Jangan Munafik Deh…

September 13, 2012

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah koran. Koran ini tampak aneh, nama kurang dikenal, cetakan hitam-putih, dengan kertas seadanya. Disana ada sebuah berita tentang ulah seorang selebritis wanita yang sengaja menyebar foto-foto vulgar di internet.

Setelah menyebar foto, si selebritis bukan menyesal, malah merasa bangga. Dia meminta supaya masyarakat tidak mencela dirinyaa, tapi cukup menikmati saja foto-fotonya itu. “Tidak usah munafik deh,” begitu kata selebritis itu.

Bukan Munafik Mbak. Tapi Sudah Fitrah Manusia Begitu.

He he he…lucu juga pernyataan itu. Mbak, Mbak…namanya laki-laki, kalau tertarik atau terangsang oleh foto-foto vulgar, itu bukan munafik; tapi memang normalnya begitu. Secara fitrah, kaum laki-laki memang bangkit syahwatnya kalau melihat foto-foto atau gambar sensual. Kalau tidak tertarik lagi dengan gambar atau model tubuh wanita, berarti sudah impoten atau punya kelainan orientasi seksual.

Maksudnya, jangan memakai kata “tidak usah munafik deh”. Ini penggunaan kalimat yang tidak tepat. Kata munafik tidak tepat dipakai dalam situasi “kecenderungan” alami.

Misalnya seseorang perutnya sangat lapar, karena seharian belum makan; lalu ditawari makan nasi uduk hangat, dengan lauk telur dadar dan gurame goreng, ditambah sambal tomat dan lalapan; pasti orang itu akan sangat menikmati makannya. Atau misalnya, seseorang selesai berjalan jauh berkilo-kilometer, di tengah terik matahari, kerongkongan sangat haus; lalu ditawari minum es teh manis, jelas dia akan sangat senang dan bersyukur. Dalam kondisi seperti ini, orang yang menawari nasi uduk atau es teh, jangan mengatakan “tidak usah munafik deh”.

Nabi Saw sudah memberi makna yang tepat tentang kemunafikan. Kata beliau, tanpa munafik itu ada 3; kalau bicara dusta, kalau berjanji ingkar, kalau dipercaya khianat. Nah, inilah makna kemunafikan hakiki. Jangan ditarik ke wilayah yang bukan porsinya.

Intinya, jangan menuduh munafik bagi setiap laki-laki normal yang terangsang ketika melihat gambar atau media pornografi. Itu sudah wajar dan senormalnya begitu. Meskipun perbuatan seperti itu juga berdosa –menurut Syariat-. Tetapi jangan pula mencela selebritis semacam itu secara berlebihan, sebab hal tersebut bisa membuat dia semakin nekad dalam kevulgarannya.

Ya begitulah wanita… bila pernah menikah dan mendapatkan konsumsi “hubungan” secara wajar, lalu tiba-tiba kebutuhannya terputus; maka dia akan merasa tersiksa. Kecuali, bagi tabiat wanita yang taat dan sabar dalam menetapi ibadah kepada Allah Al Jalil. Mereka dihibur oleh Allah dengan sakinah, manakala wanita “ganjen” tidak mendapatkannya. []

Iklan

Menggugat Moral Para Politisi…

September 5, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di era politik demokrasi seperti selama ini, kita sangat sering menyaksikan suatu kenyataan (fenomena), yaitu: Kepala daerah tertentu yang sedang menjabat, berambisi mengikuti pemilihan kepala daerah yang lebih tinggi di tempat lain. Dalam Pilkada Jakarta 2012, ada beberapa kepala daerah yang masih aktif, ikut dalam kompetisi memperebutkan kursi Gubernur DKI Jakarta itu. Ada yang masih menjabat gubernur di daerah lain, ada yang menjabat walikota; bahkan ada yang masih menjabat sebagai anggota DPR dan lainnya.

Semua ini adalah mencerminkan hancurnya moralitas politik di negeri ini. Para politisi hanya mengejar jabatan politik saja, dan amat sangat berambisi meraih jabatan lebih tinggi; sehingga dia rela meninggalkan atau menyia-nyiakan jabatan yang sudah diperolehnya. Masya Allah, begitu tingginya mereka menilai jabatan yang hendak dikejar, dan begitu rendahnya mereka menilai jabatan yang sedang diemban. Para politisi semacam inilah yang selama ini terus menganiaya bangsa.

Politisi Bulus, Hanya Mengejar Kekuasaan. Melupakan Amanah Rakyat.

Ada banyak kritik yang bisa diberikan disini…

Kaidah dasar yang menjadi acuan disini adalah: “Seorang pejabat yang sedang mengemban suatu jabatan, dimana jabatan itu diperoleh melalui mekanisme pemilihan, maka dia tidak layak mengikuti pemilihan lain untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi.” Secara aturan UU, mungkin cara demikian legal; tetapi secara moral, ia sangat bobrok. Para pejabat semacam itu sangat kelihatan hanya berambisi mencari jabatan birokrasi saja; bukan melayani rakyatnya. Kalau jujur melayani rakyat, ya tuntaskan pekerjaan kalian, jangan tegiur iming-iming jabatan politik lain.

Kalau diumpamakan, seperti seorang pemuda yang mati-matian ingin menikahi seorang gadis. Pemuda itu memuji, merayu, berjanji, dan seterusnya yang membuat hati sang gadis blingsatan karena tak kuat mendengar rayuannya. Tetapi setelah menikah, baru beberapa tahun; si pemuda sudah mulai lirak-lirik gadis lain yang katanya lebih segar, lebih cantik, lebih mempesona. Isteri resminya mulai disia-siakan; hatinya terpenjara oleh godaan gadis-gadis lain yang masih spekulatif (tidak jelas). Politisi tidak bermoral perilakunya seperti ini. Mereka sudah mendapat jabatan yang diimpikan, lalu disia-siakan begitu saja. Sangat prihatin!

Dalam konteks riil, misalnya ada seorang gubernur atau walikota; dia sedang menjabat kepala daerah di suatu tempat. Jabatan dia berlaku selama 5 tahun dan hal itu belum selesai, atau masih di tengah jalan. Saat muncul even Pilkada yang lebih bergengsi, tiba-tiba dia ikut mencalonkan diri dalam Pilkada itu. Lalu bagaimana dengan jabatan dia sendiri? Mengapa ia mau ditinggalkan begitu saja? Seringan itukah…

Apakah ketika dulu dia mencalonkan diri menjadi pejabat di sebuah kota/daerah, dia berkata kepada para calon pemilihnya: “Wahai rakyat Kota S, atau rakyat provinsi P… Ingat ya, nanti kalau saya terpilih, lalu ada tawaran Pilkada lain yang lebih menggiurkan, saya akan ikut Pilkada itu ya. Mohon kalian semua yang memilihku, kalian merelakan kalau nanti di tengah jalan amanah kalian aku khianati. Tolong ya kalian maklumi!” Apa-apaan moral pemimpin seperti ini? Pemimpin yang modal ambisi politik doang seperti ini, jangan diharap dia akan bisa membawa kemajuan. Mustahil itu!

Harusnya, jabatan itu tuntaskan dulu, selama 5 tahun, sebagaimana janjinya dulu. Bukankah saat dulu dilantik sebagai kepala daerah, itu untuk satu periode (5 tahunan)? Mengapa kok jadi disingkat-singkat waktunya? Memang, secara aturan politik, di negeri yang penuh “kudis moral” dan “koreng akhlak” ini, semua itu diperbolehkan, semua itu legal. Tetapi secara moral, ia sangat buruk. Tidak akan mungkin ada rakyat di suatu daerah rela kepala daerahnya mandeg di tengah jalan begitu saja. Tidak ada itu. Kecuali kalau kepala daerah itu gagal, tidak bisa memimpin, korup, atau terlibat kriminal; nah, itu urusan lain.

Misalnya, ada seorang anggota DPR aktif, dia mencalonkan diri sebagai calon gubernur, misalnya di provinsi DJ. Oke secara aturan, itu boleh; tetapi secara moral, itu hancur. Mengapa demikian? Sebab ketika dulu dia dipilih dalam pemilu oleh rakyat, sehingga dia menjadi anggota DPR; dia dipilih untuk menjadi anggota DPR, mewakili rakyatnya, selama 5 tahun. Rakyatnya memilih dia bukan untuk jadi gubernur DJ, tapi anggota DPR (misalnya untuk kota P). Ini adalah pelanggaran moral yang payah.

Pernah ada, seorang politisi, namanya S. Dia ikut pemilu, dan berhasil lolos sebagai anggota DPR RI. Baru saja jadi anggota DPR RI, dia ditawari jadi menteri kabinet, bidang Menristek. Dia terima tawaran itu, lalu jabatan anggota DPR dia serahkan ke kawannya. Baru juga setahun menjadi Menristek, dia dicopot jabatan. Wih, kasihan banget… Dia dipilih oleh ratusan ribu pemilih untuk menjadi anggota DPR selama 5 tahun, tapi setelah menjadi anggota DPR, dia sia-siakan suara rakyatnya. Ingat, saat itu rakyat memilih nama dia dan fotonya; bukan memilih kuota anggota DPR; tetapi memilih sosok pribadinya. Begitu entengnya politisi itu meninggalkan amanah dukungan rakyat untuk menjadi menteri; setelah jadi menteri, dia paling duluan ditendang. Kasihan deh…

Ini kan cara-cara lacur dalam perpolitikan. Wong sejak awal dipilih jadi anggota DPR, kok migrasi ke jabatan kepala daerah? Mestinya, sebelum ikut even Pilkada, Pilpres, dan lainnya, si anggota DPR itu melapor ke para pemilihnya, dan meminta persetujuan mereka. Kalau mereka tak mengizinkan, ya jangan dilakukan. Wong jabatan kepala daerah atau anggota DPR itu memang amanah. Bukan untuk gaya-gayaan, atau untuk batu loncatan demi jabatan lebih tinggi.

Coba ya, kalau kita hendak melakukan suatu transaksi yang profesional; pasti mula-mula ada surat perjanjian dulu, atau kontrak, atau akad. Jika berupa kerjasama, ada MoU. Tujuan dari semua ini adalah untuk memastikan bahwa arah kerja, pelayanan, atau kerjasama ke depan, selalu berada dalam koridor yang disepakati. Jika kelak ada masalah-masalah, tinggal merujuk ke pasal-pasal perjanjian itu. Inilah standar moral dan profesionalitas. Seharusnya, dalam politik pun begitu. Kalau seorang pejabat atau anggota DPR sudah mempunyai posisi yang tetap, berdasarkan proses pemilihan, ya sudah laksanakan konsekuensinya (akad) dengan baik. Anda kan sudah di-kontrak untuk menjabat sekian tahun, jadi laksanakan dong! Bibirmu jangan ngiler melihat jabatan lain yang lebih empuk.

Tetapi dalam konteks politik Indonesia hari ini, terlalu banyak pelacur politik-nya, ketimbang politisi bermoral. Di mata mereka, jabatan adalah segalanya. Demi jabatan, apapun akan dilakukan, termasuk dengan menjual diri dan jabatan yang lain. Baik kepala daerah, anggota DPR, atau politisi; banyak yang tidak bermoral. Mereka jadikan jabatan yang rendah, semata sebagai “batu loncatan” untuk mencapai jabatan tinggi.

Tidak ada salahnya, para ahli hukum mulai mempelajari fenomena aneh ini. Pasti ada celah-celah pelanggaran hukum yang bisa ditemukan disana. Sebab, selama cara-cara pelacuran politik itu masih dipakai, jangan berharap akan ada kemajuan, keadilan, keamanan, dan kemakmuran!

(Mine).


Fondasi Agama Syiah Rafidhah…

September 4, 2012

Karena melazimkan mencaci-maki manusia mulia (Shahabat Nabi Ra), hidup mereka selalu dicekam ketakutan berat.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam tulisan sederhana ini, kita akan coba jelaskan asal-usul agama Syiah Imamiyah (Rafidhah). Meskipun penjelasan seputar tema ini sudah banyak, tidak ada salahnya terus kita jelaskan. Dalam riwayat, Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam menasehatkan, “Ceritakan tentang Bani Israil sebanyak-banyaknya.” Karena di antara sekte-sekte yang lahir dalam sejarah Islam, yang paling dekat tabiatnya dengan Yahudi, adalah Syiah Imamiyah; maka tidak ada salahnya kita banyak-banyak bicara tentang agama paganisme ini.

Mari kita mulai mengkaji masalah ini, semoga Allah memberikan ilmu, hidayah, dan taufik untuk menetapi yang diridhai-Nya, amin ya Rahiim.

[1]. Kajian ini dimulai dari sebuah ayat berikut: “Qul athi’ullaha war rasula, fa in tawal-lau fainnallaha laa yuhibbul kafirin” (Katakanlah -wahai Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam-: Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, maka jika kalian berpaling (dari ketaatan itu), maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir). /Surat Ali Imran: 32. Ayat ini menjadi sebuah pedoman; bahwa sikap taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dasar keimanan. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, akan memiliki iman; sementara siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, akan perlahan-lahan terseret ke domain kekafiran.

[2]. Awal munculnya Syiah adalah kebencian kepada Syariat Islam itu sendiri. Pendiri sekte ini sejak awal memang kafir dan ingin menodai Islam dengan ajaran sesat yang dia rintis. Prinsip yang dia pegang ialah seperti analogi “bola salju”. Bola salju kalau dilemparkan dari atas dalam ukuran kecil, nanti sampai di bawah akan menjadi besar. Si perintis sekte ini sudah tahu bahwa Islam akan eksis sampai akhir zaman. Maka sejak zaman Salaf (permulaan Islam, pasca wafatnya Nabi), dia telah merintis aliran sesat yang mendompleng nama Islam. Logikanya, “Kalau sekte ini dibentuk pada hari ini (zaman Salaf), maka di akhir zaman ia akan menjadi sekte besar.” Terbukti perkiraan dia benar.

[3]. Kalau sebuah sekte dibentuk di atas simbol-simbol kejahatan, kekejian, serta amoralitas; dapat dipastikan sekte itu tak akan bertahan lama. Maka sekte itu, kalau ingin eksis yang lama, ia harus dikaitkan dengan simbol-simbol yang luhur, mulia, teladan, kharismatik, serta berwibawa. Itu simbolnya saja; sedangkan soal substansi bobrok, itu masalah lain. Pendiri sekte Syiah menjadikan Ahlul Bait Nabi sebagai simbol. Kalau mereka menjadikan dajjal, Abu Jahal, Fir’aun, atau iblis sebagai simbol; sesuai fitrah manusia, hal-hal seperti itu akan ditolak.

Dalam Surat Thaaha ayat 96, Samiri berkata kepada Musa As tentang perbuatannya, membuat patung sapi betina. “Qaala, bashartu bi maa lam yabshuru bihi, fa qabadh-tu qab-dhatan min atsarir rasul, fanabadz-tuha; wa kadzalika sawwalat li nafsi” (Samiri berkata: aku melihat apa yang tidak mereka lihat, lalu aku segenggam jejak Rasul, lalu aku lemparkan ia; demikianlah, hawa nafsuku membujukku). Perkataan Samiri ini menjadi landasan berbagai kelompok sesat. Mereka selalu bertumpu di atas simbol-simbol yang baik, untuk mempengaruhi, merayu, membujuk, serta mengendalikan orang-orang awam (lugu); lalu di atas simbol-simbol itu mereka membuat tipu-daya kesesatan.

[4]. Entah mengapa, perintis agama Syiah ini memilih Khalifah Ali Radhiyallahu ‘Anhu sebagai simbol. Padahal tokoh-tokoh lain yang luhur dan melegenda juga tidak sedikit. Tetapi intinya, si perintis itu (para ulama sering menyebutnya sebagai Abdullah bin Saba’) mulai memuja-muja Ali; dan menjadikan dirinya sebagai mata air sebuah sekte sesat. Secara politik, Khalifah Ali memang punya pendukung; tetapi hal ini dalam lingkup politik, tidak sampai masuk wilayah akidah. Pendukung Khalifah Ali sering disebut “Syi’atu ‘Ali” (pendukung Ali). Tetapi nuansa politik pada golongan itu seiring perubahan zaman, terus bergeser menjadi nuansa ideologi, dengan lahirnya kelompok kultus individu terhadap sosok Ali dan keluarganya. Hal itu semakin parah dengan terjadinya Tragedi Karbala, ketika Husein dan keluarganya Radhiyallahu ‘Anhum terbunuh di tangan pasukan Yazid bin Muawiyah. Peristiwa Karbala menjadi amunisi besar yang semakin mengokohkan dominasi kelompok kultus Ali itu.

[5]. Mayoritas akidah Syiah berdiri di atas kultus individu terhadap sosok Ali (dan keluarganya); maka Syiah tak ubahnya seperti agama Nasrani yang memuja dan menyembah Yesus; bahkan lebih parah, karena yang disembah Syiah lebih banyak. Semua cabang-cabang akidah Syiah bermula dari pemujaan terhadap sosok Ali. Bagi kaum Syiah, bicara soal hak Kekhalifahan Ali, merupakan akidah tertinggi, melebihi Tauhid kepada Allah. Orang Syiah tidak peduli dengan Tauhid; tetapi dalam soal pemujaan terhadap Ali, mereka nomer satu. Istilah khas yang mereka kerap katakan, hak wilayah Ali atau imamiyah Ali.

[6]. Demi membela hak wilayah (kepempinan) Ali, segala pranata Syariat Islam dilabrak oleh kaum Syiah. Mereka menuduh Jibril As salah memberikan Wahyu; mereka menuduh Al Qur’an kaum Muslimin sudah diubah-ubah para Shahabat; mereka meyakini bahwa Ali, Hasan, Husein, Fathimah, dan anak keturunan mereka punya sifat-sifat Rubbubiyyah; mereka membatalkan Syariat, membatalkan Sunnah, membatalkan ilmu; mereka melecehkan para isteri Nabi dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum; mereka halalkan yang haram-haram; mereka kafirkan kaum Muslimin; dan seterusnya. Semua itu dimunculkan demi memuaskan dahaga kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib. Di titik ini, agama Syiah serupa dengan agama NAZI yang memuja Hitler (sosok manusia), atau agama Ahmadiyah yang memuja Mirza Ghulam, atau agama-agama lain yang memuja manusia.

[7]. Adalah sulit bagi Syiah Imamiyah untuk memaafkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Ummu Salamah, dan para Shahabat yang lain Radhiyallahu ‘Anhum. Sulit dan sulit sekali; atau hampir mustahil. Mengapa demikian? Sebab konsekuensi dari memuja dan menyembah Ali, mengharuskan untuk mencaci-maki, merendahkan, menghina, dan melaknati para Shahabat Nabi yang mulia itu. Kok bisa begitu? Sebab dalam hidupnya, para Shahabat Nabi Saw bersikap proporsional dan obyektif terhadap Ali dan keluarganya. Mereka menghargai, mencintai, membela, mendukung; tetapi tidak sampai memuja dan mengkultuskan. Nah, sikap para Sahabat ini dianggap perintang terberat bagi sekte kultus Ali tersebut. Akhirnya, mereka jadikan para Sahabat Nabi sebagai sasaran hujatan, permusuhan, kebencian, bahkan laknatan. Meskipun, semua bentuk kejahatan mereka itu, mau tidak mau, akan mengenai diri mereka sendiri. Tidaklah mereka menghujat hamba-hamba yang diridhai Allah, melainkan mereka akan balas dimurkai oleh Allah Ta’ala. Demikianlah adanya.

[8]. Begitulah akhirnya Syiah menjadi agama tersendiri yang didalamnya bercampur-baur antara: Syiar tauhid dan kemusyrikan, keimanan dan kekufuran, amal shalih dan kejahatan, simbol kemuliaan dan kehinaan, syiar persatuan sekaligus persengketaan, kejujuran dan kebohongan, ilmu agama dan penindasan. Sepanjang masa Syiah terus mengganggu Ahlus Sunnah; karena agama mereka tidak akan tegak, tanpa inspirasi dari Syariat Islam; di sisi lain, amal shalih yang bisa Syiah lakukan ialah membenci, memusuhi, melecehkan, menipu, dan menikam Ahlus Sunnah. Mengapa demikian? Kaum Syiah seperti manusia yang sudah kecanduan narkoba. Mereka setiap hari mencaci-maki para Shahabat Nabi yang mulia; lalu Allah Al Aziz tenggelamkan hidup dan jiwa mereka ke dalam permusuhan, permusuhan, dan permusuhan, tanpa akhir. Dalam jiwa seorang Rafidhah, dia tidak bisa tenang, jika sehari saja lupa dari membenci kaum Ahlus Sunnah. Mata air eksistensi hidup mereka ada dalam kebencian itu.

Ada penuturan ayat Al Qur’an yang sangat menarik….

Tidakkah kamu mengetahui, orang-orang yang diberikan sebagian Al Kitab, mereka beriman kepada Jibti dan Thaghut, dan mereka berkata kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), ‘Semua ini lebih memberi petunjuk daripada jalannya orang-orang beriman (Muslim). Itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah dan siapa yang dilaknati Allah, engkau selamanya tidak akan menjumpai penolong baginya.” [An Nisaa’: 51-52].

Ayat ini berkaitan dengan Ahli Kitab yang memuji dan terpengaruh oleh ajaran-ajaran paganisme. Namun ayat ini memiliki kesamaan dengan perilaku orang-orang Syiah Rafidhah. Kesamaannya pada 3 sisi: (1). Syiah Rafidhah itu semula adalah orang-orang yang membaca Al Qur’an, atau menerima tuntunan Wahyu; (2). Syiah Rafidhah lama-lama menukar ajaran Tauhid menjadi kemusyrikan (paganisme), dengan menyembah Ali, Hasan, Husein, Fathimah, dan imam-imam Syiah. Dari risalah Tauhid berubah menjadi kemusyrikan; (3). Syiah Rafidhah menyenangi jalan paganisme itu, dan berbalik mencela jalan suci orang-orang beriman.

Dengan sikap seperti itu, maka Syiah pun menerima seperti yang diterima oleh kalangan Ahlul Kitab, yaitu: murka dan laknat Allah atas diri mereka. Na’udzubillah wa na’udzubillah tsumma na’udzubillah min dzalik.

[9]. Tetapi, ini kuncinya, bahwa kaum Syiah juga terkenal sangat pengecut. Dalam segala dendam, kebencian, dan permusuhan abadinya kepada Ahlus Sunnah (dan para Shahabat Nabi itu); tanpa kita sadari, mereka berlaku seperti orang-orang Bani Israil, yaitu sangat takut mati. Disebutkan dalam Surat Al Baqarah 96, bahwa: “Yawaddu ahaduhum lau yu’ammaru alfa sanatin, wa maa huwa bi muzahzihihi minal adzabi an yu’ammar, wallahu bashirun bi maa ya’maluun” (masing-masing mereka sangat senang andaikan bisa berumur 1000 tahun, dan tidaklah dia akan lepas dari adzab andaikan berumur panjang, dan Allah itu Maha Melihat apa yang mereka kerjakan). Kalau membaca sejarah, nyaris tidak ada satu pun tokoh pahlawan dari Syiah, sejak dulu sampai hari ini. Kalau pun mereka bisa berbuat aniaya, rata-rata karena di-back up oleh negara-negara Nasrani (dan Yahudi).

[10]. Bani Israil telah menyembah sapi betina, lalu Allah meresapkan sifat paganis itu ke dalam hati mereka. Kaum Syiah Rafidhah telah mencaci-maki para Shahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum; lalu Allah resapkan ke dalam hati mereka rasa takut, rasa cemas, emosi, kedengkian, permusuhan, serta kegelisahan yang akut. Sungguh, orang-orang Syiah itu sudah sadar dan mengerti, bahwa mereka sedang berjalan menuju gerbang-gerbang kebinasaan; lalu mereka mencari teman, untuk menghibur diri menghadapi laknat, murka, dan siksa (jasmani-ruhani) dari Allah Ta’ala. Di balik statement-statement provokatif tokoh Syiah Bandung, Jalmat, sebenarnya tersembunyi ketakutan sangat hebat. Bukan kepada kita (manusia), tetapi kepada Allah yang selalu dia lecehkan agama dan Syariat-Nya.

Demikianlah sekilas tentang fondasi agama Syiah Rafidhah. Agama ini sangat complicated; segala bentuk sesat, durhaka, dan menyimpang, ada disini. Makanya kalau ada elit-elit di Indonesia yang tidak sadar akan kesesatan Syiah; bisa jadi, mereka adalah anggota Syiah; atau mereka mencari keuntungan politik dari pendukung Syiah; atau mereka mencari finansial dengan ide membela Syiah; atau memang mereka orang bodoh yang tidak tahu arah jalan.

Satu hal yang pasti: kaum Syiah menjadikan dendam dan permusuhan sebagai pokok agamanya, melebihi Tauhidullah; mereka mempertuhankan Ali, Hasan, Husein, Fathimah; mereka isi hidupnya dengan hanya dengki, dendam, permusuhan, dan kebencian; tetapi pada hakikatnya, mereka paling takut kematian; sebab dengan mati, mereka akan segera bisa mengetahui betapa beratnya murka Allah setelah kematian; karena murka yang sudah mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari pun sudah terlalu berat.

Semoga yang sederhana ini bermanfaat ya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abah Syakir).


Syiah Itu Dipelihara Amerika…

September 2, 2012

(Edited version).

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah diskusi, saya merasa bengong ketika disana disimpulkan, bahwa Syiah yang beroperasi di negeri-negeri Sunni (seperti Indonesia), sebenarnya dipelihara oleh Amerika. Disana dikatakan: “Ahmadiyah dipelihara oleh Inggris, sedangkan Syiah dipelihara oleh Amerika.” Saya merasa, ini kejutan atau pencerahan yang sangat berbeda. Namun ketika merunut kepada data-data, fakta, serta kejadian-kejadian; saya baru bisa percaya kalau Syiah Imamiyah (Rafidhah) memang dipelihara Amerika.

MUI (Pusat) atau Pemerintah RI selama ini sangat susah untuk menetapkan Syiah dan Ahmadiyyah sebagai aliran sesat, sehingga keduanya harus dilarang beroperasi; karena adanya tekanan dari Amerika, Inggris, Australia, Kanada, dan negara-negara besar lainnya. Mereka bahu-membahu untuk memelihara faktor destruktif di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin Indonesia. Makanya, ketika ada sebuah ormas Islam sangat antipati kepada Ahmadiyah dan Liberal, tetapi bersikap “main mata” kepada Syiah, hal itu dipahami bahwa ormas tersebut tidak mau memikul beban terlalu berat, dalam menghadapi tekanan Inggris, Amerika, Kanada, Australia, dan kawan-kawan. Padahal sudah standar Ahlus Sunnah dimana saja, yaitu: Anti Sekularisme, anti Syiah, anti Ahmadiyah, anti Liberal, anti Kristenisasi, dan anti Zionisme. Ini sudah pakem khas Ahlus Sunnah!

Banyak data-data bisa disampaikan, bahwa Syiah Rafidhah memang dipelihara oleh kepentingan imperialis Amerika (atau secara umum imperialis Barat). Soal di atas permukaan ada retorika-retorika anti Amerika dari kalangan Syiah, itu hanya kamuflase saja, untuk menutupi fakta sebenarnya. Biasa kan ada sandiwara “bertema konflik” untuk menutupi “hakikat kemesraan” yang tidak terlihat.

Mari kita coba lihat data-datanya…

Antara “Benci” dan Cinta. Sulit Dibedakan Antara Keduanya.

[1]. Khomeini itu sejak muda (remaja) tinggal di Perancis. Disebutnya, tinggal di pengasingan. Baru menjelang Revolusi Syiah tahun 1979, dia pulang kampung. Tinggal di Perancis sejak muda sampai jenggotnya agak memutih, dapatkah dikatakan bahwa Khomeini bersih dari invasi pemikiran dan politik yang dipaksakan Barat kepadanya? Sangat tidak mungkin. Rata-rata semua tokoh politik dari Asia yang pernah diasuh di negara Barat, rata-rata kalau pulang ke negeri masing-masing akan membawa agenda politik dari “majikan-nya”.

[2]. Sebelum Iran dikelola oleh Khomeini dan kawan-kawan, penguasa politik disana ialah Reza Pahlevi. Sebenarnya orang ini Syiah juga dan menjadi boneka Amerika. Tetapi Pahlevi lebih kental dunia politiknya, sedangkan Khomeini terkenal dengan IDEOLOGI Syiah-nya. Ketika Barat mencabut peran Pahlevi dan menggantikannya dengan Khomeini; hal itu terjadi karena mereka ingin mengubah strategi, dari pendekatan politik menjadi pendekatan ideologi; dengan menjadikan akidah Syiah Imamiyah Itsna Asyari sebagai basisnya. Akidah ini jauh lebih berbahaya ketimbang manuver-manuver politik Reza Pahlevi. Sebab pada hakikatnya, akidah Imamiyah Itsna Asyari (atau Syiah Rafidhah) adalah kekufuran yang nyata. [Kalau ada ketua ormas Islam tertentu yang ragu dengan kekufuran akidah Syiah ini, saya ajak beliau untuk berdebat terbuka, bi idznillahil ‘Azhim].

[3]. Banyak sandiwara dilakukan untuk menutupi missi sebenarnya, bahwa Khomeini sebenarnya adalah boneka Amerika, tak ubahnya seperti Reza Pahlevi. Pertama, Amerika tidak segera menginvasi Iran di bawah kepemimpinan Khomeini, seperti mereka menginvasi negara-negara yang penguasanya digulingkan tanpa restu Amerika. Kedua, disana digambarkan bahwa ada sekian puluh helikopter marinir Amerika saling bertabrakan satu sama lain ketika hendak menyerang Iran. Bukti-bukti seputar serangan helikopter yang gagal ini tidak banyak diperoleh, selain dari info-info media. Benarkah heli-heli itu bertabrakan, atau sengaja di-setting agar bertabrakan? Atau jangan-jangan semua itu hanya opini media saja, tanpa bukti yang jelas? Bandingkan cara Amerika itu dengan invasi mereka ke Irak, Afghanistan, Columbia, Vietnam, bahkan infiltrasi ke Indonesia (pada peristiwa PKI 65). Ketiga, sepertinya ada “solusi damai” antara Amerika dengan keluarga Reza Pahlevi, sehingga setelah itu tidak ada “dendam politik” keluarga Pahlevi kepada Khomeini. Padahal layaknya tokoh-tokoh politik Persia, tabiat dendam sangatlah dominan. Keempat, secara massif Khomeini melakukan kampanye, bahwa Amerika adalah SETAN BESAR. Kampanye ini mendapat respon besar di dunia Islam. Karena ia memang sebuah strategi untuk mendapatkan SIMPATI kalangan Dunia Islam, yang mayoritas Ahlus Sunnah dan anti Amerika. Kelima, tidak lama setelah Revolusi Iran, negara itu terlibat dalam konflik besar Iran Versus Irak di bawah Sadam Husein. Ending dari konflik Iran-Irak ini, malah Irak dimusuhi oleh Amerika dan Sekutu, serta negara-negara Timur Tengah; setelah Irak menginvasi Kuwait pada tahun 1990.

[4]. Sejak lama Iran selalu dikaitkan dengan isu anti Amerika dan anti Israel. Bahkan ia masuk dalam kategori “axis of evils” (negara-negara poros kejahatan). Tetapi ia sendiri tidak pernah sedikit pun terlibat dalam perang melawan Amerika, atau perang melawan Israel (musuh bangsa Arab di Timur Tengah). Jadi sebagian besar perang disini sifatnya hanya “kampanye verbal” saja. Tidak heran jika Iran kerap dijuluki sebagai NATO (no actions talk only). Begitu juga, Hamas semakin terjebak dalam posisi sulit ketika organisasi itu menjalin kerjasama dengan Teheran. Iran adalah negara yang paling menikmati hasil kampanye anti Amerika dan Israel; tetapi pada saat yang sama, dia tidak pernah terlibat perang sedikit pun melawab Amerika dan Israel.

[5]. Tidak diragukan lagi, bahwa Syiah Iran turut membantu invasi Amerika ke Afghanistan dan Irak. Katanya, dua invasi ini tidak akan pernah berhasil, tanpa bantuan Syiah Iran. Dulu di zaman Pemerintahan Burhanuddin Rabbani (Mujahidin), Syiah telah menelikung pemerintahan itu melalui Jendral Rasyid Dustum di bagian Utara. Begitu juga Pemerintahan Irak saat ini, pasca invasi Amerika ke Irak, presidennya Jalal Talabani dan PM-nya Nuri Al Maliki, keduanya adalah bagian dari penganut Syiah. Lihatlah, Amerika lebih ridha Irak di bawah pemimpin Syiah daripada negara itu di bawah Saddam Husein yang merupakan bagian masyarakat Sunni.

[6]. Kita tentu masih ingat skandal Iran-Contra pada waktu-waktu lalu. Singkat kata, Iran dikesankan sangat bermusuh-musuhan dengan Amerika. Tetapi lewat skandal itu terbukti, Iran bekerjasama mesra dengan Amerika. Iran memasok minyak ke Amerika, lalu hasil keuntungan jual-beli minyak “ilegal” ini oleh Amerika disalurkan untuk membiayai gerakan Kontra di Kolumbia. Iran sendiri merasa diuntungkan, sebab mendapat penghasilan untuk membiayai kebutuhan mereka (khususnya untuk biaya konflik dengan Irak). Sandiwara besar abad 20 ini akhirnya terkuak, baik Iran maupun Amerika menanggung malu. Lalu dengan entengnya Amerika mengorbankan Kolonel Oliver Stone sebagai tokoh yang bertanggung-jawab atas skandal memalukan itu.

[7]. Fakta besar yang tidak diragukan lagi, bahwa Iran memiliki reaktor nuklir yang dikembangkan untuk kebutuhan energi dan militer. Hal ini sudah tidak diragukan lagi. Berulang kali Amerika, Inggris, dan Sekutu mengancam akan menyerang Iran. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi, bahkan tidak akan terjadi; karena mereka sebenarnya satu kepentingan. Bandingkan, ketika Amerika mengancam negara-negara Muslim Sunni, seperti Irak dan Afghanistan; sekali diancam, langsung dihajar, meskipun akibatnya ekonomi Amerika mesti ambruk.

[8]. Di Indonesia, posisi Syiah selalu dibela oleh tokoh-tokoh Liberalis, seperti Azyumardi Azra, Syafi’i Ma’arif, Dawam Rahardjo, Said Aqil Siradj, bahkan Amien Rais. Belakangan, Mahfud MD ikut-ikutan membela Syiah dan berlagak memojokkan kaum Sunni di Madura. Anda pasti paham mengapa tokoh-tokoh Liberal ini selalu melindungi Syiah? Ya, karena memang job description-nya, mereka harus membela Syiah.

[9]. Media cetak yang sangat giat membela Syiah sejak zaman Orde Baru adalah majalah Tempo. Media ini punya peran besar dalam mempromosikan citra positif Syiah di mata kaum Muslimin Indonesia; media ini benar-benar telah banyak menyesatkan opini rakyat Indonesia, seputar Syiah. Media ini sejak lama dikomandoi Goenawan Mohamad, salah seorang jurnalis yang sejak lama disinyalir sebagai kaki tangan Amerika di Indonesia.

[10]. Abdurrahman Wahid termasuk salah satu tokoh pro Zionis yang banyak mendukung dan membela Syiah. Dia berdalih, “Membela minoritas.” Tetapi pada saat yang sama, dia justru sangat anti dengan minoritas aktivis Islam, yang selalu menjadi bulan-bulanan politik Orde Baru dan Orde Reformasi. Katanya membela minoritas, tetapi kok malah acuh tak acuh dengan kezhaliman rezim terhadap para aktivis Islam yang sebenarnya minoritas itu? Wahid sama sekali tidak pernah membela keluarga korban Tanjung Priok, Talangsari Lampung, DOM Aceh, korban konflik Ambon, korban konflik Poso, korban pembantaian Sampit (Sambas), tahanan politik Muslim, bahkan tidak pernah membela tokoh-tokoh Petisi 50 yang notabene kalangan umum. Di zaman Orde Baru, Wahid menjadi bagian dari anggota MPR Fraksi Golkar, dan sangat mendukung kekejaman rezim terhadap para aktivis Islam. Nah, itulah sosok “dajjal kecil” yang sering dielu-elukan sebagai “pembela minoritas”. Di zaman Orde Baru, posisi Syiah selalu dalam pengawasan ketat; tetapi di era Wahid, atau tepatnya tahun 2001, berdirilah IJABI, ormas Syiah pertama di Indonesia. Ormas ini juga direstui si orang itu, sehingga di mata penganut Syiah, nama Wahid begitu harum.

[11]. Berulang kali kita saksikan bagaimana Said Aqil Siradj membela Syiah, melindungi Syiah, sembari tangan dan mulutnya terus-menerus menyerang kaum Wahabi. Tapi lucunya, Said Aqil ini tidak berani berhadap-hadapan dengan pengurus PWNU Jawa Timur, atau MUI Jawa Timur, atau MUI Madura yang jelas-jelas telah memfatwakan kesesatan Syiah. Pernah pengurus PWNU Jawa Timur datang ke kantor PBNU di Jakarta, untuk menyerahkan fatwa Syiah sesat yang telah mereka sepakati. Waktu itu mereka sudah siap audiens dengan pengurus PBNU, termasuk Si Sail Aqil. Sampai pertemuan selesai, Si Said tidak menemui para pengurus PWNU Jatim. Alasannya, “Lagi macet di jalan.” Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Said, Said…orang sepertimu kok beralasan “jalanan macet”? Beberapa waktu lalu Said ini datang ke Amerika, berkunjung ke Bank Dunia. Disana dia diberikan komitmen dukungan dana unlimitted, untuk memerangi terorisme (yang nanti ujung-ujungnya tuduhan itu dia arahkan ke Wahabi; semoga Allah Ta’ala membinasakan manusia yang satu ini dan para loyalisnya karena kekejian fitnah mereka; amin Allahumma amin). Kalau kembali ke momen pemilihan Ketua PBNU di Makassar, pada tahun 2010. Seminggu sebelum pemilihan ketua, dua kandidat calon ketua PBNU dipanggil ke Cikeas untuk bertemu Pak Beye. Entahlah, apa yang dikatakan Beye dalam pertemuan itu. Pokoknya setelah itu Shalahuddin Wahid terlihat tidak semangat memperebutkan kursi Ketua PBNU. Dan akhirnya, Said Aqil Siradj ini yang terpilih sebagai Ketua PBNU. Dulu di masa kepemimpinan Wahid sebagai Presiden RI, Si Said ini amat sangat loyal; sehingga berkali-kali dia menyerang Amien Rais dengan perkataan kasar. Salah satunya, kurang lebih, “Itu warga NU di bawah, sedang mengasah golok.”

[12]. Di Indonesia berkali-kali terjadi kerusuhan bermotif isu agama. Salah satunya dalam isu Syiah, seperti peristiwa Sampang, Bangil (Pasuruhan), penusukan ustadz NU di Jember, dan lainnya. Tetapi SBY rata-rata tidak pernah bersuara tentang kerusuhan ini. Jika ada komentar, ia selalu memojokkan kalangan Sunni dan menguntungkan posisi Syiah; seperti dalam komentar terakhir dia soal kasus Sampang kemarin. Pertanyaannya, sebagai kepala negara, mengapa SBY tidak berusaha melindungi akidah mayoritas kaum Muslimin di Indonesia yang bermadzhab Ahlus Sunnah? Kok dia justru lebih peduli dengan kelompok minoritas Syiah? Ya, kita tahulah, siapa SBY…

[13]. Ketika merebak isu “war on terror” di dunia, Indonesia gegap gempita menyambut isu tersebut. Salah satu akibatnya, kesempatan beasiswa belajar di Saudi diawasi sangat ketat. Sejak proses seleksi, pemberangkatan, hingga kuota beasiswa itu, diawasi sedemikian rupa. Banyak pelajar yang sedianya ingin belajar agama, merasa kesulitan. Termasuk dalam urusan kerja, bisnis, dagang, dan lainnya. Tetapi sebaliknya, kerjasama beasiswa, kunjungan tokoh, serta dakwah dengan Iran justru semakin marak. Ribuan pelajar Indonesia saat ini lagi nyantri di Iran; nanti kalau pulang mereka akan mendakwahkan agama perbudakan manusia atas manusia yang lain (pada hakikatnya, setiap pribadi Syiah adalah budak dari imam-imam Syiah di Persia).

[14]. Sampai detik ini, Amerika tidak pernah menjadikan para aktivis Syiah sebagai sasaran “war on terror” sebagaimana mereka menjadikan kaum Wahabi sebagai sasaran itu. Padahal kalau melihat “kampanye verbal” dari para dai-dai Syiah, mereka TAMPAK sangat anti Amerika dan Zionis. Kalangan Wahabi yang hati-hati saat bicara tentang Amerika, tidak segan-segan diteroriskan; sedangkan aktivis Syiah yang sehari-hari dzikirnya menyerang Amerika dan Zionis (tentu saja, dengan menyerang para Shahabat dan isteri-isteri Nabi Radhiyallahu ‘Anhum), tidak pernah diapa-apakan. Coba lihat, dalam kasus Sampang kemarin, aktivis Syiah membuat ranjau dari bom ikan dan paku-paku; tetapi Densus 88 tidak pernah menyatroni rumah Tajul Muluk dan kawan-kawan.

[15]. Ketika sebagian aktivis Muslim melakukan latihan militer, untuk persiapan jihad ke Palestina, pasca terjadi Tragedi Ghaza 2008-2009 lalu; mereka segera ditangkapi dan diposisikan sebagai teroris. Tetapi terhadap aktivis Syiah yang melakukan latihan-latihan militer, tidak ada satu pun yang ditangkapi aparat. Bahkan ada yang bilang, mereka dilatih oleh instruktur baret merah. Jadi ini seperti lelucon yang terus diulang-ulang. Betapa sensitif aparat keamanan kepada para pemuda Sunni, ketika mereka ingin berjuang ke Palestina; tetapi tidak sensi sama sekali kepada aktivis-aktivis Syiah yang terus menyusun kekuatan milisi.

Singkat kata, eksistensi Syiah di Indonesia sangat sulit untuk ditertibkan (apalagi dibubarkan), karena ia memang dilindungi oleh kekuatan Barat, khususnya Amerika. Sebagaimana Barat membutuhkan paham Liberal untuk merusak ajaran Islam, mereka juga merasa sangat diuntungkan dengan eksistensi paham Syiah.

Siapapun yang memeluk akidah Syiah Rafidhah secara sadar dan mengerti; dapat dipastikan dia akan keluar dari Islam. Mengapa? Karena dalam akidah itu mereka meyakini Al Qur’an tidak murni lagi; hak Kekhalifahan Ali sebagai azas agama melebihi Tauhidullah; batalnya Syariat Islam, diganti syariat perkataan pribadi imam-imam Syiah (yang tidak bisa dibuktikan otentisitasnya); mereka mencaci-maki, menghina, menyerang pribadi isteri-isteri Nabi dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum; mereka mengkafirkan Abu Bakar dan Umar, menganggap keduanya sebagai thaghut dan kekal di neraka; mereka mengkafirkan Ahlus Sunnah, dan menghalalkan harta, darah, dan kehormatannya; mereka menghalalkan nikah Mut’ah yang telah diharamkan oleh Nabi dan para Shahabat; dan lain-lain keyakinan sesat.

Inti keyakinan Syiah Rafidhah, adalah kedurhakaan kepada Syariat Islam, mempertuhankan imam-imam, menjadikan dendam politik sebagai akidah tertinggi, mengkafirkan kaum Muslimin, menodai kehormatan para Shahabat yang dicintai oleh Al Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam; serta semua itu dibungkus di balik kamuflase “mencintai Ahlul Bait Nabi”. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini adalah keyakinan kufur, sehingga siapa yang meyakini semua ini secara sadar; dia otomatis kufur. Tidak berbeda sama sekali antara seorang Muslim yang masuk Kristen, Hindu, Budha, dengan orang yang masuk Syiah Rafidhah (Imamiyah) ini.

Wahai Ahlus Sunnah…Anda harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa tidak ada yang sanggup mengalahkan Anda, melemahkan Anda, atau meruntuhkan Anda. Karena Anda berdiri di atas Al Haq. Anda berdiri di atas Syariat Islam yang suci, Kitabullah dan Sunnah yang mulia, Akidah Tauhid yang kokoh; serta Anda berdiri di atas Keridhaan Allah Ar Rahman, insya Allah wa bi idznihi. Tidak ada yang sanggup mengalahkan Anda, siapapun diri mereka; apakah Amerika, Inggris, NATO, nuklir Iran, jamaah Syiah Rafidhah seluruh dunia, dan seterusnya. Karena kita (Ahlus Sunnah) ditolong oleh Ar Rahmaan, lantaran selalu berpegang kepada Kesucian Syariat Islam, serta memuliakan Ahlul Bait Nabi semurni-murninya, tanpa mengkultuskan dan menodai hak-hak Uluhiyah dan Rubbubiyyah Allah Ta’ala.

Pegang selalu kemurnian akidah Ahlus Sunnah, dan jangan dilepaskan karena alasan apapun. Sekalipun kita mati, biarlah mati di bawah naungan bendera SUNNAH NABI Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Jangan pernah lepaskan akidah ini, wahai Ahlus Sunnah. Karena akidah inilah yang akan menjadikan Islam tetap eksis di muka bumi; karena akidah inilah yang akan menjadikan Syariat Islam yang suci tetap terpelihara; karena akidah inilah yang akan menyatukan kita dengan barisan Sayyidul Mursalin, isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, para Shahabat, serta imam-imam Ahlus Sunnah sepanjang masa, hingga hari ini.

Jangan pernah dilepaskan, wahai Saudaraku. Bahkan bercita-citalah kalian untuk mati dalam rangka membela BENDERA RASULULLAH sampai titik darah terakhir! Adapun terhadap omongan eli-elit politik sesat, serta bajingan-bajingan moral, abaikan saja. Semua itu tak akan memberi madharat sedikit pun kepada Allah yang Maha Suci. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Tatar Pasundan, 2 September 2012. Minal faqir ila rahmati Rabbi,

AM. Waskito.