Sisi Menyedihkan Sinetron PPT (Para Pencari Tuhan)

Sudah bertahun-tahun publik kaum Muslimin di Indonesia, setiap tiba momen Ramadhan, disuguhi tontonan serial sinetron PPT (Para Pencari Tuhan). Kini sinetron ini sudah masuk session ke-6. Luar biasa! Sinetron yang diproduseri aktor kawakan Dedi Mizwar ini pada mulanya banyak meraup pujian-pujian. Tapi saat kini, apalagi setelah sessi ke-6 ini, semakin jauh dari cita rasa sinetron berkualitas.

Maaf ya, bukannya kami ini suka mengkritik ini dan itu, atau merasa “nikmat” dengan mengkritiki orang lain. Tapi satu hal yang menjadi prinsip disini ialah memberikan yang terbaik bagi Ummat; janganmengeksploitasi mereka untuk tujuan-tujuan sempit atau komersial belaka. Hal demikian ini bahkan merupakan hak-hak publik sebagai konsumen siaran TV. Kalau memang sajiannya bagus, moralis, dan konstruktif, ya silakan dipuji; tapi kalau sajiannya sudah ngaco, ya jangan dipuji terus.

“Berikan yang Terbaik, Seperti Allah telah Memberi yang Terbaik.”

Setidaknya ada 3 kritik besar yang ingin disampaikan kepada insan-insan artis dan media yang berada di balik tayangan sinetron PPT. Silakan Anda cermati apakah muatan kritik yang kami sampaikan ini mengada-ada, atau memang realistik.

[1]. Sinetron PPT alur ceritanya semakin mbulet, rumit, dan tidak jelas. Kelihatan sekali kalau sinetron ini hanya bersifat “kejar proyek Ramadhan”. Sampai PPT sesi ke-3 alur ceritanya masih bagus dan runut. Tapi setelah itu, alurnya semakin kacau. Banyak muncul masalah-masalah baru secara tiba-tiba. Mengejutkan memang, tetapi kejutan-kejutan itu tidak ada ujungnya. Akhirnya kejutan-kejutan itu hanya bertumpuk dan menyisakan tanda tanya besar di benak para pemirsa. Dan herannya, seorang tokoh dalam sinetron itu bisa berwarna-warni karakternya. Misalnya, sosok Asrur yang semula miskin, banyak mengeluh, dan selalu menyimpan “dendam sosial”. Di lain waktu dia bisa kelihatan alim, seperti shufi, bijaksana, menyayomi, kaya materi, dan seterusnya. Pertanyaannya, plot karakter Asrur ini sebenarnya bagaimana ketika sinteron itu pertama dibuat? Apakah karakter dia bisa berubah-ubah, sesuai tuntutan skenario di tengah jalan?

[2]. Missi dari semua cerita dalam sinetron PPT ini sebenarnya apa dan bagaimana? Awalnya, kita tahu bahwa Bang Dedi Mizwar ingin menyajikan suatu tontonan sinetron yang ringan, punya bobot religi (moral), tidak menggurui, khas dengan bahasa sosial masyarakat, kadang apa adanya (tidak dibuat-buat). Sampai PPT sesi ke-3, warna idealisme itu masih kental. Tetapi semakin kesini-sini, semakin jauh dari harapan. Bahkan title “Para Pencari Tuhan” sendiri sudah tidak jelas apa maunya. Siapa yang mencari Tuhan? Apakah pencariannya sudah sampai? Mau kemana orang-orang yang mencari Tuhan itu? Serba tidak jelas. Singkat kata, mau dibawa kemana arah sinetron PPT itu? Apakah hanya untuk “kejar tayang Ramadhan” saja? Bang Dedi Mizwar pasti pusing kalau ditanya, mau Anda bawa kemana sinetron itu? Missi moral yang Anda usung apa dan bagaimana pencapaiannya?

[3]. Ini yang paling serius dan sangat ironis; setelah memasuki sesi ke-6 ini, ternyata tidak satu pun dari tokoh-tokoh dalam sinetron PPT yang bisa dijadikan teladan. Tidak satu pun. Bayangkan, sinetron ini telah kehilangan arah sedemikian rupa, sehingga seluruh tokoh-tokoh di dalamnya tidak memiliki karakter tetap dan positif yang layak dijadikan teladan. Sebagai perbandingan, dalam serial kartun Winni De Pooh. Meskipun ia kartun, tetapi karakter tokohnya sangat jelas dan kuat. Jadi para pemirsa kartun itu bisa mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh animalnya (kecuali Piglet yang mewakili karakter babi).

Dalam sinetron PPT, misalnya sosok Bang Jack (diperankan Dedi Mizwar). Dia ini selain memiliki kelebihan-kelebihan, juga merupakan sosok guru di mushalla yang oportunis, tidak tegas, berambisi menikahi ibu sahabatnya sendiri, seringkali tidak bisa menjadi penengah. Kemudian sosok Pak Ustadz Fery, dia punya kelemahan; berkarakter takut pada isteri, tidak memiliki pendirian tegas, seringkali tidak mampu mengendalikan jamaahnya, dan aspek keilmuwan agama-nya kurang. Secara ekonomis, Ustadz Fery mendapat income hanya dari hasil kebun; tapi kondisi rumahnya bagus, layak, dan kelihatan mapan. Suatu pemandangan yang ironis.

Begitu juga sosok Asrur, Pak Jalal, Azzam, Pak RW, Juki-Baron-Chelse, dan lainnya. Semuanya memiliki kelemahan-kelemahan mendasar yang membuatnya tidak bisa dijadikan teladan. Kalau hanya kelemahan dalam satu dua sikap, mungkin bisa dimaklumi; tapi kalau kelemahan karakter, bersikap lebay, plin plan, tidak teguh pendirian, hal itu justru jadi masalah.

Jujur, sebenarnya capek melihat kualitas karya-karya seperti ini. Bukan hanya dalam soal sinetron, tetapi juga dalam hal-hal lain. Kerap kali orang berpikir pendek: “Yang penting dapat duit, titik.” Dengan alasan komersialisasi murni itu, lalu kita abaikan hak-hak publik untuk mendapatkan kualitas terbaik. Kita sering berpikir pragmatis “Ah sudahlah, masyarakat kita kan bodoh-bodoh. Silakan saja deh ditipu sedalam-dalamnya!” Ya, jangan begitulah. Kita mesti memiliki sifat rahmat (kasih sayang) kepada sesama manusia, dalam hal ini masyarakat. Berikanlah yang terbaik untuk mereka; sehingga mereka pun akan menghargai karya kita; lalu Allah Ta’ala akan membalasi kesungguhan kita dengan nikmat-Nya.

Sebagai perbandingan. Produsen-produsen klas dunia, seperti Apple, Microsoft, Sony, Honda, Mercy, Samsung, Shell, Google, dan seterusnya; mereka selalu mengacu kepada prinsip memberikan kualitas terbaik. Dengan prinsip itu, produk-produk mereka laris-manis di tingkat global. Hampir tidak ada satu pun produk klas dunia yang kualitasnya jelek. Mengapa bisa demikian? Karena mereka berkeyakinan: kepuasan konsumen adalah garansi kelestarian bisnis kami!

Hargai konsumen-mu! Berikan yang terbaik yang bisa diberikan. Jika konsumen-mu puas, maka legalah hatimu, tenanglah tidurmu. Jika konsumen-mu kecewa, bersiap-siaplah untuk ditinggalkan!

Semoga catatan kecil ini bermanfaat, berarti, dan bisa menjadi inspirasi positif. Amin Allahumma amin.

AMW.

Iklan

41 Responses to Sisi Menyedihkan Sinetron PPT (Para Pencari Tuhan)

  1. deanova chandra berkata:

    Kalau begitu, agar lebih berkeadilan, mestinya sdr AMW menulis juga SISI TIDAK MENYEDIHKAN SINETRON PPT. Koq kayaknya dinilai tidak bermanfaat sama sekali. Menurut saya, PPT adalah (tetap) tontonan, bukan tuntunan. Tetapi didalamnya menyelipkan pesan-pesan moral, kritik sosial, nasehat yang berlandaskan agama. Kalau memang menyedihkan menurut anda, kira-kira bagaimana seharusnya agar PPT tidak meneydihkan untuk ditonton. Mungkin bisa mjd masukan bagi Dedi Mizwar untuk perbaikan ke depannya. Sudah pasti donk anda tidak sekedar mengkritik dengan omong kosong. Kalo anda ingin memahami alur yg sebenarnya, tentunya anda juga mestinya bertanya kpd sang pemilik cerita.

    Demikian, terima kasih.
    Salam.

  2. Haryadi berkata:

    Sungguh orang Islam di Indonesia sedang sangat dijauhkan dari syariat Islam sebenarnya, coba kita peka sediit lihatlah sinetron-sinetron (bertema Islami) yang lain yang disuguhkan di TV : tidak lebih dari pada ‘Sampah’, beratribut Islam tapi melulu soal perjodohan dan pernikahan yang bikin muak, ajang demonstrasi model jilbab baru yang jauh dari sunnah, karena pada hakikatnya sinetron-sinetron seperti inilah yang bertujuan bikin rusak akidah umat Islam dari dalam yang memang awam tentang Islam. Kolaborasi yang sangat pas antara bintang filmnya, sutradaranya, produsernya dan penayangnya (TV) untuk menghempaskan Islam jatuh ke dalam jurang kesesatan, Naudzubillah ….dan orang-orang seperti Deddy Mizwar adalah icon yang sangat pas bagi bos-bos TV Yahudi Nasrani di negeri ini untuk maksud jahat mereka kepada Islam, indikasinya sudah sangat jelas …Allahu ‘alam ..

  3. abisyakir berkata:

    @ Deanova…

    Menurutku, wahai Saudaraku budiman… Serial sinetron itu memang sudah waktunya diakhiri, lalu membuat serial baru yang lebih baik, segar, dan inspiratif. Bayangkan saja, sudah serial ke-6 lho. Masih ingat dulu ada serial sinetron “Tersanjung”, kalau gak salah sampai session ke-7. Ada “Cinta Fitri” yang juga berlarut-larut. Sinetron ini kalau niatnya cuma “kejar setoran” akhirnya kualitasnya merosot tajam. Ya, itu sikap fairnya. Kecuali, kalau kita memang tidak mau membuat kritik apapun, yang penting segala produk media ditelan mentah-mentah. Lain kalau begitu sih…

    Admin.

  4. Abu Alif berkata:

    Abi syakir, sebagai seorang salaf, apakah tidak lebih baik antum tidak mengikuti sinetron2 yang tidak bermanfaat, bukankah sudah ada peringatan dari Rasullullah bahwa seorang muslim tidak menggunakan waktunya untuk hal2 yang tidak bermanfaat, menonton dan mengomentari sinetron menurut ana merupakan salah satu hal yg tidak bermanfaat juga bukan?, coba antum dengar, beberapa ustad salaf sering mengingatkan kita untuk menjauhkan diri dari tontonan yang tidak bermanfaat dan bisa merusak iman. Demikian sedikit komentar dari ane yang dhoif dan kurang berilmu ini. Wassalamualaikum

  5. abisyakir berkata:

    @ Abu Alif…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    1. Mula-mula saya sampaikan ucapan syukran jazakumullah khair ya Akhi atas masukan/saran/nasehat yang Antum sampaikan. Alhamdulillah atas nasehat yang tulus ini. Saya memohon ampunan kepada Allah atas segala salah dan kekeliruan.

    2. Kasus sinetron, tontonan bola, dan lainnya, tak ubahnya seperti persoalan TV itu sendiri. Di kalangan ummat kita, ada 3 sikap yang terkenal dalam menyikapi tontonan TV: Pertama, menganggap semua itu tidak Islami, menjadi sumber maksiyat, menyia-nyiakan waktu, dan tidak ada manfaatnya. Kedua, menganggap semua itu positif, bermanfaat, perlu, bahkan wajib untuk dikonsumsi setiap hari. Ketiga, yaitu pandangan pertengahan, antara yang melarang dan menghalalkan secara penuh. Dalam ketiga ini, pelakunya tetap menonton TV, tetapi selektif dalam menonton. Hal-hal yang baik diambil, yang buruk-buruk ditinggalkan (semampunya). Saya pribadi termasuk yang mengambil pandangan ketiga.

    3. Hidup di negeri seperti Indonesia ini rasanya dilematik. Kalau kita ikuti apa saja yang ada di sekitar kita, jelas kita akan tersesat, terjerumus, lalu merugi di Hari Akhirat nanti. Tapi kalau kita menjauhi segala kenyataan yang ada di sekitar, juga tidak mudah. Kita harus uzlah, mengasingkan diri, mengisolir diri, atau membentuk kelompok-kelompok eksklusif yang terpisah dari masyarakat luas. Inti masalahnya, negeri kita bukanlah sebuah bangsa yang berdiri di atas tuntunan Syariat Islam. Kalau digambarkan, orang Indonesia itu seperti manusia yang selalu shalat, tidak pernah meninggalkan shalat sekali pun; tetapi shalatnya dilakukan karena tradisi ritual bukan karena Allah; dan tata-caranya mengikuti tata-cara Shalat yang disusun seorang pendeta Nasrani. Hal inilah yang membuat kebaikan tidak berkembang, kemunkaran ada dimana-mana; yang haq dipinggirkan, yang bathil ditengahkan; kemuliaan diasingkan, kehinaan dijadikan konsumsi sehari-hari.

    Syaikh Al Albani, seperti yang saya kutip pada bagian sebelumnya, pernah ditanya hukum menonton TV. Kata beliau, kalau ada sebuah Daulah Islam yang bisa mengatur tayangan TV sebaik-baiknya, maka saat itu aku tidak hanya akan mengatakan bahwa menonton TV itu boleh, bahkan aku akan mewajibkannya. Dari pernyataan ini tampak jelas, bahwa sistem kekuasaan lah yang berpengaruh mengatur keadaan TV dan tayangan-tayangan di dalamnya.

    4. Saya sendiri alhamdulillah bukan termasuk maniak tontonan-tontonan seperti itu, alhamdulillah. Ya nonton seperlunya saja, kalau ada hal-hal menarik (diduga bermanfaat). Saat sinetron PPT sedang jaya-jayanya, saya ikut menyaksikan. Ketika ia mulai merosot, saya juga menyaksikan itu. Tapi sifatnya sesekali saja, bukan terus-menerus seperti penggandrung sinetron. Dalam hal nonton bola juga begitu. Kita lihat pertandingan2 yang “big match” saja, atau melibatkan klub-klub besar saja. Hanya mungkin bedanya, meskipun intensitas menontonnya sedikit, saya senang memperhatikan kualitas-nya. Kadang-kadang di depan anak-anak, saya mengkritik format iklan tertentu. Salah satu iklan yang lucu menurut saya, itu lho iklan larutan penyegar cap Badak, yang nanti disana ada ungkapan: “Tidak ada Badak. Tidak bagus.” Ungkapan itu lucu, menurut kami. Mungkin, cara nonton yang mengandalkan kritik atas kualitas ini, lalu diprasangkai seoalah kami maniak nonton TV. Tidak begitu, insya Allah.

    5. Salah satu alasan Syar’i menempuh cara demikian ialah, memahami realitas kehidupan yang kaum Muslimin bergulat dengannya. Di MUI ada komisi budaya dan seni, tugasnya selalu memantau produk-produk tayangan yang dikonsumsi masyarakat. Di LSF (lembaga sensor film) ada unsur-unsur dari MUI-nya; mereka melihat semua produk film tanpa sensor. Katanya, saat sebagian aktivis FPI disuruh menonton potongan-potongan gambar yang disensor itu, mereka hanya tahan sampai 7 menitan (atau berapalah, saya lupa tepatnya). Bagi para dai yang terlibat dalam pengarahan ummat, perlu tahu hal-hal demikian, meskipun TIDAK SEMUA DAI harus tahu yang demikian.

    Bagaimanapun, syukran jazakumullah khair ya @ Aba Alif atas saran/nasehat yang disampaikan.

    Admin.

  6. yosikatsu berkata:

    maaf cara pandang anda sempit, suri teladan yg tbaik da pd diri rosulullah saw. Menunjukan bhwa stiap kita pnya kekurangan, n allah bisa menunjukan kbnran dari mana saja,wlwpun lewat orang spt pak rt. Kt punya akal ayo dgunakan utk menilai

  7. abisyakir berkata:

    @ Yosikatsu…

    Ya mulanya saya juga apresiatif dengan sinetron itu, meskipun ada juga yang bersuara keras sejak awal (ke semua produk tayangan TV). Saya apresiatif dengan asumsi, untuk level pemahaman masyarakat Indonesia, sinetron PPT 1, 2, dan 3 termasuk lumayan. Tapi dari sesi 3 ke atas, sudah tidak karu-karuan, sampai Dedi Mizwar kebingungan sendiri, mau ngapain selanjutnya? Jadi, mesti dirunut dari awal dong tulisan itu, jangan asal “main komen” saja, nanti tidak bagus kesimpulannya. Terimakasih.

    Admin.

  8. Id Amor berkata:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

    Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Admin Blog sekaligus penulis artikel ini yang merupakan “PENULIS BUKU : MENDAMAIKAN AHLI SUNAH DI NUSANTARA , setelah menyimak seluruh isi artikel ini.

    3 alasan dasar yang disebut 3 kritikan besar kalau hal tersebut dijadikan alasan membuat judul :: “Sisi Menyedihkan Sinetron PPT (Para Pencari Tuhan)”

    bagi saya justru semakin menyedihkan.

    saya sangat sedih sekali karena :

    1.apa yang disebut 3 kritikan besar bukan berdasarkan alasan Obyektif tetapi penilaian subyektif dari penulis.

    hal mendasar kritikan tersebut muncul disebabkan Cerita tersebut tidak sesuai dengan apa yang diinginkan penulis.

    A. karena penulis menganggap cerita ideal alur cerita “tidak jlimet” maka ketika disodori cerita yang ‘sedikit jlimet” maka hal tersebut dipersoalkannya.

    B.Karena penulis menganggap cerita ideal adalah setiap tokoh karakternya tidak berubah, maka ketika disajikan cerita yang berdasarkan penilain subyektif ‘karakternya berubah’ maka hal tersebut dipersoalkan dan dianggap sebagai persoalan serius dan menyedihkan.

    C.Karena Penulis masih ‘pusing’ akan ketidak mengertian dari visi dan misi cerita ,maka ketidak mengertian tersebut dijadikan alasan untuk mempersoalkan dan dianggap sebagai hal yang menyedihkan

    D.Karena penulis menganggap cerita ideal adalah harus menyodorkan salah satu tokoh harus menjadi panutan , maka ketika ada cerita yang “MANUSIAWI” tidak ada TOKOH IDEAL yang pantas dijadikan panutan hal tersebut dianggap PERSOALAN SERIUS oleh Penulis.

    2.Begitu mudah membuat kesimpulan bukan berdasarkan fakta tetapi hanya atas dasar asumsi ,contoh spesifik adalah tulisan ini :

    “Bang Dedi Mizwar pasti pusing kalau ditanya, mau Anda bawa kemana sinetron itu? Missi moral yang Anda usung apa dan bagaimana pencapaiannya?”

    sebagai pembaca saya tidak tahu dengan menggunakan dasar penulis ” BERANI MEMASTIKAN”

    next

  9. Id Amor berkata:

    3.Penilaian yang sangat Tendensius.

    setelah memaparkan 3 kritik besar, saya membaca bagian lanjutannya sedikit kaget dengan pernyataan pernyataan ini :

    ==Jujur, sebenarnya capek melihat kualitas karya-karya seperti ini. Bukan hanya dalam soal sinetron, tetapi juga dalam hal-hal lain. Kerap kali orang berpikir pendek: “Yang penting dapat duit, titik.” Dengan alasan komersialisasi murni itu, lalu kita abaikan hak-hak publik untuk mendapatkan kualitas terbaik. Kita sering berpikir pragmatis “Ah sudahlah, masyarakat kita kan bodoh-bodoh. Silakan saja deh ditipu sedalam-dalamnya!” Ya, jangan begitulah. Kita mesti memiliki sifat rahmat (kasih sayang) kepada sesama manusia, dalam hal ini masyarakat. Berikanlah yang terbaik untuk mereka; sehingga mereka pun akan menghargai karya kita; lalu Allah Ta’ala akan membalasi kesungguhan kita dengan nikmat-Nya.==

    karena pernyataan ini yang saya tangkap sebagai “pembaca; Sinetron PPT dan hal hal lain :

    1.Berpikir pendek
    2.Yang penting dapat duit
    3.Mengabaikan Hak Hak Publik
    4.Bermuatan Penipuan yang sedalam dalamnya
    5.Tidak memiliki sifat rahmat kepada sesama manusia
    6.Tidak memberikan yang terbaik agar mereka menghargai karyanya

    7. Mengajukan perbandingan yang sangat tidak proposional.

    setelah mendapatkan ‘penilaian yang sangat tendensius’ pembaca artikel ini disajikan sebuah perbandingan,yaitu :

    MEMPERBANDINGKAN DENGAN KARYA KELAS DUNIA, dan uniknya TAK ADA SATUPUN contoh yang diajukan adalah yang satu bidang dengan topik yang dibahas yaitu tentang karya Sinema Elektronik.

    Sebagai pembaca saya sangat bingung memahami alur pemikiran penulis artikel dalam memperbandingkan hal ini, mengapa harus memperbandingkan dengan “Apple, Microsoft, Sony, Honda, Mercy, Samsung, Shell, Google,

    Sama halnya jika ada orang yang mengkritisi buku karya AMW dengan memperbandingkan produk BOING,BMW dll

    next..

  10. Id Amor berkata:

    Ralat no 7 di atas yang benar adalah no 3.

    4.Saran yang lebih memilih dengan cara menunjuk ke pihak diluar penulis .

    Pada bagian penutup artikel,walaupun berisi saran yang sebenarnya bagus tetapi ketika lebih menggunakan kata ganti orang kedua (Kamu /Mu) yang sampai diulang sebanyak 5 kali dalam bagian paragraf yang sangat pendek
    ==
    Hargai konsumen-mu! Berikan yang terbaik yang bisa diberikan. Jika konsumen-mu puas, maka legalah hatimu, tenanglah tidurmu. Jika konsumen-mu kecewa, bersiap-siaplah untuk ditinggalkan!==

    semoga ini hanya sekedar kekhilafan,kalau sebenarnya penulis sebagai seorang penulis buku,Penulis artikel saran tersebut juga menjadi bagian dari apa yang disarankannya.

    dan jika ingat akan hal itu,maka kata ganti yang tepat adalah “KITA” bukan Kamu.

    next

  11. Id Amor berkata:

    Bagian terakhir dari Artikel ,tertulis :

    ==Semoga catatan kecil ini bermanfaat, berarti, dan bisa menjadi inspirasi positif. Amin Allahumma amin==

    Bagi saya sebagai pembaca artikel ini ,terinspirasi untuk :

    1.Memberikan Saran ,kritik yang pada tempatnya. agar tepat sasaran

    saya ingin memberikan sudut pandang berbeda dengan penulis artikel ini,maka saya sampaikan pandangan saya tersebut disini.

    karena dengan menyampaikan pada tempatnya maka kemungkinan besar penulis artikel akan mengetahui tanggapan ‘konsumen’ dari karyanya

    2.Mengomentari secara keseluruhan isi artikel ini juga berdasarkan Artikel ini ,yaitu ‘bagian pembukaan artikel ini”

    ==Maaf ya, bukannya kami ini suka mengkritik ini dan itu, atau merasa “nikmat” dengan mengkritiki orang lain. Tapi satu hal yang menjadi prinsip disini ialah memberikan yang terbaik bagi Ummat; ==

    3.Memanfaatkan waktu untuk saling mengingatkan akan kebenaran dan kesabaran sesama saudara seiman.

    Walaupun secara pribadi Amor belum mengenal tentang Penulis artikel ini, tetapi karena yakin ia saudara seiman,maka amor sisihkan waktu sedikit untuk saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran.

    contoh :

    .sebagai seorang yang banyak menulis buku, saudara AMW Ada hal yang bisa dilakukan dalam menyikapi hal ini ,yaitu buatlah karya cerita (bisa dimulai dengan membuat novel) yang lebih baik dan lebih berkualitas dibandingkan sinetron PPT dan yang lainnya menurut pandangan penulis.

    biar umat /pembaca yang menilainya .==>galakan sikap berlomba lomba dalam karya dan prestasi

  12. abisyakir berkata:

    @ Fulan…

    Dulu Dedy Mizwar punya film “Kejarlah Daku, Kau Kutangkap”. Ini film humor serius, bukan film religi. Dari situ dia dapat piala citra, seperti mana dia mendapatkannya dalam film Nagabonar. Maaf ya…secara artistik sinema, film begituan lebih berbobot, ketimbang sinetron kejar tayang; hanya memang disitu bukan film religi sehingga orientasinya lebih bersifat umum (bukan untuk pasar Ummat Islam).

    Ya…kalau sudah tak mau mendengar kritik, ya tidak ada karya yang baik, wong pintu2 penilaian sudah ditutup. Secara pribadi, saya sangat risih, untuk figur seperti Dedy Mizwar, kok mau ikut-ikutan membodohi Ummat lewat sinetron2 yang kemudian ceritanya diputar-putar gak karuan itu. Kasihan banget rakyat Muslim Indonesia.

    Admin.

  13. abisyakir berkata:

    @ Id Amor…

    A. karena penulis menganggap cerita ideal alur cerita “tidak jlimet” maka ketika disodori cerita yang ‘sedikit jlimet” maka hal tersebut dipersoalkannya.

    Komentar: Sebagai contoh, novel Ayat Ayat Cinta. Alurnya ada, kronologinya ada, kejutannya ada; tetapi novel itu “tetap selesai”; bukan cerita yang “tak karuan ujungnya”. Untuk novel Laskar Pelangi juga sama, tetap ada muara ceritanya.

    Kalau diumpamakan begini: Anda bertamu ke sebuah rumah, lalu Anda mulai cerita segala sesuatu tentang urusan Anda. Anda bercerita sangat menarik, panjang lebar, penuh kronologi dan alur. Sesekali Anda istirahat untuk menarik nafas. Setelah 2 jam cerita, tuan rumah bertanya ke Anda, “Jadi maksud tujuan Anda ini apa?” Lalu Anda menjawab, “Tidak tahu. Pokoknya saya kesini saja, tak tahu apa tujuan.”

    B.Karena penulis menganggap cerita ideal adalah setiap tokoh karakternya tidak berubah, maka ketika disajikan cerita yang berdasarkan penilain subyektif ‘karakternya berubah’ maka hal tersebut dipersoalkan dan dianggap sebagai persoalan serius dan menyedihkan.

    Komentar: Lho karena memang dalam ploting cerita, sebelum segala sesuatu bergerak menjadi cerita yang bertutur kesana kemari; itu selalu ada ploting karakter pelaku. Bahkan ploting itu berpengaruh ke proses audisi. He he he…sok tahu. Tapi bener lho, ploting itu ada, sebelum cerita bergulir. Bisa saja, ada perubahan arah cerita; tetapi biasanya ia tak keluar dari karakter utama seorang pemain dalam cerita. Kalau karakternya berubah-ubah, malah membingungkan para pembaca. Kalao tak percaya, coba deh tanya para penulis novel: perlu gak sih ada ploting karakter pelaku?

    C.Karena Penulis masih ‘pusing’ akan ketidak mengertian dari visi dan misi cerita ,maka ketidak mengertian tersebut dijadikan alasan untuk mempersoalkan dan dianggap sebagai hal yang menyedihkan

    Komentar: Ya Anda bayangkan, PPT itu sudah 6 tahun (6 session). Itu diputar di bulan Ramadhan, bulan suci kaum Muslimin. Mestinya buatlah cerita yang bagus, segar, obyektif, mendidik, tetapi juga jelas ujung-pangkalnya. Masak kita selama 6 tahunan disuruh memuji melulu, tanpa boleh menilai? Wah, cara berpikir begitu monopolis sekali. Kita sebagai konsumen serasa tak dihargai, selain disuruh jadi penonton terus. Maka itu, coba Anda renungkan, mengapa setiap company produk publik selalu menyediakan akses “layanan konsumen”. Coba pahami mengapa ada layanan begitu!

    D.Karena penulis menganggap cerita ideal adalah harus menyodorkan salah satu tokoh harus menjadi panutan , maka ketika ada cerita yang “MANUSIAWI” tidak ada TOKOH IDEAL yang pantas dijadikan panutan hal tersebut dianggap PERSOALAN SERIUS oleh Penulis.

    Komentar: Maaf ya, justru Anda yang tidak memiliki parameter. Untuk pembuatan film semaca Batman, Spiderman, dan sejenisnya, bahkan untuk kartun Winni De Pooh saja, itu selalu ada nilai keteladanan yang ditampilkan; menurut versi umum (bukan Islam). Padahal itu film umum. Lihat sinetron Omar yang tayang di MNC selama Ramadhan itu, apa Anda melihat keteladanan disana? Terimakasih.

    2.Begitu mudah membuat kesimpulan bukan berdasarkan fakta tetapi hanya atas dasar asumsi ,contoh spesifik adalah tulisan ini:“Bang Dedi Mizwar pasti pusing kalau ditanya, mau Anda bawa kemana sinetron itu? Missi moral yang Anda usung apa dan bagaimana pencapaiannya?” sebagai pembaca saya tidak tahu dengan menggunakan dasar penulis ” BERANI MEMASTIKAN”. next

    Komentar: Halah, untuk yang begituan itu tak usahlah dibuat serius, atau dianggap esensial. Ini mengingatkan pada gaya Rakhai Pikatan; setiap ada celah sedikit, langsung dilahap; seakan dia begitu senang kalau “musuhnya” gelagapan tak bisa menjawab. Halah, model diskusi maca begitu buanglah dari kehidupan ini. Itu tak berguna, selain tambah membuat perih apa yang ada di dada.

    Admin.

  14. abisyakir berkata:

    @ Id Amor…

    MEMPERBANDINGKAN DENGAN KARYA KELAS DUNIA, dan uniknya TAK ADA SATUPUN contoh yang diajukan adalah yang satu bidang dengan topik yang dibahas yaitu tentang karya Sinema Elektronik. Sebagai pembaca saya sangat bingung memahami alur pemikiran penulis artikel dalam memperbandingkan hal ini, mengapa harus memperbandingkan dengan “Apple, Microsoft, Sony, Honda, Mercy, Samsung, Shell, Google. Sama halnya jika ada orang yang mengkritisi buku karya AMW dengan memperbandingkan produk BOING,BMW dll.

    Ya baik, saya beri perbandingan ya, meskipun hal ini tetap saja akan Anda anggap kurang. Berikut perbandingannya, tetapi ini tidak masuk dalam tulisan:

    – Sinetron Omar yang menjadi “box office” di TV-TV Timur Tengah.
    – Sinetron Ashabul Kahfi, tentang perjuangan para pemuda Romawi beragama Nasrani. Ini sampai puluhan serial.
    – Sinetron “Jamaluddin Al Afghani”, dulu pernah tayang di Indonesia. (Saya tak melihat sosok Jamaluddin nya, tapi sinetron-nya).
    – Film serial “Bond of Brothers” tentang para serdadu Amerika yang terikat loyalitas persaudaraan.
    – Sinetron Losmen, sinetron dulu, terkenal dengan sosok “Bu Broto”.
    – Sinetron Jendela Rumah Kita, juga sinetron dulu.
    – Dll.

    Pada produk-produk itu jelas lebih berkelas cara penggarapan, alur cerita, ketokohan, dan visi ceritanya. Bahkan pada sinetron Ashabul Kahfi, penggunaan properti, gedung-gedung, dll. jauh lebih banyak dan “hidup”.

    Admin.

  15. abisyakir berkata:

    @ Id Amor…

    Kata-kata “mu” itu tidak selalu berkonotasi negatif. Mu itu sering digunakan untuk menunjukkan kedekatan, persahabatan, persaudaraan, perkawanan, dan semisalnya. Kalau orang berkata: “Dirimu selalu menjadi perhatianku.” Ini berbeda dengan kata: “Diri Bapak selalu saya perhatikan.”

    Maaf, Anda kenal rasa bahasa tidak? Dalam sastra, hal demikian sering digunakan. Hingga Chairil Anwar menulis sajak, tentang “Aku”. Puisi itu bukan mencerminkan keegoisan, tetapi menunjukkan keintiman seseorang dengan dunianya.

    Admin.

  16. abisyakir berkata:

    @ Id Amor…

    1.Memberikan Saran ,kritik yang pada tempatnya. agar tepat sasaran. saya ingin memberikan sudut pandang berbeda dengan penulis artikel ini,maka saya sampaikan pandangan saya tersebut disini. karena dengan menyampaikan pada tempatnya maka kemungkinan besar penulis artikel akan mengetahui tanggapan ‘konsumen’ dari karyanya.

    Komentar: Saya sudah kirim tulisan itu ke SCTV atau board-nya sinetron PPT. Tapi tak ada respon dari mereka tentang isi tulisan itu.

    3.Memanfaatkan waktu untuk saling mengingatkan akan kebenaran dan kesabaran sesama saudara seiman. Walaupun secara pribadi Amor belum mengenal tentang Penulis artikel ini, tetapi karena yakin ia saudara seiman,maka amor sisihkan waktu sedikit untuk saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran.

    Komentar: Ya sama-sama, kita saling diskusi, berbagi pengetahuan, dan wawasan, dengan niat baik: memberdayakan pemikiran dan wawasan generasi muda Muslim.

    Sebagai seorang yang banyak menulis buku, saudara AMW Ada hal yang bisa dilakukan dalam menyikapi hal ini ,yaitu buatlah karya cerita (bisa dimulai dengan membuat novel) yang lebih baik dan lebih berkualitas dibandingkan sinetron PPT dan yang lainnya menurut pandangan penulis. biar umat /pembaca yang menilainya .==>galakan sikap berlomba lomba dalam karya dan prestasi

    Komentar: Hhhmmm…bisa gak ya? Semoga Allah menolong untuk berdakwah di depan masyarakat dengan cara yang baik dan lebih bermanfaat. Amin.

    Admin.

  17. Id Amor berkata:

    Kehadiran saya diblog ini tidak bisa terlepas dari setelah “menyaksikan bedah buku di Masjid Al “Araf” ,dan kehadiran saya adalah didorong rasa ingin tahu tentang “penulis buku tersebut” beserta karya karyanya.,apakah ia benar benar punya “MISI PENDAMAI”

    dan tulisan ini hanya menjadi “sample” untuk mengetahui ‘lebih dalam’

    Dan Setelah membaca seluruh isi artikel ==>menindak lanjuti dengan menyampaikan ‘sedikit tanggapan’ ==>memperhatikan tanggapan balik dari penulis artikel.

    Maka jika PPT ada beberapa “SISI MENYEDIHKAN” , sisi menyedihkan (yang disebut ada 3) tersebut “TIDAK TERLALU KRUSIAL” , justru BANYAK SISI MENYEDIHKAN begitu mudah ditemui dalam artikel ataupun bagaimana dalam memberikan tanggapan balik untuk pembaca.

    dan saya tidak perlu “MENGULITI SATU PERSATU” kembali apa yang saya sebut “BANYAK Sisi menyedihkan” tersebut.

    kalau dinyatakan dengan pernyataan ringkas

    “Sibuk mempersoalkan selumbar di mata orang lain tetapi balok di mata sendiri tidak kelihatan”

    Dan berbicara soal KUALITAS , Karya PPT jauh lebih berkualitas dan mencerahkan dibandingkan Artikel ini.

    bahkan jika diperbandingkan sesama penonton “argumentasi yang di susun” penulis Artikel jauh tertinggal jika dibandingkan dengan pandangan mereka yang masih menggemari sinetron tersebut.

    bahkan mereka memberikan DATA DATA LEBIH SPESIFIK DAN DETAIL terkait “TOPIK YANG DIBAHAS” dibandingkan Tulisan di atas.

    bisa lihat postingan postingan mereka di sini

    http://myquran.org/forum/index.php?topic=81512.0

    dan saya ambil contoh satu postingan dari sdri Lis Purwanti

    Bagi pecinta sinetron “Para Pencari Tuhan” (PPT), pasti sering deh liat atau denger kata2 yang penuh makna dalam setiap adegannya.. Kalau aku pribadi sih banyak banget kata2 bermaknanya..

    Untuk PPT pagi ini yang paling mengena di hati ada dua adegan, yang pertama adalah adegan Mira (istrinya Asrul) dengan Herlina, berikut sedikit cuplikannya (maaf ya ga sama persis tapinya, hehe) %peace%:

    Mira : ” Herlina, sudah jangan begitu lagi, sabar.. ”
    Herlina: ” Kak Mira, sampai kapan kita sabar, kita gak bisa tinggal diam lagi.. sekarang kita saatnya gerak kak ”
    Mira : ” Kita harus tetap sabar dan berusaha, tapi bukan dengan meminta ”
    Herlina : ” Ih, kak Mira emang keras kepala ya !? ”
    Mira : ” Kalau gak keras kepala, saya sudah tumbang dari kemarin-kemarin ”

    Adegan yang kedua, yakni adegan bu Haji (mamanya Azam) belanja di tukang sayur bersama tiga orang ibu-ibu.. Adegannya waktu itu mamanya Azam hendak mengambil uang ke dalam rumah, tapi langsung tangannya di pegang oleh tukang sayur karena dikira mau ngutang alias ga bayar.. mamanya Azam langsung kaget diperlakukan seperti itu, namun seketika itu juga ada salah satu ibu-ibu yang gertak tukang sayur, kira-kira cuplikannya sebagai berikut :

    tukang sayur reflek memegang tangan mamanya Azam
    Ibu2 : ” Eh, rese loe yaa… , ibu haji tu mau ngambil uang ke dalem !!!”
    Tukang sayur : ” oh.. heu heu ” (yang waktu itu pura2 bisu)
    mamanya Azam : ” iya gak papa ” (tersenyum)

    mamanya Azam masuk ke dalam rumah menemui Azam dan istrinya sambil tersenyum
    mama : ” Ternyata, masih ada orang yang perhatian dengan kita di lingkungan sekitar kita, tanpa kita menyadarinya ”
    Azam : ” maksud mama ? ”
    mama : ” iya, kejadian didepan tadi, ketika ada laki2 asing memegang tangan mama, mama jadi merenung… sudah saatnya kita keluar dari rumah ini, keluar dari zona nyaman, sudah saatnya kita memperhatikan dan terjun langsung ke urusan umat ”
    Azam : ” caranya bagaimana mah? ”
    mama : ” kejadian warungnya Asrul, sudah saatnya kita berbuat sesuatu, tidak bisa tinggal diam “

  18. abisyakir berkata:

    @ Id Amor…

    Selama 6 tahunan kita disuguhi sinetron itu. Mulanya sih baik2 saja…tapi lama2 jadi nggilani. Ada saja masalah antara Azzam, istrinya, dan cewek satunya lagi itu. Halah…untuk selera saya, sulit menerima sinetron begituan. Meskipun awalnya (untuk session awal2) masih bisa mengapresiasi. Ya kalau Anda trmasuk fans berat, itu hak Anda. Tidak mengapa. Anda bisa membuat blog khusus untuk mmuji2 sinetron bgituan. Terimakasih.

    Admin.

  19. Id Amor berkata:

    1.pernyataan anda menegaskan “bahwa artikel di atas” hanya atas dasar ‘selera pribadi’ anda,,bukan atas dasar penilaian yang obyektif.,yaitu penilaian yang mengedepankan sikap keadilan

    2..anda menunjukan diri sebagai orang yang tidak bisa mendamaikan ‘selera pribadi’ ,untuk sedikit bersikap obyektif dan menghargai karya orang lain ,maka ,maka sikap anda seperti ini sulit untuk mendamaikan persoalan yang dihadapi orang lain

    3 kalau tidak bisa mendamaikan hal terkecil yaitu “selera pribadi’ bagaimana bisa mau beranjak mendamaikan masalah yang besar.? (soal internal di dalam kelompok Ahli Sunah)

    yang saya khawatirkan GAGASAN “mendamaikan Ahli sunah di Nusantara” hanyalah sebatas gagasan teori dan retorika semata ,kalau cara memahami ‘persoalan kecil’ dengan menggunakan ‘pola pikir semacam ini”

    4.Anggapan anda bahwa saya ‘tidak memiliki parameter” , atau “fans berat” , menyodorkan solusi agar saya membuat blog yang khusus menyampaikan pujian terhadan sinema elektronik tersebut hanya menunjukan KEGAGALAN anda dalam memahami “kritikan kritikan konstruktif yang saya sampaikan..

    padahal dalam komentar terakhir di atas saya sudah memberikan sedikit penjelasan yang sangat jelas dan gamblang dengan memulai dengan pernyataan :

    ==Kehadiran saya diblog ini tidak bisa terlepas dari setelah “menyaksikan bedah buku di Masjid Al “Araf” ,dan kehadiran saya adalah didorong rasa ingin tahu tentang “penulis buku tersebut” beserta karya karyanya.,apakah ia benar benar punya “MISI PENDAMAI

    dan tulisan ini hanya menjadi “sample” untuk mengetahui ‘lebih dalam==

    5.Tanggapan terakhir anda justru menambah fakta bahwa anda hanya menambah “DAFTAR MENYEDIHKAN ” ,yang anda pertunjukan ,sebuah sikap jauh dari orang yang memiliki misi kuat sebagai “PENDAMAI”

    Saya berikan FAKTA SPESIFIK di thread ini, ketika PEMBACA MEMINTA kepada anda untuk bersikap ADIL.

    deanova chandra mengatakan:
    Agustus 24, 2012 pada 2:52 pm

    Kalau begitu, agar lebih berkeadilan, mestinya sdr AMW menulis juga SISI TIDAK MENYEDIHKAN SINETRON PPT. Koq kayaknya dinilai tidak bermanfaat sama sekali. Menurut saya, PPT adalah (tetap) tontonan, bukan tuntunan. Tetapi didalamnya menyelipkan pesan-pesan moral, kritik sosial, nasehat yang berlandaskan agama. Kalau memang menyedihkan menurut anda, kira-kira bagaimana seharusnya agar PPT tidak meneydihkan untuk ditonton. Mungkin bisa mjd masukan bagi Dedi Mizwar untuk perbaikan ke depannya. Sudah pasti donk anda tidak sekedar mengkritik dengan omong kosong. Kalo anda ingin memahami alur yg sebenarnya, tentunya anda juga mestinya bertanya kpd sang pemilik cerita.

    FAKTA TANGGAPAN ANDA ,justru sangat menyedihkan karena memberikan tanggapan yang NGGAK NYAMBUNG dan bersikap TENDENSIUS!

    bahkan bisa disebut SIKAP YANG DZALIM,karena anda bersikap seperti seorang penyidik,penuntut sekaligus sebagai hakim terkait niat seseorang dalam berkarya :

    ==

    kalau niatnya cuma “kejar setoran” akhirnya kualitasnya merosot tajam. Ya, itu sikap fairnya.

    =-

    lebih menyedihkan lagi , tidak memberikan FAKTA BERIMBANG dengan menyodorkan yang tidak menyedihkan , tetapi ANDA MENYUSUN ARGUMENTASI hanya atas dasar karena sinema tersebut sudah hadir serial yang ke ‘6’ dengan memperbandingkan dengan sinetron lainnya

  20. abisyakir berkata:

    @ Id Amor…

    1.pernyataan anda menegaskan “bahwa artikel di atas” hanya atas dasar ‘selera pribadi’ anda,,bukan atas dasar penilaian yang obyektif.,yaitu penilaian yang mengedepankan sikap keadilan

    Kan Anda nanya, apa ada pembanding lain, selain semacam produk Sony, LG, dan setrusnya. Sudah saya jawab, ada pembandingnya, misal sinetron Ashabul Kahfi, sinetron Omar, sinetron Losmen, sinetron Jendela Rumah Kita, dll. Bisa ditambahkan sinetron ACI (Aku Cinta Indonesia). Kan sudah ada parameternya. Masak sih terus disebut pendapat pribadi.

    2..anda menunjukan diri sebagai orang yang tidak bisa mendamaikan ‘selera pribadi’ ,untuk sedikit bersikap obyektif dan menghargai karya orang lain ,maka ,maka sikap anda seperti ini sulit untuk mendamaikan persoalan yang dihadapi orang lain

    Anda pernah dengar sinetron “Cinta Fitri” atau “Tersanjung” dan seterusnya? Sampai berapa session sinetron2 itu? Sinetron PPT hingga 6 session, nyaris tak ada bedanya dengan “Cinta Fitri” dan lainnya. Sebagai anak bangsa yang bertahun-tahun melihat masyarakat diserbu sinetron2 begituan, Anda tidak kasihan, kalau akal dan perasaan masyarakat “dikerjain” terus oleh pembuat sinetron2 itu? Anda cuma melihat kepentingan para pebisnis hiburan; tapi tak melihat kepentingan masyarakat Indonesia secara luas.

    Nih aneh ni orang, kita berpikir hak-hak masyarakat agar mendapat tontonan yang baik, tetapi selalu saja dia menemukan jalan untuk membela para industrialis entertainment.

    3. kalau tidak bisa mendamaikan hal terkecil yaitu “selera pribadi’ bagaimana bisa mau beranjak mendamaikan masalah yang besar? (soal internal di dalam kelompok Ahli Sunah)

    Waduh tambah kacau nih. Urusan Ahlus Sunnah tentu beda dengan acara sinetron PPT itu. Mengapa di sisi itu kamu ketemu celah untuk mengkritik? Aku kenal nih gaya diskusi aneh macam gini. Sekarang kalau kamu kesatria, kamu tulislah bantahan kamu atas artikel di atas. Boleh kok. Itu baru kesatria.

    Yang saya khawatirkan GAGASAN “mendamaikan Ahli sunah di Nusantara” hanyalah sebatas gagasan teori dan retorika semata ,kalau cara memahami ‘persoalan kecil’ dengan menggunakan ‘pola pikir semacam ini”

    Coba gini saja, kita bersikap fair:

    = Kamu sudah baca buku Mendamaikan Ahlus Sunnah secara tuntas?
    = Apakah kamu mewakili komunitas Ahlus Sunnah?
    = Apakah sinetron itu identik dengan komunitas Ahlus Sunnah?
    = Apakah ormas2 Islam seide dengan kamu soal sinetron PPT itu?

    Sinetron itu tak ada kaitannya dengan Ahlus Sunnah, atau tema yang dibahas dalam buku. Andaikan saya menulis artikel lebih keras dari itu, kalangan Asy’ariyah atau Wahabiyah, tak akan menjadikannya sebagai muatan yang dibawa dalam konteks kerjasama antar sesama Ahlus Sunnah.

    Misalnya, ada seorang guru menulis, “Cara Praktis Mengatasi Kebosanan”. Lalu suatu saat dia merasa bosan; apakah dengan kenyataan itu, dia lantas harus menarik bukunya? Masya Allah, ini saya lihat sebagai cara berpikir… Dari realitas kecil dipakai untuk menghakimi urusan besar.

    ==Kehadiran saya diblog ini tidak bisa terlepas dari setelah “menyaksikan bedah buku di Masjid Al “Araf” ,dan kehadiran saya adalah didorong rasa ingin tahu tentang “penulis buku tersebut” beserta karya karyanya.,apakah ia benar benar punya “MISI PENDAMAI”. dan tulisan ini hanya menjadi “sample” untuk mengetahui ‘lebih dalam==

    Masya Allah, betapa piciknya diri Anda. Hanya melihat sebuah artikel itu, atau ikut diskusi buku; Anda langsung menyimpulkan begini begitu. Masya Allah. Bandingkan dengan saya yang mengikuti perkembangan sinetron PPT selama 6 tahunan, lalu menulis artikel kecil yang bersikap keras. Coba bandingkan, siapa yang lebih adil disini? Toh, tujuan saya agar masyarakat tidak dirusuhi oleh isi sinetron2 sampah.

    5.Tanggapan terakhir anda justru menambah fakta bahwa anda hanya menambah “DAFTAR MENYEDIHKAN ” ,yang anda pertunjukan ,sebuah sikap jauh dari orang yang memiliki misi kuat sebagai “PENDAMAI”. Saya berikan FAKTA SPESIFIK di thread ini, ketika PEMBACA MEMINTA kepada anda untuk bersikap ADIL.

    Saya yakin, Anda ini tak jauh dari Rakhai Pikatan. Saya yakin itu. Mestinya, kalau Anda kesatria. Anda waktu itu kenalkan diri Anda kepada saya, lalu kita bicara. Anda sudah hadir disana, tapi sebatas sebagai “spionase”. Itu sangat “tidak menyedihkan”. Sudah datang kesana, tapi sebatas memendam dengki semata; kasihan sekali.

    Admin.

  21. muslih berkata:

    Orang salaf senang juga nonton Sinetron ya? 😀

  22. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea... berkata:

    @…abisyakir

    bp/abisyakir.. mohon maaf sblumnya zenal udah ikutan angkat bicara.. bila trnyata tindakan zenal beupa “ikut berbicara” membuat bp merasa kurang nyaman (tidak enak), sekali lagi mohon di maafkan.. smoga bp berkenan u/ memaafkan..

    begini bp, Insya’Allah akan lebih baik buat bp jika setiap kali ada orang yg memberi komentar yg mana komentar tersebut isinya cenderung kedalam kategori “mengkritik”, itu tidak serta-merta oleh bp d’simpulkan dgn kesimpulan (baik sementara atau final) bahwa tidak lain orang yg berkomentar tersebut adalah saudara yang bernama “Rakhai Pikatan”, meskipun tata bahasa yang di’pergunakan oleh si’pemberi komentar tersebut itu hampir sama atau bahkan serupa tata bahasanya dengan yang biasa d’pakai oleh Saudara Rakhai Pikatan d’saat berdiskusi dengan bp. apalagi jika yang berkomentar tersebut telah tertera namanya dengan jelas bahwa namanya bukan Rakhai Pikatan. oleh kerna itu, Insya’Allah akan sangat baik buat bp untuk tidak mengidentikkan s’pengkritik tersebut dengan saudara Rakhai Pikatan (kecuali jika sudah terbukti dengan sangat kuat bahwa si’pengkritik tersebut adalah saudara Rakhai Pikatan), dan kalaupun bp mau mengidentikkan s’pengkeritik tersebut dengan saudara “Rakhai Pikatan”, maka cukuplah hanya bp saja yang mengetahuinya (tidak d’ungkapkan kpd yg lain, kecuali kalau si’pengkeritik tersebut sudah jelas bahwa ia adalah saudara Rakhai Pikatan).

  23. abisyakir berkata:

    @ Muslih…

    Bukan “senang nonton sinetron”, tapi ikut mengikuti tontonan yang disaksikan kaum Muslimin. Kalau sinetron zaman dulu, seperti Losmen, ACI, Jendela Rumah Kita, dll. itu saya lihat saat masih remaja, masih usia SMP-SMA. Tetapi secara umum, saya bukan penggemar sinetron, karena ceritanya suka panjang2.

    Admin.

  24. abisyakir berkata:

    @ Zaenal Abidin…

    Tidak apa-apa, silakan ikut berbicara, kita disini kan share. Saya tidak selalu benar, sebagaimana orang lain tidak selalu salah. Kita saling tolong-menolong dalam kebajikan, insya Allah.

    Khusus untuk Rakhai Pikatan, atau yang semodel itu, saya sudah menetapkan sikap. Orang ini istilahnya sudah di-banned di media ini. Sebab, dia itu maunya menyalahkan terus, tidak menghargai jawaban-jawaban yang diberikan dalam diskusi; dan terus mencari-cari celah konflik secara licik. Saya sering diskusi panas dengan banyak orang disini; tapi ujungnya selalu mengarah kepada sikap baik, saling bersaudara, saling memberi-menerima dan menghormati. Tapi orang itu -dengan asas kedengkian di hatinya- tidak akan mau dibawa ke arah kebaikan; sebab yang dia cari memang pemuas kedengkiannya. Makanya secara sikap saya menolak orang begituan. Buat apa ngurusi para pendengki kurang kerjaan?

    Makanya, kalau ada gaya-gaya semodel itu, signal kewaspadaan saya langsung bergerak, dengan izin Allah. Meskipun hal ini juga tidak mutlak. Mungkin Anda keberatan kalau @ Id Amor saya sebut sebagai Rakhai Pikatan. Hujjah Anda, toh dia tidak menyebut diri sebagai Rakhai Pikatan. Nah, masalahnya, mengapa dia tidak menyebut identitas aslinya saja. Di dunia internet, dalam sehari seseorang bisa berubah Id hingga 100 kali (kalau mau). Masalah utamanya itu. Dia mau semena-mena menyerang orang lain, tetapi tidak menampakkan identitas aslinya. Ini kan sikap pengecut. Mestinya, hal itu Anda lihat terlebih dulu.

    Tidak ada salahnya, kita katakan, “Saya menduga Anda adalah Rakhai Pikatan”. Tidak ada salahnya. Toh, saya tidak memastikan identitas disana. Kalau tidak mau disangka macam2, ya sebutlah identitas asli. Itu mudah kan, gentle, dan menunjukkan sikap terbuka. Bahkan sampai hari ini saya masih bertanya-tanya, apakah @ Rakhai Pikatan itu nama sebenarnya atau nama anonim?

    Terimakasih atas masukannya, jazakumullah khair.

    Admin.

  25. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea... berkata:

    @…abisyakir

    abisyakir :: “Mungkin Anda keberatan kalau @ Id Amor saya sebut sebagai Rakhai Pikatan. Hujjah Anda, toh dia tidak menyebut diri sebagai Rakhai Pikatan.”

    Respon :: disisi lain, soalnya saya sampai bertanya-tanya dengan pertanyaan “Mengapa ya akhir-akhir ini bp/abisyakir jika ada komentar yang datang yang kesannya subur akan STIGMA, itu selalu dikaitkannya kpd saudara @ Rakhai Pikatan.? ada apa dengan bp/abisyakir.? nampak seperti pernah tersakiti oleh saudara Rakhai, dan membekas didalam dada.” begitu pa kurang lebihnya sesuatu yang muncul di’benak ini… yaa, semoga abisyakir baik2 saja keadaannya…

    Tambahan :: *Jangan Mudah Layu*

    abisyakir :: “Terimakasih atas masukannya, jazakumullah khair.”

    Respon :: Sama-Sama.

  26. Id Amor berkata:

    Agar diskusi jelas berdasarkan fakta bkan sekedar asumsi ,saya ajukan contoh spesifik di sini Sinema ,dalam salah satu episoedenya”

    yang ‘dianggap ada hal yang menyedihkan” silahkan perhatikan faktanya , bisakah disamakan dengan CInta fitri ,tersanjung dll, sebagaimana yang dijadikan dasar argumentasi admin blog ini

  27. abisyakir berkata:

    @ Zaenal….

    Di sisi lain, soalnya saya sampai bertanya-tanya dengan pertanyaan “Mengapa ya akhir-akhir ini bp/abisyakir jika ada komentar yang datang yang kesannya subur akan STIGMA, itu selalu dikaitkannya kpd saudara @ Rakhai Pikatan.? ada apa dengan bp/abisyakir.? nampak seperti pernah tersakiti oleh saudara Rakhai, dan membekas didalam dada.” begitu pa kurang lebihnya sesuatu yang muncul di’benak ini… yaa, semoga abisyakir baik2 saja keadaannya…

    Respon: Bukan sakit hati, tapi jengkel dengan diskusi orang macam begituan. Dia diskusi bukan untuk mencari kebenaran, tapi sebatas melampiaskan kedengkian di hatinya. Nuruti para pendengki, sampai kapan bisa selesai? Bukan sakit hati, tapi jengkel saja. Kok ada manusia mau menuruti bara api kedengkian semacam itu? Kalau diskusinya baik, saling menguji argumen, sportif, saya tetap terima; meskipun isinya mengkritik saya. Orang macam begitu sering saya lihat dalam diskusi2 online saat di MyQuran dulu. mgkin sampai sekarang juga masih ada. Kalau dia kita anggap besar, semakin jumawa dirinya.

    Alhamdulillah, kita merasa baik-baik saja. Alhamdulillah. Hanya, untuk menghadapi maniak-maniak tertentu, jangan mengikuti cara main mereka. Keenakan nantinya dia…

    Admin.

  28. abisyakir berkata:

    @ Man…

    Argumen beginian kita mau denger, bukan asumsi2 aneh yang tidak karuan juntrungnya itu. Sudahlah kamu gak usah susah payah diskusi disini. U are on “black list”. Sudah kamu cari jati diri saja dulu, baru setelah itu diskusi baik-baik dengan orang lain.

    Admin.

  29. Id Amor berkata:

    abisyakir mengatakan:

    Januari 6, 2013 pada 12:01 am

    @ Man…

    Argumen beginian kita mau denger, bukan asumsi2 aneh yang tidak karuan juntrungnya itu. Sudahlah kamu gak usah susah payah diskusi disini. U are on “black list”. Sudah kamu cari jati diri saja dulu, baru setelah itu diskusi baik-baik dengan orang lain.

    Admin.

    Respon Amor :

    Sepertinya ada yang lupa dengan pernyataannya sendiri,ketika menanggapi komentar amor ini :

    Amor

    3.Memanfaatkan waktu untuk saling mengingatkan akan kebenaran dan kesabaran sesama saudara seiman. Walaupun secara pribadi Amor belum mengenal tentang Penulis artikel ini, tetapi karena yakin ia saudara seiman,maka amor sisihkan waktu sedikit untuk saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran.

    Perhatikan kembali tanggapan anda ini :

    Komentar: Ya sama-sama, kita saling diskusi, berbagi pengetahuan, dan wawasan, dengan niat baik: memberdayakan pemikiran dan wawasan generasi muda Muslim

    sekali lagi amor hadir disini memiliki niat baik , yaitu saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran kepada sesama saudara seiman .

    1. Dengan menghapus beberapa komentar Amor dan menyatakan blacklist, sesungguhnya anda HANYALAH ORANG YANG BISA MENCELA DAN MENGKRITIK karya orang lain tetapi SEPERTINYA ANDA TIDAK MEMILIKI KESIAPAN MENTAL ketika “STANDAR” penghakiman anda diperuntukan anda sendiri.

    Di blog ini anda bisa menghapus dan mengedit postingan pembaca ‘sesuka hati anda” tetapi anda tidak bisa menghapus fakta bahwa apa yang anda lakukan dikemudian hari akan dimintai pertanggung jawab oleh Allah di yaumil Hisab kelak.

    2.Ketika anda menyatakan :”Sudah kamu cari jati diri saja dulu, baru setelah itu diskusi baik-baik dengan orang lain”

    Pernyataan tersebut hanya ekspresi KESOMBONGAN ,sikap merendahkan kemampuan orang lain tetapi BERSIKAP LUPA DIRI akan kemampuan sendiri.

    3.Ketika cara pembunuhan karakter dalam menepis kritikan gagal total dan justru cara tersebut menjadi bumerang , maka membanned dan menghapus hanyalah menutupi ketidak mampuan dalam menepis kritikan dan masukan.

    jika berhadapan dengan Amor saja, anda menunjukan ketidak berdayaan dan akhirnya memilih cara arogansi kekuasaan, maka bagaimana jika kelak dimintai pertanggungan jawab di Yaumil hisab?

    dan bagaimana pula jika dari pihak pihak dari Dedy Mizwar Dkk melakukan GUGATAN HUKUM atas pencemaran nama baik kepada anda?

    apa anda tidak berfikir soal itu? anda hanya berfikir untuk MEMUASKAN SELERA dan EGO ANDA?

    sekali lagi saudaraku Abi Syakir alias Abu Muhammad Waskito dan Alias alias lainnya… gunakan hati nurani anda , sisihkan waktu sejenak merenung dalam menyikapi persoalan ini…

    apapun perlakuan anda terhadap pribadi saya, sikap saya tidak berubah, saya tetap menganggap anda adalah saudara seiman saya…

    sama juga Deddy Mizwar dkk juga saudara seiman saya, maka ketika ada yang BERSIKAP DZALIM dan MENGOBARKAN KEBENCIAN DAN KEDENGKIAN kepadanya,saya berusaha memberikan pembelaan sebagai saudara seiman

    dan sebagai penutup komentar saya di blog ini saya mengingatkan kepada diri sendiri dan termasuk anda, semoga ingat akan firman Allah ini :

    Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika iakaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.(Qs An Nisa:135)

    Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al Maidah 8)

    Sekali lagi saya hadir di blog anda ini sekedar mengingatkan anda, sebagai bukti rasa kecintaan kepada saudara seiman.

    tetapi jika niat baik tersebut anda tanggapi sebaliknya selayaknya susu dibalas air tuba, itu urusan anda sendiri dan apapun sikap anda akan dimintai pertanggung jawab kelak di yaumil hisab.

    wassalam

    Id Amor

  30. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea... berkata:

    @..abisyakir

    Alhamdulillah kalau baik-baik saja.. smoga baik-baik selalu.. aamiin..

    Eehhmmmzz.. Jengkel.. tp Rinduuuuuu… hee..hee.. (( sudah pa, sudah… yg ini jangan d’komontari, okey.. nanti kalau d’komentari, bisa membuat jumlah komentar d’postingan ini jadi bertambah..))

  31. abisyakir berkata:

    @ Id Amor…

    1. Dengan menghapus beberapa komentar Amor dan menyatakan blacklist, sesungguhnya anda HANYALAH ORANG YANG BISA MENCELA DAN MENGKRITIK karya orang lain tetapi SEPERTINYA ANDA TIDAK MEMILIKI KESIAPAN MENTAL ketika “STANDAR” penghakiman anda diperuntukan anda sendiri. Di blog ini anda bisa menghapus dan mengedit postingan pembaca ‘sesuka hati anda” tetapi anda tidak bisa menghapus fakta bahwa apa yang anda lakukan dikemudian hari akan dimintai pertanggung jawab oleh Allah di yaumil Hisab kelak.

    Respon: Tidak, tidak begitu berpikirnya. Saya menerima kritik yang disampaikan orang lain, di blog ini Anda lihat sendiri. Saya tidak selalu men-delete pendapat orang. Hanya saja, kalau: dia bertanya, lalu kita berikan jawaban yang kuat, tetapi dia terus mencari-cari hal remeh untuk memperpanjang perdebatan; nah yang begitu itu yang tidak kita sukai.

    Misalnya, Anda mengkritisi, apakah dalam sebuah produk sinetron, ketokohan itu penting? Apakah keteladanan itu penting? Saya jelaskan, bahkan sebelum sinetron dibangun, sebelum skenario dibuat karakter tokoh itu sudah dibangun disana. Jadi, kalau nanti karakter tokoh itu mencla-mencle, tidak sesuai setting-an awal; itu tandanya sinetron tersebut tidak standar kualitasnya, alias sebatas kejar tayang. Maka itu, saya sarankan Anda bertanya ke penulis novel atau cerita drama.

    Kemudian soal keteladanan, ini menjadi kunci sebuah sinetron/drama disebut bernilai Islami atau tidak. Kalau tidak ada keteladanan, sikap tokohnya plin-plan, pribadi mendua (split personality), oportunis, dst. justru itu aneh. Untuk kartun Winnie DePooh saja ada keteladanan kok, masak untuk “sinetron Islami” tidak ada? Aneh itu.

    Soal pertanggung-jawaban di Akhirat…ya kita semua dimintai itu, termasuk Anda yang suka meng-copy data dari sana sini. Tujuan saya saat mengkritik sinetron PPT adalah jelas, untuk AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR. Maksud saya, janganlah kaum Muslimin ini selama bertahun-tahun dicekoki cerita-cerita aneh seputar cinta Azzam dan Aya; itu selama bertahun-tahun, di momen Ramadhan lagi. Sinetron beginian tak bisa diklaim sebagai “sinetron Islami”. Islami apanya? Wong patokan Syariat-nya gak jelas begitu.

    Kemudian sosok Chelse, Barong, Juki. Mulanya mereka sosok komedian. Tapi karena terus-menerus diangkat, akhirnya menjadi “role model” anak-anak muda Muslim. Semoga Anda ikut bertanggung-jawab atas semua kebobrokan dan kebusukan yang menyelimuti sinetron PPT itu.

    dan bagaimana pula jika dari pihak pihak dari Dedy Mizwar Dkk melakukan GUGATAN HUKUM atas pencemaran nama baik kepada anda?

    Respon: Ya silakan saja kalau mereka mau menuntut, wong kita menulis artikel kritik. Memang Anda tidak pernah membaca artikel kritik tentang suatu karya seni tertentu? Apa yang begitu melanggar hukum?

    2.Ketika anda menyatakan: ”Sudah kamu cari jati diri saja dulu, baru setelah itu diskusi baik-baik dengan orang lain”. Pernyataan tersebut hanya ekspresi KESOMBONGAN ,sikap merendahkan kemampuan orang lain tetapi BERSIKAP LUPA DIRI akan kemampuan sendiri.

    Respon: Ya niatnya bukan berbuat sombong, tapi saya merasa ada “something wrong” di diri Anda. Setiap diskusi berkembang dengan argumen dan analisis, Anda tidak menanggapi sepenuhnya; tapi giliran saya “terpeleset” sedikit saja, cepat-cepat Anda hajar sekencang-kencangnya. Ini kan bukan niatan diskusi jadinya. Kalau debat kusir macam begitu, saya tidak mau.

    3.Ketika cara pembunuhan karakter dalam menepis kritikan gagal total dan justru cara tersebut menjadi bumerang, maka membanned dan menghapus hanyalah menutupi ketidak mampuan dalam menepis kritikan dan masukan. jika berhadapan dengan Amor saja, anda menunjukan ketidak berdayaan dan akhirnya memilih cara arogansi kekuasaan, maka bagaimana jika kelak dimintai pertanggungan jawab di Yaumil hisab? dan bagaimana pula jika dari pihak pihak dari Dedy Mizwar Dkk melakukan GUGATAN HUKUM atas pencemaran nama baik kepada anda? apa anda tidak berfikir soal itu? anda hanya berfikir untuk MEMUASKAN SELERA dan EGO ANDA?

    Respon: Saya tidak suka dengan model diskusi seperti itu, sebab ia akan berpanjang-panjang; dan tak ada ujungnya. Saya tidak mau diskusi macam begitu. Makanya, komentar Anda langsung saya hapus; sebab kalau tidak begitu, nanti saya tanggapi, lalu Anda cari kesalahan dari tanggapan itu, Anda serang lagi, lalu saya tanggapi lagi, lalu Anda cari kesalahan disana…dan seterusnya ila yaumil qiyamah. Siapa mau berdiskusi macam begitu? Memang kita tak ada aktivitas lain?

    sekali lagi saudaraku Abi Syakir alias Abu Muhammad Waskito dan Alias alias lainnya… gunakan hati nurani anda , sisihkan waktu sejenak merenung dalam menyikapi persoalan ini… apapun perlakuan anda terhadap pribadi saya, sikap saya tidak berubah, saya tetap menganggap anda adalah saudara seiman saya… sama juga Deddy Mizwar dkk juga saudara seiman saya, maka ketika ada yang BERSIKAP DZALIM dan MENGOBARKAN KEBENCIAN DAN KEDENGKIAN kepadanya,saya berusaha memberikan pembelaan sebagai saudara seiman

    Respon: Tidak apa-apa, Anda tidak dilarang mengkritisi tulisan ini, dan lainnya. Itu hak Anda. Tapi kita punya niat baik disana, Anda perlu tahu itu. Coba Anda bayangkan, berapa besar keuntungan materi yang didapat oleh kru PPT dan SCTV selama 6 tahun tayang? Keuntungan itu bersumber dari ummat Islam, sebagai penonton utama mereka, yang rata-rata sedang Shaum Ramadhan. Lalu pikirkan, berapa banyak orang yang mengkritik sinetron itu, dibandingkan dengan yang memujinya setinggi langit?

    Apa yang saya lakukan ini adalah memanfaatkan hak saya sebagai ummat Muslim yang menjadi konsumen sinetron itu. Juga dalam rangka membela kepentingan ummat agar tidak dibodoh-bodohi oleh sinetron lebay, di bulan Ramadhan lagi. Menurut saya, Anda justru mestinya mendukung saya, bukan malah melawan. Andaikan melawan pun tidak apa-apa, asalkan cara diskusi Anda baik, bukan main debat kusir gak karuan.

    dan sebagai penutup komentar saya di blog ini saya mengingatkan kepada diri sendiri dan termasuk anda, semoga ingat akan firman Allah ini:
    Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika iakaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.(Qs An Nisa:135)
    Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al Maidah 8)

    Sekali lagi saya hadir di blog anda ini sekedar mengingatkan anda, sebagai bukti rasa kecintaan kepada saudara seiman. tetapi jika niat baik tersebut anda tanggapi sebaliknya selayaknya susu dibalas air tuba, itu urusan anda sendiri dan apapun sikap anda akan dimintai pertanggung jawab kelak di yaumil hisab. wassalam. Id Amor.

    Respon: Ya, terimakasih sudah diingatkan. Menurut saya, sampai session 1, 2, 3, sinetron PPT masih memiliki sisi2 hikmah yang bisa diambil. Tapi sessi 4, 5, 6, sinetron itu lebih kelihatan kejar tayang, karena ingin mendapat profit saat momen Ramadhan tiba. Nah, untuk yang begini ini, seringkali produser hiburan tidak menghargai hak-hak konsumennya (ummat Islam). Untuk itu saya berikan kritik. Kritik ini sangat sedikit dibandingkan orang-orang yang memuji/menyanjung sinetron itu secara berlebihan. Dan Anda tidak boleh menolak seseorang yang berusaha menunaikan hak-hak perlindungan kepada ummat Islam.

    Terimakasih.

    Admin.

  32. abisyakir berkata:

    @ Zaenal…

    nanti kalau d’komentari, bisa membuat jumlah komentar d’postingan ini jadi bertambah..

    Biar aja, biar diskusinya kelihatan ramai. He he he…

    Admin.

  33. Fulan-1 berkata:

    Kalo menurut gw Sinetron Para Pencari Tuhan tetap yg terbaik dari semua sinetron yg gw tonton di televisi .

  34. Fulan-4 berkata:

    Katanya menyedihkan tapi ditonton terus….heemm munafik

  35. reynokenzo berkata:

    tinggal nonton, gak usah bayar aja kok bnyak omong. Gmn klo bayar?
    Inilah indonesia, org yg lebih bnyak komentar dr pd karyanya.

  36. abisyakir berkata:

    @ Reynokenzo…

    Justru sebagai “konsumen yang baik” Anda harus kritis, jangan “maen telen” saja. Anda kan bisa menilai positif negatifnya, dengan parameter tertentu? Masak jadi penonon kok “meneng wae”? Blog seperti ini kan dibuat, agar Anda jadi kritis, bukan “asal telen”.

    Admin.

  37. rini berkata:

    Di bulan ramadhan ini memang sinetron PPT masih lumayan bagus dibanding acara2 lain yang cuma main tumpah-tumpahan bedak dan saling cela. Namun memang sejak PPT ke-4 sampai sekarag ceritanya makin nggak jelas dan mengada-ada…

  38. abisyakir berkata:

    @ Rini…

    Nah, maksud saya begitu Mbak. Tadinya sinetron itu “lumayan” untuk klas tontonan di Indonesia. Tapi semakin kesini -mungkin karena jarang yang mengkritik- akhirnya jadi “belagu”, seenaknya bikin cerita. Kelihatan banget “tim kreatif”-nya macet. Tapi dikritik begini, banyak yang sewot. Ya maklumlah…

    Admin.

  39. Wahyudi Wibowo berkata:

    Saya setuju dengan pendapat Abi Syakir. Semoga ada film Islami berkualitas di kemudian hari di layar kaca Indonesia.

  40. benjamin berkata:

    Kasihan sekali yang menulis ini

  41. abisyakir berkata:

    @ All

    Terimakasih untuk semua komen, kritik, masukan, share, dan sebagainya. Semoga bermanfaat.

    Admin.

%d blogger menyukai ini: