI 1999-2003. Bukannya dia memperbaiki citra Islam, malah ikut menjelek-jelekkan citra Islam di mata rakyat.

Lha, kalau tidak ada yang dipilih, lalu bagaimana dong solusinya? Masak tidak memilih sama sekali? Ini pemikiran aneh.

Jawabnya begini: Untuk saat ini, kaum Muslimin tidak bisa berharap akan ada perbaikan kehidupan dari cara-cara seperti ini. Semua ini hanya buang-buang energi, waktu, anggaran, dan lainnya. Kita tidak bisa berharap akan lahir perbaikan, lompatan, atau kemajuan lewat mekanisme semacam Pilkada/Pilpres itu. Siapapun yang terpilih disana, sulit diharapkan akan membawa perubahan positif bagi kehidupan Ummat. Kalau yang terpilih sosok ustadz/kyai, belum tentu akan menjalankan missi-missi Islam; kalau yang terpilih sosok anti Islam, toh selama ini sudah banyak orang seperti itu (contoh SBY dan kawan-kawan). Jadi lewat mekanisme Pilkada/Pilpres dan semacam ini, jujur tidak ada hasil positif yang bisa diharapkan.

Lalu solusinya bagaimana kalau tidak melalui Pilkada/Pilpres?

Solusinya, ada di antara kaum Muslimin ini yang membuat partai yang berorientasi Syariat Islam. Cita-cita dan tujuannya, murni menegakkan Syariat Islam. Lalu ia diperjuangkan dengan cara-cara politik Islami. Nah, sarana ke arah itu harus ada dulu. Setelah itu, seluruh barisan dakwah dan perjuangan Islam sepakat untuk mendukung partai tersebut. Harus muncul partai yang murni berbasis Islam. Kalau dilarang, harus terus diperjuangkan, agar bisa ikut dalam kancah Pemilu. Demi mencapai kemenangan, jangan menempuh cara seperti PKS. Partai itu harus berorientasi menyebarkan dakwah, bukan mencapai kekuasaan. Meskipun sudah habis-habisan, sudah pada meringis karena keluar dana besar, sementara hasil kekuasaan tidak ada; harus tabah, harus sabar, harus tetap konsisten di atas jalan Islam; jangan cepat silau oleh kekuasaan (seperti PKS); karena namanya perjuangan Islam, mana ada sih yang instan, bertabur bunga dan semerbak wewangian? Tapi…dengan cara dakwah ini, yakinlah Allah akan mengubah keadaan kaum Muslimin. Demi Allah Rabbul Izzati, perjuangan Partai Keadilan (PK) dulu sudah mulai membuahkan hasil berkah tersebut; kalau elit-elit PKS tidak keburu kecebur “perburuan kekuasaan”. Sudah menampak tanda-tanda baiknya, tetapi keburu dipangkas habis oleh Hilmi Aminuddin Cs, ketika tanaman masih berusia belia. Sayang sekali…

Nah, itulah solusinya. Saat ini tidak ada satu pun garis partai/sosok politisi yang mewakili perjuangan dakwah Islam dan missi Islamisasi kehidupan…maka tidak perlu memilih satu pun kandidat calon Gubernur Jakarta 2012. Siapapun sosok yang terpilih nanti, kalau dia ustadz/kyai/syaikh kecil peluang akan membawa kebaikan; kalau dia sosok anti Islam, tidak ramah kepada dakwah, sekuler murni, dan sejenisnya, maka kita sudah biasa menghadapinya.

Tapi bagaimanapun, ini adalah pendapat pribadi saya. Boleh setuju, boleh menolak. Kata Imam Malik rahimahullah, pendapat seseorang boleh diambil atau ditolak, kecuali pendapat Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Wallahu a’lam bisshawaab.

(Abinya Syakir).

Iklan

10 Responses to Bolehkah Memilih Gubernur DKI Jakarta 2012?

  1. fathiiiii berkata:

    Wah, sayang sekali artikel ini ya.. Sudah ditulis bagus2, ternyata ujungnya malah sinis pada saudara yang sedang berjuang mati2an.

    Saran saya, paragraf ketiga dari bawah dihapus saja. Hindarkan semaksimal mungkin pergesekan dengan saudara sendiri. Sekali lagi, hindarkan SEMAKSIMAL mungkin pergesekan dengan saudara sendiri.

  2. Rakaie Pikatan berkata:

    Pernah baca cerita RAPAT TIKUS ?

    Suatu hari tikus2 rapat untuk membahas cara menghadapi kucing yg sering menerkam mereka.

    Akhirnya lahir solusi brilian. ‘Kucingnya kita kalungin klenengan saja. Ngalunginnya pas ia tidur’ Kata salah satu tikus.

    ‘Solusi yg cerdas’ Timpal lainnya.

    ‘Dengan cara itu, kita aman sentosa. Karena saat kucing baru mendekat kita sudah dengar bunyi klenengannya. Sehingga ada waktu untuk lari’ Terdengar dukungan dari lainnya.

    ‘Dengan solusi ini masa depan bangsa tikus pasti cerah’ Tikus2 tepuk tangan. Sorak sorai membahana dari hadirin.

    Lalu salah salah satu tikus berujar ‘Pertanyaannya adalah siapa yang akan mengalungkan klenengan itu ke leher kucing’

    Hadirin terdiam. ‘Jangan saya dong saya khan masih kecil’ gumam salah satunya. ‘Jangan saya, masih banyak yang muda ini’ tolak tikus sepuh.

    ‘Lebih baik yang tua, toh sdh mau meninggal’ usul tikus muda. ‘Lebih baik yang muda, jika kucing terbangun, masih gesit larinya’ usul tikus2 sepuh.

    Tiba-tiba… gubrak… triplek pembatas runtuh. Si Kucing yg dirapatin tegak berdiri di sana, siap menerkam.

    Seluruh tikus berlarian tunggang langgang. Rapat tikus pun bubar.

    The moral of the story ?

    He..he….Solusinya, ada di antara kaum Muslimin ini yang membuat partai yang berorientasi Syariat Islam. Cita-cita dan tujuannya, murni menegakkan Syariat Islam. Lalu ia diperjuangkan dengan cara-cara politik Islami. Nah, sarana ke arah itu harus ada dulu. Setelah itu, seluruh barisan dakwah dan perjuangan Islam sepakat untuk mendukung partai tersebut. Harus muncul partai yang murni berbasis Islam. Kalau dilarang, harus terus diperjuangkan, agar bisa ikut dalam kancah Pemilu … bla…bla…bla… (pokoknya dilanjut dengan kalimat yang indah-indah…)

    Seperti di rapat tikus …. pertanyaannya adalah siapa yang akan melakukannya ?

    Lalu semua berkilah … jangan saya… kamu saja…jangan saya …..kamu saja…..

    Pembaca yang budiman bagaimana kalau kita daulat Abi Syakir untuk merealisasikan solusi yang dilontarkannya itu ?

    Bukankah akan lebih baik jika yang punya ide yang berada di barisan terdepan mewujudkannya ? .

    Jika yang melontarkan ide saja tidak berani/tidak mampu melakukannya, jangan pula menuntut orang lain melakukannya.

    Jika ide ‘indah’ itu tinggal sebatas di atas kertas (di layar monitor :-D), mari kita sebut solusi Abi Syakir ini sebagai SOLUSI RAPAT TIKUS.

    Bagaimana ?

  3. abisyakir berkata:

    @ Rakaie Pikatan…

    Lalu semua berkilah … jangan saya… kamu saja…jangan saya …..kamu saja….. Pembaca yang budiman bagaimana kalau kita daulat Abi Syakir untuk merealisasikan solusi yang dilontarkannya itu ? Bukankah akan lebih baik jika yang punya ide yang berada di barisan terdepan mewujudkannya ? Jika yang melontarkan ide saja tidak berani/tidak mampu melakukannya, jangan pula menuntut orang lain melakukannya. Jika ide ‘indah’ itu tinggal sebatas di atas kertas (di layar monitor 😀 ), mari kita sebut solusi Abi Syakir ini sebagai SOLUSI RAPAT TIKUS. Bagaimana ?

    Respon: Jujur, saya suka dengan gaya Anda; kritis, terus-terang, dan tidak sungkan-sungkan. Setiap membaca komenter-komentar ini, lalu disana ada nama “Grandong” atau “Rakaie”…biasanya dahi saya langsung berkerut, “Mau apa lagi nih orang?” He he he…

    Ya, saya dulu pernah terjun di PK sebagai bagian dari tanggung-jawab tersebut. Tapi tahun 2000-an sudah keluar, tidak melanjutkan. Tapi harapan munculnya partai Islami itu sangat kuat. Memang, seperti di masa PK dulu, posisi saya ialah berharap, menanti, atau siap mendukung. Sebab saya hanya pribadi saja. Apalah artinya seorang pribadi, sementara sebuah partai pasti hasil bentukan ummat secara kolektif.

    Sejujurnya, saya berharap kepada kalangan dakwah Islam secara umum seperti DDII, FUI, Hidayatullah, MMI, JAT, dan lainnya untuk membentuk partai Islami. Tetapi tampaknya mereka punya pandangan cenderung “apolitis”; tidak mau terjun dalam politik praktis. Kalau saya sampaikan gagasan ini itu, saya terlalu yunior dibandingkan para asatidzah itu. Nanti dikiranya menggurui.

    Tapi di luar ketidak-berdayaan pribadi tersebut; saya tetap mencoba ikut kontribusi dengan memberi semangat, motivasi, gagasan, pandangan, atau apa saja yang mudah-mudahan bermanfaat bagi perjuangan politik Ummat. Bukan saya anti PKS; tapi saya kecewa, karena mereka terlalu tergesa berburu kekuasaan, sehingga melenyapkan begitu banyak sifat-sifat dinniyyah mereka.

    Begitu…wahai Rakaie…

    Terimakasih atas komentar dan masukannya. Barakallah fiki…

    Admin.

  4. Anonim berkata:

    F*****D ups

  5. 40 Hadits Peristiwa Akhir Zaman berkata:

    Dari Anas Ra. berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi wa Sallam bersabda: “Akan datang pada manusia suatu zaman saat itu orang yang berpegang teguh (sabar) di antara mereka kepada
    agamanya laksana orang yang memegang bara api.”
    (HR. Tirmidzi)

    Dari Abu Hurairah Ra. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi wa Sallam bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipuan. Pada waktu itu si pendusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan dusta. Pengkhianat akan disuruh memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berkesempatan berbicara hanyalah golongan “Ruwaibidhah”. Sahabat bertanya, “Apakah Ruwaibidhah itu hai Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi wa Sallam
    menjawab, “Orang kerdil, hina dan tidak mengerti bagaimana mengurus orang banyak.”
    (HR. Ibnu Majah)

  6. las artes berkata:

    Nah, itulah solusinya. Saat ini tidak ada satu pun garis partai/sosok politisi yang mewakili perjuangan dakwah Islam dan missi Islamisasi kehidupan…maka tidak perlu memilih satu pun kandidat calon Gubernur Jakarta 2012. Siapapun sosok yang terpilih nanti, kalau dia ustadz/kyai/syaikh kecil peluang akan membawa kebaikan; kalau dia sosok anti Islam, tidak ramah kepada dakwah, sekuler murni, dan sejenisnya, maka kita sudah biasa menghadapinya.

  7. Abu Adhia berkata:

    Saya kira, Abi syakir benar-benar mengenal para salafiyyun, baik yg saudi maupun yaman. (anehnya kok berani mengeluarkan buku ttg kaum salafiyyin)

    Wah..ternyata duagaan aya salah. Paling tidak saat mengomentari sikap salafiyun dalam pemilu dalam tulisan ini.
    Aneh juga sih, sekelas Abi syakir tidak tahu kapan salafiyun taat ulil amri dan kapan tidak. Misalkan kapan harus ikut nyoblos atau tidak.

    Hmm….benar-benar labil…

  8. abisyakir berkata:

    @ Abu Adhia…

    Saya kira, Abi syakir benar-benar mengenal para salafiyyun, baik yg saudi maupun yaman. (anehnya kok berani mengeluarkan buku ttg kaum salafiyyin). Wah..ternyata duagaan aya salah. Paling tidak saat mengomentari sikap salafiyun dalam pemilu dalam tulisan ini. Aneh juga sih, sekelas Abi syakir tidak tahu kapan salafiyun taat ulil amri dan kapan tidak. Misalkan kapan harus ikut nyoblos atau tidak. Hmm….benar-benar labil…

    Respon: Ya saya tidak terlalu banyak tahu lah Pak… Kan dunia kawan-kawan Salafi sangat luas, dari perkara ushul dan furu’-nya. Saya tidak terlalu mendalami hal itu. Kalau pun menyinggung masalah2 tertentu dari mereka, hal itu ya berdasarkan fakta, bukti, atau risalah yang saya ketahui. Apa yang tidak saya ketahui tentang mereka, jauh lebih besar ketimbang apa yang saya ketahui. Dalam menulis buku, selama kita berpegang kepada bukti-bukti tertentu, ada catatan-catatan risalahnya; ya itu sudah menjadi sandaran, meskipun tidak bisa juga dianggap telah mewakili gambaran terbaik.

    Dalam soal Pemilu (termasuk Pilpres atau Pemilukada) memang kawan-kawan Salafi -setahu saya- belum memperlihatkan sikap yang jelas. Kalau dalam masalah demokrasi IYA, mereka menolak secara tegas; seperti alasan Abul A’la Maududi, bahwa demokrasi itu sistem syirik. Tetapi dalam praktik pemilu, saya pernah dengar beberapa pendapat berbeda: Awal-awal Reformasi 1999 saya dengar dari kalangan Ustadz Abu Haidar di Bandung, bahwa hak memilih dalam pemilu itu hak kita, terserah mau dipakai apa tidak. Kemudian, belajar dari pengalaman pemilu di Irak, ketika Ahlus Sunnah kalah oleh Syiah Rafidhah, sebagian ulama Salafi kontemporer meninjau ulang larangan mengikuti pemilu. Juga sikap Partai An Nuur di Mesir dan lainnya yang memutuskan terjun dalam Pemilu, hal itu juga menunjukkan mereka ingin memanfaatkan hak politiknya.

    Secara umum, pendapat Syaikh Al Albani rahimahullah, sekian lama menjadi rujukan. Hal itu dijelaskan oleh Abdul Malik Ramadhani dalam “Madarikun Nazhar Fis Siyasah”. Intinya, saat beliau ditanya oleh elit-elit politik FIS di Aljazair tentang status pemilu, beliau buru-buru memberikan jawaban, dan dikirim secepat mungkin lewat fax ke Aljazair. Jawaban beliau itu akhirnya membelah barisan kaum Muslimin; elit-elit FIS merasa bahwa jawaban itu mendukung sikap mereka ikut Pemilu, sedangkan kalangan Salafiyun di Aljazair dan selainnya beranggapan, bahwa jawaban itu adalah bentuk pengingkaran Al Albani terhadap sistem pemilu demokrasi. Karena kalau dibaca, memang isi jawaban itu bisa ditarik ke dua kesimpulan tersebut.

    Hal itu memang sudah menjadi takdir yang mesti terjadi. Kita tak bisa menolaknya. Mestinya, Syaikh Al Albani jangan buru-buru menjawab dalam situasi yang sedemikian genting. Bersikap diam (tawaquf) bisa jadi lebih baik, demi mempertahankan kesatuan Ummat. Tidak semua pertanyaan atau permintaan fatwa mesti dipenuhi. Apalagi kalau jawabannya bisa menimbulkan beda persepsi di tengah Ummat. Misalnya, kita memberikan jawaban sebagai berikut: “Tidak diragukan lagi bahwa pemilu demokrasi bukan sistem Islam, tidak sesuai Syariat Islam, banyak keburukan-keburukan di dalamnya… Namun suatu ketika kita berhajat kepada sistem ini dengan alasan menghindari madharat yang lebih besar. Sehingga akhirnya silakan bagi yang mau ikut pemilu dengan syarat begini-begini…dan silakan bagi yang menolak dengan alasan begini-begini…” Fatwa seperti ini bukan menjadi solusi, malah bisa membuat masalah lebih serius di tengah Ummat.

    Intinya, sampai saat ini saya belum mengetahui sikap kawan-kawan Salafi yang jelas dan terang. Mohon dimaklumi jika dalam tulisan itu masih menyisakan kekurangtahuan kami terhadap sikap kawan-kawan Salafi. Jazakumullah khairan katsira.

    Admin.

  9. nur berkata:

    Apakah kaum muslim mempertentangkan pendapatnya hingga kaum non muslim yang menguasai negeri ini? Tidakkah mau mengambil pelajaran dari negara lain?

  10. siswoyo suparlan berkata:

    awas lho yang anda tulis semua ada pertangung jawabanya,,,kyak malaikat saja tau lebih dulu. mestinya Allah yang tau lebih dulu dan akhirnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: