Narasi Politik: SBY Versus Nazaruddin

Ahmad Yani, salah satu anggota DPR dari PPP, dalam sebuah forum diskusi mengatakan, bahwa ternyata informasi yang dikatakan Nazaruddin (mantan bendahara Partai Demokrat) banyak benarnya. Kata-kata ini merupakan pernyataan terbuka tentang kekuatan politik Nazaruddin, sekaligus kekalahan demi kekalahan yang terus diderita Partai Demokrat. Apalagi, 7 Desember 2012 lalu, KPK telah menetapkan salah satu kader terbaik Demokrat, Andi Mallarangeng sebagai tersangka korupsi Hambalang.

Andi menjadi tersangka menyusul Nazaruddin sendiri, Angelina Sondakh, Hartati Murdaya, dan lainnya. Jika Anas Urbaningrum juga kemudian menjadi tersangka, rasanya lengkap sudah kehancuran citra politik yang mendera Partai Demokrat. Dalam usianya yang masih muda, di tangan anak-anak muda; ternyata Partai Demokrat terlalu cepat luruh dan layu. Besar kemungkinan, pada Pemilu 2014 nanti, partai ini akan ditinggalkan para pendukungnya. Sebab, basis utama pendukung partai ini adalah kalangan rasionalis perkotaan, yang pada awalnya terpikat dengan slogan anti korupsi SBY.

"Jangan Ngremehin Gue, Boss..."

“Jangan Ngremehin Gue, Boss…”

Andai SBY boleh meminta, tentu dia ingin memutar arah jam sejarah ke belakang, ke masa-masa saat awal Partai Demokrat berdiri. Di masa itu, sekitar tahun 2004, dia menjadi sosok “tokoh terzhalimi” di bawah rezim Megawati. Atau kembali ke tahun 2009 ketika PD berhasil memenangi Pemilu mengalahkan Golkar dan PDIP, sebagai dua partai paling dominan. “Andaikan kita bisa mundur ke belakang, tentu saat itu kita akan mengatur partai ini sebaik mungkin, agar ia tidak seumur jagung,” mungkin begitu lamunan SBY dengan segala sesal di hatinya.

Partai Demokrat adalah partai anak-anak muda. Banyak kader, pengurus, dan simpatisannya berasal dari kaum muda. SBY sendiri dalam pencitraannya berselera anak muda. Namun sifat kemudaan ini ternyata begitu rapuh menghadapi godaan: harta, tahta, dan wanita. “Duhai indahnya, orang-orang tua yang berjiwa muda. Meski sudah tua, tapi selalu kreatif, dinamis, gerak cepat, dan mendukung perubahan-perubahan,” begitu kata sebagian orang.  Tetapi di hamparan suatu realitas politik, istilah ini bisa menjadi terbalik: Disana berkumpul anak-anak muda berjiwa tua!  Masih muda, enerjik, dinamis, tetapi pikirannya seperti orang tua; mereka bicara tema-tema investasi, dana pensiun, istri muda, kaya mendadak, dan seterusnya. Inilah anak-anak muda berjiwa tua (berjiwa lapuk dan lemah).

Sebagian aktivis muda, saat lagi moncer-moncernya kemampuan, daya, dan ekspresi; mereka berteriak keras: “Ganyang koruptor! Gantung koruptor! Bersihkan birokrasi dari KKN! Ciptakan clean government, good public service! Tumpas praktik korupsi dan mafia hukum sampai ke akar-akarnya.” Teriakan demikian mereka sampaikan saat masih menjadi pengangguran, teu boga gawe, atau penghasilan ada tapi pas-pasan.

Namun begitu mendapat kesempatan, mendapat posisi jabatan; begitu uang masuk ke rekening secara ajaib, ratusan juta uang keluar-masuk begitu mudahnya; begitu melihat SPG cantik-cantik, model tinggi semampai, atau selebritis “doyan keluyuran”…mendadak semangat “anti korupsi” itu lumer seperti kerupuk kesiram air. Sejak itu, isi omongannya tidak pernah lepas dari kosa kata “miliaran”. Jika semula dia berteriak “berantas korupsi”, pelan-pelan berubah: “Hati-hati, jangan mudah menuduh korupsi! Tetap tegakkan prinsip praduga tak bersalah!” Bahkan sampai pada kata-kata seperti ini: “Koruptor juga manusia, perlu hak-hak kehidupan dan dihargai privasinya.” Inilah dia, anak muda berjiwa tua. Usia masih muda, tapi otak dan perasaannya sudah ngendon di kuburan!

Mungkin kita bertanya, siapa sejatinya yang menghancurkan Partai Demokrat ini? Mengapa ia begitu rapuh; berdiri tahun sekitar 2004, atau baru sekitar 8 atau 9 tahun lalu, tapi kini citranya di mata publik sudah hancur-lebur?

Secara sederhana semua orang akan mengatakan: “Penghancur Demokrat adalah Muhammad Nazaruddin, sang pengkhianat sejati, sekaligus mantan Bendahara Umum Partai Demokrat. Dialah yang telah mengaduk-aduk isi dapur DPP, sehingga citranya remuk-redam seperti saat ini!” Tapi kalau mau jujur, sebenarnya inti kesalahan itu ada pada sosok SBY sendiri. Gaya politik SBY-lah yang kemudian berdampak menghancurkan partainya sendiri.

Pernah SBY hadir dalam sebuah acara peresmian sebuah gedung bank, milik Chairul Tandjung. Ketika diberi kesempatan berbicara, SBY tidak malu-malu mengklaim, bahwa Chairul Tandjung adalah teman baiknya. Seorang presiden melakukan klaim seperti itu di atas mimbar, adalah sesuatu yang tidak layak. Seorang presiden levelnya isu kenegaraan, bukan pribadi-pribadi. Tetapi hal ini membuktikan salah satu ciri politik SBY, yaitu oprtunisme.

Maka ketika suatu saat seorang pengusaha asal Sumatera Utara, bernama Muhammad Nazaruddin, menawarkan diri masuk ke jajaran elit Partai Demokrat; dengan membawa sejumlah dana tertentu sebagai semacam “mahar politik”; dia pun diterima dengan tangan terbuka. Bukan hanya diterima, di kemudian hari dia diberi jabatan sebagai Bendahara Umum.

Sebagai bendahara partai politik, salah satu tugasnya ialah memobilisi dana sebanyak-banyaknya, untuk membiayai semua kebutuhan partai. Dan Nazaruddin melakukan itu semua, sesuai instruksi dan fasilitas yang diberikan kepadanya. Maka tidak mengherankan jika kemudian Nazaruddin banyak berhubungan dengan proyek ini dan itu; karena setting-an politik seorang bendahara umum, dalam konteks politik liberal, memang tidak jauh dari hal-hal seperti itu.

Sampai suatu ketika KPK mengungkap kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet di SEA Games yang melibatkan Nazaruddin. Mestinya, ketika terbuka kasus ini, para elit Demokrat berusaha keras membela kasus Nazaruddin secara hukum; sebagai bentuk solidaritas terhadap nasib kawan mereka; karena keterlibatan Nazaruddin dalam kasus itu, tak lepas dari “plot politik” yang dibebankan ke pundaknya. Tapi sayangnya, lagi-lagi politik SBY berbau oportunisme. Saat nama Demokrat terancam karena terbongkarnya kasus Nazaruddin, mereka bukan membela kawannya, malah seperti ingin “mengorbankan” Nazaruddin.

Sikap politik seperti itu sangat menyakitkan bagi Nazaruddin. Dia diberi tugas untuk mobilisasi dana, tetapi saat ada masalah tidak dibela, justru ingin dikorbankan. Maka memuncaklah amarah Nazaruddin. Nazaruddin tidak tinggal diam menerima perlakuan buruk dari sejawat politisi Demokrat. Maka mulailah dia menampakkan perlawanannya. Saat “kabur” ke luar negeri, itu adalah perlawanan; saat mengirim rekaman video sambil memakai topi anyaman dan memperlihatkan sebuah flash disk, itu adalah perlawanan; begitu juga, saat dia kabur ke Kolombia, dan pulang dalam keadaan tangan terborgol, itu adalah perlawanan; dan berbagai pembeberan fakta-data seputar keterlibatan elit-elit Demokrat dalam korupsi, itu adalah perlawanan; saat berbicara di depan pers, saat memberi kesaksian di persidangan, saat konsolidasi dengan para pengacaranya, itu juga perlawanan.

Intinya, SBY terlalu memandang remeh Nazaruddin; dan hasilnya Partai Demokrat saat ini porak-poranda, akibat serangan orang yang diremehkan itu. Lihatlah, betapa hebatnya Nazaruddin; dia mampu mengobrak-abrik partai yang memenangkan pemilu tahun 2009 itu. Mungkin, dia bisa disebut sebagai politisi “paling sakti” karena kemampuannya dalam menghempaskan pamor politik Demokrat; bahkan sosok ini seperti “berhasil membunuh” Demokrat itu sendiri. Jika nanti Anas Urbaningrum benar-benar ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK; ya sudah, habislah partai itu.

SBY benar-benar salah perhitungan terhadap Nazaruddin. Ini adalah kecerobohan kalkulasi politik yang mestinya tidak terjadi. Betapapun Nazaruddin itu masih keturunan Pakistan, yang dikenal memiliki determinasi (seperti orang India). Dia dibesarkan di Sumatera Utara, dengan lingkungan pergaulan yang relatif “keras”. Dia juga seorang bisnisman yang sudah malang-melintang masuk dunia bisnis dan proyek-proyek. Bahkan dia juga punya banyak uang. Dengan sarana-sarana seperti ini adalah sangat ceroboh ketika politisi Demokrat ingin begitu saja “mengorbankan” Nazaruddin.

Sejarah telah berjalan, episode per waktu tidak bisa diputar ke belakang. Kini Partai Demokrat terancam gulung tikar karena para elit-elitnya banyak tersangkut kasus korupsi. Masyarakat luas terus menanti dan mengawasi Anas Urbaningrum, karena (menurut isu yang berkembang) bukti-bukti keterlibatannya dalam kasus korupsi lebih kuat ketimbang Andi Mallarangeng. Kehancuran Demokrat ini umumnya dipicu oleh kesaksian Nazaruddin, atau pembeberan fakta-data oleh dia. Bahkan dalam salah satu kesaksian, Nazaruddin sudah mulai menyebut nama Irfan Baskoro, putra Cikeas.

Andaikan SBY boleh memilih, tentu dia akan kembali ke masa lalu, lalu menghapus beberapa kesalahan langkah yang telah dilakukan partainya. Pertama, dia akan bersikap solider dan menunjukkan pembelaan hukum maksimal, saat Nazaruddin mulai tersangkut kasus pembangunan Wisma Atlet SEA Games. Kalau tidak, dia akan menempuh cara yang lebih aman, yaitu tidak memberi Nazaruddin posisi sebagai Bendahara Umum partai. Posisi ini membuat yang bersangkutan menguasai banyak fakta-data seputar “mobilisasi dana politik”. Kalau mau lebih aman lagi, SBY tak akan menerima lamaran Nazaruddin untuk masuk ke partainya, meskipun dia telah membawa “mahar politik” sebesar apa saja.

Adanya sosok politisi seperti Ruhut Sitompul, Sutan Bhatoegana, Ahmad Mubarak, dan semisalnya di tubuh Demokrat; paling hanya menyebabkan “gempa opini” saja; heboh-heboh sebentar, lalu dilupakan lagi. Tapi kehadiran sosok laki-laki “berotot liat” seperti Nazaruddin, ia menjadi semacam “kanker ganas” yang menyerang jantung terdalam partai itu.

Tapi dari sini kita bisa belajar, bahwa politik SBY tidak memiliki bentuk yang jelas. Sekali waktu bersikap oportunis; di lain waktu, mau cari aman sendiri; di lain waktu, sibuk menjaga prestige; di kesempatan berbeda, sangat sensitif terhadap kritik; di berbagai momen, lebih banyak bertumpu pada retorika, bukan kerja nyata. Bahkan dilihat dari sisi materi, politik SBY seperti tidak memiliki IMUNITAS terhadap godaan harta.

Kalau politik sudah separah itu, ya tidak banyak masa depan cerah yang bisa diharapkan. Sebagai contoh, sosok Ruhut Sitompul amat sangat dalam memuliakan, memuja, dan mengagungkan sosok “Bapak” (SBY). Tetapi itu terjadi ialah saat yang bersangkutan sedang memiliki kuasa dan jabatan. Nanti, kalau jabatan itu sudah tiada, Ruhut pus pasti akan mencari “tempat berteduh” yang lain, dengan tetap melestarikan ritual “memuja Bapak” itu.

Di atas sebuah narasi politik; disana berdiri eksis sebuah entitas politik dengan dinamika internal-eksternalnya. Namun suatu waktu terjadi badai internal yang sangat komplek; kompleksitasnya mengerucut ke duel politik, serupa hikayat Goliath Versus David. Sebuah sosok “simbol partai” berdiri di satu sisi, seorang politisi “anak bawang” berdiri konfrontatif di sisi lain. Ternyata, ending dari narasi ini, sang simbol partai terkapar tak berdaya, layaknya Manny Pacquiao tumbang di tangan Marquez.

Lalu siapa yang lebih digdaya, “simbol partai” atau sang “anak bawang”?

Mine.

Iklan

8 Responses to Narasi Politik: SBY Versus Nazaruddin

  1. juhaiman berkata:

    Dalam perpolitikan semua itu mungkin terjadi.
    Dalam melumpuhkan lawan politik … salah satu cara lumpuhkan ..sumber keuangannya…. Dijamin partai akan memble….
    Di Indonesia … sumber keuangan partai didapat antara lain … dari dana APBN. APBD dll ( dari proyek ) , dari cukong …dan lainnya.
    Untuk menggemboskan itu semua …cukup sentuh pengelola keuangan partai ( bendahara ) pasti deh ke buka semua jaringannya.
    Coba lihat sekarang …. kempes sudah PD …untuk bertarung di 2014 mau pake daun ????

    Kw

  2. Can-C Eye Drops berkata:

    Muhammad Nazaruddin (lahir di Trenggalek, 26 Agustus 1978; umur 32 tahun), merupakan anggota DPR RI dari Partai Demokrat, sekaligus bendahara partai tersebut. Sebelum menjadi pengurus partai demokrat, Nazaruddin pernah menjadi caleg di partai PPP dari tempat asalnya, namun dia tidak terpilih. Saat ini ia menjadi anggota legislatif (DPR-RI) dari Dapil Jawa Timur IV, periode 2009-2014 dengan raihan suara terbanyak di antara calon-calon legislatif lainnya. Dia beristri Neneng Sri Wahyuni dan mempunyai dua orang anak.

  3. emprit gepeng berkata:

    Malu…..Tadz…..mau pake dalil apa untuk menghindar..? dampak dari gila kekuasaan….semua jadi bejat…..

  4. abisyakir berkata:

    @ Can-C Eye…

    Lho, di Treggalek, apa di Sumatera Utara ya? Kok yang aku baca dari Sumatera Utara…

    http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Nazaruddin

    Mohon info yang tepatnya, nanti diralat tulisannya. Terimakasih.

    Admin.

  5. gold price berkata:

    “Ini persoalan yang mencoreng Demokrat, DPR dan SBY serta mencoreng Anas sendiri sebagai Ketum DPP Partai Demokrat. Mestinya Anas bertindak tegas menonaktifkan Nazaruddin agar kasus itu tidak menyandera Anas sebagai pemimpin muda yang masih diharapkan masyarakat,” tegas Darmawan Sinayangsah, pengamat politik lulusan Fisip UI yang kini Direktur Freedom Foundation.

  6. silver price berkata:

    Secara politik, hierarki Nazar selaku Bendahara Umum diposisikan sebagai Orang Nomor Tiga setelah Ketua Umum (Anas Urbaningrum) dan Sekjen (Eddhie Baskoro Yudhoyono, putera SBY). Partai sangat mengandalkan kepiawaian Nazaruddin untuk mengumpulkan dana agar roda dan managemen organisasi partai bisa dijalankan secara maksimal.

  7. gold account berkata:

    SBY kelihatannya semakin keliru dalam berstrategi politik di tengah kekacauan internal Partai Demokrat beberapa tahun terakhir ini,yang kelihatan bukannya berkurang tetapi justeru semakin bertambah dan tidak karuan.Satu persatu kader Demokrat terjerat hukum atau terpental karena terlalu nyaring bersuara ditengah-tengah kalangan pemimpin Partai demokrat yang terkesan lamban,serta sering terlambat dalam menindak lanjuti dan kebijakan bersolusi.

  8. piracetam berkata:

    Secara politik, hierarki Nazar selaku Bendahara Umum diposisikan sebagai Orang Nomor Tiga setelah Ketua Umum (Anas Urbaningrum) dan Sekjen (Eddhie Baskoro Yudhoyono, putera SBY). Partai sangat mengandalkan kepiawaian Nazaruddin untuk mengumpulkan dana agar roda dan managemen organisasi partai bisa dijalankan secara maksimal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: