Jokowi Menang di Pilkada DKI Putaran 2

Sebentar lagi, tanggal 20 September 2012, akan digelar Pilkada Jakarta putaran ke-2. Ya seperti yang dimaklumi, pasangan Jokowi-Ahok akan bertarung melawan pasangan Foke-Nara. Bertarung disini maksudnya bukan dalam arena duel “master martial art”, tapi dalam even Pilkada biasa.

Dari berbagai pertimbangan politik, ada dugaan kuat, pasangan Jokowi-Ahok akan memenangkan Pilkada Jakarta 2012. Ini bukan karena ramalan, berdasarkan wangsit, atau ilmu gathuk-gathuk-an. Juga bukan karena melihat hasil surve-surve yang aneh itu. (Surve-surve begituan tak perlu dianggap; intinya mereka kan mencari uang, bukan melayani kebenaran). Tetapi memang disini ada pertimbangan sains politiknya.

Pemilih Wanita Lebih Melihat Penampilan, Bukan Ideologi.

Ada beberapa analisis yang bisa menguatkan peluang Jokowi-Ahok untuk memenangkan Pilkada Jakarta, antara lain:

[a]. Sejak kemenangan SBY dalam Pilpres 2004 lalu, kandidat-kandidat yang menang dalam pemilu, rata-rata bukan karena faktor ideologis; bukan pula karena faktor program dan agenda yang hebat; tetapi lebih karena faktor OPINI MEDIA dan STRATEGI VISUALISASI. Mayoritas pemilih lebih melihat penampilan kandidat dan popularitasnya. Calon yang tampak ganteng, muda, keren, dan didukung selebritis; sering kali memenangi pemilu.

[b]. Kondisi dalam poin ‘a’ di atas terjadi, karena sebagian besar para pemilih adalah kaum wanita (perempuan). Mereka ini sikap politiknya sangat dipengaruhi oleh PERASAAN, bukan timbangan ideologi. Ketika Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf memenangi Pilkada Jabar tahun 2008, hal itu karena penampilan mereka dianggap lebih fresh, dinamis, dan tersohor lagi.

[c]. Dalam Pilkada DKI tahun 2007, media-media massa seluruhnya mendukung pasangan Foke-Prijanto. Hal itu terjadi karena lawan dari Foke adalah pasangan Adang Dorodjatun dan Dany yang didukung PKS. Media massa ingin mengambil posisi berseberangan dengan PKS. Pada Pilkada 2012 ini media massa justru sebagian besar mendukung Jokowi-Ahok. Hingga presenter-presenter TV banyak memakai baju “kotak-kotak”, dan mereka tidak ada yang sengaja mempromosikan “kumis”.

[d]. Secara visual, ketika dipadukan antara gambar Foke-Nara dan Jokowi-Ahok; pasangan Jokowi lebih disukai, karena dia mencerminkan penampilan kalem, rendah hati, muda, energik, dan -yang paling penting- enak dilihat. Air muka Jokowi yang sering tersenyum, ramah, dan santai; hal itu sangat kontras dengan air muka Foke yang terkesan kaku, kethus, arogan, dan formalis. Para pemilih wanita, cenderung lebih menyukai Jokowi.

[e]. Slogan kampanye yang diusung Jokowi, untuk mengadakan perubahan di Jakarta, cukup mengena. (Soal nanti terjadi perubahan positif atau negatif, itu lain soal). Tapi ide perubahan ini cukup mengena di hati masyarakat. Sedangkan ide “bersatu” yang dibawa oleh Foke seolah mengesankan, di Jakarta sedang ada konflik sehingga masyarakat perlu bersatu.

[f]. Banyaknya pihak (terutama aktivis Muslim) yang ikut menyudutkan pasangan Jokowi-Ahok melalui isu-isu tertentu; hal tersebut akan membuat pasangan itu mendapat peluang melalui tema “pihak terzhalimi”. Hari ini aparat Jakarta dikerahkan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak memilih pemimpin non Muslim; juga munculnya isu-isu sejenis yang bersifat emosi keagamaan; hal ini bisa dimanfaatkan oleh tim sukses Jokowi-Ahok untuk memposisikan pasangan mereka sebagai orang “yang terzhalimi”.

Begitulah sebagian analisa yang bisa dikemukakan. Ini hanya analisa; yang terjadi di lapangan adalah apa yang Allah kehendaki harus terjadi. Dari segi apapun, kaum Muslimin harus siap menghadapi kenyataan nanti. Baik Jokowi maupun Foke, tidak ada yang ideal menurut kepentingan maslahat kaum Muslimin di Jakarta (dan Indonesia).

Jika benar Jokowi-Ahok yang menang; maka para aktivis, dai, ustadz, dan ormas Islam harus memikirkan bagaimana caranya agar gubernur yang terpilih itu tidak melakukan “balas dendam politik” karena mereka telah disudutkan sedemikian rupa, sebelum Pilkada terjadi.

Kalau Foke-Nara yang terpilih, para aktivis, dai, ustadz, dan ormas Islam harus juga ikut bertanggung-jawab; mereka harus mendorong agar Foke melakukan perubahan positif yang besar di DKI Jakarta; sebab jika tidak terjadi perubahan, nanti kondisi stagnan itu akan dianggap sebagai hasil kampanye politik Ummat Islam yang telah menolak Jokowi-Ahok.

Pada pagi hari, 20 September 2012 Pilkada Putaran ke-2 bergulir; mulai jam 12.00 siang, perhitungan quick count mulai bergerak; pada jam 17.00 atau 18.00 sudah kelihatan siapa pemenangnya. Yang jelas, Provinsi Jakarta bisa dipimpin oleh siapa saja; rakyat Jakarta bisa kecewa untuk kesekian kalinya; sementara media-media massa panen keuntungan terus.

Aku sendiri hanya “khawatir”…bagaimana kalau Jokowi benar-benar menang? Maksudnya, ada partai tertentu yang semula antipati dengan Foke; lalu mereka ingin menjalin aliansi dengan Jokowi dalam menghadapi Foke; ternyata kemudian dia “menjilat ludah sendiri” dengan mendukung Foke. Bagaimana kalau Jokowi menang, lalu mereka secara unyu-unyu datang ke kantor Jokowi untuk mengusahakan share kekuasaan?

Ya di dunia masa kini, media massa menjadi kekuatan tirani tak berperasaan. Semoga ke depan Pak Jokowi tidak melakukan diet, agar badannya tidak semakin mirip “tiang listrik”. Semoga juga Pak Foke mau mencukur kumisnya yang mbaplang itu, sebab itu tidak sesuai Sunnah Nabi.

Mine.

Iklan

8 Responses to Jokowi Menang di Pilkada DKI Putaran 2

  1. muslim berkata:

    satu lagi Pak..Jokowi itu jawa banget..warga jakarta adalah mayoritas jawa..biar bagaimanapun wala ala suku masih kuat di indonesia, setinggi apapun pendidikannya, para pemilih di indonesia tetap kental dengan wala ala suku..tidak terkecuali di Jakarta

  2. Hardiono berkata:

    @ Muslim

    Meskipun banyak orang Jawa di Jakarta, tapi kalau paka Jokowi menang, itu bukan karena beliau orang Jawa. Ini pilgub DKI, lho. Dan orang orang Jawa tersebut sudah menjadi orang Jakarta.

    Berbeda dengan seandainya ini adalah pemilihan kepala daerah di Jawa Tengah yang mana calon yang satu adalah orang Jawa sementara saingannya non-Jawa. Barulah orang jawa akan kuat wala ala suku-nya.

  3. Yuk kita tunggu Hasil Pilkada DKI Putaran 2 semoga berjalan lancar dan siapapun yang menang dapat membawa perubahan Jakarta ke arah yang lebih baik.

  4. mercadeo berkata:

    Seperti yang kita ketahui, edisi pemilihan kepala daerah DKI Jakarta tahun 2012, harus dilalui dalam dua putaran. PAsangan Jokowi-Ahok yang “tidak” diperhitungkan, mampu membuat pasangan incumbent Foke-Nara ketar-ketir. Banyangkan saja, pada putaran I pasangan kotak-kotak ini unggul telak atas pasangan lainnya, termasuk pasangan incumbent.

  5. Muslim berkata:

    @Hardiono
    Terima kasih atas tanggapannya Pak..

    saya ingin katakan, saya berpendapat setelah melakukan pengamatan & berinteraksi langsung dengan calon-calon pemilih di DKI..kesimpulannya bahwa unsur primordialisme itu masih kuat tak terkecuali di DKI

    sistem pemilu yang menganut azas “one man, one votes” cenderung akan memenangkan calon yang memiliki kesamaan dan ikatan emosional dengan si pemilh,
    Di Jakarta itu, populasinya MAYORITAS beretnis jawa, jadi sangat mungkin MAYORITAS lebih pro Jokowi, ketimbang Foke yang dikesankan agak ” Betawi”

    percaya ga kalau PDIP memilih Jokowi salah satu faktor di antaranya adalah karena ke-Jawaannya..
    sehingga diharapkan masyarakat Jawa yang ada di Jakarta tanpa beban memilih Jokowi.

    Jangankan untuk pilkada yang kental unsur kedaerahannya, untuk pemilu presiden saja, unsur primodial masih dimainkan secara sadar oleh partai politik. Partai politik cenderung memilih capres dari etnis Jawa. Ini karena etnis Jawa memang memiliki populasi tertinggi. Yang tidak memilih etnis Jawa pun pada akhirnya merapatkan diri seolah memahami budaya Jawa.

    ini Rahasia Umum..tidak usah dipungkiri

  6. Imam Syafii berkata:

    Aku sendiri hanya “khawatir”… bagaimana kalau Jokowi menang, lalu mereka secara unyu-unyu datang ke kantor Jokowi untuk mengusahakan share kekuasaan?

    ———————–

    Ini menarik, karna bila mencermati partai yg Ustadz singgung, Partai Kecil Sombong, bisa jadi mereka berbalik lobi ke Gubernur yg diprediksi menang untuk selain menjilat ludah sendiri juga main gertak sambal. Liat nih, partai gue mayoritas kedua di legislatif, jadi ente mesti cingcai ama ane dulu klo mau aman 5 tahun. Partai ini kan pinter ‘nyanyi’ di DPRD..

  7. ERIL berkata:

    Saya juga menduga Jokowi-Ahok akan memenangkan Pilkada 2 DKI Jakarta besok. Ingat selain suku Jawa, suku luar Jawa juga paling demmand sama Jokowi-Ahok> sementara kita tau bersama penduduk Jakarta sebagian besar adalah perantau, dari sabang sapai merauke ada di Jakarta.. Yg harus diwaspadai jgn sampai ada kecurangan Pilkada yg menguntungkan Incumbent.. Ayo Jokowi “Bangun Jakarta”, pasti kamu bisa…

  8. yanto berkata:

    Ya semestinya kita pilih yang mau mendengarkan suara rakyat tidak sombong dan tidak pura pura baik selagi ada pesaing yang memang asli baik.

%d blogger menyukai ini: