Mengelola Isu Wahabi di Mata Orang Awam

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tidak diragukan lagi, isu Wahabi sudah lama muncul. Buya Hamka rahimahullah pernah menulis seputar isu Wahabi di tahun 55-an, ketika menjelang Pemilu 1955. Waktu itu Partai Masyumi diidentikkan dengan Wahabi, lalu Buya Hamka memberikan penjelasan-penjelasan. Ternyata, sampai saat ini juga isu Wahabi masih dipakai dalam “permainan politik” seputar Pemilu dan Pilkada.

PKS sering diserang lawan-lawan politiknya dengan isu Wahabi ini. Sayangnya, mereka kurang bagus dalam diplomasi, seperti kasus Pilkada Jakarta kemarin, dimana PKS tidak mau dikaitkan dengan Wahabi; tetapi sembari memojokkan Wahabi juga. Cara begitu tidak benar.

Dalam hal ini ada kaidah dasar, yaitu:

Masyarakat Awam Cenderung Sensitif dan Simplisit. Perlu Komunikasi Khusus dalam Menghadapi Mereka.

[a]. Menjelaskan ke masyarakat awam tidak bisa dengan bahasa ilmiah, telaah mendalam, atau komparasi pendapat-pendapat. Bukan maqam mereka diajak berpikir dalam tataran ilmiah, apalagi akademik. Mereka perlu diberi penjelasan yang cespleng. Maksudnya, sederhana, tidak berdusta, tapi juga mudah mereka pahami.

[b]. Boleh saja siapa pun memiliki pendapat politik tentang Wahabi, atau bersikap kepadanya; tetapi jangan lalu memojokkan, jangan menyebarkan stigma (penodaan citra), jangan pula membohongi masyarakat. Hal-hal demikian bisa merusak ukhuwah dan persatuan ummat, serta mencerai-beraikan hubungan di antara sesama Muslim.

Nah, terkait upaya mengelola isu Wahabi di mata masyarakat awam ini, ada beberapa ide retorika diplomatis yang bisa disampaikan disini, antara lain sebagai berikut:

[1]. Ketika seseorang, suatu lembaga, suatu partai, atau suatu gerakan ditanya: “Apakah Anda Wahabi atau bukan?” Jawabannya bisa positif, bisa negatif. Jawaban positif maksudnya meng-IYA-kan, jawaban negatif maksudnya men-TIDAK-kan. Kedua jawaban sama-sama boleh, tetapi argumentasinya harus baik dan tidak menyesatkan.

[2]. Atas pertanyaan di atas, bisa saja seseorang atau sebuah lembaga menjawab: “Ya, saya Wahabi. Jujur saya Wahabi.” Lalu dijelaskan: “Semua orang Indonesia Wahabi, sebab mereka kalau Haji dan Umrah ke negeri orang Wahabi. Mereka tinggal di hotel Wahabi, makan-minum di tempat orang Wahabi, memakai pesawat orang Wahabi, memakai bus dan jalan-jalan orang Wahabi, dan sebagainya. Kalau Wahabi tidak boleh, berarti orang Indonesia tak usah pergi Haji dan Umrah kesana.” Atau jawaban lain: “NU juga Wahabi. Sebab Ketua PBNU sekarang pernah 14 tahun sekolah di universitas Wahabi, di negeri Wahabi.”

[3]. Mungkin orang akan bertanya: “Tapi kan, Wahabi itu anti Tahlilan, anti Yasinan, dan anti Mauludan?” Jawabannya: “Orang Wahabi juga Tahlilan (maksudnya, membaca dzikir “Laa ilaha illa Allah”) setiap hari. Orang Wahabi juga Yasinan (maksudnya membaca Surat Yaasin, selain Surat-surat Al Qur’an lainnya). Orang Wahabi juga Mauludan (maksudnya, setiap tahun memperingati hari jadi negara Saudi).” Jawaban ini diberikan ketika sudah terpaksa sekali.

[4]. Mungkin orang akan mendebat lagi: “Tapi kan orang Wahabi menghancurkan kuburan-kuburan, rumah-rumah para Sahabat Nabi, dan sebagainya?” Lalu dijawab: “Itu dulu, dan terjadi di Arab sana. Kalau di Indonesia tidak ada yang begitu. Wahabi dulu beda dengan sekarang. Wahabi di Indonesia beda dengan di Arab.”

[5]. Bisa juga diberikan jawaban negatif seperti: “Bukan, kami bukan Wahabi.” Jawaban begini boleh, sebagaimana bolehnya seseorang mengaku diri sebagai bagian dari Wahabi. Tetapi kemudian tambahkan penjelasan sebagai berikut: “Kami bukan Wahabi, tapi kami juga bukan musuh Wahabi. Kita semua ini Muslim, kita bersaudara. Kita diperintahkan oleh agama untuk saling bersaudara, saling berkasih-sayang, dan bantu-membantu dalam kebaikan.”

[6]. Atau berikan jawaban yang sekaligus berisi nasehat: “Sudahlah jangan diungkit-ungkit masalah Wahabi atau non Wahabi. Kita semua ini Muslim. Kita bersaudara. Kita harus bersatu-padu, saling tolong-menolong. Jangan berpecah-belah dan jangan pula memberi kesempatan agar musuh memecah-belah kita semua.”

Intinya, berikan penjelasan yang bersifat mudah, argumentatif, meskipun ia bersifat simplisit (menyederhanakan masalah). Karena memang kadar pemahaman orang awam sulit untuk diajak memahami yang rumit-rumit.

Sebuah contoh, Pak Prabowo Subianto sering mendapat stigma: “Buat apa memilih presiden yang pembunuh?” Maksudnya, beliau dituduh terlibat sebagai dalang peristiwa Trisakti saat Kerusuhan Mei 1998. Bahkan pihak korban, aktivis LSM, juga kalangan media sangat mudah mengangkat isu Trisakti itu untuk membarikade Prabowo agar tidak menjadi Presiden RI. Sampai sejauh ini, tim Prabowo masih kesulitan mengatasi stigma-stigma itu.

Level berpikir orang kecil sangat mudah dipengaruhi hal-hal simplisit seperti itu. Maka ketrampilan komunikasi kita, perlu terus ditingkatkan. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Amin ya Rahiim.

(Abinya Syakir).

Iklan

20 Responses to Mengelola Isu Wahabi di Mata Orang Awam

  1. Elang berkata:

    Usul ustadz,
    Buat sekalian artikel untuk “mahir berkomunikasi secara mudah, argumentatif dan bersifat simplisit.”
    (Tulisan pak ustadz yang lebih bersifat teknis atau amaliyah)

    Harapannya nanti bisa dijadikan rujukan bagi para pembaca yang budiman agar bisa memberi pencerahan kepada saudara-saudara kita yang masih awam.

    Bagaimana?

  2. abisyakir berkata:

    @ Elang…

    Syukran jazakumullah Akhi. Maksudnya dalam format buku atau artikel? Syukran.

    Admin.

  3. abisyakir berkata:

    @ D013…

    Ha ha ha…. ya Allah, alhamdulillah, masih bisa diberi nikmat senyum dan tawa. He he he… ya udahlah.

    Begini saudaraku soal tulisan di ummatipress.com, saya yakin si penulisnya atau tim-nya ketika membuat tulisan itu, juga pasti akan ketawa-tawa. “Biarin aja, biarin aja, masukin aja, biarin Wahabi kapok. Kita yahudi-yahudiin aja mereka. Ha ha ha…biarin Wahabi kapok,” mungkin begitu suasana seru disana kala menyusun tulisan begitu.

    [1]. Dalam hal ini ummatipress.com sudah terkenal perlawanannya kepada Wahabi, jadi itu mesti dimaklumi.
    [2]. Memakai kain seperti selendang penutup kepala itu…ia sudah budaya masyarakat Arab sejak lama. Ini budaya masyarakat Arab. Kain surban yang warna lurik merah-putih itu khas dari Yaman. Dipakai juga di Palestina dengan warna lurik hitam-putih. Ini pakaian khas kaum laki-laki Muslim di Arab, termasuk Yaman, Palestina, Yordan, dan lainnya.
    [3]. Dalam riwayat-riwayat, Nabi Saw tidak selalu memakai surban (yang diugel-ugel, dililitkan di kepala itu). Beliau memakai surban lilitan tatkala memimpin Shalat Ied, tatkala memimpin perang, dan semisal itu. Beliau sehari-hari ya lebih banyak memakai penutup kepala. Bukan selalu memakai ugel-ugel (surban lilitan ke kepala). Karena secara teknis memang butuh waktu untuk melakukan itu.
    [4]. Kalau orang Yahudi memakai kain semisal itu, jangan lantas Anda simpulkan: “Wahabi mengikuti Yahudi.” Bukan begitu saudaraku. Kaum Muslimin memakai kain seperti ulama-ulama Wahabi itu, karena ia memang ADAT masyarakat Arab sejak zaman dahulu (sebelum Islam). Anda tahu sendiri, di padang pasir itu banyak debu dan pasir, beresiko debu-debu terbang. Maka orang Arab selalu menyediakan kain pelindung untuk melindungi muka mereka dari debu-debu/pasir. Kemudian, juga karena alasan Nabi Saw melakukan hal itu. Jadi alasannya bukan TASYABBUH dengan Yahudi. Justru kita bertanya-tanya: Darimana Yahudi memakai kain semisal itu? Apakah Musa As dulu mencontohkan demikian? Jangan-jangan justru Yahudi yang meniru ummat Islam. Jadi, bukan Muslim yang ikut Yahudi, justru Yahudi yang ikut kita.
    [5]. Soal sedekap dalam shalat… Masak sih hanya gara-gara melihat orang Yahudi ibadah dengan sedekap, kita langsung vonis seorang Muslim ikut ibadah Yahudi. Misal ada orang Yahudi sedekap kedinginan, lalu kita juga sedekap kedinginan; masak kita dituduh mengikuti mereka? Ya, kita sedekap dalam Shalat kan karena ada dalil haditsnya begitu. Jadi kita ikut dalil, bukan ikut Yahudi.
    [6]. Soal ada orang Nashrani ibadah dengan sujud, bukan karena kita ikut mereka. Tapi kita ikuti DALIL yang memerintahkan ibadah dengan sujud. Soal sujud ini ada kemiripan dengan apapun, tidak masalah. Wong niat kita ikut tuntunan Allah, bukan meniru-niru mereka. Orang India itu sering sujud di depan telapak kaki manusia, apakah sujud kita meniru cara mereka? Tidak wahai Saudara.
    [7]. Dalam Al Qur’an ada ayat yang bunyinya begini: “Wa aqimus shalata wa atuz zakata warka’uu ma’ar raki’in” (tegakkan shalat, bayarlah zakat, rukuklah bersama orang-orang yang rukuk). Ayat ini ditujukan kepada Bani Israil. Nah, apakah shalat, zakat, rukuk yang selama ini kita lakukan, dianggap menyerupai ibadah mereka? Bukan begitu pemahamannya. Maksudnya begini, pada setiap kaum, setiap generasi, setiap Nabi dan ummatnya, mereka diperintahkan shalat, zakat, rukuk. Hanya Syariat-nya berbeda-beda. Kita mengikuti Syariat Nabi Muhammad Saw, mereka mengikuti Syariat Nabi-nabi ‘Alaihimsalam panutannya. Kalau ada kemiripan dalam tata-cara ibadah itu, maka ia bukan kesalahan kita; tetapi memang aturan dari langitnya begitu. Jadi jangan cemas soal tersebut.
    [8]. Larangan tasyabbuh dengan kufar ini adalah KETIKA TIDAK ADA DALIL SYARIAT yang memerintahkan kita melakukan suatu tata-cara ibadah. Kalau ada dalil Syariat-nya, kita dihitung mengikuti dalil itu, bukan mengikuti orang lain (kufar). Ketika tidak ada dalil Syariat, lalu kita meniru-niru amalan orang kufar untuk “memperkaya tata-cara ibadah” kita, nah itulah tasyabbuh.
    [9]. Pembagian Tauhid: Uluhiyah, Rububiyah, Asma Wa Shifat; bukan seperti Trinitas. Alasannya, Sifat Uluhiyah, Rububiyyah, Asma Wa Shifat kan hanya untuk Allah. Sedangkan Trinitas, untuk 3 pihak: Allah, Yesus, Roh Kudus (Jibril). Trinitas untuk 3 pihak berbeda, sedang Sifat Uluhiyah-Rubibiyah-Asma Wa Shifat hanya untuk Allah saja.

    Cara memahaminya begini: Nabi Muhammad Saw disebut sebagai Nabi karena beliau menyampaikan Wahyu; beliau disebut Rasul, karena beliau adalah utusan Allah; beliau juga seorang Imam karena menjadi pemimpin Ummat Islam. Nabi, Rasul, dan Imam adalah posisi yang berbeda-beda, tetapi ia ada pada seorang diri, yaitu: Muhammad Saw. Meskipun tentu, untuk Allah Ta’ala, Dia berbeda dengan makhluk-Nya dalam segala keadaan dan kondisi. Tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun.

    Semoga bisa membantu menjelaskan, amin ya Rahiim.

    Admin.

  4. juhaiman berkata:

    Yaa kalau melihat ummatipress.com….. pasti jadi bingung.
    Contoh…. mereka sangat alergi dengan kata ” Ittiba Rasul.”
    Mereka berpendapat “Maka mengikuti Al-Qur`an dan hadits secara langsung tidaklah wajib bagi semua orang. Bahkan ia tidak wajib bagi semua ulama…….”
    Kok Jadi susah dan jelimet pemahamannya .
    produsen kendaraan atau lainnya pasti membuat manual / petunjuk yang mudah bagi pemakai barang agar dapat dengan mudah dioperasikan ( Itu yang buat manusia )
    Bukankah Al Quran itu petunjuk ..yang dibuat Yang maha Mengetahui . pasti dibuat mudah olehNya agar semua manusia dapat memahami apa petunjuk itu ???.
    Kalu mudah kenapa dipersulit ??? seperti aparat birokrasi saja
    Bagaimana pendapat abysyakir ??

  5. Elang berkata:

    Formatnya dalam bentuk e-book.
    Lalu bisa diunduh secara GRATIS di website milik pak ustadz ini…….

    Setuju…..?

  6. abisyakir berkata:

    @ Juhaiman…

    Situs seperti Ummatipress.com ini memang sangat anti Wahabi. Biasanya yang Anti Wahabi itu dapat dikenali antara lain: Kalangan Syiah, Shufi, Alawiyin, Liberal, orientalis. Bukan berarti saya samakan antara Alawiyin dengan Syiah dan Liberal. Bukan begitu. Tetapi faktanya memang begitu, Alawiyin umumnya anti Wahabi. Tapi tidak semua Alawiyin juga. Ada yang bersikap inshaf dan hikmah.

    Awal mula kebencian Alawiyin (Habib-habib) ke Wahabi karena beberapa alasan, antara lain:

    [a]. Wahabi dianggap menguasai Hijaz (Makkah-Madinah) yang semula ulama-ulama Alawiyin mendapat posisi kuat disana. Bahkan disebut-sebut, Makkah itu dulunya berada di bawah kekuasaan keturunan Syarif (anak-cucu Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘Anhum).
    [b]. Wahabi mengajarkan prinsip kesederajatan, bukan mengagungkan manusia atas manusia yang lain, seperti kaidah dasar yang diyakini kalangan Alawiyin yang mengaku sebagai komunitas khusus keturunan Nabi Saw.
    [c]. Wahabi banyak memporak-porandakan amalan-amalan, wirid, dzikir, ritual, yang dianggap sebagai “ibadah khas” kalangan Alawiyin. Amal-amal itu oleh Wahabi banyak dilabeli bid’ah sehingga dijauhi oleh manusia.
    [d]. Wahabi telah meruntuhkan tradisi “ngalab berkah” di kubur. Padahal amalan ini termasuk “amal favorit” kalangan Habib-habib, dan sebagai media untuk mendapatkan pengaruh dari jamaah manusia.
    [e]. Secara pemikiran memang ada perbedaan-perbedaan tertentu. Contoh, ada yang memuliakan Ahlul Bait secara berlebihan, dan ada yang memuliakan mereka secara proporsional. Wahabi bersikap proporsional, tidak sampai kultus individu.

    Hal itu mungkin yang membuat hubungan Wahabi dan Habib-habib menjadi selalu berbenturan, dan saling menegasikan. Wallahu a’lam bisshawaab.

    Admin.

  7. Yuhui... berkata:

    ha ha ha,,hri jdi saudi dirayain,milad rosul dblg bid’ah,lucu ini org,kyg ga pernah ngaji,,udh diam ajalah!

  8. Adi P berkata:

    @anonymous……… he memang orang bodoh lebih baik diam …
    hari jadi saudi bukanlah suatu ritual ibadah bung …….

  9. Adi P berkata:

    kalu maulidan nanti ada tuh ritual semprot sini semprot sana wangi wangian … karena ada yang datang …….

  10. Emprit Gepeng berkata:

    Afwan……….Tadz….setelah membuka http://ummatipress.com/2012/10/28/tiga-bukti-penting-memperjelas-wahabi-tasyabbuh-serupa-yahudi/
    ana jadi terpingkal-pingkal, kok bisa-bisanya ..nulis tanpa ilmu dan

    ngawur…..apa para syechnya nggak malu …..bicara tanpa ilmu….he…he…..

  11. Yuhui berkata:

    adi@
    oh ya?he..lucu ni org,lagaaanya..kyk org pntr aja.pdhl?:p.udh gk ush melebar ksna kmri,slhstu yg ngbhs kan mslh mauludan..ntu ngrayain milad su’ud drimna dalilnya?ktnya ngra yg ngku2 brhkum syariat islam?he he.ada2 saja ni bocah..ck ck.

  12. abisyakir berkata:

    @ Emprit…

    Ya begitulah Bapak -rahimakallah wa hifzhuhu laka- kadang manusia kalau sudah saking benci, jadi ngawur gak karuan. Nas’alullah al ‘afiyah.

    Admin.

  13. ADI berkata:

    “Wahabi ” memang ada banyak dijumpai disekeliling kita …. Mereka suatu komunitas yang “unik” , kaku dan tegas dalam masalah agama.
    Sampai perilaku Rasul yang detail mereka mencoba amalkan .( celana cingkrang, ,makan dengan jari bersila dilantai… dan banyak amalan amalan lain yang mungkin belum diketahui oleh umat islam di indonesia umumnya, )
    Jadikanlah itu suatu koreksi bagi kita yang belum mengamalkan adab rasul dalam keseharian kita
    Mohon ampunlah kalau memang kita belum bisa melaksanakan contoh amalan keseharian Rasul kita. ….

  14. ADI berkata:

    @yuhui …
    Jangan malah nambah amalan amalan yang bukan datangnya dari Rasul …… Piyee toh mas……..

  15. gold account berkata:

    [3]. Mungkin orang akan bertanya: “Tapi kan, Wahabi itu anti Tahlilan, anti Yasinan, dan anti Mauludan?” Jawabannya: “Orang Wahabi juga Tahlilan (maksudnya, membaca dzikir “Laa ilaha illa Allah”) setiap hari. Orang Wahabi juga Yasinan (maksudnya membaca Surat Yaasin, selain Surat-surat Al Qur’an lainnya). Orang Wahabi juga Mauludan (maksudnya, setiap tahun memperingati hari jadi negara Saudi).” Jawaban ini diberikan ketika sudah terpaksa sekali.

  16. Agak kelakar bila diingatkan balik kata-kata ustaz saya di Pusat Pengajian Pondok Yayasan Islam Kelantan, Bachok dulu, lantaran kisah seorang ustaz Wahabi versi terbaru lulusan Universiti Abu Bakar Pakistan, membidaahkan masalah qunut Subuh dan Ma’tsurat(ma’tsurat juga dibidaahkan?) di Pondok Madinatul Ilmi, Kandis, bila perkara ini sudah menjadi geger di Kelantan, menjadi tangggungjawab Dato’ Mufti Kelantan Sheikh Hasbullah untuk meredakan isu tersebut…kemuncak isu tersebut ialah para pelajar bangkit buat demotrasi membakar tilam depan asrama, berikutan peristiwa tersebut al-Fadil Ustaz saya yang berkelulusan Universiti Madinah berkomentar dengan; ana ni belajar Wahabi dah, tapi ada lagi hok lebih Wahabi dari Wahabi Mekah( maksudnya wahabi Pakistan lebih ekstrem dalam menyalahkan pendapat Ijma’ Ulama dengan membiadaahkan Qunut, tanpa melihat pada pandangan dan pendapat orang lain dalam masalah Qunut tersebut, sedangkan Wahabi Mekah sendiri adalah juga adabnya dari sudut menghormati pandangan ulama mazhab.

  17. Hardiono berkata:

    “Maaf mas, denger denger mas Wahabi ya?”
    “Ya, saya Wahabi. Jujur saya Wahabi. Semua orang Indonesia Wahabi, sebab mereka kalau Haji dan Umrah ke negeri orang Wahabi. Mereka tinggal di hotel Wahabi, makan-minum di tempat orang Wahabi, memakai pesawat orang Wahabi, memakai bus dan jalan-jalan orang Wahabi, dan sebagainya. Kalau Wahabi tidak boleh, berarti orang Indonesia tak usah pergi Haji dan Umrah kesana.”
    “Tapi, NU kan bukan Wahabi?”
    “NU juga Wahabi. Sebab Ketua PBNU sekarang pernah 14 tahun sekolah di universitas Wahabi, di negeri Wahabi.”
    “Tapi kan, Wahabi itu anti Tahlilan, anti Yasinan, dan anti Mauludan?”
    “Orang Wahabi juga Tahlilan setiap hari. Orang Wahabi juga Yasinan. Orang Wahabi juga Mauludan.”
    “Jadi gito toh?. Syukur Alhamdulillah. Tadinya saya pikir orang kayak mas anti Yasinan, tapi tahunya mas suka Yasinan juga. ya sudah, nanti malem ta’ jemput ya, kita Yasinan di rumah Kyai.”

    (Nah lo, mau ngomong apa sekarang?. he, he.)

  18. asifkediri212 berkata:

    Yg pntg gak anarkis n gak slg tuduh! Udh abis cerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: