Inspirasi Ramadhan: “Carilah Jalan untuk Mencintai Al Qur’an!”

Carilah Jalan untuk Mencintai Al Qur’an! Lalu Jadikan Ia Amal Harianmu! Terus Konsistenlah Menjaganya Hingga Akhir Hayatmu!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ikhwan wa akhwat rahimakumullah jami’an.

Ramadhan ini sering disebut sebagai Syahrul Qur’an; posisi Al Qur’an di bulan ini sangat significant dibandingkan bulan-bulan lain. Selagi Anda semua terus beribadah menyempurnakan shaum dan qiyam di bulan ini, ada sebuah INSPIRASI besar yang ingin disampaikan. Semoga dengan segala kelebihan, keberkahan, dan kesiapan ruhiyah kita di bulan ini; kita bisa memetik sebaik-baik hikmah amalan, untuk dijalankan. Amin Allahumma amin.

DALIL SYAR’I

Ada beberapa hadits Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam terkait Al Qur’an. Nabi pernah bersabda: “Khairukum man ta’allamal qur’an wa ‘allamahu” (sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya). Di kesempatan lain, beliau menyuruh kita untuk selalu membaca Al Qur’an: “Iqra’ul qur’ana fa innahu saya’ti yaumal qiyamati syafi’an li ashabih” (bacalah Al Qur’an itu, karena ia kelak akan datang di Hari Kiamat sebagai penolong bagi para sahabatnya -sahabat Al Qur’an-). Dua riwayat ini shahih semua. Riwayat pertama menjelaskan kedudukan orang-orang yang selalu belajar-mengajar Al Qur’an. Riwayat kedua menjelaskan, bahwa Al Qur’an kelak akan menjadi SYAFAAT (penolong) bagi para pecintanya.

Dalam riwayat lain, seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam: “Bilakah terjadi Hari Kiamat?” Nabi tidak langsung menjawab, tetapi beliau malah berkata: “Apa yang engkau telah siapkan untuk menghadapi Hari Kiamat?” Kemudian sahabat itu berkata: “Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Maksudnya, persiapan yang dia miliki untuk menghadapi Hari Kiamat ialah dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya). Lalu Nabi berkata, “Al mar’u ma’a man ahabbu” (seseorang itu kelak akan bersama siapa saja yang dicintainya).

Jika kita mencintai Al Qur’an, maka kelak kita akan bertemu dan bersanding dengan yang kita cintai (Al Qur’an). Maka riwayat-riwayat ini mendorong kita semua untuk mencari jalan dalam mencintai Al Qur’an. Janganlah seorang Muslim berhenti, istirahat, atau merasa santai; sebelum dia menemukan jalan untuk mencintai Al Qur’an.

PRINSIP MENCINTAI AL QUR’AN

Ada beberapa prinsip penting dalam mencintai Al Qur’an, yaitu sebagai berikut:

[1]. Kita bisa mencintai Al Qur’an dengan membacanya (tilawah), atau menghafalnya (tahfizh), atau memahami isinya (tafhim), atau mengajarkannya (ta’allum), atau melakukan studi atasnya (dirasah).

[2]. Pilih salah satu dari cara yang paling memungkinkan kita lakukan, sesuai kesempatan yang ada, kemampuan yang dimiliki, serta kebutuhan yang paling urgen bagi kita. Boleh juga dilakukan kombinasi dua cara atau lebih.

[3]. Hendaknya kita setiap hari (daily) terus berinteraksi dengan Al Qur’an, sesuai cara yang telah kita pilih. Usahakan, jangan sekali pun lalai dari berinteraksi dengan Al Qur’an, meskipun hanya sedikit yang kita peroleh. Prinsipnya, amal terbaik di sisi Allah ialah yang dawam (kontinue), meskipun sedikit jumlahnya. Dalam riwayat disebutkan: “Adwamuha wa in qolla” (yang terus-menerus, meskipun sedikit). Perkara yang dihargai disini ialah KONSISTENSI kita, bukan kuantitas amalan.

[4]. Lakukan upaya membaca, atau menghafal, atau memahami, atau studi secara runut dari awal sampai akhir; maksudnya, dari sejak Surat Al Fatihah sampai Surat An Naas. Jangan meloncat-loncat, jangan serabutan; jalan bolak-balik dari depan ke belakang, lalu belakang ke depan; pokoknya bersifat runut dari awal sampai akhir. Mengapa demikian? Karena memang urutan-urutan itu telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala; setiap bulan Ramadhan Jibril ‘Alaihissalam selalu memeriksa bacaan Al Qur’an Nabi. Urut-urutan ini harus kita hormati dan agungkan, sebagaimana Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah meridhai urut-urutan itu.

[5]. Jika Anda sudah menemukan cara terbaik dalam mencintai Al Qur’an; sesuai keadaan Anda, kemampuan yang Anda miliki, sesuai kebutuhan paling urgen, sesuai kesempatan yang ada; dan Anda mulai mendapatkan banyak keberkahan dari upaya mencintai Al Qur’an ini; maka pelihara amal Qur’ani harian ini sampai engkau berjumpa Rabb-mu. Pelihara terus, pelihara sekuat tenaga, secara konsisten, sampai kita benar-benar menjadi sahabat Al Qur’an. Bisa jadi, suatu masa kita akan mengubah cara kita; tidak mengapa, sebab memang hal ini termasuk bagian dari keluasan agama kita; namun nanti setelah memilih cara baru, harus konsisten juga. Pendek kata, jangan sampai kehilangan amal Qur’ani harian ini.

Secara Syariat Islam, kita tidak diwajibkan untuk menghafal Al Qur’an, atau tidak diwajibkan mengkhatamkan Al Qur’an setiap 3 hari, setiap seminggu, atau setiap bulan. Tidak ada kewajiban seperti itu, sebab amaliyah Qur’an bersifat mastatha’tum (sesuai kesanggupan kalian). Namun mencintai Al Qur’an adalah pilihan terbaik, jika kita ingin dimudahkan dalam kehidupan dunia, dan diselamatkan di Akhirat nanti (melalui syafaat Al Qur’an).

AMAL HARIAN PRAKTIS

Secara praktis, upaya mencintai Al Qur’an ini bisa dilakukan dengan alternatif cara sebagai berikut…

[a]. Membaca Al Qur’an, rutin satu halaman setiap hari. Jika mampu lebih dari satu halaman, silakan; tetapi harus konsisten, merasa ringan, dan bersemangat.

[b]. Menghafal Al Qur’an per hari 5 ayat, atau setengah halaman, bila mampu. Bila mampu lebih dari itu, misalnya satu halaman per hari, itu sangat baik. Hafalan sedikit-sedikit tidak mengapa, asalkan konsisten.

[c]. Memahami ayat Al Qur’an dan terjemahnya (tadabbur), satu pasal setiap hari. Pada Al Qur’an dan Terjemahnya, terbitan Depag RI, materi ayat-ayat sudah disusun berdasarkan pasal-pasal. Jika kita setiap hari bisa membaca satu pasal ayat dan terjemahnya, itu sangat baik. Sekali lagi, asalkan konsisten, bukan angin-anginan.

[d]. Mempelajari tafsir Al Qur’an, ayat demi ayat, rutin setiap hari. Jika mampu membaca beberapa versi tafsir Al Qur’an, itu lebih baik.

[e]. Membaca Al Qur’an dengan tajwid yang sempurna, misalnya 3 ayat 3 ayat, setiap hari. Silakan jika mampunya demikian.

[f]. Mengejar bacaan Al Qur’an, setiap hari 1 juz, atau 1/2 juz. Targetnya memperbanyak khatam Al Qur’an. Kalau sehari 1 juz, sebulan khatam; kalau sehari 1/2 juz, dalam dua bulan baru khatam. Membaca 1/4 juz, juga tidak apa-apa. Asalkan rutin setiap hari dan konsisten.

[g]. Menghafal Al Qur’an surat demi surat. Boleh dimulai dari juz 30, lalu juz 29, lalu juz 28, dan seterusnya. Dimulai dari surat-surat pendek sampai surat-surat panjang seperti Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa’, Al Maa’idah, dan lainnya.

[h]. Hanya membaca terjemah Al Qur’an, tanpa membaca ayatnya, sehari misalnya membaca 1 juz terjemah Al Qur’an, seperti layaknya membaca buku. Ini tidak apa-apa, jika kita memang mampunya demikian. Tetapi saat-saat tertentu, tetap harus membaca ayatnya sesuai kaidah tajwid; sebab terjemahan itu jelas bukan lafazh asli dari Al Qur’an.

[i]. Menghafal nama-nama Surat Al Qur’an, nomer suratnya, jumlah ayatnya, latar-belakang nama surat, dan isi umum yang terkandung dalam surat tersebut. Boleh menghafal pengetahuan demikian. Tetapi saat-saat tertentu tetap harus membaca ayat aslinya, karena ia memiliki keutamaan sebagai amal Tilawah Qur’an.

[j]. Membaca ayat-ayat tertentu pada Al Qur’an dengan melagukannya (qira’ah). Misalnya dengan menggunakan lagu Baiyati, Hijaz, Rast, Nahawand, dan lainnya. Tetapi harus tetap menyediakan waktu untuk membaca ayat-ayat Al Qur’an secara tartil, sesuai kaidah-kaidah tajwid. Karena asas bacaan Al Qur’an adalah tartil; sedangkan melagukan ialah dalam rangka mencintai dan mengagungkan ayat-ayat Al Qur’an.

[h]. Dan lain-lain cara yang kita sanggupi, mampu lakukan, dan butuhkan.

Pilihlah salah satu di antara sekian cara untuk mencintai Al Qur’an. Lakukan hal itu sebagai AMALAN HARIAN, dan terus lakukan secara konsisten. Jangan melihat kuantitas, tetapi lihatlah sisi konsistensinya. Hal inilah yang berharga di sisi Allah, karena kita selalu menyediakan waktu setiap hari untuk dekat dan mencintai Kitabullah.

MASALAH SERIUS

Problem yang sering muncul ketika kita mulai mencintai Al Qur’an adalah omongan was-was yang keluar dari lisan-lisan manusia. Was-was itu begitu menyesakkan dada, sehingga seringkali membunuh keinginan seorang insan  untuk mencintai Kitabullah.

Misalnya, kita sudah rutin setiap hari membaca Al Qur’an satu halaman. Hal ini sudah disesaikan dengan kesempatan, kemampuan, kebutuhan, serta kondisi sekitar. Tidak banyak memang, hanya 1 halaman per hari. Tetapi hal itu rutin dilakukan, setiap hari, secara konsisten; dan kita sudah merasakan hasil barakah ruhani dengan amalan harian itu. Lalu datang seseorang mencela amal kita itu. Katanya, amal Al Qur’an kita terlalu sedikit.

Orang itu berkata: “Imam Syafi’i saja setiap Ramadhan, setiap hari beliau bisa khatam. Di Mesir ada shalat tarawih yang setiap malam menghabiskan 10 juz. Di India malah ada shalat tarawih yang khatam 30 juz dalam semalam. Mestinya kalau sudah berumur 20 tahun, kita sudah hafal Al Qur’an. Di Saudi banyak anak SMA sudah hafal Al Qur’an. Syaikh Qaradhawi hafal Al Qur’an saat usia 10 atau 12 tahun. Mestinya dalam sehari kita bisa menghabiskan 10 juz Al Qur’an, sehingga dalam 3  hari kita sudah khatam. Minimal, kita khatam sekali dalam sebulan. Anak-anak SD mestinya ketika lulus SD, dia sudah hafal 6 juz; anak SMP saat lulus hafal 6 juz; anak SMA saat lulus hafal 8 juz; seorang mahasiswa saat lulus sarjana hafal 8 juz; sehingga total hafal 30 juz.”

Cara menjawab perkataan seperti itu, antara lain…

Jangan samakan diri kita dengan Imam Syafi’i yang memang hafal Al Qur’an, mumpuni dalam bahasa Arab, Sastra, dan Tafsir. Beliau sendiri berkecimpung penuh dalam pelayanan ilmu-ilmu keislaman. Imam Syafi’i hidup di tengah masyarakat Islami yang mendapatkan perlindungan penuh dari negara. Sementara kita hidup di negeri sekuler yang negara tidak bisa diandalkan untuk menjaga agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan kaum Muslimin.

Kalau ada orang yang mampu melakukan amal-amal yang banyak seputar Al Qur’an; bisa jadi dia adalah ulama, atau calon ulama; atau dia sehari-hari memang memiliki banyak kesempatan dan fasilitas untuk itu; atau dia belum berkeluarga sehingga masih banyak menikmati kebebasan situasi. Dan kita berharap dia benar-benar telah menjalankan kata-kata yang dia omongkan itu; sebab banyak terjadi, para penceramah, khatib, ustadz, murabbi, dll. mereka berbicara tinggi tentang Al Qur’an, sementara mereka sendiri tidak menjalani hal itu.

Kalau kita mampu dan diberi kesempatan melakukan amal-amal yang banyak seputar Al Qur’an, ya lakukan hal itu. Dulu para tahanan politik di era Orde Baru; mereka setiap hari selama di penjara bisa sepuas-puasnya membaca Al Qur’an; tetapi ketika mereka sudah keluar dari penjara, langsung drop kuantitasnya. Jika kita mampu, ada peluang, dan merasa mencintai; tidak mengapa beramal sebanyak-banyaknya.

Tetapi jika kita memang mampunya beramal sedikit, sesuai kemampuan dan kesempatan yang ada, ya lakukan yang sedikit itu. Jangan takut dengan omongan orang! Lakukan apa yang bisa dilakukan. Toh, sejujurnya kita tidak diwajibkan mencapai kuantitas sekian dan sekian. Tetapi kita harus berusaha mencintai Al Qur’an, agar ia menjadi sahabat kita dalam kehidupan sehari-hari; dengan demikian kita bisa berharap kelak di Akhirat akan mendapat syafaat dari Kitabullah Al Karim tersebut.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga risalah sederhana ini bermanfaat dan bisa diamalkan. Allahumma amin. Mulailah mencari jalan untuk mencintai Kitabullah! Jadikan ia sebagai amal harianmu, dan pelihara amal itu secara dawam (kontinue). Amal terbaik di sisi Allah ialah yang kontinue, meskipun sedikit sedikit. Wallahu a’lam bisshawaab.

(Abinya Syakir).

Iklan

2 Responses to Inspirasi Ramadhan: “Carilah Jalan untuk Mencintai Al Qur’an!”

  1. […] Cara Praktis Membuat Blog Pribadi di WordPressCara Praktis Menghasilkan Uang Dari Internet (37)Inspirasi Ramadhan: “Carilah Jalan untuk Mencintai Al Qur’an!” […]

  2. syaqil berkata:

    Masya Allah.. kata2 bijak yang menyejukkan.. jazakallahu khoir ustadz tausiah dan motivasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: