Marhaban Ya Ramadhan Karim…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Marhaban ya Ramadhan, marhaban ya Syahral Mubarak wa Syahras Shiyam

Alhamdulillah, akhirnya yang dinanti-nanti sudah di depan mata. Bulan Ramadhan insya Allah kembali mewarnai hidup kita. Ibarat sebuah penantian, kita sudah begitu lama menantikan bulan ini. Inilah bulan suci, bulan rahmat, bulan ibadah, bulan taubat, bulan perbaikan diri, dan bulan dimana Allah Azza Wa Jalla melimpahkan sangat banyak nikmat-Nya kepada kita semua.

Ramadhan memiliki banyak makna dalam hidup kaum Muslimin…

TRADISI IBADAH. Sebagian besar kaum Muslimin menyambut Ramadhan dalam pengertian ini. Ramadhan adalah bulan ibadah yang khas, sebulan penuh puasa, diwarnai aneka rupa dinamika hidup yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Ada tradisi Imsak, tradisi Shalat Subuh, tradisi menanti bedug Maghrib, tradisi Tarawih, dan sebagainya. Seringkali, sifat tradisi itu lebih mendominasi kesadaran Ummat saat berinteraksi dengan Ramadhan.

SEPERTI PENJARA. Bagi orang-orang yang lemah iman dan bergumul dengan maksiyat, Ramadhan dianggap “siksaaan berat”. Di bulan ini biasanya mereka tidak puasa, tidak menjalankan ibadah seperti yang lainnya. Mereka begitu berat dengan datangnya bulan suci ini, ingin rasanya jika bulan ini cepat berlalu; sebab selama ia masih ada, pintu-pintu kebebasan hawa nafsu yang mereka ingini tidak tercapai. Inilah tipe manusia yang dijauhkan dari rahmat Allah. Nas’alullah al ‘afiyah.

BULAN PENCITRAAN. Bagi orang-orang tertentu, terutama elit politik, Ramadhan menjadi momen istimewa untuk menunjukkan diri sebagai komunitas yang Islami. Soal setiap hari setiap waktu mereka menghujat agama, melecehkan, mendukung sekularisme, bergelimang politik kotor, dan korupsi; itu urusan lain. Pokoknya, selama Ramadhan tiba, semuanya mendadak menjadi “shalih dan santri”. Masyarakat awam sering terperdaya oleh gaya “srigala berbulu domba” ini.

PANEN BISNIS. Ada lagi yang jauh-jauh hari sudah mencium aroma harum, gemerincing keuntungan bisnis tak terkira besarnya. Ramadhan sepanjang tahun dianggap sebagai “titik kulminasi” pencarian profit. Konon, untung di bulan ini bisa menyamai semua untung di bulan-bulan lain. Para pedagang sudah SIAGA 1 sejak beberapa bulan sebelum. Pasar Tanah Abang Jakarta misalnya, ramainya sebelum Ramadhan waduh-waduh….sudah macet sekali. Di mata kaum ini, bisnis adalah hakikat bulan puasa itu sendiri. Ramadhan adalah bisnis; bisnis adalah Ramadhan. Masya Allah…

SEBAGAI PERMULAAN. Bagi anak-anak, remaja Muslim, bagi pemuda, orang dewasa, atau siapa saja yang baru menyelami dunia Islam; Ramadhan menjadi momen paling tepat untuk mulai melakukan perjalanan spiritual dan membuat prestasi-prestasi ibadah. Anak-anak, remaja, dan berbagai generasi sangat gembira menyambut bulan suci. “Inilah yang begitu lama dinanti. Disini aku berkesempatan menjadi insan yang lebih baik. Disini langkah awal menjadi insan shalih, insya Allah.”

PEMBERSIHAN, KEMAJUAN, ISTIQAMAH. Inilah sebaik-baik maqam bagi orang-orang beriman. Ramadhan menjadi bulan Tazkiyatun Nufus, untuk membersihkan jiwa dan qalbu. Ramadhan bulan ampunan dan taubat. Di bulan ini pula kita dapati momen ideal untuk “naik pangkat” di sisi Rabbul ‘alamiin. Kita seperti menaiki tangga, semakin mendekat kepada Allah Azza Wa Jalla. Dan di bulan ini pula kita banyak-banyak berdoa meminta 3 anugerah inti: Mendapati hayatan thaiyibah (kehidupan yang baik), sifat keimanan dan keshalihan yang istiqamah, dan akhir kehidupan husnul khatimah.  Setiap mukmin pasti mendambakan kebaikan-kebaikan ini; karena disanalah hakikat hidupnya dan untuk itu mereka berjuang di dunia.

Bulan Ramadhan-mu adalah seperti apa yang paling engkau ingini darinya. Mendambakan Ramadhan sebagai berkah, kemuliaan, dan tadzakkur kepada Allah Ta’ala; maka engkau akan mendapatinya. Begitu juga, bila dalam hamparan bulan ini, pernak pernik dunia yang engkau tuju; hal itu pula yang kan sampai padamu. Kata Nabi Saw, “Wa li kulli imri’in maa nawa” (bagi setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya).

Doa terbaik yang kita pinta: semoga Ramadhan ini menjadi bulan takwa, menuntun langkah kita menuju takwa, meningkatkan sifat takwa kita, membentuk hidup kita lebih takwa kepada-Nya, menjadikan kita hamba-hamba muttaqin, membuat kita berhak menerima fadhilah hamba-hamba yang bertakwa, menambah jumlah kaum yang shalih dan takwa; serta dengan-nya kita dibukakan Daarul Qarrar (tempat menetap) bagi orang-orang muttaqin, yaitu surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bulan Ramadhan adalah bulan di mana di dalamnya diturunkan Al Qur`an, sebagai Al Huda (petunjuk) bagi manusia, dan penjelasan atas petunjuk itu, sekaligus sebagai pembela (al haq dan al bathil). Maka siapa yang menjumpai bulan itu, hendaklah dia berpuasa. Bagi siapa yang sakit, atau berada dalam safar, maka hendaklah membayar (kehilangan puasa) pada hari-hari lain (di luar Ramadhan). Allah hanya menginginkan kemudahan bagi kalian, dan tidaklah Dia menginginkan kesulitan bagi kalian. Maka hendaklah kalian menyempurnakan bilangan puasa (berpuasa sebulan penuh), dan kalian bertakbir membesarkan Allah sebagaimana yang kalian telah ditunjuki caranya (menutup bulan Ramadhan dengan Shalat Idul Fitrhri dan banyak-banyak bertakbir).” [Al Baqarah: 185].

Marhaban ya Ramadhan, Syahral Mubarak wa Syaras Shiyam, nafrahu bi qudumiha wa nas’alu ilallahi katsira min ni’matihi wa barakatihi wa fadhlihi wa maghfiratihi ‘inda hadzihis Syahril Mubarak. Amin Allahumma amin.

(Abah Syakir).

Iklan

9 Responses to Marhaban Ya Ramadhan Karim…

  1. nadiananda berkata:

    Penulisannya mengingatkan ane pada kawan ane nun jauh disana..

  2. ratna widiyanti berkata:

    Hidup ane katanya berantakan om ditambah rambut ane,, tapi kalo udah baca artikel kok berubah jadi rapi yaaa.. Hehehe.. 😛

  3. ratna widiyanti berkata:

    Kisah terbaik kehidupan adalah kisah yang diangkat dari kehidupan nyata.. 🙂

  4. gold account berkata:

    Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. Dan pada tahun akan diwafatkannya, beliau beri’tikaf selama 20 hari (HR. Bukhari dan Muslim). I’tikaf merupakan ibadah yang berkumpul padanya bermacam-macam ketaatan; berupa tilawah, shalat, dzikir, doa dan lainnya. Bagi orang yang belum pernah melaksanakannya, i’tikaf dirasa sangat berat. Namun, pastinya ia akan mudah bagi siapa yang Allah mudahkan. Maka siapa yang berangkat dengan niat yang benar dan tekad kuat pasti Allah akan menolong. Dianjrukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir adalah untuk mendapatkan Lailatul Qadar. I’tikaf merupakan kegiatan menyendiri yang disyariatkan, karena seorang mu’takif (orang yang beri’tikaf) mengurung dirinya untuk taat kepada Allah dan mengingat-Nya, memutus diri dari segala kesibukan yang bisa mengganggu darinya, ia mengurung hati dan jiwanya untuk Allah dan melaksanakan apa saja yang bisa mendekatkan kepada-Nya. Maka bagi orang beri’tikaf, tidak ada yang dia inginkan kecuali Allah dan mendapat ridha-Nya.

  5. ratna widiyanti berkata:

    Ane selalu belajar dari kisah orang kecil namun berhati besar,, yukk mari sebarkan ilmu seluas-luasnya.. 🙂

  6. ratna widiyanti berkata:

    hehehehe… mudah-mudahan ane pertamax!! Wahh ,, kalah cepet dah.. Hihihi..

  7. siscaamellya berkata:

    hohoho.. Saat Buka Laptop langsung dah baca artikel yang sangat akurat sekali.. 🙂

  8. abisyakir berkata:

    @ Sisca Amllya…

    Semoga bermanfaat ya. Jangan terlalu memuji, ntar ada yang besar kepala… He he he…

    Admin.

  9. siscaamellya berkata:

    Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: