Rumitnya Perselisihan Seputar Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan memuji kebesaran Allah Rabbul Jalil, memohon petunjuk, pengertian, hikmah, serta rahmat-Nya; kami memuji dan membesarkan-Nya, serta mengharapkan ‘inayah dan maghfirah-Nya; shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada As Sayyidul Anbiya’i Wal Mursalin, Muhammad ibnu Abdillah, beserta keluarga dan para shahabatnya.

Di antara masalah-masalah Islam yang kami kenal dan ketahui, maka ikhtilaf dalam penentuan awal Ramadhan, awal Syawal, dan awal Dzul Hijjah (bulan Haji) adalah ikhtilaf yang paling rumit. Biasanya, ikhtilaf itu terjadi atas suatu persoalan, lalu di dalamnya ada beberapa corak pendapat, ada yang begini dan begitu; tetapi dalam ikhtilaf seputar penentuan awal Ramadhan dan Syawal (terutama), unsur-unsur yang terlibat di dalamnya muncul dari berbagai sisi (nanti akan dijelaskan).

Ada sebagian orang berkata: “Kita ini sangat mengherankan. Kita sama-sama berpegang kepada metode rukyat. Mataharinya ya itu, bulannya ya itu. Tetapi kita selalu berselisih paham. Bukanlah kita diperintahkan untuk bersatu padu. Nabi mengatakan, hendaklah kalian berjamaah, karena jamaah itu rahmat, dan janganlah kalian berpecah belah karena perpecahan itu adzab. Bagaimana kita kok bisa selalu berselisih begini?”

Jika ada orang yang berkata demikian, pertanda dia baru mencium ilmu agama. Atau dia sedang berlagak mencari perhatian, dengan mengesankan dirinya sebagai orang yang “paling berakhlak” dibandingkan lainnya. Wahai saudaraku, dalam masalah posisi telunjuk kita saat Tasyahud dalam shalat saja, disana ada beberapa model perbedaan; apalagi dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal yang elemen-elemen pembeda yang bisa membuat perbedaan itu, banyak jumlahnya.

Dalil paling dasar yang digunakan oleh kaum Muslimin untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan, adalah hadits Nabi Saw sebagai berikut:

Shumuu li ru’yatihi wa afthiruu li ru’yatihi, fa in gham-ma ‘alaikum fa akmilul ‘iddata tsalatsina

[mulailah kalian berpuasa dengan melihatnya (bulan sabit), dan berbukalah mengakhiri puasa dengan melihatnya; jika hilal itu terhalang atas kalian, maka genapkanlah bilangan bulan sebelumnya menjadi 30 hari].

(HR. Nasa’i, At Tirmidzi, Ahmad, Al Hakim, Ad Daruquthni, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Abu Ya’la, dari Ibnu Abbas Ra. Sedangkan hadits senada bersumber dari riwayat Abu Hurairah, disebutkan oleh Imam Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, At Thabarani, Ibnu Hibban, At Thayalisi, At Thahawi, Al Baghawi. Keterangan ini merujuk tulisan Ustadz Abduh Zulfidar Akaha berjudul: Perintah Mengawali dan Mengakhiri Ramadhan Karena Melihat Bulan di Multiply).

Dasarnya sama, yaitu hadits di atas, tetapi penafsirannya bisa berbeda-beda. Mari kita lihat pada pandangan lapangan dari para ahli di ormas-ormas Islam…

[1]. Dari ahli falakiyah Nahdhatul Ulama. Dalam setiap Sidang Itsbat, mereka selalu bersuara keras dalam menetapi metode Rukyatul Hilal dengan kaidah Imkanur Rukyah (posibilitas melihat hilal). Kalau hilal belum memungkinkan dilihat, berarti tidak ada hilal, meskipun secara hisab hilal sudah dianggap ada. Mereka beralasan dengan kalimat dalam hadits di atas, “Fa in ghamma ‘alaikum” (jika hilal itu terhalang atas kalian oleh awan). Jadi, meskipun hilal itu sudah ada, sudah bisa dilihat, tetapi jika terhalang mata kita untuk melihatnya karena berbagai faktor (misalnya tertutup awan), ya bilangan bulan digenapkan jadi 30 hari. Artinya -menurut kalangan NU- adanya hilal itu bukan penentu, melainkan posibilitas dilihatnya hilal-lah yang jadi patokan.

[2]. Dari kalangan Muhammadiyah paling sering (dan konsisten) dengan metode hisab. Tetapi metode ini sendiri tetap mengacu kepada penampakan hilal, sebagaimana acuan umum kalender Hijriyah. Artinya, mereka tetap berpendapat berdasarkan ada tidaknya hilal. Hal itu dianggap tetap selaras dengan hadits Nabi Saw di atas. Dalam hal ini, mereka memulai dan mengakhiri Ramadhan tetap mengacu pada hilal. Hanya saja, bentuknya berupa wujudul hilal (atau eksistensi hilal). Jika hilal sudah eksis, meskipun hanya 0,5 derajat di atas ufuk, ya hal itu sudah dianggap masuk bulan baru (padahal menurut para ahli astronomi nasional dan internasional, hilal pada posisi 4 atau 5 derajat di atas ufuk pun, masih sulit dilihat). Dalam pandangan ini, di masa Nabi Saw sarana-prasarana teknologi masih sederhana, sehingga metodenya dengan Rukyatul Hilal murni. Sebagai catatan, di masa Nabi belum ada sistem kalender. Jika kemudian ada sarana teknologi yang lebih akurat (sistem perhitungan astronomi), mengapa tidak digunakan?

Toh, pada dasarnya Islam mengakui adanya metode hisab. “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Surat Yunus: 5].

[3]. Pandangan yang dianut Departemen Agama RI, yaitu menerapkan dua metode sekaligus, Hisabiyah dan Ru’yatul Hilal. Perhitungan hisab sangat dibutuhkan untuk memastikan bulan Sya’ban sudah berusia 29 hari, sehingga di masa itu ada potensi peralihan ke bulan berikutnya; nah, saat peralihan itulah momen paling tepat untuk melakukan Ru’yatul Hilal. Tanpa hasil hisab, sangat sulit menentukan kapan kita akan melakukan Ru’yatul Hilal. Sementara upaya ru’yah sendiri untuk memastikan apakah sudah masuk bulan Ramadhan/Syawal, atau bulan sebelumnya perlu digenapkan?

Dari sini saja sudah bisa dilihat kerumitan perselisihan ini. Apalagi dalam praktiknya, upaya Rukyatul Hilal melibatkan observasi terhadap elemen-elemen alam yang berbeda-beda. Kadang bulan ada di sisi kanan atau kiri matahari; kadang sudut antara bulan dan matahari berbeda-beda; kadang usia hilal berbeda-beda; kadang ketinggian hilal di atas ufuk berbeda, dan seterusnya. (Jadi sangat simplisit kalau ada yang mengatakan: “Mataharinya satu, bulannya satu, mata kita yang melihat; tetapi kenapa ya kok berbeda-beda hasil penglihatannya? Siapa yang salah? Mata kita atau benda-benda langit yang ada disana?”).

Kami coba mengumpulkan perbedaan-perbedaan pandangan seputar penentuan awal Ramadhan dan Syawal ini berdasarkan teori maupun praktik selama ini, dalam skala nasional maupun internasional. Ternyata memang, ruang lingkup ikhtilaf dalam hal ini sangatlah rumit. Tidak sesederhana klaim-klaim retorik yang dibangun berbagai pihak selama ini.

Setidaknya disini ada 7 pola perbedaan pandangan, yang nantinya semua itu akan berpengaruh pada penentuan awal dan akhir Ramadhan (atau awal Syawal), yaitu sebagai berikut:

[A]. Perbedaan antara golongan Rukyat dan Hisab. Ini adalah perbedaan paling elementer. Satu pihak ada yang berpegang kepada metode hisabiyah (seperti Muhammadiyah), dan ada yang berpegang kepada metode rukyat (seperti NU).

[B]. Perbedaan persepsi tentang hilal itu sendiri, antara pihak yang mengacu kepada pedoman Wujudul Hilal (eksistensi hilal) dan Imkanur Ru’yah (mungkin-tidaknya hilal itu bisa dilihat oleh mata). Sebagian kalangan, melalui metode hisabiyah, berpatokan jika hilal sudah ada meskipun hanya 0,5 derajat di atas ufuk, berarti sudah masuk bulan baru. Kalangan lain berpedoman, meskipun hilal secara kalkulasi hisabiyah sudah ada, kalau ia belum bisa dilihat, maka tidak dianggap sudah ada. Seperti kata hikmah, “Wujuduhu ka ‘adamihi” (adanya hilal, seperti tidak adanya saja).

[C]. Perbedaan antara metode rukyat lokal (nasional) dan rukyat global. Kalangan Hizbut Tahrir meyakini adanya kaidah rukyat global, makanya mereka sering mengadakan Shalat Idul Adha dengan melihat momen Wukuf di ‘Arafah. Kalangan Pemerintah RI menetapi model rukyat nasional. Sedangkan kawan-kawan Salafi merujuk kepada hadits “Apakah tidak cukup dengan rukyat Muawiyah”. Dengan hadits terakhir, kawan-kawan Salafi berpandangan bahwa kita tidak harus mengikuti Saudi, tetapi setiap negara punya rukyat sendiri-sendiri. Kalau konsisten dengan hadits “rukyat Muawiyah” itu, mestinya mereka harus melakukan rukyat di setiap provinsi. Mengapa? Karena waktu itu di zaman para Shahabat, sesuai isi hadits tersebut, Madinah punya rukyat sendiri, Syam juga punya rukyat sendiri (rukyat Muawiyah dan masyarakat Syam).

[D]. Perbedaan antara mengikuti keputusan pemerintah atau menentukan keputusan sendiri. Muhammadiyah jelas mandiri dan setia dengan hisab-nya. NU, Persis, Al Irsyad, Dewan Dakwah, Wahdah Islamiyah, dll. mengikuti ketetapan pemerintah. Pihak yang mengikuti pemerintah berdalil dengan prinsip: “Hukmul qadhi yar’faul khilaf” (keputusan hukum oleh hakim mengangkat segala perselisihan). Bilamana terjadi berbagai perselisihan, maka tempat bermuaranya keputusan akhir, ialah mengikuti keputusan pemerintah. Tapi cara demikian mendapatkan kritik, yaitu ketika metode pemerintah dianggap formalitas, dari tahun ke tahun sama saja; sehingga disimpulkan mereka cenderung mengikuti kalender, dengan mengabaikan Sunnah (Ru’yatul Hilal). Disini keputusan hakim Syariat bisa ditaati, selama tidak mematikan Syariat itu sendiri.

[E]. Perbedaan antara mengikuti Arab Saudi atau memutuskan sendiri. Keputusan Pemerintah Saudi sering menjadi patokan. Bukan hanya di Indonesia, di Timur Tengah pun banyak negara-negara disana menanti hasil pengumuman Ru’yatul Hilal pemerintah Saudi. Hizbut Tahrir sendiri melakukan tabanni (adopsi) terhadap hasil keputusan Kerajaan Saudi. Sedangkan kawan-kawan Salafi bersikukuh dengan hadits “Apakah tidak cukup dengan rukyat Muawiyah”; konsekuensinya, mereka mendukung penetapan awal Ramadhan/Syawal sesuai negara masing-masing.

[F]. Perbedaan dalam menggunakan metode kombinasi Hisab-Rukyat. Sebagian kelompok meyakini, hisab sebagai pokok metode, sedangkan rukyat sebagai penguat (konfirmasi). Sebagian yang lain meyakini, rukyat sebagai pokok metode, sementara hisab sebagai penguat (konfirmasi). Melalui momen Sidang Itsbat Depag RI, metode yang dipilih ialah yang kedua: rukyat sebagai pedoman pokok, hisab sebagai penjelas. Muhammadiyah menerapkan metode pertama.

Apa tidak mungkin memakai rukyat murni, tanpa bantuan hisab sama sekali? Secara ekstrim bisa saja dianggap mungkin, tapi dalam konteks modern hal semacam itu hampir mustahil dilakukan. Para ahli rukyat di dunia, betatapun tidak bisa melepaskan diri dari hasil-hasil perhitungan hisab. “Jadi, tolonglah jangan terlalu sensi,” begitulah ungkapannya.

[G]. Perbedaan antara mencukupkan diri dengan metode keagamaan murni atau dengan bantuan teknologi astronomi. Ada dua nama pakar astronomi nasional yang selalu “menjadi langganan media” jika muncul khilaf seputar penentuan awal Ramadhan/Syawal ini, yaitu Prof. Dr. Thomas Djamaluddin dan Dr. Moeji Rahardjo (Kepala Observatorium Boscha Lembang). Seakan keluasan ilmu astronomi terkonsentrasi di tangan kedua bapak ini…he he he (becanda). Kalangan Muslim tradisionalis cenderung berpedoman kepada sarana-sarana ilmu keagamaan murni, sedangkan yang modern bersikap welcome terhadap pemanfaatan sarana teknologi.

KESIMPULAN 1: Jadi silang-selisih seputar penentuan awal Ramadhan/Syawal ini begitu komplek, melibatkan banyak unsur-unsur perbedaan. Siapa saja yang melihat masalah ini secara simple, dia akan salah menyimpulkan. Atas dasar kenyataan seperti ini, ke depan saya pribadi akan bersikap lebih bijaksana, insya Allah.

Pertanyaannya, mengapa di negara-negara lain seperti Malaysia, Brunei, Saudi, Mesir, dan lainnya mereka lebih mudah bersepakat; sedangkan kita hampir setiap tahun berbeda pendapat terus?

Jawabannya: Yang bisa mengatasi perbedaan ini ialah sikap tegas negara. Hal itu pernah terjadi di masa-masa kita dulu di era Orde Baru. Tetapi syaratnya, negara disini harus kuat dan berwibawa, agar dihargai rakyatnya. Sementara sejak Reformasi 1998, kewibawaan pemerintah RI sudah sangat merosot. Pemerintahan RI seringkali dikalahkan oleh opini media, sikap partai politik, dan sikap independen ormas-ormas. Bagaimana negara akan bersikap tegas di atas ikhtilaf yang rumit, sementara dirinya sendiri tidak berwibawa?

Tapi di masa Rasulullah Saw dulu, meskipun sistem tata-negaranya masih sederhana, disana posisi pemerintah begitu kuat, sehingga bisa mengatasi segala perbedaan. Nah itulah, dimana negara berwibawa, keputusan-keputusannya akan ditaati. Kalau negaranya slengehan atau mencla-mencle, siapa yang akan mentaati? Kewibawaan pemerintah sangat penting, kalau para pemimpin politik memahami hal itu.

Lalu, bagaimana sikap kami sendiri ketika dihadapkan pada “rutinitas” perbedaan seputar penentuan awal Ramadhan/Syawal ini?

Pertama: Kami selalu merujuk kepada hasil rukyat hilal (observasi hilal), sesuai Sunnah Nabi Saw dalam hadits di atas. Karena kami belum mampu melakukan rukyat sendiri, otomatis kami menanti hasil rukyat dari pihak-pihak yang kompeten.

Kedua: Untuk mengawali Ramadhan, rata-rata kami merujuk kepada hasil Sidang Itsbat Departemen Agama RI. Menurut kami, mereka memiliki metode yang kredibel. Tetapi untuk mengakhiri shaum Ramadhan, kami tidak selalu mengikuti hasil Sidang Itsbat Departemen Agama RI (dijelaskan di poin berikutnya).

Ketiga: Untuk mengakhiri shaum Ramadhan, kami seringkali menghitung jumlah puasa yang sudah kami lakukan. Kalau hitungan sudah mencapai 29 hari, kami bersiap-siap membatalkan puasa esok harinya. Dalilnya, sebagian besar puasa Rasulullah Saw dan para Shahabat adalah 29 hari. Untuk memastikan apakah besok kami membatalkan puasa atau tidak, tetap menunggu informasi seputar Rukyatul Hilal.

Kejadian yang sering terjadi, kami sudah puasa 29 hari, lalu Sidang Itsbat Depag RI menentukan puasa digenapkan menjadi 30 hari; lalu ada informasi independen yang mengatakan, bahwa hilal sudah terlihat di daerah tertentu. Jika demikian, maka kami biasanya akan membatalkan shaum pada hari ke-30. Jadi cukup berpuasa 29 hari saja. Mengapa demikian? Karena sudah dikenal di Indonesia, hasil Sidang Itsbat rata-rata nanti akan berujung ISTIKMAL (menggenapkan bulan sebelumnya). Namun jika tidak ada informasi satu pun seputar hasil Rukyat Hilal, kami akhirnya kembali ke keputusan Sidang Itsbat pemerintah.

Dalil yang menjadi acuan kami adalah perkataan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa Nabi Saw jika berhadapan dengan dua perkara yang sama-sama halalnya, beliau memilih perkara yang paling ringan. (Merujuk Riyadhus Shalihin Imam Nawawi, bab “Sikap sederhana dalam ketaatan”). Jika berpuasa 29 hari halal, dan 30 hari juga halal, maka memilih yang lebih ringan dari keduanya lebih sesuai Sunnah Nabi Saw. Tetapi dengan tetap merujuk informasi Rukyatul Hilal, sebab itu patokan utamanya.

Keempat: Di atas sikap yang kami pilih, tetap memberikan toleransi dan menghormati saudara-saudara sesama Muslim dan ormas Islam yang berbeda dalam momen Idul Fithri-nya. Kadang, saat kami sudah berbuka, kaum Muslimin lain masih shaum; saat mereka menjalankan Shalat Id, kami sendiri sudah melaksanakan pada hari sebelumnya.

KESIMPULAN 2: Perbedaan pendapat dalam penentuan awal Ramadhan/Syawal sungguh rumit dan komplek. Unsur-unsur disparitas di dalamnya begitu banyak. Hal seperti ini bisa diatasi, jika pemerintah memiliki wibawa sehingga bisa bersikap tegas. Maksudnya, mereka telah menunaikan hak-hak rakyat dengan baik, lalu wibawa mereka tinggi di mata rakyat; sehingga jika mereka memutuskan sesuatu, rata-rata didukung rakyat. Sementara kita tahu sendiri, bagaimana keadaan bangsa Indonesia, pasca Reformasi 1998 sampai era Liberalisme saat ini? Jadi, sumber perbedaan itu memang sudah ada pada metodologi ilmiah Hisab-Rukyat; lalu ditambah kelemahan wibawa pemerintah. Itulah yang membuat perselisihan ini terus berlangsung.

Tampaknya sangat sulit berharap semua ini akan selesai dan tuntas begitu saja. Potensi perbedaan di masa depan akan senantiasa ada, sebaimana perbedaan itu sudah terjadi sejak zaman ulama-ulama Salaf dulu. Maka kami sangat berharap kaum Muslimin dalam hal ini bersikap bijaksana, yaitu antara lain:

[1]. Menyadari bahwa perbedaan ini ada dan nyata, lalu kita ikhlas dengan hal itu. Biarlah Allah Ta’ala yang nanti akan menyelesaikan semua ini, dengan rahmat dan ‘inayah-Nya.

[2]. Mengambil sikap untuk memilih pendapat ini atau itu, secara sadar, yaitu dengan dalil-dalil ilmu dan informasi. Dalil ilmu maksudnya ialah ilmu-ilmu Syariat; sedangkan informasi ialah berita seputar perkembangan Rukyatul Hilal.

[3]. Bersikap toleran, lapang dada, dan menghormati sesama Muslim yang berbeda pendapat. Tidak menjadikan sikap memilih suatu pendapat sebagai sarana untuk merendahkan atau melecehkan pihak lain.

[4]. Berdoa dan memohon kepada Allah Ta’ala agar kaum Muslimin disatukan di atas Tali Persatuan Ummat. Amin Allahumma amin.

Demikian makalah sederhana ini disusun dengan segala kerendahan diri di hadapan Rabbul ‘alamin. Semoga yang kecil dan sederhana ini bermanfaat. Semoga Allah Ta’ala memberkahi kami, Anda, dan Ummat Islam seluruhnya. Semoga kita diberkahi sebaik-baik bulan Ramadhan dan keberkahan ibadah di dalamnya. Dan Semoga Allah Al Aziz menolong penderitaan saudara-saudara kita di seluruh dunia Islam, khususnya kaum Muslimin Rohingnya di Myanmar dan kaum Sunni di Suriah.

Allahummanshurhum wa iyyana ya Arhama Rahimin ‘alal kuffari wal musyrikina waz zhalimina wal mufisidina, innaka Anta Maulana nikmal Maula wa nikman Nashir. Allahummanshurhum warham li hayatihim, wa nisaa’ihim wa abnaa’ihim, innaka Antas Sami’ud dua’. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abinya ‘Aisyah, Fathimah, Khadijah).

Iklan

12 Responses to Rumitnya Perselisihan Seputar Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal

  1. Kanghari berkata:

    Sama klo gitu mas,, jadi awal puasa ikut yang belakangan, sedangkan untuk lebaran ikut yang duluan 🙂

  2. Beasiswa berkata:

    (1) Mohon dijelaskan mengenai “rukyah Muawiyah”.

    (2) Nation-state hanya dikenal setelah pertengahan abad 20, lalu kenapa hasil rukyah itu hanya mengikat satu kesatuan nation-state, kenapa tidak, misalnya rukyah di Malaysia atau negara lain itu juga di pakai di Indonesia. Adakah preseden yang menjelaskan itu?

  3. abisyakir berkata:

    @ Beasiswa…

    أن أم الفضل بعثته إلى معاوية بالشام، فقال: فقدمتُ الشام، فقضيت حاجتها، واستُهلَّ علي رمضان ُ وأنا بالشام، فرأيت الهلال ليلة الجمعة، ثم قدمتُ المدينة في آخر الشهر، فسألني عبد الله بن عباس، ثم ذكر الهلال، فقال: متى رأيتم الهلال؟ فقلت: رأيناه ليلة الجمعة، فقال: أنت رأيتَه؟ فقلت: نعم، ورآه الناس وصاموا، وصام معاوية، فقال: لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نُكْمِل ثلاثين أو نراه، فقلت: ألا نكتفي برؤية معاوية وصيامه؟ فقال: لا، هكذا أمَرَنا رسول الله صلّى الله عليه وسلم

    Bahwa Ummu Fadhl telah mengutus dia (Kuraib) kepada Muawiyah di Sam. Dia (Kuraib) berkata: “Maka aku tiba di Syam dan menyesaikan kebutuhan Ummu Fadhl. Ramadhan tiba dan saya ada di Syam. Saya melihat hilal malam Jumat. Kemudian saya tiba di Madinah pada akhir bulan Ramadhan, lalu Ibnu Abbas bertanya kepadaku, lalu dia menyebut persoalan hilal. Dia bertanya, ‘Kapan kamu melihat hilal?’ Saya jawab, ‘Kami melihatnya malam Jumat.’ Dia bertanya,’Kamu melihatnya sendiri?’. Saya jawab,’Ya. Orang-orang juga melihatnya lalu mereka berpuasa dan berpuasa juga Muawiyah.’ Ibnu Abbas berkata,’Tapi kami melihatnya malam Sabtu. Maka kami tetap berpuasa hingga kami sempurnakan 30 hari atau hingga kami melihat hilal.’ Saya berkata,’Tidakkah kita mencukupkan diri dengan rukyat dan puasanya Muawiyah?’ Ibnu Abbas menjawab,’Tidak, demikianlah Rasulullah SAW memerintahkan kita.” (HR Jamaah, kecuali Bukhari dan Ibnu Majah).

    Penjelasan: Kuraib, Muawiyah, dan penduduk Syam melihat hilal awal Ramadhan pada malam Jum’at (atau Kamis malam), sehingga esok harinya pada hari Jum’at mereka mulai puasa Ramadhan. Ketika Kuraib kembali ke Madinah, terjadi dialog dengan Ibnu Abbas. Ibnu Abbas bertanya, kapan Ramadhan dimulai di Syam? (Ya mungkin seperti kondisi kita kalau bertemu kawan atau kenalan, sering bertanya: “Kamu puasa ikut hari apa?” Atau misalnya, “Kamu lebaran ikut hari apa?”). Ternyata, menurut Ibnu Abbas, awal Ramadhan di Syam berbeda dengan di Madinah. Di Madinah, hilal baru kelihatan pada malam Sabtu (Jum’at malam), sehingga baru mulai puasa pada esok harinya atau Sabtu. Disini, Ibnu Abbas menjelaskan, bahwa Rasulullah Saw memerintahkan agar setiap negeri mengacu kepada hilal masing-masing.

    Hal itu yang menjadi dasar bagi kawan-kawan Salafi untuk mengikuti hasil rukyatul hilal di Indonesia sendiri; dengan tidak mengikuti hasil rukyat dari Saudi. Alasannya, ya hadits tersebut. Tapi disini ada masalah. Madinah dan Syam, waktu itu sama-sama dalam satu wilayah negeri Islam; tetapi memiliki rukyat masing-masing. Kalau di Indonesia, mungkin setiap PROVINSI harus memiliki rukyat sendiri-sendiri. Disini ada musykilah-nya. Kalau mengikuti hadits Kuraib Ra, patokannya ialah sebuah negeri (wilayah), semacam provinsi; bukan sebuah negara kesatuan secara keseluruhan. Jadi kalau konsisten dengan hadits itu, mestinya DKI Jakarta, Jabar, Lampung, Sulsel, Sumbar, dll. harus punya rukyat sendiri-sendiri.

    Nation-state hanya dikenal setelah pertengahan abad 20, lalu kenapa hasil rukyah itu hanya mengikat satu kesatuan nation-state, kenapa tidak, misalnya rukyah di Malaysia atau negara lain itu juga di pakai di Indonesia. Adakah preseden yang menjelaskan itu?

    Komentar: Iya benar, memang negara-negara nasionalis Muslim begini, baru dikenal sejak abad 20. Sebelumnya kaum Muslimin selalu patuh dengan Kesatuan Khilafah Islamiyyah, sesuatu yang kini tlah tiada. Kalau ada kesatuan Khilafah, ia bisa menghapuskan perbedaan dan perselisihan. Kita bisa sepakat dengan 1 momen awal Ramadhan/Syawal, sesuai keputusan Khilafah. Pendapat Ibnu Abbas tentang rukyat setiap provinsi, BISA DITEPISKAN, demi menjaga persatuan Ummat.

    Soal preseden tertentu dalam hal ini, saya tidak tahu. Wallahu a’lam bisshawaab. Mungkin saja ada, sekali lagi wallahu a’lam bisshawaab.

    Admin.

  4. herizal berkata:

    KESAKSIAN RUKYATUL HILAL DI SAUDI PADA KAMIS 19- JULI- 2012:
    Oleh: KH.Khaeruddin Khasbullah

    Seperti kita ketahui bersama dari berita dunia bahwa Saudi Arabia telah menetapkan Awal Shiyam 1433 H jatuh pada hari Jum’at, 20- Juli- 2012. Padahal dari perhitungan astronomis, pada hari Kamis 19- Juli- 2012 posisi Hilal disana BELUM IMKAAN RUKYAT – sama seperti di Indonesia. (Lihat peta Imkaan Rukyat Dunia)

    GAMBAR DAERAH IMKAAN RUKYAT DUNIA
    Ternyata di Saudi juga mengalami hal yang hampir serupa dengan kasus di indonesia , yakni sebagian besar titik pengamatan tidak berhasil merukyat, hanya dilaporkan Hilal dapat dirukyat didaerah Sudair dan Shagra, sebagaimana NEWS dibawah ini:
    1. Not Seen: Luqmaan Williams (MCW member) from Ta’if reported: I was in Makkah tonight (Thursday), July 19th. Clear skies but did not sight the crescent.
    # 1.Hilal Tidak terihat: Luqmaan Williams (Anggota MCW ) dari Thaif melaporkan: Aku berada di Makkah malam ini (Kamis), Juli 19. Langit cerah tapi tidak terlihat Hilal.
    2. Seen (Saudi Announcement): Mrs. Lubna Shawly (MCW member) from Jiddah reported: It is announced in the Saudi courts, according to the observation of the new moon (moon is sighted in areas of Sudair & Shagra), and that the first day of Ramadan for the year 1433 Hijrah will be on Friday the 20th of July 2012. Moonsighting.com opinion is that this is a mistaken claim of sighting.
    #2. Hilal dapat Dilihat (Pengumuman Resmi Pemerintah Saudi):Ibu Lubna Shawly (Anggota MCW ) dari Jeddah melaporkan bahwa:Keberhasilan melihat Hilal ini diumumkan oleh Pengadilan Saudi, menurut pernyataan ini, saat dilakukan observasi/ pengamatan, Hilal dapat terlihat di wilayah Sudair & Shagra, dan oleh karena itu bahwa hari pertama Ramadhan tahun 1433 H akan jatuh pada hari Jumat tanggal 20 Juli 2012.
    Catatan: Menurut Pendapat Website Rukyatul Hilal/ Moonsighting.com bahwa: “Ini adalah pernyataan yang keliru tentang Rukyatul Hilal”. (Sebagaimana terjadi pada saat menentukan 1 Syawal 1432 H. Lihat: Penentuan 1 Syawal 1432 H Di Saudi Menyisakan Polemik.

    Kasus ini sebenarnya mirip dengan kasus yang terjadi di Indonesia dimana LEMBAGA ALHUSINIYYAH yang mengadakan pengamatan di Cakung Jakarta menyatakan dapat berhasil melihat Hilal, bedanya, kesaksian di Saudi di terima sedang di Indonesia kesaksian tersebut ditolak – karena posisi ketinggian hilal secara pengalaman emphiris dikedua tempat tersebut masih belum memungkinkan untuk dapat dirukyat.

    KESAKSIAN TERSEBUT SEHARUSNYA DITERIMA ATAU DITOLAK?
    Penulis tidak akan berpanjang- panjang membahas hal ini karena masalah ini masih masuk kedalam wilyah ikhtilafiyah (debatable), namun perkenankan sekedar membawakan dua pendapat berbeda bersumber dari sebuah KITAB KUNING yang sering menjadi rujukan khususnya bagi kalangan Pesantren di Indonesia. Pernyataan tersebut adalah sebagaimana termaktub dalam Kitab I’anatut Tholibin Juz II halaman 216:

    “Dan dalam Kitab Mughnil Khotib disebutkan sebagai berikut: Jika seseorang atau dua orang bersaksi dapat melihat Hilal sedang secara astronomis matematis adalah tidak mungkin melihat Hilal, Imam Subky menyatakan: “Kesaksian itu tidak dapat diterima – karena ilmu astronomi matematis itu bersifat PASTI (Exacta) sedangkan “kesaksian” itu DHONNY (persangkaan), maka Dhon itu tidak bisa dihadapkan melawan sesuatu yang bersifat pasti”. Dan Imam Subky dengan panjang lebar membahas masalah tersebut. Adapun pendapat yang MU’TAMAD / yang dapat dipegangi (menyatakan) penerimaannya (atas kesaksian itu) karena perhitungan hisab/ astronomy itu tidak ada landasan hokum syar’inya (berbeda dengan rukyat yang berdasar hadist Nabi)….. Wallohu A’lam.

  5. gusiadi berkata:

    ruwet ya.kalau diringkes bisa ngak ya

  6. abisyakir berkata:

    @ Gusiadi…

    Ya intinya begini lah… Sebagaimana judulnya, perselisihan ini memang ruwet. Jangankan kita, wong para ahli-ahli agama saja juga kerepotan dalam menyikapinya. Kita bisa lihat itu setiap momen Sidang Itsbat di TV. Hal itu menandakan bahwa masalah ini memang rumit.

    [1]. Ada dua metode penentuan kalender: Cara rukyat dan cara hisab. Masing-masing punya dalil, tapi cara rukyat lebih sesuai Sunnah Nabi Saw, meskipun terasa tidak praktis, karena penentuan momen awal Ramadhan/Syawal dilakukan menjelang setiap pergantian bulan ke Ramadhan/Syawal itu. Metode hisab lebih praktis dan akurat, tetapi tidak sesuai Sunnah.

    [2]. Sikap kaum Muslimin rata-rata terbagi dua: Mengikuti penetapan oleh pemerintah negara Muslim (seperti Indonesia) atau memilih penetapan sendiri-sendiri. Yang sesuai Syariat, ialah mengutamakan Persatuan Kaum Muslimin. Boleh kita memilih sikap berbeda, tetapi jangan membesar-besarkan masalah itu, agar tidak memantik pertikaian di antara Ummat Islam. “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an wa laa tafarraquu” (berpegang-teguhlah kalian kepada tali agama Allah secara berjamaah, dan janganlah kalian bercerai-berai). Ali Imran: 103.

    Begitu Pak kurang lebih. Semoga bermanfaat. Amin.

    Admin.

  7. Muslim berkata:

    Kedua: Untuk mengawali Ramadhan, rata-rata kami merujuk kepada hasil Sidang Itsbat Departemen Agama RI. Menurut kami, mereka memiliki metode yang kredibel. Tetapi untuk mengakhiri shaum Ramadhan, kami tidak selalu mengikuti hasil Sidang Itsbat Departemen Agama RI (dijelaskan di poin berikutnya).

    Ketiga: Untuk mengakhiri shaum Ramadhan, kami seringkali menghitung jumlah puasa yang sudah kami lakukan. Kalau hitungan sudah mencapai 29 hari, kami bersiap-siap membatalkan puasa esok harinya. Dalilnya, sebagian besar puasa Rasulullah Saw dan para Shahabat adalah 29 hari. Untuk memastikan apakah besok kami membatalkan puasa atau tidak, tetap menunggu informasi seputar Rukyatul Hilal.

    Saya kok merasa Anda tidak konsisten. GIliran awal Ramadhan, mengikuti hasil sidang itsbat dengan alasan mereka memiliki metode yang kredibel, tapi giliran akhir ramadhan kok ga selalu mengikuti hasil sidang itsbat, seperti pada tahun kemarin yang Anda menentang keputusan pemerintah?

    Jika Anda mengikuti hasil sidang itsbat untuk awal Ramadhan dengan alasan mereka memiliki metode yang kredibel , seharusnya Anda juga mengikuti hasil sidang itsbat untuk akhir Ramadhan, karena mereka memiliki metode yang kredibel. Ini baru konsisten.

    Jika tidak seperti itu, mudah-mudahan bukan karena hawa nafsu, awal Ramadhan cari yang paling lambat, giliran akhir Ramadhan cari yang paling cepat.

  8. abisyakir berkata:

    @ Muslim…

    Sebelumnya, syukran jazakumullah atas komen dan kritik yang Antum sampaikan. Saya coba jawab apa adanya ya…

    1. Intinya, bagi saya, untuk mengawali Ramadhan dan Syawal, selalu dengan rukyatul hilal, bukan hisab. Dalilnya, “Shumuu li ru’yatihi wa afthiruu li ru’yatihi.” Jadi mau awal Ramadhan atau awal Syawal, saya merujuk kesana.

    2. Semula saya termasuk mengapresiasi rukyatul hilal di Cakung. Tetapi menurut para pakar rukyat, kitab pegangan (kitab Sulam) yang digunakan untuk rukyat Cakung itu masih kasar. Ada yang lebih teliti dari itu. Sedangkan kemarin, sisi kurang bagusnya; mereka menetapkan hilal sudah terlihat, sebelum waktu Maghrib tiba (menurut sebagai kritikus). Dari sisi ini, metode yang dijadikan rujukan Depag RI lebih kredibel.

    3. Untuk tahun lalu, saat penentuan 1 Syawal, bukan 1 Ramadhan; saya memang mendahulukan rukyatul hilal, termasuk menerima hasil rukyat Cakung. Tapi informasi rukyat itu bukan hanya dari Cakung, tapi ada daerah lain yang mengaku telah melihat juga.

    4. Kalau saya disebut “tidak konsisten”, okelah tidak apa. Tapi bukan berarti saya “mengambil mana enaknya”. Bukan begitu. Kira-kira sikap saya sebagai berikut: Untuk memulai awal Ramadhan, saya memilih menanti sidang Itsbat Depag RI. Ini sering terjadi demikian dalam puasa kami. Untuk penentuan awal Syawal, saya cenderung menghitung berapa lama kami telah puasa. Kalau sudah 29 hari, kami akan cari sumber-sumber rukyat hilal yang bisa menguatkan sikap berbuka pada esok harinya. Dalilnya ialah, karena sebagian besar puasa Rasulullah Saw adalah 29 hari, hanya sekali saja Istikmal (digenapkan 30 hari); sebaliknya, kalau Depag RI rata-rata Istikmal dari tahun ke tahun.

    5. Meskipun misalnya, saya mengambil puasa 29 hari, atau berbeda dengan pengumuman pemerintah yang sering istikmal 30 hari; saya tetap berusaha menjaga orang-orang yang shaum di sekitar. Kalau tahun lalu ada kesan saya “marah” atau “membangkang”…karena tidak setuju kalau pemerintah menafikan begitu saja hasil positif rukyatul hilal dari beberapa daerah (Cakung dan lainnya). Apalagi kalau alasannya, “istikmal always forever”.

    ‘Ala kulli haal, kalau masih terlihat sikap tidak konsisten, ya saya terima sebagai kritik; untuk diperbaiki di masa ke depan. Syukran jazakumullah khair atas masukannya.

    Admin.

  9. Ensanoer berkata:

    Bissmillahirrohmaanirrohiim.
    Jujur saja…, sedih dan prihatin kita selaku muslim (khususnya di Indonesia), setiap kali mengawali dan mengahiri romadhon, bahkan menetapkan tgl 10 Dzulhijjahpun kita mesti ribet dan ribut. Tidak cukupkah Al Qur’an yang sangat sempurna menjadi solusi untuk keluar dari keadaan ini? Kalau kita anggap tidak cukup dan tidak bisa menyelesaikan ini, jangan-jangan kita anggap qur’an masih ada kekurangan, bahkan kita sedikit meragukan akan Al Qur’an? dan pemikiran2 kita yang jauh lebih sempurna? Saya yakin tidaklah demikian, karena sikap seperti ini akan mencederai keimanan dan ketauhidan kita. Lalu? Berati Qur’an telah sangat sempurna untuk menjadi solusi setiap permasalahan apapun, tak terkecuali dalam masalah hilal untuk penentuan awal/akhir romadhon dan penentuan tgl 1 dan 10 dzulhijjah, dan kalau begitu letak kesalahan dan kekurangan ada pada kita (manusianya), karena masing2 telah terbelenggu oleh ego dan kepentingan.
    Kita harus akui bahwa Islam saat ini telah terkapling-kapling baik secara teritorial (negara), ormas-ormas bahkan partai. Jadi kalau saya di Indonesia mulai shoum hari jum’at maka saya dianggap Islam Muhammadiyah, sedang kalau saya mulai shoum hari sabtu saya Islam NU. Padahal kita kan harus ” wa anaa minal muslimin?
    Sebenarnya Addienul Islam punya siapa sih?
    Islam punya Alloh, Qur’an punya Alloh, bulan punya Aloh, tanggal punya Alloh, waktu punya Alloh, dan kita juga punya Alloh. Kalau begitu…. kita kembalikan bagaimana yang Punya saja laah… dalam artian kita semua pihak harus mengembalikan persoalan ini menurut Alloh dalam Al-Qur’an tentang penanggalan (hijriyah)?
    Asal semua pihak tidak “istaghna”….saya yakin bisa terselesaikan.

  10. anton berkata:

    sepertinya penulis lebih memilih pendapat muhammadiyah
    bagaimana dgn link ini: http://muslim.or.id/ramadhan/menentukan-awal-ramadhan-dengan-hilal-dan-hisab.html

  11. abisyakir berkata:

    @ Anton…

    Ya, saya mengikuti Sunnah itu Pak Anton, bahwa mengawali dan mengakhiri Ramadhan dengan Rukyat Hilal. Tidak menganut hisab murni.

    Admin.

  12. silver price berkata:

    Yaitu usaha melihat hilal dengan mata biasa dan dilakukan secara langsung atau dengan menggunakan alat, yang dilakukan setiap akhir bulan Qomariyah (tanggal 29) di sebelah barat ketika matahari terbenam. Jika hilal berhasil dilihat, maka sejak malam itu sudah dihitung tanggal baru bulan baru. Sebaliknya, jika tidak berhasil dilihat maka malam dan keesokkan harinya masih merupakan bulan yang sedang berjalan, sehingga umur bulan tersebut digenapkan 30 hari. Tetapi perlu diketahui, bahwa sistem rukyat ini hanya bisa dilakukan untuk kepentingan pelaksanaan ibadah, dan tidak bisa diaplikasikan untuk menyusun kalender. Sebab penyusunan kalender harus diperhitungkan jauh sebelumnya dan tidak tergantung pada hasil rukyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: