Kualitas Seks Manusia Zaman Modern…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Biasanya di masa-masa menjelang Ramadhan, ormas-ormas Islam mulai sibuk dengan penentuan awal Ramadhan. Sidang Itsbat Departemen Agama, tentu yang dinanti-nanti. Meskipun ada juga yang sudah menerapkan tradisi “mencuri start” sebelum yang lain…he he he. Tahulah, siapa dia.

Tapi selain soal awal Ramadhan, ormas Islam biasanya juga mulai sibuk ingin menertibkan tempat-tempat maksiyat. Ya semacam night club, diskotik, bar, hotel dipakai prostitusi, kafe remang-remang, tempat mesum berkedok SPA, dll. Ini bukan pekerjaan kecil dan ringan, karena memang tempat-tempat mesum itu rata-rata dijaga oleh oknum aparat polisi, TNI, dan birokrasi. Banyak orang ternyata sama-sama menggantungkan “periuk nasi” di tempat hiburan seperti itu. Disini kerap ada potensi bentrok.

Para backing aparat di balik industri mesum itu, mereka bisa beralasan: “Enak saja mau sweeping tempat-tempat bisnis ini. Kami tolak 100 persen! Hidup kami ada di atas bisnis beginian, tahu! Kami kasih makan anak-isteri, kami bayar uang sekolah, kami bayar uang listrik, beli pulsa telepon, beli bensin, bayar pajak, dll. dari sini tahu. Lo berani ganggu tempat bisnis ini, berarti lo nantang maut ya?” Sedang ormas-ormas Islam juga punya alasan, yaitu alasan MORAL, SPIRITUAL, dan KESUCIAN bulan Ramadhan.

Oke…kita coba mulai masuk ke tema pembahasan tulisan ini…

Godaan seks begitu menggiurkan… Tetapi itu hanya dalam pencitraan-nya. Dalam realitas, indahnya seks tidak bisa lepas dari MORAL.

Ada sebuah pertanyaan: “Mengapa dalam 10 tahun terakhir, bisnis mesum atau bisnis esek-esek, begitu laris dan banyak penggemar?” Karena larisnya, maka ketika tiba bulan Ramadhan pun, bisnis itu tidak mau diganggu. Jika ada ancaman gangguan dari ormas-ormas Islam, para pembela bisnis mesum itu bersatu-padu membela slogan: memasyarakatkan kemesuman dan memesumkan masyarakat! Masya Allah.

Ya, semua ini tidak lepas dari “logika ekonomi”…ada demand ada supply. Dimana ada permintaan, pasti disana ada penawaran. Ada banyak laki-laki mesum butuh nikmat seks ilegal, maka bisnis mesum akan menjamur. Sebaliknya, kalau kaum laki-lakinya moralis, kuat dalam memegang prinsip keluarga; bisnis begituan tidak akan laku.

Nah, disini kita saksikan adanya fenomena seks manusia modern… Seks yang dimaksud bukanlah seperti dalam koridor aturan agama, dalam batasan norma sosial atau etika; tetapi seks dengan rasa sangat berbeda. Ada yang menyebutnya seks ilegal (karena tidak sesuai aturan agama); atau seks amoral (karena memang sangat melanggar batas-batas moral); atau seks komersial (karena berkaitan dengan hukum jual-beli); atau seks transaksional (sebatas ruang lingkup transaksi bisnis); atau seks industri (karena dijalankan penuh dengan pendekatan industrialis).

Ciri-ciri dari seks manusia modern (maksudnya seks yang tidak legal di atas) antara lain:

[a]. Instan. Seks semacam itu hanya bersifat instan, serba terburu-buru; semata demi memenuhi syahwat pihak laki-laki saja, tanpa memberi hak-hak bagi pihak wanita. Kalau si laki-laki sudah puas, tiada hak seksual bagi lawannya.

[b]. Ilegal. Jelas seks demikian tidak sesuai aturan agama (Islam), tidak sesuai aturan negara, juga norma sosial. Siapapun yang melakukannya, akan selalu dihantui rasa takut, khawatir, dan gelisah.

[c]. Transaksional. Selain bertujuan semata memuaskan pihak laki-laki (itu pun kalau puas); seks ini hanya bernilai jual-beli. Ada yang beli, ada yang menjual. Sangat sulit berharap ada kesenangan disini, karena memang sifatnya komersial sesaat. Bayangkan, urusan seksual jadi seperti urusan membeli kerupuk, gorengan, atau kue di pinggir jalan.

[d]. Permukaan. Seks demikian kelihatan heboh, excited, wonderful, amazing… Tapi itu di permukaan saja kelihatan seperti itu. Dalam realitas sebenarnya ia jauh dari kepuasan atau kesenangan. Hampir seluruh upaya seks yang bergaya beginian, hanya heboh di pencitraan; tetapi secara makna kesenangan, hambar dan terlalu tergesa.

[e]. Beresiko tinggi. Jelas, seks demikian beresiko tinggi. Beresiko kehamilan di luar nikah, beresiko tidak ada yang bertanggung-jawab atau dicampakkan; beresiko aborsi; beresiko citra sosial jatuh atau hancur; beresiko terkena penyakit kelamin dan HIV; beresiko jatuh dalam pusaran narkoba dan bunuh diri. Belum lagi jika keluarga hancur, studi hancur, profesi hancur, jabatan hancur, dll. Nas’alullah al ‘afiyah min kulli dzalik.

[f]. Reduksi. Maksudnya, secara nikmat seksual, hanya sedikit kebaikan yang bisa diperoleh. Dalam kondisi demikian, tujuan puncak seorang laki-laki, hanya sebatas mengeluarkan -maaf beribu maaf sperma semata; begitu juga bagi pihak wanitanya, asalkan sudah ada penetrasi, sudah dianggap “sempurna”. Padahal dalam situasi hubungan suami-isteri yang normal dan wajar; nilai kesenangan yang bisa dicapai sangat besar. Dalam konteks seks instan, paling nilai kesenangan yang dicapai maksimal 10 % saja.

Mungkin pertanyaannya, “Bagaimana kalau yang melakukan seks ilegal itu orang-orang yang sudah berpengalaman berumah-tangga? Bisa jadi nikmatnya jauh lebih besar?” Mungkin saja begitu, tetapi resikonya sangat besar. Disana ada resiko kehancuran keluarga, resiko kehancuran profesi, hancurnya nama baik sosial, hancurnya jabatan…semua itu jauh lebih menyakitkan. Tidak sedikit lho, orang-orang tua dihukum anak-anak dan isterinya karena sekali saja melakukan selingkuh (seks ilegal). Mereka harus menatap hari tua dalam hukuman sangat menyakitkan. Ini hanya soal waktu saja…

[g]. Depressi. Ia adalah akibat umum di balik perilaku seks ilegal itu. Tidak ada yang membahagiakan dari seks ilegal. Paling kesan heboh, kesan wah, kesan meriah…ya kesan begitu ada; tetapi pada hakikinya setiap jiwa yang masuk dalam pusaran seks ilegal ini, mereka menderita. Itu saja!

[h]. Verbalitas. Dampak lanjutan, meskipun hal ini jarang disinggung, yaitu sejenis kualitas seks verbalitas. Apa tuh maksudnya? Maksudnya, sebagian orang yang tidak bahagia secara seksual itu sering kali ngomong jorok; becandanya jorok melulu; kalau bicara tidak jauh dari organ-organ genital dan aktivitasnya… Orang demikian, sejatinya tersiksa secara seksual; karenanya omongan jorok menjadi sasaran. “Gue gak bahagia nih. Gue gak pernah puas. Maka sasaran gue ialah ngomong jorok selama-lamanya…,” begitulah logika berpikir orang-orang itu.

Sebuah saran praktis ingin disampaikan, terutama kepada pemuda atau remaja Muslim, yang sehari-hari menghadapi kepungan godaan zina dari berbagai penjuru… Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lahum jami’an.

Saudaraku…bila suatu ketika timbul dorongan syahwat luar biasa dalam dirimu, sehingga dengan dorongan itu tiba-tiba engkau ada niatan untuk memperkosa wanita di dekatmu, atau ingin berzina dengan pacarmu, atau ingin berzina dengan mencari pelacur… maka aku berikan nasehat sederhana kepadamu: “Dalam kondisi seperti itu, segeralah kamu masuk kamar mandi, lalu keluarkan sperma-mu disana. Jika sperma itu telah keluar, maka dorongan ingin memperkosa atau berzina itu seketika habis.” Dorongan itu ada selagi sperma masih ada di tempatnya; tetapi kalau sudah dikeluarkan, meskipun secara paksa; hal itu akan menghindarkan kamu dari bahaya zina, sodomi, memerkosa, dan sejenisnya.

Onani bukanlah perbuatan halal. Ia termasuk perbuatan haram. Tetapi haramnya jauh lebih kecil daripada perbuatan zina, prostitusi, sodomi, dll. Disini ada rahasia bagi mereka yang terjerumus ke dalam zina, sodomi, pelacuran…yaitu ketika muncul dorongan syahwat menggebu-gebu, ia disalurkan di tempat yang haram (bukan dengan isteri yang sah). Padahal jika dorongan syahwat (sperma) dalam diri itu sudah dikeluarkan, ia akan memadamkan niat berbuat jahat itu.

Tetapi jangan juga membiasakan melakukan onani, sebab hal itu bisa melemahkan tubuh, akal, dan ghirah seksualmu. Onani itu hanya sebagai “pintu sarurat” saja, ketika ada ajakan berbuat zina, sodomi, melacur di depan mata. Lebih utama, selamat, dan sangat ideal, jika kalian bersegera menikah. Menikah usia 20 tahun atau baru lulus SMA, tidak masalah. Pacaran setelah menikah jauh lebih indah, daripada pacaran sebelum menikah. You know, man?

Maling-maling moral, pembegal-pembegal kesucian, serta perompak-perompak susila…mereka selalu mengiming-imingi dirimu dengan indahnya zina, indahnya prostitusi, dan segarnya tubuh wanita-wanita nakal. Tetapi semua itu hanya tipuan pencitraan semata. Orang-orang yang memberikan iming-iming itu sendiri, mereka TIDAK MENIKMATI indahnya nikmat seks sama sekali. Mereka itu “sakit”, mereka berusaha mencari kawan untuk diberi “penyakit” yang sama.

Baiklah, di bagian akhir tulisan ini, aku sebutkan sebuah firman Allah: “Wa tilka hududullahi, wa man yatta’adda hududallahi fa qad zhalama nafsah” (itulah batas-batas aturan Allah, maka siapa yang melanggar batas-batas Allah, sesungguhnya dia telah menganiaya dirinya sendiri). At Thalaaq, ayat 2.

Semoga bermanfaat ya untuk menghindarkan diri, keluarga, dan Ummat dari bahaya perbuatan keji (zina, sodomi, prostitusi, dll). Amin Allahumma amin.

Admin.

Iklan

8 Responses to Kualitas Seks Manusia Zaman Modern…

  1. _Pacaran setelah menikah jauh lebih indah, daripada pacaran sebelum menikah. You know, man?[1]_

    yes.. I know my brother… kini aku mengerti…^_^…
    tp pa, kalo punya pacar itu boleh apa ngga.?? & juga s’benernya pacaran sblm mnikah itu boleh apa ngga.?? “Nafsu Liarku brkata :: boleh-boleh… silahkan… tenang aja… ayoo, cemooon.. nikmati masa muda’mu… jgn lewatkan k’sempatan ini… hidupmu cuman sekali.. so.. laksanakan..”.
    _________________________________________________
    Footnote
    [1] paraghraf k’4 dari bawah.

  2. abisyakir berkata:

    @ Zaenal…

    Tp pa, kalo punya pacar itu boleh apa ngga.?? & juga s’benernya pacaran sblm mnikah itu boleh apa ngga.?? “Nafsu Liarku brkata :: boleh-boleh… silahkan… tenang aja… ayoo, cemooon.. nikmati masa muda’mu… jgn lewatkan k’sempatan ini… hidupmu cuman sekali.. so.. laksanakan..”.

    Komentar:

    Pacaran itu berdekat-dekat dengan wanita bukan mahram yang disukai, dengan mengutarakan cinta kepadanya, merasa peduli, setia, dan memiliki dia; serta memaklumkan kepada orang lain bahwa pacarnya itu telah menjadi “miliknya”, sehingga orang lain tidak boleh “mengganggu”. Sikap yang sama juga ditunjukkan sang wanita kepada pacar laki-lakinya. Hal demikian ini kalau boleh dikatakan seperti: Miniatur Pernikahan. Hukumnya ya tidak boleh. Nikmat pernikahan boleh dirasakan, setelah adanya AKAD NIKAH. Maka hal-hal seperti setia, peduli, memiliki, cemburu, dll. di luar urusan pernikahan, ya tidak perlu ada.

    Pacaran jelas tidak diajarkan dalam Islam. Yang diajarkan adalah proses ta’aruf, yaitu saling mengenal antara laki-laki dan wanita, untuk menuju pernikahan. Maksudnya, niatnya sudah mau menikah; karena sebelum menikah perlu saling mengenal, disana dibutuhkan ta’aruf. Ta’aruf ini semakin cepat prosesnya menuju menikah, semakin baik. Kalau proses menuju menikah masih makan waktu agak lama (misalnya satu tahun ke depan), di masyarakat kita dikenal istilah TUNANGAN. Tunangan itu semacam “tanda jadi” bahwa seorang laki-laki akan menikahi seorang wanita. Tapi tunangan itu juga -sesuai Syariat Islam- jangan lama-lama. Sebab kata Nabi Saw, salah satu urusan yang perlu disegerakan, selain membayar hutang dan mengantar jenazah ke kuburan, ialah menikahkan laki-laki dan wanita.

    Kalau boleh saya sarankan… Jika Anda sudah memilih seorang wanita sebagai calon isteri, dan dia setuju; maka Anda harus pastikan bahwa wanita itu memang sosok yang baik dan layak. Caranya, lakukan observasi secara manusiawi terhadap wanita itu. Kemudian berdoalah memohon petunjuk kepada Allah (istikharah), apakah wanita itu baik jika menjadi isterimu atau tidak? Jika hatimu diberi kemantapan untuk menjadikan dia sebagai isteri, maka bicaralah kepada wanita itu, apakah dia mau menikah? Jika dia setuju, cobalah bicara dengan orangtuamu dan orangtua dia. Bisa saja, kalian pada mulanya menikah secara agama dulu; di depan wali sang wanita. Tidak usah dirayakan besar-besaran. Yang sederhana saja dulu. Nanti kalau sudah sama-sama selesai kuliah, boleh dirayakan, sekaligus diurus administrasinya ke KUA.

    Dengan menikah agama, sudah boleh mau pacaran bagaimanapun juga. Kalau misal, mau menunda punya anak, sampai perkualiahan selesai, bisa. Caranya…tanyakan kepada orang-orang yang sudah menikah, bagaimana cara menunda kehamilan, sampai saat waktunya tiba. Hal-hal demikian ini lebih baik, lebih sah, dan melatih laki-laki dan wanita (suami-isteri yang masih muda) untuk belajar bertanggung-jawab dan mulai membina keluarga.

    Tentang perkataan ini…

    “Nafsu liarku brkata :: boleh-boleh… silahkan… tenang aja… ayoo, cemooon.. nikmati masa muda’mu… jgn lewatkan k’sempatan ini… hidupmu cuman sekali.. so.. laksanakan..”.

    Komentar: Ya nafsu setiap laki-laki normal memang begitu. Tapi jangan dituruti kalau caranya LIAR (ilegal). Sebab kesalahan dalam urusan seks (dengan lawan jenis, apalagi sesama jenis), dampaknya sangat besar dalam kehidupan ke depan. Nikmat seks liar itu tak lebih dari 10 menit, tapi beban gelisah/dosa yang menghantui diri bisa bertahan sampai 100 tahun. Perlu Anda ketahui, cara-cara seks liar itu merupakan “jalan bypass” untuk merusak moral manusia. Seorang pencuri, pemabuk, bahkan pembunuh; itu masih memungkinkan menemukan jalan pulang; tetapi kalau soal seks, biasanya -nas’alullah al ‘afiyah wa rahmah wa miftahat taubah min dzunub- sulit. Wallahu a’lam bisshawaab.

    Godaan bagi para pemuda/remaja Muslim sangatlah berat…terutama dari masalah seks ini. Sekali mereka turuti hal itu, khawatirnya akan terjerumus dalam zina. Kalau sudah demikian…masa depan hidupmu yang panjang kan dipertaruhkan. Tetapi dengan menikah, disana ada solusi yang diharapkan, insya Allah.

    Admin.

  3. Dida Hidayat berkata:

    apakah arti zina dalam islam? mohon penjelasannya.
    sebab selama ini saya beranggapan kalau hanya – maaf – memasukkan kelamin laki-laki ke mulut perempuan itu bukan termasuk zina, karena saya pernah dengar potongan dari hadist “seperti masuknya timba kedalam sumur?” apakah yang dimaksud hadist itu masuknya kemaluan laki-laki ke kemaluan perempuan?
    apakah sama hukumnya kalau kemaluan laki-laki masuk ke mulut perempuan?

  4. abisyakir berkata:

    @ Dida Hidayat…

    apakah arti zina dalam islam? mohon penjelasannya. sebab selama ini saya beranggapan kalau hanya – maaf – memasukkan kelamin laki-laki ke mulut perempuan itu bukan termasuk zina, karena saya pernah dengar potongan dari hadist “seperti masuknya timba kedalam sumur?” apakah yang dimaksud hadist itu masuknya kemaluan laki-laki ke kemaluan perempuan? apakah sama hukumnya kalau kemaluan laki-laki masuk ke mulut perempuan?

    Respon:

    Zina dapat dilihat dari dua sisi, yaitu SEBAGAI DOSA dan SEBAGAI TINDAK PIDANA. Sebagai dosa, zina cakupannya luas; ada zina mata, zina telinga, zina kaki, zina tangan, zina hati. Pokoknya, perbuatan apa saja baik melihat, mendengar, berjalan ke tempat maksiyat, memegang tubuh lawan jenis, berkhayal, dll. yang nantinya membuat kemaluan kita menjadi tegang; itu sudah dianggap zina yang berdosa. Tetapi dosa perbuatan ini tidak sampai harus diberi sanksi seperti cambuk, diusir, atau dirajam. Tidak. Cukup disikapi dengan istighfar, taubat, dan beramal kebaikan-kebaikan.

    Tapi ada zina sejati yang mengharuskan pelakunya diberi sanksi haad (sesuai hukum Islam), yaitu jika dua orang laki-laki dan wanita (bukan suami-isteri, bukan pula budak dan pemiliknya) melakukan hubungan seksual ilegal dengan batasan -maaf- kemaluan laki-laki sudah masuk ke lubang kemaluan wanita; nah zina seperti ini mewajibkan diberikan hukuman haad, apakah berupa dicambuk 100 kali, diusir selama setahun, atau dirajam sampai mati. Tetapi hukuman itu berlaku di sebuah tempat yang secara resmi sudah menerapkan hukum Islam, dilakukan oleh laki-laki dan wanita dewasa, secara suka sama suka (bukan ada unsur paksaan). Baca artikel berikut ini: Batas Zina yang Mewajibkan Cambuk/Rajam (Ustadz Ahmad Sarwat).

    Masuk ke pertanyaan Anda, kira-kira tanggapan saya sebagai berikut:

    [a]. Perbuatan memasukkan kemaluan laki-laki ke mulut wanita (bukan suami-isteri) bukan perbuatan zina yang mengharuskan si pelaku diberi hukum cambuk, diusir, atau dirajam. Bukan termasuk itu. Tetapi ia sudah termasuk “zina yang berdosa”.

    [b]. Perbuatan seperti itu sudah termasuk perbuatan “mendekati zina” yang dilarang dalam Surat Al Isra’ ayat 32. Hal itu jangan dilakukan, sebab biasanya akan diikuti oleh perbuatan lain, berupa zina sesungguhnya. Allah Maha Tahu jiwa manusia, ketika Dia melarang mendekati zina, itu karena mendekatinya saja sudah berbahaya. Namanya orang mendekati, nanti akan terus dan terus mendekat, sampai terjadilah apa yang terjadi.

    [c]. Perbuatan seperti bermesraan dengan wanita (bukan suami-isteri), apapun itu bentuknya, selama bukan memasukkan kemaluan laki-laki ke kemaluan wanita; bukan juga lewat anusanya; hal itu tidak dipandang sebagai zina yang harus diberi sanksi hukum pidana. Tetapi dosa perbuatan itu jelas, sehingga pelakunya harus bertaubat dan tidak mengulangi perbuatan itu.

    [d]. Kalau Anda pernah melakukan perbuatan seperti itu dengan seorang wanita, saya sarankan NIKAHILAH wanita itu, meskipun baru dengan NIKAH AGAMA. Mengapa demikian? Karena dia telah melihat kemaluan Anda dan telah berbuat “senang-senang” dengan Anda. Anda harus malu jika kemaluan Anda kelihatan oleh siapapun, selain isteri Anda sendiri. Ajaklah wanita itu untuk sama-sama sadar, lalu menikahlah. Itu lebih baik, insya Allah. Kalau sudah menikah…segela pintu-pintu kebebasan diberikan, kecuali dalam batas-batas larangan Allah.

    [e]. Jika suatu saat, seorang pemuda dipaksa atau dalam kondisi terpaksa harus bermesraan dengan wanita (bukan isterinya); maka jauhilah kondisi “memasukkan kemaluan ke dalam kemaluan wanita”. Hal ini harus benar-benar dijauhi, karena hal itu merupakan perbuatan zina sesungguhnya. Sekuat tenaga harus berusaha menghindarkan diri melakukan “senggama” dengan wanita yang haram dilakukan hal itu padanya. Jaga benar-benar kehormatan-mu, jaga kemaluanmu, jangan diletakkan di tempat haram. Namun perbuatan “tidak memasukkan” itu tetap merupakan dosa yang harus ditutupi dengan istighfar, taubat, dan perbuatan-perbuatan baik untuk menghapuskannya.

    Pernah terjadi di masa Nabi, seorang laki-laki datang menghadap beliau. Dia mengaku telah bermesraan dengan seorang wanita di pinggir kota Madinah. Dia meminta dihukum. Tetapi Nabi tidak memberinya hukuman, karena perbuatannya belum masuk kategori ZINA SEBAGAI PIDANA. Maka laki-laki itu berlalu. Kemudian Rasulullah menyuruh seseorang membacakan sebuah ayat Al Qur’an, Surat Huud ayat 114, yang intinya disebutkan “perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan jahat”. Dengan berbuat baik, maka dosa bermesraan seperti itu bisa Allah hapuskan.

    Semoga jawaban ini bermanfaat, amin Allahumma amin.

    Admin.

  5. @.abisyakir…

    iy bp, terimakasih atas penjelasan dan masukannya.. insya’Allah nanti kalau udah punya calon, bakal langsung saja d’GAS (mksudnya d’ajak serius), jgn d’lama-lama..^_^..
    ____________________________________________________

    d’bacanya pelan-pelan yaa bp…

    “Tetapi hukuman itu berlaku di sebuah tempat yang secara resmi sudah menerapkan hukum Islam”. [d’kutip dari paraghraf k’2 atas respon bp trhdp pernyataan sodara dida hidayat].

    respon ::

    lalu d’indonesia, bagi mereka yg berjina, apabila mereka ingin bertobat secara nyata berupa bersedia di’beri hukuman seperti hukuman haad, apakah berupa dicambuk 100 kali, diusir selama setahun, atau dirajam sampai mati, tentunya mereka (yg berjina) tidak bisa menerima hukuman tersebut mengingat negara indonesia termasuk tempat yg tidak resmi -maksud saya- tidak menerapkan hukum islam secara wajar.

    misal,,, mereka yg berbuat jina, kini telah sangat menyesali sekali perbuaatan zina’nya tersebut.. mereka mengakui kesalahannya… mereka ingin bertobat secara nyata… berupa mereka bersedia diterapkan hukum Allah atas perbuatannya tersebut… dan mereka sangat ridho dengannya… mereka khawatir sekali apabila hukuman tersebut tidak di’rasakannya sewaktu d’dunia yg akibatnya d’akhirat nanti Allah akan menyiksanya dngan begitu sangat hebat… namun, betapapun mereka sangat menginginkanya untuk supaya diterapkan hukum Allah atas perbuatan zina’nya itu, tetap saja mereka tidak bisa mendapatkannya, mengingat d’tempat mereka “hukum Allah” belum “secara resmi d’terapkan secara wajar”.

    bagaimana ini bp.. apakah nanti pada hari kiamat Allah akan menyiksa mereka.? atau mengampuni mereka.? apa yg harus mereka lakukan agar Allah mengampuni dan mema’afkannya.?

  6. abisyakir berkata:

    @ Zainal Abidin…

    Lalu d’indonesia, bagi mereka yg berjina, apabila mereka ingin bertobat secara nyata berupa bersedia di’beri hukuman seperti hukuman haad, apakah berupa dicambuk 100 kali, diusir selama setahun, atau dirajam sampai mati, tentunya mereka (yg berjina) tidak bisa menerima hukuman tersebut mengingat negara indonesia termasuk tempat yg tidak resmi -maksud saya- tidak menerapkan hukum islam secara wajar. misal,,, mereka yg berbuat jina, kini telah sangat menyesali sekali perbuaatan zina’nya tersebut.. mereka mengakui kesalahannya… mereka ingin bertobat secara nyata… berupa mereka bersedia diterapkan hukum Allah atas perbuatannya tersebut… dan mereka sangat ridho dengannya… mereka khawatir sekali apabila hukuman tersebut tidak di’rasakannya sewaktu d’dunia yg akibatnya d’akhirat nanti Allah akan menyiksanya dngan begitu sangat hebat… namun, betapapun mereka sangat menginginkanya untuk supaya diterapkan hukum Allah atas perbuatan zina’nya itu, tetap saja mereka tidak bisa mendapatkannya, mengingat d’tempat mereka “hukum Allah” belum “secara resmi d’terapkan secara wajar”. bagaimana ini bp.. apakah nanti pada hari kiamat Allah akan menyiksa mereka.? atau mengampuni mereka.? apa yg harus mereka lakukan agar Allah mengampuni dan mema’afkannya?

    Jawab: Yakinlah, Allah itu Maha Pengampun Maha Pemaaf. Seseorang yang pernah berzina (atau lebih dari itu), kalau benar-benar mau taubat, berhenti, dan menyesali…ampunan Allah akan meliputinya. Dia Maha Pengampun. Segala perbuatan dosa, selain syirik, akan diampuni oleh Allah. Bahkan dosa syirik pun asalkan dihentikan, ditinggalkan, diingkari, lalu melakukan taubat sebenar-benarnya, maka ia juga akan diampuni. Janganlah berburuk sangka, bahwa seolah Allah tidak akan memaafkan pezina, jika tanpa dicambuk, diusir, atau dirajam. Tidak demikian. Bahkan di sebuah negara Islam pun, kalau ada pelaku zina, dia tidak mau menceritakan kejadian zinanya, menyimpan informasi serapat-rapatnya, lalu dia bertaubat atas semua dosa itu; hal tersebut sudah cukup. Namun kalau dia mau dihukum dengan hukum pidana Islam, itu juga boleh; tetapi tidak dianjurkan. Janganlah menyangka bahwa hukum Islam itu senang menyakiti manusia; tidak Akhi. Kalau setiap perbuatan dosa selalu dihapus dengan taubat nashuha dan tidak berdampak buruk bagi kehidupan sosial; itu sudah cukup, meskipun para hakim jadi “nganggur” dari menghukumi manusia begini dan begitu. Belajarlah Islam lebih dalam…nanti engkau akan mengetahui, bahwa menyelamatkan manusia lewat taubat, itu lebih utama daripada menghapuskan dosa mereka dengan hukuman haad.

    Di negeri seperti Indonesia ini ada sisi buruknya, ada sisi baiknya. Sisi buruknya, kehidupan tidak Islami dan menyusahkan; sisi baiknya, disini belum diterapkan hukum Islam, sehingga bagi pelaku perbuatan dosa besar, mereka masih diberi toleransi. Terimalah kemurahan Islam itu dengan rasa syukur; bukan dengan memanfaatkannya untuk menyebarkan dosa dan kerusakan moral di muka bumi.

    Admin.

  7. gold account berkata:

    Zoya menyebut pendidikan seks yang harus diterima anak usia 15-19 tahun adalah pemahaman bahwa kematangan seksual yang telah dialami pada usia tersebut akan bisa membuat mereka untuk hamil atau menghamili perempuan. “Bagi anak lelaki, mereka harus memahami bahwa dorongan seksual itu normal tapi juga harus diajari bagaimana cara iseng mereka melepaskan ketegangan seksual seperti menarik tali bra teman sekolahnya itu tidak menjadi pelecehan seksual,” ujarnya.

  8. abisyakir berkata:

    @ Gold Account…

    Zoya itu siapa? Saya kurang tahu, mohon informasinya. “Cara iseng” yang dia sebutkan bisa menjebak. Namanya dorongan seksual, terutama bagi laki-laki (baik remaja mau pemuda), itu sifatnya MERAMBAT SEMAKIN TINGGI. Mula-mula “iseng”, nanti lama-lama “keenakan”, setelah itu jadi “nagih”, setelah itu merasa “belum puas”, setelah “sikat habis”… Ya begitulah tabiat seks manusia normal. Maka itu Al Qur’an menjelaskan “wa laa taqrabuuz zina” (jangan dekati zina). Mendekati zina itu seperti mendekati api ungun. Mula-mula hangat, enak, nyaman, makin dekat makin panas…akhirnya terjerumus dalam api!

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: