Cara Menyikapi Film Provokasi

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seorang pemuda Islam begitu gelisah ketika mendengar beredarnya film provokasi yang dibuat oleh Sam Bacille. Dia mengirim SMS yang bunyinya, kira-kira sebagai berikut (tidak disalin utuh):

Bismillah, ustadz afwan, bagaimana sikap kita terhadap film jahannam buatan iblis, yang telah menghina Nabi kita, Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam? Apakah ada artikel/tulisan yang menjelaskan tentang hal ini? Kalau bisa hendaknya disegerakan untuk menulis. Lebih banyak tulisan, lebih baik. Ada beberapa ustadz sudah menanggapi. Film tersebut sudah tersebar luas, ustadz. Hingga ustadz kami mengalirkan air mata, sambil berkata “Laa haula wa laa quwwata illa billah” berkali-kali dengan nada tinggi. Amerika benar-benar ngajak perang! Allahul Musta’an. Semoga emosi kaum Muslimin senantiasa diiringi dengan ilmu, hikmah, dan kecerdasan; dan semoga kaum Muslimin diberi kekuatan oleh Allah dalam melawan makar serta kebiadaban orang-orang kafir yang merupakan musuh abadi kaum Mukminin, selain syaithanirrajiim, sampai tegaknya Hari Kiamat. (Dikirim 19 September 2012; antara jam 10.30 WIB hingga jam 16.00 WIB).

Terkait peredaran film provokasi berjudul “the innocence” ini, ada beberapa sikap dan pertimbangan yang perlu kita hadirkan. Disini akan ditulis secara ringkas, sehingga mudah untuk dipahami dan diamalkan, insya Allah.

(1). Mula-mula kita harus mengucapkan “alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin”, jika hati dan jiwa kita menolak, membenci, dan mengutuk keras peredaran film itu. Selagi kita masih memiliki semangat mencintai simbol-simbol keislaman, seperti sosok Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam dan sifat-sifat kemuliaannya; itu pertanda kita masih beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Ini yang terpenting. Kalau Nabi telah dihujat, lalu kita diam saja, itu pertanda sikap keimanan yang aneh.

Dalam riwayat shahih disebutkan, manisnya iman akan dirasakan dalam diri seseorang karena 3 perkara: “Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari siapapun; dia mencintai sesuatu karena Allah, membencinya juga karena Allah; dia membenci kekafiran, seperti bencinya kalau dilemparkan ke neraka.” (HR. Imam Bukhari, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu). Jadi, selagi rasa benci dan muak kepada apa saja yang merendahkan kehormatan Sayyidul Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam tersebut, adalah bukti keimanan.

Kita Merindukan Sultan Islami yang Melindungi Ummat dan Izzah Islam.

(2). Bila ada orang kafir, Yahudi-Nasrani, atau orang musyrikin, atau kaum sesat yang telah melampaui batas seperti Syiah Rafidhah, membuat provokasi; mereka menghina Allah dan Rasul-Nya, menghina para Shahabat dan kemuliaannya, menghina Al Qur’an dan kesuciannya, menghina kaum Muslimin dan martabatnya; maka atas semua perbuatan itu, kita jangan merasa heran dan terkejut. Memang itu sudah khas perbuatan orang-orang kufar, sejak zaman dahulu sampai saat ini. Nabi dan para Shahabat pernah dihina oleh orang-orang kufar itu; maka kita selaku pengikut jejak Nabi dan Shahabat, pasti akan menerima perlakuan yang sama (penghinaan) juga dari musuh-musuh Islam. Itu sudah pasti.

Wa kadzalika ja’alna li kulli nabiyyin ‘aduwwan minal mujrimin, wa kafa bi rabbika hadiyan wa nashiran” (demikianlah telah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh-musuh dari golongan manusia-manusia pendosa, dan cukuplah Rabb-mu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong). [Al Furqan: 31].

Cobaan ini bukan hanya menimpa para Nabi dan Rasul; tetapi juga menimpa semua pengikut mereka, di segala zaman. Maka kita jangan merasa terkejut bila kaum kufar dan manusia-manusia sesat terus menguji keimanan dan kesabaran kita. Karena pada dasarnya, apalagi amalan bagi kaum kufar itu, kalau tidak memusuhi para penganut agama Allah Rabbul ‘alamiin? Kalau mereka tidak boleh memusuhi kita, mereka jelas tidak akan memiliki “tabungan amal”.

(3). Kaum Muslimin harus benar-benar menyadari bahwa keimanan di dada kita ini pasti akan diuji, untuk dibuktikan apakah komitmen keimanan kita itu benar atau palsu, atau sekedar formalitas, atau bahkan palsu belaka. “Wa lanabluwannakum bi syai’in minal khaufi wal ju’i wa naqshin minal amwaali wal anfusi wats-tsammaraat, wa bassyiris shabirin; alladzina idza ashabathum mushibah, qaalu inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun” (dan benar-benar Kami akan menguji kalian dengan ketakutan, rasa lapar, dan krisis harta, jiwa, dan hasil pertanian, maka berikan berita gembira kepada orang-orang shabar, yaitu mereka yang apabila tertimba suatu mushibah, mereka berkata ‘inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun’). [Al Baqarah: 155-156].

Nabi Saw juga bersabda, “Hujibatin naaru bis syahawat, wa hujibatil jannatu bil makarih” (jalan ke neraka itu dipenuhi aneka kesenangan syahwat; sedangkan jalan ke surga itu dipenuhi hal-hal yang tidak disukai). Juga ada riwayat lain yang mengatakan, “Ad dunya sijnu lil Mukmin wal jannatu lil kafir” (dunia ini adalah penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir). Berbagai nikmat dunia tak ada artinya dibandingkan harapan nikmat surga nanti, sehingga rasanya dunia ini seperti penjara. Sebaliknya, bagi orang kafir, nikmat dunia ini adalah kesempatan mereka bersenang-senang terakhir kalinya, karena setelah itu tidak ada kesenangan lagi. Ini adalah “surganya” orang kafir, sebab mereka tak akan dapat nikmat lagi setelah mati.

Bila-bila masa engkau mendapati dirimu atau Ummatmu selalu dicoba, selalu diberi cabaran menyakitkan, oleh manusia-manusia kufar dan tidak beriman itu; bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah. Mengapa? Karena dalilnya: “Innallaha ma’as shabirin” (sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar). [Al Baqarah: 153]. Kalau Anda ingin agar selalu dekat dengan Allah, diberi pimpinan, cinta, dan petunjuk oleh-Nya…ya harus mau bersabar. Iya kan.

(4). Menyikapi tersebarnya film “the innocence” itu banyak kaum Muslimin yang bersikap reaktif, emosional, atau histeris. Mestinya, begitu kita diserang dengan film propaganda, segera lakukan bantahan secepatnya. Terbitkan film bantahan yang berusaha meluruskan propaganda itu. Serangan pemikiran, lawan dengan bantahan pemikiran; propaganda buku, lawan dengan bantahan buku; kampanye hitam lewat film, lawan dengan film bantahannya. Ya, kita jangan lupa dengan adab semacam ini. Dalam ayat disebutkan, “Wa in ‘aqabtum, fa ‘aqibuu bi mits-li maa ‘aqabtum bihi; wa lain shabartum, lahuwa khairun lis shabirin” (jika engkau diserang, maka seranglah mereka dengan balasan setimpal; namun jika kalian mau sabar, benar-benar ia merupakan kebaikan bagi orang-orang yang sabar). [An Nahl: 126].

Kalau kita menghadapi provokasi itu dengan emosi dan marah-marah selalu, tanpa memberi bantahan, penjelasan, atau kritikan balik; nanti kita akan disebut sebagai kaum yang reaktif, mudah marah, dan emosional. Jika itu yang terjadi, maka orang-orang kafir sangat senang mempermainkan kaum yang mudah marah ini. Bukankah marah itu identik dengan godaan syaitan? Maka wahai saudaraku budiman rahimahukumullah, cobalah kini lakukan bantahan sebanyak-banyaknya terhadap film propaganda Yahudi itu. Bantahlah, bantahlah mereka dengan bantahan yang baik; hingga orang-orang non Muslim akan melihatmu sebagai kaum yang dewasa, stabil jiwanya, kuat mentalnya, dan cerdas diskusinya.

Kami khawatir, lahirnya film itu memang untuk memancing amarah kaum Muslimin; agar keluar sifat-sifat buruk kita, lalu dunia internasional menyaksikan semua itu; sehingga orang yang semula sudah bersimpati kepada Islam, mendadak kehilangan minatnya; karena melihat amarah, emosi, dan reaksi kekerasan oleh kita. Setahu kami, produk-produk propaganda yang dibuat oleh Salman Rushdie, Geert Wilders, Irshad Manji, Terry Jones, koran Jayland Posten, Sam Bacille, dll. adalah untuk tujuan “provokasi amarah” ini. Mana ada sih manusia yang suka melihat kaum yang pemarah, emosional, dan sering bertindak keras?

(5). Substansi film “the innocence” itu adalah kampanye hitam. Maka tugas kita menjawabnya dengan kampanye putih. Kalau disana digambarkan bahwa Nabi bersifat maniak seks; kita jelaskan bahwa mayoritas isteri Nabi bukan gadis, yang gadis hanya ‘Aisyah saja, malah di antaranya ada yang sudah usia nenek-nenek (Saudah binti Zam’ah Radhiyallahu ‘Anha). Kalau disana disebutkan Nabi melakukan pedofili (seks dengan anak kecil), maka kita jelaskan bahwa usia Aisyah Radhiyallahu ‘Anha saat menikah dengan Nabi adalah 9 tahun. Ia bisa dianggap usia remaja. Malah ada yang menyebut usia beliau mencapai 15 tahun. (Sebuah contoh faktual, putri kami ada yang berusia sekitar 12 tahun, dari tinggi dan fisiknya lebih besar dari ibunya). Kalau Nabi Saw dianggap pedofili, maka beliau akan punya banyak isteri yang usia anak-anak; sementara isteri Nabi yang lain, umumnya kaum janda dan ada nenek-neneknya.  Justru kaum pedofili mencari anak-anak karena sudah tidak mau dengan wanita dewasa. Anda tidak akan menemukan ada pedofili yang sudi menikah dengan para janda, apalagi nenek-nenek. Kalau Nabi kita difitnah bahwa beliau mengobarkan perang dan kekerasan; ya tinggal kita jelaskan: yang ratusan tahun menjajah negara-negara Asia-Afrika itu siapa? Yang pertama mengobarkan Perang Salib siapa? Yang terjun dalam Perang Dunia I dan II hingga jatuh korban jutaan manusia itu siapa? Yang menyiksa bocah-bocah Palestina, menyiksa wanita dan penduduk sipil disana, sejak era tahun 1927 sampai saat ini siapa? Jadi orang-orang kafir ini jangan pura-pura bego terhadap sejarah gelap mereka. Mereka belagak suci, padahal sejarahnya kelam. Harus dicatat, dalam Islam dikenal ajaran Jihad; tetapi Islam tidak mengenal tujuan penjajahan (kolonialisme dan imperialisme). Tujuan Jihad dalam Islam ialah membela diri, mengamankan wilayah negeri, atau menyebarkan pengaruh agama; bukan kolonialisme seperti Romawi, Persia, Eropa, Amerika, Rusia, dll. Kalau suatu kaum sudah masuk Islam, seketika itu mereka sederajat dengan kaum yang membawa Islam ke tengah mereka. Intinya, propaganda film itu dan propaganda semisal, adalah semacam dorongan bagi kita untuk lebih mempelajari Islam, lebih dalam memahami detail agama kita, serta lebih mencintai agama ini. Karena propaganda sejenis itu tidak berpengaruh banyak bagi orang-orang yang berilmu.

(6). Secara umum, film “the innocence” adalah termasuk produk sampah. Namanya juga sampah, jangan dianggap berharga. Cukup katakan kepadanya: “Ini film sampah. Dibuat oleh orang gila yang lepas dari Rumah Sakit Jiwa.” Jangan kita menghabiskan energi untuk melayani film sampah ini. Justru lakukan kritik film sedalam-dalamnya, lalu simpulkan: “Ini film sampah! Jauhkan dari anak kecil!”

(7). Dalam level hukum, kaum Muslimin bisa memanfaatkan celah-celah hukum yang ada untuk menuntut si pembuat film itu dan aktor intelektualnya. Kasus demikian bisa dibawa ke ranah hukum. Coba sarjana-sarjana hukum Muslim, organisasi-organisasi Islam, atau perguruan-perguruan tinggi Islam; cobalah mereka bangkit untuk menuntut si pembuat film diseret ke pengadilan. Ini lebih kesatria, elegan, dan nyata dampaknya; agar nanti tidak muncul lagi provokasi-provokasi semacam itu. Demonstrasi sekedar untuk menunjukkan sikap kita yang menolak, membenci, dan menista film itu; ya silakan dilakukan. Tetapi biar lebih kongkrit lagi, tuntut si pembuat film agar diseret ke pengadilan setempat.

(8). Jika menyadari masalah-masalah demikian wahai Saudaraku, apa yang benar-benar engkau impikan hadir di tengah dunia ini? Apakah itu? Ya benar, ia adalah Daulah Islamiyyah, sebuah negeri Islami yang berdaulat berdasarkan agama Allah dan Rasul-Nya secara kaffah; berdasarkan Islam dalam ruhnya, filosofi pemikirannya, kepemimpinannya, sanksi hukumnya, sistem muamalah dan pergaulan sosialnya, sistem pertahanan, hingga ke simbol-simbolnya. Di atas sistem Islami, maka jika sewaktu-waktu orang kafir melakukan provokasi, maka pemimpin Islami, amir kaum Muslimin akan segera tampil ke muka untuk meruntuhkan provokasi itu; layaknya Sang Sultan Muhammad Al Fatih rahimahullah mengangkat Izzah Ummat ini dan membersihkan kesucian agama Sayyidul Mustafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam dari kotoran-kotoran yang dilontarkan kaum kufar.

Namun kini wahai saudaraku, wahai kawan, kerabat, dan guru-guru yang budiman,…siapa kini yang bisa kita harapkan untuk menjaga kehormatan agama Nabi ini? Siapa wahai saudaraku? Adakah Muhammad Al Fatih di antara kita? Adakah Shalahuddin Al Ayyubi di tengah kita? Adakah Khalifah Umar Radhiyallahu ‘Anhu di antara kita? Hanya kepada Allah kita menangis dan meratapi kenestapaan Ummat ini… Bukan karena kita hendak putus-asa; tidak, selamanya kita akan tetap membela agama Sayyidul Mursalin ini, hingga kita tak sanggup lagi memberikan pembelaan apapun. Namun adalah wajar jika orang seperti diriku mendambakan tegaknya Daulah Islami, dan hadirnya seorang Sultan panutan Ummat, yang kan menjaga kehormatan agama ini dengan jiwa dan raganya. Sungguh, teramat berat memikul amanah Ummat ini, tanpa hadirnya kekuasaan Islami yang menolong dan mengasihi kaum Muslimin Ahlus Sunnah di muka bumi ini. Kekuasaan itulah alat yang dijadikan oleh Allah untuk menolong agama-Nya dan kaum Muslimin. Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan tiga pilar kekuatan Ummat, yaitu: Sultan, harta-benda, dan Jihad.

Hingga akhirnya, setiap cobaan dan masalah yang hadir di depan mata kita, semua itu adalah wasilah agar kita kembali kepada Allah, kembali kepada agama-Nya, kembali kepada Tauhid dan kedaulatan hukum-Nya. Nabi Saw dalam riwayat berkata –kurang lebih-: “Lasallathallah ‘alaikum dzillan laa yan’ziuhu hatta tarji’a ila amri dinikum” (benar-benar Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, dan Dia tidak akan mengangkat kehinaan itu, hingga kalian kembali ke ajaran agama kalian).

Demikianlah sikap atau cara yang bisa kita hadirkan dalam menyikapi provokasi-provokasi orang kafir melalui apapun media. Intinya, tetaplah istiqamah dengan nilai-nilai Islam; hadapi setiap provokasi secara Islami, sebagaimana kita ingin agar nilai-nilai Islam itu tegak dalam kehidupan kita. Syaikh Al Albani rahimahullah berulang kali mengutip pandangan tokoh ulama Pakistan (kalau tidak salah Abul A’la Al Maududi rahimahullah): “Fa aqim daulatal Islami fi qulubiku, takun lakum fi ardhikum” (tegakkan Daulah Islam dalam hatimu, maka ia akan tegak di tengah masyarakatmu).

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Ardhullah, 20 september 2012.

(Abah Syakir).

About these ads

7 Balasan ke Cara Menyikapi Film Provokasi

  1. tegoeh mengatakan:

    [[“Fa aqim daulatal Islami fi qulubiku, takun lakum fi ardhikum” (tegakkan Daulah Islam dalam hatimu, maka ia akan tegak di tengah masyarakatmu).]]

    >>aqidahnya ‘salaf’, manhajnya sufi

  2. rabek88 mengatakan:

    makasih ustad atas informasi dan ilmunya

  3. Fulan mengatakan:

    Alhamdulillah, inilah sikap proporsional yg saya tunggu2 melengkapi apa yg difatwakan Mufti Saudi. Sungguh suatu keharusan dan keharusan bagi seorang muslim utk tidak terima atas penghinaan tsb sbg indikasi kecintaan kpd Baginda Nabi. namun yg saya kuatirkan spt apa yg Ustadz analisa bahwasanya ini memang rencana jahat kaum kuffar utk memancing emosi dan kemarahan umat muslim sehingga out of control, dan terbukti penghinaan sejenis sdh keluar di Prancis dg karikatur yg sekali lagi menghujat Nabi. Efek akhirnya mereka akan mempunyai pembenaran utk menyerang balik umat islam. Ya Allah berilah kami kesabaran dan kemampuan utk membalas mereka dg sepadan atau bahkan lebih dan lebih elegan tentunya yg akan menunjukkan kemulian islam.

  4. Fulan mengatakan:

    Alhamdulillah, inilah sikap proporsional yg saya tunggu2 melengkapi apa yg difatwakan Mufti Saudi. Sungguh suatu keharusan dan keharusan bagi seorang muslim utk tidak terima atas penghinaan tsb sbg indikasi kecintaan kpd Baginda Nabi. namun yg saya kuatirkan spt apa yg Ustadz analisa bahwasanya ini memang rencana jahat kaum kuffar utk memancing emosi dan kemarahan umat muslim sehingga out of control, dan terbukti penghinaan sejenis sdh keluar di Prancis dg karikatur yg sekali lagi menghujat Nabi. Efek akhirnya mereka akan mempunyai pembenaran utk menyerang balik umat islam. Ya Allah berilah kami kesabaran dan kemampuan utk membalas mereka dg sepadan atau bahkan lebih dan lebih elegan tentunya yg akan menunjukkan kemulian islam.

  5. azzam mengatakan:

    “Menyikapi tersebarnya film “the innocence” itu banyak kaum Muslimin yang bersikap reaktif, emosional, atau histeris. Mestinya, begitu kita diserang dengan film propaganda, segera lakukan bantahan secepatnya. Serangan pemikiran, lawan dengan bantahan pemikiran; propaganda buku, lawan dengan bantahan buku; kampanye hitam lewat film, lawan dengan film bantahannya. ”
    ————-
    ana kurang setuju dengan kalimat diatas.. jika para muslimah diperkosa olh para kafir salibis, apakah kita akan balas memperkosa wanita2 mereka? bukankah sudah jelas bahwa BALASAN pagi penghina rasulullah adalah pedang (bunuh)?

  6. abisyakir mengatakan:

    @ Azzam…

    Ana kurang setuju dengan kalimat diatas.. jika para muslimah diperkosa olh para kafir salibis, apakah kita akan balas memperkosa wanita2 mereka? bukankah sudah jelas bahwa BALASAN pagi penghina rasulullah adalah pedang (bunuh)?

    Respon:

    Ya pandangan Anda benar, KALAU kaum Muslimin memiliki kedaulatan/kekuasaan hukum, lalu penghina Nabi itu ada di daerah otoritas kekuasaan kaum Muslimin. Baru logika Anda bisa dibenarkan. Sementara, kondisi kita seperti ini. Tidak ada satu pun negara di dunia kini yang mengklaim diri sebagai Daulah Islamiyyah. Lalu bagaimana cara menuntut para penghina itu? Apa bisa dengan pedang?

    Kalau soal memperkosa wanita Muslimah; ya lakukan “bantahannya”. Bantahannya berupa apa? Ingkari perbuatan itu, anggap ia sebagai jarimah (kejahatan), tuntut pelakunya ke meja pengadilan. Kalau otoritas hukum Islam ada, dan pelakunya ada di wilayah otoritas itu, ya tangkap, lalu hukum sesuai Syariat.

    Maka itu, Rasulullah Saw baru menghukum mati para penghina beliau, ketika sudah Fathu Makkah, ketika Makkah sudah jatuh ke tangan Islam. Sebelum itu, pelakunya dibiarkan berkeliaran di Makkah.

    Admin.

  7. jojo mengatakan:

    Alhamdulillah,segala puji bagi Alloh rabb,seluruh alam, sholawat serta salam selamanya utk nabiyulloh Muhammad SAW. semoga paparan yg sedemikian gamblang ini menjadi panduan bagi kita dalam menyikapi setiap gerakan anti Islam yg dikobarkan kaum kuffar beserta antek2nya, terimakasih banyak atas penyadaran yang anda berikan ini semoga Alloh selalu memberi rahmat Dan barokahnya terhadap anda Dan Keluarga.amiiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 129 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: