Setelah Hedon…Mau Ngapain?

Hedonisme: Hidup Hura-hura Selalu! Menghamba Syahwat Doang.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ini sebuah tulisan unik tentang gaya hidup hedonis, having fun selalu. Intinya, hidup seperti itu bukan model hidup yang selama ini kita jalani; tapi alhamdulillah, kita bisa tahu liku-liku hidup seperti itu. Sekalipun kita tidak pernah kesana, kita bisa tahu apa yang ada disana. Lewat informasi, bahan bacaan, mendengar penuturan, diskusi, ngobrol, dll. akhirnya kita tahu juga. Disini coba kita buat gambaran hidup seorang laki-laki hedon. Penuturan ini fiktif belaka, hanya reka-reka. Gambaran fiktif ini sengaja kita buat, sebagai pelajaran hidup bagi kita semua, terutama anak-anak muda Muslim. Okeh…

===============================================================

Sebutlah nama pemuda itu Andre (maaf kalau ada kesamaan nama ya). Dia seorang eksekutif muda. Usianya sekitar 30 tahun, masih seger-segernya. Dia bekerja sebagai seorang manajer program entertainment sebuah stasiun TV. Dia diberi space khusus untuk mengisi acara TV di jam prime time. Isinya tentu acara entertainment yang mengundang banyak minat pemirsa, bisa acara film box office, acara komedi, acara reality show, acara idol mania, dll. Kebetulan, program yang dia kelola tentang bincang-bincang artis dengan suasana humor dan interaktif.

Andre tinggal di sebuah apartemen mewah yang sudah disediakan oleh stasiun TV. Letaknya tidak jauh dari kantor pusat TV itu. Di apartemen itu sudah ada layanan sempurna untuk laki-laki seperti Andre yang belum menikah itu. Jangan tanya soal ruang tidur, kamar tamu, dapur, dan sejenisnya; di apartemen itu ada kolam renang, fasilitas SPA, home theater (bebas milih film dari jenis apapun, dari yang paling sopan dan melodrama, sampai hardcore berlumuran darah ada), pijat relaksasi (dari jenis pijat kesehatan murni sampai plus-plus dengan terapi mesum), cafe, supermarket, dan seterusnya. Soal menu makan, Andre bisa memilih dan memesan menu makanan apa saja, jenisnya apapun yang dia minta (menu vegetarian, menu organik, sampai daging babi, daging anjing, jantung monyet, sampai empedu ular Cobra bisa dipesan). Di rumah Andre sendiri sudah ada mini bar, berisi koleksi minuman macam apa saja, dari soft drink, “moderate drink”, sampai Tequila dan Vodka, ada semua.

Soal layanan seks, tentu saja. Kalau seminggu tidak main seks, Andre merasa pusing. Untuk main seks, Andre harus nyediain uang minimal 10 juta untuk sekali main. Dia pilih-pilih cewek, harus yang cantik, sehat, tidak terkena penyakit HIV. Budget Andre itu termasuk kecil, sebab kalau mau main sama artis sinetron terkenal, sekali main bisa keluar 500 juta lebih. Lawan main seks Andre macam-macam. Ada mahasiswi yang berprofesi sebagai “ayam kampus”, ada anak SMP/SMA yang masih ingusan, ada cewek-cewek cantik yang nyari kerja ke kantor Andre (lalu disyaratkan kalau mau diterima kerja, harus tidur dulu sama dia), ada teman sekantor Andre sendiri, ada kekasih dia pemain sinetron yang dia janjiin mau dinikahi baik-baik, bahkan ada wanita-wanita yang sudah bersuami (Andre seneng juga main yang berbau selingkuhan begitu).

Andre termasuk tipe laki-laki yang sudah kehilangan keperjakaan sejak SMP. Itu bermula dari kebiasaan nonton BF dengan kawan-kawannya. Pengalaman seks ilegal pertama dia dengan pacarnya; setelah beberapa kali melakukan Andre ketagihan; tentu saja pacar korban pertama dia itu sudah dia campakkan. Kata Andre di masa remajanya: “Hidup ini harus berani mengambil risiko. Berani menikmati yang enak-enak, dan berani menginjak-injak orang lain. Cuma itu kiatnya, supaya kamu bisa hidup menyenangkan.” Dengan prinsip begini, Andre sudah punya banyak bekal untuk masuk ke Dunia Media; dunia dimana dia akan bertemu kawan-kawan yang paling mesum, paling tega hati, paling muak moral.

Andre tidak mau segera menikah. Sudah banyak orang menggodanya supaya cepat menikah. Tapi dia berprinsip, “Kalau gue nikah, ntar kebebasan gue terampas. Gue tidak mau pusing mikirin anak, mikiran bini. Gue pingin seneng-seneng dulu. Ntar kalau sudah tak kuat seneng-seneng lagi, gue bakal menikah. Gue bakal nyari perempuan berjilbab yang baik-baik. Itu juga kalau gue sudah mau tobat.” Seolah, dengan semua dunia having fun itu, Andre bisa mengatur kehidupan ini sesuka hatinya.

Hampir setiap bulan sekali Andre pergi ke luar negeri dengan anak buahnya. Kadang mereka bergantian ikut menemani Andre. Bagi anak buah cewek yang diajak ke luar negeri, dia harus siap-siap melayani badan Andre nanti di luar negeri. Maka itu dia selalu memilih anak buah yang cantik dan seger-seger. “Lumayan, bisa main seks gratis. Hemat anggaran,” kata Andre beralasan sambil cekikikan. Di luar negeri, selain ada urusan kerja, nyari bahan dan inspirasi tayangan entertainment yang dijamin laku dan dapat ratting selangit; Andre tentu tak lupa acara Dugem. Main ke diskotik-diskotik, minum-minum sampai mabuk, makan apa saja (yang tadi kita bilang, berbahan babi dan seterusnya), dan menjajal cewek-cewek luar negeri. Untuk sekali kunjungan ke luar negeri, Andre bisa mengeluarkan duit hingga 100 juta, dari kantong dia sendiri. Biar menghemat anggaran, untuk akomodasi dia numpang ke anggaran kantor. “Gue harus pintar-pintar ngatur duit, biar bisa terus seneng-seneng,” kata Andre jujur.

Katanya “Seneng-seneng”. Kok Malah Susah, Stress, Takut?

Tapi ada pengalaman ke luar negeri yang membuat Andre trauma. Suatu hari dia janjian ketemu sama koleganya, orang media asal Eropa. Kawan Eropa itu ngajak Andre ke klub nudies yang beberapa kali dia sudah kesana. Andre penasaran dan pingin tahu lagi. Datanglah mereka ke sebuah pulau terpencil. Untuk masuk ke tempat itu harus punya member card dan mau mentaati aturan yang berlaku. Karena Andre masih baru, dia dibuatkan kartu saat itu juga. Andre bayangkan, dengan masuk klub macam begitu dia bisa ngeseks sesuka hati “sampai putus”. Memang disana banyak pemandangan “gratis”; tetapi oleh kawannya dari Eropa itu Andre diajak ke tempat yang banyak laki-laki homo-nya. Andre kaget bukan main. Tapi apa boleh buat, dia tidak bisa kemana-mana. Akhirnya, “bagian belakang” dia dihajar sampai habis oleh puluhan homo. Andre merasa sangat kesakitan dan mau mati, tetapi beruntung ada yang menyelamatkan dia. Setelah kejadian itu, Andre merasa ngeri kalau diajak ke tempat-tempat “liar”.

Oh ya, dalam keseharian kerja, Andre diperlakukan seperti raja. Karena hedonis, dia sangat mudah emosi dan tersinggung. Kalau lagi marah, bawahannya dia semprot dengan kata-kata kasar: “Bego lo ya! Anjing lo! Babi! Setan!” Kata-kata “bangsat” termasuk sopan dalam kamus Andre. Kalau dia memaki orang dengan kata “setan”, saat itu banyak setan di sekitarnya yang tertawa terbahak-bahak. “Enak aja nuduh orang setan. Emang kamu sendiri apaan, setan?”

Lingkungan sekitar Andre tentu saja banyak orang-orang bejatnya. Bencong atau banci, itu biasa; pelacur, model, atau SPG “bispak”, itu bejibun; orang-orang yang cari muka, egois, mau seneng sendiri, suka menjerumuskan teman, sangat hasad ke orang lain, dan sejenisnya sangat banyak; bahkan yang berpura-pura ustadz, berpura-pura alim, belagak saleh, atau belagak paling fasih mengucap ayat-ayat, ada juga disana. Andre juga tak lupa konsultasi dengan “penasehat spiritual”; dia punya dukun langganan, tempat bertanya soal-soal ghaib. Misalnya, dia bertanya ritual apa yang mesti dilakukan, supaya jabatan dia aman, tidak direbut orang lain; hari apa atau saat bagaimana dia mesti ngelakuin ritual, agar rezekinya lancar; termasuk dia harus memasang jimat dimana, supaya tidak ada “hantu” masuk ke rumahnya?

Sekali waktu Andre ikut kegiatan bakti sosial. Dia menyumbang 1 juta atau 2 juta rupiah, sementara gaji dia sendiri per bulan hampir 50 juta. Saat menyumbang itu Andre telah mempersiapkan fotografer untuk mengabadikan momen. Lalu foto itu dia kirim ke kolega-kolega, dia kirim ke media, dia pasang di jejaring sosial, tentu saja dia share via BB. Foto itu dia beri judul: “Berbagi Untuk Sesama yang Menderita”. Tampak disana Andre tersenyum manis, dengan pakaian rapi, sambil merangkul seorang anak jalanan. Andre melakuin itu karena belajar dari seniornya, sesama kaum hedon. “Sekali waktu kita perlu nunjukin kalau kita ini punya kepedulian sosial. Meskipun kita merasa benci, semua itu bulshit dan buang-buang uang saja. Syukur-syukur kalau lagi kegiatan sosial kita ketemu SPG yang cantik, bisa tuh dia dirayu untuk seneng-seneng seri berikutnya,” nasehat senior Andre.

Untuk dapat posisi jabatan yang bagus, tidak mudah caranya. Andre harus bekerja mati-matian, dia harus berkorban habis-habisan, mau ngelakuin apa saja. “Menjadi keset sekalipun, gue harus mau, kalau ingin sukses,” kata Andre suatu ketika. Bagi Andre kehormatan, harga diri, rasa malu, semua itu bulshit. “Kalau kita masih mikir rasa malu, gak bakalan bisa seneng-seneng,” kata Andre menjelaskan prinsipnya. Untuk mendapat posisi jabatan itu, Andre setengah mati harus merayu atasannya. Dia harus menjadi budak atasan, disuruh apapun mau; termasuk memuaskan atasan ketika sedang dalam rapat. Andre tak peduli, yang penting dia dapat jabatan. Andre mau saja disuruh melayani ini dan itu, siapa saja yang ditunjuk oleh atasannya untuk dilayani; bahkan Andre pernah disuruh menjilati tapak kaki atasannya, dan dia lakuin juga. Soal makian “anjing”, “babi”, “setan”, “bego”, wah jangan tanya lagi. Karena Andre benar-benar mau jadi budak, akhirnya dia dapat jabatan mentereng. Karena ngerasa pernah sengsara buat dapetin jabatan, Andre balas dendam ke anak-buahnya. Mereka dia perlakuin kayak budak juga, bahkan kayak binatang.

Bagi Andre sendiri, hidup ini sudah tidak ada yang berharga bagi dia, selain kesenangan dia sendiri. Jangankan ibadah, shalat, atau mengaji; untuk hormat ke orangtua, kakak-adik, atau keluarga saja, dia sudah tak mau. Bagi dia, keluarga dianggap kompetitor yang akan merecoki acara seneng-seneng dia. Saking parahnya, Andre pernah mau dibunuh adiknya sendiri. Kenapa bisa begitu? Karena suatu hari dia mau menjebak keponakannya sendiri, seorang cewek masih ABG. Cewek itu mau dia tawarin ke kawannya, sesama eksekutif media, untuk bayar utang 500 juta. Untungnya rencana Andre gagal, cewek ABG itu selamat. Akibat kejadian itu, dia hampir saja dibunuh oleh keluarganya sendiri. Sejak kejadian itu, Andre memutuskan keluar dari ikatan keluarga; begitu juga keluarga besarnya sudah memutus hubungan dengan dia.

Segala macam kesenangan, dugem, acara ngeseks, drink, drugs, makan ini itu, pelesir kesini dan kesitu; sudah Andre lakuin. Cita-cita dia dari remaja untuk seneng-seneng, happy-happy sudah dijalani. Apa saja yang dilarang agama, sudah Andre lakuin. Tidak ada yang paling Andre takuti, selain kematian yang datang tiba-tiba, lalu membuat dia berhenti senang-senang. Untuk yang begitu, Andre amat sangat takut. Kalau ada orang membawa tongkat, pisau, apalagi parang; dia sangat takut. Pernah dia merasa mau mati ketika mobil yang dia naiki terjebak di area tawuran anak-anak SMA. Dia takut sekali, sampai harus membentur-benturkan kepala ke stir, karena tidak tahu harus berbuat apa.

Andre sangat takut kalau tiba-tiba mati, sebab dia masih ingin terus cari duit dan seneng-seneng. Dia tidak mau mati. Andre pingin hidup 1000 tahun lagi, biar bisa seneng-seneng 1000 tahun juga. Bagi Andre, mau jadi budak, mau jadi binatang, mau jadi keset, mau jadi closed sekalipun, gak masalah, asalkan bisa seneng-seneng. Andre paling takut melihat mobil ambulan, paling takut melihat keranda mayat, paling takut melihat foto orang mati. Dia sangat sangat sangat takut mati, sebab kalau sudah begitu, dia tak akan bisa menodai cewek-cewek lagi, tak bisa mabuk-mabuk lagi, tak bisa maki-maki orang lagi, tak bisa memuaskan bosnya saat dalam rapat (sambil dilihatin banyak orang),…

Dan yang sangat Andre takuti ialah…siksaan hidup yang akan dia dapatkan, kalau nanti dia mati. Dia sangat takut disiksa, sangat takut adzab kubur, sangat takut cerita-cerita seputar neraka. Sebab apa, ya orang seperti dia bisa berharap apa? Amal baiknya tidak ada, ibadahnya tidak ada, dosa dan dosa melulu yang dilakuin. Jangankan mau tobat, buat sekedar minta maaf ke orangtua, minta maaf ke kawan-kawan, bahkan sekedar mengucap salam ke anak buah saja, dia tak mau. Bisa dibilang Andre itu atheis, tapi bukan atheis komunis, melainkan atheis hedonis kapitalistik.

Andre bisa membayangkan betapa perihnya nanti siksaan setelah mati, sebab hidup dia saja sebenarnya sangat menyiksa. Andre hampir frustasi menjalani hidup macam begitu. Tidak ada orang yang mau baik sama dia, mau jujur, mau tulus sama dia. Semua kawan-kawan dan anak-buahnya terus menanti-nanti saat yang tepat untuk menghancurkan dia. Andre punya banyak uang, tapi dengan uang segunung dia tak bisa membeli ketulusan hati orang. Dimana saja Andre berada, dia takut tiba-tiba dibunuh, tiba-tiba ditusuk, tiba-tiba diracun, tiba-tiba tertimpa tiang listrik, dan seterusnya. Menjalani hidup yang begitu saja, dia sudah tersiksa; apalagi kalau sampai mati lalu disiksa di kubur. Wih wih wih…Andre tak bisa bayangkan semua itu. Maka dia sering memakai narkoba, untuk nenangin diri. Pernah juga, dia naik mobil dalam keadaan mabuk, hanya memakai pakaian dalam saja; untungnya dia tidak sampai nabrak-nabrak. Kalau sampai nabrak, dia bisa masuk TV kayak Novi Amalia ( he he he…).

Ya begitulah sekilas gaya hidup hedonis Andre, sang hedon sejati. Dia penganut ajaran kebebasan mutlak, tanpa batas-batas moral. Bagi dia, tuhan yang dia sembah, adalah kesenangan syahwat itu sendiri. Tidak ada yang lebih berharga bagi Andre, selain kesenangan syahwat liar-nya. Tidak ada yang paling ditakuti oleh Andre, selain kematian yang akan membuatnya disiksa habis-habisan di alam kubur dan seterusnya. Dalam hidup yang begitu saja, dia sudah nyaris frustasi, apalagi di alam kubur nanti.

=================================================================

Apa yang digambarkan di atas adalah untuk hedon klas “master”, benar-benar tangguh dan nyaris sempurna kehedonannya. Lalu bagaimana dengan yang “baru coba-coba”, “setengah hedon”, “mulai kepincut”, “hedon miskin tapi sombong”, “hedon kecoa”, “pura-pura hedon”, “hedon narsis doang”, “hedon gak gablek duit”, dan seterusnya? Untuk yang master hedon saja ujungnya adalah menderita; menderita hidup, menderita batin, menderita eksistensi. Jadi bagi yang yunior-yunior, bagi yang “baru mulai”, atau “baru setengah jalan”; mending kalian semua berhenti dan segera berbalik arah. Pulanglah kawan…ada kehidupan panjang yang sedang menantimu. Mari kita sama-sama belajar, sama-sama memahami, sama-sama share kebaikan. Hedonisme adalah jalan paling bypass untuk membunuh mimpi-mimpi indahmu.

SOLUSI HIDUP…

Setelah membaca penuturan di atas (sekali lagi semua ini fiksi ya), mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya: Bagaimana caranya agar tidak terpengaruh hidup hedonis itu? Apa saja alasan yang bisa jadi pijakan untuk hidup secara baik, saleh, dan tidak tersesat seperti di atas? Apa alasan hakiki sehingga kita mesti menempuh jalan kesalehan, bukan jalan hedonis?

“Hari Sudah Senja, Mari Kita Pulang Kawan…”

Pertama. Kita bicara soal makan-minum. Makan-minum ini kan telah dieksploitasi sedemikian rupa, seperti dalam acara “master chef” itu. Disini kita bicara soal rasa, soal tekstur, soal penampilan makanan, soal bahan makanan, soal gengsi makanan. Tetapi hakikatnya, rasa makanan itu, semahal apapun, durasinya hanya sebentar di lidah dan tenggorokan kita. Kalau makanan sudah lewat tenggorokan, sudah tak berasa apa-apa lagi. Maksudnya, bolehlah menikmati makanan, mensyukurinya, atau gembul saat memakannya. Tetapi jangan berlebihan. Makanan singkong goreng seharga Rp. 1000 per potong, kadang bisa terasa excited di lidah seseorang, ketika pada saat yang sama lobster barbeque seharga Rp. 500 ribu per porsi terasa hambar di lidah orang lain.

Kedua. Pakaian indah, baju, celana, T Shirt, jaket, sweater, sepatu, dasi, dan aneka wardrop seksi (buat wanita). Bahkan cincin, kalung, jam tangan, anting, dan lainnya yang bermerk-merk klas satu. Semua ini dibutuhkan oleh manusia yang nilai dirinya rendah; dia mesti membutuhkan pakaian dan aksesoris mahal, supaya nilai dirinya mahal di mata manusia. Kalau dia merasa dirinya tinggi, berharga, mulia, dia tidak perlu semua itu. Dia sudah mulia meski tanpa manipulasi macam-macam. Kemuliaan dia bersumber dari kepribadian, kesopanan, ilmu, rasa percaya diri, reputasi positif, dll.

Ketiga. Nikmat seksual. Intinya, bagi setiap laki-laki, asal terjadi -maaf beribu maaf- pancaran sperma, itu sudah cukup. Ya pada hakikatnya, nikmat seksual ya hanya sampai disana. Tidak ada lagi selain itu. Mau wanitanya seseksi apapun, seselebritis apapun, sepopuler apapun, se-hot apapun; intinya ya hanya sebagai “penyaluran pancaran” itu. Tak lebih. Maka ketika seorang suami sedang bermain asmara dengan istrinya; hal itu sama belaka dengan kalau dia lakukan dengan selebritis yang harganya sekali main Rp. 1 miliar. Sama Pak, Mas, Bang…tidak ada bedanya.

Malahan, kelebihan bermain asmara dengan istri, antara lain: Hati merasa tenang, tidak ada rasa bersalah, tidak menzhalimi wanita, tidak perlu takut-takut kalau istri hamil; semua itu bisa dilakukan kapan saja, berapa kali pun, dengan gaya apa saja (selama bukan cara-cara yang diharamkan Syariat). Bahkan cara demikian sangat murah, sehat, bersih, berpahala pula. Bayangkan dengan cara ngeseks liar yang sekali transaksi hingga 50 juta, 100 juta, 300 juta, 500 juta? Orang gila kali ya yang melakukan semua itu. Yakinlah selalu, bahwa sepuas-puasnya laki-laki jahat bermain seks liar, dia tidak pernah merasa sepuas jika bermain dengan istri sahnya sendiri.

Keempat. Bagaimana dengan nikmat seks bagi wanita? Tabiat seks laki-laki itu agressif atau aktif, kalau wanita pasif. Laki-laki merasa bisa bermain dengan siapa saja, tapi bagi wanita tidak begitu. Kaum wanita tidak akan merasakan nikmatnya hubungan seksual, jika tidak dilakukan dengan laki-laki yang dia cintai. Bisa saja, dia main fisik dengan laki-laki ini dan itu; tetapi selagi laki-laki tersebut bukan yang dia cintai, tidak ada kesempurnaan nikmat disana. Lalu siapa dong yang bisa memuaskan harapan mereka? Hanya satu, yaitu suami-suami mereka yang tercinta.

Maka kalau melihat ada gambar cewek liar, cewek seksi, video porno, atraksi binal wanita, dll. jujur saya hanya tertawa saja. “Ini nih tipe cewek-cewek super galau, cewek paling menderita. Mereka butuh dikasihi, tapi hanya mendapat tipuan dan tipuan belaka.” Cewek-cewek semacam itu sejujurnya sangat iri dengan ibu-ibu atau kaum istri yang suaminya baik-baik. Kalau tidak percaya, tanyakan ke mereka. Tapi jangan dekat-dekat, nanti digoda lagi. (Nas’alullah al ‘afiyah).

Kelima. Soal uang. Ya semua orang butuh uang, semua orang senang uang, semua berusaha mendapat income. Tetapi uang kan bukan tujuan. Uang itu hanya alat tukar belaka. Sebagian orang ada yang mengeluh, “Katanya saya punya uang sekian miliar, sekian miliar. Tapi mana uang itu? Mana? Yang ada hanya catatan dalam buku tabungan ini. Kalau saya ambil uang di ATM, sehari tidak boleh lebih dari 5 juta. Kalau ambil di bank lebih dari 100 juta, harus ngisi dokumen ini itu dulu. Kalau uang mau saya ambil semua, saya diinterogasi dulu. Disuruh memenuhi syarat ini dan itu. Padahal itu uang saya sendiri, tapi untuk dipakai saja, selalu dipersulit oleh bank. Jadi siapa sebenarnya yang punya uang itu?”

Ya begitulah…yang tidak punya uang, ingin punya uang. Yang uang sedikit, ingin uangnya jadi banyak. Yang uang sudah banyak, disimpan di bank-bank, karena takut digarong perampok kalau ditaruh di rumah. Yang uangnya diparkir di bank, merasa tidak bebas memakai uangnya sendiri. Jadi, ternyata soal uang itu bukan penentu kebahagiaan; ya benar, kita butuh uang, tetapi uang tidak menjamin dapat kebahagiaan. Jaminan bahagia adalah berkah dan manfaat; bukan uang.

Ujung dari pembahasan ini adalah: Bahwa sehedonis-hedonis apapun manusia, tetap saja kenikmatan itu ada batasnya. Hidup bahagia bukan karena bisa seneng-seneng terus; tetapi bisa bersikap amanah di segala keadaan. Kunci bahagia bukanlah syahwat (lidah, perut, atau kemaluan) tetapi ketenteraman hati dan akal sehat. Manusia yang sakinah hatinya, dia hidup berbahagia meski hanya makan singkong; sebaliknya, manusia hedonis hanya mendapat kesenangan seperti yang diperoleh binatang. (Ha ha ha…kasihan sekali mereka ya. Sudah susah-payah, tertipu lagi. Maka itu Saudaraku, jangan melampaui batas dalam segala hal).

Demikian pembahasan sederhana ini disampaikan. Mohon maaf ya kalau ada yang tidak sopan, seronok, atau berlebihan. Ya tujuannya untuk memberi pelajaran dengan cara serealistik mungkin. Sekali lagi mohon maaf ya. Bagi saudara-saudara yang telah menjalani hidup hedonis,…waktu bagi Anda masih terbuka untuk mencari jalan pulang. Pulanglah ke asal fitrah hidupmu, jangan meneruskan hidup serba bonek itu. Hendak kemanapun kalian mencari kesenangan, semua itu tak berguna; sebab sumber penderitaan hidup kalian ialah dalam jiwa gelisah (hati resah) yang tidak mau menerima tuntunan Rabbul ‘alamiin.

Kembalilah Saudaraku…selagi pintu kembali masih terbuka. Jika sudah tertutup, berarti selesai sudah hidupmu, dan kelak akan ada sanksi lebih besar yang telah menanti disana. Kembalilah dan kembalilah…

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Mine.

Iklan

5 Responses to Setelah Hedon…Mau Ngapain?

  1. Is berkata:

    Nasehat yg bgus skali

  2. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea berkata:

    Alhamdulillah.. akhirnya… tercium juga aroma hedonis d’diri ini (mksudnya diri aku)… untuk langkah pertama agar trhindar dri hedon itu trnyata berat juga yaa…

  3. Hardiono berkata:

    @ Zaenal Abidin Si’Ardjuna Thea

    Pada dasarnya setiap manusia punya kecenderungan untuk hedonis. Dan cara untuk mengendalikannya bukanlah dengan menjadi pertapa yang menolak segala kenikmatan hidup, melainkan menyalurkan keinginan untuk bersenang-senang di jalan yang halal. Misalnya, wisata ke alam dengan keluarga atau kawan-kawan, olahraga bersama, mencoba memasak resep masakan baru, menekuni hobi (yang halal), dsb.

    Tentunya juga tidak berlebihan, karena apapun yang berlebihan meskipun halal adalah tidak baik.

  4. ki demang berkata:

    Ulasan yang panjang, lebar, dan dalam. Semoga diijinkan Allah SWT untuk menggapai sakinah.

  5. sinatria travimada berkata:

    terimakasih, dengan tulisan ini saya sudah tersadarkan, meskipun bukan pelaku hedonis, tapi kecenderungan menuju arah sana, betapa maha mulianya Alloh,..yang begitu menyayangi hambaNya,…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: