Harga Sebuah KONSISTENSI

Juli 12, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Pagi, 12 Juli 2012, sehari pasca Pilkada DKI putaran satu. Seorang sahabat senior mengkritik PKS yang katanya tidak konsisten. Justru PDIP yang jelas-jelas partai nasionalis (sekuler) malah konsisten. Beliau berkata kira-kira, “Selugu-lugunya Megawati, dia sejak dulu sampai sekarang tetap anti SBY. Beda dengan partai-partai Islam, malah seperti laron dan walang.”

Lebih keras lagi kritik beliau ke PAN, PKB, PPP. Partai-partai ini nyaris tidak punya harga diri, mencla-mencle, tukang jilat kesana-sini. Saya hanya tertawa mendengar kritikan yang penuh semangat itu. Apalagi saat beliau menyebut mereka seperti laron dan walang (belalang), tambah meriah saja rasanya. Seperti misal, tadinya PPP mendukung Alex Noerdin; tapi menjelang Pilkada menyebrang ke Foke-Nara. Begitu Pilkada, apes-lah para belalang dan laron itu; Foke tidak seideal yang diharapkan.

Kalau melihat kenyataan begini…saya ada kekhawatiran, nanti para politisi berlabel Islam itu, mereka akan ramai-ramai menjadi penyanyi Dangdut; atau menciptakan goyang “lebih ngebor” dari versi Inul; atau membentuk Boybands yang lebay dan mata jelalatan sejenis Smash; atau membentuk grup komedi semacam OVJ dan Sule; atau ramai-ramai berjualan pulsa elektrik. Ya…namanya orang oportunis (kaum laron dan walang), ya apapun kesempatan akan mereka gunakan. Apalagi selama ini tubuh mereka, daging dan darahnya, dibentuk dari rizki hasil mengkhianati amanah jutaan rakyat. Apalagi yang ditakutkan Bro…

Khusus untuk PKS, ada sedikit catatan. Mestinya, mereka konsisten untuk mendukung Bang Sani dalam Pilkada DKI Juli 2012. Tidak apa-apa suara jeblok atau kalah sekalian; tetapi yang penting mereka punya konsistensi. Tapi sejak zaman Partai Keadilan (PK) dulu sikap tidak konsisten itu juga sudah ada. Katanya semula, tidak mau masuk Pemerintahan (Gus Dur), tapi waktu ditawari jadi Menteri Kehutanan (Nurmahmudi), ternyata diterima juga.

Tentang sosok Hidayat Nur Wahid, ini juga ada masalah. Tahun 1997 beliau ikut sebuah acara besar di Masjid Istiqlal, dalam rangka mengkaji kesesatan Syiah Rafidhah. Waktu itu pakar kesesatan Syiah, KH. Irfan Zidni masih hidup (beliau pernah berguru langsung ke imam-imam Syiah di Iran). Hidayat Nur Wahid sebagai pakar Syiah, mendukung acara itu. Tetapi ketika disana ditanda-tangani “Deklarasi Istiqlal”, beliau tidak ikut menanda-tangani. Malah kemudian, beliau mengklaim, dirinya bukan termasuk golongan yang suka menyesat-nyesatkan, suka mengkafirkan. Padahal puluhan tahun beliau sudah belajar akidah Salaf, bahwa Syiah itu memang sesat.

Ya bilamana kini PKS mendapat hasil begitu (dalam Pilkada DKI 2012), dan Hidayat Nur Wahid semakin meredup pamornya…ini semua tak lepas dari sikap INKONSISTEN yang selalu dipelihara.

Oke itu dulu…yang jelas Al Qur’an mengajarkan sikap KONSISTEN di atas Al Haq. Dalam Al Qur’an, “Wa idza ‘azzamta fa tawakkal ‘alallah” (jika engkau sudah berazzam, tawakal lah kepada Allah).  Nabi Saw bersabda, “Qul amantu billahi tsumma istaqimu” (katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamah-lah).

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Ayah Syakir).

Iklan

Pesan Moral dari Timnas Spanyol Euro 2012

Juli 11, 2012

Prestasi Besar Tidak Bisa Dilepaskan dari Peraan Keluarga. You Know?

Satu catatan menarik layak kita goreskan, pasca hiruk-pikuk perhelatan internasional, final EURO 2012 di Kiev Ukraina. Final yang mempertemukan dua negara pesohor bola di Eropa, Spanyol Vs Italia itu, dilaksanakan di Stadion Olimpiade Kiev. Hasilnya, Italia harus pulang dengan membawa kekalahan 4-0 dari Spanyol. Di sisi lain, Spanyol berhasil mempertahankan gelar juara Piala Eropa, sekaligus menjadi negara yang pertama menggenggam trofi itu secara berturut-turut (Euro 2008 & 2012).

Di luar itu, ada fenomena menarik di kubu Timnas Spanyol, sepanjang laga Euro 2012, yaitu keterlibatan keluarga para pemain. Sejak awal pertandingan sampai final 1 Juni 2012 di Stadion Olimpiade Kiev, timnas Spanyol sudah melibatkan keluarga sebagai pendukung di tribun VIP. Mereka adalah isteri, anak-anak, dan keluarga. Puncaknya, ketika berhasil mengalahkan Italia, bocah-bocah kecil yang merupakan anak-anak pemain Spanyol menghambur ke stadion. Mereka “meneruskan kerja” ayah-ayahnya dengan menginjak-injak rumput hijau stadion. Tak pelak, aksi lucu dan natural anak-anak itu, merebut simpati dunia.

Aksi yang sangat fenomenal ialah antara Fernando Torres dengan kedua putra-putrinya, Nora dan Leo. Aksi mereka mendapat publisitas yang sangat luas, termasuk ketika Torres sedikit melakukan “dialog peradaban” dengan putra-putrinya di depan gawang. Bagi Torres pribadi momen itu sangat berkesan. “Isteri gue sudah nyiapin anak-anak sejak di hotel. Dalam pertandingan ini tim gue harus menang. Tapi sayang, gue dipasang hanya beberapa menit sebelum bertandingan berakhir. Untungnya gue bisa mencetak gol, jadi rasanya lega. Meskipun mainnya sebentar, tapi bisa bikin gol. Itu yang penting!” mungkin begitu perasaan Torres di malam itu (kok jadi suka nebak-nebak perasaan orang ya? He he he…).

‘Ala kulli haal…kebijakan Timnas Spanyol dalam melibatkan keluarga, serta mengundang putra-putri mereka ikut merayakan pesta kemenangan di lapangan; sangatlah mengesankan. Di tengah keterpurukan ekonomi, seperti Yunani, serta konflik politik antara wilayah-wilayah Spanyol, mereka masih sempat menyuarakan pesan-pesan moral berharga, bagi dunia internasional.

Pesan moral apakah itu?

[1]. “Sukses kami tidak lepas dari dukungan keluarga.” Ketika pemikiran-pemikiran liberal kontemporer sangat agressif dalam menafikan peran keluarga dalam kehidupan; Timnas Spanyol menyampaikan pesan, bahwa prestasi mereka tidak lepas dari dukungan keluarga, termasuk anak-anak.

[2]. “Keluarga adalah hulu sekaligus muara perjuangan insani.” Ketika zaman industri modern sangat rakus dalam menggerus nilai-nilai tradisional seputar peran keluarga dan tanggung-jawab di dalamnya; maka Timnas Spanyol memberikan pesan, bahwa perjuangan di luar rumah, pada hakikatnya ialah untuk kebahagiaan di dalam rumah. Kalau diucapkan, “We fight outside, to reach happiness inside.”

[3]. “Prestasi besar dibangun sejak anak-anak, dan akan diteruskan ke anak-anak pula.”  Keluarga merupakan estafeta perjuangan. Dari keluarga dibangun prestasi, dan keluarga juga yang akan mewariskan prestasi. Inilah yang kita kenal sebagai prinsip pembinaan (tarbiyah). Secara realitas, proses pembinaan terbaik yang diterapkan manusia, ialah pembinaan dalam keluarga-keluarga bangsawan untuk menghasilkan kepemimpinan terbaik. Timnas Spanyol seolah menyerukan agar ummat manusia kembali ke pembinaan keluarga, untuk mencapai prestasi.

[4]. “Prestasi terbaik akan tercapai, dengan sentuhan cinta.” Jangan pernah berpikir, bahwa di balik kehidupan orang-orang besar, mereka kering dari nuansa cinta. Tidak. Justru sebaliknya. Disana banyak cinta, meskipun kadang ada juga noda-nodanya. Cinta yang tumbuh akan menjadi energi besar, menjadi power penggerak, serta spirit tajam untuk mengenyahkan segala batu-batu penghalang dan hambatan.

[5]. “Yang jelas, kami bukan gay, dan tidak pernah mendukung perilaku homoseks.” Nah, ini adalah pesan puncak dari butir-butir pesan moral Timnas Spanyol. Bahwa mereka adalah keluarga yang wajar, bukan gay, bukan pelaku seks menyimpang dan amoral, yaitu homoseks. Ketika sejak awal Timnas Itali sudah diingatkan, agar para pemainnya berorientasi seks secara wajar (bukan suka homoseks), maka Timnas Spanyol membuktikan diri mereka sebagai manusia wajar dan sehat. Homoseks adalah derajat terendah dari kehidupan manusiawi. Hewan saja tidak melakukan hal itu.

Gay dan Homoseks Bisa Memusnahkan Eksistensi Manusia. You Know?

Homoseks atau gay (termasuk lesbian) adalah sikap ketika manusia: memuja nafsu seks tanpa mau bertanggung-jawab! Mau enaknya, tak mau susahnya. Seorang pelaku “kumpul kebo”, lalu memiliki anak dari hubungan di luar nikah; itu masih lebih baik daripada pasangan gay dan homoseks. Laki-laki dan wanita yang berzina adalah salah; tetapi anak hasil zinanya, sama seperti anak yang lain, mereka tidak bersalah. Jika perilaku homoseks dibiarkan terus tumbuh, maka eksistensi manusia akan punah di muka bumi. Lalu bagaimana kita akan merealisasikan ayat berikut ini: “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduni” (tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka menyembah-Ku). Bagaimana Allah akan disembah, kalau manusianya tidak ada, karena banyak orang melakukan seks sesama jenis?

Tidak mengherankan jika gerakan-gerakan ultra nasionalis bahkan mafia di negara-negara Barat, mereka sangat antipati kepada gay dan perilaku homoseks. Gang-gang motor besar juga konon sangat memusuhi kaum gay-homoseks. Sizzla Kalonji, penyanyi reggae asal Jamaika sering mengklaim: kaum homoseks harus dibakar, dipanggang, dan dihanguskan! Intinya, gay dan homoseksual adalah kejahatan besar dalam kemanusiaan; perilaku itu bisa memusnahkan eksistensi manusia.

Demikian beberapa pesan moral dari Timnas Spanyol pada ajang Euro 2012. Semoga bisa menjadi inspirasi, motivasi, dan dorongan spirit untuk lebih concern dengan dunia keluarga, memuliakan keluarga, mengembangkan cinta yang lurus, serta tentu saja mengenyahkan perilaku gay dan homoseksual!

Selamat untuk Timnas Spanyol dan pesan-pesan moralnya! Bravo Euro 2012 for U!

Mine.


Gedung KPK Seharga Rp. 225 M…Wuiisssss…

Juli 9, 2012

Bangsa Indonesia ini sering aneh tingkah-lakunya… Sering terbolak-balik dalam bersikap; hanya mengikuti isu-isu media massa; tanpa pendirian yang jelas terhadap segala sesuatu. Sayang sekali…

Banyak masyarakat di Indonesia beramai-ramai mendukung pembangunan rencana gedung KPK, termasuk dengan menggelar aksi “saweran” atau mengumpulkan “koin untuk gedung KPK”. Intinya, masyarakat marah dengan anggota DPR yang belum meloloskan anggaran gedung KPK senilai Rp. 225 miliar. (Contoh, baca artikel ini: Anggaran Gedung Baru KPK Tidak Disetujui).

Mari kita lihat masalahnya…

“Kenalkan, kami anggota KPK…” (KPK = Komite Penjual Kerupuk).

[1]. Oke, kita semua sepakat, langkah KPK untuk pemberantasan korupsi, harus didukung sepenuhnya. Untuk ini tak ada masalah.

[2]. Kalau KPK memang butuh gedung baru, dan hal itu benar-benar sangat dibutuhkan, untuk suksesnya pemberantasan korupsi; mestinya anggota DPR mendukung rencana tersebut. Bukan malah menghambat.

[3]. Adanya gerakan-gerakan masyarakat untuk mendukung langkah KPK, misalnya dengan gerakan pengumpulan “koin gedung KPK” menunjukkan bahwa masyarakat masih peduli dengan nasib bangsanya yang selalu digerogoti korupsi. Hal ini mencerminkan sikap heroisme yang lumayan.

Sampai disini belum ada masalah, tapi…

[4]. Kita sangat heran dengan anggaran yang dibutuhkan untuk membangun gedung KPK itu. Mengapa anggarannya besar sekali sampai Rp. 228 miliar? Untuk apa saja anggaran sebesar itu? Apakah semua ini bukan pemborosan semata? KPK sebenarnya mau memberantas korupsi atau mau piknik ke hotel?

[5]. Anda masih ingat ketika DPR melakukan pembangunan gedung Banggar beberapa waktu lalu? Ketika itu banyak sekali media menyorot besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk membeli kursi dari Jerman, untuk membeli lampu-lampu, untuk perbaikan atap, untuk perbaikan toilet, untuk perbaikan interior, dll. Padahal anggaran yang dipakai disana sekitar Rp. 20 miliar. Itu hanya 1/10 dari anggaran gedung KPK.

[6]. Kalau mau adil, anggaran gedung baru DPR sampai mencapai Rp. 1,16 triliun. Tetapi gedung itu dipakai untuk sekitar 450 anggota DPR, para staf anggota DPR, staf gedung DPR, dll. Sementara untuk gedung KPK dananya 1/5 anggaran gedung DPR, padahal gedung itu “hanya” dipakai untuk 7 orang anggota KPK dan anak buahnya yang jauh lebih sedikit dari anggota DPR.

Jadi…

Disini tampak begitu tidak berdaya otak masyarakat…mereka diperalat oleh isu-isu murahan yang menyesatkan. Kalau kita marah dengan anggaran DPR yang kelewat besar, mestinya marah juga kepada orang-orang KPK itu. Mereka itu mau apa sebenarnya? Mau berantas korupsi atau mau seneng-seneng “di hotel” dengan nama Gedung KPK?

Coba deh Anda bayangkan…uang Rp. 225 miliar itu sedikit apa banyak? Dengan dana sebesar itu, ia bisa membuat 225 ruangan dengan fasilitas mewah. Nanti kalau KPK kurang uang, ruang-ruang itu bisa disewakan layaknya “hotel berbintang”. Lumayan buat nambah-nambah beli kopi, gula, dan gorengan.

Ini orang mau berantas korupsi atau mau seneng-seneng? Dasar lebay… Kalau mau berantas korupsi, tinggal di kolong jembatan pun tak masalah. Itu kalau mereka benar-benar berjiwa pahlawan. Kecuali kalau para pemberantas korupsi itu bermental selebritis…senengnya fasilitas sekelas hotel berbintang. Aneh…

Yak begitu deh…

Mine.


Bolehkah Memilih Gubernur DKI Jakarta 2012?

Juli 3, 2012

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Tanggal 11 Juli 2012, semua institusi negeri dan swasta di Jakarta, akan diliburkan. Kenapa? Ada Pilkada DKI, untuk memilih sosok Gubernur DKI untuk periode 2012-2017. Karena ada Pilkada, maka urusan lain diliburkan. Begitulah.

PILKADAL… Maksud Loe? Pil + Kadal…

Dalam beberapa bulan terakhir, orang-orang Jakarta, termasuk mereka yang tinggal di Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang; yang notabene bukan warga Jakarta; bahkan masyarakat non Jadebotabek yang ada di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua, dan sebagainya juga ikut-ikutan sibuk bicara Pilkada Jakarta. “Maklum sih, Jakarta adalah ibukota negara. Apapun yang terjadi di kota ini, bangsa Indonesia akan merasakan dampaknya,” begitu logika berpikirnya.

Saya masih ingat, beberapa tahun lalu, ketika ibunda seorang kawan meninggal di Jakarta, ketika itu sudah ada promosi sosok Bang Sani (Triwisaksana). Ketika itu sosok ini sudah dipromosikan lewat baliho-baliho besar di pinggir-pinggir jalan. Memang promosinya tidak berbau politik, misalnya Bang Sani dikenalkan sebagai sosok dai, pemuda yang simpatik, tokoh masa depan. Anda tahu, mengapa Bang Sani dipromosikan demikian? Ya, karena tujuan Pilkada DKI. Waktu itu, PKS berniat mengangkat sosok Bang Sani sebagai calon gubernur dari PKS. Tetapi, ketika detik-detik akhir menjelang penetapan calon gubernur dari PKS, tiba-tiba nama Bang Sani lenyap dari peredaran. Dia diganti total oleh sosok Hidayat Nurwahid dan Didik Rachbini.

Saya pernah bertanya ke seorang kawan, pendukung PKS, mengapa sosok Bang Sani tiba-tiba dibuang begitu saja oleh PKS, padahal dia telah dipromosikan sejak sekitar 3 tahunan sebelumnya? Dia menjawab, menurut surve internal PKS, sosok Bang Sani kurang menjual untuk Pilkada DKI 2012; masyarakat Jakarta katanya kurang berminat. Nilai elektabilitasnya rendah. Ya, kalau menurut saya, yang biasanya berpikir idealis, tetap saja PKS mesti konsisten dengan skema politik yang mereka rencanakan sebelumnya. Meskipun gagal tidak apa-apa, asalkan telah memperjuangkan NILAI; sebab hal inilah yang akan menyelamatkan kehidupan, mempertahankan eksistensi Ummat dan agama. Bukan hitung-hitungan politik yang hanya bermotif kekuasaan. Kekuasaan itu, meskipun dapat diraih, tak menjamin lestarinya kebaikan dan kehidupan; tetapi konsisten dengan janji, amanat, dan ikrar yang telah diucapkan, hal itu akan menjadikan Allah ridha; meskipun resikonya kehilangan kekuasaan. (Disini dengan mudah dapat dibaca, sebenarnya apa yang diinginkan oleh PKS lewat Pilkada DKI itu).

Pilkada DKI 2012 menjadi perhatian semua partai-partai besar, baik Demokrat, PDIP, Golkar, PKS, Gerindra, Hanura, dan lainnya. Mereka butuh Pilkada ini, karena menyangkut persiapan Pemilu dan Pilpres 2014 nanti. Kalau suatu partai bisa menguasai DKI Jakarta, maka ia bisa menjadi semacam “pundi-pundi” untuk mendanai Pemilu-Pilpres 2014. Jadi cara berpikirnya, sudah KORUPSI duluan. Mereka akan jadikan potensi keuangan di DKI Jakarta, sebagai sumber-sumber pendanaan pemenangan Pemilu-Pilpres 2014 nanti. Sampai-sampai untuk Jokowi yang masih menjabat Walikota Solo dan Alex Noerdin yang menjabat Gubernur Sumatera Selatan; keduanya dipaksakan untuk iktu Pilkada DKI 2012. Untuk apa keduanya dipaksa-paksa, padahal masih punya jabatan resmi?

Ya, itu karena sudah NGILER dengan besarnya sumber-sumber dana di DKI yang nantinya akan dipakai untuk membiayai Pemilu-Pilpres 2014 nanti. “Haduh, haduh, haduh… Duit, duit, duit… Duit di DKI ini gedhe banget. Aku nafsu banget, nafsu, aku sangat gairah…lebih nafsu daripada ke isteriku sendiri. Lebih nafsu daripada nonton VCD porno. Haduh, haduh, duit, duit…. DKI ini seksi banget. Ini akan bikin kita bisa menguasai Indonesia, dari Sabang sampai Merauke,” begitulah lamunan politisi-politisi aneh itu.

Seorang kawan lain, pendukung PKS, pernah bilang ke saya; seluruh kader-kader PKS di Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok, dilibatkan untuk pemenangan pasangan Hidayat-Didiek. Bahkan kata kawan lain, kader-kader PKS Jawa Barat (provinsi yang dekat DKI) juga dilibatkan. Wuih…gitu-gitu amat. Nafsu banget sih… Ya begitulah manusia, kalau sudah nafsu berkuasa, apapun cara dan  bagaimanapun, akan dilakukan. Tapi cara-cara demikian, bisa menghancurkan keberkahan, bisa melenyapkan kebaikan, bisa membuyarkan benih-benih kebajikan; karena sangat nafsu berkuasa.

Okelah…satu pertanyaan penting seputar Pilkada DKI 2012 ini: Bagaimana sikap seorang Muslim, apa perlu ikut Pilkada DKI atau tidak usah ikut? Kalau ikut mesti bagaimana, kalau tidak ikut apa alasannya?

Disini saya tidak akan langsung menjawab pertanyaan ini to the point; tapi akan saya sebutkan beberapa sikap kaum Muslimin saat berhadapan dengan pertanyaan demikian…

SATU. Kalau merujuk ke fatwa MUI, seperti pernah disampaikan oleh Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub, MA. bahwa golput itu haram (tidak boleh. Kaum Muslimin harus memilih dan menggunakan hak pilihnya, tidak boleh bersikap golput.

DUA. Kalau merujuk pendapat kawan-kawan Jihadis, mereka mengharamkan Pemilu/Pilkada/Pilpres, dengan alasan ia dilakukan melalui mekanisme demokrasi, sedangkan demokrasi haram mutlak menurut mereka, karena berusaha mengambil alih hak Allah dalam penetapan hukum. Dapat dipastikan, kawan-kawan Jihadis akan golput.

TIGA. Kawan-kawan Salafi berada dalam dilema. Satu sisi, mereka harus “taat ulil amri”, tetapi di sisi lain mereka juga mengharamkan Pemilu seperti pandangan Jihadis. Mungkin dalam praktiknya nanti, kawan-kawan Salafi akan datang ke TPS-TPS, tetapi sekedar datang saja, untuk memenuhi panggilan “ulil amri”. Tetapi mereka sendiri tak akan memilih, karena alasan “pemilu haram”. Soal Salafi di Mesir sudah mendirikan partai politik (An Nuur). Itu lain cerita. “Kan di Indonesia, kata ustadz-ustadz, hukum pemilu masih haram. Belum dihalalkan. Jadi kami tawaquf sajalah.” (Tawaquf, ngikut saja, gak banyak coment).

EMPAT. Pandangan moderat kawan-kawan aktivis Islam. Mereka memakai pertimbangan “politik daripada”, atau “politik memilih yang terbaik di antara yang terjelek”. Singkat kata, mereka akan tetapi memilih salah satu dari pasangan: Foke-Nara, Jokowi-Ahok, Hidayat-Didiek, dan Alex-Nono. Dua pasangan lain, dianggap “sonoh ke laut ajah”. Dalam pandangan ini, di antara sekian kandidat yang ada, pasti ada yang terbaik di antara mereka. Naga-naganya, mereka akan memilih Hidayat-Didiek, karena pasangan ini masih ada unsur “bau-bau ustadz” pada sosok Hidayat Nurwahid. Soal Hidayat punya kekurangan sekian-sekian, mereka tidak mau tahu; yang penting memilih dia karena masih ada unsur ustadz-nya. Sementara kalangan Habaib Jakarta dan komunitas “mauludan forever and forever“, mereka mendukung Foke-Nana. Karena, sosok Hidayat masih dianggap “berbau Wahabi”.

LIMA, kalangan yang tidak memilih sama sekali, karena merasa tidak ada satu pun kandidat yang layak dipilih dari 6 kandidat tersebut. Masing-masing memiliki catatan negatif yang membuatnya tidak layak dipilih. Foke-Nara kekurangan terbesarnya, dia didukung Partai Demokrat (SBY). Memilih Foke-Nana sama dengan memilih Partai Demokrat. Hendardji-Reza, dia itu seorang karateka (Ketua FORKI), tidak ada pengalaman memimpin birokrasi. Jokowi-Ahok, dia ini campuran Kejawen dan Chinese; yang terpenting, Kota Solo jelas berbeda dengan DKI Jakarta. Di Solo Jokowi bisa eksis, di Jakarta belum tentu. Hidayat-Didiek, dia pernah menjadi Ketua MPR, dan tidak ada prestasi significant. Saat jadi Ketua MPR, Pak Hidayat lebih peduli dengan isu Palestina, daripada isu bangsanya sendiri. Banyak pemuda-pemuda Islam dijadikan mainan oleh isu terorisme, tapi beliau diam saja. (Bukan karena isu Palestina tidak penting; tapi setiap pemimpin harus paham tanggung-jawab prioritas di pundaknya). Faisal Basri-Biem, intinya dia NEOLIB. Sudah tidak usah dibahas lagi. Alex Noerdin-Nono, dia ini memimpin Sumatera Selatan belum beres, kok mau memimpin Jakarta. Ini tidak layak.

Adapun alasan umumnya: masing-masing kandidat jauh dari profil politisi Islami, jauh dari keberpihakan kepada Ummat, jauh dari ghirah untuk membela kepentingan kaum Muslimin, mereka sepakat dengan agenda liberalisme-kapitalisme, mereka haus kekuasaan, mereka menjadi alat politik partai-partai menuju Pemilu-Pilpres 2014, mereka tidak ada satu pun yang pro Syariat Islam, mereka tidak ada nyali menghadapi “Mafia PBB” (mafia politik, birokrasi, bisnis), mereka bersikap rapuh terhadap manuver dan intervensi asing (seperti kepemimpinan Foke selama ini)…

Jadi intinya, tidak ada kandidat yang secara Syariat Islam layak untuk dipilih dan didukung. Mungkin sosok Hidayat Nur Wahid masih ada “bau-bau ustadz”, tetapi sosok pemimpin yang diharapkan akan membawa kebaikan bukan seperti itu. Kaidah sederhananya sebagai berikut:

[a]. Hukum asalnya, meminta jabatan itu tidak boleh. Bahkan Nabi Saw melarang memberi jabatan kepada siapa yang sangat menginginkan jabatan itu. Beliau pernah berkata kepada Abu Dzar Al Ghifari Ra, “Ya aba dzar, innaka dhaif, wa innaha amanah, wa innaha yaumal qiyamati hizyu wa nadamah” (wahai Abu Dzar, engkau itu lemah, sementara yang engkau minta itu amanah; amanah itu kelak di Hari Kiamat akan menjadi kehinaan dan sesalan). Jadi hukum asalnya, meminta jabatan itu salah; maka seluruh kandidat Gubernur DKI dan para penyokongnya, otomatis gugur total.

[b]. Namun dalam kondisi tertentu, boleh seseorang menawarkan diri untuk mengemban suatu amanah (jabatan); ketika kondisi membutuhkan manusia yang cakap, handal, dan terpercaya, sementara dia sendiri memiliki sifat handal dan terpercaya. Hal ini seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Yusuf As ketika beliau menawarkan diri untuk mengelola Baitul Maal di Mesir, dengan alasan dirinya memiliki dua sifat utama, hafizhun ‘alim (pandai menjaga, dan berpengetahuan luas). Disini, boleh kita meminta jabatan, ketika kondisi membutuhkan tampilnya orang-orang dengan skill handal, sementara kita sendiri memiliki kemampuan itu dan memiliki komitmen moral baik.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Innallaha ya’murukum an tu’addul amanati ila ahliha wa idza hakamtum bainan naasi an tahkumu bil ‘adli” (Allah memerintahkan kalian menunaikan amanat kepada yang berhak, dan jika kalian menetapkan hukum hendaknya menetapkan dengan adil). Surat An Nisaa’, ayat 58.

Menurut Ibnu Taimiyyah rahimahullah, ayat ini berkaitan dengan tugas-tugas pemimpin Islam. Mereka harus menyampaikan amanat-amanat kepada yang berhak, dan menghukumi di antara manusia dengan hukum Islam secara adil. Dapat disimpulkan, posisi kepemimpinan itu benar-benar tugas suci untuk menunaikan amanat Ummat dan memberi hukum yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Kalau kepemimpinan tidak seperti itu, ia tidak ada nilainya di sisi Allah.

Kalau dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta 2012, para kandidat itu sangat nafsu ingin berkuasa dan menempati jabatan birokrasi tertinggi di DKI Jakarta; sementara mereka tidak memiliki kualitas hafizhun ‘alim (pandai menjaga dan berpengetahuan luas). Jadi dari dua kriteria itu, mereka sudah gugur. Bahkan di mata mereka, masalah utama DKI bukan soal ruhani manusia, tapi soal banjir dan kemacetan…suatu pandangan yang sangat primitif. Padahal kata Nabi Saw, sumber masalah manusia itu di hatinya. Kalau hatinya baik, baik hidupnya; kalau hatinya buruk, buruk hidupnya. Yang membuat Jakarta penuh masalah, ya karena kondisi ruhani rakyatnya centang-perenang, atau acak-kadut, atau ancur-ancuran.

Kepemimpinan Islami itu seperti Nabi Saw. Mula-mula beliau perbaiki hati manusia, perbaiki jiwa dan akhlaknya, perbaiki moral dan komitmennya; lalu diperbaiki peradabannya secara keseluruhan. Ya, kalau 6 kandidat itu, ngomong-nya dunia melulu, sampai kapan masalah Jakarta akan beres-beres? Nah, inilah kesalahan mendasar bangsa Indonesia (termasuk warga Jakarta) ketika bicara soal pemimpin. Bawaannya ngomong dunia melulu, tanpa niat memperbaiki ruhani masyarakat dengan dakwah.

Kalau kaum Muslimin di Jakarta tidak memilih salah satu kandidat, itu BOLEH. Itu SAH. Dengan alasan, tidak ada satu pun kandidat yang diyakini memiliki sifat-sifat yang layak. Dengan demikian, kita bisa berlepas diri kalau kelak ditanya oleh Allah Ta’ala soal pemimpin yang kita pilih. Kita tidak mau memilih, karena tidak ada figur yang layak dipilih.

Dalilnya adalah firman Allah, “Laa yukallifullahhu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya). Surat Al Baqarah, ayat 286. Singkat kata, Ummat Islam disuruh memilih pemimpin yang baik-baik, cakap, amanat, dan berbuat adil. Kalau sosok seperti itu tidak ada, ya tidak ada yang bisa dipilih. Bukan karena tidak mau memilih, tetapi stock pemimpin yang baiknya tidak ada. Bukan salah kita kalau tidak memilih. Kita sudah berusaha sekuat tenaga, semampunya. Bahkan sikap demikian ini merupakan CARA BERPOLITIK (Islami) juga. Itu harus diingat!!!

Kalau kita memilih pemimpin yang keliru, akibatnya akan ditanggung sampai Hari Kiamat nanti. Jangan salah mengira, setiap pilihan Anda nanti akan ditanyakan di Akhirat. Itu harus benar-benar diperhatikan. Logikanya bukan “daripada tidak memilih, mending memilih yang terbaik di antara yang terjelek”. Bukan begitu logikanya. Tetapi mestinya begini: “Kewajiban kami memilih pemimpin yang shalih, amanat, cakap, dan adil. Kalau tidak ada pemimpin begitu, ya sudah kami tidak bisa memilih. Bukan salah kami karena tidak memilih, sebab memilih pemimpin yang salah, kelak akan dipertanggung-jawabkan sampai di Akhirat.”

Bukankah di antara sekian figur itu ada yang terbaik di antara yang jelek-jelek? Mengapa kita tidak memilih sosok seperti itu? Misalnya sosok Pak Hidayat Nur Wahid yang masih ada “bau-bau ustadz”?

Jawabnya, memilih sosok demikian juga tidak menjamin kebaikan bagi masyarakat nanti. Toh, selama ini sudah ada pemimpin-pemimpin birokrasi yang background-nya ustadz, kyai, dan sebagainya. Buktinya mereka sami mawon (sama saja) dengan pemimpin-pemimpin sekuler. Malah memilih pemimpin yang ada unsur Islam-nya, sering kali menjadi menjadi fitnah bagi agama. Mengapa? Ketika pemimpin itu terbukti gagal atau tidak berkualitas; nama Islam selalu dibawa-bawa. “Tuh lihat, itu tuh akibatnya kalau memilih pemimpin seorang ustadz,” kata sebagian orang. Demi Allah, saya pernah membaca sebuah selebaran yang intinya anti pemimpin dengan background agama, setelah kegagalan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI 1999-2003. Bukannya dia memperbaiki citra Islam, malah ikut menjelek-jelekkan citra Islam di mata rakyat.

Lha, kalau tidak ada yang dipilih, lalu bagaimana dong solusinya? Masak tidak memilih sama sekali? Ini pemikiran aneh.

Jawabnya begini: Untuk saat ini, kaum Muslimin tidak bisa berharap akan ada perbaikan kehidupan dari cara-cara seperti ini. Semua ini hanya buang-buang energi, waktu, anggaran, dan lainnya. Kita tidak bisa berharap akan lahir perbaikan, lompatan, atau kemajuan lewat mekanisme semacam Pilkada/Pilpres itu. Siapapun yang terpilih disana, sulit diharapkan akan membawa perubahan positif bagi kehidupan Ummat. Kalau yang terpilih sosok ustadz/kyai, belum tentu akan menjalankan missi-missi Islam; kalau yang terpilih sosok anti Islam, toh selama ini sudah banyak orang seperti itu (contoh SBY dan kawan-kawan). Jadi lewat mekanisme Pilkada/Pilpres dan semacam ini, jujur tidak ada hasil positif yang bisa diharapkan.

Lalu solusinya bagaimana kalau tidak melalui Pilkada/Pilpres?

Solusinya, ada di antara kaum Muslimin ini yang membuat partai yang berorientasi Syariat Islam. Cita-cita dan tujuannya, murni menegakkan Syariat Islam. Lalu ia diperjuangkan dengan cara-cara politik Islami. Nah, sarana ke arah itu harus ada dulu. Setelah itu, seluruh barisan dakwah dan perjuangan Islam sepakat untuk mendukung partai tersebut. Harus muncul partai yang murni berbasis Islam. Kalau dilarang, harus terus diperjuangkan, agar bisa ikut dalam kancah Pemilu. Demi mencapai kemenangan, jangan menempuh cara seperti PKS. Partai itu harus berorientasi menyebarkan dakwah, bukan mencapai kekuasaan. Meskipun sudah habis-habisan, sudah pada meringis karena keluar dana besar, sementara hasil kekuasaan tidak ada; harus tabah, harus sabar, harus tetap konsisten di atas jalan Islam; jangan cepat silau oleh kekuasaan (seperti PKS); karena namanya perjuangan Islam, mana ada sih yang instan, bertabur bunga dan semerbak wewangian? Tapi…dengan cara dakwah ini, yakinlah Allah akan mengubah keadaan kaum Muslimin. Demi Allah Rabbul Izzati, perjuangan Partai Keadilan (PK) dulu sudah mulai membuahkan hasil berkah tersebut; kalau elit-elit PKS tidak keburu kecebur “perburuan kekuasaan”. Sudah menampak tanda-tanda baiknya, tetapi keburu dipangkas habis oleh Hilmi Aminuddin Cs, ketika tanaman masih berusia belia. Sayang sekali…

Nah, itulah solusinya. Saat ini tidak ada satu pun garis partai/sosok politisi yang mewakili perjuangan dakwah Islam dan missi Islamisasi kehidupan…maka tidak perlu memilih satu pun kandidat calon Gubernur Jakarta 2012. Siapapun sosok yang terpilih nanti, kalau dia ustadz/kyai/syaikh kecil peluang akan membawa kebaikan; kalau dia sosok anti Islam, tidak ramah kepada dakwah, sekuler murni, dan sejenisnya, maka kita sudah biasa menghadapinya.

Tapi bagaimanapun, ini adalah pendapat pribadi saya. Boleh setuju, boleh menolak. Kata Imam Malik rahimahullah, pendapat seseorang boleh diambil atau ditolak, kecuali pendapat Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Wallahu a’lam bisshawaab.

(Abinya Syakir).


Sebuah Fakta Besar: Tirani Ekonomi di Indonesia!

Juli 2, 2012

Baru-baru ini saya membaca artikel menarik, di Republika, 29 Juni 2012. Judulnya, “Sebrutal Film Too Big to Fail“, yang ditulis Stevy Maradona. Tulisan ini ringan, tapi menarik. Saya coba kutip bagian akhir tulisan, dan menurut saya disana intinya.

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tahun 2012, jumlah rekening yang memiliki dana lebih dari Rp. 5 miliar, hanya 58.400 dari total 101 juta rekening. Lima puluhan ribu rekening ini menguasai uang Rp. 1.215 triliun dari total simpanan bank nasional sebesar Rp. 2.879 triliun. Brutal! (Republika, 29 Juni 2012).

CARA MEMBACA DATA INI

(=) LPS itu lembaga yang menalangi keungan Bank Century itu lho. Ia resmi lembaga negara. Ia secara berkala mendapat laporan seputar lalu-lintas uang yang beredar di rekening nasabah bank.

(=) Data di atas dibedakan, antara penabung yang uangnya di bawah 5 miliar, dan penabung yang uangnya di atas 5 miliar.

(=) Jumlah penabung yang uangnya di atas 5 miliar, sejumlah 58.400 penabung (rekening) dari 101 juta rekening. Atau sekitar = 0,057 persen (tidak mencapai angka 0,1 %).

(=) Rekening sejumlah 0,057 % itu menguasai dana simpanan bank sebanyak Rp. 1.215 triliun (seribu dua ratus lima belas triliun rupiah). Dari total simpanan bank Rp. 2879 triliun (dua ribu delapan ratus tujuh puluh sembilan triliun rupiah). Atau menguasai sekitar 42 % dana simpanan bank.

(=) Kesimpulan: rekening sejumlah 0.057 % menguasai 42 % dana simpanan bank. Inilah yang oleh Stevy Maradona disebut: brutal!

KOMENTAR

Data dari LPS itu sifatnya resmi, untuk periode tahun 2012. Ia menggambarkan realitas KEZHALIMAN EKONOMI di negeri Indonesia ini. Segelintir orang menguasai dana sangat besar (hampir setengah dari dana simpanan bank nasional). Kalau orang-orang ini tidak nasionalis, mereka sewaktu-waktu bisa kabur dari Indonesia sambil membawa dananya.

Kalau 42 % dana bank ditarik serentak oleh penabungnya, akan terjadi KRISIS MONETER jilid 2 seperti tahun 1997 lalu. Bank-bank akan kolaps, LPS tak mampu memberi jaminan karena uangnya tidak cukup. Karena bank-bank pada kolaps, akhirnya muncul lagi KRISIS EKONOMI jilid 2. Ini sangat berbahaya wahai Bapak, Ibu, Mas dan Mbak!Berhati-hatilah!

Itulah yang kita sebut TIRANI EKONOMI, segelintir manusia bisa mengontrol ekonomi nasional. Hitam putih ekonomi kita, dipercayakan kepada “nasionalisme” para penabung di atas 5 miliar itu. Anda percaya dengan nasionalisme mereka? Ya, entahlah. Saya sekedar mengingatkan saja!

Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa li sa’iril muslimin.

Mine.