Kala Aktivis Islam Mendukung Foke-Nara (Pilkada Jakarta)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Jujur saja, sering muncul rasa heran di hati melihat pemikiran-pemikiran politik yang berkembang di tengah para aktivis Islam di negeri ini. Sebenarnya, pola aliran politik mereka seperti apa? Konstruksinya bagaimana? Atau dengan bahasa lugas, mereka itu sebenarnya maunya apa? Kebingungan ini muncul ketika melihat begitu rapuhnya pandangan politik para aktivis Islam ketika menyikapi Pilkada DKI 2012 yang nanti mempertemukan pasangan Foke-Nara versus Jokowi-Ahok.

Kalau membaca artikel-artikel di Voa-islam.com, jelas mereka cenderung mendukung Foke-Nara. Mungkin alasannya, karena Ahok beragama Kristen; nanti kalau Jokowi diajak oleh Prabowo sebagai calon Wakil Presiden dalam Pilpres 2014, maka otomatis Ahok akan jadi penguasa DKI Jakarta, sehingga kemudian Jakarta akan berubah menjadi kota milik China. Kok sampai segitunya… Apakah persoalan politik bisa dipetakan se-simple itu?

Tabloid Suara Islam bahkan dalam edisi terbaru, terang-terangan memuat kampanye Foke-Nara di halaman terakhir, penuh satu halaman. Termasuk PKS, akhirnya menyatakan dukungan kepada Foke-Nara. Yang sangat mengesalkan dari PKS ini, padahal kita sudah sama-sama tahu bahwa PKS sangat OPORTUNIS sikap politiknya; mereka memanfaatkan momen dukungan ke Foke-Nara ini untuk memojokkan kalangan Wahabi. PKS-PKS…kalian ini belum berbuat banyak demi kemajuan hidup kaum Muslimin di Nusantara, tetapi sangat berani memfitnah saudaranya yang sebenarnya tidak ada kaitan apa-apa dengan Pilkada DKI.

Jangan Bersikap Partisan. Tetapi Kembangkan “Politik Lobi”.

Ketua DPW PKS DKI Jakarta, Slamet Nurdin, seperti dilansir oleh situs Merdeka.com, Sabtu (11 Agustus 2012) menyebut salah satu alasan PKS mendukung Foke-Nara: “Ada beberapa hal yang termasuk dalam kontrak kerja kita, putaran pertama telah terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan berdampak kurang menguntungkan dan berpotensi untuk terjadinya perpecahan di kalangan umat. Maka sebagai penganut Ahlussunnah waljamaah, BUKAN WAHABI anti-maulid dan anti-tahlil, kedua belah pihak telah saling memaafkan dan bersepakat meminta maaf kepada pendukungnya untuk mengutamakan persatuan umat dan konstituennya.” Pernyataan ini dilontarkan Slamet di kantor DPP PKS di Jl. TB. Simatupang Jakarta Selatan. (Dikutip dari: PKS Bukan Wahabi Anti Maulid dan Tahlilan).

Pernyataan seperti ini jelas memecah-belah barisan Ummat. Katanya menghindari perpecahan, tetapi malah membuat perpecahan baru. Atau di mata PKS, kaum Wahabi bisa jadi sudah dianggap bukan bagian dari Ummat Islam? Allahu Akbar! Kaum Wahabi tidak ada kaitannya dengan Pilkada DKI, kok dibawa-bawa? Duhai nasibmu PKS, kalian bukannya mengisi Ramadhan dengan banyak amal kebajikan, malah menyebar fitnah dan perpecahan kaum Muslimin; demi kekuasaan politik. Padahal sebelumnya, PKS ini dikenal sangat benci kepada sosok Foke. Kini mereka menjilat ludah sendiri, demi syahwat kekuasaan.

Cara-cara politik menjijikkan seperti ini tidak ada MASLAHAT-nya bagi kaum Muslimin. Yakinlah, Allah tidak menyukai cara-cara keji dalam perjuangan keummatan. Disebutkan dalam Al Qur’an: “Wa annallaha laa yahdi kaidal kha’inin” (bahwa sesungguhnya Allah tidak meridhai tipu-daya orang-orang yang berkhianat). [Surat Yusuf, 52].

Jika saya menyampaikan kritik seperti ini, bukan berarti saya mendukung Jokowi-Ahok, atau melarang orang mendukung Foke-Nara. Bukan sama sekali. Maksud saya adalah: cobalah dari para aktivis Islam, para ustadznya, para kyainya, para ulamanya, mereka lebih cerdas dalam berpolitik. Jangan bersikap partisan, demi kepentingan jangka pendek, dengan asumsi-asumsi yang mentah! Kalau memang kita pro Syariat Islam, ya timbanglah semua calon itu dengan Syariat Islam. Bila di antara sekian calon itu tidak ada yang memenuhi harapan Syariat, ya sudah jangan memaksakan diri!

Apa Anda tidak pernah belajar dari kisah Nabi dan para Shahabat, bahwa mereka berkali-kali menahan diri, tidak cepat bersikap, bila keadaan belum memungkinkan? Apakah yang dinamakan politik Islami itu selalu memberikan dukungan, wahai Saudaraku? Baca kembali kisah Nabi Saw dan perjanjian Hudaibiyah! Baca juga keberanian Nabi memerintah para Shahabat hijrah ke Habasyah. Baca pula kisah ketika Nabi meminta pertolongan kepada seorang tokoh musyrik di Makkah, Muth’im bin Ady. Baca pula keberanian Nabi Saw mengikat kaum Yahudi dan kabilah-kabilah Arab di Madinah lewat Piagam Madinah. Perhatikan di semua kejadian itu, apakah Nabi Saw selalu bersikap hitam-putih dalam berpolitik?

Menurut saya, sangat berlebihan kalau kini suara kaum Muslimin di DKI dimobilisasi untuk mendukung pasangan Foke-Nara; dengan alasan bahwa Ahok itu Kristen dan punya missi menguasai Jakarta, sehingga kelak Jakarta akan dikuasai oleh orang-orang China. (Tanpa ada Ahok pun, sejak lama bisnis Jakarta sudah dikuasai China). Cara berpikir demikian lebih mencerminkan provokasi dan agitasi, bukan kecerdasan berpolitik yang dibangun di atas kedewasaan, kematangan berpikir, dan pengalaman. Apa kita tidak pernah belajar dari pengalaman sebelum-sebelum, ketika Megawati diserang dengan alasan “haram pemimpin wanita”; terbukti suara Megawati atau PDIP selalu menggungguli partai Muslim. Atau pasangan SBY-Boediono diserang dengan alasan “isterinya Boediono Nasrani” atau “isterinya SBY tidak memakai jilbab”; terbukti pasangan itu tetap menang.

Anda pernah tidak sih merasakan, betapa sakitnya hati kita ketika aspirasi politik Islam selalu diolok-olok oleh kaum Liberalis, para pengamat politik, para jurnalis, serta para peneliti akademik. Mereka sering berkata: “Lihatlah, lihatlah hasil pemilu ini! Ternyata para pemilih sekarang tidak mau lagi menjadikan sentimen agama sebagai pertimbangan untuk memilih partai atau calon pemimpin. Suara peroleh partai “Islam” semakin kecil, tokoh-tokoh politisi “Islam” selalu kalah oleh tokoh-tokoh politisi sekuler.”

Mengapa omongan-omongan seperti itu muncul? Ya karena kita terlalu bernafsu mengklaim ini dan itu, tanpa pertimbangan politik yang matang. Level pemikiran politik kita baru sebatas provokasi dan agitasi, sementara mayoritas rakyat yang dihadapi (sebagai peserta pemilu) adalah kaum “abangan” yang jauh dari nilai-nilai Syariat. Nasib kita tak ubahnya seperti PKB yang selalu mengklaim sebagai partai yang didukung ormas terbesar di Indonesia; tetapi nasib PKB sendiri sejak pemilu 1999 sampai kini, tidak pernah mengantongi dukungan suara lebih dari 13 % (semakin kesini suara PKB semakin merosot, malah nyaris tereliminasi).

Tentang sosok Foke-Nara sendiri, apa alasan Anda mendukung dirinya? Apakah Foke sosok pemimpin pro Syariat Islam? Apa benar dia akan memperbaiki kehidupan rakyat Jakarta, yang dimulai dengan memperbaiki ruhani mereka dengan nilai-nilai Islam? Apakah kepemimpinan Foke selama ini sudah Islami, sudah sesuai Syariat, sehingga layak didukung penuh? Apakah Jakarta di era Foke sudah sepi dari maksiyat, hedonisme, kriminalitas, mafia, kemiskinan, korupsi, pengrusakan lingkungan, kapitalisme, liberalisme, dan lainnya? Apakah Foke telah menjadikan Jakarta sebagai kota Qurrata A’yun (penyejuk pandangan mata), Sakinah wa Rahmah (tenang dan penuh kasih sayang), Aminatan wa Muthma’innah (aman dan damai), Baldatun Thaiyibah wa Rabbun Ghafur?

Maksud saya begini, kalau kita bersikap anti kepada Jokowi-Ahok; itu hak politik kita, boleh-boleh saja, silakan-silakan saja. Tetapi janganlah membawa-bawa nama Islam untuk mendukung Foke-Nara. Foke-Nara bukanlah pemimpin Islami yang sesuai Syariat Islam, bukan sosok pemimpin yang dimunculkan oleh agenda perjuangan kaum Muslimin; dia sama seperti politisi-politisi sekuler lainnya. Ciri kesekuleran Foke sangat jelas, lihat pada SIMBOL KUMIS-nya. Mana ada ajaran Nabi Saw yang memerintahkan: Coblos kumisnya! Ini kan simbolisasi yang bertentangan dengan Sunnah.

Jangan karena air mata Rhoma Irama, kita jadi lebay. Kita jadikan Rhoma sebagai sosok panutan Ummat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Padahal orang ini selama 30 tahun lebih, telah memasyarakatkan Dangdut dan mendangdutkan masyarakat. Anda pernah melihat bahwa lagu-lagu Rhoma telah banyak menipu kaum Muslimin di Asia Tenggara ini? Ratusan juta kaum Muslimin menyangka, bahwa Islam mengajarkan lagu Dangdut, membolehkan Dangdut, atau mengembangkan Dangdut; karena Rhoma selalu menyitir ayat/hadits dalam konser dan lagu-lagunya. Apakah dulu, Nabi kalian –shallallah ‘alaihi wasallam– seorang penyanyi Dangdut, dan mengajarkan agama lewat lagu-lagu Dangdut? Heran sekali, mengapa pada hari ini para aktivis Islam mendadak menjadi bagian dari “Fans setia Bang Haji”? Ada apa ini…

Akhunal karim rahimakumullah…

Dalam Pilkada DKI 2012 ini dan pilkada-pilkada lain; selagi kita belum bisa melahirkan calon yang pro Syariat Islam; cobalah jangan bersikap partisan (mendukung salah satu calon tertentu); tetapi tempuhlah POLITIK LOBI. Biarkan saja pasangan Foke-Nara bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta; tidak perlu dipilih salah satunya, karena masing-masing tidak memenuhi kriteria Syariat Islam. Kita memilih bersikap netral saja. Lakukan pendekatan ke kedua pasangan calon; dekati mereka baik-baik, jangan dijelek-jelekkan salah satunya. Dekati mereka baik-baik, sehingga siapapun yang menang dari keduanya, kita nanti bisa memiliki efek pengaruh kepadanya. Kalau Foke menang, karena sudah kita baik-baiki, maka dia akan hargai aspirasi kita; begitu juga kalau Jokowi menang, dia juga akan bersikap baik, karena sudah kita dekati secara simpatik. Inilah politik lobi; bukan politik partisan!

Kalau kita kembangkan politik partisan (dalam kondisi tidak ada satu pun calon yang pro Syariat Islam); maka kalau nanti salah satu calon itu menang, kemenangannya akan merugikan Islam. Andaikan Foke menang, maka kemenangan-nya akan menyulut kebencian para pendukung Jokowi dari kalangan “abangan” terhadap dakwah Islam; mereka menuduh bahwa kekalahan Jokowi karena isu-isu sentimen keislaman. Andaikan Jokowi menang, karena sejak awal dia dipersepsikan sebagai politisi sekuler dan anti Islam, maka kemenangannya akan menjadi alasan bagi dia untuk terang-terangan memusuhi Islam; dan nanti hasil-hasil baik kepemimpinan dia di Jakarta akan diklaim sebagai bukti kehebatan sekularisme.

Dalam kondisi seperti Pilkada DKI 2012 ini, jangan memilih politik partisan. Tetapi pilihlah politik lobi-lobi. Kecuali, kalau kezhaliman dan kemunkaran seorang calon pemimpin sudah nyata-nyata, sangat jelas, tidak samar lagi; maka kita boleh menafikan calon itu dan menyerukan Ummat untuk tidak mendukungnya, karena alasan kezhaliman dan kemunkaran dirinya.

Demikian, semoga bermanfaat. Selamat menyempurnakan ibadah di 10 hari terakhir Ramadhan, sekaligus selamat menyambut datangnya momen Idul Fithri 1433 H. Barakallah fikum jami’an, wa taqabbalallahu minna wa minkum shalihan a’maal; minal a’idina wal fa’izin wa kullu aamin wa antum bi khair.

Ardhullah, 13 Agustus 2012.

AMW.

Iklan

35 Responses to Kala Aktivis Islam Mendukung Foke-Nara (Pilkada Jakarta)

  1. Polan1 berkata:

    dasar pijakan analisanya terlalu terlalu dangkal..

  2. Adi berkata:

    Subhannallah. Ulasan yang sederhana dan lugas Pak.
    Semoga sodara2 kita tersadar…

  3. totok berkata:

    makasih, penjelasan yg bagus dan menjelaskan…

  4. irfan muhammad berkata:

    Telak banget kang…kena bogem mentah tuh pks…

    Dulu waktu merubah diri menjadi partai terbuka,ngga liat perasaan umat islam yg sdh memilih partai nya.skrg milih foke dgn alasan utk persatuan umat lah,yg seiman lah…memangnya ada yg memaksa ini parte u hrus memilih salah satu dri cagub DKI?bener2 dah…2014 mantapkan hati utk tdak memilih partai oportunis dan pragmatis kyak PKS…

  5. irfan muhammad berkata:

    Dlu wktu pemilu walikota solo knapa mereka ttp mencalonkan jokowi padahal wakil nya pd saat itu beragama nasrani?!

    Tanya kenapa?!

  6. Polan3 berkata:

    marilah kita saling menghargai setiap pendapat saudara kita, jangan hanya berbeda dalam pemahaman lalu kita mengatakan itu salah, Rasul memang pernah menjalin hubungan dengan kaum Nasrani tapi Rasul tidak pernah Memilih pemimpin dikalangan mereka.

  7. Polan4 berkata:

    Ulasan yg menarik dan mungkin menyakitkan utk fans PKS yg taklid partainya. saya tunggu artikel yg lainnya kang Abisyakir

  8. abisyakir berkata:

    @ Irfan Muhammad…

    Iya nih, saat pilkada Solo, Hidayat Nuewahid malah jadi “juru kampanye” untuk Jokowi. Padahal pasangan dia waktu itu juga Nasrani. Gimana ya politiknya sangat gak genah banget.

    Admin.

  9. abisyakir berkata:

    @ Polan3…

    marilah kita saling menghargai setiap pendapat saudara kita, jangan hanya berbeda dalam pemahaman lalu kita mengatakan itu salah, Rasul memang pernah menjalin hubungan dengan kaum Nasrani tapi Rasul tidak pernah Memilih pemimpin dikalangan mereka.

    Respon: Kita tahu, kota Solo termasuk kota dengan aktivis Islam militan banyak. Jokowi itu wakil walikotanya juga Nasrani. Mengapa kawan-kawan para aktivis Islam di Solo tidak sejak awal me-warning tokoh satu ini. Malah ada di antara mereka yang memuji Jokowi.

    Ya, kalau kita bicara soal AGAMA seseorang, sebenarnya status politisi sekuler itu bagaimana menurut Syariat Islam? Syaikh Safar Al Hawali menyebut sekularisme seperti kemusyrikan. Para ulama mengingkari sekularisme ini. Taruhlah Si Ahok non Muslim, lalu bagaimana dengan Demokrat, Golkar, PAN, PKB, PDS, yang mendukung Foke? Bukankah Demokrat, PAN, Golkar juga sarangnya kaum Neolib?

    Admin.

  10. Abu Abdillah berkata:

    Semuanya kembali ke timbangan maslahat dan mudhoratnya akhi, berbicara ideal tentu tdak ada yg ideal, tpi siapa yg mudhoratnya lebih sedikit. Semuanya berkaitan dengan jangka panjang umat ke depan. Ana bukan PKS, tetapi memahami PKS masih lebih sedikit mudhoratnya dibvanding yang lain. Pertimbangan seperti yang antum sampaikan pasti juga dibahas di majlis syuro (majlis asatidza yg mereka miliki).

    Juziytum khoiran

  11. irfan muhammad berkata:

    @abu abdillah :
    Benar semuanya memakai timbangan mashlahat,tpi yg menjadi pertanyaan kenapa timbangan mashlahat itu berubah-ubah,cntohnya ketika jokowi dicalonkan oleh pks d solo wakilnya kan dri nasrani,knapa pks ttp mengusung jokowi,lalu d DKI tiba2 mereka memakai alasan ini -jokowi wakilnya nasrani- utk menolak jokowi?jdi mashlahat apa yg ingin dihasilkan?toh mendukung foke jg blum tentu mendapatkan mashlahat yg lebih besar,malahan skrg ini persepsi masy trhadap pks jdi smakin jelek,karena citra foke sbg gubernur sblumnya jg nda bagus2 amat malahan klo boleh dkatakan buruk,kan HNW sndiri yg wktu kampanye nyebut2 kburukan foke,inikah mashlahat yg dimaksud?seandainya mereka berani u menyatakan netral pd pilkada DKI,toh mreka ttp bs mengontrol gubernur yg naik lwt fungsi parlemen,ikut berperan dlm proses pembangunan itu bagus,ttapi ketika dihadapkan pada pilihan keluar u menyelamatkan diri atau ikut arus dlm bingkai KKN yg terjadi d pemerintahan,maka sy kira kta sdh tau jwabannya.

  12. Granfisk 32 berkata:

    sampaikan nasihat tapi jangan pernah merasa paling benar, dengan menjelekkan pihak pihak/ 0rang lain itu sebuh tindakan yang kurang santun

  13. Sapaya1 berkata:

    yang satu kombinasi Kejawen (Ingat : mandi kembang mobil Esemka = syirik?) dengan pasangan Nonmuslim,
    sedangkan yang satunya lagi pasangan muslim-muslim (liberal?)
    bahaya mana?

    Jokowi kalah ada 2 manfaat :
    Solo tetap dipimpin Muslim (Kejawen?)
    Jakarta Ibu kota Indonesia dipimpin Muslim (walau Liberal?)

    kalau pasangannya Jokowi adalah Muslim, mungkin harapan itu masih ada. Tapi, nyatanya pasangannya adalah Kristen yang terkesan “menantang” dan terbaca punya misi kristen yang jelas.

    Selama ini orang kristen dengan bebas beribadah di bumi indonesia yang luas dengan damai, tapi karena pembusukan media, kasus kecil seperti Bekasi seolah-olah menenggelamkan kebaikan-kebaikan itu..seolah-olah mereka terzalimi dsb. dan Mereka dengan berani menantang di forum-forum terbuka ingin sejajar dengan kita yang mayoritas.

    Sebagai warga Jakarta saya sangat sedih jika dipimpin oleh Kristen.
    Mereka belum berkuasa aja, bikin kesal, apalagi jika sudah berkuasa ditambah lagi dukungan media.
    Lihatlah, ada TV yang punya Muslim, tapi jajaran redaksinya kristen pembenci islam..Maka, berita-beritanya sangat tendensius membunuh islam & kaum muslimin, tanpa ada yang mengcounter.

    Kalau Antum membahas sikap PKS, tidak berfaidah, gak penting.
    Tapi, kalau membahas pemimpin dalam hal ini DKI, harusnya antum lebih strategis membahas sesuatu, lebih cerdas melihat siapa kawan siapa lawan & kapan harus mengkritik..Pemikiran antum ini bagus, tapi harus melihat juga waktu wa makaan yang tepat.
    Artikel ini bagus, tetapi, jangan sampai jadi peluru baru baru bagi orang luar untuk melemahkan kekuatan kita karena perpecahan yang tidak perlu.
    kalau yang dibahas PKS, sekali lagi, tidak perlu, mubazir aja, buang-buang waktu. mereka adalah Politikus resmi, tau sendirilah politikus itu.

  14. abisyakir berkata:

    @ Sapaya1…

    Maaf beribu maaf, ada sedikit diskusi yang perlu disampaikan…

    1. Apa itu Kejawen? Hakikatnya apa? Apakah ia sebuah agama baru, selain Islam? Atau ia hanya perbuatan-perbuatan tertentu yang dianggap syirik dan tidak sesuai Islam? Kalau Kejawen dianggap sebagai “agama baru”, Anda mesti hati-hati untuk mengeluarkan orang dari Islam. Perbuatan syirik itu tidak mesti membuat pelakunya disebut musyrik.

    2. Okelah kita setuju, jangan sampai terpilih pemimpin non Muslim, sekalipun dia wakil pemimpin. Tetapi masalahnya, apakah pemimpin kalau didukung dan mendukung NEOLIB, lantas layak kita pilih juga? Apa artinya menghindari pemimpin non Muslim, tapi memilih politisi dukungan Neolib?

    3. Darimana Anda memastikan bahwa kritik terhadap PKS tidak ada manfaatnya? Siapa bilang seperti itu? Ini kan sama dengan mengingkari “kemunkaran politik”. Apa upaya pengingkaran itu tak ada manfaatnya? Kalau begitu, mengapa situs dan media-media Islam saban hari memuat pengingkaran “kemunkaran politik”?

    Admin.

  15. abisyakir berkata:

    @ Abu Abdillah…

    Ana bukan PKS, tetapi memahami PKS masih lebih sedikit mudhoratnya dibvanding yang lain. Pertimbangan seperti yang antum sampaikan pasti juga dibahas di majlis syuro (majlis asatidza yg mereka miliki).

    Respon:

    Ha ha ha…pertimbangan madharat-maslahat apa ya Akhi? PKS itu tadinya mau mendukung Jokowi-Ahok, tapi karena dalam deal-deal politik tuntutan mereka tidak tercapai, ya sudah berbelok ke Foke. Foke sendiri “setengah hati” dengan dukungan PKS, karena dia tahu betul, sejak awal yang jelek-jelekin Foke adalah PKS. Itukah yang namanya pertimbangan maslahat-madharat? Ampun deh…tolonglah kalian jangan BERDUSTA atas nama kaidah-kaidah agama. Ini kedustaan sangat berdosa di sisi Allah.

    Yang membuat saya gething (jengkel sekali)…kenapa PKS selalu mengai-ngaitkan manuver politiknya dengan gerakan Wahabi? Apa salah mereka? Bukankah tidak ada PKS, tanpa dukungan gerakan Wahabi? Mungkin hal-hal begitu yang Antum prasangkai telah dibahas oleh para asatidzah PKS. Sekali lagi, jangan gunakan kaidah-kaidah Islam untuk menipu manusia.

    Admin.

  16. Findik Surya berkata:

    memang jelas kata ustad fathy Yakan. “Yang berjatuhan di jalan da’wah”. dikarenakan sakit hati, dikarenakan tidak diberikannya amanah, dikarenakan tidak mau tabayyun(fasik), dikarenakan tidak mempunyai ilmu, dikarenakan jauh dari alquran dan sunnah.

    sesungguhnya tidak pantas bagi orang-orang yang beriman saling menjatuhkan, mencaci, merendahkan, dan membuka aib saudaranya sendiri.

    seperti halnya teko yang mengeluarkan air dari ceretnya sendiri. semoga penulis tidak demikian adanya. Allahummaghfirlahu….

    jangan sampai anda seperti usamah bin qatadah yang didoakan oleh saad.

  17. abisyakir berkata:

    @ Findik Surya…

    Anda ini aneh… Ya begitu sih tipikal manusia-manusia muqallid yang sudah tidak mau memakai akal sehatnya lagi. Diberikan koreksi apapun, dengan dalih apapun, tetap akan dimentahkan oleh alasan: sakit hati, tidak tabayun, jauh dari ilmu, dsb. Coba deh, tolong sebutkan mana ilmuwan yang paling mumpuni dari PKS, lalu suruh mereka menjelaskan alasan Syar’i di balik dukungan PKS bagi Jokowi di Solo dan dukungan bagi Foke di Jakarta?

    Anda kan tidak mau PKS dijelek-jelekkan, maka jangan memojokkan Wahabi dong! Apalagi dengan alasan “demi menjaga persatuan Ummat”, memang menurut otakmu Wahabi itu bukan bagian dari Ummat ya?

    Admin.

  18. Sapani... berkata:

    mohon dicari beritanya secara objektif, dan melihat dengan kacamata objektif pula. saya punya sumber seperti ini => http://chirpstory.com/li/17300 kalaupun ingin mengkritik, saya yakin ada cara yang lebih baik daripada seperti ini. satu lagi yang ingin saya tekankan untuk tidak merasa paling benar sendiri.

    saya sangat membenci perpecahan. saya hanya ingin indonesia damai. padahal sama-sama islam kok saling menghujat. ah… semoga hal-hal seperti ini tidak perlu jadi mendunia jadi bahasan hingga detil, padahal masih banyak masalah2 yang harusnya segera diselesaikan.

  19. abisyakir berkata:

    @ Sapani…

    Anda tahu, apa yang membuat saya sangat gething (kesal) ke PKS? Mereka mau pilih Foke, Foken, atai Foker sekalipun… Itu hak dia semata. Dia mau tolak/anti/musuhi/boikot/serang/jatuhkan/black campaign ke Jokowi-Ahok…itu juga hak mereka semata. Tapi yang kami sangat kesal…mengapa PKS selalu mengait-ngaitkan dirinya dengan isu Wahabi? Apa perlunya PKS menyudutkan Wahabi demi dukungan pada Pilkada DKI dan lainnya? Gak ada bahan lain ya… Itu kan sama saja dengan menuduh Wahabi “bukan Ahlus Sunnah”, “pemecah belah Ummat”, “bukan bagian dari Ummat”.

    Anda legowo tidak kalau PKS yang dituduh dengan hal-hal semodel itu? Pakelah akal sehatnya, jangan taqlid melulu.

    Admin.

  20. Sapani... berkata:

    justru saya tidak berusaha untuk taklid. justru saya berusaha berhati-hati agar tidak salah memihak. saya berusaha objektif, berusaha berfikir positif dan tidak berprasangka buruk pada siapapun.

    sudah baca link yang saya pasang di atas? menurut saya, dari pernyataannya, kenapa PKS menjawab demikian (wahabi, ahlussunnah dll) karena PKS telah difitnah. jika tidak, saya yakin PKS pun tidak akan mau menyinggung masalah perpecahan ummat seperti ini. bukankah tujuannya sama? demi kepentingan ummat? sama-sama mencari dan menuju kebenaran dari dan untuk ummat?

    saya pun mengikuti berita dan saya tahu, PKS yang sekarang tidaklah sama dengan PKS yang dulu. idealismenya sudah mulai luntur. ini ujian buat PKS, dan seharusnya PKS segera berbenah jika tidak mau hancur. saya hanya berusaha menyikapi segala sesuatu dengan kepala dingin dan objektif. namun saya yakin, masih banyak orang-orang PKS yang masih kuat idealismenya.

    harapan saya justru ingin agar PKS instropeksi diri, dan orang-orang yang berada di luar tubuh PKS seharusnya membantu agar PKS bisa berbenah lebih cepat, bukan justru malah memojokkan apalagi menghujat ini salah itu salah.

    Allahu a’lam. Semoga Allah selalu memberi petunjuk bagi setiap hambaNya yang mencari kebenaran. Aamiin.

  21. irfan muhammad berkata:

    @abisyakir:
    Betul tuh,ketika dikritik,parte ini selalu berkoar-koar agar tdk memecah belah umat,jgn menyiapkan peluru u saudara sendiri,ehhh trnyata parte ini pula yg ikut siapin bensin yg dpake buat menyulut perpecahan umat.

    Yang menjengkelkan jg parte ini selalu mengatasnamakan kepentingan umat,pdahal keputusan2 yg dihasilkannya selalu kontroversial,dan klo ada bagian dri umat islam yg mengkritik keputusan mereka,mreka naik pitam dan balik menyerang dgn kata2 Barisan sakit hati lah,dengki lah,dll

  22. Sapani... berkata:

    saya gak pernah denger ada pks yang naik pitam lantas marah2, saya belum menemukan sumbernya kalau pks bilang barisan sakit hati, dengki dll. mohon sebelum ditulis dipikirkan baik-baik. cari tahu benar sumber dan buktinya apa.. kalau saya komen saya akan pikirkan baik-baik, kata/kalimat yang akan saya tulis justru akan menimbulkan fitnah atau tidak

  23. abisyakir berkata:

    @ Sapani…

    Ya silakan saja Anda bersikap seperti pilihan Anda. Coba baca komen Anda berikut ini:

    sudah baca link yang saya pasang di atas? menurut saya, dari pernyataannya, kenapa PKS menjawab demikian (wahabi, ahlussunnah dll) karena PKS telah difitnah. jika tidak, saya yakin PKS pun tidak akan mau menyinggung masalah perpecahan ummat seperti ini. bukankah tujuannya sama? demi kepentingan ummat? sama-sama mencari dan menuju kebenaran dari dan untuk ummat?

    Memang PKS telah difitnah apa? Difitnah bahwa mereka Wahabi begitu? Memang mnurut Anda, ajaran dakwah Wahabi itu sesat menyesatkan, sehingga PKS merasa difitnah dengan label Wahabi? Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Aneh nih…

    Admin.

  24. Sapani2 berkata:

    udah mas, yang namanya agama nggak bisa didiskusikan ….

  25. abu abdillah berkata:

    Yaa ukhayya, perjuangan ikhwanunaa di politik, yg jihadis, serta ilmiah salafiyyah itu punya dinamikanya masing2.

    Klo skdar brkomentar smua bisa, herannya ana kok amaliyah islamiyah g ada yg slamat dri blog ini?
    Dri yg jihadis,salafiyah,pks smua kena.
    Ada apa sbnarnya akhi?

  26. abisyakir berkata:

    @ Abu Abdillah…

    Kok tidak ada yang selamat dari blog ini ya?

    Respon:

    1. Kalau menilai sesuatu, kami kan tetap menggunakan dalil ya Akhi. Bukan karena suka/tidak suka, senang/benci, ikut/tidak ikut. Kata Syaikh Ibnu Abdul Wahhab rahimahullah: beragama di atas dalil. Begitu kan.

    2. Kalau suatu kali ada kritik atau koreksi, kan tidak melulu begitu. Di lain waktu kan tetap ada unsur TA’DIL (pujian) bagi kelompok-kelompok kaum Muslimin itu.

    3. Saya sendiri juga tidak selamat dari kekeliruan kan, sehingga kadang harus meminta maaf, harus melakukan koreksi, harus meralat dan sebagainya. Ya samalah, yang menjadi pijakan adalah Kitabullah dan Sunnah (Surat An Nisaa’: 59).

    Jazakumullah khair atas perhatian Antum dan kesediaannya melakukan analisis dari waktu ke waktu. Barakallah fikum wa ausa’a lakum min rahmatih.

    Admin.

  27. M.Fauzi Rizal berkata:

    yang jelas sekarang banyak partai islam yang sudah mengalami pragmatisme politik. visi dan misi mereka hanya mendapatkan kemenangan (meraih kursi) dengan menghalalkan segala cara…..
    sepengamatan saya sih kaya gitu…

  28. iffaty berkata:

    hati-hatilah dengan penyakit hati akhi …

  29. Maksud saya begini, kalau kita bersikap anti kepada Jokowi-Ahok; itu hak politik kita, boleh-boleh saja, silakan-silakan saja.

    Tetapi janganlah membawa-bawa nama Islam untuk mendukung Foke-Nara. Foke-Nara bukanlah pemimpin Islami yang sesuai Syariat Islam, bukan sosok pemimpin yang dimunculkan oleh agenda perjuangan kaum Muslimin
    ———————————————-

    Jderr… telak to the point 🙂

    PKS ini kalau kita bandingkan dengan PK yang dulu saja, bedanya sudah terlalu jauh sekali. Bagaikan langit & bumi.
    PK yang dulu teguh dalam kebenaran, misalnya; mereka berani membela Habibie (**), ketika semua pihak yang lain berusaha menjatuhkannya.

    PKS yang sekarang sudah dikuasai oleh para oportunis.
    Mereka betul-betul manfaatkan mesin partai & image “Islam” untuk mendapatkan nafsu-nafsu duniawi mereka.
    Para kader PKS pun sebetulnya korban juga, ditipu mentah-mentah oleh para oportunis ini, menjadi kaki tangan untuk mereka mendapatkan dunia.

    Umat ini perlu lebih cerdas lagi dalam berpolitik.

    Saya pribadi berpendapat, bahwa seorang muslim itu tidak boleh terperosok di lubang yang sama sampai 2 kali – sudah jelas salah satu cagub yang ada itu wanprestasi / gagal mengemban amanah, maka tentu tidak boleh malah kita pilih kembali 🙂

    Kalau Foke menang, karena sudah kita baik-baiki, maka dia akan hargai aspirasi kita; begitu juga kalau Jokowi menang, dia juga akan bersikap baik, karena sudah kita dekati secara simpatik. Inilah politik lobi; bukan politik partisan!

    Idenya sangat baik sekali. Walaupun saya tidak tahu bagaimana kemungkinan realisasinya, tapi jelas itikadnya baik.

    Anyway, kunci utama pada politik adalah “kepentingan”. Dengan menselaraskan kepentingan & aspirasi – lalu dikomunikasikan kepada para cagub, mudah-mudahan “politik lobi” ini bisa jadi kenyataan & memberikan hasil yang terbaik, siapapun gubernurnya.

    Excellent article, well done.

    (**) Presiden Habibie sukses hanya dalam waktu satu tahun menstabilkan kembali negara RI yang sedang terguncang hebat paska kerusuhan Mei 1998. Misal; nilai tukar rupiah yang terpuruk kembali meningkat drastis hanya dalam waktu 1 tahun, sebuah prestasi yang tidak pernah terulang kembali setelahnya.
    Tapi, sepanjang sepak terjangnya ini, ada banyak pihak elit yang dirugikannya, sehingga kemudian mereka berkomplot untuk menjatuhkannya.

  30. center_sot berkata:

    @sapaya1

    pikiran mu bodoh kali… macam anak2 kau…. belajar kau dulu arti politik,belajar kau agama dulu, disetiap agama tak ada yang saling menjelekkan agama lain tapi diajarkan saling menghargai,,, di indonesia juga begitu…. kalo udah pintar baru kau ngomng,, salam sada roha..

  31. center_sot berkata:

    @buat klen semua

    yang perlu kita pegang teguh dalam hidup ini selain ajaran agama kita masing2 juga ideologi bangsa, ingat kata kata bhineka tunggal ika. telah diatur bahwa bangsa ini bukan bangsa islam atau atau kristen atau agama lain… siapa yang layak memeimpin pilih kalo gk gak usah, jgn karna kau dikasih uang kau jelek kan yang lain… menyesal kau nanti… saya nasrani tpi saya cinta damai kita sama2 umat beragama n diakui negara… sepalak kau usier kami neh dri sini kalau udah memang harus 1 agama disini..ingat indonesia mengakui 5 agama woi……..

    salam anak bangsa yang juga peduli orang bodoh bodoh…

  32. Sahronih, SH berkata:

    janganlah kita menanggap bahwa diri kita ini orang benar…….tolong koreksi diri kita sendiri……janganlah agama dijadikan penyebar isu…….artikel anda ini berpolitik…….hanya orang yang paham dapat mengetahui artikel anda……… jangan menjadi seorang diktator yang selalu beranggapan diri anda ini adalah benar……

  33. jaka lelana berkata:

    belajar islam dulu dng benar, qtq akan tahu mana yg sebaiknya qta lakukan, mana yg sebaiknya qta pilih

  34. Ulasan tentang Hasil Pilkada DKI Jakarta 2012 Putaran Kedua mendatang dapat Anda lihat di situs kami. Bagi warga DKI Jakarta jangan lupa gunakan hak pilih Anda ya.

  35. X-jundi berkata:

    Biasa kalau udah capek jadi keledai pingin jadi anjing, sampai buat perpecahan saudaranya sendiri, ane aja keluar dari lingkaran mereka bilang tidwk seiman, PKS itu agama baru Tad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: