Mengapa Bulu Tangkis Indonesia Kalah Melulu…

Bismillah. Artikel seperti ini merupakan menu khas blog ini. Sama seperti saat kita mengkaji tipe permainan FC Barcelona, maka kini kita coba melihat jenis olahraga rakyat sendiri. Apalagi kalau bukan Bulu Tangkis alias Badminton. Kata Andrea Hirata, olah raga ini pernah menjadi olah-raga rakyat di Belitung. Malah -katanya- bisa menurunkan angka kelahiran anak-anak Belitung. Baca sendiri deh, buku Laskar Pelangi.

Saat kita kini bahas soal Badminton, bolehlah orang akan mengatakan “halah sok tahu low”. Gak apa-apa. Gini-gini juga, dulu saya termasuk penggemar main Bultang (bulu tangkis) ini. Sering main di halaman rumah tetangga.

Biar lebih fair, silakan saja terus dibaca. Insya Allah analisisnya tidak kalah tajam dengan analisis para pemain top. Jika ada sisi baiknya, semoga hal itu bisa dianggap sebagai bagian dari RAHMAT (kasih sayang) Islam kepada bangsa Indonesia secara umum. Amin.

Ehhem…terlalu panjang ya pengantarnya… Mohon sabar sejenak, bulan puasa harus sering-sering sabar…

Bulan Ramadhan 1433 H kali ini bebarengan dengan momen Olimpiade 2012 di London. Setiap ada pesta olah-raga antar bangsa ini, rata-rata perasaan orang Indonesia harap-harap cemas. Kita berharap cabang olah-raga bulu tangkis akan menjadi “sumber tambang medali” yang bisa diekspolitasi sedalam-dalamnya; tetapi saat yang sama, kalau melihat prestasi olah-raga ini di 10 tahun terakhir, kita rata-rata akan lemas.

“Halah, apa yang bisa diharapkan dari bulu tangkis? Semua pemainnya lebay. Yang laki-laki kemayu, yang perempuan manja-manja. Sudah gitu, mereka sok gaya lagi. Huuh, lupakan saja olah-raga bulu ditangkis ini. It’s over, Ladys and Gentlemans.” Ya begitulah rata-rata suasana kebatinan bangsa Indonesia (meminjam istilah khas Prio Budi Santoso, politisi “kebatinan” Golkar), kalau lagi bicara soal prestasi bulu tangkis atlet nasional.

“Mau diapa-apain juga, tetap saja prestasinya susah dikatrol. Apalagi sekarang ada perkembangan baru; pemain Indonesia jadi sering kalah melawan pemain-pemain aneh Jepang, Thailand, Polandia, Jerman, dan lainnya yang notabene mereka itu “ecek-ecek” di dunia bulu ditangkis ini.”

Oke kita coba masuk ke permasalahan ya…

Sebenarnya, era perbulu-tangkisan di Indonesia itu mengalami perubahan drastis pasca era Icuk Sugiarto. Waktu itu Icuk termasuk ikon bulu tangkis nasional yang mumpuni, sempat menjadi juara dunia. Tetapi setelah era Icuk, perlahan-lahan era keemasan bulu tangkis kita semakin meredup, sampai akhirnya masuk zaman pemain-pemain “alay” sekarang. Sempat mencuat asa ketika muncul Mbak Susi Susanti di kelompok wanita. Ternyata setelah itu tidak muncul lagi penggantinya yang sepadan.

Lama-lama Indonesia menjadi bulan-bulanan, khususnya di kategori tunggal putra dan putri. Tidak mau malu secara total, Indonesia coba mencari-cari peluang di kategori ganda putra-putri dan ganda campuran. Padahal di zaman keemasannya, kategori itu hanya tambahan saja; yang diunggulkan tetap permainan tunggal.

Sisi perubahan drastis apa yang terjadi setelah era Icuk Sugiarto? (Kata sebagian tetangga, Icuk mirip kakakku. He he he…ngaku-ngaku. Bener lho…itu kata mereka. Menurutku sih, gak mirip amat).

Baik, kita mulai serius…

[1]. Dalam dunia Bultang, sebenarnya ada madzhab-madzhab permainan, meskipun tidak sepupuler di dunia Bola. Setidaknya ada dua madzhab dominan, yaitu: “aliran smash” dan “aliran penempatan bola“. Aliran “smash” maksudnya, untuk mendapatkan poin lebih mengutamakan serangan-serangan smash tajam. Aliran “penempatan bola” maksudnya, untuk mendapatkan poin lebih mengutamakan penempatan bola di titik lowong pemain lawan, atau menghindari mengambil bola jika ia diperkirakan keluar lapangan. Aliran pertama cenderung keras, penuh tenaga; sedangkan aliran kedua cenderung slow, meskipun (namanya olah-raga) ya letih juga.

[2]. Di era Icuk Sugiarto ke atas, pemain-pemain Indonesia seperti Rudy Hartono, Lim Swi King, Christian Hadinata, Ii Sumirat, Ivana Lie, dll. mereka semua dikenal memiliki kekuatan smash dan akurasi yang hebat. Konon, sekali smash Rudy Hartono bisa merusak suttlecock (baca: kok). Lim Swi King juga dikenal dengan istilah “Smash King”. Namun setelah era Icuk Sugiarto, aliran bermain atlet-atlet Indonesia berubah menjadi aliran “penempatan bola”. Model demikian, selain membosankan, membuat penonton lebih berdebar-debar perasaan, juga tidak tampak sisi strength-nya.

Icuk sendiri sebenarnya bagus dan komplit. Tapi dia kena batu-nya ketika berhadapan dengan pemain kidal China, Yang Yang. Icuk lebih sering kalah. Kekalahan itu sebenarnya bukan karena kualitas Icuk di bawah Yang Yang; tetapi Icuk tidak terbiasa bermain melawan pemain kidal. Bayangkan, menghadapi pemain kidal, Icuk lebih sering memberi bola ke arah KIRI lawan. Ya, habislah! Justru sisi kiri itu adalah kekuatan inti pemain kidal. Mestinya ke sebelah kanan, Mas Icuk. He he he…

[3]. Entah siapa yang mulai mengubah gaya permainan “menyerang” menjadi permainan “bertahan” dan “penempatan bola” itu. Yang jelas pemain-pemain bulu tangkis Indonesia tidak ada lagi yang terkenal smash-nya. Paling yang ada ialah pemain yang senang berlama-lama memainkan bola, sering mengumpan bola tinggi-tinggi, mencari-cari kelemahan lawan untuk ditipu, dan seterusnya. Nyaris akhirnya, mutu permainan Bultang kita jadi, pinter-pinteran menipu lawan. Kalau lawannya susah ditipu, seperti pemain China, Korea, dan Malaysia…ya otomatis kita akan kalah terus.

[4]. Bermain Bultang dengan “penempatan bola” atau “terus bertahan” sangat beresiko, menguras energi, dan menguntungkan lawan. Mengapa? Ya, mereka akan memiliki kesempatan menghajar pemain-pemain kita dengan smash-smash keras. Hal ini sudah lazim, karena kaidahnya: “Di dunia Bultang tidak ada smash dua arah dalam waktu yang sama.” Misalnya, Si Topik lagi smash ke Si Lilin, maka Lilin tidak akan bisa membalikkan smash itu menjadi smash balik yang menyerang Topik. Pasti siapa yang smash, dia menyerang; siapa yang di-smash dia bertahan. Iya kan begitu…

[5]. Mestinya, gaya permainan atlet Bultang Indonesia itu kembali ke masa lalu, yaitu mengandalkan serangan dan smash. Memang secara energi, butuh stamina lebih kuat. Tetapi secara psikologis, menyerang itu membanggakan, sehingga energi kita serasa selalu penuh. Apalagi kalau buah dari serangan itu menghasilkan poin; ia akan memacu stamina lebih kuat. Sebaliknya, kalau “bertahan melulu” dan “penempatan bola”, ini lebih menguras energi dan mental. Kalau mental sudah loyo, ya peluang kalah tambah besar. Seperti kata ungkapan bijak: “Pertahanan terbaik adalah menyerang.” Cara cerdas demikian sudah lama ditinggalkan oleh atlet-atlet Indonesia.

[6]. Bukan berarti “penempatan bola” dan “bertahan” tidak dibutuhkan. Ya tahu sendirilah, permainan begitu pasti dibutuhkan di dunia Bultang. Tetapi kalau bisa: setiap bola dari lawan harus bisa dikonversikan menjadi peluang smash bagi atlet kita. Semakin banyak peluang smash, semakin baik. Jangan seperti permainan lebay, maunya oper-operan bola tinggi-tinggi, permainan net, dan ngakali lawan. Tentu saja, akurasi dan kekuatan smash itu mesti dilatih sebaik-baiknya, sehingga smash pemain Indonesia disegani lagi.

[7]. Selain problem permainan yang membosankan, “penempatan bola” dan “bertahan melulu”, pemain Indonesia juga mengalami banyak hambatan mental. Kalau mereka bermain melawan atlet dari Vietnam, Timor Timur, Papua Nugini, Rusia, Itali, atau mana sajalah yang tangannya kaku-kaku (he he he…becanda); ya pasti bisa jaya. Tetapi kalau sudah menghadapi Trio China-Malaysia-Korea Selatan, tiba-tiba mental kita sudah lumer duluan. Misalnya Taufik Hidayat, begitu selentingan dia dengar nama Lin Dan, seketika tubuhnya gemetar dan tidak optimis menang (he he he…). Kondisi drop mental ini karena memang madzhab permainannya bertahan melulu; sementara Lin Dan sudah paham betul kaidahnya: “Pemain Indonesia itu serang terus saja. Jangan diberi kesempatan sedikit pun. Nanti mereka akan kalah oleh ketertinggalan poin!” Ya itulah yang terjadi, kalah lagi dan lagi.

Nah, begitulah… Sumber kekalahan atlet-atlet Bultang Indonesia lebih karena berubahnya madzhab permainan, dari pola menyerang melalui smash kuat dan tepat; menjadi pola “bertahan” dan “penempatan bola”. Kalau tidak percaya, lihat permainan atlet-atlet Indonesia saat ini; tidak ada satu pun yang terkenal hebat smash-nya. Terlepas bahwa nama “smash” dipakai sebuah boy band yang lebay; tampaknya, atlet-atlet Indonesia perlu berubah lebih garang, lebih menyerang, dan percaya diri. Jangan lebay lagi… Contohlah legenda Bultang nasional seperti Rudy, King, Icuk, atau Ivana Lie.

Oke…segitu dulu ya. Mau diterima atau ditolak, silakan deh, bebas saja. Ini juga namanya sharing. Yang jelas, kita ada fakta-datanya kan.

Jujur, saya sering ditanya, “Bagaimana sih kok bisa menulis ini dan itu? Apa kiatnya?” Sering ditanya demikian. Setahu saya, menulis itu kan komunikasi, jadi siapa yang bisa komunikasi, insya Allah bisa menulis. Secara teknik, tidak sulit untuk menulis. Untuk artikel ini saya, saya paling memakan waktu sekitar 1 jam. Tetapi yang lama itu proses membacanya, pengamatan, analisa, komparasi, dan yang semisalnya. Proses tersebut bisa makan waktu panjang, bisa puluhan tahun. Saat saya menulis ini, ia tidak lepas dari pengamatan terhadap pertandingan puluhan tahun lalu.

Kata kuncinya…terus jaga moral baik-baik. Jangan menodai moral kita dengan hal-hal yang tercela. Nas’alullah al ‘afiyah. Dengan moral yang baik, insya Allah Anda akan diberi kekuatan ingatan, analisa, serta komparasi. Kalau moralnya buruk, ya sulit mencapai hal itu.

Baik…sekian dulu ya. Selamat berpuasa, semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmati kaum Muslimin semuanya. Semoga Allah As Sallam juga menyelamatkan saudara-saudara kita di Myanmar, Suriah, Indonesia, juga negeri-negeri lain yang menderita. Amin Allahumma amin.

Mine.

Iklan

3 Responses to Mengapa Bulu Tangkis Indonesia Kalah Melulu…

  1. syipa berkata:

    ane stju gan,klo mnrt ente atlit2 kt emg krg agresif dlm nye-mes…tp liat2 dulu gan, pemaen2 korsel itu disemees 2-3x blm tentu mati..disemes 10x dulu,barulah ada kemungkinan mati 😀 😀
    intinya ane mw blg klo pertahanan jg penting. jd gak mgkn donk gan klo slm 1 pertandingan kt nyemes2 muluu…

  2. gold price berkata:

    ”Daftar nama pemain yang sekarang belum 100 persen. Kemungkinan masih akan berubah,” penjelasan Maria Fransisca sebagai manajer timnas SEA Games 2011. Di kelas tunggal putra, PB PBSI telah memasukkan lima nama. Mereka adalah Taufik Hidayat, Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka, Sony Dwi Kuncoro, serta Shesar Hiren. Tetapi, induk organisasi bulu tangkis di Indonesia tersebut masih menunggu perkembangan yang positif dari cedera yang dialami Sony. Jika Sony masih saja belum sembuh, bisa jadi dia akan dicoret dari daftar pemain.

  3. Fulan-1 berkata:

    Kenapa indonesia selalu kalah bulu tangkis oleh china

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: