Ciri Kehidupan Manusia Zaman Sekarang…

September 29, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berikut ini adalah 3 ciri khas kehidupan manusia modern:

[1]. Hidupnya digunakan untuk mencari uang. Siapa saja pelakunya, dimana saja tempatnya, bagaimana saja caranya, pokoknya cari duit dan cari duit. Slogan yang sering diucapkan: “Time is money.”

[2]. Setelah mendapat uang, hidupnya diisi dengan acara senang-senang melulu, memuaskan hawa nafsu sepuas yang mereka mampu. Istilahnya, having funs. Slogan yang sering mereka ucapkan: “The life is too short, so play more!” (hidup terlalu singkat, maka bermainlah sebanyak-banyaknya).

[3]. Bertahan hidup agar bisa melakukan poin 1 dan 2. Cara bertahan hidup misalnya ikut fitness, jaga kebugaran fisik, rajin kontrol kesehatan, melakukan general check up setiap tahun, konsumsi makanan bergizi, memakai obat natural, ikut terapi ini dan itu. Juga menempelkan sticker “safety driving and riding” karena takut kecelakaan. Kalau ditanya, kenapa sih mesti ikut ini dan itu? Jawabnya: “Biar bisa terus cari duit dan senang-senang.”

Poin 1 dikenal dengan istilah MATERIALISM (hidup untuk cari duit). Poin 2 dikenal sebagai HEDONISM (hidup untuk senang-senang). Poin 3 dikenal sebagai SURVIVALISM (hidup untuk terus hidup).

“Selagi masih bisa….”

Siapa saja yang termasuk kelompok orang-orang ini…

Banyak ya. Para politisi Senayan, para pejabat birokrasi haus kuasa, para pengamat berjiwa selebritis, para elit politik, para komedian politik; para artis, pemain sinetron, gadis-gadis model, pemain boy band, vokalis band (yang kemarin baru keluar penjara itu), para komedian asli, para presenter TV, para model iklan (meat show profile); para bisnisman kapitalis, para eksekutif muda hedonis, para penyuka seks ilegal, para penyuka seks sejenis; para operator korupsi, makelar kasus, makelar proyek (cara-cara hitam), mafia, dan seterusnya; termasuk di dalamnya orang-orang yang menjadikan agama sebagai komoditi, apapun bungkus dan retorikanya.

Sayangnya, orang-orang gituan kini banyak menjadi social model di negeri kita. Masyarakat menjadikan mereka role model, lalu meniru, mengagumi, hingga menangis haru untuk manusia-manusia begituan.

Padahal Al Qur’an sudah berbicara tentang manusia-manusia semodel itu…

7:179

“Dan sungguh Kami akan memenuhi neraka jahannam itu dengan kebanyakan dari manusia dan jin. Mereka memiliki hati-hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah); mereka memiliki mata-mata, tetapi tidak digunakan untuk mendengar; mereka memiliki telinga-telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” [Al A’raaf: 179].

Kami ingin memberikan nasehat kepada kaum Muslimin, kepada orang-orang beriman:

“Hendaklah Anda semua selalu istiqamah di jalan Islam ini; jangan lemah, jangan putus asa, jangan gentar hati melihat kelakuan manusia-manusia aneh di sekitar Anda. Mereka telah menempuh jalannya, dan kita pun menempuh jalan kita. Mereka didukung oleh kekuatan sekuler, hedonis, jahiliyah; tetapi kita didukung oleh ALLAH Rabbul ‘Alamiin, Sang Penguasa langit dan bumi. Sulitnya hidup kita di zaman ini adalah ujian keimanan semata. Bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah melihat kelakuan manusia-manusia yang kelak akan binasa itu. Kesabaranmu akan menjadi hujjah bagi Rabb-mu untuk menasehati manusia-manusia yang lalai itu.”

RAHASIA: Orang-orang yang hidupnya untuk mencari duit dan senang-senang itu, wallahi sungguh mereka tidak pernah mendapatkan bahagia sebenarnya. Apa yang mereka dapat hanya kepalsuan dan kegembiraan artifisial saja. Pada hakikatnya jiwa mereka merana, hati mereka gelisah, nurani mereka meronta. Apa yang mereka klaim sebagai jalan bahagia itu, ternyata hanya kepalsuan belaka. “Wa man yata’adda hududallah faqad zhalama nafsah” (dan siapa yang melanggar batas-batas Allah, sejatinya dia telah menganiaya dirinya sendiri). [At Thalaq: 2]

Demikian, semoga kita bisa mengambil sebaik-baik pelajaran. Amin.

Mine.


Perhatikan Jenazah Farhan Ini!

September 23, 2012

Peristiwanya sudah terjadi 31 Agustus 2012 lalu di Solo, atau tepatnya sekitar 10 hari setelah Hari Raya Idul Fithri 1433 H. Dua orang pemuda (remaja) yang diklaim sebagai terduga teroris, Farhan dan Muchsin, diserang oleh Densus 88 sehingga keduanya mati tertembak. Menurut berita yang dilansir media, pada malam itu terjadi baku tembak di Jl. Veteren, Tipes, Serengan Solo.

Salah satu pemuda yang meninggal, bernama Farhan, gambar jenazahnya seperti di bawah ini (mohon maaf bila ditampilkan gambar yang kesannya agak vulgar):

Jenazah Ini Hancur Kepalanya. Darah Berceceran Dimana-mana.

Pertanyaannya, apakah benar korban baku tembak bisa hancur seperti itu? Namanya juga baku tembak, seperti terjadi di film-film, jenazah mestinya tertembus peluru. Kalau jenazah hancur, hingga kepala pecah, pasti bukan semata karena baku-tembak. Mungkin disana sudah dilakukan tindakan-tindakan kekerasan, setelah yang bersangkutan dipastikan meninggal.

Dalam sejarah perjuangan kaum Muslimin, sejak masa lalu, tidak ada jejak-jejak kekejaman terhadap jenazah orang-orang non Muslim. Jika mereka sudah mati, ya sudah dibiarkan; tidak pernah dibakar, dimutlasi, dipukul-pukul sampai hancur kepala, disayat-sayat, dan seterusnya. Tradisi kekejaman kepada manusia yang sudah wafat itu, tidak ada dalam sejarah perjuangan kaum Muslimin. Justru kalangan non Muslim sangat sering melakukan perbuatan-perbuatan sadis terhadap jenazah Muslim yang sudah wafat. Seakan, mereka ingin mengekspresikan kebenciannya yang luar biasa terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Perbuatan sadisme seperti ini tidak dibenarkan, menurut hukum apapun, hatta hukum sekuler Amerika. Tidak ada satu pun hukum manusia berakal yang membolehkan kekejaman seperti itu. Bila terjadi hal seperti itu, ia pertanda telah terjadi penyimpangan besar terhadap standar hukum yang berlaku.

Hal-hal demikian mestinya bisa dicegah. Janganlah melakukan sadisme kepada sesama anak negeri. Jangan karena alasan-alasan egoisme materi, sebagian orang dengan mudahnya menyebarkan kezhaliman. Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam berpesan: “Takutlah akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu adalah kegelapan di Hari Akhirat nanti.”

Kezhaliman itu hanya semakin meletihkan bangsa Indonesia, membuatnya kian terpuruk, dan melahirkan aneka kegilaan-kegilaan yang banyak. Semakin banyak manusia menari-nari di atas bangkai sesama anak bangsa; pertanda bangsa itu sudah dekat dengan ajalnya. Nas’alullah al ‘afiyah.

Allahummaghfir lahum warhamhum wa ‘afihim wa’fu ‘anhum. Amin ya Rahiim.

Mine.


Manusia Sekuler Ekstrim Pun Membutuhkan Syariat Islam…

September 23, 2012

Syariat Islam Melindungi Eksistensi Manusia; Jika Mereka Tahu dan Mau Jujur Mengakuinya.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebagai seorang Muslim, tentu kita mengimani Syariat Islam. Kita berusaha mempelajarinya, mempercayainya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi tidak semua orang bisa menerima Syariat Islam; banyak di antara mereka justru menolak, meremehkan, atau menganggapnya sebagai musuh kehidupan.

Elit-elit politik sekuler, mereka sangat membenci Syariat Islam. Jangankan konsep Syariat dalam suatu tatanan yang utuh, istilah “Perda Syariah” pun sudah membuat mereka muntah-muntah dan insomnia (susah tidur). Di antara elit sekuler itu ada yang bersikap ekstrim, mereka terus berkampanye agar para aktivis Islam yang membela Syariat bisa dimasukkan dalam kategori musuh negara, musuh pembangunan, dan musuh NKRI.

Selain elit politik, yang terkenal memusuhi Syariat adalah media-media massa sekuler, dan wartawan-wartawan Islam phobia; pengusaha-pengusaha sekuler yang telah menghalalkan kapitalisme dan liberalisme; para seniman, para artis, selebritis yang memuja gaya hidup hedonis dan westernis; para aktivis LSM, para aktivis HAM, para aktivis kesetaraan gender, para aktivis pluralisme, para pendukung gay dan lesbian; para pengasong aliran sesat, khususnya Syiah, Ahmadiyah, dan Liberal; termasuk juga para perwira militer sekuler, para purnawirawan sekuler, anggota militer anti Islam, serta para desertir yang kerap dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha hitam; hal serupa ada pada korp kepolisian, anggota aktif dan pensiunan yang anti Islam dan sekuler; tentu saja tidak ketinggalan, para koruptor, para mafia, bandar narkoba, bandar judi, bandar prostitusi, bandar pornografi, dll. Semua orang ini, dalam eksistensi hidupnya, memiliki sumbangan besar dalam merobohkan tata-nilai dan Syariat Allah Ar Rahmaan.

Bukan hanya orang-orang itu (yang jumlahnya banyak); tetapi juga tokoh, aktivis, pemikir, penulis, pendakwah yang melabelkan dirinya dengan komunitas Muslim; tidak jarang mereka juga bersikap anti Syariat Islam. Mereka menampakkan diri sebagai tokoh Islam, tokoh ormas Islam, sebagai cendekiawan Muslim, atau bahkan sebagai ulama; tetapi sikap dan pemikirannya cenderung paranoid dengan missi Islamisasi kehidupan. Salah satu dari mereka pernah berkata: “Kalau Syariat Islam dilaksanakan di Indonesia, maka persatuan akan berubah menjadi persatean (pembantaian).” Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dalam tulisan sederhana ini, saya ingin mengajak siapa saja yang merasa alergi, ketakutan, atau phobia dengan Syariat Islam. Marilah kita buka pikiran, buka kejujuran, dan bersikap apa adanya; tanpa manipulasi, tanpa kamuflase, tidak perlu berpura-pura. Marilah kita lihat Syariat Islam dari perspektif hajat hidup manusia yang paling dasar, yaitu eksistensinya.

Sebagai manusia berakal, terpelajar, dan berbudi luhur; kita pasti mendukung segala hal yang bermanfaat untuk melestarikan kehidupan manusia di muka bumi. Misalnya, kita mendukung pelestarian lingkungan; kita mendukung kampanye “Go Green“; kita mendukung pengurangan emisi karbon; kita mendukung konservasi air dan hewan langka; kita mendukung kampanye anti penebangan hutan secara semena-mena; kita mendukung pemberantasan angka kemiskinan; kita mendukung pemberantasan buta huruf dan penyakit endemik; kita mendukung larangan perdagangan manusia; kita mendukung penghormatan atas HAM; dan lain-lain. Pendek kata, apapun yang berguna untuk meningkatkan martabat hidup manusia, kita mendukungnya.

Jika kita benar-benar berkomitmen untuk pembangunan manusia dan pemuliaan harkat hidup mereka di dunia; mestinya kita juga mendukung realisasi Syariat Islam dalam kehidupan. Minimal bersikap simpati dan tidak antipati. Sebab, Syariat Islam memiliki koneksi yang sangat kuat dengan kelestarian hidup manusia. Disini setidaknya ada 5 ALASAN yang bisa kita renungkan, seputar kontribusi Syariat Islam untuk menjaga eksistensi hidup manusia.

Baca entri selengkapnya »


Cara Menyikapi Film Provokasi

September 19, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seorang pemuda Islam begitu gelisah ketika mendengar beredarnya film provokasi yang dibuat oleh Sam Bacille. Dia mengirim SMS yang bunyinya, kira-kira sebagai berikut (tidak disalin utuh):

Bismillah, ustadz afwan, bagaimana sikap kita terhadap film jahannam buatan iblis, yang telah menghina Nabi kita, Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam? Apakah ada artikel/tulisan yang menjelaskan tentang hal ini? Kalau bisa hendaknya disegerakan untuk menulis. Lebih banyak tulisan, lebih baik. Ada beberapa ustadz sudah menanggapi. Film tersebut sudah tersebar luas, ustadz. Hingga ustadz kami mengalirkan air mata, sambil berkata “Laa haula wa laa quwwata illa billah” berkali-kali dengan nada tinggi. Amerika benar-benar ngajak perang! Allahul Musta’an. Semoga emosi kaum Muslimin senantiasa diiringi dengan ilmu, hikmah, dan kecerdasan; dan semoga kaum Muslimin diberi kekuatan oleh Allah dalam melawan makar serta kebiadaban orang-orang kafir yang merupakan musuh abadi kaum Mukminin, selain syaithanirrajiim, sampai tegaknya Hari Kiamat. (Dikirim 19 September 2012; antara jam 10.30 WIB hingga jam 16.00 WIB).

Terkait peredaran film provokasi berjudul “the innocence” ini, ada beberapa sikap dan pertimbangan yang perlu kita hadirkan. Disini akan ditulis secara ringkas, sehingga mudah untuk dipahami dan diamalkan, insya Allah.

(1). Mula-mula kita harus mengucapkan “alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin”, jika hati dan jiwa kita menolak, membenci, dan mengutuk keras peredaran film itu. Selagi kita masih memiliki semangat mencintai simbol-simbol keislaman, seperti sosok Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam dan sifat-sifat kemuliaannya; itu pertanda kita masih beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Ini yang terpenting. Kalau Nabi telah dihujat, lalu kita diam saja, itu pertanda sikap keimanan yang aneh.

Dalam riwayat shahih disebutkan, manisnya iman akan dirasakan dalam diri seseorang karena 3 perkara: “Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari siapapun; dia mencintai sesuatu karena Allah, membencinya juga karena Allah; dia membenci kekafiran, seperti bencinya kalau dilemparkan ke neraka.” (HR. Imam Bukhari, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu). Jadi, selagi rasa benci dan muak kepada apa saja yang merendahkan kehormatan Sayyidul Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam tersebut, adalah bukti keimanan.

Kita Merindukan Sultan Islami yang Melindungi Ummat dan Izzah Islam.

(2). Bila ada orang kafir, Yahudi-Nasrani, atau orang musyrikin, atau kaum sesat yang telah melampaui batas seperti Syiah Rafidhah, membuat provokasi; mereka menghina Allah dan Rasul-Nya, menghina para Shahabat dan kemuliaannya, menghina Al Qur’an dan kesuciannya, menghina kaum Muslimin dan martabatnya; maka atas semua perbuatan itu, kita jangan merasa heran dan terkejut. Memang itu sudah khas perbuatan orang-orang kufar, sejak zaman dahulu sampai saat ini. Nabi dan para Shahabat pernah dihina oleh orang-orang kufar itu; maka kita selaku pengikut jejak Nabi dan Shahabat, pasti akan menerima perlakuan yang sama (penghinaan) juga dari musuh-musuh Islam. Itu sudah pasti.

Wa kadzalika ja’alna li kulli nabiyyin ‘aduwwan minal mujrimin, wa kafa bi rabbika hadiyan wa nashiran” (demikianlah telah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh-musuh dari golongan manusia-manusia pendosa, dan cukuplah Rabb-mu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong). [Al Furqan: 31].

Cobaan ini bukan hanya menimpa para Nabi dan Rasul; tetapi juga menimpa semua pengikut mereka, di segala zaman. Maka kita jangan merasa terkejut bila kaum kufar dan manusia-manusia sesat terus menguji keimanan dan kesabaran kita. Karena pada dasarnya, apalagi amalan bagi kaum kufar itu, kalau tidak memusuhi para penganut agama Allah Rabbul ‘alamiin? Kalau mereka tidak boleh memusuhi kita, mereka jelas tidak akan memiliki “tabungan amal”.

(3). Kaum Muslimin harus benar-benar menyadari bahwa keimanan di dada kita ini pasti akan diuji, untuk dibuktikan apakah komitmen keimanan kita itu benar atau palsu, atau sekedar formalitas, atau bahkan palsu belaka. “Wa lanabluwannakum bi syai’in minal khaufi wal ju’i wa naqshin minal amwaali wal anfusi wats-tsammaraat, wa bassyiris shabirin; alladzina idza ashabathum mushibah, qaalu inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun” (dan benar-benar Kami akan menguji kalian dengan ketakutan, rasa lapar, dan krisis harta, jiwa, dan hasil pertanian, maka berikan berita gembira kepada orang-orang shabar, yaitu mereka yang apabila tertimba suatu mushibah, mereka berkata ‘inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun’). [Al Baqarah: 155-156].

Nabi Saw juga bersabda, “Hujibatin naaru bis syahawat, wa hujibatil jannatu bil makarih” (jalan ke neraka itu dipenuhi aneka kesenangan syahwat; sedangkan jalan ke surga itu dipenuhi hal-hal yang tidak disukai). Juga ada riwayat lain yang mengatakan, “Ad dunya sijnu lil Mukmin wal jannatu lil kafir” (dunia ini adalah penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir). Berbagai nikmat dunia tak ada artinya dibandingkan harapan nikmat surga nanti, sehingga rasanya dunia ini seperti penjara. Sebaliknya, bagi orang kafir, nikmat dunia ini adalah kesempatan mereka bersenang-senang terakhir kalinya, karena setelah itu tidak ada kesenangan lagi. Ini adalah “surganya” orang kafir, sebab mereka tak akan dapat nikmat lagi setelah mati.

Bila-bila masa engkau mendapati dirimu atau Ummatmu selalu dicoba, selalu diberi cabaran menyakitkan, oleh manusia-manusia kufar dan tidak beriman itu; bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah. Mengapa? Karena dalilnya: “Innallaha ma’as shabirin” (sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar). [Al Baqarah: 153]. Kalau Anda ingin agar selalu dekat dengan Allah, diberi pimpinan, cinta, dan petunjuk oleh-Nya…ya harus mau bersabar. Iya kan.

(4). Menyikapi tersebarnya film “the innocence” itu banyak kaum Muslimin yang bersikap reaktif, emosional, atau histeris. Mestinya, begitu kita diserang dengan film propaganda, segera lakukan bantahan secepatnya. Terbitkan film bantahan yang berusaha meluruskan propaganda itu. Serangan pemikiran, lawan dengan bantahan pemikiran; propaganda buku, lawan dengan bantahan buku; kampanye hitam lewat film, lawan dengan film bantahannya. Ya, kita jangan lupa dengan adab semacam ini. Dalam ayat disebutkan, “Wa in ‘aqabtum, fa ‘aqibuu bi mits-li maa ‘aqabtum bihi; wa lain shabartum, lahuwa khairun lis shabirin” (jika engkau diserang, maka seranglah mereka dengan balasan setimpal; namun jika kalian mau sabar, benar-benar ia merupakan kebaikan bagi orang-orang yang sabar). [An Nahl: 126].

Kalau kita menghadapi provokasi itu dengan emosi dan marah-marah selalu, tanpa memberi bantahan, penjelasan, atau kritikan balik; nanti kita akan disebut sebagai kaum yang reaktif, mudah marah, dan emosional. Jika itu yang terjadi, maka orang-orang kafir sangat senang mempermainkan kaum yang mudah marah ini. Bukankah marah itu identik dengan godaan syaitan? Maka wahai saudaraku budiman rahimahukumullah, cobalah kini lakukan bantahan sebanyak-banyaknya terhadap film propaganda Yahudi itu. Bantahlah, bantahlah mereka dengan bantahan yang baik; hingga orang-orang non Muslim akan melihatmu sebagai kaum yang dewasa, stabil jiwanya, kuat mentalnya, dan cerdas diskusinya.

Kami khawatir, lahirnya film itu memang untuk memancing amarah kaum Muslimin; agar keluar sifat-sifat buruk kita, lalu dunia internasional menyaksikan semua itu; sehingga orang yang semula sudah bersimpati kepada Islam, mendadak kehilangan minatnya; karena melihat amarah, emosi, dan reaksi kekerasan oleh kita. Setahu kami, produk-produk propaganda yang dibuat oleh Salman Rushdie, Geert Wilders, Irshad Manji, Terry Jones, koran Jayland Posten, Sam Bacille, dll. adalah untuk tujuan “provokasi amarah” ini. Mana ada sih manusia yang suka melihat kaum yang pemarah, emosional, dan sering bertindak keras?

(5). Substansi film “the innocence” itu adalah kampanye hitam. Maka tugas kita menjawabnya dengan kampanye putih. Kalau disana digambarkan bahwa Nabi bersifat maniak seks; kita jelaskan bahwa mayoritas isteri Nabi bukan gadis, yang gadis hanya ‘Aisyah saja, malah di antaranya ada yang sudah usia nenek-nenek (Saudah binti Zam’ah Radhiyallahu ‘Anha). Kalau disana disebutkan Nabi melakukan pedofili (seks dengan anak kecil), maka kita jelaskan bahwa usia Aisyah Radhiyallahu ‘Anha saat menikah dengan Nabi adalah 9 tahun. Ia bisa dianggap usia remaja. Malah ada yang menyebut usia beliau mencapai 15 tahun. (Sebuah contoh faktual, putri kami ada yang berusia sekitar 12 tahun, dari tinggi dan fisiknya lebih besar dari ibunya). Kalau Nabi Saw dianggap pedofili, maka beliau akan punya banyak isteri yang usia anak-anak; sementara isteri Nabi yang lain, umumnya kaum janda dan ada nenek-neneknya.  Justru kaum pedofili mencari anak-anak karena sudah tidak mau dengan wanita dewasa. Anda tidak akan menemukan ada pedofili yang sudi menikah dengan para janda, apalagi nenek-nenek. Kalau Nabi kita difitnah bahwa beliau mengobarkan perang dan kekerasan; ya tinggal kita jelaskan: yang ratusan tahun menjajah negara-negara Asia-Afrika itu siapa? Yang pertama mengobarkan Perang Salib siapa? Yang terjun dalam Perang Dunia I dan II hingga jatuh korban jutaan manusia itu siapa? Yang menyiksa bocah-bocah Palestina, menyiksa wanita dan penduduk sipil disana, sejak era tahun 1927 sampai saat ini siapa? Jadi orang-orang kafir ini jangan pura-pura bego terhadap sejarah gelap mereka. Mereka belagak suci, padahal sejarahnya kelam. Harus dicatat, dalam Islam dikenal ajaran Jihad; tetapi Islam tidak mengenal tujuan penjajahan (kolonialisme dan imperialisme). Tujuan Jihad dalam Islam ialah membela diri, mengamankan wilayah negeri, atau menyebarkan pengaruh agama; bukan kolonialisme seperti Romawi, Persia, Eropa, Amerika, Rusia, dll. Kalau suatu kaum sudah masuk Islam, seketika itu mereka sederajat dengan kaum yang membawa Islam ke tengah mereka. Intinya, propaganda film itu dan propaganda semisal, adalah semacam dorongan bagi kita untuk lebih mempelajari Islam, lebih dalam memahami detail agama kita, serta lebih mencintai agama ini. Karena propaganda sejenis itu tidak berpengaruh banyak bagi orang-orang yang berilmu.

(6). Secara umum, film “the innocence” adalah termasuk produk sampah. Namanya juga sampah, jangan dianggap berharga. Cukup katakan kepadanya: “Ini film sampah. Dibuat oleh orang gila yang lepas dari Rumah Sakit Jiwa.” Jangan kita menghabiskan energi untuk melayani film sampah ini. Justru lakukan kritik film sedalam-dalamnya, lalu simpulkan: “Ini film sampah! Jauhkan dari anak kecil!”

(7). Dalam level hukum, kaum Muslimin bisa memanfaatkan celah-celah hukum yang ada untuk menuntut si pembuat film itu dan aktor intelektualnya. Kasus demikian bisa dibawa ke ranah hukum. Coba sarjana-sarjana hukum Muslim, organisasi-organisasi Islam, atau perguruan-perguruan tinggi Islam; cobalah mereka bangkit untuk menuntut si pembuat film diseret ke pengadilan. Ini lebih kesatria, elegan, dan nyata dampaknya; agar nanti tidak muncul lagi provokasi-provokasi semacam itu. Demonstrasi sekedar untuk menunjukkan sikap kita yang menolak, membenci, dan menista film itu; ya silakan dilakukan. Tetapi biar lebih kongkrit lagi, tuntut si pembuat film agar diseret ke pengadilan setempat.

(8). Jika menyadari masalah-masalah demikian wahai Saudaraku, apa yang benar-benar engkau impikan hadir di tengah dunia ini? Apakah itu? Ya benar, ia adalah Daulah Islamiyyah, sebuah negeri Islami yang berdaulat berdasarkan agama Allah dan Rasul-Nya secara kaffah; berdasarkan Islam dalam ruhnya, filosofi pemikirannya, kepemimpinannya, sanksi hukumnya, sistem muamalah dan pergaulan sosialnya, sistem pertahanan, hingga ke simbol-simbolnya. Di atas sistem Islami, maka jika sewaktu-waktu orang kafir melakukan provokasi, maka pemimpin Islami, amir kaum Muslimin akan segera tampil ke muka untuk meruntuhkan provokasi itu; layaknya Sang Sultan Muhammad Al Fatih rahimahullah mengangkat Izzah Ummat ini dan membersihkan kesucian agama Sayyidul Mustafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam dari kotoran-kotoran yang dilontarkan kaum kufar.

Namun kini wahai saudaraku, wahai kawan, kerabat, dan guru-guru yang budiman,…siapa kini yang bisa kita harapkan untuk menjaga kehormatan agama Nabi ini? Siapa wahai saudaraku? Adakah Muhammad Al Fatih di antara kita? Adakah Shalahuddin Al Ayyubi di tengah kita? Adakah Khalifah Umar Radhiyallahu ‘Anhu di antara kita? Hanya kepada Allah kita menangis dan meratapi kenestapaan Ummat ini… Bukan karena kita hendak putus-asa; tidak, selamanya kita akan tetap membela agama Sayyidul Mursalin ini, hingga kita tak sanggup lagi memberikan pembelaan apapun. Namun adalah wajar jika orang seperti diriku mendambakan tegaknya Daulah Islami, dan hadirnya seorang Sultan panutan Ummat, yang kan menjaga kehormatan agama ini dengan jiwa dan raganya. Sungguh, teramat berat memikul amanah Ummat ini, tanpa hadirnya kekuasaan Islami yang menolong dan mengasihi kaum Muslimin Ahlus Sunnah di muka bumi ini. Kekuasaan itulah alat yang dijadikan oleh Allah untuk menolong agama-Nya dan kaum Muslimin. Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan tiga pilar kekuatan Ummat, yaitu: Sultan, harta-benda, dan Jihad.

Hingga akhirnya, setiap cobaan dan masalah yang hadir di depan mata kita, semua itu adalah wasilah agar kita kembali kepada Allah, kembali kepada agama-Nya, kembali kepada Tauhid dan kedaulatan hukum-Nya. Nabi Saw dalam riwayat berkata –kurang lebih-: “Lasallathallah ‘alaikum dzillan laa yan’ziuhu hatta tarji’a ila amri dinikum” (benar-benar Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, dan Dia tidak akan mengangkat kehinaan itu, hingga kalian kembali ke ajaran agama kalian).

Demikianlah sikap atau cara yang bisa kita hadirkan dalam menyikapi provokasi-provokasi orang kafir melalui apapun media. Intinya, tetaplah istiqamah dengan nilai-nilai Islam; hadapi setiap provokasi secara Islami, sebagaimana kita ingin agar nilai-nilai Islam itu tegak dalam kehidupan kita. Syaikh Al Albani rahimahullah berulang kali mengutip pandangan tokoh ulama Pakistan (kalau tidak salah Abul A’la Al Maududi rahimahullah): “Fa aqim daulatal Islami fi qulubiku, takun lakum fi ardhikum” (tegakkan Daulah Islam dalam hatimu, maka ia akan tegak di tengah masyarakatmu).

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Ardhullah, 20 september 2012.

(Abah Syakir).


Heroisme Sang Mujahid Agung

September 18, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah, alhamdulillah, walhamdulillah. Allah Ta’ala memiliki banyak cara untuk membela hamba-Nya. Ketika manusia (seindonesia) berkonspirasi untuk menghancurkan nama baik dan kehormatan Al Ustadz Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo rahimahullah; maka Dia memiliki cara-Nya untuk memuliakan beliau. Melalui buku “Hari Terakhir Kartosoewirjo” yang ditulis oleh Fadli Zon; melalui pameran foto-foto seputar eksekusi beliau pada tahun 1962; melalui bedah buku dan seterusnya; alhamdulillah akhirnya terkuaklah banyak fakta sejarah yang selama ini disembunyikan.

Sebagian besar manusia (Muslim) di Indonesia selama ini berprasangka buruk terhadap sosok almarhum SM. Kartosoewirjo. Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan tak berdasar. Alhamdulillah, dengan segala pertolongan Allah banyak sisi suram “cerita sejarah” itu yang harus dihapus, diganti kisah lain yang lebih benar dan tidak dusta. Tampaknya bangsa Indonesia harus menulis ulang ulasan sejarahnya seputar sosok SM. Kartosoewirjo dan gerakan Daarul Islam-nya.

Sang Mujahid Agung: Membela Prinsip Islam Sampai di Tiang Eksekusi.

Berikut ini poin-poin apresiasi dan analisis yang bisa kami sampaikan, terkait pengungkapan 81 foto-foto eksklusif yang semula merupakan rahasia negara itu. Bentuk apresiasi ini adalah upaya nyata untuk mulai menulis sejarah tokoh Islam dengan cara pandang yang benar; meskipun musuh-musuh Islam alergi terhadapnya. Kalau mereka alergi, setidaknya kita perlu berkata jujur kepada kaum Muslimin dan kemanusiaan manusia di dunia.

[1]. Imam SM. Kartosoewirjo ternyata adalah pribadi yang sederhana, biasa, tidak berbeda dengan manusia-manusia Indonesia yang lain. Ada yang mengatakan, sosoknya seperti petani. Begitu pula, keluarga beliau juga sederhana, termasuk istri dan anak-anaknya. Namun harus diakui, beliau adalah sosok pemimpin revolusi Islam terbesar di Indonesia. Gerakan Daarul Islam (DI) merupakan gerakan politik-militer yang paling luas pengaruhnya. Ia berpengaruh di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimatan Selatan, hingga Nusa Tenggara. Dibandingkan gerakan PKI,  ia hanya dominan di Jakarta dan Jawa Timur saja. PRRI/Permesta hanya di Sumatera Barat, RMS hanya di Maluku, dan seterusnya.

[2]. Sampai akhir hidupnya, SM. Kartosoewirjo konsisten dengan garis perjuangannya. Beliau membela perjuangannya, sampai di depan regu tembak. Hal ini mengingatkan kepada tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin yang pada tahun 60-an banyak dieksekusi mati oleh rezim Gamal Abdul Naser. Imam Daarul Islam itu tidak pernah mundur dari sikapnya dan bersedia mempertanggung-jawabkan perjuangannya sampai titik darah penghabisan. Ketika diputuskan dia harus divonis mati, pihak pengadilan menawarkan dirinya untuk pergi kemana saja, sekali pun ke Amerika; selagi tidak ada urusan politik. Namun beliau menolak, karena yang dia inginkan adalah: segera bertemu Allah untuk memastikan apakah perjuangannya benar atau salah? Lihatlah manusia yang fisiknya tampak ringkih ini; dia sangat kuat dalam memegang prinsip dan tidak menyesal. Berbeda dengan umumnya aktivis-aktivis Islam yang semula idealis, lalu perlahan-lahan menjadi pragmatis dan menjual agama dengan harga murah. Nas’alullah al ‘afiyah.

[3]. Dalam kapasitasnya sebagai “musuh negara” yang dianggap paling berbahaya; ternyata SM. Kartosoewirjo tampak dihormati, dihargai, dan dimuliakan oleh orang-orang yang berurusan dengan eksekusinya. Mereka tampak hening, berdiri rapi, penuh khidmat memberikan penghormatan terakhir. Setelah wafat, beliau dimandikan dengan air laut, lalu dishalatkan dan dimakamkan secara Islami. Bahkan sejak diantar ke Pulau Ubi, beliau diperlakukan secara baik. Hal ini menandakan, bahwa orang-orang yang berurusan dengan eksekusinya tidak yakin sepenuhnya, bahwa beliau salah. Kalau mau jujur, SM. Kartosoewirjo adalah “anak kandung” dari TNI (dulu BKR atau TKR). Beliau itu semula berada dalam barisan TNI, berjuang menjaga wilayah Jawa Barat.

[4]. Dalam segala kesederhanaannya, ternyata kharisma SM. Kartosoewirjo sangat menakutkan bagi rezim yang berkuasa (Orde Lama dan Orde Baru). Mereka begitu ketakutan, sehingga harus menyembunyikan dimana lokasi eksekusi; apakah di Pulau Onrust atau di atas kapal laut? Bahkan di Pulau Onrust, mereka buat dua pusara palsu, dengan label “makam Kartosoewirjo”. Sebegitu takutnya mereka, sehingga harus membuat sandiwara-sandiwara seperti itu. Bahkan Pulau Ubi dimana eksekusi diadakan dan pusara SM Kartosoewirjo ada disana; pulau itu kalau laut saat pasang, tidak akan tampak di permukaan. Masya Allah, sebegitu takutnya musuh-musuh politik Imam Darul Islam itu; mungkin mereka nyadar, kalau dirinya memang salah.

[5]. SM. Kartosoewirjo rahimahullah dituduh dengan 3 perkara, yaitu: a. Beliau melakukan pemberontakan; b. Beliau berniat membunuh Presiden Soekarno; c. Beliau ingin lepas dari Indonesia. Atas tuduhan ini, beliau akui tuduhan pertama, dan beliau tolak dua tuduhan terakhir. Dengan demikian, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa gerakan Daarul Islam bertujuan separatisme (memisahkan diri dari NKRI). Daarul Islam tetap dalam lingkup keindonesiaan dan tidak ingin memisahkan diri dari NKRI. Kalau mau dikembangkan secara politik; mestinya DI/TII jangan dituduh sebagai pemberontak; tapi anggaplah ia sebagai aspirasi politik sebagian kaum Muslimin yang menuntut otonomi, untuk mengatur wilayahnya dengan sistem Islam. Kalau daerah lain ingin memakai sistem sekuler atau non Islami, ya itu silakan saja. Hanya saja, berikan otonomi kepada Daarul Islam untuk mengatur wilayahnya dengan sistem Islami. Bukankah dalam sistem federasi hal semacam itu memungkinkan terjadi? Atau setidaknya dalam bentuk otonomi khusus.

[6]. SM. Kartosoewirjo dihukum mati berdasarkan keputusan pengadilan, yang dikukuhkan oleh persetujuan Presiden Soekarno. Soekarno sendiri sejatinya adalah mantan teman beliau, sebagai sesama murid HOS. Cokroaminoto di Surabaya. Bagi Soekarno, mengenyahkan kawan lamanya adalah keutamaan, meskipun yang bersangkutan berjuang demi Islam.

[7]. Sebelum dieksekusi mati, SM. Kartosoewirjo mengajukan 4 tuntutan, dan hanya tuntutan terakhir yang dipenuhi. Pertama, beliau ingin bertemu dengan para perwira bawahannya; Kedua, beliau ingin agar eksekusinya disaksikan pengikutnya atau keluarganya; Ketiga, beliau ingin jenazahnya diserahkan kepada keluarganya; Keempat, beliau ingin bertemu keluarganya, untuk terakhir kalinya. Ternyata, hanya tuntutan terakhir yang dipenuhi. Beliau sudah tua dan lemah; beliau sudah sedia dihukum mati; beliau tidak menuntut ingin kesana-kemari; tetapi itu pun beliau masih dizhalimi dengan tidak dipenuhi hak-haknya sebagai manusia yang wajar. Sekedar dimakamkan oleh keluarganya saja, tuntutan itu ditolak.

[8]. Bisa jadi keputusan Pemerintah RI untuk menghukum mati SM. Kartosoewirjo dianggap benar (menurut hukum positif dan vonis pengadilan). Tetapi mengapa di luar itu semua, SM. Kartosoewirjo masih dizhalimi sedemikian rupa? Tuntutan beliau yang manusiawi tidak dipenuhi; makamnya disamarkan di Pulau Onrust; dan dibuat catatan-catatan sejarah bohong seputar dirinya? Bukankah hal ini merupakan kezhaliman besar atas diri beliau? Akhirnya, kezhaliman itu terbongkar sudah, dengan dimuatnya foto-foto eksklusif seputar eksekusi Imam Daarul Islam. Ibarat menyembunyikan bau busuk, lama-lama akan tercium juga.

[9]. SM. Kartosoewirjo rahimahullah tidaklah ingin membubarkan NKRI, tidak ingin keluar dari Indonesia, atau ingin men-Daarul Islam-kan Indonesia. Tidak demikian. Beliau itu ingin menegakkan pemerintahan otonom berdasarkan Islam. Jika pemerintahan itu tegak, ia tetap berada dalam cakupan NKRI; hanya saja memiliki otonomi untuk membangun wilayah dengan nilai-nilai Islam. Hal ini bukan tanpa alasan. Alasannya ialah lemahnya bargaining Soekarno-Hatta di mata Belanda (NICA). Mereka mau menanda-tangani perjanjian Renville dan KMB (Konferensi Meja Bundar) yang isinya amat sangat melukai hati bangsa Indonesia. Melalui Renville, wilayah RI hanya seputaran Yogya saja; selebihnya wilayah RIS. Pasukan TNI harus ditarik ke Yogya semua, sehingga hal itu membuka peluang bagi NICA untuk menguasai wilayah-wilayah di luar RI. Melalui KMB, bangsa Indonesia harus mengakui bahwa kemerdekaan RI merupakan hasil pengakuan dari Belanda; padahal RI merdeka setelah berhasil mengusir Jepang dari Tanah Air. Belanda sejak awal tahun 1940-an sudah diusir dari Indonesia oleh Jepang. Di sisi lain, RI harus menerima beban hutang Belanda akibat terlibat dalam Perang Dunia II dan perang-perang lainnya. Beban hutang ini tidak pernah disampaikan oleh para sejarawan. Ekonom UGM, Revrisond Baswir sering menyinggung posisi hutang peninggalan KMB ini. SM. Kartosoewirjo tidak mau menerima semua perjanjian yang merusak bangsa dan negara itu. Tetapi beliau lalu disudutkan sebagai “pemberontak”. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[10]. Di balik pendirian Daarul Islam, ada satu SPIRIT yang tidak dipahami bangsa Indonesia, sejak dulu sampai kini. Akibat tidak dipahami masalah ini, akibatnya sangat fatal. Bahwa sejak awal, SM. Kartosoewirjo amat sangat membenci sikap tunduk kepada penjajah; beliau tidak mau menyerahkan wilayah walau sejengkal saja kepada penjajah. Beliau tidak mau dihina, karena harus “merdeka lewat pengakuan Belanda”. Wong, sudah merdeka sendiri kok, masih harus membutuhkan pengakuan Belanda? Beliau anti menanggung hutang-hutang Belanda, karena itu sama dengan memikulkan hutan orang kafir ke punggung anak-cucu sendiri. Tetapi tabiat beliau berbeda dengan Soekarno-Hatta yang dididik oleh pendidikan penjajah di negeri Belanda sana. Beliau tidak mau tunduk kepada penjajah, sedangkan Soekarno-Hatta suka dengan penjajahan (dalam model berbeda). Akhirnya kini bangsa Indonesia di zaman Reformasi (tahun 2012) ini bisa melihat, siapa yang lebih benar sikap politiknya; Soekarno-Hatta atau SM. Kartosoewirjo? Di zaman ketika kini bangsa Indonesia sudah dijajah di berbagai sektor oleh negara-negara asing ini, mestinya kita harus menangisi hasil perjanjian Renville dan KMB. Dua perjanjian laknat itulah yang menghantarkan bangsa Indonesia kini kehilangan hakikat kemerdekaan, setelah sebelumnya merasakan kemerdekaan.

[11]. Banyak orang bertanya-tanya: “Siapakah yang menyerahkan foto-foto eksklusif itu kepada Fadli Zon? Siapa dia? Bagaimana ceritanya? Dan mengapa dia lakukan tindakan itu?” Saudaraku, kita tidak tahu apa alasan hakiki si pemberi (penjual) foto itu. Tapi kita yakin, dia pernah secara langsung atau tidak berhubungan dengan orang-orang yang menjadi saksi eksekusi pada tanggal 5 september 1962 itu. Dia mungkin punya hubungan dengan kameramen yang membuat foto-foto itu; atau dia berhubungan dengan pusat penyimpanan dokumentasi negara; atau dia pernah secara mujur menemukan foto-foto itu berserakan sebagai barang tak berguna, lalu dia lihat dan amati nilai historisnya, lalu disimpannya. Yang jelas, sumber foto itu sangat ingin memberi tahu bangsa Indonesia sejarah yang jujur tentang eksekusi SM. Kartosoewirjo dan kebenaran seputarnya. Hal ini tentu karena ia telah digerakkan oleh Allah Ta’ala untuk mengungkapkan sejarah yang sebenarnya. Begitu gelisahnya sumber foto itu mendengar sejarah yang palsu dan penuh racun; sehingga menjadi tugas kemanusiaan baginya, untuk mengungkap fakta sebenarnya. Khusus bagi Bang Fadli Zon, beliau juga layak diberi pujian, apresiasi, dan penghargaan atas pengungkapan fakta-fakta itu. Semoga Allah Ta’ala memberi mereka balasan pahala sesuai kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Amin Allahumma amin.

Namun pujian dan apresiasi ini tidak berlaku bagi gerakan sempalan NII yang faksinya bermacam-macam, lalu muaranya ke Ma’had Al Zaytun di Indramayu, yang dipimpin oleh Abu Toto (Syech Panji Gumilang) itu. NII model begini adalah termasuk aliran sesat-menyesatkan yang dibentuk oleh infiltrasi penguasa, melalui tangan Ali Mutopo dan Pitut Soeharto. Apa yang kita apresiasi ialah gerakan Daarul Islam asli, di bawah pimpinan Al Ustadz SM. Kartosoewirjo rahimahullah, yang berdiri tegak di atas missi politik Islami, latar belakang sejarah, serta spirit anti penjajahan.

Sebagai penutup tulisan ini, dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman: “Wa tu’izzu man tasya’u wa tudhillu man tasya’u, bi yadikal khair innaka ‘ala kulli syai’in qadiir” (dan Engkau -ya Allah- memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki; di Tangan-Mu segala hakikat kebaikan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu). [Surat Ali Imran].

Demikianlah, manusia-manusia jahat bermaksud menodai dan merusak kehormatan SM. Kartosoewirjo rahimahullah; namun Allah dengan segala cara-Nya hendak memuliakan hamba-Nya. Dia adalah Sang Mujahid Agung, sosok kesatria yang rela mati sampai titik darah penghabisan, demi membela cita-cita politik Islami. Bangsa Mesir memiliki mujahid Sayyid Quthb rahimahullah; bangsa Libia memiliki Umar Mukhtar rahimahullah; bangsa Rusia memiliki Imam Syamil rahimahullah; bangsa Palestina memiliki Syaikh Ahmad Yasin dan Syaikh Izzudiin Al Qasam rahimahumallah; bangsa Pakistan memiliki Presiden Ziaul Haq rahimahullah; bangsa Turki memiliki Najmuddin Erbakan rahimahullah; bangsa Suriah memiliki Ustadz Marwan Hadid rahimahullah; maka kaum Muslimin Indonesia memiliki sosok Mujahid Agung: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo rahimahullah.

SM. Kartosoewirjo adalah sosok komandan militer, imam, sekaligus ideolog Daarul Islam yang tiada duanya di dunia Islam. Nyaris tidak dijumpai perjuangan dengan konsep Daarul Islam di masa lalu, di negeri-negeri Muslim lain, selain hanya di Indonesia. Pemimpin-pemimpin Ikhwanul Muslimin di Mesir, secara akidah mereka sepakat dengan konsep Daarul Islam; tetapi secara perjuangan militer, mereka belum sampai kesana. Ingatlah keistimewaan ini wahai Muslimin Nusantara!

Semoga sekilas tulisan ini bermanfaat dan menjadi refleksi iman dan sejarah, bagi kita semua. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Jakarta, 18 September 2012.

AM. Waskito.


Jokowi Menang di Pilkada DKI Putaran 2

September 17, 2012

Sebentar lagi, tanggal 20 September 2012, akan digelar Pilkada Jakarta putaran ke-2. Ya seperti yang dimaklumi, pasangan Jokowi-Ahok akan bertarung melawan pasangan Foke-Nara. Bertarung disini maksudnya bukan dalam arena duel “master martial art”, tapi dalam even Pilkada biasa.

Dari berbagai pertimbangan politik, ada dugaan kuat, pasangan Jokowi-Ahok akan memenangkan Pilkada Jakarta 2012. Ini bukan karena ramalan, berdasarkan wangsit, atau ilmu gathuk-gathuk-an. Juga bukan karena melihat hasil surve-surve yang aneh itu. (Surve-surve begituan tak perlu dianggap; intinya mereka kan mencari uang, bukan melayani kebenaran). Tetapi memang disini ada pertimbangan sains politiknya.

Pemilih Wanita Lebih Melihat Penampilan, Bukan Ideologi.

Ada beberapa analisis yang bisa menguatkan peluang Jokowi-Ahok untuk memenangkan Pilkada Jakarta, antara lain:

[a]. Sejak kemenangan SBY dalam Pilpres 2004 lalu, kandidat-kandidat yang menang dalam pemilu, rata-rata bukan karena faktor ideologis; bukan pula karena faktor program dan agenda yang hebat; tetapi lebih karena faktor OPINI MEDIA dan STRATEGI VISUALISASI. Mayoritas pemilih lebih melihat penampilan kandidat dan popularitasnya. Calon yang tampak ganteng, muda, keren, dan didukung selebritis; sering kali memenangi pemilu.

[b]. Kondisi dalam poin ‘a’ di atas terjadi, karena sebagian besar para pemilih adalah kaum wanita (perempuan). Mereka ini sikap politiknya sangat dipengaruhi oleh PERASAAN, bukan timbangan ideologi. Ketika Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf memenangi Pilkada Jabar tahun 2008, hal itu karena penampilan mereka dianggap lebih fresh, dinamis, dan tersohor lagi.

[c]. Dalam Pilkada DKI tahun 2007, media-media massa seluruhnya mendukung pasangan Foke-Prijanto. Hal itu terjadi karena lawan dari Foke adalah pasangan Adang Dorodjatun dan Dany yang didukung PKS. Media massa ingin mengambil posisi berseberangan dengan PKS. Pada Pilkada 2012 ini media massa justru sebagian besar mendukung Jokowi-Ahok. Hingga presenter-presenter TV banyak memakai baju “kotak-kotak”, dan mereka tidak ada yang sengaja mempromosikan “kumis”.

[d]. Secara visual, ketika dipadukan antara gambar Foke-Nara dan Jokowi-Ahok; pasangan Jokowi lebih disukai, karena dia mencerminkan penampilan kalem, rendah hati, muda, energik, dan -yang paling penting- enak dilihat. Air muka Jokowi yang sering tersenyum, ramah, dan santai; hal itu sangat kontras dengan air muka Foke yang terkesan kaku, kethus, arogan, dan formalis. Para pemilih wanita, cenderung lebih menyukai Jokowi.

[e]. Slogan kampanye yang diusung Jokowi, untuk mengadakan perubahan di Jakarta, cukup mengena. (Soal nanti terjadi perubahan positif atau negatif, itu lain soal). Tapi ide perubahan ini cukup mengena di hati masyarakat. Sedangkan ide “bersatu” yang dibawa oleh Foke seolah mengesankan, di Jakarta sedang ada konflik sehingga masyarakat perlu bersatu.

[f]. Banyaknya pihak (terutama aktivis Muslim) yang ikut menyudutkan pasangan Jokowi-Ahok melalui isu-isu tertentu; hal tersebut akan membuat pasangan itu mendapat peluang melalui tema “pihak terzhalimi”. Hari ini aparat Jakarta dikerahkan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak memilih pemimpin non Muslim; juga munculnya isu-isu sejenis yang bersifat emosi keagamaan; hal ini bisa dimanfaatkan oleh tim sukses Jokowi-Ahok untuk memposisikan pasangan mereka sebagai orang “yang terzhalimi”.

Begitulah sebagian analisa yang bisa dikemukakan. Ini hanya analisa; yang terjadi di lapangan adalah apa yang Allah kehendaki harus terjadi. Dari segi apapun, kaum Muslimin harus siap menghadapi kenyataan nanti. Baik Jokowi maupun Foke, tidak ada yang ideal menurut kepentingan maslahat kaum Muslimin di Jakarta (dan Indonesia).

Jika benar Jokowi-Ahok yang menang; maka para aktivis, dai, ustadz, dan ormas Islam harus memikirkan bagaimana caranya agar gubernur yang terpilih itu tidak melakukan “balas dendam politik” karena mereka telah disudutkan sedemikian rupa, sebelum Pilkada terjadi.

Kalau Foke-Nara yang terpilih, para aktivis, dai, ustadz, dan ormas Islam harus juga ikut bertanggung-jawab; mereka harus mendorong agar Foke melakukan perubahan positif yang besar di DKI Jakarta; sebab jika tidak terjadi perubahan, nanti kondisi stagnan itu akan dianggap sebagai hasil kampanye politik Ummat Islam yang telah menolak Jokowi-Ahok.

Pada pagi hari, 20 September 2012 Pilkada Putaran ke-2 bergulir; mulai jam 12.00 siang, perhitungan quick count mulai bergerak; pada jam 17.00 atau 18.00 sudah kelihatan siapa pemenangnya. Yang jelas, Provinsi Jakarta bisa dipimpin oleh siapa saja; rakyat Jakarta bisa kecewa untuk kesekian kalinya; sementara media-media massa panen keuntungan terus.

Aku sendiri hanya “khawatir”…bagaimana kalau Jokowi benar-benar menang? Maksudnya, ada partai tertentu yang semula antipati dengan Foke; lalu mereka ingin menjalin aliansi dengan Jokowi dalam menghadapi Foke; ternyata kemudian dia “menjilat ludah sendiri” dengan mendukung Foke. Bagaimana kalau Jokowi menang, lalu mereka secara unyu-unyu datang ke kantor Jokowi untuk mengusahakan share kekuasaan?

Ya di dunia masa kini, media massa menjadi kekuatan tirani tak berperasaan. Semoga ke depan Pak Jokowi tidak melakukan diet, agar badannya tidak semakin mirip “tiang listrik”. Semoga juga Pak Foke mau mencukur kumisnya yang mbaplang itu, sebab itu tidak sesuai Sunnah Nabi.

Mine.


WARNING: Awas Krisis Moneter Jilid 2 !!!

September 13, 2012

Berikut ini sebuah tulisan berjudul: “CIDES: Defisit Ganda Tanda Awal Krisis.” Dimuat di Republika, pada 12 September 2012, hlm. 1. Tulisan ini membahas isu Krisis Moneter yang kemungkinan akan melanda Indonesia lagi. Disini kami kutipkan sebagian isi tulisan tersebut:

________________________________________________________________________

JAKARTA. Sinyal krisis moneter kembali menyala. Center for Information and Development Studies (CIDES), meminta pemerintah dan Bank Indonesia (BI) mewaspadai defisit ganda (defisit neraca perdagangan dan defisit neraca pembayaran) yang tengah berlangsung.

Peneliti CIDES, Umar Juoro, mengatakan, defisit ganda 14 tahun lalu menjadi gejala awal krisis ekonomi yang memorak-porandakan Asia Tenggara. “Ketika itu defisit neraca berjalan kita 2 %, dan Thailand 3 %,” kata Umar dalam diskusi di Jakarta, Selasa (11/9).

Menurut Umar, gejala yang bermula dari krisis keuangan itu, digunakan pelaku pasar modal untuk menghantam. “Begitu ada ketidak-seimbangan, orang akan menggunakan itu untuk menghantam.”

Padahal, Umar menjelaskan, fundamental ekonomi Indonesia saat itu (tahun 1997 –edt.) relatif kuat. Namun, banyaknya utang jangka pendek swasta menyeret fundamental ekonomi jadi goyah. Pada triwulan ke-3 tahun 2012, CIDES memprediksi neraca pembayaran tetap defisit. Alasannya, perlambatan ekonomi di negara tujuan ekspor Indonesia, seperti Cina.

Dengan kondisi ekspor melambat, CIDES menyatakan sisi impor menunjukkan angka besar. Impor barang non migas, seperti besi baja dan alat elektronik, masih cukup besar. Ini membuat hingga trimuwan ke-2 tahun 2012, neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit 2,8 miliar dolar AS. Surplus transaksi modal dan finansial tak mampu mengompensasi defisit ini.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sempat terjadi penurunan defisit neraca perdagangan yang cukup besar, pada Juli 2012 dari 1,3 miliar dolar AS (Juni) menjadi 176,5 juta dolar AS (Juli). Tapi penurunan itu ditutupi oleh penarikan dana asing (capital outflow) pada Agustus sebesar 410 miliar dolar AS.

Menurut Umar, para investor menarik dana dengan alasan mencari selamat dan mempertimbangkan terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dari waktu ke waktu. Grafik dolar AS dari Bank Indonesia menunjukkan, sejak awal tahun ini nilai tukar rupiah secara bertahap terus melemah terhadap dolar, menuju level Rp. 9.700 (per dolar-nya –edt.).

__________________________________________________________________________________________________

Pembacaan: Defisit neraca pembayaran, maksudnya pengeluaran pemerintah lebih besar dari penerimaan. Sedangkan defisit neraca perdagangan, maksudnya nilai impor lebih besar dari ekspor. Kalau pengeluaran pemerintah lebih besar dari pendapat; itu tandanya pemerintah tidak punya uang. (Tidak heran, jika pemerintah SBY sedang mengusahakan pinjaman luar negeri baru, senilai Rp. 32 triliun). Mestinya, uang ini bisa diambil dari pajak, hasil ekspor, dan lainnya. Tetapi hasil ekspor juga negatif. Pemasukan tidak ada, pengeluaran melalui impor malah semakin tinggi. Ini tanda-tanda EKONOMI SAKIT parah.

Harusnya, anggaran pemerintah itu surplus; pemasukan lebih besar dari pengeluaran; agar ada dana cukup untuk melakukan berbagai upaya pembangunan dan pemberdayaan. Tetapi dalam artikel di atas, nilai defisit ekspor-impor bisa mencapai 1,3 miliar dolar. Kemudian, hal itu ditambah lagi dengan kaburnya dana investasi asing keluar negeri, senilai 410 miliar dolar (atau sekitar 3977 triliun rupiah). Kalau benar data ini, berarti telah terjadi outflow (kaburnya modal) sangat besar sekali.

Kaum Muslimin di Indonesia harus hati-hati dengan kenyataan seperti ini. Bukan satu dua yang mengingatkan tentang bahaya Krisis Moneter seperti tahun 1997 lalu. Banyaknya kasus kerusuhan, kekerasan, terorisme, dan lainnya pada akhir-akhir ini; semua ini tampaknya seperti sebuah UPAYA PENGALIHAN dari ancaman krisis ekonomi ke depan. Otak bangsa Indonesia kini sedang disibukkan oleh berita-berita seputar kerusuhan, konflik agama, konflik agraria, juga terorisme; sehingga nanti tahu-tahu sudah terjadi krisis moneter jilid 2, sementara kita tidak siap apa-apa.

Lihatlah tanda-tandanya! China sedang bersiap meluncurkan seri mata uang emas; karena mereka khawatir uang kertas ini bisa “mati mendadak” di tengah jalan. Amerika sedang berusaha menempatkan sekitar 2500 marinir di Australia; sebagai jaga-jaga sekaligus ancaman bagi China agar mereka tidak membidik kawasan Asia Tenggara (ASEAN) sebagai sasaran empuk ekspansi bisnisnya. Saudi kini sedang terus memperkuat militernya dengan berbelanja senjata-senjata baru; karena mereka merasa sedang ada ancaman kuat yang mengancam di Timur Tengah. Adanya film “2012” jangan dianggap sebagai hiburan semata; ia adalah icon tanda bergulirnya suatu perubahan besar yang sedang direncanakan. Berhati-hatilah wahai Muslimin, hati-hatilah wahai Indonesia.

Krisis moneter dan dampak-dampak turunannya sangat besar pengaruhnya dalam menghancurkan kekuatan agama dan ekonomi bangsa Indonesia. Jika krisis itu terjadi lagi, alamat lebih suram masa depan kaum Muslimin di negeri ini. Nas’alullah al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah. []