Wallahi, HASMI Bukan Organisasi Teroris!

Oktober 28, 2012

Mereka Organisasi Dakwah, Bukan Kelompok Teroris!!!

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, amma ba’du.

Kasus terorisme di Indonesia terus saja dieksploitasi untuk kepentingan sesaat dan tujuan fitnah. Contoh paling mudah, adalah tuduhan seorang profesor UI (yang didukung oleh MetroTV) bahwa organisasi Rohis di sekolah-sekolah menengah melahirkan generasi teroris. Kini tuduhan diarahkan ke sebuah ormas Islam yang namanya HASMI (Harakah Sunniyah untuk Masyarakat Islami). Kepala BNPT, Polri, kemudian dilansir begitu saja oleh media TVOne dan MetroTV, bahwa kelompok HASMI terlibat kegiatan terorisme.

Berikut kami coba memberikan tambahan informasi obyektif…

[1]. HASMI itu sebuah organisasi dakwah Islam. Dari namanya saja sudah ketahuan, Harakah Sunniyah untuk Masyarakat Islami. Tujuan dan missi organisasi ini ialah untuk dakwah, menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam, mendidik masyarakat dengan Tauhid dan Sunnah, serta melakukan ishlah (reformasi) kehidupan. Sungguh, tidak ada dalam konsep organisasi ini indikasi-indikasi yang membuat layak disebut sebagai organisasi teroris.

[2]. HASMI selama ini mengembangkan dakwah, seperti ormas dakwah yang lain, yaitu: mendirikan ma’had (sekolah agama), membuat majlis taklim di masjid-masjid, melakukan kajian lewat halaqah-halaqah, membuat buletin, membuat radio dakwah, membuat sarana-sarana pendidikan, dan lainnya. Tidak ada yang berbeda dengan kegiatan-kegiatan ormas Islam yang berkecimpung dalam dakwah.

[3]. Para aktivis HASMI sering terlibat dalam even-even keummatan, seperti protes terhadap film “Innocence of Muslim”, mendukung pembubaran Ahmadiyah, mendukung fatwa sesat atas sekte Syiah, dan hal-hal semisal itu. Namun untuk aksi yang sasarannya Pemerintah, mereka memilih jalan yang hati-hati, kalau tidak menghindari. Hal demikian menurut sebagian kalangan dianggap “kelemahan” HASMI karena tidak mau mengkritik Pemerintah secara terbuka; tetapi ia juga merupakan ciri khas yang membuatnya tidak layak dicurigai sebagai organisasi teroris. Sebab ciri utama organisasi yang kerap disebut teroris adalah sikap frontal dan perlawanan total mereka terhadap rezim yang berkuasa (Pemerintah).

[4]. Mungkin saja ada di antara pemuda-pemuda Islam yang terlibat kegiatan kekerasan melawan Pemerintah, ada yang diketahui ikut dalam majlis-majlis taklim yang dikelola oleh HASMI. Tetapi hal itu tidak bisa seketika di-katakan bahwa HASMI adalah kelompok teroris. Tidak benar tuduhan ini. Sebab pada hakikatnya, gerakan dakwah HASMI memang murni concern dengan dakwah dan perbaikan ummat. Mereka menempuh cara damai, non kekerasan, dan tidak memperlihatkan diri melawan Pemerintah yang berkuasa. Bisa saja, ada aktivis pengajian HASMI yang terlibat aksi-aksi itu (jika terbukti); tetapi kesalahan perorangan tidak boleh jadi dalih untuk men-generalisir organisasi HASMI secara keseluruhan. Wong, dalam konsep organisasi tidak ada indikasi terorisme itu.

[5]. Para aktivis HASMI punya ciri sama dengan para aktivis lain yang concern dengan Sunnah, seperti memelihara janggut, celananya setengah betis, memakai kopiah putih, dan sebagainya. Ciri-ciri demikian sama dengan sebagian pemuda Muslim yang dituduh teroris oleh aparat. Maka ciri-ciri berjanggut, celana ‘ngatung”, kopiah putih, isteri bercadar, dan semisal itu, tidak bisa dijadikan parameter bahwa suatu kaum adalah teroris. Kalau begitu cara berpikirnya, maka kitab-kitab Sunnah harus disebut sebagai “kitab teroris” dong? Dan kawan-kawan tertentu yang pro Pemerintah dan memuji mereka sebagai ulil amri, faktanya juga memiliki ciri-ciri seperti itu.

Demikianlah, intinya organisasi HASMI bukanlah kelompok teroris. Mereka kelompok dakwah. Dari namanya saja sudah jelas. Dari konsep dakwahnya juga tidak mengarah ke kegiatan-kegiatan terorisme. Bahkan dari sikap politiknya, mereka rata-rata menghindari benturan langsung dengan Pemerintah. Wallahi, HASMI bukanlah kelompok teroris.

Semoga BNPT, Polri, media massa (terutama TVOne dan MetroTV), dan masyarakat kaum Muslimin secara umum memahami, bahwa HASMI sebagai organisasi bukanlah seperti yang dituduhkan.

Demikianlah, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Bandung, 28 Oktober 2012.

AM. Waskito.


Apakah Ali bin Abi Thalib Haus Kekuasaan?

Oktober 28, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah tulisan tentang “Kasus Sampang Jilid II” muncul komentar seorang pembaca yang diindikasikan sebagai pengikut sekte Syiah Rafidhah. Dia memberikan pandangan “imajiner” tentang situasi di Saqifah Bani Sa’idah ketika para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum melakukan pembicaraan untuk memilih pemimpin pengganti Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Dalam pandangan pembaca itu, andai saja para Shahabat tidak mendahulukan sikap nasionalisme, tentu mereka akan merujuk Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu untuk menjadi pengganti Nabi.

Berikut komentar pembaca tersebut:

Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme. Bukankah ketika anda dipersaudarakan oleh rosul antara Muhajirin dan Ansor ketika awal hijrah, nasionalisme telah dihapus oleh rosul, hanya Ali yang dipersaudarakan dengan Rosul sendiri (tanda pertama). Anda menyaksikan di Ghodir khum ketika Rosul mengangkat Ali sebagai Maula, menyakiti Ali sama dengan menyakiti Nabi, lihat hadits2nya Mutawatir (tanda kedua). Bubarlah kembali berkabung kepada tubuh baginda ROSUL yang masih terbaring.”

Analisaku, tidak mungkin Rosul Allah tidak memberikan tanda sebagai penerusnya, karena persoalan ummat adalah persoalan besar. Rosul tahu kalau persoalan kepatutan dimusyawarahkan tidak pernah selesai, akhirnya kepatutan akan diselesaikan oleh kekuatan mayoritas. Yang diusung oleh individu. Ali sbg Maula berdasar dipilih Nabi tidak harus tunduk pada musyawarah mendadak yg bersifat nasionalis mengusung tokoh Ansor dengan Muhajirin. Dalam sejarah Ali mengalah demi menghindari perpecahan membai’ah atas hasil musyawarah dadakan. Nasionalisme menang. Wasiat Nabi tersingkir. Seharusnya menurutku hasil musyawarah yang tunduk pada Maula. Sehingga anasir2 nasionalisme tidak ada tempat. Tolong beri komentar dengan fakta sejarah.”

Sebenarnya, komentar ini semula tidak ingin dikomentari. Inginnya dibiarkan saja, karena bagi kita sudah jelas, bahwa pemikiran-pemikirian seperti di atas, termasuk kategori madzhab sesat Syiah Rafidhah. Hidup mereka, sejak awal sampai akhir; sejak kecil sampai tua renta; sejak membuka mata sampai menutup mata lagi (tertidur); dalam kerumunan atau sendirian; di rumah atau di jalan; saat di masjid atau di WC; saat bekerja atau sedang hubungan seksual; maka fokus masalah yang selalu mereka pikirkan adalah Hak Kewalian Ali bin Abi Thalib dan Hak Imamah Anak-anaknya. Agama, Syariat, bumi, langit, dan kehidupan yang luas ini, di tangan Syiah Rafidhah mengerucut ke dua masalah politik di masa lalu itu.

Pemikiran Syiah Rafidhah Membuat Kemuliaan Sejarah Ahlul Bait Menjadi Kebusukan dan Hina

Leonid Brezhnev, mantan Presiden Uni Soviet, pernah melakukan pembicaraan damai dengan Jimmy Carter. Sebelum pembicaraan dilakukan Brezhnev berkata, “Kalau kita gagal dalam mewujudkan perjanjian, Tuhan akan menghukum kita.” Perkataan itu spontan mengejutkan semua yang hadir dalam pertemuan itu. Ternyata, sosok Presiden Komunis Uni Soviet, masih menyimpan keimanan pada Tuhan. Begitu pula, Fir’aun masih menyembunyikan keimanan di hatinya, meskipun ucap keimanan itu dia katakan ketika nyawa sudah di tenggorokan (sehingga tak berguna lagi). Artinya, orang kafir sekafir-kafirnya saja, masih ada sisi-sisi keimanan baiknya. Lha ini orang Syiah Rafidhah, katanya Muslim, tapi otak kanan-kirinya, jiwa-raganya, hidup-matinya, isinya melulu hanya: Wilayah Ali dan Imamah Ahlul Bait.

Baiklah, berikut isi diskusi yang sudah dilakukan, dikutip secara utuh. Diskusi aslinya bisa dilihat pada tulisan: “Kasus Sampang Jilid II”. Semoga bermanfaat, amin ya Rahiim.

__________________________________________________________

@ Fulan…

==> Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme.

RESPON: Anda tidak boleh menyebut para Shahabat Anshar dan Muhajirin dengan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu tuduhan kasar, kalau tidak disebut fitnah atas mereka. Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum SANGAT TERGONCANG atas wafatnya Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, hal itu sangat terlihat dalam kebingungan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang mengancam akan menebas siapa saja yang mengatakan bahwa Nabi telah wafat. Ini menunjukkan keadaan tekanan psikologis yang sangat berat.

Satu sisi para Shahabat kehilangan sosok manusia teladan, orangtua, guru, kawan seperjuangan, sumber ilmu, penghibur hati, pembela hidup dan jiwa mereka. Di sisi lain, mereka cemas memikirkan masa depan PERADABAN ISLAM yang baru dibangun. Usianya baru 10 tahun; sementara musuh-musuhnya sangat banyak, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, musyrikin Persia, Romawi, Mesir, kabilah-kabilah Arab yang kafir, dll. Mereka cemas, siapa yang akan mengganti posisi beliau? Saat itu mereka berdebat, bahwa Anshar lebih tepat mengganti, yang lain berpendapat Muhajirin lebih tepat mengganti. Nabi sendiri tidak menunjuk siapa pengganti beliau, maka wajar dong terjadi perselisihan menentukan pemimpin.

Istilah Anshar dan Muhajirin bukan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu istilah SYARIAT MURNI, wong dalilnya banyak dalam Al Qur’an dan terutama Sunnah. Anshar adalah pembela para Muhajirin; Muhajirin adalah orang yang hijrah ke negeri orang Anshar. Ini istilah Syariat yang menunjukkan amal dan prestasi amal mereka dalam perjuangan Islam. Itu bukan istilah fanatik atau nasionalisme.

Kalau Shahabat Anshar dan Muhajirin lebih mendahulukan urusan kepemimpinan, bukan urusan mengurus jenazah Nabi; karena mereka melihat bahwa: (1). Urusan kepemimpinan itu tidak bisa ditunda-tunda, harus cepat dipastikan dan dituntaskan; semakin lama ditunda akan melahirkan KETIDAK-PASTIAN yang sangat berbahaya; (2). Suasana di Saqifah Bani Sa’idah sudah mengarah ke terjadinya konflik dan perselisihan internal kaum Muslimin, hal itu kalau dibiarkan begitu saja, akan membesar menjadi konflik serius di kalangan ummat Islam. Memadamkan api konflik sangat diutamakan sebelum mengurus jenazah Nabi;

(3). Harus dicatat dengan tinta tebal, bahwa para Shahabat SUDAH TAHU kalau Nabi Saw wafat. Abu Bakar, Umar, dan para Shahabat Anshar Muhajirin Radhiyallahu ‘Anhum, mereka semua sudah tahu kalau Nabi wafat; maka itu mereka berselisih soal siapa yang akan menggantikan posisi Nabi dalam memimpin kaum Muslimin. Bahkan Abu Bakar dan Umar telah memeriksa jenazah beliau di kamar Aisyah Radhiyallahu ‘Anha terlebih dulu, sebelum berangkat ke Saqifah. Artinya, adalah DUSTA BELAKA kalau para Shahabat dianggap tidak tahu atau acuh dengan kematian Nabi Saw. Justru mereka amat sangat peduli dan mengalami kegoncangan jiwa. Adapun soal merawat jenazah Nabi, dalam Syariat Islam, hal itu harus diurus oleh keluarga beliau sendiri, untuk memandikan dan mengafani; lalu nantinya para Shahabat menyalati beliau, setelah urusan kepemimpinan beres diselesaikan. Apa mungkin untuk mengurus jenazah Nabi harus melibatkan semua para Shahabat baik laki-laki dan wanita? Mungkin kalau dalam hukum Syiah Rafidhah kayak begitu ya…

Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum sangat mencintai Nabi Saw. Hal itu dibuktikan, mereka sampai berselisih dalam rangka memilih pemimpin untuk: MELANJUTKAN, MELESTARIKAN, dan MEMPERTAHANKAN PERADABAN yang telah dibangun oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Melanjutkan peradaban yang Nabi tinggalkan sangat diprioritaskan, sebelum para Shahabat bersama-sama menunaikan hak-hak jenazah Sayyidul Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Jadi para Shahabat lebih lebih mencintai Nabi ketimbang orang-orang Syiah Rafidhah yang telah dibutakan mata-hatinya, lalu Allah ombang-ambingkan mereka dalam kesesatan luar biasa.

Baca entri selengkapnya »


Sebuah Foto Lucu: Manusia Zaman Kini

Oktober 24, 2012

Baru-baru ini saya dapat sebuah foto lucu dari FB yang dikirim akun “SMS Gratis”. Jarang saya mengkopi foto-foto FB, tetapi untuk kali ini tertarik sekali memuatnya…to share with all of yours. Singkat kata, foto ini menggambarkan keanehan sikap manusia-manusia zaman sekarang, di era “gila gadget” ini.

Funniest Picture at This Age…He he he. Gadget mania, please…

Alat-alat gadget seperti ponsel, Ipad, Iphone, Android, Galaxy Tab, BB, dan lainnya; bukan sekedar alat komunikasi dan teknologi; ternyata ia telah mengubah perilaku manusia. Saat Samsung sedang ramai berseteru dengan Apple; sejujurnya saat itu mereka sedang bertengkar tentang rekayasa kultur manusia di dunia. Mereka sedang berlomba kuat-kuatan dalam mempengaruhi perilaku manusia.

Ada momen paling miris di mata saya, yaitu tentang sosok Desi, finalis acara Master Chef 2012 di RCTI. Dia kini begitu populer, begitu dielu-elukan oleh orang Bangka, layaknya pahlawan yang sangat berjasa dalam perjuangan bangsa. Padahal dia hanyalah wanita fun oriented seperti yang sering kita lihat di media-media.

Saat tiba di sebuah bandara, ada seorang gadis berkerudung mendekati Desi dan meminta berfoto dengannya. Foto diambil dari ponsel gadis itu. Bagi saya itu momen “sangat menyiksa” karena norak, norak, full norak… Ya Allah hindarkan kami dari pandangan-pandangan seperti itu. Amin.

Oke…tak usah panjang-panjang. Selamat menikmati gambar lucunya. Semoga bermanfaat.

Oh ya, selamat menyambut Idul Adha 1433 Hijriyah ya. Selamat menjalankan shaum Arafah 9 Dzulhijjah,  selamat berkurban, selamat bergembira di bumi Allah sambil menikmati rizki dan kemurahan-Nya; berkurbanlah bagi yang bisa berkurban, bersabarlah bagi yang tidak kebagian cukup daging; dan semoga kelak kita dikumpulkan oleh Allah Ar Rahiim di jannah-Nya. Amin Allahumma amin.

Mine.


Logika Profesor Hukum Vs Logika Al Qur`an

Oktober 17, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Malam kemarin, 16 Oktober 2012, saya mengikuti sebagian diskusi di Indonesia Lawyers Club, TVOne. Topik utamanya tentang pemberian grasi presiden bagi para terpidana narkoba. Namun diskusi berkembang ke arah, perlu tidaknya hukuman mati berlaku dalam sistem peradilan Indonesia.

Kadang Hukum Kematian Dibutuhkan Untuk Menjaga Kehidupan.

Seorang profesor pakar hukum, Prof. M. Laica Marzuki diminta pendapatnya tentang vonis mati. Dia mengatakan tidak setuju ada hukuman mati. Bukan hanya terhadap terdakwa kasus narkoba, tetapi dalam semua bentuk kejahatan yang terjadi; termasuk pada pembunuhan yang paling sadis sekali pun (seperti genocida). Pendapat ini didukung oleh Ifdhal Kasim, dari Komnas HAM. Sosok Fajroel Rahman juga seide dengan mereka. Ifdhal mengatakan, meskipun hukuman mati berlaku di Amerika, dalam hal ini bangsa Indonesia tidak harus meniru Amerika.

Landasan pemikiran Prof. Laica adalah UUD 1945, pasal 28, bagian I1. Bunyi lengkapnya sebagai berikut:

(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut, adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

Berdasarkan dalil hukum ini, maka manusia di Indonesia tidak boleh dicabut atau dikurangi hak hidupnya (dimatikan), dalam keadaan apapun. Termasuk jika dia melakukan kejahatan apapun. Begitu logika yang dikembangkan Prof. Laica. Dia tidak menampik hukuman berat bagi kasus narkoba, tetapi bentuknya bukan hukuman mati. Menurutnya, kalau diterapkan hukuman mati, berarti melanggar Konstitusi (UUD 1945).

Menurut saya, pandangan Prof. Laica terlalu TEKSTUALIS atau LITERAL. Seperti kalau seseorang melihat dengan “kacamata kuda”, tidak bisa belok-belok, tetapi harus lurus ke depan…selamanya.

Cara pandang demikian dalam khazanah fiqih Islam mirip dengan pandangan-pandangan kaum Zhahiri (pengikut Abu Dawud Azh Zhahiri rahimahullah). Jadi kesimpulan-kesimpulan hukum diambil melalui pemahaman secara literal terhadap teks-teks ayat atau hadits Nabi.

Beberapa catatan penting:

[1]. Pasal 28 UUD 1945 tentang HAM, salah satu tujuannya ialah menjaga kehidupan manusia. Menjaga kehidupan manusia itu bukan hanya bisa ditafsirkan dengan: meniadakan hukuman mati. Tetapi bisa juga ditafsirkan: mencegah terjadinya pembunuhan. Bukankah kita sama-sama tahu, bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.

[2]. Adanya ancaman hukuman mati, akan membuat banyak manusia lebih menghargai kehidupan orang lain. Sebab vonis mati adalah hukuman terberat yang diterima manusia; jika ancaman itu ada, manusia akan berpikir 1000 kali sebelum membunuh orang lain. Jadi hukuman mati bisa bermakna “menakut-nakuti manusia” agar tidak membunuh.

[3]. Bagaimana mungkin akan tercapai keadilan, jika seorang pembunuh bisa hidup dan menikmati kehidupan (meskipun dalam penjara), padahal dia telah menimbulkan kematian bagi orang lain? Dimana letak keadilannya, sang pembunuh sudah melenyapkan nyawa orang lain? Bukankah nilai kehidupan korban pembunuhan sama mahalnya dengan nilai nyawa sang pembunuh? Meniadakan vonis mati sama dengan melestarikan kezhaliman, terutama dalam kasus-kasus penghilangan nyawa orang lain.

[4]. Adalah benar belaka bahwa kita harus menjaga kehidupan manusia, tetapi harus diingat, bahwa manusia itu bisa melenyapkan kehidupan orang lain. Dia bukan saja bisa dibunuh (melalui vonis mati), tetapi bisa juga membunuh orang lain (dengan segala alasannya). Maka posisi hukuman mati bukanlah untuk meremehkan nyawa si pembunuh, tetapi untuk mengakhiri kesempatan baginya untuk membunuh manusia yang lain (lagi). Kalau tidak dimatikan, dia bisa melakukan penghilangan nyawa kembali.

[5]. Pembunuh yang tidak dihukum mati, akan menimbulkan rasa dendam, frustasi, dan marah di pihak keluarga korban pembunuhan. Dendam itu belum akan tuntas, sebelum si pembunuh juga dibunuh. Dendam ini bisa memicu kekerasan dan konflik berkepanjangan antar keluarga dan anak-keturunannya. Artinya, meniadakan vonis mati sama dengan melestarikan kekerasan dan pembunuhan berkepanjangan.

2:179

Bagi kalian, dalam hukum qishash itu, ada kehidupan, wahai para Ulul Albaab, agar kalian bertakwa.” (Al Baqarah: 179).

Hukuman mati bagi para pembunuh (secara sengaja dan zhalim) adalah instrumen yang bisa memberi kehidupan bagi manusia. Pertama, ancaman sanksi mati akan membuat manusia berpikir 1000 kali sebelum membunuh orang lain. Jika dia membunuh, sanksinya akan dibunuh. Kedua, menjaga kehidupan tidak hanya ditafsirkan menjaga nyawa si pembunuh; tetapi ditafsirkan juga sebagai menghargai sangat mahal nyawa korban yang sudah dibunuh. Selagi nyawa dianggap murah, disana pembunuhan dan kekerasan akan merebak. Ketiga, memberikan hukuman mati kepada si pembunuh, hal itu akan menerbitkan keadilan dan menghentikan segala konflik, dendam, dan balas-membalas nyawa. Berarti ada lebih banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

Demikian diskusi kecil ini. Kadang pemikiran seorang profesor tidak menyampaikan ke arah kebenaran (persepsi) dan keadilan (hukum). Islam telah mengajarkan timbangan-timbangan keadilan. Semoga kita memahami. Amin.

(Abah Syakir).


Biarkan Jokowi “Hedon” 3 Bulan…

Oktober 16, 2012

Hhmm…

Maksud hedon” disini bukan artinya senang-senang, menghamba hawa nafsu, seperti yang ditulis di bagian lain. Maksudnya ialah, bersantai, tenang-tenang, enak-enakan, bermesra-mesra dengan media, memungut puji-puji segunung, dan seterusnya. Biarkan Pak Jokowi enak-enak, menikmati posisi Gubernur DKI selama 3 bulanan pertama. Dia perlu dapat “hiburan manis” setelah susah-payah berjuang menuju GDKI-1 (posisi Gubernur DKI…he he he).

Eeee…

Apa ya, Jakarta itu kota yang super komplek, sangat rumit, tidak sesederhana yang dibayangkan. Jakarta adalah provinsi paling rumit di seluruh Indonesia. Ia provinsi, sekaligus kota; kota tetapi provinsi. Dari sisi ini saja, kita sudah merasa puyeng. Kok ada sebuah kota sebesar provinsi…

Siapa Nih? Bang Haji apa Maradona? Napa Die Ada Dimari…

Jakarta itu rumit sekali. Ia bukan Solo yang merupakan sebuah kota penting di Jawa Tengah. Jakarta berbeda dari Solo, dalam sebagian besar konstruksi kota dan tipikal rakyatnya. Beda, beda, beda sekali.

Sudah banyak pemimpin gagal di Jakarta ini; dalam artian, gagal mewujudkan impian dan harapan warga Jakarta dan sekitarnya. Kini ujug-ujug Jokowi muncul, bersama sosok pemimpin gagal Ahok. Jokowi secara gagah mengatakan, bahwa Jakarta butuh: pemimpin yang berkarakter, manajemen yang kuat, dan tindakan nyata. Tapi ya semua itu baru sebatas teori atau retorika.

Haaa…

Masalah terbesar Jokowi di Jakarta bukan soal minimnya dukungan dari DPRD, karena dia cuma didukung PDIP dan Gerindra; tetapi ya realitas jaringan kekuasaan politik-ekonomi-sosial yang selama ini mendominasi kehidupan rakyat Jakarta. Itu masalah utamanya. Jokowi pemain baru, tidak mudah baginya untuk menerobos jaring-jaring kekuasaan politik-sosial-ekonomi yang sudah sangat kuat di Jakarta. Jangankan dia, Pak SBY saja tak mampu kok. Mafia PBB (Politik-Birokrasi-Bisnis) di Jakarta sangat kuat… Mereka tak akan begitu saja memberi cek kosong kepada Jokowi.

Kalau diibaratkan sebuah kerajaan, Jokowi ini seperti seorang menteri yang baru dilantik. Di Jakarta, dia akan berhadapan dengan raja (presiden), permaisuri (isteri presiden), para pangeran (keluarga dan anak buah presiden), para panglima (jendral-jendral), para menteri lain (menteri-menteri kabinet, pimpinan BUMN), para bangsawan (kaum elit, para pengusaha, bisnisman), para pejabat asing (orang-orang ekspatriat yang membawa missi asing), dan lain-lain.

Tapi kalau baca program-program Jokowi, seperti yang dimuat dalam situs KPUD Jakarta, tentang program-program semua kandidat Gubernur DKI 2012. Program dia justru sangat kapitalistik-liberal. Ini sangat mengherankan. Program dia paling kapitalistik-liberal dibandingkan calon-calon lain. Satu sisi, hal itu seperti tidak selaras dengan ide-ide ekonomi kerakyatan Gerindra; di sisi lain, Jokowi selama memimpin Solo mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang merakyat. Kok bisa begini ya? Mana yang benar? Apa program-program itu cuma formalitas belaka? Atau kesan “merakyat” di Solo hanya kamuflase, sebelum akhirnya mengeluarkan jurus kapitalisme-liberal untuk Jakarta? Tak tahulah awak…

Tapi sejujurnya, langkah Jokowi akan menghadang banyak rintangan. Misalnya, dia ingin memindahkan Busway ke pinggiran kota Jakarta.  Itu artinya, dia harus membuat pengganti Busway untuk angkutan di tengah kota.  Apa penggantinya? Monorail atau MRT? Atau apa?

Misalnya dia memilih Monorail, maka dia harus koordinasi dengan Departemen Perhubungan, dengan Badan Pertanahan (untuk soal lahan lintasan Monorail), dengan Departemen Keuangan untuk investasi, dengan PLN untuk menyediakan listrik, dengan kepolisian untuk rekayasa lalu-lintas, dengan DLLAJR, dengan PT. KAI, dengan developer, dengan penyedia prinsipal teknologi, dengan partai politik, dengan media massa, dengan ini dan itu, sangat banyak urusannya. Jadi, tidak sekejap Jokowi bilang “bikin Monorail”, lalu seketika bulan depan terwujud. Tidak begitu.

Jadi menurut saya, Jokowi itu hanyalah seorang politisi (pemimpin) yang sengaja dikorbankan, atau diabuang; ketika dia didapuk untuk memimpin Jakarta. Setelah 3 bulan memimpin, dia akan dicaci-maki, dia akan diolok-olok, atau bahkan dibuatkan kartun yang sifatnya mengejek. Intinya, Jokowi ini seorang pemimpin yang akan “dikubur” di Jakarta.

Sebenarnya, letak kesalahannya ialah pada janji-janji Jokowi yang terlalu tinggi. Dia menjanjikan perubahan dramatik, sesuatu yang dinanti semua orang, tapi sangat susah direalisasikan. Sekarang Jokowi jalan-jalan dari kampung ke kampung; masalahnya, orang Jakarta beda dengan orang Solo. Warga Solo sopan-santunnya tinggi, kalau Jakarta tau sendiri. Jalan-jalan blusukan kampung itu bukan solusi untuk Jakarta; tetapi kalau untuk melihat masalah riil masyarakat, itu boleh sepenuhnya.

Sangat unik melihat pada sosok Amien Rais, ketika dia menyerang Jokowi dengan sangat pedas dan kasar. Kelihatan seolah dia “sakit hati” ke Jokowi, mungkin karena teori-teori politiknya sering gagal. Amien menyerang Jokowi sedemikian rupa agar Jokowi gagal, tetapi terbukti dia sukses jadi gubernur. Lalu apa pengaruh dari kemarahan dan emosi Amien Rais yang kemarin-kemarin? Apakah dia sampai sekarang masih emosi atau tambah emosi? Entahlah, kadang dibutuhkan kemarahan tertentu agar wakil yang didukung PAN sukses dalam pertarungan politik; meskipun akibatnya kalah lagi, kalah lagi.

Tetapi kita melihat, tanpa harus dimarahi juga, Jokowi pasti gagal. Gagalnya bukan karena dia tak bisa memimpin; tapi dia terlalu keburu sesumbar ingin menyelesaikan masalah Jakarta dalam waktu cepat. Itu kesombongan. Itu tidak bagus. Pak Jokowi terlalu PD, dan media-media sekuler bergemuruh tepuk-tangan dan sorak-soray mengkampanyekan sosok Jokowi.

Wwwuuihh…

Maaf ya Pak Jokowi, Pak Gubernur. Bukan kami tidak mendukung, atau bersikap negative thinking. Bukan itu. Tetapi Anda terlalu under estimate terhadap problematika di Jakarta. Seolah problema itu sangat mudah diatasi. Tidak semudah itu Pak. Melalui analisa sains pun, tidak semudah itu. Contohnya, ya Mobil SMK yang Bapak kampanyekan itu. Terbukti sampai saat ini tidak jelas bagaimana hasilnya. Gimana nasib Mobil SMK itu? Ya ini hanya sekedar renungan saja, agar kita jangan terlalu sombong dalam membuat pernyataan atau janji-janji.

Okeh Pak Jokowi, silakan bekerja, silakan berkarya… Kota Jakarta telah menantikan segala daya dan upayamu. Adapun soal Amien Rais marah-marah dan emosi; ya biasalah, kadang manusia makin senja usia semakin sensitif. Jangan terpengaruh itu.

Masa 3 bulan cukuplah untuk bermesra-mesraan dengan media dan segunung puja-puji masyarakat. Setelah itu…ya itulah Jakarta. Ia adalah kota yang dinamakan Jaya Karya, kota yang berjaya. Nama ini terambil dari inspirasi Surat Al Fath: Inna fatahna laka fathan mubina (sesungguhnya Kami telah memenangkan kamu dengan kemenangan yang nyata).

Jadi Jakarta itu, kalau mau berjaya, harus dipimpin oleh manusia yang kuat, luas wawasan, bermental baja, pemberani, lembut hati, dan Mukmin sejati. Kalau selain itu, apalagi kalau tipikalnya seperti anggota boyband, waduh sangat tidak bagus…

Udeh…gitu aje ye Bank Kowi. Selamat “hedon”, eh maksudnya selamat santai-santai, enak-enak, untuk 3 bulan pertama ini.

Mine.


Setelah Hedon…Mau Ngapain?

Oktober 14, 2012

Hedonisme: Hidup Hura-hura Selalu! Menghamba Syahwat Doang.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ini sebuah tulisan unik tentang gaya hidup hedonis, having fun selalu. Intinya, hidup seperti itu bukan model hidup yang selama ini kita jalani; tapi alhamdulillah, kita bisa tahu liku-liku hidup seperti itu. Sekalipun kita tidak pernah kesana, kita bisa tahu apa yang ada disana. Lewat informasi, bahan bacaan, mendengar penuturan, diskusi, ngobrol, dll. akhirnya kita tahu juga. Disini coba kita buat gambaran hidup seorang laki-laki hedon. Penuturan ini fiktif belaka, hanya reka-reka. Gambaran fiktif ini sengaja kita buat, sebagai pelajaran hidup bagi kita semua, terutama anak-anak muda Muslim. Okeh…

===============================================================

Sebutlah nama pemuda itu Andre (maaf kalau ada kesamaan nama ya). Dia seorang eksekutif muda. Usianya sekitar 30 tahun, masih seger-segernya. Dia bekerja sebagai seorang manajer program entertainment sebuah stasiun TV. Dia diberi space khusus untuk mengisi acara TV di jam prime time. Isinya tentu acara entertainment yang mengundang banyak minat pemirsa, bisa acara film box office, acara komedi, acara reality show, acara idol mania, dll. Kebetulan, program yang dia kelola tentang bincang-bincang artis dengan suasana humor dan interaktif.

Andre tinggal di sebuah apartemen mewah yang sudah disediakan oleh stasiun TV. Letaknya tidak jauh dari kantor pusat TV itu. Di apartemen itu sudah ada layanan sempurna untuk laki-laki seperti Andre yang belum menikah itu. Jangan tanya soal ruang tidur, kamar tamu, dapur, dan sejenisnya; di apartemen itu ada kolam renang, fasilitas SPA, home theater (bebas milih film dari jenis apapun, dari yang paling sopan dan melodrama, sampai hardcore berlumuran darah ada), pijat relaksasi (dari jenis pijat kesehatan murni sampai plus-plus dengan terapi mesum), cafe, supermarket, dan seterusnya. Soal menu makan, Andre bisa memilih dan memesan menu makanan apa saja, jenisnya apapun yang dia minta (menu vegetarian, menu organik, sampai daging babi, daging anjing, jantung monyet, sampai empedu ular Cobra bisa dipesan). Di rumah Andre sendiri sudah ada mini bar, berisi koleksi minuman macam apa saja, dari soft drink, “moderate drink”, sampai Tequila dan Vodka, ada semua.

Soal layanan seks, tentu saja. Kalau seminggu tidak main seks, Andre merasa pusing. Untuk main seks, Andre harus nyediain uang minimal 10 juta untuk sekali main. Dia pilih-pilih cewek, harus yang cantik, sehat, tidak terkena penyakit HIV. Budget Andre itu termasuk kecil, sebab kalau mau main sama artis sinetron terkenal, sekali main bisa keluar 500 juta lebih. Lawan main seks Andre macam-macam. Ada mahasiswi yang berprofesi sebagai “ayam kampus”, ada anak SMP/SMA yang masih ingusan, ada cewek-cewek cantik yang nyari kerja ke kantor Andre (lalu disyaratkan kalau mau diterima kerja, harus tidur dulu sama dia), ada teman sekantor Andre sendiri, ada kekasih dia pemain sinetron yang dia janjiin mau dinikahi baik-baik, bahkan ada wanita-wanita yang sudah bersuami (Andre seneng juga main yang berbau selingkuhan begitu).

Andre termasuk tipe laki-laki yang sudah kehilangan keperjakaan sejak SMP. Itu bermula dari kebiasaan nonton BF dengan kawan-kawannya. Pengalaman seks ilegal pertama dia dengan pacarnya; setelah beberapa kali melakukan Andre ketagihan; tentu saja pacar korban pertama dia itu sudah dia campakkan. Kata Andre di masa remajanya: “Hidup ini harus berani mengambil risiko. Berani menikmati yang enak-enak, dan berani menginjak-injak orang lain. Cuma itu kiatnya, supaya kamu bisa hidup menyenangkan.” Dengan prinsip begini, Andre sudah punya banyak bekal untuk masuk ke Dunia Media; dunia dimana dia akan bertemu kawan-kawan yang paling mesum, paling tega hati, paling muak moral.

Andre tidak mau segera menikah. Sudah banyak orang menggodanya supaya cepat menikah. Tapi dia berprinsip, “Kalau gue nikah, ntar kebebasan gue terampas. Gue tidak mau pusing mikirin anak, mikiran bini. Gue pingin seneng-seneng dulu. Ntar kalau sudah tak kuat seneng-seneng lagi, gue bakal menikah. Gue bakal nyari perempuan berjilbab yang baik-baik. Itu juga kalau gue sudah mau tobat.” Seolah, dengan semua dunia having fun itu, Andre bisa mengatur kehidupan ini sesuka hatinya.

Hampir setiap bulan sekali Andre pergi ke luar negeri dengan anak buahnya. Kadang mereka bergantian ikut menemani Andre. Bagi anak buah cewek yang diajak ke luar negeri, dia harus siap-siap melayani badan Andre nanti di luar negeri. Maka itu dia selalu memilih anak buah yang cantik dan seger-seger. “Lumayan, bisa main seks gratis. Hemat anggaran,” kata Andre beralasan sambil cekikikan. Di luar negeri, selain ada urusan kerja, nyari bahan dan inspirasi tayangan entertainment yang dijamin laku dan dapat ratting selangit; Andre tentu tak lupa acara Dugem. Main ke diskotik-diskotik, minum-minum sampai mabuk, makan apa saja (yang tadi kita bilang, berbahan babi dan seterusnya), dan menjajal cewek-cewek luar negeri. Untuk sekali kunjungan ke luar negeri, Andre bisa mengeluarkan duit hingga 100 juta, dari kantong dia sendiri. Biar menghemat anggaran, untuk akomodasi dia numpang ke anggaran kantor. “Gue harus pintar-pintar ngatur duit, biar bisa terus seneng-seneng,” kata Andre jujur.

Baca entri selengkapnya »


Mengapa Orang Zaman Modern Suka Nonton Sepak Bola…

Oktober 13, 2012

Lagi Bisik-bisik Mendiskusikan Masa Depan Sepak Bola…

Mengapa manusia zaman modern, termasuk kita-kita di Indonesia, sangat suka nonton bola?

Silakan Anda jawab dalam ruang komentar. Boleh mau jawab apa saja, asalkan logis dan relevan. Disini saya coba sebutkan jawaban menurut versi saya sendiri. Bisa benar, bisa salah. Tidak mengapa kita share disini.

PERTAMA. Karena setiap pertandingan bola itu dilakukan di atas rumput hijau. Ini bukan becanda lho, tapi serius. Umumnya mata-mata manusia suka dengan pemandangan yang hijau, segar, apalagi jika kelihatan titik-titik air disana. Pandangan hijau itu menyegarkan, membuat rileks, dan tidak melelahkan. Bisa bayangkan, jika permainan bola dilakukan di atas karfet warna merah, kuning, atau oranye, betapa kita akan cepat “lelah mata”.

KEDUA. Karena sejujurnya manusia modern sudah bosan dengan aneka hiburan lain, seperti film, musik, konser, komik, kartun, dan lain-lain. Mereka perlu rileks atau “jeda hiburan” dengan nonton bola. Bola bersifat olah-raga, game sport, atau lomba yang ciri utamanya adu kekuatan, adu kecerdikan, adu kemampuan. Hiburan lomba ini terasa lebih alami dan sportif daripada hiburan bentuk lain yang terlalu banyak rekayasa.

KETIGA. Dalam hiburan bola sebenarnya juga ada sisi bosannya, tidak diragukan lagi. Tapi nilai kebosanan itu seringkali ditutupi serapat mungkin melalui publikasi media dan pencitraan. Pemain-pemain yang handal menjadi selebritis, kehidupan pribadinya dikupas; dibuat aneka acara/even seputar bola; dijual foto, kaos, topi, syal, dan seterusnya; dibuat komunitas-komunitas suporter; dibuat lembaga pengatur plus aturan-aturan di dalamnya; dll.

Misalnya kegiatan “mancing di empang”. Apa sih hebatnya mancing di empang? Bagi kita rasanya, gak ada hebatnya sama sekali. Tapi kalau dibuat even Mancing Empang Super League; dibuat perlombaan mancing empang di tingkat nasional, ASEAN, dan dunia; dibuat Federasi Olahraga Mancing Empang (FOME); acara mancing empang ditayangkan di seluruh stasiun TV secara live, hingga waktu dini hari; dibuat acara “nonton bareng” mancing empang; ditampilkan sosok pemancing empang “klas dunia” misalnya Mas Paijo, Kang Cecep, Pak Herman, dll. lalu dikupas kehidupan pribadi mereka, cewek-cewek simpanannya, mobil-mobil sport koleksinya, dll; lalu dibuat T Shirt khusus, topi, syal, dst; dengan semua langkah ini, dijamin olahraga mancing empang akan menjadi idola.

Singkat kata, ada upaya membangun pencitraan melalui media, bisnis, kebijakan birokrasi, dan kultural. Sebab begini lho, ini sebuah rahasia ya; pada era tahun 80-an, ketika saya masih usia SD-SM, even olahraga dalam OLIMPIADE dan pertandingan TINJU sangat marak di dunia. Seingat saya, tahun 1984 ada Olimpiade di Los Angeles. Ketika itu sepak bola hanya satu pilihan, bukan satu-satunya yang paling populer. Tapi semakin kesini, Olimpiade tergeser, Tinju apalagi. Itu artinya, ada kesengajaan menjadikan sepak bola sebagai idola masyarakat dunia.

Nah, begitu deh. Itu menurutku, bagaimana menurutmu? Teringat sebuah bunyi iklan: “Tidak ada badak? Tidak bagus!” (Kok jadi kesana ya… apa hubungannya lagi).

Mine.