Bertahan Hidup…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ini sebuah kejadian nyata, saya lihat di depan mata saya sendiri. Kejadian ini unik, lucu, tapi juga prihatin. Disini tergambar dengan jelas, betapa manusia mau melakukan apa saja (ikhtiar) untuk bertahan hidup…survive to life.

Ceritanya, suatu hari saya naik Metromini di Jakarta. Tujuannya ke sebuah stasiun kereta. Biasanya kalau naik angkutan ini jarang bisa dapat duduk. Tapi waktu itu bisa duduk, persis di belakang sopir.

“Ayo Semangat! Terus Usaha Ya! Okeh Bro…”

Kejadian yang saya saksikan ketika itu…

Pertama, sopir Metromininya memakai baju/kaos seperti biasa, tetapi dia memakai celana pendek, dengan motif belang-belang seperti corak pakaian TNI. Itu pun sudah kelihatan kumel. Aneh rasanya, ada sopir angkot di tengah ibukota hanya memakai celana pendek. Jujur saya merasa aneh.

Kedua, kenek pada Metromini itu ternyata isteri si sopir itu sendiri. Biasanya kenek kan kawan si sopir, atau anak buahnya. Tapi kali ini si kenek adalah wanita, dan ia adalah isteri si sopirnya sendiri. Mbak kenek itu memakai celana kaos ketat sampai selutut, pakaian atasnya juga kaos, ketat juga. Dalam hati…apa gak ada yang lebih sopan lagi?

Ketiga, lebih heboh lagi, di kursi terdepan, di samping si sopir, ada anak balita. Mungkin usianya sekitar 2-3 tahunan. Bocah balita perempuan itu rupanya merupakan anak dari si sopir dan keneknya. Bocah kecil ini, dengan dandanan ala kadarnya, sudah bergelut dengan asap dan debu jalanan, mendukung kerja orangtuanya. Di bagian dekat kaca depan, saya lihat ada bedak, pakaian untuk balita, dan sejenis perlengkapan bayi. Si sopir sering berkomunikasi dengan bocah balita itu, sebagaimana dia juga komunikasi dengan kenek-nya.

Keempat, sangat lucu kalau melihat tingkah Mbak si kenek, yang notabene adalah ibu dari balita itu dan sekaligus isteri dari si sopir. Kalau ada penumpang masuk Metromini, dia tak menyambut penumpang itu, tapi membiarkan mereka masuk sendiri ke dalam Metromini. Setelah penumpang pada masuk, ada yang duduk, ada yang berdiri. Setelah itu, si kenek akan mendatangi penumpang itu untuk menarik ongkos. Setelah menarik ongkos, dia bukan menjaga di pintu Metromini, tapi berpindah ke depan, untuk menemani bocah balitanya. Bocah itu kalau ditinggal sebentar oleh ibunya, sering teriak, “Mama, mama, mama….”

Jujur saya hanya tersenyum melihat keadaan seperti itu. Ya inilah Jakarta… Inilah cara manusia bertahan hidup. Terserah deh bagaimana saja caranya (layak atau tidak, lazim atau tidak), berapa pun hasil diperoleh; asal ada uang untuk beli susu adik bayi, untuk makan-minum, bayar kontrakan, bayar listrik, beli mie instan, beli pulsa…mengisi pulsa Blackberry, main Facebook, main Twitter, main Ipad, dan seterusnya

Apapun kenyataan, syukuri yang Allah berikan; selalu syukuri, meskipun ada saja sisi-sisi tertentu yang membuat kita tidak puas. Sering terjadi, sesuatu yang remeh/kecil dalam pandangan semula, ia menjadi begitu berharga di pandangan akhir. Syukuri ya syukuri… Minimal, Anda tidak harus bertahan hidup dengan cara-cara seperti di atas. Iya kan.

Mine.

2 Balasan ke Bertahan Hidup…

  1. Emprit Gepeng mengatakan:

    Hidup …..dinegeri yang katanya Gema Ripah Lohjinawi..Toto Tentrem Kerto Raharjo….jadi TRAGIS,,,,,DPR wakil rakyat nggak pernah naik metromini…naiknya Alphard…atau Pajero….enak hidup di desa lebih sehat rasa sosial masyarakatnya masih tinggi….

  2. rehan mengatakan:

    dadi wong tani blenak mas mau nanam nunggu udan zaman modern sawah masih tadah hujan kapan enake wong tani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: