Jokowi Punya Kemampuan, Tapi Masalah Jakarta Sangat Komplek. Foke Punya Pengalaman, Tapi Cenderung Arogan.

Baru juga Jokowi memimpin Jakarta, masalah-masalah klasik di provinsi ini mulai bermunculan. Minimal, soal banjir dan macet. Dalam masalah banjir, Jokowi sempat bilang bahwa dirinya “kalah cepat” dibandingkan kedatangan banjir; dalam masalah kemacetan, yang semula Jokowi tidak setuju dengan pembangunan jalan tol dalam kota, akhirnya sepakat untuk merealisasikan pembangunan dua ruas jalan tol. Banyak masalah-masalah Jakarta yang sedang menanti “tangan dingin” Jokowi.

Menurut sebagian analisis, nama besar Jokowi yang meriah di mata media dan rakyat, tak urung membuat Megawati dan kawan-kawan merasa “gerah” juga. Sebab dikhawatirkan Jokowi akan mengganggu “nama besar” Megawati di mata para PDIP-ers. Ibaratnya, hanya boleh ada satu bola lampu yang menyala terang. Nah, itu masalah lain lagi.

Intinya begini lah…Pak Jokowi ini punya kemampuan, punya leadership, juga punya pengalaman. Minimal dalam memimpin Kota Solo. Dengan kemampuan yang ada itu, dia insya Allah bisa mengadakan perbaikan-perbaikan di Jakarta pada sektor-sektor tertentu. Tapi untuk memperbaiki Jakarta secara fundamental, untuk mengubah wajah Jakarta, untuk menata-ulang wajah provinsi ini sebaik-baiknya; hal itu tidaklah mudah. Alasan utamanya, masalah Jakarta terlalu komplek.

Jakarta Terlalu Ruwet untuk Dihadapi Seorang Diri.

Jakarta bisa diibaratkan sebagai “ruang tamu” sekaligus “dapur” bangsa Indonesia. Ia adalah pajangan bagi dunia luar; tetapi sekaligus pusat bisnis bagi dunia dalam. Jakarta itu inti magnet kehidupan nasional. Di dalamnya bermain banyak sekali tangan-tangan yang berkepentingan. Ada pemda & pemkot, serta pejabat-pejabat mereka; ada pemerintah pusat dan departemen-departemen; ada BUMN dan swasta yang berkantor pusat disana; ada perusahaan swasta, pebisnis, pedagang dan seterusnya; ada media-media massa, baik cetak maupun elektronik; ada aparat keamanan dan hukum, yang juga punya kepentingan bisnis dan politik; ada asosiasi-asosiasi; ada partai-partai politik; ada masyarakat marginal; ada kepentingan negara-negara asing; ada jaringan perusahaan-perusahaan multi nasional, dan seterusnya dan seterusnya. Jakarta seperti “pasar tradisional” tempat bertemunya aneka macam jenis manusia, kepentingan, ambisi, serta tingkah-polahnya.

Pihak-pihak yang bermain di Jakarta ini bisa dikelompokkan menjadi 3 golongan: [1]. Kelompok mapan (settled). [2]. Kelompok oposisi yang anti kelompok mapan. [3]. Kelompok eksperimen yang berusaha keras mencari kemapanan.

Kelompok pertama adalah kalangan yang telah mendominasi Jakarta, dan sangat banyak mendapatkan keuntungan secara ekonomi, bisnis, finansial, politik, dan sosial. Kelompok ini punya kekuatan dana, power politik, media, serta agen-agen loyal yang selalu bekerja keras untuk mempertahankan dominasinya di Jakarta. Kelompok kedua adalah barisan siapa saja, terutama rakyat dan mahasiswa, yang ingin ada perubahan di Jakarta. Kelompok satu dan dua ini selalu berseteru. Jokowi disebut-sebut sebagai bagian dari “kelompok perubahan” ini; tetapi bisa juga dimaknai, dia disetir oleh kelompok pertama. Sementara kelompok ketiga, adalah kaum pragmatis-oprtunis yang terus mencari celah untuk menguasai Jakarta, dengan prinsip ekonomi: bermodal pengorbanan sekecil-kecilnya untuk meraup untung sebesar-besarnya.

Selagi kebijakan Jokowi tidak membahayakan kelompok pertama, dia akan dibiarkan aman, selamat, dan sentosa. Tetapi kalau sudah mulai mengganggu, Jokowi akan diserang dengan aneka macam senjata; mulai dari yang paling halus, semi halus, agak kasar, kasar, hingga sangat kasar. Tinggal pilih, mana selera yang cocok. Saya perhatikan, media-media tertentu sudah mulai gatel menjadikan Jokowi sebagai “sansak”; sebagaimana media-media lain berpura-pura bego atas kasus yang membelit Dahlan Iskan, sewaktu menjadi Dirut PLN.

Pertanyaan, di atas semua kenyataan ini, mungkinkah Jokowi bisa mengatur Jakarta sebaik-baiknya?

Kemunculan Jokowi di Jakarta, tidak lepas dari peranan sebagian politisi senior (di Gerindra dan PDIP); bukan agenda Jokowi sendiri; itu tandanya dia tidak mandiri, secara politik. Dengan keadaan demikian, bisakah Jokowi membereskan kompleksitas Jakarta dengan segala elemennya? Kalau secara hitung-hitungan teoritis, itu sangat sulit.

Tapi soal Jokowi akan bisa mengadakan perbaikan-perbaikan tertentu di Jakarta, insya Allah bisa, sebab beliau punya pengalaman. Namun jika berharap banyak padanya, untuk membereskan segala keruwetan Jakarta, rasanya sangat sulit. Kita seperti mengharap seekor tupai untuk mendorong truk trailer sampai ke pelabuhan.

Adapun Foke (Fauzi Bowo), secara umum dia punya pengalaman, 30 tahunan di birokrasi pemda/pemkot. Dia juga meraih gelar doktor dari Jerman. Dari sisi ini sudah bagus, sudah layak untuk jabatan selevel gubernur. Tapi pembawaan Foke kurang bagus. Sikap kepribadiannya cenderung arogan. Pencitraan dengan kumis tebal yang dipotong “kotak” itu, semakin menambah kesan arogansinya. Sementara masyarakat Indonesia kurang suka dengan sikap arogan. “Meskipun pintar, kalau arogan, kita gak suka. Meskipun bodoh, kalau ramah dan sopan, kita demen tuh.” Begitu kira-kira prinsip kultural masyarakat kita.

Kita jangan terlalu memberi beban ke pundak Jokowi, sebab kemampuan dia sangat terbatas dibandingkan masalah komplek yang ada di Jakarta. Mesti bersikap proporsional. Tetapi boleh juga berharap, dia akan melakukan perbaikan-perbaikan tertentu yang bersifat sektoral. Jakarta itu bisa berubah secara drastis, jika pola pikir (software), elit-elit dominator (processor), kesadaran umum masyarakat (motherboard), serta fasilitas fisik (hardware) Jakarta juga berubah.

Oke Pak Jokowi, selamat bekerja dan berjuang demi kebaikan hidup masyarakat Jakarta. Dan bagi rakyat Jakarta, para pengamat, para netters, dan seterusnya…jangan berhenti untuk berharap, bahwa: “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini.” Amin.

(Blogadmin).

Iklan

5 Responses to Jokowi Punya Kemampuan, Tapi Masalah Jakarta Sangat Komplek. Foke Punya Pengalaman, Tapi Cenderung Arogan.

  1. Abu Fawwaz berkata:

    Artikel yang energik… gegap gempita terhadap sosok Jokowi akan segera hilang dengan berjalannya waktu karena warga akan tetap bertemu dan disibukkan dengan berbagai permasalahan yang masih dan tetap ditemui di Jakarta seperti Banji, Macet serta berragam masalah yang terus ada.

  2. piracetam berkata:

    Setelah dilantik pada 6 Oktober mendatang, apa yang akan Anda lakukan dalam 100 hari pertama?Untuk transjakarta, dalam 100 hari pertama, tentu jumlah armadanya akan kami tambah. Tapi, tidak akan bisa mencapai sesuai yang kami harapkan karena kami masih bergantung pada anggaran lama. Sedangkan APBD perubahan juga sudah digodok.

  3. gold account berkata:

    Ya biasa, resistensi dan juga pertentangan selama setahun di depan, tapi setelah itu, ya, biasa saja. Semuanya kalau sudah biasa, ya semuanya senang. Ya, kita mengerti itu masalah kue, ternyata ya juga bisa dilakukan.

  4. gold account berkata:

    WAKIL Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Marzuki Alie menilai ada enam kegagalan Jokowi dalam memimpin Kota Solo. Yaitu:(1).Gagal mengatasi banjir.Bahkan rumah Jokowi sendiri kena banjir. (2).Gagal mengatasi kemacetan di Solo karena tak punya konsep transportasi,(3). Jokoki terlilit kasus dugaan manipulasi perjalanan dinas pemerintah kota Solo,(4). Kegagal keempat adalah pembangunan Gapura Makutha di Kota Solo tidak kunjung selesai dan terbengkalai selama 1,5 tahun.(5). belum ada solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah sampah, dan (6).Gagal mengatasi kemiskinan. (Sumber: http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1902649/inilah-enam-kegagalan-jokowi-sebagai-walikota-solo ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: