Mengapa Wanita Mesti Menutup Aurat?

Agustus 9, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kalau membahas tema seperti ini, rasanya kita seperti kembali ke era 90-an lalu, dimana ketika itu muncul semarak dakwah seputar jilbab dan menutup aurat. Pembahasan ini akhirnya mesti dimunculkan lagi, karena telah terjadi konversi budaya yang sangat serius di tengah masyarakat Muslim modern di Indonesia saat ini. Budaya jilbab, menutup aurat, dan kesantunan wanita yang pernah semarak pada tahun 90-an hingga pertengahan 2000-an; kini telah berkeping-keping berganti budaya pakaian seksi, pamer aurat, pergaulan bebas, narsisme, westernisme, dll.

Jika ada kini seruan-seruan seputar jilbab, menutup aurat, atau hijab; rata-rata tendensinya bisnis, yaitu: jualan kerudung dan pakaian Muslimah. Untuk tujuan bisnis itu lalu diadakan “festival hijab”, pagelaran mode jilbab dan busana Muslimah, dibuat majalah life style “ala jilbab”, digunakan ikon-ikon model dan selebritis, dan seterusnya. Tujuan esensinya, mencari duit untuk membiayai gaya hidup modern yang memang mahal; dengan cover menghidupkan busana Syariat.

Syariat Jilbab Melindungi Aset Kehidupan Kaum Wanita.

Bagi para pemerhati busana Muslimah di Indonesia, tidak bisa melupakan peranan Ane Rufaidah; seorang mantan pragawati dan perancang busana tersohor. Dialah yang mula pertama membelokkan haluan jilbab Syar’i menjadi jilbab modis (life stylist). Jika semula jilbab digunakan benar-benar untuk tujuan Syar’i; lalu di tangan Ane Rufaidah, ia memiliki nilai pencitraan, pamer kecantikan, serta bermegah-megah dengan aksesoris (sesuatu yang bukan missi Syariat). Tentu saja, keberanian Ane Rufaidah lalu diikuti yunior-yuniornya dalam me-modiste-kan pakaian Syar’i. Tidak aneh, jika KH. Rahmat Abdullah rahimahullah (mantan tokoh senior PKS), pernah mengkritik keras “sunnah” yang dirintis Ane Rufaidah itu.

Dalam sebuah riwayat, Nabi Saw bersabda: “Man sanna sunnatan saiyi’atan fa lahu itsmun ka mistli atsami man tabi’ahu wa laa yanqushu min atsamihim syai’a” (siapa yang memulai sunnah keburukan, maka baginya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa mereka sedikit pun). Tidak terbayang sebesar apa beban yang kelak akan dipikul seseorang karena keberaniannya merintis jalan untuk menyingkirkan busana Syariat, menjadikan busana modis (meskipun melanggar batas-batas Syariat).

Dulu di awal 90-an, kerudung Rabbani itu sangat kecil. Ia hanyalah sebuah toko kecil di gang, menyediakan keperluan-keperluan Muslimah. Letaknya di dekat Monumen Rakyat Jawa Barat, kawasan Dipati Ukur Bandung. Kini ia sudah menjadi sebuah pabrikan kerudung besar dan menjadi ikon kerudung kelas menengah. Dulu orientasinya murni Syariat, kini murni bisnis. Dalam Ramadhan tahun lalu, Rabbani mendapat liputan khusus dari sebuah acara feature stasiun TV. Dalam acara itu owner Rabbani, seorang ibu-ibu, tidak malu-malu mengklaim, bahwa kerudung Rabbani sengaja dibuat dengan aneka model untuk mempercantik penampilan wanita; seorang wanita bisa memilih kerudung yang sesuai warna kulit dan bentuk wajahnya.

Majalah Ummi dulu juga sangat selektif dalam mencantumkan gambar Muslimah. Hanya gara-gara ada foto pengungsi laki-laki yang kelihatan auratnya (paha) di atas air, hal itu sudah mengundang protes. Orientasi Syariat mereka waktu itu sangat ketat. Bukan sekali dua kali mereka membahas soal “hukum fotografi”. Tetapi saat ini kalau melihat majalah itu, isinya banyak sekali iklan wanita-wanita NARSIS, sambil memakai kerudung, busana Muslimah modis, mukena, dll. Saya pernah mencermati beberapa edisi majalah itu sekaligus; dalam setiap edisi setidaknya ada 25 halaman iklan wanita-wanita NARSIS. Komitmen Syariat itu telah tersingkir jauh dengan alasan: mencari duit untuk membiayai gaya hidup zaman modern yang semakin mahal. Demi membeli life style, apapun yang berharga di sisi kita (termasuk komitmen Syariat) dilego obralan, obralan.

Tingkah para pebisnis ini, mau tidak mau, suka tidak suka, lama-lama jadi merusak Syariat. Alih-alih mereka akan menghidupkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Malah merusak agama itu sendiri. Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

Dalam tulisan sederhana ini, insya Allah akan disampaikan hikmah maknawi ketika ajaran Islam memerintahkan kaum wanita untuk menutup aurat. Semoga kita bisa memetik sebaik-baik pelajaran. Amin Allahumma amin.

WANITA MAKHLUK LEMAH

Kita tentu sering mendengar ungkapan: “Bagaimanapun wanita itu adalah makhluk yang lemah.” Kalimat ini merupakan kata kunci. Setiap orang bisa memaknai kalimat ini sesuai perspektif masing-masing. Tetapi yang dimaksud disini, bahwa kaum wanita rentan mengalami eksplotasi. Eksploitasi bisa datang dari kaum laki-laki, juga bisa dari sesama wanita.

Di antara bentuk-bentuk eksploitasi yang sering menimpa kaum wanita, antara lain:

[a]. Mengalami pelecehan seksual; [b]. Mengalami kekerasan seksual (pemerkosaan hingga pembunuhan); [c]. Mengalami agressi kekaguman dari laki-laki yang menyukainya secara berlebihan; [d]. Dijebak untuk diambil keuntungan darinya, baik keuntungan materi maupun non materi; [e]. Menjadi komoditas bisnis (dijual tenaga, kecantikan, keseksian tubuh, kemampuan seksual, kehidupan, hingga organ tubuhnya); [f]. Menjadi obyek penindasan dan kesewenangan; [g]. Dijadikan alat untuk merusak moral masyarakat luas (seperti menjadi model pornografi); [h]. Eksploitasi fisik secara berlebihan dengan kompensasi upah sangat minim; dan lain-lain.

Hal-hal demikian sudah sering kita baca, dengar, atau lihat sendiri dalam kehidupan masyarakat. Sering terjadi, semakin modern suatu peradaban, semakin kejam karakternya kepada kaum wanita.

Kapan dan dimana saja ada kaum wanita, disana ada peluang eksploitasi. Mengapa bisa demikian? Karena kaum wanita itu menarik di mata laki-laki; sementara diri mereka sendiri lemah. Siapapun yang memiliki daya tarik dan lemah, ia sangat rentan dieksploitasi orang lain. Kalau ada yang memiliki daya tarik, tetapi dia kuat; orang lain akan segan untuk mengganggu. Begitu juga, kalau lemah tetapi tidak menarik; orang lain juga segan mengganggu. Kaum wanita memiliki keduanya; diri mereka menarik, sementara dari sisi kekuatan lemah.

Sebenarnya kaum laki-laki juga tidak lepas dari unsur kelemahan seperti itu. Laki-laki juga bisa rentan ieksploitasi. Tetapi kaum laki-laki memiliki kelebihan dibandingkan wanita, yaitu:

[1]. Secara fisik kuat dan mampu bergerak cepat; [2]. Berpikir logis, tidak mengandalkan perasaan. Bila terjadi insiden, cepat bertindak, bukan berteriak-teriak histeris; [3]. Secara fisik, kaum laki-laki tidak menarik bagi lawan jenisnya. (Sebenarnya menarik juga, tetapi tidak “seheboh” gambaran kaum wanita di mata laki-laki).

PROTEKSI OTOMATIK

Islam mengajarkan prinsip menutup aurat bagi kaum wanita ialah sebagai perlindungan dari ancaman eksploitasi. Perlindungan ini bersifat melekat; dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun wanita itu berada. Karena perlindungan itu berupa pakaian yang dikenakan sang wanita yang memenuhi standar menutup aurat.

Esensi menutup aurat dalam Islam, ialah menutupi segala daya tarik yang bisa membuat kaum laki-laki berlaku beringas kepada wanita. Maknanya, menutupi keseksian diri, lekuk-lekuk tubuh, menutupi rambut, leher, dada, kulit, dan lainnya sehingga kaum wanita akan merasa aman dan terlindungan dimanapun dan kapanpun. Karena sebab-sebab yang memicu munculnya sikap agressi sudah ditutupi sedemikian rupa.

Di sisi lain, pakaian Muslimah yang rapi akan memancarkan sifat kewibawaan wanita. Mereka jadi tampak kharismatik, mulia, menimbulkan rasa segan di hati orang-orang yang melihatnya. Para selebritis yang biasanya pamer aurat, pamer paha, dada, dan seterusnya; saat mereka memakai jilbab secara rapi, tiba-tiba terpancar sifat kemuliaannya. Tidak heran jika banyak wanita yang tersangkut kasus hukum, mereka berlindung di balik busana Muslimah, karena efek kharisma dan sifat simpatik itu.

Setiap Muslimah memakai jilbab dan menutup aurat, maka dia akan mendapat perlindungan dari Allah, dari hukum Islam, serta dari kaum Muslimin. Jika ada gangguan terhadap wanita berjilbab, maka kaum Muslimin akan memberikan perlindungan tanpa terkecuali. Sedangkan tanpa memakai jilbab, maka seorang wanita tidak mendapat jaminan perlindungan, kecuali jika orang-orang yang ada di sekitarnya memiliki sifat pengasih dan tergerak untukĀ  melindunginya.

Inilah yang disebut sebagai “perlindungan otomatik” jika seseorang memakai busana Islami. Sebaliknya, meskipun memakai jilbab, jika pakaian yang dipakai sifatnya seksi; hal itu tidak akan melindungi seorang wanita dari agressi.

Secara yuridis, di sebuah negara hukum, setiap manusia (termasuk wanita) mendapat perlindungan legal dari perangkat-perangkat hukum yang ada. Tetapi banyak laki-laki memandang remeh perlindungan hukum itu, sehingga mereka berani melanggarnya. Berbeda dengan perlindungan otomatik yang diberikan oleh Islam melalui pakaian Muslimah yang sesuai Syariat; maka semua manusia akan cenderung menghargai seorang wanita yang memakai jilbab dan menutup aurat secara baik; kecuali pihak-pihak tertentu yang memang secara sengaja ingin berbuat kekerasan.

Pakaian Islami bagi wanita adalah sebentuk “perlindungan aktif” yang melekat pada diri wanita yang memakainya. Faktanya, di Eropa banyak masyarakat meributkan jilbab dan cadar. Mereka terus berpikir untuk mencari sandaran hukum guna melarang jilbab dan cadar. Mengapa bisa demikian? Karena adanya pakaian Islami itu otomatis memberi rasa aman bagi para pemakainya; sedangkan dalam budaya Eropa kaum wanita umumnya berpakaian bebas sehingga memungkinkan untuk dieksplotasi sedalam-dalamnya.

ESENSI MENUTUP AURAT

Menutup aurat ialah menutup semua pintu-pintu yang akan menyebabkan seorang wanita mendapatkan agressi dari lawan jenisnya (termasuk dari sesama wanita juga). Menutup aurat tidak identik dengan “memakai jilbab”, karena ternyata banyak wanita memakai jilbab, tetapi mereka tetap memakai pakaian seksi yang sangat mengundang agressi. Begitu juga, mentup aurat tidak identik dengan “menutupi rambut”, karena menutupi rambut belum menjamin rasa aman bagi kaum wanita dari tindak kekerasan.

Salah besar bagi para aktivis Hijabers, para ahli mode dan perancang busana, para model busana Muslimah yang menonjolkan gaya, kecantikan, dan perilaku “centil”. Apa yang mereka lakukan tidak selaras dengan amanah Syariat Islam untuk menjaga kaum wanita dari berbagai tindak pelecehen, kekerasan, dan eksploitasi seksual. Meskipun berjilbab, jika menonjolkan unsur penampilan dan kecantikan (bahkan keseksian), hal ini tidak akan melindungi kaum wanita itu sendiri.

Dalam konsep pakaian Islami, ada istilah jilbab dan khimar. Jilbab dalam arti sesungguhnya, bukanlah kerudung. Jilbab itu baju kurung dari kepala sampai kaki. Ia mirip dengan “mukena terusan” yang menutupi tubuh wanita dari atas sampai bawah. Di atas pakaian itu lalu dilapisi khimar (kerudung) yang terulur dari kepala sampai dada. Apa yang kita kenal di Indonesia sebagai kerudung, sebenarnya adalah khimar ini.

HIKMAH KEWAJIBAN SYARIAT

Sejauh berbicara tentang pakaian Muslimah yang menutup aurat, kita tidak akan bisa melepaskan diri dari dalil-dalil utama yang sering menjadi sandaran dalam hal ini. Di antaranya ialah sebagai berikut.

[a]. Surat An Nuur ayat 31: “Janganlah mereka (wanita-wanita beriman) menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak. Dan hendaklah mereka mengulurkan kerudung sampai ke dada mereka.” Dalam hadits Asma binti Abi Bakar Radhiyallahu ‘Anhuma dijelaskan, bahwa perhiasan yang boleh tampak itu adalah: muka dan telapak tangan. Penjelasan ini sangat populer.

[b]. Surat Al Ahzab ayat 59: “Hendaklah mereka (wanita-wanita beriman itu) mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian ini agar mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak diganggu.” Dalam ayat ini jelas-jelas disebutkan “An yu’rafna fa laa yu’dzain” (agar mereka lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu). Hal ini mengkonfirmasi apa yang tadi kita sebut sebagai “perlindungan otomatik”.

Syariat Islam telah mewajibkan kaum Muslimah memakai jilbab dan menutup auratnya. Ia menjadi kewajiban yang pasti. Pertanyaannya, mengapa Islam mewajibkan hal itu? Apakah tidak ada toleransi di dalamnya?

Kewajiban mutlak dalam menutup aurat ini, tentu berlaku di ruang publik; bukan di ruang privat kaum wanita (di rumah atau kamar miliknya). Hal ini menandakan bahwa sifat lemah kaum wanita dari ancaman agressi oleh pihak-pihak lain bersifat permanen, bahkan laten. Sehingga Islam tidak memberi peluang timbulnya kezhaliman terhadap kaum wanita. Fakta berbicara, di negara-negara yang kaum wanitanya memiliki budaya menutup aurat secara rapi (seperti Saudi, Pakistan, Malaysia), resiko terjadi kekerasan terhadap wanita relatif kecil.

Dalam Surat An Nuur 31 disebutkan sebuah toleransi: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada…pelayan-pelayan laki-laki (mereka) yang tidak mempunyai keinginan (kepada wanita), atau anak-anak yang belum terpengaruh oleh pesona aurat wanita.”

Keterangan ini menjadi penjelas, bahwa hukum menutup aurat dan memakai jilbab, benar-benar untuk melindungi kaum wanita dari ancaman agressi oleh pihak-pihak lain (terutama kaum laki-laki). Terhadap laki-laki yang kehilangan nafsu birahinya kepada wanita; juga kepada anak-anak yang belum terpengaruh jika melihat aurat wanita; boleh menampakkan aurat. Tentunya masih dalam batas-batas kesopanan, bukan menampakkan bagian-bagian paling sensitif dari tubuh wanita.

Demikianlah, bahwa Islam memberikan pengajaran yang sangat baik. Kaum wanita adalah makhluk lemah, rentan mengalami eksploitasi. Maka busana Muslimah yang menutup aurat secara baik, adalah sebentuk “perlindungan otomatik” yang melekat bersama wanita, dimanapun dan kapanpun mereka berada. Spesial, bagi s@rjana hukum atau siapa saja yang mengajarkan nilai-nilai perlindungan hukum; mereka mesti memahami esensi nilai luhur dari Syariat jilbab dan menutup aurat ini.

Semoga bermanfaat dan berterima di hati yang jernih dan tulus. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abinya Syakir).

Iklan

Mengapa Bulu Tangkis Indonesia Kalah Melulu…

Agustus 2, 2012

Bismillah. Artikel seperti ini merupakan menu khas blog ini. Sama seperti saat kita mengkaji tipe permainan FC Barcelona, maka kini kita coba melihat jenis olahraga rakyat sendiri. Apalagi kalau bukan Bulu Tangkis alias Badminton. Kata Andrea Hirata, olah raga ini pernah menjadi olah-raga rakyat di Belitung. Malah -katanya- bisa menurunkan angka kelahiran anak-anak Belitung. Baca sendiri deh, buku Laskar Pelangi.

Saat kita kini bahas soal Badminton, bolehlah orang akan mengatakan “halah sok tahu low”. Gak apa-apa. Gini-gini juga, dulu saya termasuk penggemar main Bultang (bulu tangkis) ini. Sering main di halaman rumah tetangga.

Biar lebih fair, silakan saja terus dibaca. Insya Allah analisisnya tidak kalah tajam dengan analisis para pemain top. Jika ada sisi baiknya, semoga hal itu bisa dianggap sebagai bagian dari RAHMAT (kasih sayang) Islam kepada bangsa Indonesia secara umum. Amin.

Ehhem…terlalu panjang ya pengantarnya… Mohon sabar sejenak, bulan puasa harus sering-sering sabar…

Bulan Ramadhan 1433 H kali ini bebarengan dengan momen Olimpiade 2012 di London. Setiap ada pesta olah-raga antar bangsa ini, rata-rata perasaan orang Indonesia harap-harap cemas. Kita berharap cabang olah-raga bulu tangkis akan menjadi “sumber tambang medali” yang bisa diekspolitasi sedalam-dalamnya; tetapi saat yang sama, kalau melihat prestasi olah-raga ini di 10 tahun terakhir, kita rata-rata akan lemas.

“Halah, apa yang bisa diharapkan dari bulu tangkis? Semua pemainnya lebay. Yang laki-laki kemayu, yang perempuan manja-manja. Sudah gitu, mereka sok gaya lagi. Huuh, lupakan saja olah-raga bulu ditangkis ini. It’s over, Ladys and Gentlemans.” Ya begitulah rata-rata suasana kebatinan bangsa Indonesia (meminjam istilah khas Prio Budi Santoso, politisi “kebatinan” Golkar), kalau lagi bicara soal prestasi bulu tangkis atlet nasional.

“Mau diapa-apain juga, tetap saja prestasinya susah dikatrol. Apalagi sekarang ada perkembangan baru; pemain Indonesia jadi sering kalah melawan pemain-pemain aneh Jepang, Thailand, Polandia, Jerman, dan lainnya yang notabene mereka itu “ecek-ecek” di dunia bulu ditangkis ini.”

Oke kita coba masuk ke permasalahan ya…

Sebenarnya, era perbulu-tangkisan di Indonesia itu mengalami perubahan drastis pasca era Icuk Sugiarto. Waktu itu Icuk termasuk ikon bulu tangkis nasional yang mumpuni, sempat menjadi juara dunia. Tetapi setelah era Icuk, perlahan-lahan era keemasan bulu tangkis kita semakin meredup, sampai akhirnya masuk zaman pemain-pemain “alay” sekarang. Sempat mencuat asa ketika muncul Mbak Susi Susanti di kelompok wanita. Ternyata setelah itu tidak muncul lagi penggantinya yang sepadan.

Lama-lama Indonesia menjadi bulan-bulanan, khususnya di kategori tunggal putra dan putri. Tidak mau malu secara total, Indonesia coba mencari-cari peluang di kategori ganda putra-putri dan ganda campuran. Padahal di zaman keemasannya, kategori itu hanya tambahan saja; yang diunggulkan tetap permainan tunggal.

Sisi perubahan drastis apa yang terjadi setelah era Icuk Sugiarto? (Kata sebagian tetangga, Icuk mirip kakakku. He he he…ngaku-ngaku. Bener lho…itu kata mereka. Menurutku sih, gak mirip amat).

Baik, kita mulai serius…

[1]. Dalam dunia Bultang, sebenarnya ada madzhab-madzhab permainan, meskipun tidak sepupuler di dunia Bola. Setidaknya ada dua madzhab dominan, yaitu: “aliran smash” dan “aliran penempatan bola“. Aliran “smash” maksudnya, untuk mendapatkan poin lebih mengutamakan serangan-serangan smash tajam. Aliran “penempatan bola” maksudnya, untuk mendapatkan poin lebih mengutamakan penempatan bola di titik lowong pemain lawan, atau menghindari mengambil bola jika ia diperkirakan keluar lapangan. Aliran pertama cenderung keras, penuh tenaga; sedangkan aliran kedua cenderung slow, meskipun (namanya olah-raga) ya letih juga.

[2]. Di era Icuk Sugiarto ke atas, pemain-pemain Indonesia seperti Rudy Hartono, Lim Swi King, Christian Hadinata, Ii Sumirat, Ivana Lie, dll. mereka semua dikenal memiliki kekuatan smash dan akurasi yang hebat. Konon, sekali smash Rudy Hartono bisa merusak suttlecock (baca: kok). Lim Swi King juga dikenal dengan istilah “Smash King”. Namun setelah era Icuk Sugiarto, aliran bermain atlet-atlet Indonesia berubah menjadi aliran “penempatan bola”. Model demikian, selain membosankan, membuat penonton lebih berdebar-debar perasaan, juga tidak tampak sisi strength-nya.

Icuk sendiri sebenarnya bagus dan komplit. Tapi dia kena batu-nya ketika berhadapan dengan pemain kidal China, Yang Yang. Icuk lebih sering kalah. Kekalahan itu sebenarnya bukan karena kualitas Icuk di bawah Yang Yang; tetapi Icuk tidak terbiasa bermain melawan pemain kidal. Bayangkan, menghadapi pemain kidal, Icuk lebih sering memberi bola ke arah KIRI lawan. Ya, habislah! Justru sisi kiri itu adalah kekuatan inti pemain kidal. Mestinya ke sebelah kanan, Mas Icuk. He he he…

[3]. Entah siapa yang mulai mengubah gaya permainan “menyerang” menjadi permainan “bertahan” dan “penempatan bola” itu. Yang jelas pemain-pemain bulu tangkis Indonesia tidak ada lagi yang terkenal smash-nya. Paling yang ada ialah pemain yang senang berlama-lama memainkan bola, sering mengumpan bola tinggi-tinggi, mencari-cari kelemahan lawan untuk ditipu, dan seterusnya. Nyaris akhirnya, mutu permainan Bultang kita jadi, pinter-pinteran menipu lawan. Kalau lawannya susah ditipu, seperti pemain China, Korea, dan Malaysia…ya otomatis kita akan kalah terus.

[4]. Bermain Bultang dengan “penempatan bola” atau “terus bertahan” sangat beresiko, menguras energi, dan menguntungkan lawan. Mengapa? Ya, mereka akan memiliki kesempatan menghajar pemain-pemain kita dengan smash-smash keras. Hal ini sudah lazim, karena kaidahnya: “Di dunia Bultang tidak ada smash dua arah dalam waktu yang sama.” Misalnya, Si Topik lagi smash ke Si Lilin, maka Lilin tidak akan bisa membalikkan smash itu menjadi smash balik yang menyerang Topik. Pasti siapa yang smash, dia menyerang; siapa yang di-smash dia bertahan. Iya kan begitu…

[5]. Mestinya, gaya permainan atlet Bultang Indonesia itu kembali ke masa lalu, yaitu mengandalkan serangan dan smash. Memang secara energi, butuh stamina lebih kuat. Tetapi secara psikologis, menyerang itu membanggakan, sehingga energi kita serasa selalu penuh. Apalagi kalau buah dari serangan itu menghasilkan poin; ia akan memacu stamina lebih kuat. Sebaliknya, kalau “bertahan melulu” dan “penempatan bola”, ini lebih menguras energi dan mental. Kalau mental sudah loyo, ya peluang kalah tambah besar. Seperti kata ungkapan bijak: “Pertahanan terbaik adalah menyerang.” Cara cerdas demikian sudah lama ditinggalkan oleh atlet-atlet Indonesia.

[6]. Bukan berarti “penempatan bola” dan “bertahan” tidak dibutuhkan. Ya tahu sendirilah, permainan begitu pasti dibutuhkan di dunia Bultang. Tetapi kalau bisa: setiap bola dari lawan harus bisa dikonversikan menjadi peluang smash bagi atlet kita. Semakin banyak peluang smash, semakin baik. Jangan seperti permainan lebay, maunya oper-operan bola tinggi-tinggi, permainan net, dan ngakali lawan. Tentu saja, akurasi dan kekuatan smash itu mesti dilatih sebaik-baiknya, sehingga smash pemain Indonesia disegani lagi.

[7]. Selain problem permainan yang membosankan, “penempatan bola” dan “bertahan melulu”, pemain Indonesia juga mengalami banyak hambatan mental. Kalau mereka bermain melawan atlet dari Vietnam, Timor Timur, Papua Nugini, Rusia, Itali, atau mana sajalah yang tangannya kaku-kaku (he he he…becanda); ya pasti bisa jaya. Tetapi kalau sudah menghadapi Trio China-Malaysia-Korea Selatan, tiba-tiba mental kita sudah lumer duluan. Misalnya Taufik Hidayat, begitu selentingan dia dengar nama Lin Dan, seketika tubuhnya gemetar dan tidak optimis menang (he he he…). Kondisi drop mental ini karena memang madzhab permainannya bertahan melulu; sementara Lin Dan sudah paham betul kaidahnya: “Pemain Indonesia itu serang terus saja. Jangan diberi kesempatan sedikit pun. Nanti mereka akan kalah oleh ketertinggalan poin!” Ya itulah yang terjadi, kalah lagi dan lagi.

Nah, begitulah… Sumber kekalahan atlet-atlet Bultang Indonesia lebih karena berubahnya madzhab permainan, dari pola menyerang melalui smash kuat dan tepat; menjadi pola “bertahan” dan “penempatan bola”. Kalau tidak percaya, lihat permainan atlet-atlet Indonesia saat ini; tidak ada satu pun yang terkenal hebat smash-nya. Terlepas bahwa nama “smash” dipakai sebuah boy band yang lebay; tampaknya, atlet-atlet Indonesia perlu berubah lebih garang, lebih menyerang, dan percaya diri. Jangan lebay lagi… Contohlah legenda Bultang nasional seperti Rudy, King, Icuk, atau Ivana Lie.

Oke…segitu dulu ya. Mau diterima atau ditolak, silakan deh, bebas saja. Ini juga namanya sharing. Yang jelas, kita ada fakta-datanya kan.

Jujur, saya sering ditanya, “Bagaimana sih kok bisa menulis ini dan itu? Apa kiatnya?” Sering ditanya demikian. Setahu saya, menulis itu kan komunikasi, jadi siapa yang bisa komunikasi, insya Allah bisa menulis. Secara teknik, tidak sulit untuk menulis. Untuk artikel ini saya, saya paling memakan waktu sekitar 1 jam. Tetapi yang lama itu proses membacanya, pengamatan, analisa, komparasi, dan yang semisalnya. Proses tersebut bisa makan waktu panjang, bisa puluhan tahun. Saat saya menulis ini, ia tidak lepas dari pengamatan terhadap pertandingan puluhan tahun lalu.

Kata kuncinya…terus jaga moral baik-baik. Jangan menodai moral kita dengan hal-hal yang tercela. Nas’alullah al ‘afiyah. Dengan moral yang baik, insya Allah Anda akan diberi kekuatan ingatan, analisa, serta komparasi. Kalau moralnya buruk, ya sulit mencapai hal itu.

Baik…sekian dulu ya. Selamat berpuasa, semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmati kaum Muslimin semuanya. Semoga Allah As Sallam juga menyelamatkan saudara-saudara kita di Myanmar, Suriah, Indonesia, juga negeri-negeri lain yang menderita. Amin Allahumma amin.

Mine.