Pidato SBY dan KPK (Seri Kesekian)

Oktober 11, 2012

Hari-hari ini Pak SBY lagi panen pujian, simpati, dan dukungan. Masyarakat Indonesia lagi mengelu-elukan pidatonya pada malam hari, 8 Oktober 2012. Pidato yang dianggap berhasil menyelamatkan posisi KPK dalam perseteruannya dengan Polri itu, membuat lawan-lawan politik SBY (termasuk TVOne dan MetroTV) tak pelak memuji isi pidato SBY.

Intinya, dalam pidato itu, SBY meminta agar kasus simulator lalu-lintas yang melibatkan Joko Susilo, dilimpahkan kepada KPK; kasus hukum Novel Baswedan di-pending dulu dan dicari cara yang tepat; revisi UU KPK sementara di-stop dulu, karena timing-nya belum tepat. Ada poin-poin lain, tapi 3 poin itu paling utama.

Menurut saya, di balik pidato SBY itu ada kekurangan-kekurangan yang sangat mendasar. Hal ini tidak diperhatikan oleh banyak orang, termasuk oleh para aktivis anti korupsi yang meneriakkan slogan “Save KPK!” Ini kekurangan mendasar lho ya, bukan dicari-cari.

PERTAMA. Anda masih ingat kasus “Cicak-Buaya” waktu itu, ketika dua Ketua KPK, Bibit Samad dan Chandra Hamzah, diisukan sedang dikriminalisasi oleh Polri? Masih ingat tidak? Ketika itu kan SBY pidato juga, yang inti pidatonya, dia membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus itu; lalu ujungnya proses hukum Bibit-Chandra dihentikan, meskipun kata pihak Kejaksaan sudah sampai status P21 (siap dilimpahkan ke pengadilan). Ini kan bentuk intervensi SBY terhadap hukum, sehingga dia kemudian digugat oleh OC. Kaligis dan kawan-kawan, karena dianggap mencampuri proses hukum. Ingat gak sih kejadian itu? Coba bandingkan dengan pidato SBY kemarin? Itu kan ada kesamaannya, yaitu sama-sama intervensi dalam soal proses hukum; disana SBY berusaha mengarahkan proses hukum (kasus Joko Susilo) dan menghentikan proses hukum (terhadap Novel Baswedan). Kalau ditanya, apa hak SBY untuk melakukan itu? Apa dia ada di posisi Yudikatif?

Tolong Jangan Ikuti Kata-kata Ini Ya. Egois Banget Tuh…

KEDUA. Dalam soal penghentian proses revisi UU KPK. Ini kita tak bicara soal substansinya ya, hanya soal mekanisme legalnya saja. Revisi UU KPK dilakukan oleh DPR, lalu SBY minta supaya revisi tidak dilakukan saat ini. Nah, soal revisi kan agenda DPR, mengapa SBY harus ikut-ikutan? SBY kan eksekutif, bukan legislatif; apa urusannya dengan agenda DPR? Maaf maaf, ini bukan soal substansi revisi UU yang katanya melemahkan KPK itu; bukan kesana. Tapi soal menghargai mekanisme legal yang sudah disepakati. Harusnya DPR berjalan sendiri sesuai agenda mereka, jangan terpengaruh pidato SBY; itu kalau mereka konsisten dengan mekanisme legislasi di parlemen.

KETIGA. Untuk mengatasi kericuhan antara KPK Vs Polri, lebih baik kalau SBY memanggil kedua pimpinan lembaga tersebut, plus anak-buahnya; lalu menyelesaikan masalah itu secara tertutup. Masalah konflik antar lembaga negara itu tidak bagus diselesaikan lewat pidato; bukan begitu caranya. Lebih tepat melalui lobi-lobi politik. Setelah lobi-lobi politik selesai, hasil keputusan operasional-nya silakan disampaikan oleh Kepala Polri atau Ketua KPK sendiri; bukan sosok Presiden. Karena mereka lembaga hukum, jadi kalau memutuskan sesuatu dimaklumi secara hukum. Tapi kan dasarnya SBY itu suka “pencitraan”… Masalah yang mestinya bisa diselesaikan diam-diam, malah dia angkat juga ke permukaan. Ini tidak bagus.

KEEMPAT. Ketika terjadi kericuhan antar lembaga di bawah payung pemerintahan SBY, mestinya kalau seorang pemimpin yang bijak, baik, dan tulus; selesaikan kericuhan itu baik-baik, semakin sedikit publikasi semakin baik. Kalau antar lembaga negara ricuh, justru itu menunjukkan ada silang-sengketa, konflik kepentingan, atau kesemrawutan manajemen birokrasi disana. Dimana saja banyak pertengkaran, itu pertanda negatif, bukan positif. Tapi SBY malah “secara gagah” melembagakan kesan konflik birokrasi itu, konflik antar lembaga penegak hukum, konflik antar anak-buahnya sendiri. Hal itu dilembagakan ya lewat pidato kemarin itu.

KELIMA. Saat pidato itu SBY tampak gamang dan ragu. Kalau tidak percaya, coba perhatikan lagi berapa kali dia berkata “menurut saya”? Coba ingat lagi…berapa kali kata “menurut saya” itu dia ucapkan? Kata “menurut saya” disana mencerminkan sikap SBY yang ragu. Sebagai seorang presiden, dia punya wewenang dan posisi kepemimpinan. SBY bukan penulis, bukan pengamat, bukan akademisi; tetapi dia seorang pemimpin. Semakin banyak seorang pemimpin memakai kata “menurut saya” (sebuah frasa yang mengesankan satu pendapat yang dia pilih) hal itu menunjukkan bahwa dia tidak memiliki ketegasan dalam bersikap. Mestinya, SBY cukup pidato singkat saja, lalu sebutkan kebijakan yang dia tempuh (tanpa memberi pilihan lain). Kalau perlu, tidak usah pidato, tapi paksa bawahannya melaksanakan kebijakan yang menurutnya paling baik.

Singkat kata, pidato SBY itu cukup bagus, untuk konsumsi media, jejaring sosial, dan bahan obrolan; tapi untuk kebijakan lapangan, kemantapan sistem birokrasi, untuk kemantapan prosedur hukum, serta untuk buah maslahat yang sifatnya kongkrit, pidato seperti itu negatif nilainya. Bangsa kita ini terlalu kasihan sekali kalau hanya untuk bahan konsumsi media saja; kasihan, kasihan banget Pak. Sudah semestinya para pemimpin itu hemat kata-kata, hemat retorika, hemat gaya…tapi penuh tindakan nyata, penuh kebijakan demi kemaslahatan kongkrit, penuh kontribusi yang terasa hasilnya dalam kehidupan.

Coba saya bertanya…perubahan apa yang bisa dihasilkan dalam pemberantasan korupsi, setelah seorang pemimpin melontarkan 1001 pidato tentang pentingnya memberantas korupsi? Maka jawabnya: Berantas korupsi dengan tindakan, bukan retorika; semakin sepi ucap-kalam dan ramai tindak-nyata, itu lebih baik. Begitu kan…

(Mine).

Iklan

Mengapa Film Menghina Nabi Itu Dibuat?

Oktober 4, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Anda masih ingat dengan film “The Innocence” kemarin, yang memicu amarah kaum Muslimin di seluruh dunia itu? Kita pasti masih ingat, karena kasus ini masih baru, masih “hangat-hangatnya”.

Kehidupan manusia modern banyak dikendalikan oleh media; ketika suatu isu sedang “digoreng” oleh media, kita cenderung mengerumuninya; kalau sudah dilupakan, kita juga akan meninggalkannya. Entahlah… dulu media hanyalah kebutuhan tambahan, kini jadi kebutuhan utama melebihi makan-minum.

Inilah Target Utama Film “The Innocence”

Kembali ke film hasil karya Nakoula B. Nakoula (Sam Bacile) –semoga Allah melaknatinya dan orang-orang yang mendukung sikap kurang ajarnya-. Jujur saja, ketika beredar isu seputar film ini, saya tidak ada kemauan sedikit pun untuk menonton film itu; sekalipun hanya cuplikan. Begitu juga kala dulu beredar isu kartun/karikatur yang melecehkan Nabi Saw, saya juga tak mau mencari gambar-gambar itu. Bagi saya, kalau sudah jelas disana ada propaganda penghinaan kepada imam kehidupan kita, Sayyidul Mursalin Rasulullah Saw…ya sudah tidak perlu dilihat atau didengar. Maka alhamdulillah, akhirnya MUI mengharamkan film tersebut. Alhamdulillah wa Alhamdulillah.

Seorang kawan sempat mengirim SMS yang isinya amat sangat keras. Dia marah-marah dan melaknati Amerika, Yahudi, dan Nashrani setelah melihat film itu. Katanya, ustadz-ustadznya sampai menangis berlinang air mata karena melihat film itu. Padahal film yang dilihat hanya cuplikan saja, sekitar 15 menit. Ya…mereka harus menunjukkan amarahnya seperti itu, sebab kalau tidak nanti mereka tidak ada alasan di sisi Allah ketika ditanya soal film itu. (Kalau saya kan tidak sampai melihat, hanya mendengar dan membaca beritanya saja; jadi tidak sampai seemosi mereka. Rasanya tidak tega melihat Sayyidul Mursalin dihinakan martabatnya. Lebih baik berkelahi saja deh, daripada melihat tontonan penodaan seperti itu). Kata kawan yang lain, film itu sebenarnya film porno; singkat kata, Nabi Saw hendak dinodai dengan adegan-adegan mesum –masya Allah laa haula wa laa quwwata illa billah-.

Tetapi Allah Ta’ala sudah menetapkan hak kemuliaan atas Nabi Saw. Allah berfirman dalam Kitab-Nya: “Innaka la ‘ala khuluqin ‘azhim” (engkau itu –Muhammad Saw- berada di atas akhlak yang agung). Begitu juga dalam firman-Nya: “Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswatun hasanah” (sungguh bagi kalian dalam diri Rasulullah Saw itu terdapat teladan yang mulia). Bahkan juga firman Allah: “Wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamiin” (tidaklah Kami mengutusmu –Muhammad Saw- melainkan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam). Ayat-ayat ini dan yang semisalnya, adalah JAMINAN KEMULIAAN bagi Nabi Saw dari Allah Ta’ala.

Maka kini Anda lihat, ketika Nabi Saw dihujat oleh orang kafir tertentu dengan penghinaan yang amat sangat; maka bangkitlah manusia, termasuk pemimpin-pemimpin kafir yang notabene bukan seorang Muslim, mereka bangkit ikut membela kehormatan Nabi Saw. Tidak kurang Sekjen PBB ikut mengecam film murahan itu. Bahkan para pemain dalam film itu sendiri memprotes produsernya (Sam Bacile) karena dianggap telah memanipulasi film yang telah dibuat.

Jadi, pribadi Nabi, kehormatan beliau, serta kemuliaan martabatnya, sudah mendapat GARANSI dari langit. Siapa saja yang hendak menghina, pasti dia yang akan terhina. Lihatlah Salman Rushdie –laknatullah ‘alaihi wa man ansharahu-! Sejak menulis novel yang menghujat Al Qur`an, dia kehilangan kehidupannya, sampai saat ini. Bahkan pasukan keamanan yang selalu menjaganya sampai puluhan tahun merasa hampir frustasi, akibat kebodohan penulis “kunyuk” asal India itu.

Nah, kini kita bicara tentang,  ada apa di balik film “The Innocence” itu? Mengapa dibuat film tersebut? Apa target strategis dari pembuatan film cabul itu?

Tentu banyak analisa dan dugaan-dugaan disini. Kita bisa mengatakan ini dan itu. Namun menurut saya, film tersebut tidak lepas dari background si pembuatnya yang memiliki tiga ciri utama: Beragama Yahudi, berasal dari Mesir, kini tinggal di Amerika. Background inilah yang memicu munculnya ide membuat film cabul yang menghebohkan itu.

Ketiga ciri itu akan memiliki makna sangat kuat, jika dikaitkan dengan wajah kepemimpinan baru di Mesir. Kini Mesir dipimpin oleh Presiden Dr. Muhammad Mursi –semoga Allah selalu membimbing dan menolongnya untuk membawa bangsa Mesir menetapi kehidupan Islami-.

Orang Yahudi tidak senang dengan naiknya Mursi sebagai Presiden Mesir, pasca Husni Mubarak. Banyak orang kafir di Mesir atau Israel, sangat khawatir dengan munculnya sosok Mursi ini. Ketika ada Yahudi asal Mesir tinggal di Amerika, malah punya kewarganegaraan Amerika, hal itu memberinya pintu-pintu kebebasan, tidak seperti di negeri asalnya (Mesir).

Sejatinya, menurut analisa saya, film “The Innocence” itu dibuat sebagai “kado serangan” terhadap Presiden Muhammad Mursi di Mesir. Si pembuatnya ingin agar warga Muslim di Mesir marah besar, lalu melakukan anarkhisme, lalu kepemimpinan Presiden Mursi bisa dirontokkan karena amarah warga Mesir setelah diprovokasi film itu. Ternyata hasilnya, warga Muslim Mesir secara umum masih bisa mengendalikan diri, tetapi warga Muslim Libya tanpa pernah diduga berhasil mengirimkan “satu bingkisan” berupa “paket RPG” untuk Dutabesar Amerika di Libya dan stafnya.

Presiden Mursi tetap memimpin sampai kini, dan semoga tetap lestari dalam taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta dalam rangka menyelamatkan manusia dari perbudakan Kapitalisme-Zionis. Amin Allahumma amin. Tentu film “The Innocence” ini bukan satu-satunya serangan untuk Presiden Mursi, masih ada paketan-paketan lain.

Sebaik-baik nasehat ialah: “Ishbiruu wa shabiruu wa rabithuu wattaqullaha la’allakum tuflihuun” (bersabarlah selalu, tetaplah bersabar, dan terus berjaga-jaga, serta bertakwalah kepada Allah, agar kalian mendapat kemenangan).

Akhirul kalam, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abah Syakir).