CATAT: Ancaman Pemimpin Syiah Rafidhah Ini, Wahai Muslimin!!!

Agustus 30, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini, Jalaluddin Rahmat, Ketua Dewan Syura IJABI, dalam acara “Milad Ke-63 Kang Jalal” di Kemang Raya, Rabu, 29 Agustus 2012; dia melontarkan kata-kata ancaman yang sangat serius. Kata-kata ini harus dicatat dengan tinta tebal oleh setiap Muslim (Ahlus Sunnah) di Indonesia. Berita aslinya dapat dibaca dalam tulisan berikut: Apakah Harus Memindahkan Konflik Sunnah-Syiah dari Iraq ke Indonesia?

Berikut ini pernyataan ancaman Jalaluddin Rahmat -semoga Allah Al Aziz menenggelamkannya dalam kebinasaan dunia dan akhirat, beserta para loyalisnya; amin Allahumma amin- terhadap kaum Ahlus Sunnah di Indonesia:

“Saya kira kelompok Syiah tidak sebagus dalam tanda kutip kelompok Ahmadiyah, kita adalah sebuah kelompok keagamaan yang mendunia, jadi berbeda dengan kelompok Ahmadiyah yang menyambut pukulan yang mematikan itu dengan senyuman. Orang-orang Syiah pada suatu saat tidak akan membiarkan tindakan kekerasan itu terus menerus terjadi. Karena buat mereka, mengorbankan darah dan mengalirkannya bersama darah Imam Husein adalah satu mimpi yang diinginkan oleh orang Syiah. Saya tidak bermaksud mengancam ya, tapi apakah kita harus memindahkan konflik Sunnah-Syiah dari Iraq ke Indonesia? Semua itu berpulang pada Pemerintah.”

Ucapan seperti ini patut untuk dicatat baik-baik, karena musuh Islam yang satu ini sudah menampakkan kedok aslinya, menampakkan taringnya setelah sekian lama taring itu hanya melukai lidahnya sendiri. Jangan pernah berharap Syiah Rafidhah akan berdamai, santun, lembut, pengasih kepada kaum Muslimin (Ahlus Sunnah). Tidak pernah itu!

Berikut ini pelanggaran besar kaum Syiah Rafidhah, yang membuat mereka memiliki dendam/kedengkian besar kepada kaum Muslimin:

PERTAMA. Ajaran Islam yang sangat luas, indah, dan penuh kasih-sayang itu, oleh Syiah Rafidhah disingkirkan, lalu diganti ajaran permusuhan, kedengkian, dan kebencian; dengan dalih membela hak Kekhalifahan Ali Radhiyallahu ‘Anhu. Semua nilai-nilai ajaran Islam habis tandas di tangan Syiah, semuanya diganti ajaran kebencian, permusuhan, dan dendam politik.

KEDUA. Syiah Rafidhah amat sangat dalam mengibadahi imam-imam dan ulama-ulama mereka. Dalam mensifati imam-imam itu, mereka yakini para imam kekuasaannya melebihi Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, melebihi para Malaikat, bahkan melebihi Allah Ta’ala. Di mata Syiah, Allah bisa salah, tetapi para imam suci dari segala debu kesalahan. Mereka menyembah manusia dengan amat sangat, layaknya kaum Mukminin menyembah Allah Ta’ala.

“Al jannatu tahta zhilalis suyuf” (surga itu berada di bawah naungan pedang).

KETIGA. Kaum Syiah telah menghujat Syariat Islam sedalam-dalamnya, sepahit-pahitnya. Di mata Syiah, semua ajaran Syariat Islam (yang kita kenal dalam naungan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali, Zhahiri, atau Tarjih) ia tidak ada nilainya sama sekali. Syiah memiliki syariat sendiri, tidak seperti Syariat kita. Siapapun yang mengaku pro Syariat Islam, akan menangis kalau menyaksikan segala penghinaan Syiah terhadap Syariat Islam yang suci. Tidak akan pernah bersanding antara cinta kepada Syariat Islam dengan sikap lemah lembut kepada Syiah, selamanya. Syariat kita berdasarkan Wahyu, syariat Syiah berdasar hawa nafsu.

KEEMPAT. Syiah tidak pernah sama sekali mencintai Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, sekalipun kemana-mana mereka selalu berkilah mencintai Ahlul Bait Nabi. Mengapa demikian? Karena Syiah selalu menghujat isteri-isteri Nabi, yang beliau cintai, khususnya Aisyah dan Hafshah Radhiyallahu ‘Anhuma; Syiah selalu menghujat Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu yang merupakan teman baik dan mertua Nabi; Syiah selalu menghujat Umar Radhiyallahu ‘Anhu, yang merupakan pembela Nabi dan mertua beliau; Syiah selalu menghujat Ustman dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum lainnya. Sejatinya, Syiah tidak memiliki cinta sedikit pun kepada Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

KELIMA. Syiah Rafidhah selalu memusuhi para Shahabat Nabi; melazimkan caci-maki, hinaan, laknat, serta penghujatan atas mereka. Padahal dalam Surat At Taubah ayat 100 dan ayat-ayat lain, Allah telah memastikan Keridhaan-Nya kepada para Shahabat, dan Shahabat pun meridhai-Nya. Oleh Syiah, Keridhaan Allah ini selalu dilawan dengan laknatan, caci-maki, kedengkian, permusuhan, dan sebagainya. Ketika kaum Muslimin (Ahlus Sunnah) berjuang mencari Keridhaan Allah, maka Syiah justru berjuang mencari keridhaan iblis laknatullah ‘alaih.

Dengan alasan-alasan dasar seperti ini, maka kita bisa memahami makna dari pernyataan Jalaluddin Rahmat -semoga Allah menenggelamkan dirinya dan para loyalisnya dalam kebinasaan dunia dan akhirat; amin Allahumma amin-. Kita juga memahami bagaimana sikap asli Syiah Rafidhah dalam lintasan sejarah masa lalu, dan sejarah kontemporer. Kini Syiah telah mulai menampakkan taring ancamannya. Maka kaum Muslimin harus senantiasa waspada dan mempersiapkan diri.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِ

“Dan perangilah mereka, sampai tidak ada fitnah, sehingga akhirnya agama itu semata untuk Allah belaka.” [Al Baqarah: 193].

Maka bangkitlah wahai Mujahid Ahlus Sunnah! Kemuliaanmu ada bersama pembelaanmu terhadap agama Sayyidul Mursalin, Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

(Abine Syakir).

Iklan

Alhamdulillah, Kita Berhari Raya Bersama…

Agustus 18, 2012

Idul Fithri 1433 H. Kita Berhari Raya Secara Global. Alhamdulillah.

Alhamdulillah, pada tahun ini kita merayakan Idul Fithri bersama-sama. Semua serentak merayakan Yaumul Fithri pada 1 Agustus 2012 M (hari Ahad). Baik ormas Islam seperti JAT, Muhammadiyah, NU, Departemen Agama RI, para ahli hisab dan rukyat; semua sepakat menetapkan Yaumul Fithri pada hari yang sama. Hebatnya, alhamdulillah, secara global kaum Muslimin juga berhari-raya pada hari Ahad itu. Seolah ini sebuah pertanda Ilahiyah, kaum Muslimin sedunia sepakat berhari-raya pada hari Ahad.  Ahad kan artinya satu atau tauhid; sebuah gambaran Kesatuan Ummat.

Penetapan hari raya esok hari (1 Syawwal 1433 H atau 19 Agustus 2012) berdasarkan pertimbangan…

[1]. Pantauan hilal pada sore hari tanggal 18 Agustus 2012, hilal sudah terlihat di Kupang (NTT), Makassar 6 derajat, Gresik di atas 3 derajat, Sukabumi di atas 2 derajat, dan di Lembang (Boscha). Dengan demikian, sesuai Sunnah “Wa afthiruu li ru’yatihi” (dan berbukalah dengan melihat hilal). Syarat ini terpenuhi sudah, walhamdulillah.

[2]. Hasil keputusan Sidang Itsbat Departemen Agama, tanggal 18 Agustus 2012, sekitar pukul 18.30, di Jakarta, sudah memutuskan esok hari 19 Agustus 2012 telah masuk 1 Syawwal 1433 H. Dalam sidang ini disebutkan dua kesaksian hilal di Kupang dan Makassar oleh tim Depag RI, anggota ormas Islam, dan ahli astronomi.

[3]. Keputusan negara-negara Timur Tengah dan kaum Muslimin di Barat, mereka serentak melaksanakan Idul Fithri pada esok hari, 19 Agustus 2012. Hal ini bisa dianggap sebagai hasil keputusan berdasarkan suara mayoritas kaum Muslimin.

Intinya, alhamdulillah kita esok hari bisa berhari raya Idul Fithri scara serentak, di seluruh dunia. Kalaupun ada yang menyelisihi adalah Jamaah An Nazhir di Sulawesi, Naqshabandiyah di Padang, dan orang-orang semisal. Mereka punya ketentuan sendiri yang menyelisihi kaidah Al Jamaah kaum Muslimin sedunia. Pesan Nabi Saw, “‘Alaikum bil jamaah, wa iyyakum minal furqah” (hendaklah kalian bersatu dengan jamaah kaum Muslimin, dan tidak berpecah-belah).

Sejujurnya, inilah yang kita harapkan, yaitu adanya kesatuan kaum Muslimin. Kalangan Islam yang sering berseberangan dengan pemerintah; kalangan Muhammadiyah yang kukuh dengan metode hisab; perwakilan pemerintah (Departemen Agama RI); ormas-ormas Islam; para ahli falak dan astronomi; masyarakat Muslim independen; negara-negara Muslim, khususnya Arab Saudi; serta saudara-saudara kita kaum Muslimin di Barat; semua serentak menetapi hari raya yang sama. Saya masih ingat, bahwa Al ‘Allamah Nashiruddin Al Albani rahimahullah; beliau termasuk sangat mendambakan kondisi kesatuan seperti ini.

Sebagian kalangan mengkritik pendapat Syaikh Al Albani rahimahullah tentang Jihad. Disebutkan Asy Syaikh berpendapat, bahwa saat ini belum berlaku hukum Jihad Fi Sabilillah, karena belum adanya sebuah kepemimpinan Islami. Pendapat ini mendapat kritik keras dari berbagai sisi, khususnya saudara-saudara kita kalangan Jihadis. Apa yang dikatakan Asy Syaikh ialah terkait Jihad ofensif seperti yang dulu dilakukan Sultan-sultan Islam; sedangkan terkait Jihad defensif, pastilah beliau mendukung. Karena dalam Sunnah, membela harta-benda saja, kalau sampai wafat, statusnya syahid.

Di sisi lain, ada sebuah makna yang terlewat dari pandangan Asy Syaikh rahimahullah. Makna itu adalah, bahwa saat ini belum ada satu kepemimpinan Islami (baca: Khalifah) yang bisa menyatukan suara kaum Muslimin. Kita mesti memahami, bahwa ternyata Syaikh Al Albani juga mengakui bahwa saat ini belum ada kepemimpinan Islam secara global; dengan lain kata, beliau tidak ridha dengan kepemimpinan non Islami yang ada saat ini. Untuk selevel ulama, ya tidak harus bicara secara blak-blakan; kaum Muslimin mesti bisa memahami makna tersirat di balik yang tersurat.

Dalam kesempatan lain, Asy Syaikh rahimahullah ditanya tentang hukum menonton TV. Dalam sebagian fatwanya, beliau mengatakan, kurang-lebih: “Andaikan ada sebuah Daulah Islam yang bisa mengatur tayangan TV ini sebaik-baiknya, sehingga bisa memaksimalkan maslahat dan menghindari madharat, maka ketika itu aku tidak hanya akan mengatakan boleh menonton TV, bahkan aku akan mengatakan wajib menonton TV.” Fatwa ini bisa dibaca secara rinci dalam Biografi Syaikh Al Albani, karya Mubarak Bamu’allim. Ternyata, Syaikh Albani juga pro Daulah Islamiyyah, seperti kerinduan beliau atas tayangan TV yang Islami.

Bagi saudara-saudaraku dari kalangan Mujahidin rahimahumullah jami’an, semoga ke depan bisa menerima kenyataan ini, bahwa Asy Syaikh rahimahullah adalah seperti kita-kita juga; sama-sama mendambakan kemenangan Islam, sama-sama mendambakan Daulah Islamiyyah serta kepemimpinan Islam sedunia, yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Adapun tentang tafsiran “kufrun duna kufrin”, mungkin itu sebuah kekhilafan; dan setiap manusia bisa khilaf; atau beliau memaksudkan hal itu agar tidak muncul takfir global yang nanti bisa menjadi fitnah yang lebih besar. Tidak ada salahnya kita berikan udzur untuk ulama-ulama yang telah mengabdikan hidupnya dengan Khidmah Islami; layaknya kita berikan udzur kepada sosok seperti An Nawawi, Ibnu Hajar, As Suyuthi, atau yang semisal itu rahimahumullah.

Kerinduan Asy Syaikh rahimahullah terhadap satu kepemimpinan Islam (baca: Khalifah) adalah kerinduan kita semua. Kaum Muslimin saat ini -meminjam istilah Rizki Ridyasmara- adalah laksana anak ayam yang kehilangan induk, hidup “menggelandang” tanpa kepemimpinan yang jelas. Dan momen Idul Fithri 1433 H ini sedikit mengobati kerinduan itu. Alhamdulillah ya Allah, hamdan laka ya Ra’uf tahmidan katsira kamaa ‘adada nikmatika ‘ala kulli khalqika. Ya ikhwah sekalian, kita berharap kesatuan Ummat di hari Ahad esok adalah cerminan kembalinya Khilafah Islamiyah di muka bumi. Amin ya Mujibas sa’ilin.

Inilah makna indah dari Idul Fithri 1433 H ini. Kita diberi nikmat oleh Allah Azza Wa Jalla untuk berhari-raya secara serentak di muka bumi, di hari Ahad, 1 Syawwal 1433 H (19 Agustus 2012 M). Di sisi lain, bagi kami (pengelola blog ini), ingin memberikan apresiasi, penghormatan, serta doa kebaikan bagi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah. Bagaimanapun juga, beliau adalah seorang ulama yang mendambakan satu kepemimpinan Islam (Khilafah Islamiyyah).

Kita Semua Mendambakan Kesatuan Ummat Islam Secara Global.

Akhirnya, terucap seindah-indah kata dari blog abisyakir…

Selamat Merayakan Idul Fithri 1433 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idina wal fa’izin, kullu aamin wa antum bi khair. Mohon dimaafkan atas segala salah, khilaf, dan kekeliruan, secara lahir dan bathin. Semoga Allah memberkahi kehidupan kita semua. Semoga esok hari lebih baik dari sebelumnya; semoga hidup kita kelak berakhir dalam Husnul Khatimah. Amin Allahumma amin.

Malang, 18 Agustus 2012.

(AM. Waskito, Keluarga, & Seluruh Pembaca Budiman).


Silakan Anti Ahok, Tapi Jangan Kaitkan Foke dengan Islam!

Agustus 18, 2012

Seiring semakin dekatnya akhir Ramadhan, dan menjelang bulan Syawal, satu penjelasan kecil ingin disampaikan, terkait Pilkada DKI 2012 putaran II, yang akan berlangsung September nanti. Hal ini disampaikan agar tidak muncul salah paham.

[1]. Adalah hak warga Muslim Jakarta, atau Muslim di tempat lain, untuk memilih atau mendukung calon pemimpin yang diyakini akan membawa kemaslahatan bagi kehidupan ke depan. Karena lazimnya seorang Muslim, dia mendambakan maslahat dan berusaha sekuat tenaga menjauhi madharat. Sesuai prinsip Syariat Islam: jalbu al mashalih wa daf’u al mafasid (mencapai kebaikan dan menolak kemadharatan).

“Simbol Kumis” Sangat Jauh dari Pesan Islami. Ini Tidak Mewakili Aspirasi Islam.

[2]. Warga Muslim Jakarta sangat berhak bersikap apapun, seperti menolak pasangan Jokowi-Ahok, lalu memilih pasangan Foke-Nara. Hal ini boleh semata, sebagai bagian dari hak kebebasan menyalurkan aspirasi politik. Misalnya, alasannya Jokowi cenderung Kejawen; Ahok seorang non Muslim, China lagi; kalau Jokowi menang, khawatir nanti Jakarta akan semakin dikuasai oleh non Muslim dan China. Alasan demikian, secara politik, sifatnya boleh, tidak ada larangan.

[3]. Jika Muslim Jakarta menolak pasangan Jokowi-Ahok dengan alasan di atas (poin ke-2), itu sudah cukup. Itu sudah sah dan standar, bagi siapa saja yang memiliki hak suara. Namun, jika sudah beralasan seperti itu, jangan lantas menganggap pasangan Foke-Nara sebagai pasangan yang Islami. Jangan demikian, sebab itu jelas mendustakan kebenaran. Silakan saja anti Jokowi atau anti Ahok; tapi jangan beralasan bahwa Foke-Nara lebih Islami. Ini sebuah kedustaan yang nyata. Foke-Nara itu jelas-jelas didukung oleh Partai Demokrat, Partai Golkar, PDS, PKB, PKS, PAN, dan lainnya. Partai-partai Neolib dan sekuler mendukung dirinya; atau mendukung “Simbol Kumis” Foke. Bagaimana hal ini dianggap sebagai pasangan Islami? Kalau mengaitkan Foke dengan perjuangan Islam, sementara buktinya tidak ada, jelas ini sebuah kedustaan yang nyata.

[4]. Kemudian, jika warga Muslim Jakarta mendukung Foke-Nara, jangan karena alasan: Foke-Nara anti Wahabi atau hal itu dilakukan demi menjaga persatuan Ummat. Alasan demikian sangat menyakitkan hati saudara-saudaramu sesama Muslim; ia jelas-jelas memecah-belah barisan Ummat; dan merupakan fitnah bagi gerakan dakwah Wahabi. Tolonglah, jangan dipakai alasan keji seperti itu. Kalau tetap dipakai, jangan salah kalau akan bermunculan sikap anti Foke-Nara secara ideologis dari semua kalangan gerakan dakwah Wahabi.

[5]. Siapapun yang nanti terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta, bukan berarti masalah-masalah Ummat Islam akan otomatis selesai, atau semakin ringan. Jangan bermimpi terlalu jauh! Kita masih ingat, tahun 2004 lalu, DKI Jakarta secara politik dikuasai oleh PKS. Mereka mendominasi perolehan suara di tingkat parlemen DKI Jakarta. Gubernur Jawa Barat sekarang, Ahmad Heriyawan, adalah termasuk anggota DPRD DKI Jakarta periode itu. Tapi Ummat Islam bisa merasakan sendiri, sejuhmana dampak kemenangan politik PKS di Jakarta ketika. Ngaruh tidak? Kalau setingkat PKS saja tidak banyak pengaruhnya, apalagi sosok Foke yang membanggakan Kumis-nya. Maksudnya, bila nanti Foke berkuasa lagi, dan ternyata tidak banyak perubahan; ya mesti bersabar. Namanya juga sistem sekuler, mau dibolak-balik seperti apapun, hasilnya sama; ngenes.

Demikian yang bisa disampaikan. Selamat menyambut Idul Fithri 1 Syawal 1433 H. Taqabbalallah minna wa minkum shalihan a’mal. Ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idina wal fa’izin, kullu aamin wa antum bi khair. Mohon maaf lahir dan bathin.

Abu Muhammad (Joko) Waskito.


Foto Indah Ramadhan 1433 H…

Agustus 16, 2012

Berikut sebuah foto yang saya kopi dari fesbuk. Foto ini diunggah oleh “I Love Muhammad” (love-nya gambar hati). Foto ini disukai oleh 28.151 orang, telah dibagikan sebanyak 2.879 kali. Komentatornya memakai bahasa Arab, Indonesia, dan Inggris.

Foto ini menceritakan tentang penuh sesaknya Masjidil Haram As Syarif saat malam ke-27 Ramadhan kemarin. Lautan manusia tumpah-ruah sampai di lantai masjid teratas. Mereka berjihad demi mengagungkan Rabbul ‘alamiin di malam yang diyakini di dalamnya terdapat Lailatul Qadar; dimana ia lebih baik dari 1000 bulan, dan kedamaian padanya hingga saat datangnya fajar.

Jihad Ummat dalam Rangka Mencari Lailatul Qadar.

Ya Allah anugerahi kami Lailatul Qadar. Jangan haramkan kami untuk mencarinya, mencintainya, dan mendapatkannya; di setiap tiba bulan Ramadhan. Muliakan hidup kami dengan mencintai Ramadhan, mencintai Sunnah Nabi, mencintai Lailatul Qadar, mencintai Masjidil Haram Syarif, serta mencintai kaum Muslimin seluruhnya. Ya Allah terimalah amal-amal kami, zhahir dan bathin, yang sedikit maupun yang banyak, yang bersungguh-sungguh atau yang penuh kelemahan. Ya Allah sampaikan kami kepada Ramadhan tahun depan; dan anugerahkan kami akhir kehidupan Husnul Khatimah. Amin Allahumma amin.

Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abah Syakir).

 


Kala Aktivis Islam Mendukung Foke-Nara (Pilkada Jakarta)

Agustus 13, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Jujur saja, sering muncul rasa heran di hati melihat pemikiran-pemikiran politik yang berkembang di tengah para aktivis Islam di negeri ini. Sebenarnya, pola aliran politik mereka seperti apa? Konstruksinya bagaimana? Atau dengan bahasa lugas, mereka itu sebenarnya maunya apa? Kebingungan ini muncul ketika melihat begitu rapuhnya pandangan politik para aktivis Islam ketika menyikapi Pilkada DKI 2012 yang nanti mempertemukan pasangan Foke-Nara versus Jokowi-Ahok.

Kalau membaca artikel-artikel di Voa-islam.com, jelas mereka cenderung mendukung Foke-Nara. Mungkin alasannya, karena Ahok beragama Kristen; nanti kalau Jokowi diajak oleh Prabowo sebagai calon Wakil Presiden dalam Pilpres 2014, maka otomatis Ahok akan jadi penguasa DKI Jakarta, sehingga kemudian Jakarta akan berubah menjadi kota milik China. Kok sampai segitunya… Apakah persoalan politik bisa dipetakan se-simple itu?

Tabloid Suara Islam bahkan dalam edisi terbaru, terang-terangan memuat kampanye Foke-Nara di halaman terakhir, penuh satu halaman. Termasuk PKS, akhirnya menyatakan dukungan kepada Foke-Nara. Yang sangat mengesalkan dari PKS ini, padahal kita sudah sama-sama tahu bahwa PKS sangat OPORTUNIS sikap politiknya; mereka memanfaatkan momen dukungan ke Foke-Nara ini untuk memojokkan kalangan Wahabi. PKS-PKS…kalian ini belum berbuat banyak demi kemajuan hidup kaum Muslimin di Nusantara, tetapi sangat berani memfitnah saudaranya yang sebenarnya tidak ada kaitan apa-apa dengan Pilkada DKI.

Jangan Bersikap Partisan. Tetapi Kembangkan “Politik Lobi”.

Ketua DPW PKS DKI Jakarta, Slamet Nurdin, seperti dilansir oleh situs Merdeka.com, Sabtu (11 Agustus 2012) menyebut salah satu alasan PKS mendukung Foke-Nara: “Ada beberapa hal yang termasuk dalam kontrak kerja kita, putaran pertama telah terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan berdampak kurang menguntungkan dan berpotensi untuk terjadinya perpecahan di kalangan umat. Maka sebagai penganut Ahlussunnah waljamaah, BUKAN WAHABI anti-maulid dan anti-tahlil, kedua belah pihak telah saling memaafkan dan bersepakat meminta maaf kepada pendukungnya untuk mengutamakan persatuan umat dan konstituennya.” Pernyataan ini dilontarkan Slamet di kantor DPP PKS di Jl. TB. Simatupang Jakarta Selatan. (Dikutip dari: PKS Bukan Wahabi Anti Maulid dan Tahlilan).

Pernyataan seperti ini jelas memecah-belah barisan Ummat. Katanya menghindari perpecahan, tetapi malah membuat perpecahan baru. Atau di mata PKS, kaum Wahabi bisa jadi sudah dianggap bukan bagian dari Ummat Islam? Allahu Akbar! Kaum Wahabi tidak ada kaitannya dengan Pilkada DKI, kok dibawa-bawa? Duhai nasibmu PKS, kalian bukannya mengisi Ramadhan dengan banyak amal kebajikan, malah menyebar fitnah dan perpecahan kaum Muslimin; demi kekuasaan politik. Padahal sebelumnya, PKS ini dikenal sangat benci kepada sosok Foke. Kini mereka menjilat ludah sendiri, demi syahwat kekuasaan.

Cara-cara politik menjijikkan seperti ini tidak ada MASLAHAT-nya bagi kaum Muslimin. Yakinlah, Allah tidak menyukai cara-cara keji dalam perjuangan keummatan. Disebutkan dalam Al Qur’an: “Wa annallaha laa yahdi kaidal kha’inin” (bahwa sesungguhnya Allah tidak meridhai tipu-daya orang-orang yang berkhianat). [Surat Yusuf, 52].

Jika saya menyampaikan kritik seperti ini, bukan berarti saya mendukung Jokowi-Ahok, atau melarang orang mendukung Foke-Nara. Bukan sama sekali. Maksud saya adalah: cobalah dari para aktivis Islam, para ustadznya, para kyainya, para ulamanya, mereka lebih cerdas dalam berpolitik. Jangan bersikap partisan, demi kepentingan jangka pendek, dengan asumsi-asumsi yang mentah! Kalau memang kita pro Syariat Islam, ya timbanglah semua calon itu dengan Syariat Islam. Bila di antara sekian calon itu tidak ada yang memenuhi harapan Syariat, ya sudah jangan memaksakan diri!

Apa Anda tidak pernah belajar dari kisah Nabi dan para Shahabat, bahwa mereka berkali-kali menahan diri, tidak cepat bersikap, bila keadaan belum memungkinkan? Apakah yang dinamakan politik Islami itu selalu memberikan dukungan, wahai Saudaraku? Baca kembali kisah Nabi Saw dan perjanjian Hudaibiyah! Baca juga keberanian Nabi memerintah para Shahabat hijrah ke Habasyah. Baca pula kisah ketika Nabi meminta pertolongan kepada seorang tokoh musyrik di Makkah, Muth’im bin Ady. Baca pula keberanian Nabi Saw mengikat kaum Yahudi dan kabilah-kabilah Arab di Madinah lewat Piagam Madinah. Perhatikan di semua kejadian itu, apakah Nabi Saw selalu bersikap hitam-putih dalam berpolitik?

Menurut saya, sangat berlebihan kalau kini suara kaum Muslimin di DKI dimobilisasi untuk mendukung pasangan Foke-Nara; dengan alasan bahwa Ahok itu Kristen dan punya missi menguasai Jakarta, sehingga kelak Jakarta akan dikuasai oleh orang-orang China. (Tanpa ada Ahok pun, sejak lama bisnis Jakarta sudah dikuasai China). Cara berpikir demikian lebih mencerminkan provokasi dan agitasi, bukan kecerdasan berpolitik yang dibangun di atas kedewasaan, kematangan berpikir, dan pengalaman. Apa kita tidak pernah belajar dari pengalaman sebelum-sebelum, ketika Megawati diserang dengan alasan “haram pemimpin wanita”; terbukti suara Megawati atau PDIP selalu menggungguli partai Muslim. Atau pasangan SBY-Boediono diserang dengan alasan “isterinya Boediono Nasrani” atau “isterinya SBY tidak memakai jilbab”; terbukti pasangan itu tetap menang.

Anda pernah tidak sih merasakan, betapa sakitnya hati kita ketika aspirasi politik Islam selalu diolok-olok oleh kaum Liberalis, para pengamat politik, para jurnalis, serta para peneliti akademik. Mereka sering berkata: “Lihatlah, lihatlah hasil pemilu ini! Ternyata para pemilih sekarang tidak mau lagi menjadikan sentimen agama sebagai pertimbangan untuk memilih partai atau calon pemimpin. Suara peroleh partai “Islam” semakin kecil, tokoh-tokoh politisi “Islam” selalu kalah oleh tokoh-tokoh politisi sekuler.”

Mengapa omongan-omongan seperti itu muncul? Ya karena kita terlalu bernafsu mengklaim ini dan itu, tanpa pertimbangan politik yang matang. Level pemikiran politik kita baru sebatas provokasi dan agitasi, sementara mayoritas rakyat yang dihadapi (sebagai peserta pemilu) adalah kaum “abangan” yang jauh dari nilai-nilai Syariat. Nasib kita tak ubahnya seperti PKB yang selalu mengklaim sebagai partai yang didukung ormas terbesar di Indonesia; tetapi nasib PKB sendiri sejak pemilu 1999 sampai kini, tidak pernah mengantongi dukungan suara lebih dari 13 % (semakin kesini suara PKB semakin merosot, malah nyaris tereliminasi).

Tentang sosok Foke-Nara sendiri, apa alasan Anda mendukung dirinya? Apakah Foke sosok pemimpin pro Syariat Islam? Apa benar dia akan memperbaiki kehidupan rakyat Jakarta, yang dimulai dengan memperbaiki ruhani mereka dengan nilai-nilai Islam? Apakah kepemimpinan Foke selama ini sudah Islami, sudah sesuai Syariat, sehingga layak didukung penuh? Apakah Jakarta di era Foke sudah sepi dari maksiyat, hedonisme, kriminalitas, mafia, kemiskinan, korupsi, pengrusakan lingkungan, kapitalisme, liberalisme, dan lainnya? Apakah Foke telah menjadikan Jakarta sebagai kota Qurrata A’yun (penyejuk pandangan mata), Sakinah wa Rahmah (tenang dan penuh kasih sayang), Aminatan wa Muthma’innah (aman dan damai), Baldatun Thaiyibah wa Rabbun Ghafur?

Maksud saya begini, kalau kita bersikap anti kepada Jokowi-Ahok; itu hak politik kita, boleh-boleh saja, silakan-silakan saja. Tetapi janganlah membawa-bawa nama Islam untuk mendukung Foke-Nara. Foke-Nara bukanlah pemimpin Islami yang sesuai Syariat Islam, bukan sosok pemimpin yang dimunculkan oleh agenda perjuangan kaum Muslimin; dia sama seperti politisi-politisi sekuler lainnya. Ciri kesekuleran Foke sangat jelas, lihat pada SIMBOL KUMIS-nya. Mana ada ajaran Nabi Saw yang memerintahkan: Coblos kumisnya! Ini kan simbolisasi yang bertentangan dengan Sunnah.

Jangan karena air mata Rhoma Irama, kita jadi lebay. Kita jadikan Rhoma sebagai sosok panutan Ummat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Padahal orang ini selama 30 tahun lebih, telah memasyarakatkan Dangdut dan mendangdutkan masyarakat. Anda pernah melihat bahwa lagu-lagu Rhoma telah banyak menipu kaum Muslimin di Asia Tenggara ini? Ratusan juta kaum Muslimin menyangka, bahwa Islam mengajarkan lagu Dangdut, membolehkan Dangdut, atau mengembangkan Dangdut; karena Rhoma selalu menyitir ayat/hadits dalam konser dan lagu-lagunya. Apakah dulu, Nabi kalian –shallallah ‘alaihi wasallam– seorang penyanyi Dangdut, dan mengajarkan agama lewat lagu-lagu Dangdut? Heran sekali, mengapa pada hari ini para aktivis Islam mendadak menjadi bagian dari “Fans setia Bang Haji”? Ada apa ini…

Akhunal karim rahimakumullah…

Dalam Pilkada DKI 2012 ini dan pilkada-pilkada lain; selagi kita belum bisa melahirkan calon yang pro Syariat Islam; cobalah jangan bersikap partisan (mendukung salah satu calon tertentu); tetapi tempuhlah POLITIK LOBI. Biarkan saja pasangan Foke-Nara bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta; tidak perlu dipilih salah satunya, karena masing-masing tidak memenuhi kriteria Syariat Islam. Kita memilih bersikap netral saja. Lakukan pendekatan ke kedua pasangan calon; dekati mereka baik-baik, jangan dijelek-jelekkan salah satunya. Dekati mereka baik-baik, sehingga siapapun yang menang dari keduanya, kita nanti bisa memiliki efek pengaruh kepadanya. Kalau Foke menang, karena sudah kita baik-baiki, maka dia akan hargai aspirasi kita; begitu juga kalau Jokowi menang, dia juga akan bersikap baik, karena sudah kita dekati secara simpatik. Inilah politik lobi; bukan politik partisan!

Kalau kita kembangkan politik partisan (dalam kondisi tidak ada satu pun calon yang pro Syariat Islam); maka kalau nanti salah satu calon itu menang, kemenangannya akan merugikan Islam. Andaikan Foke menang, maka kemenangan-nya akan menyulut kebencian para pendukung Jokowi dari kalangan “abangan” terhadap dakwah Islam; mereka menuduh bahwa kekalahan Jokowi karena isu-isu sentimen keislaman. Andaikan Jokowi menang, karena sejak awal dia dipersepsikan sebagai politisi sekuler dan anti Islam, maka kemenangannya akan menjadi alasan bagi dia untuk terang-terangan memusuhi Islam; dan nanti hasil-hasil baik kepemimpinan dia di Jakarta akan diklaim sebagai bukti kehebatan sekularisme.

Dalam kondisi seperti Pilkada DKI 2012 ini, jangan memilih politik partisan. Tetapi pilihlah politik lobi-lobi. Kecuali, kalau kezhaliman dan kemunkaran seorang calon pemimpin sudah nyata-nyata, sangat jelas, tidak samar lagi; maka kita boleh menafikan calon itu dan menyerukan Ummat untuk tidak mendukungnya, karena alasan kezhaliman dan kemunkaran dirinya.

Demikian, semoga bermanfaat. Selamat menyempurnakan ibadah di 10 hari terakhir Ramadhan, sekaligus selamat menyambut datangnya momen Idul Fithri 1433 H. Barakallah fikum jami’an, wa taqabbalallahu minna wa minkum shalihan a’maal; minal a’idina wal fa’izin wa kullu aamin wa antum bi khair.

Ardhullah, 13 Agustus 2012.

AMW.


Inspirasi Ramadhan: “Carilah Jalan untuk Mencintai Al Qur’an!”

Agustus 11, 2012

Carilah Jalan untuk Mencintai Al Qur’an! Lalu Jadikan Ia Amal Harianmu! Terus Konsistenlah Menjaganya Hingga Akhir Hayatmu!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ikhwan wa akhwat rahimakumullah jami’an.

Ramadhan ini sering disebut sebagai Syahrul Qur’an; posisi Al Qur’an di bulan ini sangat significant dibandingkan bulan-bulan lain. Selagi Anda semua terus beribadah menyempurnakan shaum dan qiyam di bulan ini, ada sebuah INSPIRASI besar yang ingin disampaikan. Semoga dengan segala kelebihan, keberkahan, dan kesiapan ruhiyah kita di bulan ini; kita bisa memetik sebaik-baik hikmah amalan, untuk dijalankan. Amin Allahumma amin.

DALIL SYAR’I

Ada beberapa hadits Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam terkait Al Qur’an. Nabi pernah bersabda: “Khairukum man ta’allamal qur’an wa ‘allamahu” (sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya). Di kesempatan lain, beliau menyuruh kita untuk selalu membaca Al Qur’an: “Iqra’ul qur’ana fa innahu saya’ti yaumal qiyamati syafi’an li ashabih” (bacalah Al Qur’an itu, karena ia kelak akan datang di Hari Kiamat sebagai penolong bagi para sahabatnya -sahabat Al Qur’an-). Dua riwayat ini shahih semua. Riwayat pertama menjelaskan kedudukan orang-orang yang selalu belajar-mengajar Al Qur’an. Riwayat kedua menjelaskan, bahwa Al Qur’an kelak akan menjadi SYAFAAT (penolong) bagi para pecintanya.

Dalam riwayat lain, seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam: “Bilakah terjadi Hari Kiamat?” Nabi tidak langsung menjawab, tetapi beliau malah berkata: “Apa yang engkau telah siapkan untuk menghadapi Hari Kiamat?” Kemudian sahabat itu berkata: “Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Maksudnya, persiapan yang dia miliki untuk menghadapi Hari Kiamat ialah dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya). Lalu Nabi berkata, “Al mar’u ma’a man ahabbu” (seseorang itu kelak akan bersama siapa saja yang dicintainya).

Jika kita mencintai Al Qur’an, maka kelak kita akan bertemu dan bersanding dengan yang kita cintai (Al Qur’an). Maka riwayat-riwayat ini mendorong kita semua untuk mencari jalan dalam mencintai Al Qur’an. Janganlah seorang Muslim berhenti, istirahat, atau merasa santai; sebelum dia menemukan jalan untuk mencintai Al Qur’an.

PRINSIP MENCINTAI AL QUR’AN

Ada beberapa prinsip penting dalam mencintai Al Qur’an, yaitu sebagai berikut:

[1]. Kita bisa mencintai Al Qur’an dengan membacanya (tilawah), atau menghafalnya (tahfizh), atau memahami isinya (tafhim), atau mengajarkannya (ta’allum), atau melakukan studi atasnya (dirasah).

[2]. Pilih salah satu dari cara yang paling memungkinkan kita lakukan, sesuai kesempatan yang ada, kemampuan yang dimiliki, serta kebutuhan yang paling urgen bagi kita. Boleh juga dilakukan kombinasi dua cara atau lebih.

[3]. Hendaknya kita setiap hari (daily) terus berinteraksi dengan Al Qur’an, sesuai cara yang telah kita pilih. Usahakan, jangan sekali pun lalai dari berinteraksi dengan Al Qur’an, meskipun hanya sedikit yang kita peroleh. Prinsipnya, amal terbaik di sisi Allah ialah yang dawam (kontinue), meskipun sedikit jumlahnya. Dalam riwayat disebutkan: “Adwamuha wa in qolla” (yang terus-menerus, meskipun sedikit). Perkara yang dihargai disini ialah KONSISTENSI kita, bukan kuantitas amalan.

[4]. Lakukan upaya membaca, atau menghafal, atau memahami, atau studi secara runut dari awal sampai akhir; maksudnya, dari sejak Surat Al Fatihah sampai Surat An Naas. Jangan meloncat-loncat, jangan serabutan; jalan bolak-balik dari depan ke belakang, lalu belakang ke depan; pokoknya bersifat runut dari awal sampai akhir. Mengapa demikian? Karena memang urutan-urutan itu telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala; setiap bulan Ramadhan Jibril ‘Alaihissalam selalu memeriksa bacaan Al Qur’an Nabi. Urut-urutan ini harus kita hormati dan agungkan, sebagaimana Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah meridhai urut-urutan itu.

[5]. Jika Anda sudah menemukan cara terbaik dalam mencintai Al Qur’an; sesuai keadaan Anda, kemampuan yang Anda miliki, sesuai kebutuhan paling urgen, sesuai kesempatan yang ada; dan Anda mulai mendapatkan banyak keberkahan dari upaya mencintai Al Qur’an ini; maka pelihara amal Qur’ani harian ini sampai engkau berjumpa Rabb-mu. Pelihara terus, pelihara sekuat tenaga, secara konsisten, sampai kita benar-benar menjadi sahabat Al Qur’an. Bisa jadi, suatu masa kita akan mengubah cara kita; tidak mengapa, sebab memang hal ini termasuk bagian dari keluasan agama kita; namun nanti setelah memilih cara baru, harus konsisten juga. Pendek kata, jangan sampai kehilangan amal Qur’ani harian ini.

Secara Syariat Islam, kita tidak diwajibkan untuk menghafal Al Qur’an, atau tidak diwajibkan mengkhatamkan Al Qur’an setiap 3 hari, setiap seminggu, atau setiap bulan. Tidak ada kewajiban seperti itu, sebab amaliyah Qur’an bersifat mastatha’tum (sesuai kesanggupan kalian). Namun mencintai Al Qur’an adalah pilihan terbaik, jika kita ingin dimudahkan dalam kehidupan dunia, dan diselamatkan di Akhirat nanti (melalui syafaat Al Qur’an).

AMAL HARIAN PRAKTIS

Secara praktis, upaya mencintai Al Qur’an ini bisa dilakukan dengan alternatif cara sebagai berikut…

[a]. Membaca Al Qur’an, rutin satu halaman setiap hari. Jika mampu lebih dari satu halaman, silakan; tetapi harus konsisten, merasa ringan, dan bersemangat.

[b]. Menghafal Al Qur’an per hari 5 ayat, atau setengah halaman, bila mampu. Bila mampu lebih dari itu, misalnya satu halaman per hari, itu sangat baik. Hafalan sedikit-sedikit tidak mengapa, asalkan konsisten.

[c]. Memahami ayat Al Qur’an dan terjemahnya (tadabbur), satu pasal setiap hari. Pada Al Qur’an dan Terjemahnya, terbitan Depag RI, materi ayat-ayat sudah disusun berdasarkan pasal-pasal. Jika kita setiap hari bisa membaca satu pasal ayat dan terjemahnya, itu sangat baik. Sekali lagi, asalkan konsisten, bukan angin-anginan.

[d]. Mempelajari tafsir Al Qur’an, ayat demi ayat, rutin setiap hari. Jika mampu membaca beberapa versi tafsir Al Qur’an, itu lebih baik.

[e]. Membaca Al Qur’an dengan tajwid yang sempurna, misalnya 3 ayat 3 ayat, setiap hari. Silakan jika mampunya demikian.

[f]. Mengejar bacaan Al Qur’an, setiap hari 1 juz, atau 1/2 juz. Targetnya memperbanyak khatam Al Qur’an. Kalau sehari 1 juz, sebulan khatam; kalau sehari 1/2 juz, dalam dua bulan baru khatam. Membaca 1/4 juz, juga tidak apa-apa. Asalkan rutin setiap hari dan konsisten.

[g]. Menghafal Al Qur’an surat demi surat. Boleh dimulai dari juz 30, lalu juz 29, lalu juz 28, dan seterusnya. Dimulai dari surat-surat pendek sampai surat-surat panjang seperti Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa’, Al Maa’idah, dan lainnya.

[h]. Hanya membaca terjemah Al Qur’an, tanpa membaca ayatnya, sehari misalnya membaca 1 juz terjemah Al Qur’an, seperti layaknya membaca buku. Ini tidak apa-apa, jika kita memang mampunya demikian. Tetapi saat-saat tertentu, tetap harus membaca ayatnya sesuai kaidah tajwid; sebab terjemahan itu jelas bukan lafazh asli dari Al Qur’an.

[i]. Menghafal nama-nama Surat Al Qur’an, nomer suratnya, jumlah ayatnya, latar-belakang nama surat, dan isi umum yang terkandung dalam surat tersebut. Boleh menghafal pengetahuan demikian. Tetapi saat-saat tertentu tetap harus membaca ayat aslinya, karena ia memiliki keutamaan sebagai amal Tilawah Qur’an.

[j]. Membaca ayat-ayat tertentu pada Al Qur’an dengan melagukannya (qira’ah). Misalnya dengan menggunakan lagu Baiyati, Hijaz, Rast, Nahawand, dan lainnya. Tetapi harus tetap menyediakan waktu untuk membaca ayat-ayat Al Qur’an secara tartil, sesuai kaidah-kaidah tajwid. Karena asas bacaan Al Qur’an adalah tartil; sedangkan melagukan ialah dalam rangka mencintai dan mengagungkan ayat-ayat Al Qur’an.

[h]. Dan lain-lain cara yang kita sanggupi, mampu lakukan, dan butuhkan.

Pilihlah salah satu di antara sekian cara untuk mencintai Al Qur’an. Lakukan hal itu sebagai AMALAN HARIAN, dan terus lakukan secara konsisten. Jangan melihat kuantitas, tetapi lihatlah sisi konsistensinya. Hal inilah yang berharga di sisi Allah, karena kita selalu menyediakan waktu setiap hari untuk dekat dan mencintai Kitabullah.

MASALAH SERIUS

Problem yang sering muncul ketika kita mulai mencintai Al Qur’an adalah omongan was-was yang keluar dari lisan-lisan manusia. Was-was itu begitu menyesakkan dada, sehingga seringkali membunuh keinginan seorang insan  untuk mencintai Kitabullah.

Misalnya, kita sudah rutin setiap hari membaca Al Qur’an satu halaman. Hal ini sudah disesaikan dengan kesempatan, kemampuan, kebutuhan, serta kondisi sekitar. Tidak banyak memang, hanya 1 halaman per hari. Tetapi hal itu rutin dilakukan, setiap hari, secara konsisten; dan kita sudah merasakan hasil barakah ruhani dengan amalan harian itu. Lalu datang seseorang mencela amal kita itu. Katanya, amal Al Qur’an kita terlalu sedikit.

Orang itu berkata: “Imam Syafi’i saja setiap Ramadhan, setiap hari beliau bisa khatam. Di Mesir ada shalat tarawih yang setiap malam menghabiskan 10 juz. Di India malah ada shalat tarawih yang khatam 30 juz dalam semalam. Mestinya kalau sudah berumur 20 tahun, kita sudah hafal Al Qur’an. Di Saudi banyak anak SMA sudah hafal Al Qur’an. Syaikh Qaradhawi hafal Al Qur’an saat usia 10 atau 12 tahun. Mestinya dalam sehari kita bisa menghabiskan 10 juz Al Qur’an, sehingga dalam 3  hari kita sudah khatam. Minimal, kita khatam sekali dalam sebulan. Anak-anak SD mestinya ketika lulus SD, dia sudah hafal 6 juz; anak SMP saat lulus hafal 6 juz; anak SMA saat lulus hafal 8 juz; seorang mahasiswa saat lulus sarjana hafal 8 juz; sehingga total hafal 30 juz.”

Cara menjawab perkataan seperti itu, antara lain…

Jangan samakan diri kita dengan Imam Syafi’i yang memang hafal Al Qur’an, mumpuni dalam bahasa Arab, Sastra, dan Tafsir. Beliau sendiri berkecimpung penuh dalam pelayanan ilmu-ilmu keislaman. Imam Syafi’i hidup di tengah masyarakat Islami yang mendapatkan perlindungan penuh dari negara. Sementara kita hidup di negeri sekuler yang negara tidak bisa diandalkan untuk menjaga agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan kaum Muslimin.

Kalau ada orang yang mampu melakukan amal-amal yang banyak seputar Al Qur’an; bisa jadi dia adalah ulama, atau calon ulama; atau dia sehari-hari memang memiliki banyak kesempatan dan fasilitas untuk itu; atau dia belum berkeluarga sehingga masih banyak menikmati kebebasan situasi. Dan kita berharap dia benar-benar telah menjalankan kata-kata yang dia omongkan itu; sebab banyak terjadi, para penceramah, khatib, ustadz, murabbi, dll. mereka berbicara tinggi tentang Al Qur’an, sementara mereka sendiri tidak menjalani hal itu.

Kalau kita mampu dan diberi kesempatan melakukan amal-amal yang banyak seputar Al Qur’an, ya lakukan hal itu. Dulu para tahanan politik di era Orde Baru; mereka setiap hari selama di penjara bisa sepuas-puasnya membaca Al Qur’an; tetapi ketika mereka sudah keluar dari penjara, langsung drop kuantitasnya. Jika kita mampu, ada peluang, dan merasa mencintai; tidak mengapa beramal sebanyak-banyaknya.

Tetapi jika kita memang mampunya beramal sedikit, sesuai kemampuan dan kesempatan yang ada, ya lakukan yang sedikit itu. Jangan takut dengan omongan orang! Lakukan apa yang bisa dilakukan. Toh, sejujurnya kita tidak diwajibkan mencapai kuantitas sekian dan sekian. Tetapi kita harus berusaha mencintai Al Qur’an, agar ia menjadi sahabat kita dalam kehidupan sehari-hari; dengan demikian kita bisa berharap kelak di Akhirat akan mendapat syafaat dari Kitabullah Al Karim tersebut.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga risalah sederhana ini bermanfaat dan bisa diamalkan. Allahumma amin. Mulailah mencari jalan untuk mencintai Kitabullah! Jadikan ia sebagai amal harianmu, dan pelihara amal itu secara dawam (kontinue). Amal terbaik di sisi Allah ialah yang kontinue, meskipun sedikit sedikit. Wallahu a’lam bisshawaab.

(Abinya Syakir).


Sisi Menyedihkan Sinetron PPT (Para Pencari Tuhan)

Agustus 9, 2012

Sudah bertahun-tahun publik kaum Muslimin di Indonesia, setiap tiba momen Ramadhan, disuguhi tontonan serial sinetron PPT (Para Pencari Tuhan). Kini sinetron ini sudah masuk session ke-6. Luar biasa! Sinetron yang diproduseri aktor kawakan Dedi Mizwar ini pada mulanya banyak meraup pujian-pujian. Tapi saat kini, apalagi setelah sessi ke-6 ini, semakin jauh dari cita rasa sinetron berkualitas.

Maaf ya, bukannya kami ini suka mengkritik ini dan itu, atau merasa “nikmat” dengan mengkritiki orang lain. Tapi satu hal yang menjadi prinsip disini ialah memberikan yang terbaik bagi Ummat; janganmengeksploitasi mereka untuk tujuan-tujuan sempit atau komersial belaka. Hal demikian ini bahkan merupakan hak-hak publik sebagai konsumen siaran TV. Kalau memang sajiannya bagus, moralis, dan konstruktif, ya silakan dipuji; tapi kalau sajiannya sudah ngaco, ya jangan dipuji terus.

“Berikan yang Terbaik, Seperti Allah telah Memberi yang Terbaik.”

Setidaknya ada 3 kritik besar yang ingin disampaikan kepada insan-insan artis dan media yang berada di balik tayangan sinetron PPT. Silakan Anda cermati apakah muatan kritik yang kami sampaikan ini mengada-ada, atau memang realistik.

[1]. Sinetron PPT alur ceritanya semakin mbulet, rumit, dan tidak jelas. Kelihatan sekali kalau sinetron ini hanya bersifat “kejar proyek Ramadhan”. Sampai PPT sesi ke-3 alur ceritanya masih bagus dan runut. Tapi setelah itu, alurnya semakin kacau. Banyak muncul masalah-masalah baru secara tiba-tiba. Mengejutkan memang, tetapi kejutan-kejutan itu tidak ada ujungnya. Akhirnya kejutan-kejutan itu hanya bertumpuk dan menyisakan tanda tanya besar di benak para pemirsa. Dan herannya, seorang tokoh dalam sinetron itu bisa berwarna-warni karakternya. Misalnya, sosok Asrur yang semula miskin, banyak mengeluh, dan selalu menyimpan “dendam sosial”. Di lain waktu dia bisa kelihatan alim, seperti shufi, bijaksana, menyayomi, kaya materi, dan seterusnya. Pertanyaannya, plot karakter Asrur ini sebenarnya bagaimana ketika sinteron itu pertama dibuat? Apakah karakter dia bisa berubah-ubah, sesuai tuntutan skenario di tengah jalan?

[2]. Missi dari semua cerita dalam sinetron PPT ini sebenarnya apa dan bagaimana? Awalnya, kita tahu bahwa Bang Dedi Mizwar ingin menyajikan suatu tontonan sinetron yang ringan, punya bobot religi (moral), tidak menggurui, khas dengan bahasa sosial masyarakat, kadang apa adanya (tidak dibuat-buat). Sampai PPT sesi ke-3, warna idealisme itu masih kental. Tetapi semakin kesini-sini, semakin jauh dari harapan. Bahkan title “Para Pencari Tuhan” sendiri sudah tidak jelas apa maunya. Siapa yang mencari Tuhan? Apakah pencariannya sudah sampai? Mau kemana orang-orang yang mencari Tuhan itu? Serba tidak jelas. Singkat kata, mau dibawa kemana arah sinetron PPT itu? Apakah hanya untuk “kejar tayang Ramadhan” saja? Bang Dedi Mizwar pasti pusing kalau ditanya, mau Anda bawa kemana sinetron itu? Missi moral yang Anda usung apa dan bagaimana pencapaiannya?

[3]. Ini yang paling serius dan sangat ironis; setelah memasuki sesi ke-6 ini, ternyata tidak satu pun dari tokoh-tokoh dalam sinetron PPT yang bisa dijadikan teladan. Tidak satu pun. Bayangkan, sinetron ini telah kehilangan arah sedemikian rupa, sehingga seluruh tokoh-tokoh di dalamnya tidak memiliki karakter tetap dan positif yang layak dijadikan teladan. Sebagai perbandingan, dalam serial kartun Winni De Pooh. Meskipun ia kartun, tetapi karakter tokohnya sangat jelas dan kuat. Jadi para pemirsa kartun itu bisa mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh animalnya (kecuali Piglet yang mewakili karakter babi).

Dalam sinetron PPT, misalnya sosok Bang Jack (diperankan Dedi Mizwar). Dia ini selain memiliki kelebihan-kelebihan, juga merupakan sosok guru di mushalla yang oportunis, tidak tegas, berambisi menikahi ibu sahabatnya sendiri, seringkali tidak bisa menjadi penengah. Kemudian sosok Pak Ustadz Fery, dia punya kelemahan; berkarakter takut pada isteri, tidak memiliki pendirian tegas, seringkali tidak mampu mengendalikan jamaahnya, dan aspek keilmuwan agama-nya kurang. Secara ekonomis, Ustadz Fery mendapat income hanya dari hasil kebun; tapi kondisi rumahnya bagus, layak, dan kelihatan mapan. Suatu pemandangan yang ironis.

Begitu juga sosok Asrur, Pak Jalal, Azzam, Pak RW, Juki-Baron-Chelse, dan lainnya. Semuanya memiliki kelemahan-kelemahan mendasar yang membuatnya tidak bisa dijadikan teladan. Kalau hanya kelemahan dalam satu dua sikap, mungkin bisa dimaklumi; tapi kalau kelemahan karakter, bersikap lebay, plin plan, tidak teguh pendirian, hal itu justru jadi masalah.

Jujur, sebenarnya capek melihat kualitas karya-karya seperti ini. Bukan hanya dalam soal sinetron, tetapi juga dalam hal-hal lain. Kerap kali orang berpikir pendek: “Yang penting dapat duit, titik.” Dengan alasan komersialisasi murni itu, lalu kita abaikan hak-hak publik untuk mendapatkan kualitas terbaik. Kita sering berpikir pragmatis “Ah sudahlah, masyarakat kita kan bodoh-bodoh. Silakan saja deh ditipu sedalam-dalamnya!” Ya, jangan begitulah. Kita mesti memiliki sifat rahmat (kasih sayang) kepada sesama manusia, dalam hal ini masyarakat. Berikanlah yang terbaik untuk mereka; sehingga mereka pun akan menghargai karya kita; lalu Allah Ta’ala akan membalasi kesungguhan kita dengan nikmat-Nya.

Sebagai perbandingan. Produsen-produsen klas dunia, seperti Apple, Microsoft, Sony, Honda, Mercy, Samsung, Shell, Google, dan seterusnya; mereka selalu mengacu kepada prinsip memberikan kualitas terbaik. Dengan prinsip itu, produk-produk mereka laris-manis di tingkat global. Hampir tidak ada satu pun produk klas dunia yang kualitasnya jelek. Mengapa bisa demikian? Karena mereka berkeyakinan: kepuasan konsumen adalah garansi kelestarian bisnis kami!

Hargai konsumen-mu! Berikan yang terbaik yang bisa diberikan. Jika konsumen-mu puas, maka legalah hatimu, tenanglah tidurmu. Jika konsumen-mu kecewa, bersiap-siaplah untuk ditinggalkan!

Semoga catatan kecil ini bermanfaat, berarti, dan bisa menjadi inspirasi positif. Amin Allahumma amin.

AMW.